{JinHaeXy} When I Fall ~Part 15~ PG15

Perlahan-lahan, dia melepaskan pangutannya pada bibirku, kedua tangannya masih memeluk pinggangku erat-erat, dan aku pun masih melingkarkan kedua tanganku pada lehernya. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu pada permukaan kulitku sekalipun mataku sedang terpejam.

   Aku tidak tau berapa lama kedua bibir kami bertemu, yang jelas, ketika dia melepaskan ciumannya, aku masih memejamkan mataku, mencecap-cecap aroma dan rasa bibirnya pada bibirku. Aku menggigit bibirku lagi, ya Tuhan, aku masih bisa merasakan tempat-tempat sensitif pada bibirku dimana dia menyentuhnya, dan lidahku. Aaah, impianku jadi kenyataan, terima kasih Tuhan, Engkau mau mengabulkannya.

   ”Joha.” Ucapku bodoh.

   Dia terkekeh, aku membuka mataku, dan aku merasakan wajahku memerah. Apa yang baru kutakan padanya tadi? Ah, bodohnya aku, kenapa sekarang dunia jadi terbalik? Perempuan jadi lebih bernafsu pada laki-laki, ini mengerikan. Tapi siapa pun pasti meleleh melihat pria macam pacarku ini, kan? Dan ternyata ciumannya melebihi apa yang kuimpi-impikan. Wajahnya juga memerah, dan dia menatapku polos sekali, seperti pandangan, apakah aku puas akan ciumannya?

   ’Baekjom manjom baekjom.’ Nilainya dalam mencium 100 points out of 100, Outstanding! Huee, jangan-jangan semua mantan pacarnya diciumnya dengan cara begitu. Memikirkan itu, aku jadi marah sendiri. Ah, biarlah, toh sekarang dia pacarku! Aku memeluknya erat-erat, dia sepertinya kaget. Tapi dia terkekeh dan justru mengeratkan pelukannya lagi kepadaku.

   ”Besok jangan terlambat ke Inkigayo.” Katanya dalam pelukanku.

   Aku terkekeh. ”Kalau misalkan aku harus ke perusahaan aku akan mengabarimu deh, aku janji.”

   ”Johta.” Dia mengelus-elus rambutku. ”Hmm… aku…” katanya pelan. ”Tidak tau kalau… kalau… kau…”

   Wajahku memerah lagi, aku menyurukkan wajahku dalam bahunya, malu sekali. Tertangkap basah, ya Tuhan, aku benar-benar malu. Tapi entah kenapa, sedikit banyak aku menyadari, Donghae mulai bisa membaca perasaanku satu demi satu, kami sepertinya semakin dekat, baik secara hati, maupun… ehem, fisik. Kami mulai sering melakukan kontak fisik belakangan ini.

   Dulu paling hanya sekedar pegangan tangan, dan sedikit merangkul. Rangkulannya pun hanya sekedarnya, dan sebentar, lalu paling dia hanya akan menggenggam tanganku, dan merangkul bahuku biasa saja. Baru kemarin di gedung KBS kami berpelukan erat, dan hari ini kami melakukan ciuman pertama kami. Dipikir-pikir perkembangan ini begitu cepat kalau dibandingkan ketika aku dan Taecyeon berpacaran dulu. Dulu, aku dan Taecyeon pacaran seperti sahabat saja, hanya saling bertukar cerita, dan skinship kami paling jauh adalah pegangan tangan. Berpelukan saja hanya jika aku ulang tahun, atau dia yang ulang tahun. Di dua tahun usia kami berpacaran, barulah Taecyeon menciumku, dan itu adalah ciuman pertamaku.

   Dan ciuman pertamaku dan Taecyeon tidak selama ini seingatku. Setelah menciumku, Taecyeon merasa malu dan bersalah. Kuakui jujur, aku menikmatinya, kok. Usiaku masih kecil padahal, tapi ciuman kami tidak sedalam ini. Kami hanya saling mencium, dan berakhir. Ciuman terpanjangku dan Taecyeon adalah… adalah sehari sebelum 2PM debut. Harusnya aku tahu kalau dia akan meninggalkanku, karena ciumannya hari itu hampir sama seperti Donghae menciumku barusan. Dalam, dan pelan, juga lama. Aku tidak ada firasat apa-apa kalau dia mau meninggalkan… jamkaman, apakah Donghae menciumku seperti tadi, karena dia mau meninggalkanku?

   Aku melepaskan pelukannya, dia masih menatapku malu-malu, tapi aku malah panik dan mencengkram kedua lengannya. ”Hae, kau… tidak… tidak… berniat meninggalkanku, kan?”

   Matanya membulat terkejut. ”Apa maksudmu?” tanyanya kaget.

   ”Kau… tidak, berniat… meninggalkanku, kan?” tanyaku takut, aku menggigit bibirku lagi, ingat bayang-bayang ketika akhirnya Taecyeon mengucapkan perpisahan setelah membuatku bahagia dalam sehari. ”Kau… tidak…” mataku menggelap karena air mata.

   Dia mengusap pelan air mataku. ”Jangan menangis karena pria itu lagi, itu menyakitiku.”

