Press The Reset : Time

Author: nisya aka pacardonghae

Genre: Romance, Family, Fantasy

Rating: PG-13

Length: OneShot

Main cast:

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae

Other cast:

  • Min Sunye
  • Im Seulong
Soundtrack :
  • JungAh – My Bell

Agustus 2011, Rumah Sakit Internasional Seoul

Seorang wanita muda dengan gaun ringan berwarna gading keluar dari sebuah ruangan sambil memegang amplop putih besar. Wanita berambut sebahu itu membungkuk sambil tersenyum formil kepada dokter yang baru saja memeriksakan keadaannya. Setelah pintu tertutup, gadis itu terus melangkahkan kakinya menuju sebuah kedai kopi dengan gaya modern, yang terletak di sisi kiri rumah sakit itu.

   Wanita itu memesan minuman favoritnya, Caramel Frappucino, dan dia memilih tempat duduk paling sudut untuknya. Dia mulai duduk, dan meneguk minumannya pelan, seketika dia memijat pelipisnya dan meletakkan lagi minuman dingin tersebut di meja, dan dengan napas berat, dia mengeluarkan hasil tesnya lagi, dan membacanya ulang.

   Membacanya untuk kedua kalinya, ternyata sama buruknya ketika mendengar hasilnya sendiri tadi. Dokter mengatakan memang sulit peluang untuk Haejin bisa memiliki anak. Kondisi rahimnya yang lemah, ditambah dulu dia pernah mengidap penyakit kista, dan setahun lalu pun dia baru melakukan operasi mium.

   Haejin menghela napas berat memasukkan kembali hasil tesnya ke dalam amplop putih besar tadi dan memasukkannya ke dalam tas. Dia menghapus air matanya yang tanpa ia sadari sudah mengalir begitu saja, dia menghela napas berat, lagi dan lagi. Dia harus melakukan pengobatan rutin untuk benar-benar membersihkan rahimnya, apabila tidak ingin rahimnya diangkat.

   Sebagai seorang wanita, Haejin merasa hidupnya tertata baik, dan sempurna. Dia lulus kuliah tepat pada waktunya, dan sebelum lulus pun, dia sudah memiliki pekerjaan. Saat itu dia dilamar oleh kekasihnya, dan mereka menikah tepat ketika Haejin lulus. Setelah lulus, dan tetap bekerja, target selanjutnya adalah memiliki keturunan, bukan? Begitu pula Haejin dan suaminya. Tapi apa daya, mereka tidak diberi kemudahan untuk mendapatkan keturunan, meski kini pernikahan mereka telah masuk tahun keempat.

   Haejin tau, suaminya sangat menyukai anak kecil, sama seperti dirinya, yang bekerja di sebuah TK. Haejin pun tau, suaminya sangat mendambakan kehadiran anak ditengah-tengah mereka, meski tak sedikitpun satu keluhan keluar dari bibir suaminya mengenai penyakitnya, tetap saja Haejin merasa terbebani.

   Ponsel Haejin bergetar, saat dia melamun menatap minumannya, Haejin meraih ponselnya, dan melihat bahwa suaminyalah yang menghubunginya. Hati Haejin terasa diremas, bagaimana dia menjelaskannya kepada suaminya, bahwa kesempatan mereka memiliki buah hati sedikit? Dia tidak sempurna menjadi seorang wanita.

   ”Yeoboseyo.” Sapa Haejin.

   ”Yeoboseyo, Haejin-ah, sudah selesai periksanya?” tanyanya khawatir. ”Bagaimana keadaanmu?”

   Haejin bingung harus menjawab apa, akhirnya dengan berat hati ia terpaksa berbohong. ”Oh, hasilnya belum keluar, Hae… mungkin nanti sore, aku harus kembali ke kantor.”

   ”Keurae?” tanyanya. ”Baiklah, hati-hati ya, Sayang.” Pesannya.

   ”Ne, kau juga,” Haejin menyimpan kembali ponselnya dan segera membereskan barang-barang yang ia bawa, lalu ia bergegas kembali ke sekolah tempatnya bekerja sambil membawa amplopnya.

   Sorenya setelah mengajar Haejin langsung pulang ke rumah, ia meletakkan hasil tesnya di atas meja tamu, bertekad dia toh harus mengatakan hal ini kepada suaminya, maka sebelum itu, Haejin seperti biasanya menyiapkan makan malam, dan membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum suaminya pulang.

   Haejin memakai kemeja biru dan celana panjang putih kesayangannya, dengan rambut masih terbungkus handuk, lalu ia menutup kembali pintu kamar mandi sambil melangkah menuju kamar tidurnya untuk mengeringkan rambut, namun tertangkap oleh matanya, suaminya sedang duduk menunduk sambil memegang kertas hasil tesnya tersebut.

   ”Maaf,” ucap Haejin pelan begitu mendekat.

   Pria yang sedang menunduk itu tiba-tiba mendongak, pria yang tampan, garis wajahnya tegas, hidungnya lurus, rahangnya kokoh, dan matanya tajam, teduh, dan indah. Pria yang dicintai Haejin sepenuh hati, suaminya, Lee Donghae.

   ”Maafkan aku,” hanya itu yang dapat Haejin katakan.

   Donghae hanya diam, menggenggam hasil tes tersebut, dia menatap Haejin lagi. ”Kau pernah kista?” tanyanya pelan.

