{JinHaeXy} When I Fall ~Part 16~

Sorry, mianhae, maaf, pardon… buat keterlambatannya, sumpah deh ini wangsit nggak nyampe-nyampe ke kepala saya, nggak ada ide, nggak ada feel dan nggak ada greget! Akhirnya jujur aja, aku paksa banget bikin karena nggak mau readers nunggu lebih lama lagi… aku harap hasilnya nggak mengecewakan T___T galau Donghae sakit pula sekarang😦 Okelah, enjoy yaaa Insya Allah

  • Apa ini??? Ok Taecyeon kau menghancurkan hatiku‼!
  • Jadi gossip yang dulu soal Taecyeon dan Haejin jadian ketika trainee itu benar??? Ya ampun, semoga mereka kembali bersama… mereka pacaran 4 tahun lho
  • Apa yang terjadi pada Ok Taecyeon? Seharusnya dia bersama Im YoonA, YoonA dan Haejin sangat jauh! Haejin hanya bermodalkan apa? Bahkan dia tidak memiliki modal apa-apa, such a slut
  • Kenapa berita ini baru dia angkat sekarang?
  • Tenang, Hottest, mereka hanya mantan kekasih!
  • Apa kalian melihat bagaimana mesranya mereka dulu? T___T
  • Ok Taecyeon, kau benar meninggalkan gadis itu‼!
  • Mati kau Lee Haejin!
  • Taecyeon meninggalkan Haejin setelah debut, memang banyak orang sombong setelah terkenal
  • Kukira JinLong is real, tapi ternyata JinTaec is real!
  • Harusnya mereka kembali bersama
  • Haejin??? Ok Taecyeon buta!
  • Felidis hanya mau terkenal saja dengan berita ini, tenang saja Hottest!

 

Aku menatap laptopku dengan nanar, berita ini benar-benar meledak dan banyak sekali yang membicarakan skandal kami sekarang. Sudah  kuduga, Hottest banyak yang menjadi anti fansku sekarang. Aku memutar-mutar ponsel pink-ku dan menyangga kepalaku dengan tangan. Aku punya banyak antis, huft… sejujurnya memang sejak awal aku bergabung dalam dunia entertainment aku sudah yakin akan hal ini. Dalam hidup kan pasti selalu ada yang tidak suka dengan kita, dan jelas aku mengalami hal itu.

   Dulu waktu pertama debut, aku terbiasa dengan Flyers yang memuji-muji penampilanku, dan selalu mendukungku. Mungkin karena itu, di awal debut, aku sempat shock membaca beberapa kalimat kritik dan bashing, tapi semakin kesini, kalimat kritik mulai bisa kuterima dengan baik, sementara kalimat bashing tidak pernah masuk lagi ke dalam pikiranku, karena pikiranku sibuk untuk memikirkan hal lain, yang lebih penting.

   Itu butuh proses cukup lama, dan sekarang membaca kalimat-kalimat bashing lagi, aku kembali membacanya datar. Toh aku merasa wajar bagi  para fans memiliki rasa kepemilikan yang kuat akan idolanya, kami hidup dari mereka. Ya memang ini untuk mengangkat Felidis lagi, aku menyayangkan, semoga saja suatu saat aku dan Felidis bisa maju tanpa embel-embel leadernya adalah mantan kekasih Ok Taecyeon!

   Sorenya kami bersiap-siap untuk berangkat ke Inkigayo, entah kenapa hari ini aku benar-benar mau berdandan, setelah dua hari lalu aku tidak terlalu peduli dengan make up-ku, setidaknya kali ini aku lebih memperhatikan apa yang aku kenakan, setelah siap kami berangkat ke Inkigayo, dan kali ini sama sekali tidak terlambat.

   Sesampainya di Inkigayo, aku bertemu artis-artis pengisi acara hari ini, dan mereka menatapku penasaran. Oke, ini pasti pengaruh dari pemberitaan itu, aku cuma memberi mereka senyum formal saja sambil terus berjalan ke kamar ganti Super Junior.

   ”Ya ya ya, Lee Haejin! Apa kabarmu?!” suara menggelegar seseorang mengagetkanku, dan aku buru-buru menoleh bersama Kyorin dan Chihoon, seketika kami membeku.

   Kang Hodong, MC Strong Heart.

   ”Ah, Hodong Sunbaenim, annyeonghasaeyo.” Kami bertiga membungkuk.

   ”Annyeong,” dia melangkah ringan mendekati kami, dan menyalami kami. ”Lama sekali tidak melihat kalian di acara musik. Dan aku sudah lihat berita-berita, Haejin-ah…”

   Suaranya yang menggelegar, tentu saja menarik perhatian banyak orang.

   Untunglah ini koridor kamar ganti artis dan staff, jadi tidak ada kamera atau wartawan, namun tetap saja aku cemas. Aku meringis saja, ”Ah, Sunbaenim…” aku tersenyum tidak enak.

   ”Jadi, Felidis, kutunggu kalian bertiga di Strong Heart, arachi? Dimana manajer kalian? Masa kalian hanya bertiga? Ayo ayo, janji ya datang ke Strong Heart, betul tidak?” dia bertanya pada Dongwoon Beast yang juga sedang lewat di koridor.

   Dongwoon mengangguk-angguk. ”Kami penasaran lho, Haejin-ssi.” Katanya.

   Omona!

   ”Hehehe…” aku cuma terkekeh garing saja pada semua mata yang menatapku penasaran.

   ”Ngomong-ngomong hari ini ada special stage 2PM disini, apa yang kalian lakukan disini? Menemui 2PM?” dan kontan seluruh artis-artis pengisi acara yang kini tengah berada di lorong bersorak-sorak ramai menggodaku, wajahku benar-benar memerah menahan malu.

   Kyorin dan Chihoon saling pandan gugup.

   ”Aniyo,” gelengku tidak enak. ”Pamit dulu, ya…” aku membungkuk, harus buru-buru pergi dari sini atau aku harus mengadakan konferensi pers!

   Kami tiba di kamar ganti Super Junior dengan susah payah, begitu tiba di dalam kami menghela napas lega, tapi apa yang kami dapat? Mereka bersepuluh sedang bersedekap menatap kami, aniyo, menatapku! Ah, jebal, bahkan berita ini pun mengusik rasa penasaran mereka.

   ”Ah, annyeonghaseyo.” Ucap Chihoon.

   ”Kalian seperti buronan,” komentar Yesung Oppa.

   ”Majyeo! Kami memang dikejar-kejar,” keluh Chihoon yang menatap berkeliling. ”Tidak adakah air?”

   Salah seorang coordie memberikannya botol air minum. Barulah suasanya sedikit mencair di dalam ruangan, Kyorin juga sudah pergi dari sebelahku, dan ngobrol lagi bersama Heechul Oppa, Ryeowook, dan Eunhyuk. Sementara Chihoon sudah mulai mengikuti Sungmin Oppa kemana-mana. Aku menghampiri Donghae yang memasang wajah datar-datar saja.

   ”Gwenchana?” tanyanya.

   Aku menatapnya bingung. ”Gwenchana,” jawabku ragu-ragu.