   ”Aniyo.” Aku menggeleng. ”Aku tidak menangisi dia! Aku takut… takut, kau tiba-tiba…”

   Donghae menggeleng kuat-kuat. ”Aku dan dia berbeda. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku pun baru bisa memilikimu, kenapa kau harus takut aku melepasmu? Aku tidak mau.” Gelengnya.

   ”Yakseok?” tanyaku meyakinkan.

   Dia tersenyum. ”Yaksok.” Dia nampak bahagia. ”Aku tidak pernah menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulutmu, lho.”

   ”Pertanyaan apa?”

   ”Untuk tidak meninggalkan itu,” Donghae mengusap pipiku, dan menyelipkan rambut yang berantakan ke belakang telingaku. ”Susah untuk mencapai ini, dan kesabaranku tidak berbuah sia-sia.”

   ”Ne, 7 tahun,” kekehku. ”Ya ampun, kau benar-benar kurang kerjaan saat itu, menungguku.”

   Dia menatapku protes. ”Kenapa kurang kerjaan?”

   ”Lucu saja, sampai tujuh tahun menjomblo hanya karena menanti cinta yang tidak jelas, kan?” ledekku. ”Maksudku, kau kan tidak tau kalau pada akhirnya kita akan bertemu lagi di dunia hiburan.”

   Dia nyengir jail, ah… aku suka kalau dia mengeluarkan senyum nakalnya itu. ”Ya, siapa bilang aku tetap single selama tujuh tahun itu? Memang aku sekurang kerjaan itu, ya?” tanyanya.

   Mataku membulat kaget, dia berani menggangguku sekarang! Sial, ini pasti karena aku takluk gara-gara ototnya itu! Aaaah, menyebalkan! ”Keurae? Memang kau punya pacar?”

   ”Lee Haejin, aku ini laki-laki bagaimanapun juga,” cengirnya nakal.

   ”Lalu?”

   ”Ya, aku tetap menyukai wanita lah,” dia mengatakan hal itu seakan-akan itu adalah hal yang sudah jelas. ”Aku dan Heechul Hyung bahkan sempat menyukai wanita yang sama, dan aku sempat punya pacar juga, dan dikecewakan oleh mantan pacarku itu di hari bersalju.” Curhatnya.

   Kalimat panjang itu membuat kuping dan dadaku panas, aku memandangnya dengan mulut ternganga, lalu meraih bantal dan memukulinya dengan geram. Bagaimana mungkin dia bilang dia menungguku tujuh tahun kalau ada banyak cadangan wanita?! Dasar laki-laki, dimana-mana sama saja!

   ”Lalu dengan begitu yang kau bilang menungguku tujuh tahun?!” teriakku masih sambil memukulinya dengan bantal, dia mengaduh dan berusaha menghindar tapi aku kalap. ”Kenapa sih cowok jaman sekarang hobi bermulut manis‼!”

   ”Aku nggak bermulut manis, Sayang! Aduh, aduh… ya, maaf, maaf…” dia mengelak dari serangan bantalku.

   ”Lalu kenapa kau bilang tujuh tahun?! Gombaaaaal‼!” teriakku. ”Itu namanya kau tidak mencintaiku selama tujuh tahun‼!”

   ”Aku mencintaimu selama tujuh tahun itu!” balasnya tak kalah keras, dan berusaha menahan bantal sofa itu.

   ”KOTJIMAL!” teriakku. ”Kalau memang mencintaiku kenapa kau harus jadian dengan dua orang wanita?!”

   ”Aku kan tidak tau kau dimana!” dia menahan bantalku dan menatapku serius, tapi perlahan nada suaranya ikut meninggi. ”Aku juga tidak tau harus mencarimu kemana lagi, Lee Haejin!”

   ”Lalu kau pacaran dengan mereka untung-untungan saja?! Dan kalau kau masih jadian dengan mereka, lalu kau bertemu denganku, kau akan meninggalkan mereka demi aku, begitu?!” tanyaku galak.

   ”Haejin, kau kenapa sih?!” tanyanya heran.

   Entah, emosi saja.

   ”Kau, cuma bermulut manis saja!” tunjukku.

   ”Aniyo!” bantahnya keras.

   ”Kau bohong soal tujuh tahun! Iya, memang semua orang benar, kau terlalu kurang kerjaan menungguku tujuh tahun!”

   ”Ya ampun, Haejin-ah, aku cuma bercanda!”

   ”Bohong!”

   ”Astaga!” dia menjambak rambutnya frustasi. ”Kenapa sih kok kau jadi tidak percaya kalau aku menunggumu selama itu?!”

   ”Buktinya kau punya pacar!”

   ”Perlu kuingatkan, kau juga punya pacar!” dia menudingku.

   ”Aku tidak tau kalau ada kau di hidupku!”

   Dia terdiam, sepertinya dia menyadari kalau itu salahnya. Dia yang bodoh, kenapa tidak mau mengajakku berkenalan, hanya karena aku masih SMP pada waktu itu! Dia tidak pernah dengar cerita pemain sepak bola Brasil, Ricardo Kaka, yang memacari istrinya sekarang, dari istrinya masih berumur sebelas tahun, dan dia sendiri sudah dua puluh!

   Tak ada yang salah dari umur, Lee Donghae! Kita cuma berbeda lima tahun, ya ampun.

   ”Kau bodoh sih, kalau saja kita kenal dari dulu.” Ucapku lirih.

