{JinHaeXy} When I Fall ~Part 14~ PG15

Rating : PG15

14 Mei 2010, KBS Building, 21.50 PM KST

Donghae sudah ceria sekali ketika akan siaran, dia terus tersenyum dan bercanda, dan tinggal aku yang mengutuki Leeteuk Oppa yang selalu menggagalkan ciuman pertama kami. Aku bersungut-sungut di dalam hati, dia kan bisa menginterupsi setelah kami selesai *?* aku terus mengeluh sambil berjalan, namun begitu tiba di dekat ruangan siaran Leeteuk Oppa ternyata sudah menunggu kami.

   ”Haejin, tunggu di ruangan itu saja, di sebelah sana akan banyak fans, dan tidak mungkin mereka tidak mengenalimu.” Kata Leeteuk Oppa pelan padaku, aku mengangguk-angguk. ”Hae, antar Haejin kesitu…”

   Ah, dia baik juga, pikirku, mungkin dia menghubungi kami lebih awal tadi karena dia takut kami akan langsung datang lewat depan, dan jelas saja fans akan heboh pastinya. Tapi niat baik Leeteuk Oppa menggagalkan niat baik Donghae padaku, huuuh… ya tak apalah, kuharap lain waktu kami bisa mencobanya. Aku duduk di sofa itu bersama beberapa kru Super Junior, sementara para coordie merapikan riasan seadanya Donghae, karena di dalam ruang siaran juga ada kamera, aku mengeluarkan ponselku dan mengirimkan pesan pada kedua adikku yang sudah pulang ke dorm kami, bahwa sepertinya aku akan pulang benar-benar larut, atau bahkan pagi.

   Aku mendengarkan percakapan mereka dengan trainer mereka, yang diwawancara mengenai perubahan fisik member Super Junior dengan serius. Apalagi ketia si trainer ditanya tubuh siapa yang paling bagus setelah melakukan latihan fisik selama kurang lebih tiga bulan bagi member Super Junior, kecuali Siwon. Aku menahan diri agar tidak ikut-ikutan para fangirls yang menjerit mendengarkan jawaban si trainer, karena dia memuji tubuh Eunhyuk dan Donghae!

   Yah, tubuh mereka memang membentuk, dan aku mereka berhasil membuat fans terkejut. Dan berhasil membuatku lemas dan mulas kalau ingat kejadian tadi sore, ya ampun. Dan mereka, kalau kulihat dari monitor, sepertinya puas dengan reaksi para gadis yang siap mati melihat tubuh polos mereka, diluar sana. Hah~ mereka tidak tau saja  kalau aku juga sudah hampir mati lemas, euh… sejujurnya setelah aku berpikir cukup lama, memalukan kalau wanita harus takluk sedemikian rupa akan pesona maskulinitas pria, sungutku.

   Mungkin sekarang Donghae masih tidak tau, tapi kalau sampai dia tau aku bisa ditaklukkan hanya dengan tubuh polosnya, mau dikemanakan harga diriku? Eh, kenapa pikiranku melantur. Aku lagi-lagi menjitak kepalaku, tapi pikiranku tetap tidak mau berhenti memikirkan hal tersebut. Apakah wanita juga bisa membuat pria lemas begitu?

   Ani, pertanyaanku harus lebih spesifik. Apakah aku bisa membuat Donghae panas dingin seperti aku dibuatnya panas dingin begini? Oke, Lee Haejin, semakin malam pikiranmu semakin melantur saja, Nak, dan aku benar-benar harus melarang pikiranku berpikir seperti itu lagi dan lagi. Akhirnya, mereka selesai siaran, dan Donghae buru-buru masuk ke dalam ruangan tempatku menunggu.

   ”Lama ya?” tanyanya.

   Aku menggeleng. ”Lama, tapi asyik kok mendengarkan.”

   ”Jeongmal? Othe? Aku lucu tidak?” tanyanya penasaran dengan mata yang terbuka lebar.

   Aku mengernyit. ”Kau lucu kok, imut-imut.” Aku berkomentar melihat wajahnya yang menatapku polos dan lucu begitu.

   ”Bukan itu.” Dia mengerucutkan bibirnya.

   ”Lalu apa?” tanyaku.

   ”Ya ya ya, ayo pulang! Kalian keluar lewat belakang, bisa bahaya kalau ada yang lihat Felidis Haejin menemani Super Junior siaran.” Kata Heechul, sementara seorang staff menunjukkan jalan belakang untuk kami. Donghae menggandengku keluar dari ruangan itu melalui jalan belakang.

   Begitu sudah agak jauh dia mengelus kepalaku. ”Ketemu di mobil ya, Sayang. Elf yang menunggu akan heran kalau aku tidak keluar dari tempat tadi, tak apa-apa kan sama Coordie Noona saja?”

   ”Iya tak apa.” Senyumku.

   ”Oke, sampai ketemu.” Dia melambai.

   Aku mengikuti coordie mereka yang ramah sambil memasang jaket yang dipinjamkan oleh salah seorang coordie juga, dan memakan tudung jaket tersebut, untuk menyempurnakan penyamaranku. Lumayan, sampai dibawah tak ada yang mengenaliku, dan aku langsung masuk ke dalam van hitam, dan duduk di kursi belakang. Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah mereka tiba dan satu persatu masuk ke dalam tiga van terpisah, tentu saja Donghae masuk van yang sudah ada akunya terlebih dulu, dan ikut duduk di belakang.

   ”Oh sial! Hae, ada fans diluar, jangan sampai Haejin terlihat!” perintah Leeteuk Oppa yang duduk di kursi samping pengemudi.

   ”Mwo?!”

   Kulihat Sungmin Oppa, Ryeowook, dan Kyuhyun agak-agak kagok di kursi tengah. Kyuhyun menaikkan kaca jendela, dan Sungmin Oppa menarik gorden agar menutupi kaca bagian belakang. Kesadaranku muncul mendengar teriakan gadis-gadis yang menunggui di depan gedung KBS.

   Mereka jelas membuntuti dan ingin melihat idola mereka yang baru saja melakukan comeback stage dan siaran di Sukira malam ini. Dan tentu saja mereka membuntuti hingga Super Junior keluar dari gadung, dan jumlah mereka banyak sekali. Aku yang masih bingung harus berbuat apa, tiba-tiba tersentak lagi karena Donghae menarik tubuhku agar membungkuk rendah dalam pelukannya, dia memelukku erat sekali, dan aku yang bengong hanya bisa merasakan indra penggerakku balas merangkul pinggangnya, sementara kepalaku ada di depan perutnya yang tertutup kaus hitamnya.

   ”Haejin, aman.” Bisik Donghae.