   Haejin mengangguk pelan.

   ”Kau tidak pernah bilang…” ujarnya pelan, ada nada terluka dari suaranya.

   Haejin tidak bisa menahan air matanya lagi, dia terus menunduk. ”Maafkan aku, maaf. Aku… tidak akan bisa menjadi istri yang baik bagimu,” isaknya. ”Aku tidak bisa memberimu anak, maaf…”

   ”Aku bukan marah karena itu!” Donghae membanting kertas tes. ”Kenapa? Kenapa kau tidak pernah bilang? Kenapa kau memendamnya sendiri? Haejin-ah, aku suamimu!”

   ”Maaf, Hae, maaf.” Haejin menghela napas dalam-dalam. ”Hae,” panggilnya pelan, Donghae hanya meliriknya. ”Kau… boleh… mencari wanita lain untuk memberimu anak.”

   Dia menoleh cepat dan matanya berubah tajam. ”Apa maksudmu?!”

   ”Aku bisa terima kau mau meninggalkanku,”

   ”Kenapa kau bilang begitu?” perlahan suaranya melembut dan Donghae mendekati Haejin. ”Aku… aku tidak marah karena kau tidak…” Donghae bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata, tapi dia merengkuh lengan Haejin, Haejin menunduk dan terisak-isak. ”Aku marah karena aku suamimu, tapi aku tidak tahu soal ini!”

   Haejin masih terisak-isak.

   ”Uljima, maafkan aku,” Donghae mengusap air mata Haejin. ”Aku mencintaimu, jangan ucapkan kata-kata tak masuk akal itu lagi, ya?”

    Malam itu mereka tidur dengan suasana dingin masih menyelimuti mereka, Donghae bahkan tidak mendekapnya seperti biasa. Mereka tidur beradu punggung, dan Haejin tidak bisa berhenti menangis semalaman, dia yakin, meski Donghae tidak bilang apa-apa, Donghae pastilah kecewa.

   Hari-hari mereka ditambah buruk oleh kedua orangtua Donghae yang menginginkan cucu. Donghae adalah satu-satunya putra dalam keluarga mereka, dan mereka hendak memiliki penerus! Haejin semakin tertekan atas tekanan yang diberikan keluarga Donghae, pengobatannya tidak berjalan lancar karena pengaruh psikologisnya yang terlalu stress.

   ”Jangan dipikirkan, aku cinta padamu apa adanya,” ucap Donghae.

   Haejin bisa memegang kata-kata itu, tapi apa yang terjadi lama kelamaan, Donghae yang kini memimpin perusahaan Lee Corporation, warisan sang ayah, semakin lama semakin sibuk, belum lagi fakta kedua orangtua Donghae akhirnya mengetahui bahwa Haejin ’hampir’ mandul, dan bisa dipastikan nyaris tidak bisa menghadirkan anak dikeluarga mereka, maka Donghae sering dipertemukan dengan gadis-gadis lain, agar Donghae mau meninggalkan Haejin.

   Haejin sendiri hanya bisa diam, dia berharap Donghae pada sendirinya mau meninggalkan dirinya, karena dia telah gagal menjadi seorang istri. Keduanya perlahan-lahan, tanpa mereka sadari satu sama lain, telah menjauh, semakin jauh dan jauh.

   Setelah nyaris enam bulan hanya bertukar sapa saat sarapan, dan bertemu saat tidur saja, Haejin memutuskan untuk mengantarkan Donghae makan siang, karena sudah lama ia tidak membuatkan makan siang untuk suaminya. Ketika dia mengantarkan makan siang tersebut ke kantor, pemandangan yang ia lihat sungguh ternyata bisa meremukkan hatinya. Ayah mertuanya, sedang menjodohkan suaminya dengan seorang gadis cantik, dan begitu ayah mertuanya pergi, Donghae dan gadis itu berciuman mesra.

   Ternyata, tetap sakit melihatnya. Bagaimana pun, meski Haejin siap melepas Donghae, hatinya tetap tidak bisa dibohongi. Betapa ia masih mencintai suaminya yang tengah berciuman mesra dengan gadis lain itu.

   ”Jadi kapan kalian bisa menikah?” tanya Ayah mertuanya, tanpa menyadari bahwa Haejin melihat dari balik pintu. ”Segera ceraikan wanita cacat itu, Lee Donghae, dan menikahlah dengan Sunye.”

   ”Segera, Appa.”

   Dan air mata Haejin tumpah mendengar jawabannya, menyakitkan. Padahal ia siap menerima Donghae meninggalkannya suatu saat nanti, tapi toh ternyata dia berharap janji-janji manis Donghae itu menjadi kenyataan. Haejin berbalik dan melangkah pergi dari kantor suaminya.

   Haejin menangis tersedu-sedu di depan pintu apartemennya, dia tidak bisa memasukkan kunci kombinasi pintunya dengan benar, hingga ia terjatuh dan menangis di depan pintu, ia meringkuk, lemah. Dia tidak bisa punya anak, pria mana yang bisa menerimanya? Pria mana pun akan meninggalkannya.

   ”Haejin?”

   Haejin mendongak, melihat sahabat kecilnya, Seulong, yang tinggalnya memang hanya berbeda pintu dengannya. ”Kau kenapa?” Seulong menghampirinya, dan Haejin terisak semakin keras, Seulong memeluknya. ”Kau kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa menangis disini?”