   ”Maaf ya, aku seperti tidak percaya padamu,” ucapnya lirih sambil mulai memainkan tanganku. ”Aku… pikiranku buruk kalau sudah menyangkut dia, kau tidak ada rencana kembali padanya, kan?”

   Aku membelalak. ”Apa maksudmu?!”

   ”Jawab saja!” balasnya.

   ”Ya ampun, tadi katanya kau percaya padaku!”

   ”Arasseo, aku cuma bertanya!”

   ”Mana mungkin aku mau kembali padanya? Aku sudah tidak mencintainya lagi, garis bawahi itu!”

   Dia tersenyum kecil. ”Kalau begitu, kau cinta padaku?”

   ”Ya Tuhan,” aku memutar mataku, bagaimana mungkin setelah beberapa hari belakagan aku ekspresif sekali menunjukkan betapa cintanya aku pada dirinya, dan dia masih tidak yakin juga?

   Dia masih menatapku penuh harap.

   ”Ne, saranghae.” Bisikku dengan wajah memerah melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang mendengar. ”Dan jangan bertanya begitu teruuuuus, malu tau!”

   Dia cuma terkekeh, dan menarikku, lalu dia mengecup pipiku. ”Gomawo.” Bisiknya, kemudian kami merasa banyak bantal sofa yang dilemparkan kepada kami, dan aku mendengar Donghae tertawa terbahak-bahak, dan aku melindungi kepalaku dari serangan bantal member-member lain, huh, mereka benar-benar tidak tahan melihat kami sepertinya.

   Akhirnya member Super Junior mengganti kostum mereka juga, jantungku mulai berdegup-degup tidak jelas. Baju apa lagi yang akan dikenakan oleh Donghae, dan berpikir dengan malu, bahwa sekarang dia sudah menyadari kalau aku sedikit berhasrat kepadanya. Memalukan~

   Akhirnya aku duduk di sofa sambil memegangi ponsel hitamnya dan bersandar, saat memandang ponselnya. Apa ya isinya? Tapi kan tidak sopan membuka-buka begitu saja isi ponselnya meskipun dia pacarku. Tapi aku kan memang penasaran dengan isinya, apa baiknya kubuka saja? Aku memencet satu keypad, tapi ternyata ponselnya dikunci. Dan aku tidak mengerti cara memakai BlackBerry, daripada ponsel Donghae rusak, lebih baik aku tidak meneruskannya. Dan kemudian setelah aku mengurungkan niatku, kudengar suara-suara berisik dari belakang, mereka sudah selesai mengganti pakaian mereka dengan pakaian untuk panggung.

   Ponselku berdering, aku membukanya, dan melihat ada satu pesan masuk, saat merasakan Donghae mendekat, dan meminta ponselnya. Aku mengulurkannya, tanpa memandangnya karena mataku terpancang pada sederet kata-kata yang muncul di layar ponselku.

From : Yeonie

            Haejin-ah, boleh kita bicara?

Aku terbelalak, aku tidak percaya! Untuk pertamakalinya setelah dua tahun berselang, Ok Taecyeon mengirimiku pesan. Aku masih terpana menatap layar ponselku, sampai Donghae menjawil pipiku. Aku mendongak, ”Oh? Waekeurae?” tanyaku agak kaget dan tergagap.

   ”Hmm, kau kenapa?” tanyanya heran.

   Aku menutup flip ponselku cepat, dan menggeleng. ”Aniyo. Aku harus ke toilet dulu,” aku buru-buru keluar dari kamar ganti tanpa menghiraukan pandangannya. Aku berlari keluar dari ruangan dan mencari tangga darurat yang kugunakan untuk aku berlari saat melihat Taecyeon dan YoonA Sunbae waktu itu. Sesampainya disana aku membuka lagi ponselku, dan memeriksa pesan dari Taecyeon tadi, dia mengajakku bicara? Tentang apa? Dan, aku harus menjawab apa?

   Aku masih diam memandangi ponselku, kugigit bibirku lalu mulai mengetikkan kata-kata yang ada di kepalaku.

To : Yeonie

            Boleh, mau bicara apa?

Aku masih diam di tempat ini, lalu ponselku berbunyi lagi.

From : Yeonie

            Kau di Inkigayo, kan? Bisa bertemu sekarang? Aku belum harus tampil, itu kalau kau tidak keberatan.

Aku membalasnya lagi.

To : Yeonie

            Ya boleh, mau bicara dimana? Aku ke ruang ganti 2PM?

Dia membalas cepat.

From : Yeonie

            Tak usah, di rooftop saja, aku segera kesana

Aku menjawab iya dan langsung naik menuju rooftop.

   Begitu tiba di atas, karena aku melalui tangga, Taecyeon sudah tiba duluan disana. Dia memunggungiku, menatap pemandangan Seoul yang indah dari atas sini. Dia sudah mengenakan kostum Without U-nya, yang berwarna hitam-hitam. Aku berjalan mendekatinya, dia sepertinya menyadari aku datang, karena dia melirik sedikit ke belakang. Jantungku berdegup kencang saat aku berjalan mendekati Taecyeon, aku menunduk.

   Bukan degup yang dulu, tak ada rasa berdebar yang menyenangkan, tapi ini menakutkan. Apa yang akan ia katakan? Apakah dia akan menyalahkanku soal pemberitaan ini?

   Dia berbalik menghadapku yang menunduk, aku menarik napas dalam-dalam dan mendongak. Dia menatapku, aku tidak mengerti arti tatapannya itu. Yang jelas ini pertamakalinya semenjak dua tahun, kami bisa sedekat ini, dan berpandangan seperti ini.

   ”Ada apa?” cetusku akhirnya.

   Dia terlihat bingung, menggaruk kepalanya sebentar. ”Yea, aku yang memanggilmu kesini. Tadi kulihat kau datang, lalu…” dia menggaruk kepalanya lagi, dan terlihat benar-benar bingung. ”Sejujurnya aku bingung kenapa kau kesini, karena setahuku kau tidak ada promo apa-apa. Kupikir, apakah karena pemberitaan… tapi, kulihat kau masuk ruang ganti Super Junior.”

   Aku mengangguk pelan. ”Aku memang kesini karena mereka. Lalu kalau kau melihatku, kau mau tanya apa?” tanyaku lagi, pelan namun tegas.

   Dia diam. ”Aku mau membicarakan soal masalah pemberitaan, aku sudah dengar dari Manajer Hyung, soal pancingan agar kau dan Felidis bisa diundang di Strong Heart.” Dia menunduk.

   ”Hmm, lalu?”

   Dia meneruskan. ”Aku rasa, aku mau meluruskan banyak hal masalah hubungan kita yang mendingin,” dia mendongak. ”Sejujurnya, Haejin-ah, aku tidak pernah ingin hubungan kita dingin seperti ini setelah kita berpisah…” ucapnya dengan suara semakin pelan. ”Aku hanya… waktu itu, kau tidak…” dia nampak bingung hendak meneruskan kata-katanya.

   Aku mengangguk. ”Aku tidak bisa menerima fakta bahwa kau meninggalkanku, itu kan?” aku mendongak mencoba menatapnya secara langsung.

