{JinHaeXy} When I Fall ~Part 12~

Sebelumnya, berhubung saya update berdasarkan mood, jadi ya agak-agak lama, mohon maaf ya… kalo lupa ini aku kasih link-nya :

Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5 || Part 6 || Part 7 || Part 8 || Part 9 || Part 10 || Part 11 || DH POV 1 ||

*Part 12*

”Onnie, berantem ya sama Hae Oppa?” tanya Chihoon dengan penasaran, sementara Kyorin ikut memandangku ingin tau. Ditanya begitu, aku juga tidak tahu harus menjawab apa, tapi aku sedih sekali. Dia mengacuhkanku, bukan mengacuhkan dalam arti mendiamkan, tapi pesanku dibalas singkat, tidak seperti biasanya. Sepertinya dia menjadi dingin.

   ”Molla.” Tiba-tiba aku merasakan mataku panas, dan aku langsung mengusapnya cepat-cepat dengan panik, kemudian aku melihat kedua tanganku sendiri, dengan takjub. Setelah sekian lama, baru kali ini, aku menangis untuk pria lain dalam konteks sudah berpacaran, dan itu adalah Donghae, pacarku selama sebulan ini, karena dia dingin padaku. Tuhan, apakah aku sudah benar-benar mencintai dia?

   ”Onnie, Onnie menangis?!”

   ”Onnie, gwenchana?!”

   Ditanya begitu, malah membuat air mataku semakin deras, aku menangis dipelukan Kyorin, sementara Chihoon menepuk-nepuk punggungku. Aku sesenggukan menangis di pelukannya.

   ”Onnie, cerita pada kami, ada apa? Hae Oppa ngapain kamu?” tanya Chihoon mendesak.

   Aku menggeleng-geleng melepaskan pelukanku sambil mengusap mataku. ”Molla, molla… hik.” Akhirnya aku menceritakan bagaimana kami bicara di telepon semalam, Kyorin dan Chihoon mendengarkan dengan seksama, meski aku yakin Chihoon mau tersenyum tapi mereka benar-benar mendengarkan sampai ceritaku selesai.

   ”Oke, Onnie… mau tau kenapa?” tanya Chihoon setelah Kyorin mengusap mataku dengan tisu.

   Aku mengangguk.

   ”Onnie ini memang benar-benar sudah lama sekali tidak pacaran ya,” kekeh Kyorin. ”Polos lagi jadinya, hihihi… sekarang, Onnie pikir deh baik-baik, masa iya nggak kepikiran ada kata-kata Onnie yang bikin Hae Oppa marah?” tanya Kyorin lembut.

   Chihoon mengangguk.

   ”Jinja? Aku memang bilang apa?”

   ”Begini Onnie, waktu Onnie sama Hae Oppa jadian, memangnya Onnie bilang sama Hae Oppa kalau Onnie itu punya saudara kembar namanya Im Seulong?” tanya Kyorin retoris. ”Nggak, kan?”

   ”Hee? Tapi waktu kami ketemu di pemotretan majalah, pertama kalinya aku ngobrol sama Hae, Hae lihat aku sama Ongie.” Aku menjawab.

   ”Aduh! Onnie, ini lemot banget sih?!” seru Chihoon gemas. ”Intinya Hae Oppa itu CEM-BU-RU!”

   ”Mwo?!” pekikku kaget.

   Kyorin tertawa dan mengangguk. ”Iya, Hae Oppa itu cemburu! Dan Onnie sama sekali nggak sadar sampe sekarang? Astaga, Onnie… peka sedikit kek kamu! Aku tau Onnie memang sudah lama nggak pacaran, tapi masa nggak tau cemburu itu apa?”

   ”Masa sih dia cemburu?” tanyaku malu-malu.

   ”Majyeo!” keduanya mengangguk.

   ”Tapi cemburu kenapa?”

   Kyorin tertawa dan menggelengkan kepalanya, sementara Chihoon sudah gemas dan mencubit pipi tembamku keras-keras. ”Onnie babo! Onnie babo! Ya karena Onnie jalan-jalan sama Seulong Oppa, lah! Apalagi Onnie nggak izin dulu sama dia, ya dia sedih dan merasa nggak dianggap lah!”

   ”Tapi… tapi, dulu waktu aku masih sama Taecyeon, dia nggak marah kalau aku jalan sama Ongie.”

   ”Onnie… jangan dibandingkan sama Taecyeon Oppa dong,” kata Kyorin lagi. ”Biar bagaimana pun juga, setiap orang kan berbeda. Laki-laki itu ada yang tipe cemburuan, cuek, posesif, dan sebagainya… Onnie sendiri yang bilang Hae Oppa itu overprotektif kan? Masa Onnie nggak tau kalau dia bisa cemburu?”