   Haejin cuma terisak-isak membenamkan wajahnya dibahu Seulong.

   ”Oke, uljima, uljima, kau tenangkan dirimu, baru bercerita pelan-pelan padaku, tenang…” Seulong mengelus punggung Haejin dan berusaha menenangkannya. ”Uljima, Haejin-ah.”

   Haejin masih terisak-isak, namun kemudian dia merasakan pelukannya mengendur, dan mendongak dengan kaget. Seulong ditarik paksa oleh Donghae, dan Donghae melayangkan pukulannya kepada Seulong.

   ”BANGSAT! DIA ISTRIKU!” maki Donghae.

   Haejin menjerit saat Donghae mulai memukuli Seulong kaget dan tidak siap, Haejin menempatkan diri diantara keduanya, dan tinju Donghae melayang pada wajahnya. Haejin tersungkur tepat di atas tubuh Seulong yang terbelalak.

   ”KAU MEMUKUL WANITA, KAU BANCI!” dengan naik darah Seulong berdiri dan hendak memukul Donghae yang kaget.

   ”JEBAL, BERHENTI!” teriak Haejin terisak-isak.

   Seulong berhenti dalam keadaan masih melayangkan tangannya pada Donghae yang masih terkejut akan pukulannya yang justru mengenai Haejin, dengan tertatih-tatih Haejin berdiri diantara mereka berdua dan menangis. ”Sudah, jangan berkelahi lagi…” isaknya.

   ”Haejin, gwenchana?” tanya Seulong khawatir.

   Haejin mengangguk, ”Gwenchana, gwenchana… gomawo,” dan Donghae menyeretnya paksa, sehingga Seulong hendak menariknya lagi, namun Haejin menggeleng dan Seulong melepaskan cengkramannya pada Donghae, dan Donghae menyeret Haejin masuk ke dalam apartemen mereka.

   Didalam Haejin dihempaskan ke atas sofa.

   ”Apa maksudmu berpelukan dengan sahabatmu di depan pintu? Sudah berani berselingkuh di depanku, hah?!” tanya Donghae tajam.

   Bukannya meminta maaf telah memukul, tapi justru menuduh Haejin berselingkuh? Haejin menatap Donghae tidak percaya, padahal jelas-jelas Donghaelah yang berselingkuh. Haejin melihat dengan mata kepalanya sendiri Donghae berciuman dengan wanita lain.

   ”Kalian sahabat atau pacar? Katakan padaku!” bentaknya.

   Haejin menghela napas dalam-dalam menyeka lukanya, ”Aku tidak mau membahasnya dalam keadaan begini.”

   ”Kau selingkuh!” teriak Donghae di depan wajah Haejin.

   ”Aku tidak berselingkuh!”

   ”Wanita macam apa yang berpelukan dengan pria lain sementara dia sudah memiliki suami?!” balas Donghae.

   Haejin hendak membalas mengatakan bahwa ia melihat Donghae berciuman dengan wanita lain,  tapi tidak bisa. Haejin cuma bisa menangis, dan menggeleng-geleng, dia berdiri hendak masuk ke kamar, tapi Donghae menariknya dan menjatuhkannya lagi ke sofa.

   ”Kau, gadis cacat!”

   ”Keurae, aku gadis cacat!” teriak Haejin. ”Maka ceraikan aku!”

   Wajah Donghae berubah menjadi pucat, dia tidak menyangka Haejin akan mengeluarkan kata-kata itu. Haejin mengangguk dengan air mata mengalir. ”Iya aku cacat, memang aku cacat, Hae… maka tinggalkan aku, carilah gadis lain.”

   ”Cih~” Donghae menggelengkan kepalanya tidak percaya, Haejin bisa melihat ada setitik air mata jatuh, tapi Donghae terus memandangnya dengan pandangan merendahkan. ”Jadi karena Seulong kau meminta berpisah?! Oke, kukabulkan! Tunggu berkas perceraian kita besok!” dan Donghae meninggalkan Haejin begitu saja, dia keluar dari apartemen mereka malam itu juga.

   Haejin menangis sesenggukan sendirian, dia memeluk lututnya, dalam keadaan wajah memar, dan hati terluka. Rasanya semua kenangannya bersama Donghae berputar cepat. Ketika mereka berkenalan, ketika mereka melakukan pendekatan, ketika mereka jatuh cinta, jadi sepasang kekasih, mereka menikah, dan kenangan indah lainnya yang mereka lewati bersama.

   Semua yang manis tidak selalu berakhir manis juga, Haejin menerima kenyataan bahwa cintanya harus kandas.

   Malam itu Donghae tidak pulang, entahlah, mungkin dia tinggal di rumah wanita yang ia cium tadi. Tapi perasaan Haejin tidak tenang, dia tidak pernah tenang jika tak ada Donghae di rumah. Dulu, jika sendiri di rumah, Haejin akan menelepon Donghae berkali-kali, hingga Donghae pulang dan memeluknya. Kenangan-kenangan itu berpusing cepat, dan Haejin hanya bisa meratapinya.

   Tepat hari ketiga Donghae tidak pulang, tapi tidak pernah ada surat cerai yang sampai kepadanya. Mau tak mau Haejin cemas, karena kantornya pun mengatakan bahwa Donghae tidak ada, orangtuanya pun bahkan tidak tahu Donghae kemana. Mereka justru mencari Donghae pada Haejin, dan Haejin hanya bisa menjawab bahwa Donghae sudah tidak pulang selama tiga hari.