   ”Oke, buka kaca, kita harus melambai pada mereka,” komando Leeteuk Oppa dari depan.

   Bisa kurasakan semilir angin yang berhembus pelan saat entah kaca bagian mana yang terbuka, dan suara Leeteuk Oppa, Sungmin Oppa, dan Ryeowook yang menyapa para penggemar mereka. Aku bisa merasakan Donghae tegang, tangannya kencang sekali menyembunyikanku, dan entah kenapa bukannya aku takut, aku justru membayangkan apa yang ada di balik kaus ini. Ya Tuhan, otakku harus dicuci dengan pemutih pakaian rasanya.

   Donghae ttaemunae! Semua gara-gara Donghae! Aku menyalahkannya dalam hati, karena dia aku jadi liar begini! Aku ngedumel dalam hati, tapi kemudian kurasakan mobil sudah berjalan lancar, dan Donghae menarik tubuhku duduk tegak lagi, dengan ekspresi minta maaf.

   ”Maaf ya, Sayang.”

   ”Gwenchana,”

   ”Pinggangmu tak sakit?”

   ”Tak apa, tidak ada yang sakit.” Jawabku serius, otakku yang sakit.

*           *           *

Saturday, 15th May 2010, 06.30 AM KST

Pintu kamarku digedor-gedor dengan kencang sekali, aku yang baru tidur pukul dua pagi setelah menemani Donghae siaran di Sukira, terbangun dengan kaget, dan efek pusing langsung melandaku. Aku memang paling tidak bisa dibangunkan dengan cara di kagetkan, karena efeknya pasti migrainku akan kumat. Untuk itulah aku menggerutu dan bersiap mengomeli siapa pun yang berani mengetuk pintu kamarku dengan brutal, sampai kudengar suara Junjin Oppa.

   ”Haejin, ireona, palli!” teriaknya.

   Dengan terhuyung-huyung aku membuka selimut soft pink-ku, dan kakiku mencari-cari sandal buluku, lalu buru-buru membuka gerendel pintu kamarku. Melihat Junjin Oppa sedang menatapku panik.

   ”Oppa, waekeurae?” tanyaku heran dengan mata masih sepat.

   ”Kalian ditunggu di perusahaan pukul setengah delapan, cepatlah!” serunya.

   ”Mwo?! Ada apa?”

   ”Ini nasib Felidis, cepatlah!”

   Aku linglung, tapi kemudian melihat Junjin Oppa sudah menuju kamar Chihoon hendak membangunkannya. Akhirnya aku ke kamar mandi, dan buru-buru mandi dengan kepala pusing di bagian kanan, setelah selesai mengeringkan rambut, aku buru-buru minum aspirin, dan memakai baju yang cukup pantas untuk pergi menemui para petinggi perusahaan. Perasaanku mulai tidak enak lagi kalau menyangkut mereka. Jangan-jangan hubunganku dan Donghae ketahuan? Aku cemas, hingga hanya duduk menunggu Chihoon dan Kyorin siap tanpa melakukan apa-apa.

   ”Jangan cemas, Haejin-ah,” mungkin Junjin Oppa bisa membaca kegelisahanku. ”Mungkin membicarakan rencana untuk Felidis lagi, karena perusahaan cemas akan tingkat pendapatan kalian.”

   Ugh, itu juga tidak baik. Mendengar berita itu seperti meninjuku, memang aku mulai khawatir soal Felidis yang tidak kunjung mendapatkan job dimana-mana, hanya sedikit sekali pekerjaan kami, dan penjualan mini album kedua kami, Hysteria, juga tidak berhasil seperti single dan mini album pertama kami, Aegyo Chu~ yang membuat kami bahkan mendapatkan dua kali Mutizen.

   Kyorin dan Chihoon sepertinya juga sama cemasnya setelah Junjin Oppa mengatakan hal tadi, dan melihatku yang diam saja. Ternyata, meski kami bertiga tidak pernah mengatakannya ataupun membicarkannya secara langsung, kekhawatiran kami bertiga sama, soal Felidis yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, dan nilai jual kami yang semakin turun.

   Kami bertiga tiba di kantor JYP sekitar pukul tujuh lewat lima belas menit, dan buru-buru masuk ke ruang rapat. Kali ini, tidak ada musuh bebuyutanku, Wonhee Sajangnim yang sepertinya memiliki tingkat sentimentasi tinggi kepadaku, hanya beberpa orang pemasaran dan produksi yang datang. Aku bersyukur, setidaknya kami terlihat seperti memiliki rencana produksi yang baru, aku berdoa semoga kami diberikan kesempatan untuk membuat album perdana kami.

   ”Baiklah, Felidis sudah ada disini, begitu juga dengan Manajer 2PM, Seunghwan-ssi.” Kata Jikwang Sajangnim, Direktur Humas kami. Aku terkejut, mungkin karena aku banyak menunduk, aku tidak sadar kalau ada Manajer 2PM. Apa yang Seunghwan Oppa lakukan disini? Aku melihat tidak ada anak 2PM satu pun, atau mereka sedang ada disini juga? Tapi, apa yang dilakukannya disini? Pikirku.

   ”Felidis, mungkin heran mengapa ada Seunghwan-ssi disini. Baiklah, pertama-tama, tanpa perlu banyak basa-basi, perlu kami katakan kepada kalian, dari seluruh idol group yang bernaung dibawah JYP Entertainment, yaitu Wonder Girls, 2PM, 2AM, dan terakhir Felidis.” Dia memandang lurus kami bertiga sungguh-sungguh, dan tajam. ”Harus kami katakan secara jujur, bahwa Felidis memiliki pemasukan paling sedikit dari keempatnya.”

   Aku, Kyorin, dan Chihoon menunduk mendengarnya.

   ”Kami senang saat Aegyo Chu~, pemasukan kalian sebanding dengan pengeluaran kalian, bahkan surplus. Penjualan digital dan mini album Aegyo Chu~ juga tergolong tinggi, karena waktu debut kalian yang tepat… namun semenjak Hysteria, penjualan kalian semakin menurun, karena konsep kalian yang masih belum tentu arah, kami akui ini kesalahan kami yang terlalu memberi kalian kebebasan dalam menentukan sendiri apa konsep kalian.” Jelasnya.

   Kami bertiga masih diam.

   ”Kalau dibiarkan begini terus, ini sudah tahun 2010, dan kalian tetap tidak melakukan apa-apa,” sambungnya lagi. ”Jinyoung Sajangnim sudah benar-benar khawatir akan masa depan kalian, sementara kontrak kalian masih panjang, terutama kau, Haejin-ssi.” Aku semakin menunduk, yeah kontrakku masih delapan tahun lagi, kan?