   Chihoon kemudian berkata, ”Lagipula Hae Oppa kan tidak begitu dengan Seulong Oppa, bagaimana dia tau? Kalian kan baru pacaran, harusnya kalian saling cerita, siapa sahabat kalian, bagaimana kalian, kalian kan belum terlalu tau satu sama lain.”

   ”Oh…” aku mengangguk-angguk.

   ”Dia kan benar-benar mencintaimu, Onnie, ayolah, Onnie, hibur dia… bilang padanya, jelaskan padanya, kalau kau dan Seulong Oppa adalah sahabat dekat, yang sudah seperti saudara kandung. Karena jujur saja, kalau aku adalah Hae Oppa, rasanya aku juga akan cemburu melihat kedekatanmu dengan Seulong Oppa.” Jelas Kyorin lagi.

   Aku tersenyum pelan-pelan, ”Oke.”

   ”Bagus, sudah sana Onnie!”

   Akhirnya aku memutuskan untuk pergi menemuinya saja deh, aku kembali ke kamar dan mengecek ponselku, tidak ada satu pesanpun, akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya.

   ”Yeoboseyo.” Sahutnya pelan.

   ”Oh, yeoboseyo… Hae,” panggilku.

   ”Hmm, wae?”

   ”Masih marah ya?” tanyaku pelan, mendadak kepercayaan diri yang kudapatkan saat curhat pada kedua adikku tadi lenyap tak bersisa.

   ”Aniyo, aku tak marah.”

   ”Kotjimal!”

   ”Jeongmalyeo!”

   Aku tersentak, dia belum pernah membentakku seperti itu. ”Kok kau membentakku sih?!”

   ”Aniyo,” suaranya perlahan mengendur.

   Aku tiba-tiba sudah terisak.

   ”Sayang, kenapa?! Jangan nangis, mianhae… maafin aku, aku nggak bermaksud bikin kamu nangis!” tiba-tiba suaranya berubah panik, dan aku bisa mendengar dia juga menangis. ”Maaf, maaf…” dia terus mengucap kata itu. ”Jangan menangis, jebal, jangan menangis.”

   ”Bagaimana aku tidak menangis?!” seruku tak bisa menahan emosiku. ”Aku tidak tahu salahku apa, kau tidak bilang aku salah apa, kemudian kau dingin padaku! Kau memang tidak mengacuhkanku, tapi kan…”

   ”Mianhae, Haejin-ah, mianhae…”

   ”Mianhae, aku yang minta maaf…” ujarku. ”Maaf aku tidak tau kau tidak suka aku pergi dengan Seulong.”

   Dia tersentak. ”A…aniyo…”

   ”Kotjimal.”

   ”Ne…” katanya akhirnya.

   ”Sejujurnya…”

   ”Hmm?”

   ”Aku… aku…” entah bagaimana aku harus mengatakannya. ”Aku kangen…” ucapku pelaaaaan sekali.

   ”Mwo?! Apa apa? Aku nggak denger, coba ulang…”

   Oke, dia menggangguku sekarang, tapi aku mendesah sebal, ”Aku kangen…” ucapku pelan-pelan sekali.

   ”Tidak dengaaaaaar, yang keras, dong…”

   ”AKU KANGEN, PUAS?!” teriakku.

   Dia tertawa terbahak-bahak, dan bisa kudengar banyak orang mendengus di belakangnya. Humph, kurasa di mengaktifkan speakerphone-nya, dan siap-siap saja aku jadi bulan-bulanan member Super Junior lainnya. Huh, dia menyebalkan, kenapa mempermainkanku? Tapi kenapa aku mau saja diatur begini? Otakku sudah jungkir balik.

   ”Oh iya, besok MV kami keluar,” katanya lagi, suaranya sudah kembali seperti Donghae yang hangat, yang kupacari selama sebulan ini, hehehe. ”Kau harus melihat ya, tapi Sayang, aku belum bisa bertemu denganmu…” suaranya juga terdengar kecewa. ”Latihan kami padat sekali, tapi Jumat nanti kau harus ikut ke Music Bank, oke?”

   ”Oke,” kataku sambil tersenyum. ”Sudah makan?”

   ”Sudah! Tapi aku makannya sedikit,”

   ”Wae?! Kau harus makan yang banyak, biar tenagamu kuat, katanya harus latihan terus menerus. Kau ini bagaimana?” tanyaku.

   ”Tak ada yang menyuapi…”

   ”Hah~” desahku. ”Kau ini membuatku ingin kesana dan menyuapimu tau tidak? Tapi kau bilang kau sibuk, ah jebal berhentilah membuatku dilema, Mr Lee… makan yang banyak, ya?”

   Dia terkekeh. ”Andai kau bisa kesini…” ratapnya.

   ”Aku mau saja kesana kalau kau mengizinkan,” mau tak mau harus kuakui aku sudah kangen sekali padanya, sampai tak pakai malu lagi mengekspresikan perasaanku kepadanya.