   Haejin semakin cemas, bagaimanapun, dia mencintai Donghae, dia takut sesuatu yang buruk menimpa suaminya itu. Jumat pagi, genap satu minggu Donghae menghilang. Pihak keluarga sudah meminta polisi untuk mencari jejaknya, dan genap satu minggu Haejin tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus menunggu, barangkali Donghae akan pulang, karena berapakalipun dia mencoba menghubungi Donghae, tetap nihil.

   Bel apartemennya berdering, Haejin buru-buru berlari dan membukanya cepat. ”Hae?!” pekiknya. Tapi tak ada siapa-siapa, Haejin menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mendesah kecewa. Pastilah hanya kerjaan orang iseng, hendak menutup pintu ketika terdengar rengekan.

   Haejin menunduk, dan matanya membulat terkejut melihat seorang bayi laki-laki terbaring di atas keranjang bayi, dengan selembar surat dipegang tangan montoknya yang kecil. Dia terus menangis, Haejin sadar dari keterkejutannya dan langsung membawa keranjang bayi itu masuk, serta mengunci pintunya. Dia memeriksa surat tersebut.

Kepada : Mrs Lee

            Jagalah bayi ini, anggaplah bayi ini hadiah dari surga untukmu

   Tak ada nama pengirim Haejin memandang bayi laki-laki itu, bayi itu menangis, dan Haejin buru-buru menggendongnya dan menimangnya dalam pelukannya. ”Sayang~ cup cup, jangan menangis, Momma disini.” Mengucapkan hal itu membuat perasaan Haejin menghangat. Dia selalu mau dipanggil Momma, jika dia memiliki buah hati. Padahal dia sudah yakin tidak akan bisa dipanggil Momma, namun dengan adanya bayi yang dibuang begini, dia merasa, dia diberikan kesempatan oleh Tuhan.

   ”Oooh, sudah berhenti menangis, anak tampan,” Haejin mengajaknya duduk di sofa, dan melihat bayi itu. Bayi itu berusia sekitar sembilan bulan, ia montok, sehat, dan rambutnya masih sedikit. Wajahnya luar biasa tampan, dan rambutnya sedikit. Bayi itu menatap Haejin lekat-lekat. ”Kau haus? Momma tidak punya susu… mau beli susu?”

   Bayi itu hanya memainkan pipi Haejin, Haejin terkekeh, dan mencium pipi bayi itu. ”Kyeopta! Ayo, Momma belikan susu…” Haejin menggendong bayi itu dan membawanya keluar. Kebetulan di bawah, lantai dasar apartemen, ada sebuah swalayan kecil dua puluh empat jam.

   ”Tapi bahkan disurat itu ibumu tidak memberitahu siapa namamu,” gumam Haejin sambil mengelus rambut bayi yang bermain-main dengan rambutnya itu. ”Aku panggil apa ya? Baby saja, ya?”

   Tentu saja bayi itu tidak menjawab.

    ”Baby, mau minum susu apa? Momma tidak tau kau suka susu apa,” Haejin mendorong troli begitu sampai di swalayan bawah, dan meletakkan bayi itu di kursi khusus anak yang biasa ada troli. ”Aku tidak tau, kau harus kuberi susu yang mana, umurmu sekitar sembilan bulan ya? Montok dan sehat, kenapa ibumu membuangmu ya? Tenang saja, Momma ada disini, Momma ada untukmu.”

   Bayi itu tertawa-tawa senang dalam troli.

   ”Nah, ini susu formula untuk bayi dibawah satu tahun, gigimu bahkan belum ada, kurasa ini cocok untukmu,” Haejin memasukkan dua kaleng susu itu ke dalam troli dan membawa troli itu lagi, mereka melewati daerah daging-daging. Haejin diam memandangi daging bulgogi.

   Bulgogi, masakan kesukaan Donghae.

   Bayi itu merengek.

   ”Ah, mian, Momma melamun, hehehehe… Momma ingat Poppamu,” ucap Haejin pelan. ”Poppamu sukaaaa sekali bulgogi, ah ya, Momma belum cerita soal Poppa ya? Nanti Momma ceritakan.” Haejin menghapus air mata yang tau-tau sudah merembes keluar lagi.

*           *           *

Setelah minum susu, Haejin menggendong bayi itu ke dalam kamar dan berusaha menidurkannya. Tapi Baby tetap tidak mau tidur, dia terus berusaha mengajak Haejin bermain. Haejin bermain dengannya sepenuh hati, kapan lagi dia punya kesempatan seperti ini?

   Tiba-tiba saja saat Haejin menggendong Baby tinggi-tinggi, Baby menunjuk pigura foto yang terpajang diatas kasur. Dan menunjuk-nunjuk, lalu berceloteh heboh dengan bahasa bayinya. Haejin gemas sekali pada bayi ini, dan mencium pipinya habis-habisan.

   Bayi itu menunjuk fotonya dan Donghae.

   ”Ah, ye… itu Poppa, Baby sayang,” Haejin berkata, dan seolah mengerti Baby itu menolehkan wajah polosnya pada Haejin. ”Poppa dimana? Molla, Momma juga tidak tahu. Poppa tidak pulang satu minggu…” Haejin menerawang. ”Poppa tidak menjawab telepon Momma,” dan Haejin tidak sanggup menahan tangisnya. ”Momma tidak apa-apa Poppa pergi, tapi yang Momma takut, sesuatu terjadi pada Poppa.”

