{JinHaeXy} When I Fall ~Part 17~

”Kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk Haejin-ssi yang sudah mau menceritakan kisah pahit dan manisnya bersama kita di Kang Shim Jang! Haejin-ssi, semoga kau tetap bahagia sampai kau benar-benar bersama jodohmu, siapa pun itu, tanpa menemukan sakit hati kembali.” Kata Hodong dengan tepuk tangan meriah mengiringiku duduk.

   Aku masih terus mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti, aku sadar sekali betapa berat beban yang kupikul dulu, dan akhirnya aku bisa sampai di titik ini. Terima kasihku tak terhingga untuk sahabat-sahabatku yang memintaku tegar, terus ada disisiku dan mendukungku, sampai akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaan lain yang mungkin memang tersimpan dan ada waktunya untuk kutemui, seperti sekarang ini. Melewati berbagai rasa sakit, mulai dari kekecewaanku terhadap Appa yang meninggalkanku, lalu Taecyeon yang meninggalkanku, dan kepergian Eomma, semua akumulasi itu sirna, hanya karena senyum tulus dan kesungguhan Donghae mencintaiku, dan aku mencintainya. Kami sama sekarang, dan aku akan berusaha membalas semua yang ia berikan selama ini.

   ”Jadi pada dasarnya Haejin-ssi sudah menemukan pengganti Ok Taecyeon-ssi?” tanya Seunggi.

   Aku tersenyum formil, memang sudah menemukannya, tapi aku tidak mungkin jujur untuk kali ini. ”Aku menemukan cinta baru, semangat baru… jatuh cinta lagi mungkin…” kataku membuat semua bersorak menyemangatiku.

   ”Woah!”

   ”Daebak!”

   ”Jinjjayo?”

   ”Dan itu membutuhkan waktu kurang lebih dua tahun, Haejin-ssi?” tanya Seunggi Sunbae.

   Aku mengangguk. ”Kurang lebih dua tahun, untuk benar-benar bisa melupakan patah hatiku, dan syukurlah ini berhasil. Meskipun aku belum memikirkan untuk melangkah ke hubungan lebih jauh,” aku menjelaskan lagi. ”Tapi kurasa, cukup menemukan seseorang yang aku cintai, dan dia mencintaiku juga… itu bisa menjadi penyemangat hari-hari kita bukan?”

   Lagi-lagi semua bertepuk tangan dengan kagum.

   ”Kalau boleh tau apakah dia namja idol juga Haejin-ssi?” tanya Hodong Sunbae sambil berpura-pura merapikan cue card-nya, Seunggi Sunbae tiba-tiba tertawa, dan para penonton serta bintang tamu langsung menatapku dengan penasaran. Aku bingung, harus kuceritakan atau tidak disini?

   Yang jelas aku tidak mungkin cerita itu Donghae, tapi jika Wonhee Sajangnim melihat ini, apakah dia nanti percaya kalau aku punya pacar? Hmm… kalau itu terjadi gawat! Tapi ini kesempatanku, Hodong Sunbaenim terkenal di dunia hiburan sebagai mak comblang bagi para artis KPOP.

   ”Ahahahahaha,” aku tertawa setelah memutuskannya. ”Apakah dia namja idol? Apakah dia aktor?” tanyaku lagi, semakin mengundang rasa penasaran dari para bintang tamu dan penonton. Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum malu mengingat wajah Donghae yang tiba-tiba melintas. ”Namja idol.”

   ”WOAH!” lagi-lagi semua bertepuk tangan.

   ”Kau tidak trauma berpacaran dengan namja idol?” tanya salah satu bintang tamu lagi kepadaku.

   Aku menggeleng. ”Waktu itu kan Taecyeon-ssi belum jadi namja idol.”

   ”Kalau begitu, yang ini benar-benar namja idol?”

   Aku mengangguk.

   ”Apakah kau tidak keberatan untuk mengungkapkan ciri-ciri laki-laki yang kini tengah menjadi pria penyemangat hidupmu?” pancing Hodong Sunbae lagi, membuat para penonton dan bintang tamu lagi-lagi bersorak riuh.

   Aku tertawa lagi, wajahku bersemu merah dan aku menutup wajahku dengan tangan, sementara Teukigayo di ujung kanan sana sudah tertawa-tawa tidak jelas. Akhirnya karena semua mendesakku aku menjawab.

   ”Oh, dia itu…” aku mulai membayangkan Donghae, bagaimana lembutnya dia, sensitifnya hatinya, bagaimana dia selalu membuatku nyaman dalam gandengan tangannya, terlena dalam pelukannya, hingga akhirnya menyerah dalam ciumannya. Belum apa-apa wajahku memerah lagi.

   ”Aigooo, dia pasti benar-benar jatuh cinta.” Gumam Kim Hyojin.

   Kim Myeongchul juga menyatakan pendapatnya, ”Kasihan yoeja idol sekarang ya, kemarin SNSD Hyoyeon dan Yuri, juga Kara Seungyeon yang bercerita seperti ini, dan sekarang Felidis Haejin. Apakah yeoja idol benar-benar tidak memiliki kebebasan untuk menikmati cinta?”

   Semua tertawa-tawa lagi.

   ”Secara fisik, dia tampan…” aku mengakui malu-malu. ”Aku tau dia tampan sejak aku mengenalnya, tapi waktu itu mataku masih buta.” Semua tertawa. ”Tapi sekarang aku buta karena dia, jadi kurasa kalau aku ceritakan pun, pastinya semua karena sudut pandangku…”

   ”Gwenchana, ceritakanlah, Haejin-ssi…”

   Aku menghela napas dan mulai menceritakannya. ”Dia tampan, dia… pandai menari, tapi dia juga bukan penari utama di grupnya, hahaha…” aku tertawa. Mereka pasti kini mulai berspekulasi. ”Suaranya lembut, dan rapper tapi bukan rapper utama!” semua semakin bersemangat. ”Dia cukup kalem dan pendiam jika kita belum kenal dekat, dia berkharisma… tapi kalau sudah kenal, dia ternyata lucu.” Tawaku. ”Cukup polos, dan… dari seluruh bagian tubuhnya, aku paling suka matanya, dia memiliki mata yang indah.”

   ”Kau benar-benar sedang kasmaran, Haejin-ssi.” Tunjuk Simon D dengan satu tangan.

   ”Jeongmal?!” aku menekan pipiku dengan kedua tanganku.

   ”Baiklah, dari seluruh ciri-ciri yang disebutkan oleh Haejin-ssi,” Hodong memulai analisanya. ”Tampan, termasuk main dancer, tapi bukan lead dancer-nya… termasuk rapper, tapi bukan rapper utama… dia kalem, pendiam, dan berkharisma.”

   Aku terkekeh-kekeh.

   ”Ada beberapa nama yang sudah mulai masuk ke dalam kepalaku, bolehkah aku menyebutkannya?” tanya Hodong Sunbae. Penonton dan bintang tamu lain bersorak-sorak.

   ”Oke, radarnya mulai bekerja…” tunjuk Seunggi Sunbae.

   Aku menanti, apakah dia bisa menebak.

   ”Bukankah SHINee Minho termasuk main dancer?” tanyanya, semua bersorak. Omo! Kenapa jadi si Minho dibawa-bawa kesini? Aku masih diam menanti tebakan selanjutnya. ”Baik, pertama SHINee Minho, kedua… Big Bang TOP…” ya ampun, makin jauh saja. ”2PM dan 2AM tidak perlu dihitung, karena kurasa Haejin sudah tidak mau dengan mereka.”