   ”Namun, Jinyoung Sajangnim tidak akan melepaskan kalian begitu saja untuk proyek berikut ini. Mengenai pemasukkan kalian yang belum sepadan untuk membuat album pertama, kami mulai sekarang akan merubah konsep Felidis, karena sepertinya tugas itu terlalu berat untuk dilakukan sendiri oleh Haejin-ssi, namun Haejin-ssi, kau tetap bisa mengontrol dan memutuskan apakah ini sudah cocok dengan kalian atau belum. Kau tetap memiliki wewenang untuk memegang kendali penuh, karena bagaimana pun juga, tetap kalian yang akan membawa konsep tersebut.”

   Kami bertiga mengangguk.

   ”Kalau begitu, kami mohon maaf tidak dapat memproses album pertama kalian, atau juga mini album untuk kalian,” lanjut Jikwang Sajangnim lagi. ”Namun, kami akan konsentrasi mempersiapkan kalian dalam bidang variety show, jika kalian sudah dikenal dalam variety show, daya jual kalian akan naik terhadap variety show lainnya, dan setelah itu pemasukkan kalian akan cukup banyak, dan setelah pemasukkan kalian banyak, dan kalian mulai dikenal publik… kalian akan langsung meluncurkan album perdana kalian.”

   Kami mendengarkan rencana yang disusun secara panjang tersebut, aku sendiri setuju dengan pendapat Jikwang Sajangnim soal ini. Memang dengan variety show kami bisa terkenal, masalahnya tak ada satu pun variety yang mau mengundang kami dalam acara mereka.

   ”Nah, sekarang permasalahannya, belum ada variety show pun yang mengundang kalian.” Jelasnya lagi, wajahnya nampak lelah, kemudian Jikwang Sajangnim menoleh menatap Seunghwan Oppa, perasaanku mulai menekan, dan tidak enak. Ada apa ini? Konspirasi? ”Dan menurut Wonhee Sajangnim, cara inilah yang harus di pakai.”

   ”Cara apa, Sajangnim?” tanyaku akhirnya pelan, aku khawatir kalau sudah menyangkut si Wonhee ini.

   ”Begini, Haejin-ah,” akhirnya Jikwang Sajangnim, yang kutahu adalah Direktur yang paling ramah dan dekat dengan artis-artisnya ini mulai memakai bahasa non formal, tandanya dia benar-benar mau memberi pengertian, tapi ini artinya bahwa situasi yang akan kami hadapi sulit. ”Dalam Strong Heart minggu lalu, 2PM melakukan recording, dan Wonhee Sajangnim sebetulnya sudah meminta tolong hal ini kepada 2PM.”

   Jangan bilang kalau… Tuhan, tolonglah, jangan katakan kalau pikiranku benar, aku benar-benar membatin ketakutan..

   ”Jadi dalam recording terakhir, dimana Junho dan Taecyeon menjadi bintang tamu dalam Strong Heart, Taecyeon mengatakan bahwa ia adalah mantan kekasihmu, Haejin-ah.”

   Astaga, mengapa ini harus terjadi?! Kenapa yang kutakutkan benar-benar terjadi ya Tuhan? Kenapa harus dengan cara ini? Aku benar-benar tidak bisa menggerakan fungsi tangan dan kakiku dengan baik.

   ”Tenanglah,” bujuk Jikwang Sajangnim lagi sementara kurasakan Chihoon dan Kyorin sudah memegang tanganku panik, mereka mungkin mengira aku akan menangis lagi.

   Aku memang akan menangis lagi, tapi bukan karena Taecyeon. Karena ini semua keterlaluan! Aku sudah benar-benar melupakannya, dan biarkanlah dia menjadi bagian lalu, tidak perlu publik tahu soal aku dan Taecyeon! Tapi demi Felidis? Haruskah Taecyeon dan aku menjual hubungan kami dulu?!

   ”Taecyeon tidak persis berkata kalau kau adalah mantan kekasihnya,” Jikwang Sajangnim melanjutkan. ”Dalam acara tersebut, Taecyeon cuma menyebutkan bahwa dia pernah menjalin kasih dengan salah seorang member girlband di manajemennya. Dan sasaeng-sasaeng 2PM dan Felidis yang benar-benar tahu hubungan kalian sudah mulai berkomentar di forum-forum, dan kini kami hendak mengeluarkan foto-foto kalian dahulu.”

   Rasanya aku siap disambar petir saat ini juga! Demi Tuhan, haruskah hal ini dilakukan?! Kenapa harus dengan cara ini? Hatiku sakit, dan kenapa juga Taecyeon tidak melarang hal ini? Kenapa dia menerima begitu saja?

   ”Maaf untuk tidak memberitahukanmu terlebih dahulu,” lanjut Jikwang Sajangnim. ”Tapi ini perlu, mengingat toh kalian sudah tidak lagi bersama, kan? Jadi ini tidak akan mempengaruhi fans. Dan Haejin-ah, saat nanti kau dipanggil oleh Strong Heart, kau akan menjelaskan kepada publik kalau kau memang mantan kekasih 2PM Ok Taecyeon disana.”

   Aku menggigit bibirku.

   ”Tak apalah, Haejin-ah, ini perlu.” Bujuk Junjin Oppa.

   ”Kau tidak akan terkenal begitu saja jika hanya karena kau mantan kekasih Ok Taecyeon,” Jikwang Sajangnim mulai membujuk lagi. ”Dalam Strong Heart, yang ratingnya paling tinggi di hari Selasa malam itu, kau harus menunjukkan semua bakatmu. Dari ballet, dance, rapp, menyanyi, dan akting. Kau, tidak mau Kyorin-ssi dan Chihoon-ssi terbengkalai dalam pelajarannya, kan? Kau yang harus banyak aktif dalam variety show.”

   Aku terhenyak, memang benar. Aku tidak mau Kyorin dan Chihoon terhenti sekolahnya karena karier mereka, aku mau mereka berdua memiliki masa sekolah yang damai, tanpa terganggu oleh pekerjaan yang begitu banyak. Aku juga yang tidak mau mereka kehilangan masa muda mereka.

   Aku yang harus maju, aku yang telah menggagalkan mereka debut awal, aku pula yang harus bertanggung jawab.

   ”Tapi jangan khawatir, Kyorin-ssi akan kami ikut sertakan dalam berbagai macam acara musikal, karena itulah bidangnya. Dan Chihoon, kau akan masuk bidang drama, dalam arti kau akan menjadi penyanyi soundtrack drama. Dengan begitu kalian semua akan punya andil dalam memajukan Felidis, dan setelah kami rasa sukses, kalian akan langsung rekaman untuk album pertama kalian.”

   Aku membulatkan tekad, lalu mengangguk. Jalan ini memang berat, tapi mau tak mau harus aku lewati, demi kedua adikku ini. ”Aku terima ini, Sajangnim, kamsahamnida.”