   Dia terhenyak, tidak menyangka aku akan sefrontal ini. ”Kurang lebih begitu,” gumamnya. ”Aku tetap mau jadi temanmu, dan sekarang…” dia menarik napas dalam-dalam. ”Kurasa kau sudah bisa menerimaku sebagai temanmu.”

   Aku mengernyit, mendengus sedikit. ”Apa yang membuatmu berpikir aku mau jadi temanmu?” tanyaku sedikit dingin.

   ”Kau kan sudah ada Donghae Hyung.” Ujarnya pelan tapi yakin. ”Bisakah kita, mungkin aku memang meminta terlalu banyak, tapi setidaknya, bisakah kau dan aku menjadi teman lagi?”

   Aku mengembuskan napas berat, mengingat semua kenangan menyakitkan yang telah lewat. Ya itu masih menyakitkan, tapi itulah yang membawaku bahagia seperti sekarang. Mungkin jika aku tidak putus dari Taecyeon aku tidak akan pernah menjadi kekasih pria paling lembut yang pernah kukenal, Lee Donghae. Dan aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Dan rasanya tak ada gunanya aku dan Taecyeon bersikap seolah tidak kenal, aku justru bersyukur. Kalau aku dan Taecyeon tidak berpisah, mungkin aku dan Donghae tidak akan sampai sini.

   ”Ne.” Aku tersenyum, dia terkejut. ”Jangan khawatir, Yeon-ah, aku tidak akan memohonmu seperti dulu lagi, kok.” Dia terkejut dan membelalak. ”Maaf ya sudah menyulitkanmu dulu… hanya butuh banyak waktu untuk membuatku seperti ini, sekarang kau temanku. Terima kasih mau membantu Felidis.” Aku membungkuk.

   Dia terlihat salah tingkah. ”Gwenchana, Haejin-ah.”

   ”Ehehehe,” aku terkekeh tidak enak. ”Bagaimanapun ini bukan hal baik, sekarang semua orang akan mengenalku dengan label mantanmu, bukan sebagai leader Felidis.” Desahku. ”Dan itu akan membuatmu terkena imbasnya juga, aku benar-benar tidak enak.” Aku mengernyit lalu mendongak menatapnya lagi. ”Oh iya, boleh aku tanya kenapa kau menerimanya?”

   Dia cuma terkekeh. ”Hanya karena tak ada yang bisa kulakukan untuk membantu.” Jawabnya aneh.

   Aku mengernyit, ”Dan kau ingin saat di Strong Heart aku bilang bahwa kita berteman baik sekarang?”

   ”Kau boleh cerita apa saja disana,” katanya lembut. ”Tapi ya, aku akan senang kalau kau bilang kita sudah berteman baik sekarang.”

   Ponselku berdering, aku membuka flipnya, dan foto Donghae tengah mencium keningku saat aku tidur tadi menghiasi layar LCD-nya.

Ya ampun! Donghae kan mau tampil, aku buru-buru mengangkatnya. ”Yeoboseyo.”

   ’Kau ke kamar mandi mana, sih?! Kami mau tampil!’

   ”Ara, ara, sebentar lagi aku turun, tunggu ya…”

   ’Jangan lama-lama…’

   ”Iyaaaaa~” aku buru-buru menutup flip ponsel.

   Taecyeon terkekeh, lalu tanpa kusangka dia mengelus kepalaku. ”Johta, sudah ada yang menjagamu.”

   Aku tersenyum. ”Ne.”

   ”Keurae, sudah sana turun, nanti dia mencarimu.” Dia mengedik ke arah ponselku.

   ”Arasseo, sampai jumpa,” aku melambai dan buru-buru berlari turun.

   Di bawah pemandangan yang kutemui sungguh menakjubkan, untung aku sudah berkeringat, jadi tidak perlu alasan untuk berkeringat dingin melihat Donghae lagi. Dia memakai kaus abu-abu dengan v-neck rendah sekali, belahan dadanya benar-benar tercetak jelas. Aku meneguk liurku kuat-kuat lagi ketika melihatnya lagi, membayangkan tanganku menyentuhnya, aduh kepalaku pusing lagi, aku berpikir ke arah lain saja, sambil mengikutinya. Aku menggandeng tangannya tiba-tiba, dia menoleh dan tersenyum padaku.

   Senyum malaikat itu, rasanya aku tidak pernah merasakan luka apa pun jika melihatnya seperti ini. Kami tiba di pinggir panggung, aku melepaskan genggaman tanganku, dia mengelus pipiku sebentar sebelum naik keluar dan masuk panggung. Aku menontonnya bersama Ririn-ssi, JooEun-ssi, dan Nara yang datang terlambat, juga dengan kedua adikku, Kyorin dan Chihoon.

   ”Onnie,”

   Aku menoleh pada Kyorin. ”Ne?”

   ”Kontrak Strong Heart ternyata sudah sampai pada kita, kita diminta recording besok. Aku dan Chihoon juga diundang, tapi pastinya semua menanti penjelasan Onnie,” bisik Kyorin pelan di telingaku.

   Aku membelalak. ”Secepat itu kah?” tanyaku.

   Kyorin mengangguk. ”Sepertinya pihak Strong Heart melobi beberapa atasan JYP Entertainment, mereka benar-benar termakan jebakan. Padahal kan memang itu yang diinginkan perusahaan kita, kan?” dia menghela napas.

   ”Aku belum tahu apa yang akan kuceritakan, bagaimana caraku menceritakannya,” ujarku bingung.

   ”Untuk itu, setelah ini langsung ke perusahaan, aku tadi berbohong bilang kalau kita sedang diluar, aku tidak bilang kalau kita sedang di Inkigayo,” jawab Kyorin masih pelan.

   Aku menghela napas. ”Apa yang harus kukatakan?”

   ”Yang penting bukan itu Onnie, apa pun yang kau katakan takkan jadi masalah lagi karena berita sudah bergerak sampai seperti ini. Tapi pikirkan dirimu dulu, bagaimana dengan Donghae Oppa?” tanya Chihoon serius.

   ”Kenapa dia?” tanyaku bodoh.

   Kyorin membelalak. ”Memang Onnie tidak akan bilang padanya?”

   ”Hmm, apa aku harus jujur?”

   ”Aduh, Onnie! Ya harus lah, kalau nanti dia salah paham bagaimana? Kulihat Hae Oppa tipe pria yang mudah salah paham, sama sepertimu,” kata Chihoon serius. ”Baiknya sih setidaknya kau bilang kau akan menjelaskan soal Strong Heart kepadanya.”

   Aku mengangguk. ”Keurae. Aku akan bilang kalau habis ini kita harus ke kantor untuk menyusun skenario.” Aku memutar mataku. ”Ara, aku akan bilang padanya, oh iya, memang berita berkembang jauh?”

   ”Sejauh ini yang tetap on topic adalah soal kau dan Taecyeon Oppa yang pernah berpacaran dulu,” jelas Kyorin. ”Tapi biasalah banyak berita-berita miring tentang dirimu. Hah~” dia menghela napas. ”Selalu yeoja idol yang menjadi korban jika ada pemberitaan seperti ini.”

   ”Onnie gwenchanayo? Onnie tidak khawatir?”

   Aku berpikir, apakah aku khawatir? Jujur aku malah seperti tidak terlalu memikirkannya. ”Aku tidak terlalu memikirkannya, kepalaku sudah sibuk memikirkan hal lain.”