   Aku tertawa terbahak-bahak lagi.

   ”Lalu… SS501, mungkin? Park Jungmin?” Aku menggeleng-geleng, ini tebakan asal atau dia memang menebak. ”Atau Super Junior…” aku langsung memasang telingaku baik-baik. ”Kim Kibum?”

   .______.

   Kenal saja tidak.

   ”Baiklah, siapa pun pria itu, Haejin-ssi… bagaimana kalau kau menyampaikannya lewat rekaman langsung khusus untuknya,” tawar Hodong Sunbae, dan semua lagi-lagi menyemangatiku.

   Akhirnya aku menatap salah satu kamera, dengan malu-malu. ”Ah… otokhe? Aku mungkin belum pernah berterima kasih kepadamu, tapi aku mau berterima kasih karena kau sudah mengangkatku dari lubang gelap yang ada dalam diriku sendiri, kau beri aku terang… dan kini aku bisa merasakan jatuh cinta lagi. Kamsahamnida, saranghaeyo…”

*           *           *

”Onnie chukae!” Kyorin dan Chihoon memelukku bahagia, dan kami bertiga berputar-putar di kamar ganti.

   Aku tersenyum. ”Gomawo pada kalian, kalian berdua yang telah mendukungku hingga seperti ini.”

   ”Ahh… Onnie benar-benar sudah berubah!” puji Kyorin. ”Kini tidak ada lagi Onnie yang selalu menangis!”

   ”Hae Oppa benar-benar sudah menyihirmu, daebak!”

   Aku tertawa.

   Pintu kamar ganti kami diketuk, saat ini kami memang tengah break syuting Strong Heart sekarang. Aku mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintu tersebut, dan betapa kagetnya aku dan kedua adikku, melihat bahwa Gahee Sunbaelah yang masuk, bersama Junjin Oppa.

   ”Annyeonghaseyo.” Kami bertiga langsung membungkuk hormat.

   ”Annyeong,” dan dengan ramahnya Gahee Sunbae langsung mengecup pipiku, Kyorin, dan Chihoon. ”Maaf mengganggu istirahat kalian, aku kesini ingin menyampaikan permintaan.”

   Kami bertiga nampak terbata-bata.

   ”Ah gwenchanayo, Sunbaenim,” bungkukku.

   ”Silakan, Gahee-ssi,” Junjin Oppa mempersilakan Gahee Sunbae berbicara.

   ”Begini, seharusnya setelah ini aku memiliki solo stage untuk menari,” kata Gahee Sunbae mulai menjelaskan. ”Lalu setelah aku melihat penampilan kalian bertiga tadi satu persatu, aku merasa sepertinya kalian bertiga itu semacam harta karun yang terpendam.”

   Kami bertiga masih blank.

   ”Kalian bertiga sangat hebat, dan pandai, aku ingin sekali bisa satu stage dengan kalian, dan kalau kalian tidak keberatan, maukah kalian nanti tampil bersamaku?” tanya Gahee Sunbae penuh harap.

   JDER! Tampil dengan Afterschool Leader Gahee? Apakah dia tidak tau itu mimpiku?! Sumpah aku mengidolakannya semenjak dia masih menjadi rapper BoA Sunbaenim, dan sekarang dia menawari kami satu stage dengannya? Siapa yang tidak mau coba? Aku mulai berkaca-kaca, sementara kedua adikku seperti biasa menunggu keputusanku.

   ”Tentu mau, Sunbaenim,” aku membungkuk-bungkuk. ”Itu kehormatan besar untukku, gomapsumnida, Sunbaenim.” Aku mulai menangis lagi, dan Kyorin serta Chihoon tertawa.

   Gahee Sunbae memelukku tiba-tiba, ya ampun baiknya dia. ”Kenapa menangis? Aku yang harusnya berterima kasih,” ujarnya lembut.

   ”Sunbaenim adalah idolaku sejak dulu, aku ingin sekali satu stage dengan Sunbaenim, dan Sunbaenim sendiri yang menawarkan…” aku berusaha mengontrol diriku, dan menghapus air mataku. ”Ini kehormatan besar untukku.”

   ”Aiyaaa, Onnie, kenapa kau cengeng sekali?” tanya Chihoon heran, sementara Gahee Sunbae tertawa.

   ”Ayo, kita tidak punya banyak waktu, apalagi ini permintaan mendadak, kaja… kita harus bersiap!” ajak Gahee Sunbae. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamar ganti Afterschool, kami dikenalkan dengan UEE Yui Sunbae dan Jooyeon Sunbae, kebetulan dengan Jooyeon Sunbae aku sudah kenal ketika pemotretan majalah olahraga dulu, pertama kali benar-benar berkenalan dengan Donghae. Setelah itu Gahee Sunbae memberitahu kami apa-apa saja yang harus kami lakukan, setelah yakin kami siap, kami mulai melakukan recording lagi. Sebetulnya aku tidak terlalu percaya diri, tapi Gahee Sunbaenim, dan kedua adikku terus mendukungku untuk menampilkannya.

   Aku membayangkan, apa reaksi Donghae nanti saat melihat ini.

*           *           *

Syukurlah syuting selesai tanpa ada hambatan, kami pulang tepat waktu hari Senin ini. Lelah, padahal hanya rekaman seperti itu saja. ”Kalian harus mempersiapkan diri, jika bintang kalian bersinar, kalian akan menemukan rekaman semacam itu seharian penuh.” Ujar Junjin Oppa penuh sayang kepada kami. ”Kalian pasti bisa, ini pasti titik baik kalian.”

   Aku, Kyorin, dan Chihoon saling lempar senyum, dan tak lama mereka berdua sudah melakukan kebiasaannya, menempel di bahuku dan mulai tertidur. Yah, dasar mereka berdua ini. Tapi tak apa, karena aku sayang mereka.

   Kami tiba di apartemen atau dorm kami, Kyorin dan Chihoon begitu kelelahan, baru kali ini kami menjalani recording full untuk off air dua episode sekaligus, dan itu benar-benar membuat tenaga mereka berdua habis. Kyorin dan Chihoon bahkan lupa ganti baju dan sudah tersaruk-saruk masuk ke dalam kamar mereka masing-masing dan tidur.

   Alhasil, berhubung aku yang masih agak segar, meski cukup lelah, dua performance yang kutampilkan benar-benar sepenuh jiwa dan ragaku tadi, tapi kasihan mereka kalau wajah mereka tidak dibersihkan, akhirnya aku menggunakan toner dan kapas membersihkan wajah mereka satu persatu, dan kembali ke dalam kamarku, membersihkan wajahku sendiri, lalu tertidur.

   Keesokan harinya aku terbangun pagi-pagi, aku memaksakan diriku bangun karena kedua adikku harus sekolah hari ini. Aku merayap turun dari tempat tidurku, dan seperti biasa mulai melakukan tugasku, membuatkan susu dan memanggangkan roti, lalu membangunkan mereka. Kyorin mandi di kamarku, sementara Chihoon di kamar mandi utama, setelah itu mereka buru-buru sarapan, dan langsung berangkat ke sekolah.