   Dia mendongak. ”Kalau kita kenal dari dulu,” dia menelan ludah. ”Aku masuk SM, kau masuk JYP. Apakah, kau akan tetap pacaran dengan Taecyeon?” tanyanya serius, begitu pula seluruh bahasa tubuhnya yang tegang.

   ”Kalau kau tidak mengatakan maksudmu berkenalan denganku mungkin iya,” jawabku jujur.

   Dia nampak terluka.

   ”Aku bukan tipe peka, Hae.” Aku menunduk. ”Tapi kalau sudah jatuh cinta aku akan serius, benar-benar serius.” Ucapku sungguh-sungguh. ”Mungkin kalau dulu kau yang sudah jadi pacarku, dan kau memutuskanku, aku akan setengah gila karena ditinggal olehmu.”

   ”Aku takkan melakukan itu!” ucapnya serius.

   Aku mengangguk, ”Kali ini aku mau percaya,”

   ”Memang apa yang tidak kau percaya?!” tanyanya gusar. ”Soal tujuh tahun itu? Ya ampun, Haejin, aku kan… bagaimana pun juga aku itu pria normal!”

   ”Aku tidak bilang kau homo!” balasku tinggi lagi.

   ”Lalu kalau aku adalah pria normal, aku akan menyukai seorang gadis, kan? Wajar, kan?”

   ”Lalu itu namanya bukan tujuh tahun menyukaiku, tau!”

   ”Aku tidak suka padamu, aku cinta padamu!”

   ”Lalu kenapa kau pacaran dengan orang lain?!”

   Donghae memutar matanya. ”Haejin-ah, bahkan pada waktu kau berpisah dengan Taecyeon, kau bisa menyukai Choi Minho, kan?!” tanyanya tajam.

   ”Yah, siapa yang tidak suka padanya?!” tanyaku jujur.

   ”Nah, kan!” teriaknya sambil menunjukku. ”Kau saja bisa menyukai pria lain, kenapa aku tidak boleh?!”

   ”YA‼! Aku cuma ngefans sama Minho! Berbeda denganmu yang jadian dengan gadis-gadis yang kau sukai itu!”

   ”Ya ampun, Haejin, aku suka pada mereka, bukan berarti aku cinta pada mereka!”

   ”Tapi jelas kau serius dengan mereka, kan?!”

   ”Aku pasti serius dalam berhubungan,” akunya. ”Aku tidak bisa bohong soal itu, Haejin-ah…” ujarnya lirih. ”Aku serius dengan mereka, tapi percayalah mereka tidak serius padaku.”

   Aku mengerucutkan bibirku.

   ”Jjamkaman,” ujarnya pelan. ”Haejin-ah, kau cemburu ya?” tanyanya dengan nada menggoda.

   Wajahku memerah, dan rasanya panas. ”Aa…an…aniyo!” sergahku.

   ”Jeongmal?!” tanyanya sambil matanya benar-benar mendalami mataku. ”Kau tidak rela kalau selama tujuh tahun hatiku terbagi untuk yang lain?” tanyanya semakin menggodaku.

   Siapa yang rela? Tapi jelas aku tidak akan membiarkannya mendengar itu, aku menepuknya lagi dengan bantal lalu, pergi ke dapur dengan langkah di hentak-hentakkan, kesal! Tapi, dia malah tertawa girang sekali, dan dengan melonjak-lonjak kurasakan dia mengikutiku ke dapur.

   ”Sayaaaaang~” godanya. ”Jadi kau cemburu, ya? Aigooo, cantiknya pacarku kalau sedang cemburu begitu!”

   Iiih, norak!

   ”Sayang~ cantik deh kalau lagi cemburu, ehehehehe.” Kekehnya.

   Aku membuka air keran lagi dan menyodorkan gelasku di bawahnya dan mulai meminumnya lagi, sementara dia masih terus menggangguku. ”Ya! Diam kau!” sungutku kesal.

   ”Ah, gemes deh kalau kau lagi cemberut begitu.”

   ”Lee Donghae!” teriakku frustasi karena dia terus menggangguku.

   ”Wae?” tanyanya dengan wajah sok polos.

   ”Neo, jinjja!”

   ”Apa? Aku tampan, kan?” ya ampun, dia narsis! Aku memutar mataku, aku tau dia tampan, tapi mengakuinya akan membuatnya melambung semakin tinggi. Aku terus mengelak darinya yang terus mengikutiku.

   Aku berbalik dan menggeram kesal. ”Ya! Bisa tidak kau tidak mengikutiku terus?!” omelku.

   ”Aniyo! Aku akan terus mengikutimu,” dan dia mengeluarkan senyum ssukso-nya dan dengan tangan terangkat seperti mau menerkam dia pelan-pelan mendekatiku dengan aura iblisnya. Aku menjerit-jerit, dan berlari mengitari ruang tamu, sementara dia semakin kencang mengejarku.

   Kami tertawa bersama, dan aku masih terus menjerit dan berkelit dari kejarannya. Biar bagaimana pun, dia itu kan laki-laki, tenaganya lebih besar, dan jelas lebih gesit dariku. Aku kan tidak suka lari, pada akhirnya dia bisa menangkapku dan memberikanku backhug. Woaaah, hangatnya, kami terkekeh berdua di tepi jendela yang menampakkan pemandangan luar, yang sudah gelap.