   Bayi itu mengusap-usap pipi Haejin, Haejin terkekeh, dan mengusap air matanya. ”Maaf Momma cengeng, Momma kangen Poppa,” isaknya lagi. ”Poppamu pasti suka melihatmu, kau tampan, seperti Poppa. Sayang Momma tidak bisa punya anak, kalau bisa kau akan punya adik.” Kekeh Haejin sambil mencubit pipi bayi itu.

   Akhirnya bayi kecil itu tertidur juga, Haejin tetap terjaga, menunggu, di hari ke delapan Donghae tidak pulang ini. Dimanakah Donghae? Saat sedang melamun di ruang tengah, Haejin kaget mendengar pecahnya tangis bayinya itu. Haejin buru-buru berlari ke kamar dan menggendongnya lagi.

   ”Baby kenapa? Cup cup cup, takut ya sendirian ya? Maaf, Momma diluar, menunggu Poppamu,” gumam Haejin sambil bergoyang menenangkan Baby dalam dekapannya. ”Maaf ya, Sayang, Momma minta maaf.”

*Agustus 2012*

Hari demi hari dilalui Haejin tanpa sepi lagi seperti dulu ketika dia dan Donghae menjauh. Meski kini Donghae tidak ada, ada Baby yang menemani hari-hari Haejin. Seluruh tetangga apartemen Haejin tau kalau Haejin dititipi bayi yang dibuang, sehingga tidak menuduh Haejin macam-macam.

   Sementara di satu sisi, Haejin merasa tersiksa. Donghae tetap tidak ditemukan, jejak terakhir Donghae adalah di pinggir pantai Mokpo. Mobilnya masih ada disana, dan ditelusuri kemungkinan besar, Donghae mabuk, dan jatuh ke laut. Tidak ada kemungkinan lain selain itu.

   Dan entah kenapa, Haejin tau dia tidak bisa menangisi Donghae di depan Baby itu. Baby itu pasti akan ikut menangis jika melihat Haejin menangis. Maka, setiap bayi itu tertidur, barulah Haejin menangis meratapi kehilangannya. Dia masih belum mau percaya kalau Donghae sudah tidak ada.

   Satu tahun berlalu, bayi itu semakin besar, dan semakin mirip Donghae. Itu membuat Haejin semakin merindukan suaminya yang hilang entah kemana. Dia mencintai Donghae, dan itu tetap tidak berubah. Meski kenangan terakhirnya tentang suaminya adalah kekerasan dan perselingkuhan.

   Cinta memang buta.

   ”Haejin, kau tidak bisa terus seperti ini,” ucap Ibunya padanya. ”Mau sampai kapan kau menunggu Donghae? Lagipula, anggap saja Baby adalah titipan Tuhan untukmu. Kau tidak bisa hidup berlarut-larut dalam kesedihanmu.”

   Haejin mendekap erat Baby dalam pelukannya. ”Lalu masuk Eomma apa?”

   ”Menikahlah lagi, Nak,” ucap Eommanya. ”Eomma sudah tidak kuat melihatmu menangis terus, meratapi Donghae yang sudah tidak ada. Menikah sajalah dengan Seulong, dia sahabatmu, kan?”

   Haejin menggeleng. ”Eomma, tidak bisa! Aku lebih baik hidup bersama Baby berdua daripada harus menikah dengan orang yang tidak kucintai. Mungkin Donghae sudah tidak ada, tapi cintaku padanya masih ada, Eomma, dan selama itu masih ada, aku tidak mau menyerahkan hatiku pada siapa pun.” Isak Haejin. ”Aku mencintainya Eomma.” Haejin mendekap Baby erat-erat.

   ”Ma… ‘angan ‘angis,” bujuk Baby.

   Haejin terkekeh dan menghapus air matanya sementara ibunya menatap mereka miris. ”Mian, Baby, Momma tidak menangis lagi.”

   Ibu Haejin tersenyum. ”Ya terserah kalau begitu, Eomma hanya memberi saran. Haejin-ah, ngomong-ngomong Baby ini mirip Donghae, ya?”

   ”Ne, Eomma, mirip sekali,” Haejin mencium pipi Baby. ”Andai aku punya anak dari Donghae, pasti seperti ini.”

*8 Agustus 2012, ulang tahun pernikahan Haejin-Donghae ke-5*

Baby sudah ditidurkan di kamar, Haejin kemudian menyalakan lilin-lilin di sekeliling kamarnya. Setelah menyala, Haejin bernyanyi sendiri. ’Saengilchukahamnida, saengilchukahamnida, saranghaeneun uri soebang, saengilchukahamnida…’ dia tidak tahu harus menyanyi lagu apa untuk ulangtahun pernikahan. Dia dan Donghae biasa bernyanyi seperti ini dalam keadaan begini di setiap ulangtahun pernikahan mereka. Tidak ada makan malam romantis, hanya bernyanyi dengan penerangan lilin dalam kamar mereka dan mereka akan saling mengucapkan selamat.

   Kini, Haejin melakukannya sendiri.