   ”Onnie…” Kyorin dan Chihoon kaget melihat reaksiku.

   ”Onnie yakin?” bisik Kyorin pelan.

   Aku mencoba tersenyum. ”Gwenchana, ayolah kita pasti bisa melewati 2010 dengan baik, dan kita harus bisa segera membuat album.” Aku mencoba memberikan mereka berdua semangat. ”Ini tidak susah, namun tidak gampang juga, kita harus berterima kasih pada Sajangnim dan 2PM Sunbaedeul yang bersedia membantu kita.” Aku bahkan tidak bisa menyebut nama Taecyeon disini.

   ”Syukurlah kalau kalian setuju,” Jikwang Sajangnim setuju. ”Kalau begitu, jika nanti ada banyak pertanyaan soal dirimu dan Taecyeon, harap jangan kau jawab apa-apa, Haejin-ah. Kita pancing pihak Strong Heart agar mau mengundang Felidis sebagai guest star, dan mengenai anti fans yang akan muncul setelah foto-foto kalian kami sebarkan, kau harus bisa bersikap tenang menghadapinya. Jika perlu kau tidak usah melihatnya, agar tidak terpancing emosi… kau tidak perlu menanggapi apa-apa, kau cukup bungkam saja, Haejin-ah.”

   Aku mengangguk, berat hati. ”Ne, algessimnida, Sajangnim.”

   ”Baiklah, kalau begitu, kita akan mulai membicarakan konsep setelah Haejin sudah pasti masuk Strong Heart.” Lanjut Jikwang Sajangnim. ”Kalau begitu, rapat hari ini, cukup sampai disini.”

   Satu persatu Manajer, Direktur, dan sebagainya keluar dari ruangan, aku dan kedua adikku membungkuk memberi hormat kepada mereka, sampai ketika Seunghwan Oppa dan Junjin Oppa bertukar sapa, dan Seunghwan Oppa hendak keluar, aku berlari menghampirinya.

   ”Oppa, jeongmal gwenchana? Jika seperti ini?” tanyaku.

   Seunghwan Oppa tersenyum. ”Tak apa-apa, Taecyeon sendiri setuju setelah Wonhee Sajangnim memintanya, ini semata-mata juga demi 2PM kok, setelah skandalnya dan YoonA yang ternyata semakin melebar, perusahaan juga perlu berita untuk menetralkannya.”

   ”Cih! Skandal itu sama-sama menguntungkan kedua belah pihak, kok!” seru Chihoon tidak terima. ”2PM dengan mini album Without U, dan SNSD dengan Oh!. Lagipula, yang membuat skandal juga perusahaan, kan? Begitu membuat badai, malah nyaris terbunuh oleh badai itu sendiri!” kecamnya panas.

   Kyorin mengelus-elus bahunya. ”Sudahlah, Chihoonie.”

    Seunghwan Oppa mengangguk. ”Itulah, Taecyeon juga terbebani dengan gosipnya dengan YoonA, yang awalnya mereka berteman baik, jadi canggung setelah ada gosip miring begini. Dan inilah penetralnya…”

   ”Tapi, dia tidak keberatan? Felidis akan menjual hubungan kami dulu?” tanyaku tanpa bisa kucegah. Aku bisa melihat Kyorin dan Chihoon membeku menatapku, mereka kemudian saling pandang.

   Seunghwan Oppa tersenyum. ”Taecyeon tidak keberatan, kok.”

   ”Ah, keurae?” tanyaku, kalau memang dia tidak keberatan, untuk apa aku pusing-pusing? ”Baiklah, kalau dia memang tidak keberatan, katakan padanya, di Strong Heart nanti, aku akan menceritakan sejujur-jujurnya.” Kataku kemudian.

   ”Baiklah.”

   Junjin Oppa kemudian berkata, ”Ayo anak-anak, kita pergi dari sini, sudah tidak ada kerjaan lagi. Kalian bisa kembali.”

   Dalam perjalanan pulang aku, Kyorin, dan Chihoon sama-sama diam, namun begitu tiba di dorm mereka berdua membombardirku dengan pertanyaan soal keputusanku ini.

   ”Onnie, kenapa Onnie setuju?”

   ”Dan dengan Taecyeon, Onnie yakin?”

   Aku menghela napas berat, sambil menjatuhkan diriku di atas sofa ruang tengah kami, Kyorin dan Chihoon duduk di kanan dan kiriku. ”Aku juga kaget ketika mendengar saran dari Jikwang Sajangnim tadi… tapi ternyata, kita memang harus menerima, kan? Buktinya Taecyeon sudah menceritakan hal itu di Strong Heart, sebelum kita tau.”

   ”Tapi, Onnie masih bisa menolak, kan?” tanya Chihoon penasaran.

   ”Iya, sebetulnya apa alasan Onnie? Onnie tidak mengharapkan Taecyeon Oppa lagi kan?” tanya Kyorin tajam.

   Aku meliriknya tajam, lalu mendengus. ”Aku benar-benar sudah melupakannya, Kyorin-ah.” Desahku. ”Awalnya ya, aku berpikir kalau aku benar-benar mau meninggalkannya di belakang. Aku tidak mau mengungkit-ungkit semua hal tentang dirinya lagi… tapi itu namanya lari.” Ujarku pelan. ”Toh aku harus menghadapinya suatu saat. Lagipula toh dia tidak keberatan cerita masa lalu kami di umbar,” aku tersenyum. ”Toh aku sudah punya mimpi lagi sekarang.” Aku benar-benar tersenyum dari bibir dan hati.

   Kini, Kyorin dan Chihoon ikut tersenyum, kalau aku yakin, mereka juga yakin, dan mereka bersandar di bahuku. Huh, aku tahu, semua ini masih awal, dan jalanku bersama kedua anak ini masih panjang, mereka hanya tidak tau aku melakukan ini demi mereka berdua. Lama kelamaan, tanpa kami sadari kami bertiga ketiduran dengan posisi saling bersandar.

   Aku terbangun, saat posisi tidur kami bertiga benar-benar sudah amat sangat tidak enak. Leherku sakit, dan kedua bahuku pegal karena ditiduri oleh Kyorin dan Chihoon di masing-masing sisi. Aku menguap, dan melirik jam, sudah pukul tiga sore. Kenapa perasaanku mengatakan bahwa ada sesuatu yang kulupakan, ya? Aku menggeser tubuh Kyorin agar tertidur pada lengan sofa, begitu pula Chihoon dan berjalan pelan ke dapur. Tenggorokanku haus sekali, aku minum setelah mengisi gelas beningku dengan air keran. Lalu aku mencuci mukaku agar lebih segar, lalu kembali berjalan ke arah televisi.