   ”Well, ciuman Hae Oppa memang bisa membuatmu blank.” Ujar Chihoon.

   Aku langsung saja mencekik lehernya, dan dia terkekeh-kekeh jahil.

   ”Kenapa sih Onnie?” tanyanya sok polos. ”Bukankah harusnya sekarang kau senang? Kau terbukti sudah berciuman dengan Hae Oppa? Tidak perlu mupeng lagi kalau kita ke bioskop sekarang.”

   Ya Tuhan, Cho Chihoon!

   Setelah selesai, kami kembali lagi ke dalam kamar ganti Super Junior, mereka tampak senang. Hari ini adalah hari terakhir comeback mereka, dan mulai minggu depan mereka akan memasuki pekan promosi. Hari-hari sibuk untuk promosi mulai di depan mereka, dan mereka nampak senang. Aku sebetulnya belum mau pergi, besok senin dan Donghae tidak ada jadwal apa-apa sepertinya, barangkali kami bisa bermain berdua. Tapi apa daya, malah aku yang harus ke kantor untuk mempersiapkan recording Strong Heart.

   ”Oppadeul, kami pamit ya, mianhae.” Aku bilang kepada seluruh ruangan yang langsung menoleh menatapku. Termasuk Donghae yang wajahnya juga kaget. Aku tersenyum meminta maaf. ”Kami di panggil perusahaan.”

   Kyorin dan Chihoon mengangguk sambil ikut berdiri.

   ”Yah, sayang sekali,” mereka tidak bisa berkomentar apa-apa karena ini adalah perintah perusahaan kami.

   ”Padahal nanti akan ada acara pertemuan para orangtua merayakan comeback kami,” kata Leeteuk. ”Apa kalian tidak bisa datang?”

   ”Ne, datanglah kalau bisa.” Kyuhyun memandang Chihoon. ”Aku tidak mau dimarahi sendirian!”

   Chihoon memutar matanya.

   ”Arasseo, kalau kami bisa kami akan datang.” Kataku lagi.

   ”Memang ada apa? Apakah persiapan album pertama kalian?” tanya Heechul Oppa penasaran. ”Aku suka Aegyo Chu~” dan dia langsung menari-nari dengan gaya Aegyo Chu~

   Kami tertawa.

   ”Bukan, sepertinya untuk album masih akan lama, perusahaan akan mengeluarkan girlband baru tahun ini,” jawab Kyorin sopan.

   ”Kalau begitu kami pulang duluan ya,” pamitku lagi.

   Donghae mengantar kami sampai naik taksi, aku minta maaf padanya tidak bisa ikut acar makan malam itu, dia bilang tak apa-apa. Sebetulnya sedih juga meninggalkannya begini. Dia mencium keningku dan aku mencium pipinya sebelum berpisah, berat sekali.

*JYPE Building, 30 Minutes Later*

Aku, Kyorin, dan Chihoon sudah duduk manis di meja bundar dalam ruang rapat, kami masing-masing menerima map berwarna biru, dan kini kami tengah membaca isi map tersebut.

   Di dalam ruangan ini ada Junjin Oppa, Manajer kami, lalu ada Jikwang Sajangnim, dan musuh besarku, Wonhee Sajangnim, yang sedang memandang kami dengan tatapannya yang menyebalkan.

   Aku membaca skrip Strong Heart yang sudah disiapkan itu, dan tanpa bisa menahan mulutku, aku bertanya. ”Hanya ini?” tanyaku curiga. ”Sajangnim benar-benar memintaku menceritakan kisah pacaranku dari awal hingga putus?”

   ”Itu yang diinginkan publik, Haejin-ssi.” Kata Wonhee Sajangnim.

   ”Tapi itu akan mengecilkan nama Ok Taecyeon dan 2PM tentunya,” kata Chihoon lagi. ”Mereka belum selesai soal Jay Oppa!”

   ”Bukan urusan kalian.” Geleng Wonhee Sajangnim tenang.

   Astaga! Nenek sihir ini benar-benar membuatku gila!

   ”2PM butuh banyak pemberitaan, setelah ini Nichkhun akan kami kirimkan untuk We Got Married, dan itu bagus,” kekeh Wonhee Sajangnim. ”Nichkhun yang akan membersihkan nama 2PM, lagipula Taecyeon-YoonA sudah waktunya dihentikan.”

   ”Gosip itu Anda yang membuatnya, Sajangnim,” keluh Chihoon.

   ”Dan aku pula yang akan menghentikannya, Chihoon-ssi.” Katanya lagi. ”Jadi lakukan sesuai yang kuminta. Haejin-ssi, kau hanya perlu bercerita layaknya kepada seorang teman saja soal hubunganmu dengan Taecyeon. Kau hanya perlu mengeluarkan perasaanmu sejujur-jujurnya, hanya itu.”

   Aku mengangguk tak niat.

   ”Dan selebihnya, Kyorin-ssi akan memainkan biola, seperti biasa, lalu Chihoon tentu saja akan bernyanyi. Haejin-ssi untuk segmen unjuk kebolehan Teukiegayo, kau akan menari ballet seperti biasa. Jadi karena besok sudah recording, kuharap kalian persiapkan dengan baik hari ini. Aku mau semua sempurna!” dan Wonhee Sajangnim langsung keluar dari ruangan setelah mengatakan hal itu.

   ”Nah, tidak ada waktu lagi,” kata Jikwang Sajangnim. ”Kalian dengan sendiri apa yang dikatakan Wonhee Sajangnim, persiapkanlah.”

   Akhirnya kami jadi berpisah. Chihoon berlatih vokal di ruang rekaman, Kyorin berlatih biola di ruang mana, dan aku di ruang dansa lantai dua sendirian. Dengan baju ganti yang memang selalu kami siapkan dan kami tinggalkan di kantor.

   Ballet, ballet, ballet.

   Aku sibuk berpikir bagaimana untuk menunjukkan kebolehanku dalam menari ballet tapi tidak seperti biasanya, aku harus membuat inovasi, sehingga jika nanti bakatku dilirik, aku bisa tampil di banyak acara variety dengan modal kelebihanku sendiri, dan bukan karena aku mantan kekasih member 2PM, dan dengan cerita soal kisah cintaku yang seharusnya tidak menjadi konsumsi umum!

   Aku harus melakukan sesuatu, aku berpikir sambil melakukan stretching dan mendengarkan lagu klasik yang menjadi pengiring tari balletku yang biasa. Apa ya yang harus kulakukan?

   Aku melirik CD Player yang memutar lagu klasik itu dengan bosan, bagi orang-orang yang tidak terlalu menyukai musik klasik dan ballet ini pasti membosankan. Dan bagi orang-orang di bidang entertainment, mereka membutuhkan lagu dan semangat untuk hari-hari mereka yang sudah terlampau sibuk. Apa aku harus mencari lagu yang lebih ceria ya?

   Tapi mana ada lagu klasik yang ceria, aku berbaring terlentang di lantai dansa dan melihat pantulan diriku di kaca-kaca yang mengelilingi ruangan ini. Aku buntu inspirasi, apa yang harus kulakukan? Aku memejamkan mataku, dan membiarkan Donghae memasuki pikiranku. Aku merasakan sudut mulutku tertarik membentuk senyuman, ah memikirkannya membuatku bahagia.