Time goes so fast

Then I thought of the ring you always like to come

I love you in my life again and give me a whisper

Happy with the powers that do meet again, like a song

 

I’m fine, I’m pretend I’m doing good so far, but a good cache

Call this song, I thought I will come back to my heart’s shaky five

Somewhere I’m sure there can be together under the same sky

As always I love you in my life

 

Give me a whisper again

You still waiting for me like you do the happy song

 

I’m fine, I’m pretend I’m doing good so far, but a good cache

Call this song, I thought I will come back to my heart’s shaky five

Somewhere I’m sure there can be together under the same sky

As always I love you in my life

 

Until the day till we meet again in the same place

I’ll wait for you to laugh again I guess

Remember your face, wiping the tears

The scent of your voice I still like a dream to come back to this place

(JungAh – My Bell)

   Haejin memanjatkan doa, bahwa dia ikhlas melepas Donghae. Yang ia sesali, ia tidak pernah memberitahu Donghae betapa dalamnya cintanya pada Donghae, tak peduli Donghae mengkhianatinya, yang jelas, Haejin tidak menuntut apa-apa lagi. Yang penting ia mencintai pria itu.

   Haejin meniup lilin itu perlahan-lahan, sambil menyeka air matanya, dan tiba-tiba merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya. Haejin terkejut dan hendak menjerit, tapi begitu ia berhasil meraih saklar lampu, matanya nyaris keluar dari rongganya.

   Lee Donghae tengah memeluknya, bersimbah air mata.

   ”Hae?” Haejin memegang pipi Donghae. ”Ini benar kau? Donghae? Lee Donghae? Suamiku?”

   Dia mengangguk dan memeluk Haejin erat-erat, Haejin masih tidak percaya dalam pelukannya. ”Maaf, maaf, maaf, Haejin maafkan aku.”

   ”Aku tidak mimpi?” ulang Haejin.

   Donghae menggeleng.

   ”Lho?!” pekik Haejin. ”Baby? Mana Baby?”

   ”Bayi itu aku…” ucap Donghae pelan.

   Haejin menggeleng-geleng. ”Ani! Aku pasti mimpi! Aku pasti gila karena merindukan suamiku! Mana mungkin bayi itu kau? Mana mungkin? Aku pasti frustasi saking kehilangan suamiku! Dan mana mungkin aku bisa melihatmu disini kalau kau sudah mati? Ani, aku pasti sudah gila!”

  ”Kau tidak gila!” geleng Donghae. ”Ini aku Haejin, ini aku, Lee Donghae suamimu!”

   ”Ani! Aku pasti sudah mati karena frustasi…” kekeh Haejin. ”Suamiku Donghae sudah meninggalkanku! Ini pasti…”

   Donghae merengkuh tubuh Haejin menciumnya pelan, lalu melepasnya. ”Hanya kau tau yang tau, itu nyata atau tidak…” katanya pelan sambil mengelus pipi Haejin. ”Sayang, maafkan aku.”

   Haejin masih linglung, ciuman itu nyata, tapi tidak mungkin! Donghae menghilang, dan bayinya, bayinya ada, tapi kini tidak ada. Dan kini ada Donghae di hadapannya, apa maksudnya?

   ”Ini aku… bayi yang kau urus selama satu tahun itu aku, suamimu, Lee Haejin,” kata Donghae mengguncang bahu Haejin. ”Aku frustasi karena kau memintaku menceraikanmu, aku mabuk dan pulang ke Mokpo, disana aku bertemu seorang wanita tua, dan begitu sadar aku sudah mengecil di depan pintu apartemen kita, dan kau menggendongku…”

   Haejin masih seperti orang gila, dengan pandangan kosong.

   ”Maaf, aku salah, aku mengabaikanmu karena tidak bisa menerima kenyataan, tapi… aku sadar, kau benar-benar mencintaiku. Aku pun tidak mau kehilanganmu, makanya aku marah melihatmu berpelukan dengan pria lain…”

   ”Tapi aku melihatmu berciuman dengan gadis lain! Aku disana, Hae aku ke kantormu!”

   Donghae terisak dan memeluk Haejin lagi. ”Maaf itu… Appa mendesakku terus, dan aku khilaf, aku mengakuinya aku salah, tapi… aku tidak bermaksud…”

   ”Kau mau menceraikanku, aku mendengarnya…”

   ”Aku bilang begitu, tapi sejujurnya aku tidak mampu,”

   ”Kenapa? Aku memang cacat,”

   ”Kau tidak cacat! Aku mencintaimu, aku tidak perlu anak atau apa, asal ada kau, hidupku sudah cukup! Kau tahu betapa tersiksanya aku melihatmu menangisiku padahal aku brengsek sekali!”

   Haejin terisak-isak dalam pelukan Donghae.

   ”Tuhan menghukumku, aku melihat bagaimana istriku mencintaiku, bagaimana kau tidak pernah menjelekkanku, bagaimana kau mencintaiku… dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, sampai kau berdoa yang terbaik untukku, dan aku kembali! Semua karenamu!” dan Donghae tiba-tiba bersimpuh pada kaki Haejin. ”Aku mencintaimu, maafkan aku.”

   Haejin masih berguncang-guncang gemetaran, perlahan-lahan dia berjongkok dan memeluk Donghae. ”Tak apa, iya… aku mencintaimu.”