   Kyorin dan Chihoon masih pulas.

   ”Kok seperti lupa sesuatu ya?” aku menggumam sambil duduk di sofa kecil dan mengambil tasku, lalu membukanya. ”Lupa apa ya?” aku memang sering begini, melupakan sesuatu yang sepertinya penting, tapi entah apa. Aku memandang jam lagi, lalu membuka ponselku yang berkedip-kedip menandakan ada pesan masuk. Aku memang mengaktifkan profil diam sejak berangkat ke perusahaan tadi, dan sepulangku ke dorm lupa lagi mengembalikannya ke normal.

   Ada banyak missed call dan pesan, barulah satu kesadaran menghantamku, jam menunjukkan pukul empat sore. Berapa lama kami tertidur tadi? Dan, hari kan ada Music Core‼!

   Aku panik dan langsung teriak-teriak membangunkan Kyorin dan Chihoon yang awalnya mengira ada kebakaran karena aku panik. Namun begitu aku menjelaskan kalau aku harus tiba di MBC dalam waktu dua puluh menit, mereka jadi tunggang langgang juga buru-buru bersiap-siap kembali.

   Dan kami memang terlambat, pukul lima kami baru tiba di stasiun MBC, dan Super Junior sedang tampil di atas panggung. Jadilah bukannya ke kamar ganti mereka, kami bertiga menonton penampilan mereka terlebih dahulu, dan aku kecewa menyadari aku kelewatan menonton Nappeun Yeoja, kenapa sih aku harus ketiduran? Aku mau mendengar ah-nya Hae lagi T___T

   Ah, bodohnya… aku mengutuki diriku sendiri, sementara Tiffany dan Yuri Sunbae sudah mempersilakan Super Junior tampil. Yap, setidaknya aku tidak ketinggalan lagu Miinah. Dan lagi-lagi aku terkena serangan lemas begitu melihat mereka di atas panggung.

   Lagu bahkan belum dimulai, tapi Donghae sudah basah, ya ampun! Eh, yang basah bukan hanya dia deh, yang lain juga. Kali ini Donghae memakai kaus ketat tanpa lengan berwarna hitam, tangan kekarnya sudah lecep ya Tuhan, dan musik pun dimulai. Kyorin dan Chihoon ikut teriak-teriak heboh, tapi aku malah lemas. Aku memandangi pacarku yang seksi itu sedang menggerakan tubuhnya, aku mencubit pipiku lagi untuk menahan teriakkan.

   Kali ini bahkan Ryeowook dan Yesung Oppa ikut memamerkan buah kerja keras mereka. Dengan sleeveless yang memperlihatkan garis lurus belahan dada mereka, ampun, dan basah pula! Spray itu pasti dipakai lagi disini, bahkan Heechul Oppa terlihat seksi. Tapi bagaimana seksi pun yang lain, tetap Donghae dimataku paling seksi, baik bahasa tubuh maupun tatapan mata, sanggup melelehkan dan melumerkanku saat itu juga.

   Dan ketika gilirannya bernyanyi, aku menyadari bahwa mereka memakai mikrophone gantung, yang memudahkan mereka bernyanyi sambil menari tanpa perlu memegangnya. Tidak seperti kemarin di Music Bank, kini Donghae bisa melakukan atraksi sulapnya, dan aku terpana. Dia benar-benar melakukan apa yang dia lakukan dalam MV Miinah. Dan bunga itu dilemparnya ogah-ogahan, sehingga tidak sampai pada penonton, aku bertaruh banyak yang rela mati demi bunga itu.

   Secara keseluruhan aku senang menonton performance mereka, terutama bagian pelvic dance dan dance break. Begitu mereka selesai bernyanyi, aku memberi isyarat pada Chihoon dan Kyorin untuk kembali ke kamar ganti Super Junior, sebelum para penonton menyadari kalau Felidis sedang ikutan fangirling disini.

   Di dalam kamar ganti mereka ada beberapa coordie, dan kami dipersilakan masuk oleh mereka. Setelah menunggu sepuluh menit, barulah kami mendengar suara gaduh dari luar, pastilah mereka sudah ada di depan kamar ganti. Pintu terbuka, dan suara riuh serta ramai diluar terdengar.

   ”Lho?!”

   ”He? Kalian datang?”

   Kami bertiga melempar senyum sok polos pada mereka bersepuluh yang menatap kami penuh perhitungan. Kami lagi-lagi tersenyum, lalu Chihoon mengeluarkan senjatanya yang paaaaling kubenci, dan yang paling ampuh untuk meluluhkan hati siapa saja.

   Aegyo.

   ”Tapi kami nonton kok,” bujuk Kyorin ikut menenangkan.

   Aku cuma tersenyum, kedua adikku sudah bekerja keras membujuk Super Junior, jadi aku pasang senyum sajalah. Kulihat ada Ririn-ssi, JooEun-ssi, dan Nara yang bingung di belakang mereka bersepuluh. Akhirnya Leeteuk Oppa menyuruh mereka semua masuk ke dalam dan menutup pintu, daripada kelihatan orang luar.

   Cukup mudah untuk meluluhkan hati member Super Junior lainnya, tapi ternyata tidak mempan untuk pacarku, aku meliriknya yang cemberut. Demi Tuhan, aku justru suka wajah cemberutnya itu. Bibirnya yang tipis ditarik mundur, dan dia masih kelihatan basah-basah menggoda! Member lain sudah mulai berbicara riang pada satu sama lain dan membicarakan bagaimana penampilan mereka tadi di panggung. Tapi Donghae? Dia mendiamkanku, lagi! Ya ampun, dia cuma melewatiku tanpa melirikku sama sekali, dan duduk di sudut sambil memainkan ponselnya.

   Tak ada yang peduli padaku. Ririn-ssi sekarang membujuk Siwon untuk kembali ke rumah sakit, karena ternyata Siwon sedang sakit. JooEun-ssi masih dibujuk-bujuk oleh Eunhyuk karena adegan pamer absnya tadi, lalu Nara dan Kyuhyun sepertinya main game di laptop entah siapa. Chihoon sudah bermanja-manja ria pada Sungmin Oppa, dan Kyorin ngobrol santai dengan Ryeowook dan Yesung Oppa. Shindong Oppa menelepon seseorang, dari nadanya kurasa itu pacarnya yang identitasnya baru ketahuan, dan Leeteuk Oppa ikut ngobrol dan bergabung bersama Ryeowook dan Yesung Oppa. Terakhir hanya Heechul Oppa yang berbaik hati mau duduk di sampingku.