   Aku menyalakan komputer kami di ruang tengah, dan melihat setidaknya ada sepuluh email masuk ke email resmi kami. Aku membukanya satu persatu, dan ternyata itu adalah berbagai macam tawaran sebagai bintang tamu, baik untuk Felidis, dan untuk kami secara personal, aku membelalak membacanya. Apa yang terjadi?! Bukankah Strong Heart belum tayang? Ini untuk tayangan hari Selasa pekan depan bukan?

   Belum sempat aku mengecek segala sesuatunya telepon apartemen berdering, aku mengangkatnya. ”Yeoboseyo.”

   ”Oh, Haejin-ah, sudah buka email?” tanya Junjin Oppa.

   ”Sudah, Oppa!” sahutku riang dan masih bernada terkejut. ”Oppa, ini apa yang terjadi? Strong Heart kami kan belum tayang, kenapa banyak sekali tawaran yang sudah masuk?” aku membuka email-email itu satu persatu. Salah satunya bahkan dari Hanteo, yang menyatakan tiba-tiba 2nd Mini Album kami, Hysteria, sudah masuk ke angka sekian, dan menyatakan bahwa kami mendapatkan bonus dari situ.

   Rekeningku, aku langsung membayangkannya…

   ”Hehehe,” Junjin Oppa terkekeh. ”Itu karena kerja keras kalian bertiga, tentu saja preview-nya sudah keluar. Dan preview-nya juga memberitahukan kepada masyarakat soal kau yang menjelaskan kisah cintamu dan Taecyeon, serta pria rahasiamu yang baru.”

   Omo!

   ”Pria rahasia?”

   ”Ne, kau pintar sekali, Wonhee Sajangnim sangat bangga kepadamu, akhirnya JYP memiliki orang yang pandai menciptakan skandal, dan kau berbohong soal pria baru itu demi rating, kah? Kau hebat sekali…”

   ._____.

   Wonhee Sajangnim mengira bahwa aku berbohong dan sengaja menciptakan skandal? Dasar wanita bebal, aku tidak menyangka dibalik otak liciknya ternyata dia juga bodoh! Mana mungkin aku mau dengan sengaja menciptakan skandal, lagi itu benar-benar sungguh-sungguh aku nyanyikan demi Donghae!

   Tapi syukurlah, dia tidak curiga.

   ”Bagaimana mungkin rookie artis sepertiku menciptakan skandal sih?” tanyaku gemas juga.

   ”Mana kutahu, sudah kau terima saja dia bilang begitu,” kata Junjin Oppa lembut. ”Toh yang penting aku akan mendukung apa pun yang kalian lakukan. Sekarang, bagaimana?”

   ”Apanya lagi yang bagaimana, Oppa? Aku hanya bingung.”

   ”Selepas ini SNSD akan segera berangkat ke Jepang,” Junjin Oppa mulai menjelaskan. ”Dan Yuri serta Tiffany akan segera hengkang dari Music Core, kau ditawarkan menjadi MC tetap Music Core terhitung bulan depan bersama 2AM Seulong. Bagaimana?”

   ”Mau!” seruku girang.

   ”Baguslah, selebihnya banyak pekerjaan menanti, mungkin MBC akan menawarkan sebuah slot untuk Felidis di pertengahan tahun nanti, aku dan perusahaan akan membicarakan konsepnya, sementara kau pilihlah beberapa pekerjaan untuk adik-adikmu, dan tanyai juga pendapat mereka, oke?”

   ”Oke!” sahutku riang.

   ”Baiklah, kau juga hati-hati setelah ini, jangan bicara apa-apa soal Taecyeon lagi, karena hanya kemarinlah kesempatanmu berbicara. Aku yakin Hottest diluar sana tengah memburumu, pokoknya kau harus pegang ucapanmu untuk tidak bicara apa-apa soal hubungan kalian lagi.”

   Aku mengangguk. ”Ne, Oppa, arasseo.”

   ”Baiklah, nanti kuhubungi lagi.”

   Aku meletakkan kembali gagang telepon itu dan kembali berjalan menuju komputer, ditinggal barang sepuluh menit saja, sudah ada dua email muncul lagi menawarkan pekerjaan untuk Felidis. Memang berita yang bergerak seperti apa sih sekarang? Aku membuka portal-portal berita, dan ternyata preview berita kemarin memang yang paling hot adalah soal aku yang menceritakan kisah cintaku dengan gamblang pada media, soal hubunganku dengan Taecyeon yang sudah membaik sekarang, dan tentang pria yang membuatku melupakan Taecyeon.

   Juga ada preview saat aku menari sambil bernyanyi dengan komentar bernada pujian yang lebih banyak dari cacian Hottest. Aku terperangah, bagaimana mungkin? Apa yang terjadi?

   Felidis, The Precious Treasure

   Aku membuka link yang memajang ketiga foto kami sebagai cover Mini Album Hysteria, dan mulai membacanya.

   JYP Girlgroup, Fleur De La Supergirl, Felidis, membuktikan bahwa mereka bukan girlgroup biasa, yang hanya dapat memamerkan wajah cantik dan kemampuas pas-pasan. Girlgroup yang digawangi oleh tiga orang gadis, Lee Haejin (20), Lee Kyorin (17), dan Cho Chihoon (14), Senin lalu membuktikan bahwa ketiganya memiliki bakat dan talenta yang terkubur dalam-dalam dan kini telah mereka keluarkan.

   Siapa yang sangka kalau selain pandai menari, Lee Haejin bisa memiliki suara emas ala main vocal? Siapa yang sangka kalau dibalik pandainya Lee Kyorin bermain biola, dia bisa memainkan nyaris semua alat musik? Dan siapa sangka dibalik usia mudanya Cho Chihoon dia memiliki suara emas yang berat dan bersih, hingga bisa disejajarkan dengan Mariah Carey? Talenta mereka tersembunyi dengan tipe lagu-lagu ceria buatan JYP Entertainment seperti Aegyo Chu~ yang dinilai oleh para kritikus sebagai musik yang biasa-biasa saja, dan pasaran. Terlebih Hysteria yang sebetulnya lebih menekankan kepada sisi vokal Chihoon yang berat, justru tidak didukung oleh penataan musik yang apik.

   Mungkin semua orang mengira Felidis hanya girlgroup biasa, namun setelah menyaksikannya secara langsung talenta tersembunyi mereka di Strong Heart. Saksikan Strong Heart, Selasa XX-XX-2010.

”Woah… memang aku bernyanyi sebagus itu?” tanyaku sendiri. ”Suaraku masih kalah jauh dari Kyorin, apalagi dari Chihoon. Bisa gawat kalau disuruh menyanyi live dan suaraku tidak sebagus itu? Netizen bisa mulai berbicara lagi, dan tahu sendiri bagaimana kecepatan tangan para netizen menuliskan berita.

   Aku mengingat saat-saat kemarin aku menceritakan kisahku dengan Donghae, meski masih terbungkus rapi dan tak seorang pun tahu kecuali orang dekat kami. Tapi aku bahagia, dan aku tidak mau orang tahu hubungan kami, mungkin suatu saat orang akan tahu, tapi tidak sekarang.

   Oh iya, ngomong-ngomong soal Donghae, aku hanya mengabarinya kalau aku syuting kemarin. Dan hari ini… dia sedang apa ya? Aku kembali ke dalam kamarku dan mengambil ponsel flipku. Baru aku mencari namanya di kontak ponselku, tapi ponselku keburu berdering, dan melihat foto itu, wajahku memerah.

   Dia menghubungiku! Aku tersenyum saat menekan tombol hijau itu dan mendekatkan ponselku ke telinga. ”Yeoboseyo.” Sapaku riang.