   ”Ah! Sayang tidak boleh… huh!” gerutu Donghae lagi. ”Nanti malam kita video call bagaimana?” tawarnya.

   ”Ponselku tidak bisa video call, Sayang…”

   ”Mwo?!”

   ”Ponselku tidak bisa video call.” Ulangku lagi.

   ”Bukan itu!” potong Donghae. ”Tadi kamu panggil aku apa?”

   Aku menyadarinya, dan wajahku memerah lagi. ”Ah, jebal, haruskah ada siaran ulang?!”

   ”Kenapa sih?! Apa salahnya bilang ’itu’ sama pacar sendiri? Ayolah, jebal, jebal, jebal… bilang lagi.” Bujuknya dengan manja.

   ”Sayaaaaaaang…” kataku sok manja, tapi memutar kedua mataku.

   Dan dia tertawa bahagia sekali.

   ”Kau jahat sekali sih, menggodaku terus daritadi…” rajukku.

   ”Aku kan senang, Sayang. Oh, nggak ada video call ya? Hmm, kalau webcam-an gimana?” tanya Donghae lagi.

   ”Oke, nanti malam ya.”

   ”Oke, sampai nanti Sayang, saranghae.”

   ”Nado.” Dan langsung kututup sambungan teleponku sebelum dia mulai meminta yang aneh-aneh lagi, tapi setelah itu aku senyum-senyum sendiri. Tenagaku seperti diisi lagi, dan aku menciumi boneka-boneka Nemoku dengan sadis, lalu memeluk mereka erat-erat. Jeongmal, aku sudah lama tidak merasa resah menunggu kabar dari pacarku, sudah lama pula tidak merasa kangen seperti ini. Dan rasanya aku ingin memeluk dan mencium pipinya, hueeee… aku sudah jatuh dalam pesona Super Junior Lee Donghae!

   Esoknya, tanggal dua belas Mei, hari Rabu. Setelah akhirnya semalam aku bisa melihat wajahnya lagi, meski lewat layar laptopku, ternyata tidak membuat kangenku reda, malah sepertinya tambah akut. Aku benar-benar belum pernah sampai seingin ini bertemu dengannya, hariku tambah semrawut. Moodku turun parah, sedikit-sedikit rasanya mau menangis, hanya gara-gara kangen, hah! Dia benar-benar sudah membuatku gila!

   Hari ini dia bilang dia akan sibuk latihan untuk hari Jumat besok, dan cuma mengirimiku pesan, bahwa MV-nya sudah keluar. Aku, Kyorin, dan Chihoon buru-buru duduk berdampingan di depan komputer ruang tengah untuk menonton MV terbaru mereka.

    Kami bertiga menahan napas saat aku membuka YouTube Channel milik SM Entertainment dan langsung memilih MV mereka yang berjudul Miinah. Ah, disini aku baru sadar kemarin-kemarin Donghae senang sekali memanggilku Miinah! Ternyata ini judul lagunya.

   ”Omo! Tebakan kita benar, mereka memakai konsep dark!” pekik Kyorin bersemangat.

   ”Onnie tunggu buffering dulu!”

   Aku menekan tombol play, dan menunggu buffering, setelah penuh, barulah aku menekan kembali tombol play-nya. Kami langsung disuguhkan pemandangan remang-remang, yang langsung mengingatkanku pada pria idaman semua wanita, Edward Cullen dan Twilight. Konsepnya dark, mereka berputar di tempat perlahan satu persatu, dan saat aku melihat Donghaeku, mataku membeliak!

   Dia lain! Tidak seperti Donghae imut-imut yang kukenal, dia… dia… dia begitu…

   Aduh, harus bagaimana aku menggambarkannya? Tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya melihat Donghae yang berputar pelan di MV itu. Dia memakai rompi hitam dan kalung rantai besar, dan… entah bagaimana aku harus mengekspresikannya, tapi dia begitu… erm… apa ya? Jantan? Ya ampun, memikirkan kata-kata itu membuat wajahku memanas saja.

   Lagu dimulai, dan aku suka beat-nya, kontan saja kami bertiga sudah menggerakan kepala kami mengikuti irama lagu. Siwon maju terlebih dahulu, dilanjut oleh Heechul Oppa dengan rambut pirangnya yang menarik perhatian, kami tertawa melihat betapa lembutnya rambut itu. Kemudian ketika Kyuhyun Oppa yang maju, kami bertiga berteriak. Hip dance itu begitu… ya Tuhan, aku gemetaran, mereka semua seksi sekali! Bagaimana bisa orang-orang ’gila’ itu menjadi tampan, berkharisma, dan seksi pada saat yang sama. Bahkan Ryeowook yang terkesan imut pun, disini jadi garang! Chihoon sudah menggigit-gigiti bahuku melihat Sungmin Oppa yang macho sekali, meski masih agak imut-imut.