   ”Sana tuh, temani Donghae.” Bisiknya sambil mengedikkan kepalanya ke arah Donghae yang sibuk main ponsel. ”Kau tahu, dia seperti orang gila tadi menghubungi-mu tak ada hasil, ckckckck… kalau tadi koreografi Donghae ada yang salah, itu salahmu ya!”

   Aku mengkeret. ”Aku kan belum menjelaskan kenapa kami terlambat, Oppa.”

   ”Ya makanya sana jelaskan, aku sih gak peduli, kau kan bukan pacarku,” sahutnya enteng.

   Aku mendengus. ”Tapi dia…”

   ”Apa?”

   ”Seram.”

   ”Ah, Donghae begitu aja kau bilang seram?! Tapi iya juga sih, kalau aku bertengkar dengannya, hampir semua barang pecah belah ia lemparkan padaku,” Heechul Oppa menjawab enteng sekali, dia tidak sadar aku malah ketakutan. ”Aku tidak bohong lho, Donghae memang kalau sudah benar-benar marah mengerikan. Tapi kalau masih begitu sih, ah… dia hanya terlalu mellow jadi namja.”

   Oke, kucatat itu.

   ”Lalu aku harus apa, Oppa?” tanyaku.

   ”Molla, cium saja dia!”

   Astaga! Oppa, aku mau banget! Eh, aku buru-buru menggelengkan kepalaku cepat. Memangnya masalah selesai dengan cium? Ya ampun, Heechul Oppa ini. ”Ah, Oppa, jangan bercanda!” aku mendorong pelan tubuhnya.

   ”Yah, ngapain aku bercanda? Kalian kemarin gagal ciuman kan? Nah, cium sana!” malah aku ganti didorong. ”Aku pun kalau yeojachinguku marah, aku hanya akan menciumnya, dan dia diam.”

   Aku menggaruk kepalaku. ”Oppa ini…” yang jelas aku tidak mau mengikuti ajaran sesat itu. Tapi boleh juga tuh, kalau saja Hae seperti Heechul Oppa, aku akan marah melulu supaya dicium. Oke, pikiranku mulai lagi melantur, kan? Heuuu, pikirkan yang lain, yang lain.

   Donghae masih menatap ponselnya di ujung.

   ”Onnie,”

   Aku menoleh, ternyata Nara yang sedang menatapku, karena Kyuhyun menguasai laptop sekarang ini. Aku kembali berdebar-debar, jebal jangan bicara soal Taecyeon dalam situasi ini.

   ”Kau dan Hae Oppa bertengkar?” tanyanya pelan, syukurlah dia mengerti situasi.

   ”Ikan manja itu sedang ngambek, Nara-ya,” sahut Heechul Oppa. ”Gara-gara pacarnya ini tidak bisa dihubungi dari tadi.”

   Nara memutar matanya. Aigo, kalau begitu dia jadi mirip Kyuhyun. ”Itulah kenapa aku tidak setuju Hae Oppa denganmu, Onnie. Aku lebih suka JinTaec! Donghae Oppa itu cengeng!”

   ”Ya!” Kyuhyun mulai memelototi Nara. ”Kau ini kenapa tiba-tiba jadi hobi ikut campur sih?!”

   ”Wae?! Aku itu Flyers, aku cuma mau idolaku mendapatkan pasangan yang sepadan dengannya! Lagipula Onnie, kenapa kau dan Taecyeon Oppa harus putus sih? Kudengar dari berita, Taecyeon Oppa mengakui kalau dia mantan pacarmu di Strong Heart!”

   Dan semua itu Nara katakan dalam volume besar! Demi Tuhan, kenapa sih harus seperti ini lagi?!

   ”Wae, Nara-ya?” tanyaku akhirnya. ”Aku suka pada Donghae apa adanya kok, tak apa dia cengeng.” Aku mengedipkan mataku. ”Dan kalau Taecyeon, dia itu mantanku sudah dua tahun yang lalu, jadi kumohon jangan bicarakan dia lagi. Nanti pacarku itu marah padaku.” Aku menunjuk Donghae, dan seluruh ruangan menatap kami.

   Donghae tersipu-sipu malu.

   Nara mendesah kecewa. ”Onnie benar-benar cinta pada Donghae Oppa?” tanyanya curiga.

   ”Ne!” jawabku.

   ”AAAAAH!” teriak seisi ruangan.

   ”Sudah-sudah! Jangan main cinta-cintaan disini!” teriak Leeteuk Oppa.

   ”Oppa, jangan iri kalau belum punya pacar.” Ucapan dari Ririn-ssi membuat seisi ruangan kembali tergelak dalam tawa. Mereka kembali saling ledek, dan aku senang wajah Donghae mulai berwarna lagi.

   Setelah mereka keluar lagi sebentar di penghujung acara Music Core, begitu aku menunggu mereka di lorong kamar ganti sambil bersandar, sementara Kyorin dan Chihoon terus mengikuti mereka ke panggung, Siwon dan Ririn-ssi pamit untuk pergi ke rumah sakit, sementara JooEun-ssi dan Nara memutuskan tetap berada di dalam kamar ganti.

   Kurasakan tangan seseorang menggenggam tanganku, saat aku melamun, aku menoleh ternyata Donghae. ”Ayo, kabur.” Ajaknya.

   ”Kemana?” tanyaku kaget.

   Donghae memberikanku jaket lagi dan aku buru-buru memakainya, dia berkata. ”Banyak yang mau kubicarakan denganmu,” ujarnya sedikit dingin. ”Kyorin dan Chihoon disini ada Hyungdeul, ada Kyuhyun dan Ryeowook juga, tak usah khawatir… kaja!”

   ”Tapi kemana?!”

   ”Ke dormmu saja!”

   ”Heh?! Ngapain?”

   ”Sudahlah, yang penting pergi dari sini supaya kita bebas berbicara, tanpa khawatir ada yang menguping.” Balasnya tergesa.

   Aku mengangguk, dan ikut gandengannya. Kuperhatikan dia juga memakai jaket, dan membawa ransel, dia juga memakai masker. Kami keluar pintu belakang MBC, dan langsung naik taksi. Supir taksi memerhatikan kami dengan curiga, maka kami berdua tidak ada yang berbicara, begitu sampai di apartemen, aku dan dia langsung naik ke ke atas, dan masuk ke dalam apartemen Felidis.

   Aku membuka jaketku begitu tiba di ruang tengah, dan dia juga melepaskan maskernya.

   ”Kau kemana saja sih?!” sungutnya.

   Aku melongo, ya ampun, jauh-jauh dia mengajakku kabur hanya untuk bertanya aku kemana? Aku tersenyum, kemudian menariknya duduk di sofa. ”Mianhae, kubuatkan minum ya?”

   ”Cih, melarikan diri dari pertanyaan. Aku jadi curiga.”