   ”Latihan, jangan tidur!”

   Aku membuka mataku, Seulong sedang melongok di pintu dengan senyum khasnya yang biasa.

   ”Ongie!” seruku.

   Dia masuk ke dalam ruangan dan aku memeluknya. ”Aigo! Kau datang di saat yang tepat, aku butuh bantuanmu.”

   ”Kau selalu bertemu denganku saat kau butuh bantuan sekarang, astaga, gadis macam apa kau ini?!” omelnya.

   ”Ah, jangan bawel, bantulah temanmu ini,” aku menariknya duduk.

   Dia menjitakku. ”Iya, iya, ada apa? Kenapa kau sendirian disini? Mana Kyorin dan Chihoon?”

   ”Mempersiapkan talent untuk besok di Strong Heart,” desahku.

   ”Apa? Kau ke Strong Heart?!” tanya Seulong kaget.

   Aku mengangguk.

   ”Soal pemberitaan?” tanyanya.

   Aku mengangguk lagi. ”Soal pemberitaan, aku harus menjelaskan kepada khalayak ramai tentang kisah cintaku yang berakhir tragis, itu permintaan perusahaan.” Aku memutar mata.

   ”Sial!” rutuk Seulong.

   ”Wonhee Sajangnim yang membuat berita ini demikian besar, yah salah kami juga sih Felidis tidak bisa berhasil,” keluhku.

   ”Aigo!” Seulong mengelus kepalaku. ”Lalu bagaimana? Kau yakin akan bercerita?”

   ”Aku harus becerita, memang aku punya pilihan apa lagi?” tanyaku sambil mengangkat bahu. ”Oh iya, aku dan Taecyeon sudah memutuskan untuk berbaikan.”

   ”Jeongmal?” mata Seulong melebar.

   ”Ne,” aku mengangguk. ”Dia yang memintaku untuk tetap berteman dengannya, kupikir toh aku tidak mencintainya lagi, ya untuk apa aku tetap diam-diaman dengan dia?”

   ”Majyeo!” Seulong mengangguk. ”Tapi, soal ini dia tau?”

  ”Dia bilang tak apa-apa, toh kita sudah berbaikan dan tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Aku meneruskan.

   ”Lalu sekarang apa yang membuatmu bingung?”

   ”Aku mau menari ballet kontemporer, tanpa lagu klasik, tapi aku bingung lagu yang pas untuk mengiringinya apa ya?” tanyaku. ”Kau punya lagu-lagu rekomendasi tidak?”

   Seulong menyipitkan matanya. ”Kau kan tau selera musik kita beda jauh.”

   ”Hah~ aku bingung, aku tidak mau hanya menari ballet saja,” keluhku. ”Aku mau semua orang akan teringat denganku terlepas dari bayang-bayang sebagai mantan Taecyeon. Dan kalau cuma menari ballet biasa, aku sudah sering menampilkannya di televisi.”

   ”Kau benar juga, tumben otakmu jalannya cepat,” pujinya heran.

   Aku tidak berminat menanggapi yang itu, aku terus bepikir. ”Dan aku berniat aksiku ini lebih diingat ketimbang ceritaku.”

   ”Kau yakin? Sepertinya aku meragukan itu,” cibir Seulong. ”Bukankah netizen lebih menyukai skandal dibandingkan aksi panggung.” Keluhnya.

   Aku menghela napas. ”Majyeo!”

   ”Kecuali kau bisa menggabungkan skandal tersebut dan aksi panggung,” Seulong mengedipkan matanya dan bangkit. ”Aku ada recording, aku pergi dulu, maaf tidak membantu banyak. Semoga berhasil, dadaaah…” dan Seulong melenggang pergi begitu saja.

   Aku mengeluh lagi. ”Eh? Menggabungkan skandal dan aksi panggung?” aku kembali berpikir. ”Eh, Ongie-ya, maksudmu bagaimana?” tapi Seulong sudah tidak tampak. ”Skandal dan aksi panggung?” ulangku lagi. Aku terkekeh, sepertinya aku mendapat ide untuk membuat tarianku cemerlang, dengan menjual skandal tapi skandal tentang tarian ini. Johta!

   Keesokan harinya, aku membangunkan kedua adikku, hari ini Junjin Oppa akan menjemput kami pukul delapan pagi untuk langsung ke salon menata rambut kami, setelah itu kami langsung pergi ke studio SBS Strong Heart. Aku hanya mengirimkan pesan sekali pada Donghae memintanya mendoakan agar recording lancar, dan aku bisa segera menemuinya. Dia memberiku semangat dan akan menungguku sampai recording selesai, hari ini dia tidak ada jadwal apa-apa. Sebaliknya kami bertemu dengan Leeteuk Oppa, Shindong Oppa, dan Eunhyuk yang juga ikut recording hari ini.

   Kami di make up dan tak lama recording langsung dimulai. Hodong Sunbae dan Seunggi Sunbae sebagai MC Strong Heart membuka acara dan tirai di depan kami diturunkan, dan dimulai dengan wawancara-wawancara singkat, sampai akhirnya giliranku tiba.

   ”Dan ini dia, seorang gadis yang memenuhi thread berita, dan namanya menjadi yang paling dicari di internet selama pekan lalu,” kata Hodong Sunbae. Dia dan Seunggi Sunbae berteriak bersamaan. ”LEE HAEJIN!”

   Aku berdiri dan membungkuk ke arah para senior lain yang menjadi bintang tamu, total lima belas orang, ditambah kami bertiga, jadi delapan belas orang. Tiga bintang tamu tetap Jung Joori, Kim Hyojin, Kim Youngchul. Lalu ada Afterschool Gahee, UEE, dan Jooyeon Sunbae. Juga ada Simon D dan ketiga Teukigayo tentunya, dan beberapa Sunbae yang lebih senior lagi di acara ini.

   ”Annyeonghaseyo, Felidis Leader, Haejin-imnida, manasseo bangapsumnida.” Aku mengangguk sambil tersenyum.

   ”Haejin-ssi, ini pertamakalinya kau datang ke Strong Heart?”

   ”Ne, ini pertama kalinya aku dan Felidis datang ke Strong Heart, merupakan sebuah penghargaan untukku bisa diundang kesini bertemu Seunggi Sunbaenim, Hodong Sunbaenim, dan semua Sunbaenim yang ada disini.” Kataku lagi.

   Seluruh studio bertepuk tangan.

   ”Langsung saja kita bahas papan pertama dari Haejin-ssi, aku akan bicara untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya… apakah ini tentang berita dan foto-foto di internet yang beredar belakangan ini, Haejin-ssi?” tanya Hodong.

   Aku tertawa kecil. ”Ah ye, Sunbaenim… ini tentang pemberitaan simpang-siur yang beredar belakangan ini.”

   ”Woah…” seluruh studio nampak memang sangat menunggu-nunggu cerita ini.

   ”Jadi, soal foto-foto dan pemberitaan yang beredar setelah Taecyeon-ssi sendiri yang mengatakan bahwa memang dia sempat mengencani teman sesama trainee-nya, yang kini telah menjadi idol, benar?” tembak Seunggi langsung.