   Kami bahkan berdecak kagum di bagian reff ketika semuanya meloncat bersamaan, dan kontan saja melihat gerakan tari baru, tanganku tak bisa diam, lalu Kyorin dan Chihoon menahan kedua tanganku sambil berdesis. ”Onnie jangan nari dulu! Nonton dulu yang benar!”

   Aku terkekeh, untung saja aku tidak ikut menari karena setelah reff, Leeteuk Oppa dan Eunhyuk yang super duper seksi disitu, terlebih Leeteuk Oppa yang ya ampun, badannyaaaaaa… aku nggak pernah tau kalau cowok setengah telanjang itu lebih seksi daripada cewek pake bikini! Ya ampun mikir apa aku ini? Kenapa jadi yadong begini, seumur-umur aku tidak pernah berpikir seliar ini, Donghae yang maju. Dengan rompi yang tidak menutupi seluruh bagian atas tubuhnya, serta satu lagi baju tanpa lengan putih yang memamerkan dengan jelas lekuk tangannya.

   Ya Tuhan, tangannya besar sekali! Membentuk sempurna, pastilah dia berlatih keras untuk membentuk tangan seperti itu, dan tangan itu, basah… omo! Aku tidak bisa berpikir lagi, melihat Donghae agak basah seperti itu, aku langsung menekap pipiku dengan kedua tanganku, sementara dia melakukan aksi sulap dengan mawar merahnya.

   Dan setelah melihat Donghae barusan, aku jadi diam, tidak bergerak-gerak mengikuti lagu lagi. Rasanya lemas, mereka semua keren-keren sekali di MV ini, seperti vampir model-model keluarga Cullen. Kadang-kadang jika di shoot close up, Donghae sering memainkan bibirnya, ya ampuuuuun semakin kencang pula aku meremas pipiku. Dia berhasil membuatku dan ELF surprise, Super Junior juga! Aku benar-benar terkesan dengan music video dan konsep mereka tentunya.  Dari Sorry Sorry yang merupakan gentlemen sekarang jadi… aduh, aku masih sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata deh pokoknya.

   Yang jelas setelah itu, moodku sudah tidak jelek, tapi malah jadi aneh. Kalau melamun sedikit pikiranku melayang ke Donghae yang garang dengan rompinya, dan tangannya yang kekar, karena malu sendiri akhirnya aku mulai menyibukkan diriku, tapi kalau Kyorin dan Chihoon tidak lihat, aku diam-diam memutar lagi MV Miinah, dan mengumpulkan GIF Donghae. Kadang-kadang melamunkan tangannya yang kekar itu, ya ampun, aku gak nyangka kalau tangan dia sekekar itu, dan pastilah nyaman berada dalam pelukannya. Aku tersenyum malu, dipeluknya saja aku belum pernah, dan tiba-tiba aku memerhatikan bibirnya yang tipis dan kecil.

   Wajahku memerah, dan buru-buru kututup jendela Google Chrome yang kugunakan untuk melihat foto-fotonya. Pikiranku jadi ngelantur hanya karena satu music video, hah~ aku menepuk-nepuk pipiku, lalu melanjutkan membersihkan kamar tidurku dengan tidak tenang.

   Kamis ini aku dan Felidis baru saja menghadiri syuting Star King, kami sebagai bintang tamu, dan syuting itu tidak berlangsung lama, tapi lumayanlah, setidaknya kami ada kerjaan lagi. Dan malamnya sepulang syuting, kami nonton bersama di bioskop, karena sudah lama sekali kami tidak jalan-jalan.

   Sebelum masuk ke bioskop, kami memesan makanan ringan dan minuman sebelum akhirnya beriringan masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku bisa melihat banyak pasangan muda-mudi yang berkencan disini, mereka bergandengan tangan, berpelukan, bahkan tidak ragu, namjanya mengecup penuh kasih yeojanya. Seingatku dulu waktu bersama Taecyeon aku seperti itu, tapi bayangan itu sudah memburam, dan diingat sudah tidak terasa. Aku tersenyum samar, kenangan itu sudah tidak menyakitkan lagi, yang ada dikepalaku adalah, aku membayangkan aku bergelayut di tangan Donghae.

   ”Ya! Onnie, ngeliatin apa sih?!” tanya Chihoon ingin tahu mengikuti arah pandanganku. ”Aigo! Pengen pacaran juga ya?” ledeknya, aku menatapnya tajam, tapi dia tetap cengar-cengir, hanya Kyorin yang tersenyum kecil tidak bermaksud meledek. Dasar Evelita!

   ”Kaja!” ajakku masuk ke teater dua, tempat kami akan menonton.

   Tempat duduk tidak sepenuhnya terisi, karna bisa dipastikan malam ini bukan malam libur pula, jadilah pengunjungnya tidak terlalu banyak. Aku, Kyorin, dan Chihoon mengambil kursi tepat di tengah-tengah agar pemandangan ke layar jelas, dan film yang kami tonton, Iron Man 2 ini pun dimulai. Chihoon langsung tertidur tak lama kemudian, sementara Kyorin menontong dengan tenang, dan aku yang tidak pernah menonton film pertama dari sekuel ini pun bingung.