   ”Yeoboseyo.” Sapanya lembut. ”Apa kabar pacarku hari ini?”

   ”Aku baik, sangat baik!”

   ”Keurom!” sahutnya. ”Aku sudah melihat berita yang berseliweran,” kekehnya. ”Aku semakin penasaran dengan Strong Heart-nya, katanya bisa dibilang kau Ratu-nya ya kemarin? Bahkan Leeteuk Hyung pelit sekali, dia tidak mau bercerita sama sekali kepadaku.”

   Aku tertawa. ”Majyeo! Biarkan itu menjadi kejutan untukmu.”

   ”Ah kau tega…” rajuknya. ”Aku melihat preview-nya, dan aku tidak tahan untuk tidak menghubungimu, dan balasanmu malah itu kejutan untukku? Tak bisakah kau yang bercerita?”

   Aku tertawa lagi. ”Mana seru kalau kuceritakan? Kau harus lihat sendiri. Sudahlah, Selasa depan Strong Heartnya akan diputar, kau bersabarlah…”

   ”Huuuh,” keluhnya. ”Ah keurae, selain ingin bertanya soal Strong Heart, aku juga mau main.”

   ”Main kemana?”

   ”Ke dormmu…” ucapnya menggantung. ”Hari ini semua menemui orang tua dan keluarga mereka masing-masing. Kupikir karena rumahku yang paling jauh, aku diberikan liburan khusus nanti, masih lama… jadi aku mau main saja ke tempatmu. Boleh?”

   ”Itu kau bertanya?” tanyaku heran. ”Tentu saja boleh, kau kan pacarku.”

   ”Hehehe, tetap saja sebagai pacar yang baik aku kan harus minta izin, oh iya, di dorm ada siapa?”

   ”Oh, tadi sih ada Kyorin dan Chihoon, tapi mereka sekolah. Memang kau mau bertemu mereka juga?” tanyaku sedikit curiga.

   Dia terkekeh. ”Bukan begitu, aku kan cuma bertanya. Ya sudah, aku kesana sebentar lagi.”

   ”Arasseo.” Ucapku patuh.

   ”Sampai ketemu.”

   ”Oke!” kututup flip ponselku, dan batreinya sudah habis lagi. Padahal baru dipakai telepon sebentar saja, sepertinya aku harus memikirkan membeli ponsel baru, berhubung rekeningku mulai terisi, ponsel ini benar-benar sudah minta dibanting andai saja warnanya bukan merah muda.

   Ah iya, Donghae mau datang, lebih baik aku mandi. Aku keramas, dan berendam dengan tiga aromaterapi yang berbeda, pinus, freesia, dan mawar. Barangkali kalau aku harum Donghae akan memelukku terus-terusan, pikirku. Setelah selesai mandi dengan handuk melilit sebagain tubuhku dibawah ketiak aku membuka pintu lemariku.

   Apa yang harus kupakai? Biasanya kalau ikut Donghae ke setiap event aku memakai baju semi formal. Tapi kalau sekarang, Donghae kan bermain ke dorm, kami tidak ada niat keluar. Kausku banyak, tapi kebanyakan belel dan kaus lama. Sepertinya harus belanja lagi! Kuputuskan memakai sport bra hitam sebagai basic, dan diatasnya kupakaikan sabrina dengan bahan ringan berwarna putih transparan, tak lupa kupakai celana jins pendek.

   Lalu aku pergi ke dapur memeriksa isi kulkas, nanti kemungkinan makan siang disini. Dan aku senang Donghae menyukai makanan buatanku, meski makanan itu begitu sederhana, dan tidak rapi. Tapi lagi-lagi yang kulihat di dalam kulkasku hanya bahan-bahan untuk pasta.

   Susah juga hanya bisa masak makanan Italia, aku menggaruk kepalaku, dan membuka lemari. Di lemari pun berkotak-kotak spaghetti, lasagna, fetuccini, ravioli, makaroni, dan fussili tersimpan, siap diolah. Kemarin aku sudah memasakkannya beef and cheese maccaroni, tidak mungkin kumasakkan itu lagi. Sebetulnya apa makanan favoritnya ya? Aku belum pernah bertanya, hmm… lalu aku harus masak apa? Aku benar-benar tidak bisa masakan lain kecuali pasta-pasta itu, dan sandwich, ramyeon, dan masak air ==”

   ”Ya sudahlah, nanti delivery saja…” keluhku.

   Sambil menunggu Donghae, aku kembali membuka internet, dan semakin banyak email masuk menawari kami pekerjaan, dan Junjin Oppa mengirimiku pesan, agar aku segera memilih pekerjaan mana yang hendak diambil, karena banyak dari perusahaan yang menawarkan pekerjaan itu meminta konfirmasi, sementara manajemen harus menunggu keputusanku.

   Aku menghubungi Kyorin, apakah dia berminat mengikuti sebuah konser musikal, dan dia ditawari bermain biola, bersama idol-idol bertalenta lainnya. Kyorin sangat menyukai alat musik, dan dia juga sangat berbakat, aku yakin dia mau. Dan benar saja, Kyorin antusias, dia menerima perkerjaan itu. Sementara kulihat banyak tawaran rekaman untuk OST drama bagi Chihoon, ini juga bidangnya. Kutanyakan padanya, dan dia bilang dia setuju juga. Sementara tawaran untukku sendiri, aku di daulat sebagai MC untuk pengganti Yuri dan Tiffany Sunbae untuk acara Music Core, bersama Seulong.

   Sementara pekerjaan yang ditawari kepada Felidis untuk seluruh member, aku akan mendiskusikannya lagi dengan Junjin Oppa nanti. Menginjak pukul sebelas siang, pintu apartemenku berbunyi lagi saat aku bermain Farm Frenzy, satu-satunya game yang aku sukai. Ah, dia pasti datang! Aku berdiri dan merapikan bajuku, lalu berjalan mendekati pintu, dan mengangkat interkomku. Benar saja, itu Donghae! Aku terkikik, padahal baru jeda sehari kami tidak bertemu, tapi aku sudah senang sekali melihatnya hari ini.

   Pelan-pelan aku putar kunci apartemenku, dan kumunculkan sedikit kepalaku untuk menggodanya. ”Cari siapa?” tanyaku pura-pura.

   Dia terkekeh. ”Aku mencari pacarku.”

   ”Oh, kau mencari pacarmu? Memang pacarmu seperti apa?” tanyaku lagi.

   Dia menarik napas dan melipat tangannya, berpura-pura berpikir. ”Pacarku itu…” ucapnya. ”Dimataku, dia cantik…” aku mengangkat alis. ”Dia pandai menari, dan yang pasti dia mengaduk-aduk hatiku.”

   Aku tertawa. ”Sudah masuklah, jangan menggombal di depan pintu.” Aku melebarkan pintu, dan dia masuk, sementara aku kembali mengunci pintu apartemen. Begitu aku berbalik dia memelukku. Ah, tidak sia-sia mandi dengan tiga aromaterapi sekaligus.

   ”Kau wangi sekali.” Dia menghirup rambutku.

   Aku memeluknya erat, membenamkan diriku diantara leher dan dadanya, dia juga wangi. ”Kau juga.” Aku baru memerhatikan dia memakai sleeveless putih, diatasnya kemeja kotak-kotak, dan celana jins panjang. ”Mau minum?” tawarku.

   ”Oh.” Dia mengangguk.