   Rasanya seluruh ruangan menahan napas saat mendengar pertanyaan Seunggi Sunbae kepadaku.

   Aku menghela napas menenangkan diriku, lalu menjawab perlahan-lahan. ”Ah ye, aku akan berbicara, seperti yang tertulis di papan ini,” aku memegang papan di sebelah kananku. ”Bahwa aku akan berbicara untuk pertama dan terakhir kalinya disini, mengenai pemberitaan yang simpang siur diluar sana.”

   ”Oh… ye, keurae, keurae!” ujar Seunggi dan Hodong seru, sementara bahkan seluruh bintang tamu sudah memutar kursinya ke arahku.

   ”Terkait soal pemberitaan yang Taecyeon-ssi katakan bahwa dia mengencani seorang trainee, ketika dia masih sama-sama trainee juga selama empat tahun, dan gadis yang kini dia kencani sudah menjadi idol. Juga soal foto-foto yang beredar belakangan ini soal identitas yeoja yang menjadi mantan kekasih 2PM Ok Taecyeon-ssi… dengan berat hati kukatakan,” aku menghela napas. ”Bahwa ya, itu semua benar… Lee Haejin adalah mantan kekasih Ok Taecyeon.”

   ”MWO?!”

   ”Jeongmalyeo?!”

   ”Jadi itu benar?!”

   ”Jinja?!”

   Aku tersenyum. ”Sejujurnya tadinya aku tidak mau membicarkan hal ini, tapi ketika semua pemberitaan diluar sudah bergerak, dan menjadi simpang-siur, aku rasa berkata jujur adalah jalan paling baik. Mungkin Taecyeon-ssi juga tidak suka memendam hal ini, makanya dia mengutarakannya, dan disini aku memberi penjelasan bahwa memang kami pernah berpacaran sekitar tahun 2004 hingga tahun 2008.”

   ”4 tahun, Haejin-ssi?”

   ”Ne, selama 4 tahun,” anggukku. ”Dan kami berpisah setelah 2PM debut, tak lama setelah 2PM debut.”

   Semua kembali riuh menanggapi ceritaku.

   ”Kalau boleh tahu, Haejin-ssi bagaimana kau dan Ok Taecyeon bisa menjadi sepasang kekasih ketika trainee?” tanya salah satu bintang tamu kepadaku.

   Aku tertawa. ”Kami bertemu saat sedang trainee, Taecyeon-ssi masuk JYP Entertainment lebih dahulu dariku. Jadi, ketika aku masuk JYP Entertainment, hari pertamaku, aku melihat Taecyeon-ssi sedang bermain gitar… disitulah aku jatuh cinta padanya.”

   ”WOW!”

   ”Suit-suit!”

   ”Jeongmal, manis sekali cerita itu.”

   Aku tersenyum. ”Kuakui aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya,” ceritaku dan semakin banyak yang tertarik mendengar ceritaku. ”Waktu itu, aku belum lama di JYP, dan aku memang menyukainya! Aku tidak tau harus bagaimana untuk menunjukkannya. Kebetulan, aku dan Wonder Girls Sunye Onnie, YeEun Onnie, lalu 2AM Im Seulong adalah sahabat dekat. Aku mendapatkan nomor Taecyeon-ssi dari Sunye Onnie.”

   Semua tertawa-tawa.

   ”Lalu kau langsung menyatakan perasaanmu kepada Taecyeon-ssi?” tanya Hodong kemudian.

   ”Aniyo!” gelengku, dan semua tertawa lagi. ”Meskipun mendapatkan nomor ponselnya, aku tetap tidak berani mengirimkan pesan, apalagi meneleponnya. Bahkan kalau bertemu dengannya saat latihan saja aku malu!”

   Semakin heboh semua meledekku.

   ”Lalu apa yang terjadi, Haejin-ssi?”

   ”Pada akhirnya, Seulongie, dia sepertinya tau kalau aku suka pada Taecyeon-ssi. Dan dia membantuku mendekati Taecyeon, itulah yang membuatku dan Seulong-ssi bisa dekat seperti sekarang. Akhirnya, aku berani mengirimi Taecyeon-ssi pesan, dan setelah itu ternyata responnya baik.”

   ”Woah!” semua bertepuk tangan.

   ”Jadilah, setelah itu kami sering kali berkirim pesan, tapi jika bertemu dengannya di kantor, aku dan dia jarang bicara, kami seperti masih malu-malu. Lama kelamaan kami mulai dekat, dan sekitar bulan Februari, Taecyeon-ssi meminta bantuan dari member 2PM dan 2AM untuk membeli banyaaaak balon…”

    ”OOOOHHH…” gumam semuanya.

   ”Aku dipanggil olehnya ke halaman belakang JYP Entertainment, dan disana ada taman berbentuk bundar. Disitu aku bertanya apa yang dia lakukan, dia memanggilku untuk mendekat padanya…”

   ”WOAH…”

   ”Lalu lalu?!” seru Seunggi dan Hodong semangat.

   Aku tersenyum, ”Lalu kemudian banyak balon di angkasa, dan dia menangkap satu balon berwarna merah muda, warna kesukaanku. Dia memberikannya kepadaku, aku masih tidak tau apa yang mau dia lakukan, aku hanya bilang kalau ini kan bukan ulang tahunku, untuk apa dia menyiapkan ini semua. Tapi kemudian satu kalimat yang keluar dari mulutnya bisa membuat duniaku berhenti saat itu juga.”

   ”Apa itu?”

   ”Dia bilang : ’jadi pacarku ya… jawablah, jadilah pacarku… awas kalau menolak!’”

   Dan semua tertawa.

   ”Ok Taecyeon-ssi bahkan semenjak sebelum debut sudah menjadi beast idol, dia meminta Haejin-ssi menjadi kekasihnya dengan galak sekali!” komentar Seunggi Sunbae disambut tawa yang lainnya.

   Aku tersenyum. ”Aku kaget, dan aku tanpa pikir panjang langsung mengiyakan pertanyaannya menjadi kekasihnya, dan sejak itu kami berpacaran. 2PM, 2AM, Wonder Girls, dan Felidis adalah saksi dari hubungan kami.”

   ”Lalu sejak itu kalian menjadi pasangan kekasih hingga?” tanya Hodong.

   ”Hingga 2PM debut, setelah 2PM debut sih tepatnya,” aku mengernyit. ”Aku masih ingat kejadiannya seolah itu masih kemarin. Taecyeon-ssi memanggilku ke gedung salah satu stasiun televisi swasta, dan disitu dia memutuskan hubungan kami.”

   ”Mwo?!”

   ”Haejin-ssi kau mau mengatakan kalau kau yang diputuskan oleh Taecyeon-ssi? Bukan sebaliknya?” tanya Gahee Sunbae penasaran dan kelihatan amat sangat kaget dengan pernyataanku barusan.

   Aku tersenyum dan mengangguk. ”Ne, aku masih ingat setiap kata yang dia ucapkan ketika memutuskan berpisah denganku.”

   ”Apa itu?”

   ”Bahwa, kami tidak cocok sebagai pasangan kekasih, dan…” aku tersenyum. ”Dia bilang aku akan menemukan orang lain yang mencintaiku seperti aku mencintai orang itu, dan orang itu bukan dia.”