   Aku menoleh ke sebelah kiriku, dan mataku terbelalak, sepasang kekasih sedang berciuman mesra, keduanya terlihat begitu menikmati momen-momen kebersamaan mereka, tanpa mereka tau ada aku yang memerhatikan mereka. Astaga, di bioskop, aku melongo, lalu melirik ke sekitarku, dan kaget, ternyata banyak yang sedang melakukan hal tersebut di sekitar kami. Sepertinya yang berniat serius nonton hanya Kyorin, sementara aku tidak mengerti, dan Chihoon sudah pulas, dan sisanyaaaa…

   Aku menatap ke depan lagi sambil meminum lemon tea-ku, tapi akhirnya toh aku menoleh ke sebelah kiriku lagi! Sudah lewat lima belas menit, mereka masih saja asyik berciuman mesra. Mereka tidak akan bosan sepertinya… apakah mereka juga jarang bertemu, seperti aku dan Donghae? Sehingga bioskop dan film ini dijadikan sarana dan prasarana mereka? Dua jam yang… err, singkat? Aku menoleh ke film lagi, dan sekarang si Gwyneth Paltrow dan pemeran Iron Man yang namanya entah siapa itu juga sedang berciuman.

   Well, aku juga pernah berciuman dengan Taecyeon, sering! Tapi tidak selama dan sehot orang-orang ini! Aku menoleh lagi ke sebelah kiriku, mereka masih berciuman padahal adegan ciuman sudah selesai. Aah, otakku harus kucuci cepat-cepat! Atau, bayanganku akan menari-nari memikirkan Donghae lagi! Ah, teganya… kenapa harus mereka melakukan ini saat pikiranku lagi tidak pada tempatnya!

   Perjalanan pulang ke dorm, Chihoon sudah bangun, dan giliran Kyorin yang bersandar di jok van kami, sementara aku berkeluh kesah soal makhluk-makhluk pencium yang kutemukan di dalam bioskop tadi.

   ”Ah, Onnie ini kampungan sekali!” seru Chihoon kejam.

    ”Mwo?!” aku dan Kyorin membeliak kaget, bagaimana mungkin anak itu bisa mengeluarkan kalimat kampungan pada kami?

   Chihoon terkekeh. ”Walaupun usiaku masih kecil, tapi aku tau tempat-tempat strategis atau tempat-tempat yang biasa orang pakai berkencan seperti tadi. Lagian Haejin Onnie ini, seperti tidak pernah melihat orang berciuman secara langsung saja?”

   ”Memang belum pernah!” jitakku.

   ”Tapi Onnie pernah ciuman kan?”

   ”Bukan urusanmu, bocah kecil!” omelku.

   Kyorin geleng-geleng. ”Axelerasi membuat otakmu miring ya? Bagaimana mungkin anak kecil sepertimu bisa bicara soal ’dewasa’ begini?”

   ”Di ilmu sains kan dipelajari,” kelakar Chihoon. ”Mau tak mau aku tau hormon-hormon dan segala macam bentuknya, sampai bagaimana proses sperma masuk ke dalam ovum wanita!”

   Aku dan Kyorin menjerit bersamaan.

  YA TUHAN, MAKNAE KAMI‼!

   ”JANGAN SEKALI-KALI BICARA ITU!” wajahku dan Kyorin sudah memerah dan mencekik Chihoon yang masih terkekeh-kekeh, wajahnya yang sok polos itu benar-benar minta digigit!

   ”Tapi itu benar! Bukankah wajar saja, karena memang hormon-hormon itu bekerja diumur-umur segitu, apalagi di umur Haejin Onnie, itu seharusnya sedang menggelora-geloranya!” tambahnya lebai.

   Aku memutar mataku.

   ”Tapi bagaimana mungkin?! Usiamu…” ratap Kyorin.

   ”Aku kan axelerasi!” sahut Chihoon bangga, aku geleng-geleng, otaknya sudah jauh tercemar anak ini. Aku leader gagal yang tidak bisa menjaga maknae-ku dengan baik, hueee. ”Dan disitu tadi kan banyak artis!”

   ”Hee?! Jinjayo?!” pekik aku dan Kyorin.

   Chihoon berdeham penuh arti. ”Bioskop tadi itu sering dipakai para idol untuk kencan diam-diam, kalau aku tidak salah tadi sempat lihat member T-Ara dengan seorang pria, tapi entah siapa… dan Onnie, yang kau perhatikan saat berciuman terus tadi itu… Injun DNA!”

   ”JEONGMAL?!” pekikku kaget.

   ”Walaupun aku tidur, saat film mulai aku melihat,” kedip Chihoon nakal.