   ”Oke, kau duduklah…” sementara aku pergi ke dapur, tapi tetap saja dia mengekoriku. ”Duduklah, kau pasti lelah,” kataku. Tapi dia menggeleng dan tetap mengikutiku.

   ”Mau minum apa?”

   ”Hmm… apa saja.”

   ”Aku tidak punya jus jeruk, karena aku tidak suka jeruk, jus jambu saja mau?” tawarku.

   ”Apa saja.” Dia mengangguk.

   Aku membuka kulkas dan mengambil jus karton, karena aku malas untuk membuat jus sendiri, kutuangkan ke dalam gelas, dan kuberikan padanya langsung, dia meminumnya sambil menggandengku kembali ke ruang keluarga, duduk di depan televisi yang tidak dinyalakan. Aku ikut duduk di sebelahnya dan mengambil bantal sofa, kupeluk bantalnya sambil menatapnya.

   Wajahnya sedikit serius, dan dia tidak banyak bicara seperti biasanya. Ini perasaanku saja, atau memang ada sesuatu? Seingatku dulu, ketika aku belum mengetahui dia menyukaiku, dia sempat terlihat cukup stress beberapa kali setelah kami mulai saling mengenal. Dulu kupikir dia sedang ada masalah, tapi setelah mengetahui perasaannya, ternyata dulu karena dia merana tidak bisa berbuat apa-apa padaku yang terluka.

   ”Hmm, Strong Heart…” dia menoleh padaku dengan tatapan super memohon.

   ”Aigo!” aku menghela napas. ”Itu semua kejutan, nanti kau tonton sajalah,” aku mengibaskan tanganku tak sabar. Tapi dia terus menatapku memohon. Aku menggeleng.

   ”Ah jebal, berikan aku clue!”

   Sepertinya asyik jika menggodanya, aish! Haejin kau ini bermain api? Aku penasaran akan reaksinya jadi aku pura-pura menghela napas saja. ”Kau berharap aku cerita apa? Ya tentu saja aku menjelaskan tentang foto-foto yang beredar, juga tentang hubungan kami dulu. Kan kemarin aku bilang.”

   ”Lalu kau cerita?” tanyanya.

   ”Ya tentu saja, aku menang Strong Heart malah,” sambungku. ”Memang Leeteuk Oppa dan Shindong Oppa, Eunhyuk tidak ada yang cerita?”

   Dia menggeleng, dan cemberut, lalu menekap kedua tangannya sambil melihat ke arah televisi. Ya ampun, bagaimana bisa ada orang cemburu tapi secute ini? Aku menahan tawaku.

   ”Lalu apa kau ceritakan semuanya?” tanyanya dengan nada sedikit jutek, dan mata menatap lurus ke depan. ”Kau ceritakan dari awal kisah pacaranmu dengan Taecyeon?”

   ”Oh,” aku mengangguk. ”Mereka bertanya dan aku menjawab sejujurnya, karena aku berjanji hanya akan menceritakannya sekali, dan takkan mau menceritakannya lagi.” Dia masih terlihat gusar. ”Itu kan sudah berakhir.” Bujukku.

   ”Aku tidak mempermasalahkan itu,” kata Donghae lagi. ”Yang kupermasalahkan disini adalah…” dia menghela napas, lalu menoleh kepadaku dengan tatapan yang cukup serius. ”Kau bahkan tidak bercerita kepadaku lebih dahulu soal itu, tapi kau justru bercerita pada orang banyak, sebelum aku!”

   Nada suaranya keras, kenapa dia marah?

   ”Apakah tidak terbersit sedikit saja keinginan darimu untuk menceritakan setidaknya soal dirimu sama sekali?” tanyanya nampak kecewa.

   ”Itu masa lalu!” sahutku tak kalah keras.

   ”Tapi itu kau ceritakan kepada publik, tapi kau tidak bercerita kepadaku, Lee Haejin!”

   ”Untuk apa aku bercerita padamu?!” tanyaku. ”Bukankah masa lalu itu tidak penting?!”

   ”Kalau kau tidak berbagi soal masa lalumu pada orang lain, aku tidak keberatan. Tapi kau membaginya pada orang lain! Kau anggap aku apa?!”

   Aku kaget dia berani berkata keras seperti itu! Wajahnya tak lagi lembut, bahkan nada suaranya bisa kukenali bahwa dia benar-benar tengah marah menghadapiku. Tapi aku tidak terima dia memarahiku begitu! Lagipula untuk apa? Aku saja benci harus menceritakan itu.

   ”Kau kira aku suka membaginya?!” tanyaku lagi.

   ”Kalau kau tidak suka kenapa harus kau bagi?!”

   ”Ini perintah perusahaan!” aku nyaris berteriak.

   Dia terkesiap melihatku berteriak marah padanya, dia kira aku tidak kaget dia marah-marah begitu? ”Ya! Kalau kau kesini hanya untuk mengajakku bertengkar, lebih baik kau pulang!” sentakku emosi sambil berdiri.

   ”Aku tidak bermaksud begitu,” ucapnya lemah, dan dengan lembut menarikku duduk lagi. ”Maaf.” Ucapnya menatap mataku serius. Aku masih menatapnya kesal, dan mulutku bungkam.

   ”Aku cuma… terlalu banyak ketidakyakinan di dalam kepalaku,” dia melanjutkan lagi. ”Apakah kau menerimaku karena kasihan saja, lalu apakah kau masih mencintai Taecyeon, apa yang ada dalam pikiranmu?!”

   Ya ampun! Setelah yang aku lakukan di Strong Heart kemarin! Jinjja, dia membuatku gila!

   ”Terserah!” aku tetap ngotot pada aksi ngambekku.

   Dia nampak menyesal telah membuatku marah, tapi aku benar-benar merasa patut marah! Otaknya dimana sih?! Dia lembut, romantis, dan sebagainya tapi apa dia tidak memakai perasaannya untuk berpikir?! Aku bahkan sudah pernah mengatakan langsung padanya bahwa aku mencintainya!

   ”Mianhae, Haejin-ah,” bujuknya, dia merasa benar-benar bersalah. ”Aku tidak bermaksud membentakmu.”

   ”Bukan masalah membentak!” sahutku agak kasar.

   ”Apapun itu…” gelengnya memohon. ”Aku tidak mau… maafkan aku.” Dia memohon.

   Aku jadi tidak tega.

   ”Kenapa sih kau selalu berpikiran negatif?” tanyaku lemah. ”Kenapa kau tetap tidak bisa percaya?” tanyaku, suaraku bergetar.

   ”Molla.”

   ”Terserah deh,” aku berdiri lagi meletakkan bantalku, dan meninggalkannya sendirian, aku ke dapur dengan penuh emosi. Kudengar dia menghela napas, dan mengejarku lagi.

   Aku membuka pintu kulkas dengan kesal dan mengambil dua botol Soju sekaligus, dan menutup pintunya dengan kasar. Dia menatapku kaget melihatku memegang dua botol Soju itu. ”Haejin-ah…” katanya lemah.

   ”Kau… tidak percaya padaku, kan?” lalu kubuka dengan kasar tutupnya. ”Buat aku mabuk, dan tanyakan apa pun yang kau mau!” aku menenggak Soju itu banyak-banyak perutku mulai panas dan dia terperangah melihatku benar-benar menenggak sebotol soju itu dalam waktu singkat.