   Aku berlenggang ke dapur, dan membuatkannya cokelat saja, lalu membawanya ke ruang tengah. Dia menarikku duduk, dan menatapku tajam, tapi mulutnya membrengut.

   ”Kau kemana saja?!” tuntunya lagi, dengan kedua tangan menggenggam tanganku erat-erat.

   ”Tadi pagi aku bangun jam setengah tujuh, dan jam setengah delapan aku dan Felidis harus sudah ada di kantor, karena para petinggi mau rapat soal Felidis. Sepulang rapat kami kelelahan, dan ketiduran disini sampai sore, begitu bangun aku baru ingat kalau harus ke Music Core, makanya kami langsung kesana.”

   ”Tapi kau tidak menjawab dan membalas pesanku!”

   ”Ara, mianhae…” aku menunduk dalam-dalam. ”Itu karena begitu berangkat ke kantor tadi pagi aku mengaktifkan profil tanpa suara dan getar, jadi aku tidak terganggu. Begitu pulang, aku lupa mengembalikannya lagi seperti semula, Hae. Tapi aku kan datang.” Aku berusaha membujuknya.

   Dia masih cemberut. ”Kau datang saat apa? Aku tidak melihatmu saat kami tampil.” Sungutnya.

   ”Kami tiba tepat saat kalian mau tampil Miinah.” Aku jawab lagi.

   ”Jadi kau lihat aku sulap, kan?” pandangan matanya berubah menjadi polos lagi, rupanya dia ingin agar aku melihat aksi sulapnya.

   Aku tersenyum, kemudian mengangguk. ”Daebak!” aku mengangkat jempolku. ”Sayangnya aku tidak dapat bunganya.” Lalu aku mengedip-ngedipkan mataku padanya, dan wajahnya memerah, malu-malu. Yah, begitu doang dia luluh? Hihihihi…

   ”Oke, perhatikan ini…” katanya tiba-tiba melepaskan tanganku, lalu dia bernyanyi. ”Mwol salga salga salga salga, neoreul wihan seonmeul?” sambil bernyanyi dia menarik kain merah, dan membukanya, lalu ada sebuah cincin perak. Bulat, tanpa batu sama sekali.

   Aku terpana menatap cincin itu.

   ”Cincin ini memang tidak ada apa-apanya,” Donghae menjelaskan. ”Tak ada batu pertamanya, bahkan jujur kuakui ini bukan cincin emas. Ini hanya dari perak saja, ini kubeli di Mokpo, dulu.”

   ”Dulu?”

   ”Entah kenapa waktu itu ingin membeli cincin ini,” dia terkekeh. ”Tak ada maksud spesial, tapi aku tidak pernah memakainya, hanya menyimpannya. Itu cincin perempuan, dan kurasa aku akan memberikannya pada pacarku.” Dia tertawa lagi sambil memainkan jari-jariku lagi. ”Tapi meski akhirnya aku punya pacar pun, aku tidak pernah memberikan cincin ini padanya… tapi begitu akhirnya kau menerimaku, aku sudah ingin memberikan cincin ini padamu.”

   Aku tersentuh mendengarkan kata-katanya.

   ”Kau mau kan, memakainya?” tanyanya penuh harap.

   Aku kehilangan kata-kata, cincin itu memiliki makna sendiri untuknya. Cincin sederhana yang indah, dan dia mempercayaiku untuk memakainya. Aku mengangguk, dan mengulurkan tangan kiriku. Dia meraih tanganku, kemudian menyelipkan cincin itu pelan-pelan ke jari manis tangan kiriku, lalu dia menatapku.

   ”Gomawoyo.”

   ”Kenapa kau yang bilang terima kasih, seharusnya aku.” Jawabku pelan.

   Dia tersenyum lagi. ”Ah, aku sudah mendownloadkan video Nappeun Yeoja!” katanya tiba-tiba. ”Kau harus menontonnya karena kau tidak menonton kami live tadi, huuuuh…” keluhnya, dan dia mulai sibuk dengan televisi plasma kami.

   Entah bagaimana caranya dia kemudian menyalakan televisi dengan remote, kemudian menyambungkan external harddisk kesayangannya. Yang tidak aku sadari adalah kemudian Donghae melepaskan jaketnya, ternyata dia masih memakai kausnya saat tampil tadi. Kaus hitam tanpa lengan, dan karena dia memakai jaket di udara menjelang musim panas ini, tangannya yang sudah basah semakin basah.

   Aku menelan ludahku kuat-kuat ketika dia duduk di sampingku dengan heboh masih mengomeliku soal aku terlambat. Padahal aku hanya memelototi lengannya yang kekar, dan lehernya yang menampakkan urat-urat yang kencang dan jelas. Dia kemudian menunjuk televisi.

   ”Kaja! Ayo nonton!”

   Aku mengalihkan pandanganku ke televisi, dan lagu Nappeun Yeoja dimulai. Kyuhyun duluan yang bernyanyi, barulah Donghae, tangannya yang besar itu sama basahnya seperti waktu ia menyanyikan lagu Miinah. Aku menggigit bibir kuat-kuat ketika dia akhirnya mendesah, Yeotaeggeot jal ddwideon simjangi Boom Boom Boo Boom Boom, Ah…’

    Aku menggigit bibirku kencang-kencang.

   Donghae sama sekali tidak tahu apa yang ia perbuat justru membuatku panas-dingin begini. Dia tega sekali, memenjarakan wanita seperti ini. Dia dengan senang menonton aksinya sendiri, sementara aku megap-megap di sebelahnya. Apalagi ketika bagian ’Nappeun nappeun nappeun…’ ya Tuhan, pelvic dance-nya sungguh… menggoda!

   ”Sayang, kau kenapa?”

   Aku mendongak, dia menatapku cemas dan panik. Memang apa? Aku tidak tahan ingin sesuatu, tapi aku tidak tahu sesuatu itu apa, yang jelas badanku tidak bisa diam! Huuuh…

   ”Itu bibirmu berdarah…” Donghae bangkit dan mencari tisseu, aku menyentuh bibirku.

   Memang ada bercak darah, rasanya aku menggigit bibirku terlalu kencang tadi. Donghae kau harus tanggung jawab! Dia datang membawa tisseu, dan langsung mengusap bibirku.

   ”Kau kenapa? Kau sakit? Bilang dong, sampai menggigit bibir begitu…” dia nyaris menangis lagi! Aku terharu, dia begitu memperhatikanku, tapi kesadaranku mulai goyah lagi. Dia semakin dekat denganku, aku bisa merasakan aroma Emporio Armanni yang benar-benar maskulin, bercampur keringat yang alami, dan lehernya begitu jelas dalam jarak seperti ini.