   ”Anak nakal!” jitak Kyorin.

   Aku melongo. ”Bagaimana mungkin ada idol yang berani berciuman di tempat umum seperti tadi?”

   ”Mollayo.” Sahut Chihoon.

   ”Kok mereka berani, sih?” tanyaku masih heran.

   ”Kadang-kadang tantangan itu asyik, Onnie.” Sahut Chihoon benar-benar membuatku ingin menyeretnya kembali dari axelerasi.

   Kyorin kemudian nyeletuk. ”Tapi katanya di sungai Han yang banyak para idol pacaran jam-jam segini.”

   Bagaimana mungkin kedua adikku lebih tau dari aku?! Kyorin dan Chihoon sekarang sedang membicarakan banyaknya idol yang kencan diam-diam, dan aku sama sekali tidak tahu! Apa aku ini hidup begitu terisolasi ya? Ckckckckck, ternyata begitu banyak diantara mereka yang saling berpacaran.

   ”Jamkamanyeo,” potongku pada Kyorin dan Chihoon. ”Kenapa mereka berani?”

   ”Yah mana kutahu, Onnie!” sahut Chihoon. ”Aku belum pernah pacaran dengan namja idol mana pun. Yang sedang melakukannya kan kau, waktu kau ke kantor SM, memang kau tidak berani?!”

   Aku berpikir. ”Tapi kami tidak dekat-dekat, dia jalan duluan, dia masuk duluan, atau aku yang duluan.”

   ”Tapi kalau kalian merasa aman, kalian bergandengan tangan kan?” tembak Chihoon langsung.

   Wajahku memerah. ”Bergandengan tangan saja, tidak lebih!” sahutku cepat.

   ”Oh, jadi Onnie mau lebih? Onnie mau diapain?!”

   Dan mulut Chihoon langsung kusumpal pakai gelas kosong bekas lemon tea, membuat Kyorin terbahak-bahak, dan Chihoon ngedumel. Kami kembali menatap ke depan, dan Chihoon membuang gelas kertas itu ke tong sampah di dalam mobil. Lalu matanya mulai berkilat nakal.

   ”Onnie,” katanya padaku.

   ”Mau apa lagi kau?” tanyaku sebal.

   Dia mengerling kepadaku. ”Kau kan sudah lama tidak pacaran, bahkan Hae Oppa cemburu saja kau sudah tidak mengenali rasanya…” penggalnya, sementara Kyorin sudah geleng-geleng kepala menyadari akal Chihoon yang berputar cepat. ”Sepertinya kau juga harus diajari banyak hal lagi, Onnie.”

   ”Misalnya?”

   ”Skinship!”

   Aku mencubit pipinya gemas. ”Jaga bicaramu, Cho Chihoon! Skinship mwoya?!”

   ”Onnie, coba jawab dengan jujur pertanyaanku,” katanya lagi dengan bergaya, dan sekarang bahkan Kyorin ikut menatapku yang duduk diantara mereka berdua. ”Kalian… sudah pernah berciuman?”

   Wajahku memerah, dan rasanya hawa pendingin di dalam van menghilang, kurasa Kyorin dan Chihoon bisa merasakan betapa panasnya aura di dalam diriku ini. Cho Chihoon benar-benar!!!

   ”Pasti belum!” tembak Chihoon yakin.

   ”Bagaimana kau bisa tahu?!” salakku mencoba menenangkan diriku. Aku tidak mau kalah sama anak kecil seperti dia! ”Yang menjalani hubungan kan, aku dan Donghae! Dan aku tidak mau mengumbar… apa saja yang sudah kulakukan!” aku berusaha membuat Chihoon berpikiran seolah-olah kami sudah pernah berciuman.

   Chihoon menggeleng-geleng dengan gaya sok inteleknya. ”Kalian pasti belum pernah berciuman! Kalau sudah, Onnie tidak akan sesewot tadi melihat banyak orang berciuman di sekitar Onnie.”

   ”Ya karena mereka ciuman tidak tahu tempat!”

   ”Kutanya, memang dimana kalau kalian ciuman?!”

   Aku tergagap.

   ”Aiyaa, kau tidak bisa berbohong padaku, Onnie! Dulu, ketika kau dan Taec Oppa pacaran, setelah kau dicium olehnya… kau akan melamun sambil senyum-senyum sendirian.”

   ”Jinja?!”

   Kyorin terkekeh dan mengangguk mengiyakan. ”Kalau tidak salah, Onnie dan Taec Oppa mulai berciuman di tahun keempat mereka pacaran.”

   ”Bagaimana bisa kalian yang lebih hapal daripada aku?” tanyaku tak percaya.

   ”Nah, sekarang kan kau sudah dewasa, Onnie. Masa tidak mau ciuman?!”