   ”Keumanhae, keumanhae, Haejin-ah jebal,” Donghae berusaha menggapai botol Soju dari tanganku. ”Maaf, aku kan sudah minta maaf… aku benar-benar menyesal berkata begitu.” Dia nyaris menangis berusaha menghalau tanganku, aku terus menghindar darinya. Aku tetap menghindar dan membuka botol satunya.

   ”Haejin jangan! Jangan!” dia akhirnya berhasil meninju botol itu dengan kepalan tangannya, sementara tangan satunya dia gunakan untuk menarikku ke dalam pelukannya. Botol soju itu terlepas dari tanganku dan terlempar membentur dinding dapur, dan pecah berserakan di lantai, sementara Donghae memelukku erat-erat. ”Maaf… maaf… maaf…”

   ”Aku benci menceritakan rahasiaku, tapi itu harus! Dan kau harusnya tau kalau bukan aku yang mau!”

   Donghae diam, bahunya berguncang saat memelukku, aku tau kini dia menangis. Dan aku juga sudah menangis. Kami diam dalam posisi itu untuk beberapa lama, dan tidak ada yang saling bicara. Pelukannya padaku tidak mengendur sedikitpun.

   ”Lepas, sesak…”

   ”Andwe! Aku membuat kesalahan…”

   ”Tapi aku sesak!”

   ”Tapi aku tidak mau kau pergi…” dia terdengar kepayahan mengatakannya. ”Aku menyesal, Haejin-ah. Tak tahukah mendapatkanmu begitu susah? Dan kini aku menyakitimu… aku takut, aku akui aku memang memikirkan hal-hal negatif itu.”

   Aku mendesah berat. ”Lalu kau mau apa dariku agar kau bisa percaya?!”

   ”Aku percaya, aku mau percaya… tapi pikiran buruk itu masuk sendiri ke kepalaku!”

   ”Tapi itu karena kau tidak berhenti memikirkannya!” sentakku.

   ”Makanya aku bilang aku menyesal!”

   ”Kalau kau menyesal berhenti mengatakan hal-hal semacam itu!”

   Dia diam.

   ”Sekarang lepaskan,” pintaku.

   ”Sebelum kau memaafkan aku, aku takkan melepasmu.”

   Aku memutar mataku. ”Aku maafkan.”

   Dia melepaskan pelukannya padaku, dan aku baru melihat wajahnya, merah, dan bersimbah air mata. Entah kenapa melihat itu hatiku sedih, dia benar-benar menangis. Apa dia tertekan memikirkan semua itu? Kenapa dia tetap tidak percaya padaku? Apa aku kurang menunjukkan bahwa aku sudah benar-benar mencintainya?

   ”Sudahlah, kita jangan bahas ini lagi.” Kataku.

   Dia mengangguk dan mengusap matanya, aku mencari tissue gulung dan membantunya mengusap matanya. Setelah itu aku membereskan pecahan botol Soju dan setelah itu kami duduk di depan televisi lagi sambil bergandengan tangan. Suasana masih sedikit dingin, entah kenapa aku masih sedikit sebal dengan kata-katanya yang selalu itu-itu saja, bahwa dia tidak percaya kalau aku sudah benar-benar mencintainya. Tapi aku pun tidak tega melihatnya berwajah sedih seperti itu.

   Tapi kalau aku baik padanya, nanti dia akan selalu memperlakukanku seperti ini, tapi kalau… aku menghela napas lagi. Tetap saja, kami bergandengan tapi tidak sepatah katapun keluar lagi dari mulut kami.

   ”Sayang,” panggilnya pelan-pelan.

   Aku menoleh, menandakan bahwa aku mendengarkan dia.

   ”Masih marah ya?” dia menatapku dengan puppy eyes memohon.

   Curang! Mana bisa aku tetap dingin padanya? Aku berdeham sedikit untuk menahan tanganku agar mencubit pipinya yang menggemaskan itu. ”Ani.”

   ”Kotjimal,” rajuknya.

   Hah~ dia makin lucu saja.

   ”Oke, aku akui aku masih kesal…” aku akhirnya jujur. ”Tapi aku sudah tidak marah kok.”

   Dia mengerucutkan bibirnya, nampak kecewa melihatku masih marah. Pastinya ia kecewa kepada dirinya sendiri. Aku kasihan, tapi gengsiku tinggi. Jadi aku tetap dia melihatnya begitu.

   ”Hmm, apakah aku sudah bercerita padamu soal ayahku?” tanyanya tiba-tiba.

   Aku menoleh dengan cepat kepadanya lagi. ”Belum.” Yang kutahu, dari ketigabelas member Super Junior, hanya dia yang orangtuanya sudah tidak lengkap lagi. Dan aku dengar dari Chihoon, dulu… ketika kami baru debut, bahwa Donghae sangat dekat dan sangat kehilangan ayahnya.

   ”Ayahku…” ujarnya pelan. ”Pasti ingin bertemu denganmu.”

   ”Kenapa?” tanyaku bodoh.

   ”Hmm,” dia tersenyum tapi dia menunduk. ”Impian ayahku selalu, untuk melihatku dan Donghwa Hyung memiliki keluarga sendiri. Sayangnya…” dia diam, dan setetes cairan bening turun dari pelupuk matanya. Aku hanya bisa diam melihatnya seperti itu. ”Sayangnya Appa keburu dipanggil.” Tutupnya meredam tangis.

   Dia punya kenangan berharga soal ayahnya, sedangkan aku…

   ”Dulu ketika bertemu denganmu, Appa adalah orang pertama yang kuceritakan,” kekehnya sambil mengusap air matanya. ”Dia senang sekali waktu kukatakan ada gadis yang kusukai,” dia menoleh menatapku. ”Belum juga aku sempat memperkenalkanmu padanya, dia juga sudah…” dia diam lagi. ”Kau tahu Appa berpesan apa ketika aku bilang bahwa aku menyukaimu?”

   ”Apa?” tanyaku pelan.

   ”Appa bilang, kalau aku berhasil mendapatkanmu… aku harus mencintaimu seperti Appa mencintai Eomma,” dia tersenyum. ”Appa juga bilang untuk tidak menyakitimu,” dia kemudian terisak dan menutup wajahnya. ”Tapi aku melanggar janjiku pada Appa.”

   Aduh!

   ”Aku menyakitimu tadi…”

   ”Aniyo,” gelengku sambil meraihnya. Aku tidak bisa melihatnya menangis begini, kupeluk dia. ”Aniyo, aku sudah tidak marah, Hae… Sayang…” ralatku pada panggilan sayangku. ”Sudah, jangan menangis.” Kuhapus air matanya.

   Dia menggeleng. ”Malam senin ada pertemuan orangtua… iri rasanya melihat yang lain didampingi orangtua mereka. Sementara Eommaku dan Hyungku jauh…” isaknya lagi. Aku memeluknya lagi, kalau untuk urusan Eomma, hatiku mudah tersentuh. Aku mencintai Eommaku, dan aku mengerti perasaannya, kuusap lembut punggungnya. Aku rasa, dia emosi karena dia merindukan keluarganya, dan itu membuat semua pikirannya kacau. Akupun demikian, jika pikiranku sedang kacau aku dengan mudah emosi.

   ”Mianhae.”

   ”Aku bilang aku tidak marah, Sayang.” Bujukku.