   Suaranya, deru nafasnya benar-benar membuatku melayang. Tangannya itu, Tuhan, aku ingin menyentuhnya, sumpah! Aku tidak tahan, akhirnya aku menangis. Dia terperangah dan ikut panik.

   ”Sayang, kau kenapa?! Beritahu aku, perlu kutelepon Kyorin? Chihoon? Apa yang sakit? Jebal, beritahu aku…”

   Aku menggeleng-geleng.

   ”Lalu kau kenapa? Jebal, jangan buat aku panik,” dia mengusap air mataku.

   Aku terisak, memalukan sekali! Kenapa wanita bisa dibawah kendali maskulinitas pria seperti ini? Aku menggeleng, lalu mendorong tubuhnya pelan. Dia seperti mengerti aku memintanya sedikit menjauh, dia mundur pelan-pelan, tapi yang terjadi justru tanganku yang berada dibahunya menyentuh mulus tangannya yang kekar dan basah.

   Aku merasakan panasnya kulit itu! Dan itu candu, aku tidak peduli kesadaranku hilang kemana, aku menatapnya dan menarik tangannya mendekat ke arahku. Tubuh kami berdua kini menempel lagi di atas sofa, dia kebingungan melihat air mata yang bercucuran di mataku, dan aku yang terisak-isak.

   Pelan, kuraih kedua tangannya, dan kuelus tangannya. Mulai dari jemarinya, tangannya, hingga lengannya yang berotot. Aku berhenti disana, dan kurasakan benar-benar lekuk tangannya, sambil kuperhatikan terus tanganku yang menyusuri kulitnya, aku bisa merasakannya menatapku.

   Pelan-pelan masih kurasakan keliatan tangannya, yang akhirnya memuaskan hasratku yang ingin sekali menyentuhnya. Pelan, kurasakan tangannya mengangkat daguku, pelan sekali. Mata kami bertemu, tatapan matanya berubah, tanganku masih bergerak menyusuri lengan kokohnya.

   ”Maaf…” bisikku malu, tanganku melepaskan tangannya.

   Tapi dia menahan pergelangan tanganku, yang terjadi kemudian rasanya berpusing cepat sekali. Dia menarik telapak tanganku di dada bidangnya, aku terkesiap, aku bisa merasakan lekuk-lekuknya meski tidak bisa melihatnya langsung, aku mulai tidak bisa lagi mengatur napasku. Dan dia menyentuh tanganku yang mengelus dada bidangnya pelan, tangan satunya mengangkat daguku lagi, wajah kami saling mendekat, tanpa melepaskan tatapan satu sama lain.

   Kami masih saling menatap, meski jarang kami sudah sedikit, napasku mulai memburu, dan napasnya juga sudah memburu. Dia mengelus bibirku singkat, dan menahan tanganku yang ingin bergerak. Dia tau cara menaklukkanku, aku benar-benar takluk!

   ”Hae… jebal…” bisikku memohon.

   Dan dia melakukannya, ketika bibirnya menyentuh bibirku tanpa peringatan, nyawaku seakan terlepas. Lepas, dan ringan, akhirnya aku merasakannya! Akhirnya dia menciumku. Bibirnya menyentuh permukaan bibirku pelan, dan aku sudah mendesah ringan, memintanya membebaskan tanganku, tapi yang terjadi diluar perkiraanku.

   Dia memiringkan kepalanya dan seperti menyesap bibir bawahku, aku mendesah ringan lagi. Bibir kami sama-sama terbuka, dan kini lidahnya masuk ke dalam bibirku, lidah kami bertemu, bersilang, saling mengejar dan mencari satu sama lain, sementara bibirnya terus menyesap. Aku balas menciumnya meski tubuhku melemas, kini dia melepaskan tanganku, dan ganti merangkul pinggangku, aku mengalungkan lenganku di lehernya. Gerakan kepala kami sinkron seirama, ketika dia maju, aku menyambutnya dengan menengadahkan kepalaku, memudahkannya menciumku lebih dalam. Ketika aku meminta lebih dia menyerahkannya dan membiarkanku menyerangnya, dia sabar, lembut, dan panas pada saat bersamaan.

   15 Mei 2010, ciuman pertamaku dengan Lee Donghae.

-To Be Continued-

Akhirnya selesai juga ^^ aku begadang bikinnya.. jangan lupa APRESIASI-nya yang aku tunggu, baik berupa kritik, saran, atau Donghae berpita #plakk hehehehe… Makasih untuk 177 orang yg udah komen di part sebelumnya, kutunggu nama kalian lagi di part ini hehehehe ^^ juga buat Silent reader lainnya… masih ditunggu kok komennya ^^ gomawo, saranghae

162 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 14~ PG15

  1. akhirnyaaa kesampean juga impian Haejin.. Keke udah mulai skinship..
    Nara itu terlalu ceplas ceplos. Ngomong ga dipikir lagi, to the point bgt. Kan ga enak sama Haejin.. Haha

  2. Yg ini komennya msk ga ya…
    Wateperlah klo double….

    Nisyaaaaaaaaaaaa
    Apaan yg dibalik kaos item????
    *keramasin nisya pake bayclin*
    wkwkekekekekek…

    TOP dech klo urusan Skinship…
    Lanjut Nisyaaaa, ciuman pertamanya dilanjuuut…
    *Reader Omes*

  3. Ciyeeeee udah mulai skinship ciyeeee xD
    Itu tanggal pertama kali ciumannya pati bakalan diinget terus wkwk
    Kak Nisya gara2 FF ini aku jadi JinHaeternal :~
    JinHae jjang!

  4. howaaaaaa *panas* *butuh tisyu*
    akhirnya mereka kisseu juga
    eh, itu hubungannya haejin sama taecyeon dulu mau diungkap??
    waaah, bakal jadi masalah dong buat jinhae
    si nara mulutnya ember banget deh. main nyablak aja.

  5. hahaha.,, dari atas aku udah ketawa2.,, seru n menegangkan!!! dan naraaaaaaa!!! nisha kmu bkin dia bener2 jd tokoh paling kubenci saat ini.,, #dikeplakEvilKyu
    dan eeeaaaa.,, mulaii panassss!!dapet bangettt firstkiss aaakkkk #AKuButuhByclin -_-
    dan seperti part ini tak perlu ada doramanya deh “)v

  6. Waduh,, sy merinding baca kiss scenenya,, brasa nyobain sendiri,,,, hahahah daebak,,
    Aq suka di setiap jinhae scene,, romantis ma cengengnya donge mantap banget

  7. wkwkwk…apa itu spray spray cairan pembangkit gairah wanita? LOL…Haejin udh sering deh liat namja2 garang *lirik2PM/2AM eh liat ikan mokpo langsung panas dingin..kekekkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s