   Dia membalik tubuhku, hingga kini aku sudah menghadapnya lagi, aku merangkulkan kedua tanganku lagi di lehernya, dan dia mendekapku erat di pinggangku. Kami hanya saling menatap, hanyut dalam keindahan wajah masing-masing.

   CKLEK.

   Kami menoleh kaget, ke arah pintu, masih dengan posisi tadi, melihat bahwa di depan pintu banyak orang sedang menatap kami berpelukan seperti ini.

   ”YA! Kalian ini, menghilang dari MBC begitu saja ternyata sedang mesum disini!” seru Leeteuk Oppa marah.

   ”Bikin panik, tau?!” hardik Heechul.

   ”Onnie!” seru Kyorin dan Chihoon bersamaan.

   ”Ah, wae?!” seru Donghae kesal, masih tetap memeluk pinggangku. ”Kenapa sih kalian ini hobi sekali mengganggu kami?! Kami pacaran di depan kalian di marahin, kami pacaran tanpa kalian dimarahin juga! Iri, kan?!”

   ”YA‼!” seru mereka kompak.

   Setelah itu aku sama sekali tidak ada kesempatan berduaan lagi dengannya, karena Super Junior, minus Leeteuk Oppa dan Eunhyuk menjelang tengah malam, karena mereka harus siaran, semua makan-makan dan berpesta di dormku. Dan malam ini, aku baru tau kalau Hae tidak bisa minum! Okelah, dia mencoba segelas saja soju, tapi dia tidak berani lebih, bukan karena jaim, tapi kata Heechul Oppa, memang dia tidak bisa!

   Bahkan Chihoon saja kuat minum soju, ya ampun! Meskipun anak itu kularang keras minum soju, hanya  boleh mencicipi, dan tidak boleh diam-diam minum atau dia akan kuhukum tegas! Biar bagaimana pun juga, dia kan di bawah umur. Kyorin juga masih di bawah umur, dan tidak fanatik juga penasaran akan alkohol. Dan aku, karena ajaran Seulong, tentu saja kuat minum! Tapi tengsin dong, pacarku kan bukan peminum, masa aku minum-minum dengan bergaya di depannya? Hue, nanti dia ilfil padaku, dan meninggalkanku.

   Tengah malam, kini sudah minus Leeteuk Oppa, Eunhyuk, Shindong Oppa, yang juga harus siaran, dan Siwon yang memang masih di rumah sakit. Semua mulai mengantuk dan tidur-tidur ayam di ruang tengah dorm kami. Donghae, Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin Oppa, Yesung Oppa, dan Heechul Oppa sudah menggelar futon di lantai depan televisi.

   Bergantian, mereka ramai-ramai cuci muka di kamar mandi dalam kamarku, kamar mandi ruang tengah, dan tempat cuci piring. Mereka juga meminta pass code apartemen kami kalau kami tidak keberatan, untuk Leeteuk Opp, Shindong Oppa, dan Eunhyuk yang akan menyusul nanti malam. Mereka bilang sedang bosan di dorm, dan baru kali ini mendapatkan izin menginap di apartemen yeoja idol, karena status Kyuhyun dan Chihoon, dan sepertinya SM memandang gosip terakhir antara aku, Donghae, dan Siwon dengan biasa-biasa saja, berbeda dengan Wonhee Sajangnim, huh memikirkan dia aku jadi kesal sendiri.

   Setelah mereka bergantian mencuci muka, mereka satu persatu masuk ke dalam futon. Meski bersempit-sempit ria, hanya Heechul Oppa yang lega, karena berhasil mengancam adik-adiknya untuk memberikannya tempat yang cukup lega. Awalnya aku meminta mereka tidur di kamarku dan Kyorin, lalu aku dan Kyorin bisa tidur di kamar Chihoon, tapi mereka semua menolak, dengan gaya ksatria, mengatakan kalau wanita harus tidur di kasur empuk yang lega. Jadilah kami masuk ke dalam kamar kami, dan membiarkan mereka bersempit-sempit ria di futon-futon itu. Maklum saja, penghuni apartemen hanya tiga, dan kami jarang membawa tamu, sehingga futon kami hanya sedikit.

   Saat aku sudah merebahkan tubuhku di kasur, memeluk sebuah Nemo, dan hampir tertidur, aku kembali teringat percakapan Felidis dengan Jikwang Sajangnim tadi. Bahwa kami akan memancing Strong Heart untuk mengundangku, dan menunjukkan kebolehanku disana, meski dengan cara harus menjual kisahku dan Taecyeon terlebih dahulu.

   Aku masih heran seheran herannya, kenapa Taecyeon mau-maunya melakukan hal itu? Apa karena desakkan Wonhee Sajangnim? Wanita itu memang kejam, aku bergidik jika mengingat saat Wonhee Sajangnim memintaku menjauhi Donghae dan Siwon, dia sangat penuh tekanan. Dipenuhi rasa penasaran aku bangkit kembali dari kasur dan dengan keadaan gelap, aku mendekati meja kerjaku yang terletak di sebelah kasurku. Kunyalakan laptopku, dan langsung kusambungkan dengan koneksi internet.