   ”Ne,” dia mengangguk. ”Eomma suka cemburu, jika dalam berbagai kesempatan aku menyebut nama ayahku terus.” Aku melepaskan pelukannya, dan mendengarkannya mulai bercerita. ”Aku menyebut terima kasih dan cintaku untuk Appa yang ada di surga, dan Eomma mulai cemburu… katanya aku selalu menyebut Appa. Intinya aku mencintai Appa dan Eomma, juga Hyung… mungkin rasa kehilangan Appa yang membuatku begitu.”

   Aku tersenyum tipis. ”Memang Appamu sakit apa?”

   ”Black nukleous, semacam kanker…” Donghae menjawab. ”Aku ingin menghasilkan uang yang banyak untuk memberikannya pada Appa, tapi…” dia diam lagi. Dan bahunya mulai berguncang. Aku memeluknya lagi, dia memang tengah merindukan ayahnya.

   Bisa ya? Atau hanya aku yang tidak pernah merasakan kasih sayang Appa?

    ”Ceritakan tentang Appamu, Hae…” pintaku.

   ”Appa itu lebih tampan dari aku,” kekehnya masih memelukku, aku membeliak, lebih tampan dari Donghae? Donghae saja sudah begini gantengnya, bagaimana ayahnya? ”Appa juga suaranya merdu, bahkan mungkin lebih bagus dariku… Appa adalah Ayah idola Ibu-ibu member Super Junior. Dulu Appa ingin jadi penyanyi, tapi Appa dilarang haraboji, dan dia ingin aku jadi penyanyi. Dulu aku tidak mau, aku mau jadi pemain bola… tapi kini aku mewujudkan impiannya.”

   Aku melepas pelukannya lagi, dan mengelus pipinya sambil tersenyum. ”Kau sudah mengabulkannya, kau tidak boleh sedih… Appamu pasti bangga padamu Hae.”

   ”Ne.” dia mengangguk sambil mengusap matanya.

   ”Hae,”

   ”Hmm?” dia menatapku.

   ”Apakah kau mencintai ayahmu?”

   ”Keurom, sangat!” Donghae mengangguk.

   Aku diam. ”Kau beruntung ya, aku iri padamu.” Aku tertawa sambil memalingkan wajah.

   Dia menatapku, tapi dia tetap diam.

   Aku harus menceritakan ini. Dia memintaku lebih terbuka soal diriku kepadanya, kan? Aku mendesah berat. Aku paling benci harus mengatakan hal ini, bahkan Seulong pun tidak pernah kuceritakan bagaimana perasaanku soal Appa, kecuali Appaku hilang!

   ”Aku… tidak pernah tau siapa Appaku.”

   Dia benar-benar intens menatapku, tanpa berkedip.

   ”Aku lahir terlambat,” aku mengenang ketika Eomma menceritakannya padaku. ”Menginjak usia kandungan Eomma tujuh bulan, Appa sudah tidak pernah pulang ke rumah. Pulang hanya sesekali. Hingga Eomma melahirkanku diusia kandungan sepuluh bulan sepuluh hari… untunglah air ketubanku belum pecah di dalam, jadi aku lahir tetap sehat dan normal… tapi rupanya itu sedikit mengganggu kesehatan Eomma.” Aku mendesah. ”Ditengah kondisi itu, Appa semakin jarang pulang… dan usiaku tiga bulan, saat Eomma sakit… Appa memutuskan untuk takkan pernah pulang lagi. Dan akhirnya Eomma mengurusku sendiri…” isakku. ”Eomma bertahan selama ini untukku, padahal kesehatannya memburuk, karena Eomma alergi obat… dan obat murah yang Eomma beli tidak cocok untuknya. Tapi Eomma berjuang demi aku… Eomma mencari Appa, tapi Appa tetap tidak ditemukan dimanapun.” Air mataku menetes. ”Appa tidak menginginkanku.” Dan runtuhlah pertahananku, Donghae memelukku. ”Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya, aku tidak tahu figur seorang Appa… aku benci, kenapa Appa membenci kami? Kenapa bahkan Eomma sakit pun Appa tidak peduli? Setidaknya meski dia tidak mencintaiku, dia mencintai Eomma…”

   Donghae kini ganti mengusap punggungku lembut.

   ”Tapi sampai Eomma meninggalpun, Appa tidak pernah ada, Appa tidak pernah datang. Aku tidak tahu siapa namanya, Eomma tidak mau membicarakannya… Appa seperti apa, Appa bagaimana?”

   Donghae terus membelai punggung dan rambutku.

   ”Aku sering bertanya-tanya bagaimana sosok ayah itu, dan aku tidak pernah tertarik untuk terlalu lama mendengar cerita tentang figur seorang ayah, bagaimana pun aku ingin tahu… aku selalu berhasil menyingkirkan perasaan itu karena harga diriku pada sosok Appa!” isakku. ”Tapi mendengar ceritamu tadi… kau sungguh beruntung, Appamu baik sekali.”

   Donghae mengangguk.

   ”Aku tidak tahu, aku tidak pernah merasakan kasih sayang Appa…”

   Donghae melepaskan pelukannya, dan kini ganti ia yang menghapus air mataku. ”Kalau Appa bertemu denganmu, pasti Appa akan bilang kau boleh menganggapnya ayahmu sendiri. Appa dan Eomma tidak memiliki anak perempuan…”

   Aku tersenyum.

   ”Ikutlah denganku,”

   ”Kemana?”

   ”Ke Mokpo… Eomma dan Donghwa Hyung, mau bertemu denganmu…”

    Mataku terbelalak.

*To Be Continued*

Ini ceritanya entah random, atau semakin nggak jelas… apakah masih mau diterusin? Masih banyak sebetulnya yang mau aku jelasin, tapi udah dua part ini aku ngerasa hilang feel-nya semua T_____T aku yang jadi nggak enak sama kalian… udah nunggu lama, hasilnya gak memuaskan… tapi kalau kalian masih mau minta lanjutannya kasih tau aja ya, semangatku turun sama ff ini😦

Kemungkinan karena aku butuh inovasi baru sih, rencananya ada satu ff series diluar JinHaexy dan ChoChoiLee, jadi karakternya tetep Super Junior, tapi mereka bukan artis melainkan anak-anak SMA biasa, kalau ini hasil komennya positif, aku akan mengutamakan ff ini tetep, dan akan ngerjain ff baru ini juga.. tapi kalau komen temen-temen minta untuk menghentikan ff ini karena makin gak jelas huhu, aku mau bikin ff baru aja, diluar JinHaeXy, pokoknya mau bikin karakter AU deh… kasih tanggapan aja ya, lebih cocok kemana… aku butuh saran banget, oke? ^^ saranghae, enjoy…

129 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 17~

  1. yaaaah jgn diberentiin
    ini ceritanya bgs kok
    diterusin aja ><

    aaah~ akhirnya smpt baca
    ternyata sedih bgt
    jd pgn nangis bacanya
    keinget muka hae klo lg critain appanya TvT

  2. haaaa~ mancab it donghae blm nntn yg sbnr.a udh ngmbk, sabar mas bntar lg jg d tayangin… Woaaa jinhae mau bulan madu k mokpo ktmu calon mertua ayayaya~ plang2 bwa sea n sky… Elf dn flyers langsung gempar😄

  3. Nangis pas bagian oppa n eonni cerita tentang appa…
    Appaku juga meninggal karena kanker, apalagi waktu itu aku masih kecil jadi ga terlalu ingat sama appa#curhat.,

    lanjut aja eonni, ceritanya bagus koq,penasaran lanjutannya..
    HWAITING……

  4. Jangan dstop… Masih panjang iniiiii!!!!

    Tetep seru kok buat dlanjutin ta…
    Hwaiting!!!
    Aq sedih baca bagian akhir, haejin crita ttg appa-nya…