*           *           *

Rumah Sakit Internasional Seoul

”Selamat Anda positif hamil, kehamilan Anda sudah memasuki minggu keduabelas,” ucap dokter. Wanita berambut sebahu itu membungkuk sambil tersenyum formil kepada dokter yang baru saja memeriksakan keadaannya. Setelah pintu tertutup, gadis itu terus melangkahkan kakinya menuju sebuah kedai kopi dengan gaya modern, yang terletak di sisi kiri rumah sakit itu.

   Wanita itu memesan minuman favoritnya, Caramel Frappucino, dan dia memilih tempat duduk paling sudut untuknya. Dia mulai duduk, dan meneguk minumannya pelan, seketika dia memijat pelipisnya dan meletakkan lagi minuman dingin tersebut di meja, dan dengan napas berat, dia mengeluarkan hasil tesnya lagi, dan membacanya ulang.

   Ponsel Haejin bergetar, saat dia melamun menatap minumannya, Haejin meraih ponselnya, dan melihat bahwa suaminyalah yang menghubunginya. Hati Haejin terasa diremas, bagaimana dia menjelaskannya kepada suaminya, bahwa kesempatan mereka memiliki buah hati sedikit? Dia tidak sempurna menjadi seorang wanita.

   ”Yeoboseyo.” Sapa Haejin.

   ”Yeoboseyo, Haejin-ah, sudah selesai periksanya?” tanyanya khawatir. ”Bagaimana keadaanmu?”

   Haejin terkesiap, melihat tahun di kalender kedai kopi tersebut, dan membelalak, bagaimana mungkin? Bukankah ini sudah tahun 2012, kenapa sekarang jadi tahun 2011 kembali?

   ”Ah, Hae… aku hamil!” jawabnya linglung.

END

Nulis apa saya ini? Bener-bener nggak jelas, feelnya dapet-dapet-nggak, banyak yang masih harus dirapihin nih😦 Mungkin bawaan temen-temen kantor pada baru melahirkan dan baru pada hamil jadi tema cerita baby semua wkwkwkwkwkwk…

Dan seperti biasa aku bikin cerita gantung, endingnya gak jelas… wkwkwkwkwk aku bener-bener belum pengalaman ama genre begini, so kasih saran dan kritiknya yaaaa ^^ 

88 thoughts on “Press The Reset : Time

  1. haeppa khilaff nyium sunyee unnii ..

    ckckck,,haejin unni kasihan bangett .. sabaar unn
    terharu pas baca ne crta TwT
    keselllll,terharu,seneng jdii satuuu ..

    d tnggu klnjutan.ny unn

  2. suka ceritanya onnie. .
    nguras emosi bacanya, sampe bisa ngerasain gimana sakitnya Haejin, gimana rasa cintanya Haejin ke Donghae. .
    FFnya main perasaan. .brasa aku masuk ke cerita itu. .

  3. Hampir nangis, *inget puasa* hehe..
    Nisya ada-ada aja, hae dikutuk jadi bayi, wkwk~

    Bagus ceritanya, coba dibikin part2 gitu,
    Haejinnya dibikin luar biasa menderitanya..
    Pasti seruu..

  4. Saya baru ngeh sama jalan ceritanya setelah di jelasin. Ff nya keren bgt menguras emosi dan air mata kkkk , itu si Hae jahat bgt eon, mukulin anak orang, tpi endingnya gantung, ada lanjutannya ga?

  5. Ah very touchy… cinta mmg bisa membuat semuanya mungkin & cinta mmg butuh pengorbanan. Dewasa banget nih cerita. Bagus Kak!

  6. eh bang ikan..khilaf sih khilaf..tapi kok sunye eonnie lagi??wae??wae???*meratap ditembok*

    Hae jadi baby ya..pantesan mirip..kirain niy cerita mirip sama *duh lupa judulnya* itu tuh yg reset juga, yg kyunara apa ya,,lupinnn

    Tapi ternyata gak…akhirnya si haejin hamil juga…:D

    Bikin sekuelnya dong..proses sea ma sky..#plakkk,,cerewet bgt jadi reader*

  7. Tau gak sih, eonn, awal2 pas baca tuh udah sedih2an. Eh pas bagian baby-nya berubah jadi Hae (?), kok aku bacanya malah ngakak ya?
    Garagara itu feel di endingnya jadi gak dapet /plakk

    Eonni, sekali sekali bikin ff jinhae yg angst dong, hehe🙂

  8. sedihnya ada, lucunya ada apalagi ngebayangin ternyata bayi itu hae😄 /plaaks tapi bagus onn ceritanya, ga ketebak itu hae, malah kirain itu sama hae dititipinnya…
    kalo bayi nya masih ada lengkap lah sudah (?) btw..kangen sea and sky u___u
    syukurlah hae sadar ,jadi balik kembali jadi dewasa (?)