   Semua terperangah mendengar komentarku.

   ”Tapi karena apa?!” semua bintang tamu mengkonfrontasiku penasaran.

   ”Aku sendiri tidak berharap dia menjelaskan lebih lanjut kepadaku, tapi entahlah apakah dia mau bercerita kepada televisi. Karena sampai sekarang yang aku dapat dari Taecyeon-ssi perihal putusnya hubungan kami adalah, bahwa dia hanya menganggapku sebagai adik selama empat tahun kami berpacaran.”

   Semua masih kaget.

   ”Dan kau menerima penjelasan seperti itu begitu saja, Haejin-ssi?” tanya Leeteuk Oppa bahkan penasaran dan nampak kaget dari sudut.

   Aku tertawa lagi, dan memutuskan jujur. ”Sejujurnya, tidak. Harus aku katakan dengan jujur, Taecyeon-ssi adalah cinta pertamaku. Bagaimanapun juga, aku datang jauh dari Mokpo, dengan tujuan bekerja dan mengobati Eommaku.” Mengingat Eomma membuatku sedih. ”Dan di Seoul, aku bertemu cinta pertamaku, bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya cinta pertama kalian, kan? Apalagi ketika dia bahkan menyambut perasaan kita, senangnya bukan main.” Kataku lagi. ”Tapi ketika… ketika dia bilang bahwa kenangan selama empat tahun itu hanya semu belaka, kalian bisa bayangkan rasanya.” Kataku lagi.

   Semua menatapku prihatin.

   ”Jadi apa yang kau lakukan setelah itu, Haejin-ssi?”

   ”Apa lagi? Menangis tentu saja,” jawabanku disambut tawa. ”Aku berlutut, aku menangis dan memeluk Taecyeon-ssi dari belakang, tapi dia melepaskan tanganku dan meninggalkanku sendiri.”

   Semua tersendat.

   ”Tapi kumohon jangan salah paham soal Taecyeon-ssi disini,” ujarku buru-buru. ”Aku dan dia hubungannya kini baik, kami seperti kakak-adik sekarang, kenangan itu sudah lewat, dan cerita ini hanya cerita masa lalu saja. Jeongmal, mungkin kami berdua memang tidak berjodoh, dan jalannya seperti ini. Jadi jangan salah paham pada Ok Taecyeon-ssi, dia tetap adalah namja yang pernah aku cintai, dan dia sangat baik, dulu maupun sekarang.” Kataku lagi.

   Semua bertepuk tangan lagi.

   ”Kyorin-ssi, Chihoon-ssi, kalian adalah member Felidis juga, apakah kalian mengetahui soal ini?”

   ”Ah ye.” Kyorin dan Chihoon mengangguk.

   ”Bagaimana keadaan Haejin-ssi waktu itu?”

   Kyorin memutuskan menjawab duluan. ”Aku benar-benar bersyukur bisa melihat Haejin Onnie menceritakan kisah cintanya sekasual ini.” Tandasnya. ”Setelah Haejin Onnie dan Taecyeon Oppa putus, kami sebenarnya sudah mempersiapkan debut, tapi Haejin Onnie kacau sejak itu.”

   ”Dan butuh waktu dua tahun bagi Haejin Onnie untuk bisa menceritakan kisah putusnya seperti ini,” Chihoon menunjukku, aku tersenyum pada setiap orang yang memandangku terkejut.

   ”Onnie tidak pernah makan dengan benar, tidur dengan benar, dan menari serta menyanyi dengan benar pasca putus dari Taecyeon Oppa.” Jelas Kyorin lagi. ”Debut kami diundur, dan aku dan Chihoon, Sunye Onnie, YeEun Onnie, Seulong Oppa, Nichkhun Oppa, Junsu Oppa semua bingung bagaimana mengembalikan Haejin Onnie seperti dulu.”

   ”Astaga…” semua menggumam kasihan.

   ”Dan Taecyeon-ssi nappeun namja, tidak melakukan apa-apa?” tanya salah satu bintang tamu senior lainnya.

   ”Sejujurnya memang dia tidak melakukan apa-apa,” jawab Chihoon lagi. ”Dia diam saja.”

   Semua langsung menarik napas kaget.

   ”Sunye Onnie dan YeEun Onnie terutama yang paling dekat dengan Haejin Onnie dari Wonder Girls, mereka rutin menghubungi Onnie ketika mereka di Amerika. Seulong Oppa, Khun Oppa, Junsu Oppa, semua mencoba membantu Onnie bangkit kembali.” Tambah Kyorin.

   ”Dan bersyukurnya Januari 2009, Haejin Onnie berhasil bangkit dan kami berhasil debut, Onnie sangat profesional jika di panggung. Tapi kami tau betapa rapuhnya Onnie, setiap melihat Taecyeon Oppa dia akan menangis dan lari…” jelas Chihoon. ”Aku kasihan melihat Onnie seperti itu.”

   ”Tapi biar bagaimanapun juga Haejin Onnie harus tetap bangkit, dan sangat sulit meminta Onnie untuk kembali seperti ini. Dan kini kami sangat bersyukur Haejin Onnie telah kembali.”

   Semua bertepuk tangan.

   ”Jadi Haejin-ssi dan Taecyeon-ssi berbaikan lama setelah putus?” tanya Hodong lagi.

   Aku mengangguk. ”Harus kukatakan memang agak lama, setelah aku benar-benar siap dan benar-benar bisa menerima kenyataan bahwa Taecyeon-ssi dan aku tidak ditakdirkan bersama. Kini kami menjadi kakak-adik.”

   ”Lalu apa yang membuatmu jadi menerima hal itu, Haejin-ssi? Apakah tiba-tiba saja kau sudah tidak mencintai Taecyeon-ssi?”

   Aku tersenyum hangat. ”Aku bahkan merasa masih mencintai Taecyeon-ssi hingga awal tahun ini, tapi itu semua langsung lenyap seketika!”

   Kurasakan Chihoon dan Kyorin menoleh menatapku.

   ”Apa yang membuatmu tiba-tiba tidak mencintainya, Haejin-ssi?”

   ”Bukan tiba-tiba juga, atau bisa disebut juga kebetulan?” tanyaku lagi, sambil tertawa. ”Aku mempersiapkan sebuah tarian untuk menjelaskan tentang perasaanku pada saat ini.”

   ”Oh, jeongmalyeo?”

   ”Ne, kalau tidak keberatan, bolehkah?” tanyaku meminta izin. Dan semua bintang tamu di Strong Heart mempersilakanku. Aku segera ke belakang dan mengganti pakaianku dengan tutu, dress ballet yang sudah kumodifikasi habis-habisan kecuali bagian roknya yang berjumbai dan legging-nya, bagian atasnya adalah kaus yang kurobek dengan artistik.

   Begitu kembali ke panggung Strong Heart semua bertepuk tangan menyambutku. Aku memberi isyarat agar musik diputar, karena aku sudah memakai wire microphone, mikrofon yang digunakan dikuping agar si penyanyi bisa menari dan menyanyi pada saat bersamaan agar tidak merasa terganggu.