   Nara tadi bilang kalau dia melihat berita Taecyeon mengaku kalau dia mantan pacarku di Strong Heart, dan berhubung recording-nya minggu lalu, pastilah berita itu menjadi spoiler untuk membuat para penonton tertarik. Tapi aku belum lihat beritanya sama sekali, karena ’sibuk’. Ternyata berita itu beredar di allkpop.com, Daum, Naver, dan Newsen dengan kepala berita ’2PM Taecyeon revealed that he’s dated a same company idol group member’, dan itu menjadi topik hangat di beberapa situs, dan episode ini akan di tayangkan Selasa minggu depan.

   Kubaca dari komen-komennya, sudah banyak yang menyebutkan namaku dan nama YeEun Onnie, Sunye Onnie, Yoobin Onnie, bahkan Sohee. Tapi tak sedikit pula yang bernada cemburu.

   Melihat belum ada headline lagi, aku yakin kalau foto-fotoku semasa pacaran dulu belum beredar. Aku menghela napas lega, lalu mematikan laptopku, dan kembali berbaring di atas kasur, setelah bolak-balik sebentar, aku haus, dan memutuskan keluar lagi, mencari minum. Waktu menunjukkan pukul dua pagi, itu berarti anggota di ruang tengah sudah bertambah, karena futon terlihat semakin penuh, ya ampun. Aku terkekeh-kekeh melihat mereka bergelimpangan begitu, aku pergi ke dapur dan membuka keran lagi, sambil menyorongkan gelas tinggi transparan, setelah terisi setengah, barulah kuminum airnya banyak-banyak.

   Yah, dari seluruh jenis minuman di dunia ini, favoritku adalah air putih, barulah coca cola dengan es batu. Setelah selesai minum dan meletakkan gelasku, kurasakan seseorang bergerak di belakangku, aku menoleh, ternyata Hae.

   Wajahnya mengantuk, tapi dia sadar sepenuhnya.

   ”Haus?” tanyaku.

   Dia mengangguk, aku menuangkannya air lagi, dan menyorongkannya ke mulutnya, dia minum. Selesai minum dia bertanya, ”Belum tidur?”

   ”Haus.” Jawabku juga. ”Kau terbangun?”

   ”Sempit sekali,” dia mengeluh. ”Shindong Hyung nyelip di sebelahku, dan Eunhyuk terus menerus bergerak di sampingku, entah kenapa mereka tidak mencari tempat yang lebih besar.” Gerutunya. ”Aku kan sudah tidur duluan.”

   ”Ahahaha kasian pacarku,” aku mengelus-elus pipinya, dan tanpa kusangka-sangka dia memelukku, dan meletakkan kepalanya di bahuku, dengan mengantuk. Aku memeluk pinggangnya dalam keremangan dapur, aku bisa menghirup lagi aroma maskulinitasnya.

   Dia memang gagah dan sebagainya, tapi kalau begini, dia lucu seperti anak kecil, kami bersandar di pantry dapur, dan aku tahu dia pasti lelah, karena dia tidak bicara apa-apa lagi, hanya menyandarkan kepalanya, mencari kenyamanan untuk tidur. Kasihan pacarku, aku mengelus rambutnya pelan, tapi lama-lama pegal juga kalau begini.

   ”Ke kamar aja, yuk.” Ajakku.

   Dia hanya menggumam lemah, entah mendengar atau tidak, tapi kemudian kutuntun dia menuju kamarku. Yang lain biarkan saja tidur dengan ketidaknyamanan, yang penting sekarang pacarku tidur.

   ”Kau bagaimana?” tanyanya mengantuk saat sudah berada di balik selimut pink-ku. Aku menggeleng.

   ”Tidur saja, aku tidak ngantuk-ngantuk amat, tadi kan aku tidur lama banget waktu siang.”

   ”Tidur aja, sini…” dia melambai dengan mengantuk. ”Kita tidur berdua…” ucapnya menggantung.

   Aku melirik kasurku naas. ”Itu kan sempit.”

   ”Muat kok,”

   ”Tapi…” godaan untuk tidur dalam pelukannya sungguh besar, pasti nyaman dan nyenyak tidur dalam pelukan lengannya yang kekar. Oke, pikiranku mulai kacau lagi, dan ini bahaya!

   ”Ayolah.”

   Akhirnya aku membuka selimutku lagi, dan pelan-pelan berbaring, dia memelukku, kemudian tersenyum meski sambil memejamkan matanya. Aku memeluknya juga di pinggang, dan mencium pipinya. ”Jalja, Hae.”

   ”Jalja, Sayang.”

   Entahlah, tak butuh waktu lama untukku pulas dalam pelukannya. Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan bahagia, aku masih merasakan tanganku yang melingkar di pinggangnya yang liat, dan tangannya yang juga melingkar di pundak dan pinggangku. Aku menggeliat, tanpa membuka mata, dan malah mengeratkan pelukanku lagi.

   ”Bangun, hei… sudah bangun juga,”

   Hee? Dia sudah bangun, aku mengerjapkan mataku pelan-pelan, lalu membukanya. Matanya sudah segar, bukan mata baru bangun tidur lagi. Dia sedang tersenyum menatapku.

   ”Udah lama bangunnya?”

   ”Ya lumayan,” dia menyentil dahiku. ”Kau tidur benar-benar pulas, ya… aku padahal sudah bangun dari setengah jam yang lalu.”