    Ayo lanjut ya..
    Yang baru dbkin buat variasi cerita aja😀

  5. hue onnie, mau nangis baca part ini ;-( hiks…ceritanya bagus ko, dpd bgt feel.a, apalagi pas hae ma haejin onn nyeritain kisah ayah.a masing2. hue..terharu deh jd.a…ttp lantujkan ya onn ff.a, abis.a makin penasaran ma kisah kasih jinhae d sini, cos byk yg blm terungkap? Hehe😀 ok onnie, ttp semangat ya. hwaithing🙂

  6. woa, knp brhnti donkk.. kisah jinhae kn blm kelar, masih ngegantung kn..

    ayo semangat nisya!!!!!!!!!!!!!!!! tetap di tunggu kok WIF nya😄

    haejin bcra ttg appa, jadi kebayang appa-ku. Appa lg ngapain ya skrg?? kkkk~ *abaikan

    Woa, jinhae ke Mokpo!!!!!!!!!!!!!! tambah seru aja nih!!!!!!!!

    Nisya..WIF selalu di tunggu. Jgn diputusin!! masi byk yg blm di ungkapkan kan???

  7. woa, jgn brhnti donkk nisya….. kisah jinhae kn blm kelar, masih ngegantung kn..

    ayo semangat nisya!!!!!!!!!!!!!!!! tetap di tunggu kok WIF nya😄

    haejin bcra ttg appa, jadi kebayang appa-ku. Appa lg ngapain ya skrg?? kkkk~ *abaikan

    Woa, jinhae ke Mokpo!!!!!!!!!!!!!! tambah seru aja nih!!!!!!!!

    Nisya..WIF selalu di tunggu. Jgn diputusin!! masi byk yg blm di ungkapkan kan???

  8. Mianhae baru baca.. Wah, lanjutin donk.. Seru liat hubungan JinHae pas awal2nya..😀
    Emang sih, jujur aq ngerasa kurang greget kesini2nya.. Pas awal2 FF WIF rasanya tuh gregetan baca kisah Hae yg malu2 kucing sama Haejin.. Terus ngerasa ikut nyesek tau kisah Haejin-Tacyeon..
    Kayaknya yang ini juga lebih pendek, apa cuma perasaan aq aja.. ==a
    Tapi aq tetep suka kisah WIF.. Ngalir banget, kayak berasa nostalgia kisah JinHae.. Bahkan aq lebih suka ini, daripada JinHaeXy yg sering galau nguras airmata..😛

  9. Honestly seh emg seh crtanya udda kemana”. Udda gag msuk itungan when i fall lg kalo kta wr mah. Hehehe.
    Tp overall ttep mghibur dgn malu malu tikusnya haejin. Haha.

  10. ya jgan dberhentiin donk onn.
    nanggung donk, kn g seru.
    publishny lma jga gpp, yg pnting critany te2p bgus.
    tunggu onnie dpet inspirasi gtu dh.
    hihi, fighting!!!
    aku suka bget m kt2 nih onn
    ”Ah… otokhe? Aku mungkin belum pernah berterima kasih kepadamu, tapi aku mau berterima kasih karena kau sudah mengangkatku dari lubang gelap yang ada dalam diriku sendiri, kau beri aku terang… dan kini aku bisa merasakan jatuh cinta lagi. Kamsahamnida,
    saranghaeyo…”
    dalem bget mknany.
    krna donghae blum tau acrany lbh jelas.
    jd slah paham gni, ntar kalo udah tayang.
    donghae pasti bkal jingkrak2 tuh.
    lgsg otw k part slnjtny dh.

  11. akhrx haejin mengungkap smwx..
    jd ikutn lega.. ga da curiga2lg dah hae..
    penasaran ma reaksi hae liat strongheartx..
    hae maen k dorm haejin jingkrak2 seneng.. eh abis itu nangis pas hae crta appax..
    hae sayang bgt yah ma appax..
    haejin kesian d tnggal ma appax..

    jng brenti jinhaex..
    bagus koq terusin aja.. tp klo authorx dah ga dpt feel..
    hmm hwaiting dah.. g berani komen klo dah mslh feel..
    coz aq jg ngerti koq gmn rasax klo bkn ff ga dpt feel..
    heehehheee.. ^_^

  12. aigoo,aku telat bgt baca ini -_-

    awalnya senyam senyum gaje,eh ahir2 malah mengharu biru.. Terharu ToT
    aslina ngakak baca ini
    —Barangkali kalau aku harum Donghae akan memelukku terus- terusan,pikirku.—
    ya ampun onnie..wkwkwkwk..
    *loncat ke part 18*

  13. haejin eonni daebaaaaaaaaak
    aku bner2 ska krkter haejin eonni
    aigoo hae oppa ada ada aja
    hahahaha
    bca akhirnya so sweeeeet
    daebak eon

  14. Andwe….. jebal Nisya-sshi, jangan dihentikan….. Masih banyak pertanyaan” yg berseliweran di benakku, tentang perjalananan cintanya JinHae…. Gimana awalnya sampe mereka punya panggilan poppa-momma, Saat” Haejin galau karena cemburu n gak bisa ngedampingin Donghae di saat Donghae butuh….. Ketika mereka putus nyambung….. Juga tentang gimana asal muasal kedekatan ChoCoiLee, juga Felidis dengan member SuJu lainnya.

    Kalo emang udah ngerasa mulai random, cepetin aja alurnya….Pokoknya inti” cerita kisah cinta JinHae kesampaian… (walo jujur nih ya, aku suka kok detail” kejadian sehari”nya nih couple)

    Udah sejauh ini Nisya-sshi… Ayo, jangan nyerah…. Kami para Jinhaeternal akan terus menantikan FF”-mu… Ok, kalo seandainya emang Nisya belum nemu feelnya, kami akan sabar menanti sampe Nisya bener” enjoy n dapat ilham bwt nerusinnya….. (tapi, jangan sampai kelamaan juga ya, ha…ha… readers labil)

    Akhir kata, Chayooo, Hwaiting Nisya-sshi… #lemparHaeberpitapink#

  15. Bagian ini bener-bener bikin aku tersentuh apalagi bagian cerita tentang ayahnya .. Nyaris nangis ..
    Aku sampe bingung mau komen apalagi .. *reader nakal xD*
    Di part ini feel nya dapet banget .. Suka suka suka xD

  16. part ini bnr2 sdh apalagi pas donghae oppa sm haejin nyeritain keluarga mrk.. wktu q liat video donghae oppa yg nyeritain ttg appanya n nangis, wktu itu q jg ngrs jd pngn ikutan nangis TT_TT..

  17. lanjutkan nishaaa.,, lanjutkannn.,, aku suka cerita yg detail ini.,, suka., walawpun ada kata2 korea yg tak ku paham., aku tak begitu faham sm korea😀 tp aku suka suju dan SNSD dan Felidis iniiii #eaaaa,,,
    dan utk part ini baguss.,, aku sampe kepingin dapet link acara strong heart episode ini., #eh
    truss emosi mereka naek turun dengan cepat🙂
    semangat nishaaa.,,,
    leeteuk oppa bener2 gak dapet pacar ya nisha?? #dikeplakAhjussi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s