  9. oh ini ff ceritanya yang dibikin jinhae shipper ya???

    wah wah wah kereeeennn

    tapi disitu donghae agak kasar sama haejin

    tapinya lucu ngebayangin hae jadi bayi

  10. Awal aku pengen nangis eon,tp lama2 aku gk ngrti.___.
    tp ttp seru kok!!:D. Donghae mnta bet digampar wktu blg haejin cacat-_-

  11. Kyaaa!! Donghae nya jahattttt!! *lempar sendal* kasian haejin *nangis*
    Tp haejin sabar bgt yah, yaoloh salut dah am haejin *acung jempol*

    Ini ngmg2 ff yg dbkin netizen yg jinhae go public ya? Iya ga si onn?
    Rada ga ngerti itu pas di end nya, maksud dr kalender nya itu lho gangerti *lemot*

    Tp bagus lha onn, lanjut yak!
    Oiya itu ngmg2 pke ada Sunye nya lg ==”
    Hueeee galau lah klo pikir2 itu, hing~ (⌣́_⌣̀)

  12. onnie sukses bikin aku nangis!!!hueee hae appa ganteng banget waktu masih kecil,sampe sekarang juga!aku gatau itu mamanya ngidam apa sampe donghae jadi ganteng gitu

  13. Ah haenya nyebelin~ ada sunye lagi, ah galau~~ eon,aku ga ngerti sama endingnya, terus alur ceritanya agak kecepetan *bahasa kerennya apa ya?* eonnie, ini ada kelanjutannya ga? Lanjutin doong

  14. apa2an itu!?
    si ikan masa’ ampe tega gitu si??!
    gak mungkiin!!!
    tapi ujungnya, aku sukaaa banget..!!
    daebak author-ssi..!!

  15. pas awal baca aku bingung, eh ada penjelasannya jadi ngeh deh wkwk ternyata Hae dikutuk toh hihi ada-ada aja ceritanya, tapi bagus menyentuh banget aplg pas Haejin ngeliat hae ciuman sm sunye huhu.
    Tadi nemu typo satu xixi.
    Ceritanya suka xDD

  16. untung gak puasa,mewek sejadi2nya,, eon bayi itu buat ku aja ya, #plak gk dpt hae,bayi jg ckup kan nnti brbh jd hae #abaikan,, , , ayo ff sapa yg slalu bkn aku mewek2 gini kalo gak jinhae,aplg saat ngegalau.keren onn..:)

  17. bener2 menguras hati..
    hampir nangis.. kebayang gimana sakit hatinya haejin, uda liat suami yang bner2 di cintainya ciuman sama cewe lain, dituduh selingkuh pula,😦
    tapi suka juga tuh pas endingnya, sayang babynya ilang dan ternyata itu donghae..
    jadi maksud resetnya tuh balik lagi ke setahun yang lalu ya..
    udah begini aja ffnya, ga usah ada lanjutan lagi.. hhe..
    lebih pas begini soalnya..🙂

  18. Ternyata ini cerita yang bikin jinhae heboh#tunjukffatas#

    Haejin onnie kasian #nangis. .
    Donghae oppa tega banget sih sama haejin onnie . .
    Itu sunye onnie numpang nama ya?#plak. .^^V

  19. Hue….sedih banget cerita.a, sampai nangis onn baca.a. hiks. .-_-. jd ikut ngerasain gimana sakit hati.a haejin. poko.a cerita ini daebak deh onn, aq suka..^_^ oya, buat lagi ff fantasy dong onn, soal.a, cerita.a suka nyentuh g2 onn..!hehe#Lebay dech#

  20. iihh~ soswiiit .
    tp donge pas awalnya jahaaat -,-
    pake acara kissu lagiii~ ><
    haejin.nya setia bangeet~😀
    ak kira bakal sad ending . untung ajaahh beybinya ternyata donghae.
    dan untung jg balik lg ke satu taun yg lalu .
    b.ati ciuman sama sunye nya ga jadi kaaan~ lol xD

  21. onniieee nangisss sumpah deh!!! Papaku aja kget msuk kmar liat aku nangis kea gini~~ awlnya aku pkir tu anak donghae ma tu cewe atau gmna gtu.. soalnya mukanya mrip ma hae ternyata tu hae yg brubah jdi bayi hehehe idenya keren onn🙂 feelnya dpat bget^^

  22. jadi… jadi… jadi Hae kena kutukan?! /plaak #apadeh
    Eonnie… aku nangis bacanya T^T
    seperti biasa, fanfic eonni emang paling daebak XDD

  23. sumpah, aku nggak ngertiii!
    tapi seru kok eonn!
    ihh kbyang deh gimana lucunya donghae kecil *cubit pipi hae*
    romantis kok ceritanya wlo aku agak sdkit bingung! :d

  24. aku ketinggalan banyak banget ff mu unnie DX

    yampun unnie, aku nyesek bacanya ;A;
    mau nangis tapi lagi puasa
    hiks
    feelnya dapet kok unn🙂
    haejin sabar banget jadi istri
    itulah istri setia, sekalipun suaminya gitu banget tetep rela dan mendoakan yang terbaik :’)
    oya unn, aku udah tebak2 itu hae yang jadi si baby, mukanya aja mirip😄
    kena karma kan dia
    kkkkk
    plus dari judul udah nebak2😄

    segitu aja kali ya unn commentnya, aku mau baca ff unnie yang belum aku baca~~~

  25. Ngerti awalnya, cuma endingnya gak dpet feelnya😦
    Mungkin karna uda bayangin muka hae kecil HAHAHA (‾̴̴͡͡▿‾̴̴͡͡ )
    Bagus kooook~~~ aku hampir nangis wktu jinhae beranteeem…

  26. sumpah bete bangett sama si mokpo pas dia nyium siapa itu sususublabla wkwk.. hyejinnya keren banget disini😀 cool woman😉 btw ini tuh apa ya, aku ngerti ceritanya cuma pas mau diomongn ulang aku gak dpt kata buat nyebut adegan yg tengah” itu(?) ya pokoknya itulah.. dan ini ffnya so touching bengettt zz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s