   ”Memang sekarang jam berapa?” tanyaku menahan kuap.

   ”Mungkin setengah tujuh.”

   Mataku terbelalak. ”Baru jam segini, ah, aku tidur lagi aja…”

   ”Iiiih, jangan tidur lagi,” dia mencubit pipiku gemas dan mencium pipiku.

   ”Gak mau.” Bandelku.

   ”Ayolah, Putri Tidur, masa harus dicium baru bangun?” tanyanya nakal.

   Oh, aku suka itu! Aku merasakan nafasnya mendekat, ah, bilang saja dia juga mau cium lagi kan? Pria dimana-mana begitu, dan aku merasakan akhirnya bibirnya melekat di bibirku pelan. ”Ayo bangun!” dan dia melepasnya.

   Yah, begitu saja?

   ”Tak mau!”

   ”Ya sudah, aku sih sudah minta morning kiss tadi, kalau kau mau morning kiss betulan makanya bangun.”

   Mataku membuka satu. ”Kapan kau minta?”

   ”Saat kau tidur.” Jawabnya polos.

   ”Mwo?!” pekikku. ”Kau menciumku waktu aku tidur?”

   ”Aniyo,” gelengnya tapi mengelak. ”Hanya morning kiss.”

   ”Poppo?” tanyaku.

   ”Ya semacam itu.”

   ”Heuuu, cari kesempatan, curang!”

   ”Makanya bangun,”

   ”Lalu dapat hadiah apa aku kalau bangun?” tanyaku penuh harap.

   Donghae terkekeh, ”Kau ini ternyata suka mengharapkan imbalan, ya?”

   ”Ya sudah aku tidur lagi.” Aku memunggunginya sekarang.

   ”Sayang,” dia menggodaku, dan mencolek-colek bahuku, aku diam saja pura-pura tidak dengar. ”Ayo dong, bangun, nanti aku kasih hadiah deh.” Bujuknya sambil terkekeh-kekeh.

   ”Masih ngantuk.” Jawabku alakadarnya.

   ”Hadiah, Sayang, aku kasih hadiah deh.”

   Aku pura-pura enggan dan balik badan lagi menghadapnya, namun masih memejamkan mata. ”Hadiah apa?” tanyaku mengantuk, memang masih sedikit mengantuk.

   ”Buka dulu matanya.”

   Aku membuka mataku ogah-ogahan, dan melihat mata teduhnya menatapku sambil tersenyum. Aku selalu terhipnotis dengan mata indah itu, dan dia menciumku pelan di dahi. Rasanya sweet sekali, saking menikmatinya aku memejamkan mataku lagi, dan melingkarkan tanganku di lengannya lagi.

   ”Yah kok tidur lagi?”

   ”Masih ngantuk, Sayang.”

   Dia terkekeh. ”Udah biasa ya sekarang manggil aku ’Sayang’?”

   Aku terkekeh. ”Kan kau yang mengajarkanku,” sahutku. ”Kau juga yang jarang memanggilku dengan nama biasa, ya lama-lama kan terbawa juga. Mau kupanggil Hae saja?”

   ”Sayang lebih enak.” Jujurnya.

   ”Arasseo, aku akan mulai membiasakannya,” aku mendongak, sekali cium lagi boleh, lah Hae.

   Dan dia sepertinya menangkap sesuatu dari mataku, dan dia tergelak, lalu menciumku tiba-tiba. Woah, apa di dahiku ada tulisan besar-besar MAU CIUM, sampai dia bisa mengenali aku minta dicium. Yah, masa bodohlah, yang jelas sekarang pikiranku sangat liar. Bagaimana tidak? Kami berciuman di atas ranjangku, di balik selimut, dan ranjangku ini kecil sekali.

   Dia menciumku manis, berbeda dengan ciuman kami semalam yang penuh rasa penasaran dan tergesa-gesa seperti semalam, ini benar-benar so sweet, baik rasa verbal dan non verbalnya. Nilainya di atas seratus‼!

   Segera saja tanganku yang bandel ini tidak bisa diam dan menelusup ke dalam rambutnya yang lebat, dan mengacaknya sembarangan, sementara dia hanya menarik napas berat, dan menarikku semakin mendekat, yang kulakukan dengan suka cita, dia melepaskan pangutannya sebentar, kurasakan dia menarik napas banyak-banyak, lalu kembali mencium bibirku, seperti kemarin lagi.

   Dia menyesap bibir bawahku pelan, lalu menggoda yang atas, sampai aku mengeluarkan suara desahan memalukan, saking nikmatnya, tapi kurasa dia tidak peduli akan suaraku, karena aku tidak tahan untuk tidak menyambut sabetan lidahnya lagi di dalam mulutku. Kami terus saling mengejar, dan mencari, bersilang dan menyesapi rasa masing-masing.

   Donghae mengelus punggungku pelan, aku balas mengelus punggungnya juga, dan kecupan kami pun semakin lama semakin dalam, dan kaki kami mulai tidak bisa diam. Aku bisa merasakan yang awalnya kami memakai selimut, kini selimut itu sudah turun ke bawah berikut boneka-bonekaku.

   ”KYAAAAA!”