   ”Ini untuk pertama kalinya aku membawakan ballet kontemporer digabungkan dengan nyanyian. Kupersembahkan semua ini untuk seseorang yang belakangan ini berhasil menjahit luka-luka hatiku dan membuatku bisa berdiri disini!”

   Semua bertepuk tangan lagi.

   Musik berputar dan aku mulai melakukan jumping dengan sepatu ballet kesayanganku dan tanganku memelintir anggun. ’A new day come… a new day come…’ aku sambil bernyanyi. Aku berputar anggun diiringi decak kagum lagi dan membungkuk pelan, lalu berdiri.

   ’I was waiting for so long… for the miracles come, everyone told me to be strong, hold on… don’t shed the tears…’ aku berputar lagi dengan gerakan ballet yang cepat. ’Through the darkness and good time, I knew I’d make it through… and the world thought I had it all, but I was waiting for you…’ aku menunjuk ke depan kamera.

   Aku ingat saat Donghae berlari menghampiriku yang terjatuh, dia mengelus kepalaku pelan dan menenangkanku, dia bilang aku tidak boleh menangis. Dia memijat kakiku yang kini menapak untuknya.

   ’Hush, love… I see the light in the sky, oh… it’s almost blinding me, I can’t believe I’ve been touch by an angel with love…’ aku menyanyikannya sambil memejamkan mata. Aku ingat bagaimana senyum Donghae menyambutku, aku ingat bagaimana dia bilang agar aku cepat sehat di rumah sakit, bagaimana selama tiga hari dia mengunjungiku tengah malam. ’Let the rain come down and wash away my tears, let it fill my soul and drown my fears… let it shatter the walls for the new, new sun… a new day has… come!’ aku melakukan fast spin dengan cepat dan semua bahkan ikut mendesah kagum melihat ekspresi wajahku yang amat bahagia.

   ’When it was dark now that’s light… where there was a pain now there’s joy… where there a weakness, I found my strength all… in the eyes of the boy…’ benar, aku menemukan kekuataan dari sepasang mata cokelat yang selalu menatapku teduh penuh cinta. Yang begitu terharu saat aku memasakkan sesuatu untuknya, yang begitu terharu saat aku bilang aku bersedia menjadi kekasihnya, yang menatapku dalam dan membuatku luluh dalam pelukan hangatnya.

   Dia laki-laki itu, Donghae.

   ’Hush, love… I see the light in the sky, oh it’s almost blinding me, I can’t believe I’ve been touch by an angel with love…’ aku memang melihat cahaya, dan itu membutakanku! Dan dia malaikat yang menyentuhku dengan cinta, dia Lee Donghae. ’Let the rain come down and wash away my tears, let it fill my soul and drown my fears… let it shatter the walls, for the new sun… a new day has…’ aku menggunakan nada tinggi yang biasanya tidak pernah berani kucoba. ’come… hush love, I see the light in the sky… all in the eyes of the boy…’ aku berputar semakin pelan.  ’I’ve been touch by an angel with love… hush love… a new day has come…’ A new day has come, hari yang baru terlah tiba… biarkan hujan menghapus tangis dan memenuhi jiwaku, mendorong pergi takutku, dan menyambut mentari baru.

   Dan aku menangis terharu.

   Lee Donghae aku cinta padamu.

   Semua bahkan berdiri memberiku tepuk tangan, aku membungkuk-bungkuk dan mengusap tangisku, aku benar-benar tak bisa menahannya. Air mata bahagiaku tumpah begitu saja.

   ”Jadi, Haejin-ssi, makna dari tarian tadi adalah?”

   ”Hari yang baru telah tiba… ada malaikat yang turun dari surga, menyentuhku dengan cintanya, dan aku bisa berdiri disini, kuat seperti ini, semua karena dia. Untukmu yang telah membuatku seperti ini, ingin kukatakan padamu… aku cinta padamu!” seruku membuat semua orang bersorak.

   Teukigayo kompak bertepuk tangan, kulihat Leeteuk Oppa dan Eunhyuk turut menangis.

A New Day Has Come – Celine Dion

Hari Baru Telah Tiba – Celine Dion

I was waiting for so long – Telah lama kumenunggu

For a miracle to come – keajaiban datang padaku

Everyone told me to be strong – semua orang memintaku kuat

Hold on and don’t shed a tear – bertahan dan jangan menangis

Through the darkness and good times – Melalui kegelapan dan waktu yang indah

I knew I’d make it through – kurasa aku sudah melalui semuanya

And the world thought I had it all – dan dunia pun mengira demikian

But I was waiting for you – tapi aku masih menunggumu

Hush, love – hush, cinta…

I see a light in the sky – aku melihat cahaya di angkasa

Oh, it’s almost blinding me – oh, itu hampir membuatku buta

I can’t believe – aku tak percaya

I’ve been touched by an angel with love – Seorang malaikat menyentuhku dengan cinta

Let the rain come down and wash away my tears – biarkan hujan turun dan menghapus air mataku

Let it fill my soul and drown my fears – biarkan itu mengisi jiwaku dan mengusir takutku

Let it shatter the walls for a new, new sun – biarkan itu mengikis dinding-dinding untuk matahari, matahari yang baru

A new day has…come – hari yang baru telah tiba

Where it was dark now there’s light – dimana ada kegelapan, maka disitu ada cahaya

Where there was pain now there’s joy – dimana ada kesakitan, maka disitu ada kebahagiaan

Where there was weakness, I found my strength – ketikaku lemah, aku menemukan kekuatan

All in the eyes of a boy – semua ada di dalam mata seorang pria

 

Hush, love – hush, cinta…

I see a light in the sky – aku melihat cahaya di angkasa

Oh, it’s almost blinding me – oh, itu hampir membuatku buta

I can’t believe – aku tak percaya

I’ve been touched by an angel with love – Seorang malaikat menyentuhku dengan cinta

Let the rain come down and wash away my tears – biarkan hujan turun dan menghapus air mataku

Let it fill my soul and drown my fears – biarkan itu mengisi jiwaku dan mengusir takutku

Let it shatter the walls for a new, new sun – biarkan itu mengikis dinding-dinding untuk matahari, matahari yang baru

A new day has…come – hari yang baru telah tiba

-To Be Continued-

Terima kritik apa aja deh😥 bantu doa ya, Hae, Nyuk, Min, Yes luka… aku ngepost ini sambil nangis😦 Semoga wangsit nggak dateng telat lagi, maaf buat yang nunggu-nunggu… ff lain juga masih tanpa ilham di kepala huhuhu

156 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 16~

  1. haejin sm taecyeon oppa akhirnya bs baikan jg ^^.. pngn tau reaksi donghae oppa wktu liat rekaman acara strong heart itu, psti uri oppa nangis lg😄..

  2. kurang panjaaaanggg nishaaaaaa!!!! T.T
    aishhh serem amat kehidupan idol korea.,,
    yayaya.,, donghae oppa pasti nangisss.,, bkin laguuu buat haejin donk!!lee teuk oppa kok gak komen y??
    u d best deh nishaaa.,,,

  3. Udah deh, si ikan Mokpo pasti nangis kalau nonton Strong Heart. kkkkkk

    Aku rasa, kehidupan idol Korea tidak jauh dengan cerita di ff ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s