   ”Ciuman itu tidak penting-penting amat!” seruku frustasi, dan itu membuat Kyorin dan Chihoon tertawa terbahak-bahak.

   ”Memang Onnie tidak mau dicium Hae Oppa?” tanya Chihoon penasaran.

   Aku mendesis kesal, membuat Chihoon tergelak dan Kyorin ikut tertawa. Bagus, sekarang memang sepertinya sedang jaman-jamannya leader di bully oleh member yang lebih muda!

*Jumat, 14 Mei 2010*

Karena semalam pulang larut sekali setelah menonton Iron Man 2, atau mungkin menonton banyak orang berciuman (-___-), aku jadi tidak bisa tidur, karena pikiranku yang memang sudah melantur semenjak MV Miina yang begitu melekat di kepalaku. Aku jadi bangun dengan mata sepat, untuk membuatkan kedua adikku roti panggang seperti biasanya. Belum selesai mereka sarapan, aku sudah pamit lagi untuk kembali tidur, dan tidak mengantarkan mereka sampai pintu seperti ritualku setiap pagi.

   Tapi sepertinya memang Tuhan tidak mengizinkanku bangun siang, karena tiba-tiba saja, dorm kami yang sepi pengunjung dikunjungi seseorang yang berhati teguh, karena terus memencet bel. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak menggubris, dan membiarkan entah siapa pun tamunya untuk berpikir kalau penghuni apartemen ini sedang pergi, jadi dia pergi juga.

   Tapi dia terus memencet bel dengan sabar, dan membuatku habis sabar! Jadilah aku bangkit dengan terpaksa, tersaruk-saruk memakai sandal, dan berjalan keluar kamar sambil menggerutu. Aku bahkan tidak mengecek interphone dan langsung membuka begitu saja kunci apartemen.

   ”Hmm?!” keluhku begitu membuka pintu.

   ”Omo! Sayang, kau baru bangun tidur?”

   Kantukku langsung hilang, dan mataku langsung melotot, kaget mendapati Donghae berdiri di depan dorm. ”AAAAA!!!” teriakku, aku langsung menutupi badanku. Baru sadar aku hanya mengenakan loose sleeve putih, dengan bahu turun, dan hot pants tidurku yang sudah belel. Belum lagi rambutku yang entah bentuknya sudah seperti apa ini.

   ”Sayang, kenapa?!” pekik Donghae panik.

   Aku langsung kabur ke dalam kamarku dan membiarkan Donghae sendirian kebingungan di depan pintu dorm. Tak lama kudengar Donghae masuk dan menutup pintu dorm sementara aku serabutan masuk ke dalam kamar mandi, yang untungnya ada di dalam kamarku. Aku mandi dengan menahan perasaan malu! Ya ampun, aku tidak berani membayangkan bagaimana kucelnya aku tadi!

   Aku keramas bolak-balik, menyabuni dan menggosok tubuhku berulang kali sampai shower puff-ku agak-agak berjumbai, dan mencuci mukaku dua kali pula! Lalu setelah mandi aku memakai loose sleeve hitam, dan celana pendek putih saja, dengan rambut masih basah. Sebetulnya aku masih mau mengeringkan rambutku, tapi tidak enak dengan Donghae yang pasti sudah menunggu lama.

   Huuu, bagaimana rupaku tadi??? Dengan enggan dan malu, akhirnya pelan-pelan kubuka pintu kamarku, dan mengintip keluar. Dia tidak kelihatan dimanapun, dimana dia? Aku akhirnya memberanikan diriku keluar dari kamar dan celingukan ke kanan-kiri, lalu mendapati ternyata dia sedang tidur di sofa panjang ruang tengah dormku. Aku menghampirinya dari samping, sisi sofa. Nampaknya dia pulas sekali, satu tangan diletakkan di atas kepalanya, dan satu lagi melingkar di perutnya sendiri. Wajahnya damai.

   Dia pasti lelah, latihan terus menerus untuk persiapannya hari… eh? Ini Jumat, kan? Berarti ini hari ini dong dia comeback?! Aduh kenapa aku bisa lupa?! Tapi dia sepertinya lelah sekali, sampai tertidur begini. Apa dia sudah makan? Aku lari ke dapur dan membuka kulkas, well memang tidak ada yang bisa diharapkan dari orang tak bisa masak sepertiku kan? Kebanyakan hanya makanan siap jadi! Dan ramyeon, hah~ orang yang harusnya mengeluarkan banyak tenaga masa dikasih ramyeon?

   Ah, bahta! Aku kan bisa membuat masakan Italia saja, lebih baik kubuatkan dia Beef and Cheese Maccaroni, yang paling gampang. Aku merebus maccaroni, dan sembari menunggu maccaroni itu masak, aku mulai melakukan hal yang paling sulit dalam memasak Beef and Cheese Maccaroni.

   Mengiris bawang bombay.