   Aku kaget mendengar jeritan itu, dan kami berdua beguling jatuh ke samping tempat tidur disisi Donghae. Aku tidak terlalu merasa kesakitan karena aku jatuh tepat di atas tubuhnya, tapi kulihat dia meringis. Omo!

   ”Ya!”

   Aku buru-buru bangun dari atas tubuh Donghae dan berdiri, lalu Donghae juga bangun sambil meringis. Dan kami terbelalak melihat Chihoon, Kyorin, serta member Super Junior lainnya yang ternganga melihat kami.

   ”Kalian ini! Tidak diajarkan sopan santun, ya? Ketuk pintu dulu!” keluh Donghae sambil mengelus punggungnya.

   Wajahku memerah. Lihat apa mereka tadi?

   ”Onnie!” seru Kyorin.

   Chihoon cekikikan. ”Onnie, kau masih perawan tidak?”

   ”Mwoya?!” aku mengambil sandal kamarku dan melemparkannya pada Chihoon yang berlari-lari tertawa-tawa bersama Kyuhyun dan Heechul Oppa yang sudah berguling di lantai.

   Leeteuk Oppa geleng-geleng kepala. ”Kalian ini! Siapa yang suruh kalian tidur berdua?!” tanyanya galak.

   ”Memang ada yang larang?” tantangku.

   ”Sudahlah, Hyung…” Ryeowook menarik Leeteuk Oppa. ”Mereka sudah dewasa, biarkan saja, Hyung ini iri.”

   ”Tapi kau tidak lihat mereka, tadi?!” tanyanya berapi-api.

   ”Jangan iri, ah, Hyung.” Sungmin Oppa ikut menarik Leeteuk Oppa keluar dari kamarku, sementara Eunhyuk Shindong Oppa dan Yesung Oppa masih terkekeh-kekeh menatap kami. Aku masih bisa mendengar Trio Iblis Heechul Oppa, Kyuhyun, dan Chihoon tertawa puas di luar.

   ”Lalu kalian ngapain masih disini?!” tanyaku gusar.

   ”Ah, ye, mianhae… maaf mengganggu,” Shindong Oppa dan Yesung Oppa buru-buru kabur keluar. Dan Eunhyuk mengacungkan jempolnya, lalu kabur juga.

   Aku ngomel-ngomel sambil menaikkan selimut berikut boneka-bonekaku, mungkin menurut Donghae aku marah karena kepergok, tapi aku marah karena mereka menginterupsi! Ada yang salah? Aku kan kepergok ciuman sama pacarku, bukan sama pacar orang!

   Aduh, ini urat maluku hilang kemana ya???

*           *           *

Super Junior pergi dari apartemen kami sekitar pukul delapan pagi, dan mereka mengingatkan agar kami jangan terlambat lagi ke Inkigayo, dan member lainnya mulai segan jika melihatku dan Donghae sudah berdekatan. Seperti saat aku mengoleskan mentega pada roti-roti untuk mereka sarapan, dan Donghae yang mengekoriku terus hingga ke dapur, bahkan membuat Ryeowook yang menyiapkan sereal, harus pindah tempat.

   Padahal kemarin-kemarin kalau kami berduaan sedikit saja, mereka sudah heboh menyindir dan mengomeli kami. Ternyata efek melihatku dan Hae berciuman tadi pagi hebat juga! Kami aman dan damai sentosa berduaan di dapur, tanpa ada yang mengganggu. Silakan deh kalau mau mengintip kami, seperti Chihoonie dan dua Oppa kesayangannya, Heechul Oppa dan Kyuhyun. Toh mereka tidak tahan juga melihat kami bermesraan lama-lama, dan memilih mundur.

   Pokoknya aku senang sekali hari ini! Tidak ada yang menggangguku dan Donghae lagi, yah, tau begitu dari kemarin-kemarin kami skinship kalau mereka tidak akan mengomeli kami jika berduaan. Menjelang siang ponselku berdering dan itu dari Junjin Oppa.

   ”Haejin-ah,”

   ”Oh, wae, Oppa?”

   ”Kau buka internet sekarang, fotomu dan Taecyeon sudah tersebar, dan akun Cyworld kalian sudah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.”

   Yang tadinya aku sedang berbahagia, tiba-tiba rasanya seperti dijatuhkan ke bumi lagi. Ada sesuatu yang menancap di dadaku, dan membuatku mulai sesak. ”Oh, ye, Oppa.”

   ”Kau tinggal tunggu berita kapan kau harus bicara, sementara kau diam dulu, arasseo?”

   ”Ne, arasseoyo, Oppa.”

   Sepertinya Chihoon dan Kyorin melihat perubahan moodku, karena mereka tiba-tiba mendekat dan bertanya bareng. ”Onnie, waeirae?”

   ”Fotonya sudah disebar.” Jawabku pelan.

   ”Mwo?!”

   ”Jeongmalyeo?”

   Mereka berdua langsung lari menuju komputer ruang tengah, aku tidak mau melihat foto-foto itu lagi. Aku justru memainkan ponselku, membuka daftar kontaknya. Dan aku melihat nomor Taecyeon disana. Ada keinginan untuk menghubunginya, dan menanyakan apa alasannya dia mau menerima hal ini untuk mengangkat Felidis? Apakah karena merasa bersalah padaku? Aku menghela napas lagi.

   ”Omo! Ini fotonya,”

   ”Onnie, sini! Sini!” panggil Chihoon heboh.

   Aku bangkit dengan malas menuju komputer, dan memang ada sekitar lima belas foto. Entah fotoku hanya berdua dengan Taecyeon, maupun bersama teman-teman trainee lainnya, yang kini sudah menjadi member 2PM, 2AM, dan Wonder Girls. Memang disitu kelihatan jelas kalau aku dan Taecyeon yang berpacaran. Juga ada beberapa foto yang cukup mesra, dan foto kami berciuman.

   Ya ampun.

   ”Ini sudah menjadi headline dimana-mana,” gumam Kyorin sambil melihat komentar. ”Rata-rata bernada shock, apalagi Selasa besok adalah waktu siaran Strong Heart episode Taecyeon Oppa menceritakan ini. Semua orang sudah tau kalau kalian adalah mantan kekasih sekarang.”

   Chihoon mendesis. ”Yah, ini membuat antis, lihat komentar-komentar bernada nyinyir itu!”

   ”Wajarlah.” Aku menggumam.

   ”Jadi apa yang harus kita lakukan, Onnie?” tanya Kyorin.

   Aku mendesah berat. ”Junjin Oppa hanya berkata padaku untuk menunggu, tebakannya adalah pihak Strong Heart akan segera menghubungi kita untuk tampil, dan ceritaku pastinya ditunggu.”

   ”Aiyaaa…” keluh Chihoon.

   ”Othe? Kita diam  saja?”

   Aku mengangguk. ”Tak ada yang bisa kita lakukan, kan? Kita harus menunggu, dan diam saja.”

   Mereka berdua menghela napas berat.

    ”Onnie, Hae Oppa tau soal ini?” tanya Kyorin tiba-tiba.

   Aku merasa seperti untuk kedua kalinya dibuang dari langit ke dasar bumi lagi! Aku bahkan tidak ingat soal Donghae ketika menyangkut masalah ini, ya Tuhan. Benar kata Kyorin, apa yang harus kulakukan soal Donghae? Kurasa dia sudah tau sekarang, berita bergerak dengan cepat.

   ”Belum.” Jawabku.

   ”Mwo?! Onnie tidak memberitahunya? Aigo, nanti kalau berita bergerak liar, dan dia salah paham bagaimana?” tanya Chihoon yang tumben, otaknya sedikit lurus dan bisa benar-benar prihatin.

   Aku jadi ikut cemas, Donghae kan tipe sensitif.

   ”Majyeo, Onnie! Kau harus bilang pada Hae Oppa.”

   Ponselku berdering lagi, dan aku membuka flipnya, melihat pemandangan tidak biasa. Sejak kapan foto Donghae untuk panggilan masukku berubah menjadi fotonya sedang mencium keningku mesra begini? Dan aku masih tidur di foto ini! Ini pastilah dia ambil saat aku masih pulas tadi.

   Aku buru-buru mengangkat sambungan teleponnya. ”Yeoboseyo, Hae.”

   ”Kau sudah lihat berita?” tanyanya begitu saja.

   Perasaanku langsung berubah haluan kembali. Donghae pastilah sudah melihat berita itu, dan sekarang suaranya sudah kembali tidak mood begini. Aku berdeham, membersihkan kerongkonganku. ”Ah, ye, sudah.” Jawabku pelan.

   ”Foto kalian tersebar…” ucapnya menggantung.

   ”Hae,” kataku tiba-tiba.

   ”Hmm?”

   ”Aku cinta padamu, percaya itu?”

   ”Ne, aku percaya.”

   ”Foto itu tidak berarti apa-apa, yang penting sekarang aku cinta padamu.”

   Kudengar suara-suara menggoda dari Chihoon, dia sudah kembali ke ’kewarasannya’ rupanya.

   ”Ne,” nada suara Donghae berubah menjadi sedikit lebih senang. ”Aku senang mendengarnya. Maaf, sepertinya aku tidak percaya padamu. Aku cinta padamu juga.”

To Be Continued

Makasih untuk komennya di part sebelumnya ^^ Untuk ff lainnya ditunggu aja ya, lambat atau cepat, tergantung kapasitas otak saya hehehehe…🙂 Pokoknya saya tunggu kritik, saran, dan Donghae berpita #plakk mudah-mudahan yang ini gak banyak typo ya… trus buat yang nanyain kapan sih panggilan Poppa-Momma? Sabar yaaa, pacaran dan kedekatan itu perlu proses, jadi sabar-sabar aja, semua ada waktunya, oke??? ^^

156 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 15~ PG15

  1. sumpah kisseu haejin diranjang tadi hot banget, gue geli sendiri mbayanginnya
    “Aku senang mendengarnya. Maaf, sepertinya aku tidak percaya padamu. Aku cinta padamu juga.” maksudnya hae ngomong itu apa??

  2. itu parah bgt sich oppadeul ms sampe nginep didormnya felidish .___.
    udah mulai nkl nich haejin sm donghae oppao_O.. jd donghae oppa udah mulai prcya sm haejin n ga cmbruan lg ya ^^..

  3. Ide ceritanya sangat bagus, aku suka. Tapi bakal lebih enak kalo penggunaan katanya yang formal deh, dibanding kaya percakapan biasa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s