   Bisa diperkirakan lima menit kemudian tanganku sudah terkelupas, dan mataku sudah menangis karena kepedasan. Setelah akhirnya selesai, mulai kutumis bawang-bawang tersebut.

   ”Sayang?!”

   Aku kaget dan menoleh dari dapur. ”Ne? Kau sudah bangun?”

   ”Ya ampun! Aku ketiduran,” dia melirik jam dinding dan menguap. ”Jam satu, kau sedang apa, Sayang?” tanyanya sambil berjalan ke dapur dan menghampiriku, lalu melihat maccaroni yang sedang kuaduk bersama daging, keju, dan susu. ”Hmm… wanginya enak, kau masak?”

   Aku meringis. ”Aku tidak tau kau sudah makan atau belum, dan hari ini kau mau ke Music Bank, jadi aku masak saja… dan harap maklum kalau rasanya, euh… agak mengerikan.”

   ”Kau suka sekali begitu!” dia mengelus rambutku.

   ”Aku tidak bisa masak.” Jujur kujawab.

   ”Nah ini, apa?”

   ”Hmm, aku cuma bisa masakan Italia, karena bahan dasarnya sebetulnya sama, bawang bombay ditumis.” Kekehku.

   Dia kemudian mencuci mukanya di tempat cuci piring dan terus memerhatikanku yang menunggu masakan siap. ”Uri…” katanya pelan. ”Seperti pengantin baru ya? Aku bangun dan melihat kau memasak untukku.” Katanya sambil terkekeh.

   Wajahku memerah, dan aku mematikan kompor. ”Mau makan sekarang?” tanyaku sambil tersipu-sipu.

   ”Keurom.”

   Setelah makan, aku membungkuskan semua maccaroni dalam dua tempat berbeda. Satu, yang lebih besar untuk member Super Junior lainnya, dan satu lagi yang sedang untukku dan Donghae berdua. Kemudian kami langsung menuju kantor KBS, karena Super Junior harus rehearsal. Kami kesana menggunakan taksi.

   Seperti biasa, Donghae bermain dengan tanganku. ”Tangan kamu luka?” tanyanya khawatir.

   Aku meringis. ”Biasa, kalau mengiris bawang.”

   ”Hati-hati dong,” dan diciumnya jari-jariku satu persatu. ”Kau tidak perlu memaksakan diri kok. Aku tak mau kau cedera begini.”

   ”Aniya, sudah biasa kok.”

   Dia mengeratkan genggamannya, lalu ponselnya berdering. Dengan tangan satunya dia meraihnya dan mengangkatnya. ”Yeoboseyo.” Dia diam. ”Iya aku sedang di jalan, Hyung, ke KBS… ne, tadi aku ketiduran.” Katanya pelan. Omo, dia pasti dimarahi sekarang. ”Ara, mian, Hyung… ne, aku langsung ke kamar ganti nanti, ne arasseo.” Lalu dia memasukkan kembali ponselnya.

   ”Kau kena marah, ya? Mianhae, membiarkanmu terlalu lama menunggu sampai ketiduran.” Kataku merasa bersalah.

   ”Aniyo. Aku memang lelah sekali.” Dia terkekeh. ”Tapi, kenapa kau kabur tadi?”

   Wajahku memerah, dan aku langsung memalingkan wajah. ”Aku kan baru bangun tidur, hancur banget penampilanku tadi. Rambut berantakan, baju asal, wajahku kucel, kan malu.”

   ”Kata siapa? Kau cantik kok apa adanya seperti tadi.” Matanya menerawang. ”Berantakan, apa adanya, seperti saat kau menari ballet.”

   Kami tiba di KBS, dan Donghae mengajakku masuk melalui pintu samping, dan berjalan agak tergesa-gesa. Tapi dia terus menggandengku di lorong kamar ganti, aku berpapasan dengan beberapa artis, bahkan tadi melihat Jokwon yang melongo melihatku agak tergesa-gesa dalam gandengan Super Junior Donghae! Aigoo, apa kata orang nanti?

   Lalu kami masuk ke kamar ganti yang di depannya ada kertas dengan tulisan besar SUPER JUNIOR.

   ”Akhirnya!” seru Leeteuk Oppa. Sementara yang lainnya bisa ditebak, menyoraki kami berdua habis-habisan. Tapi aku tidak sempat malu! Aku menelan ludahku kuat-kuat, dan kaget!

   Super Junior, kecuali Donghae sudah memakai kostum panggung mereka yang didominasi oleh warna hitam. Kecuali Eunhyuk yang memakai putih, dan yang membuatku menelan ludah adalah sebagian besar dari mereka mengekspos tangan mereka yang berotot. Ya ampun, sepertinya salah aku datang kesini hari ini. Aku batuk-batuk untuk melegakan tenggorokanku, tapi mereka mengira aku tidak suka parfum mereka, syukurlah. Bisa gawat kalau mereka tahu apa yang berputar di pikiranku.

   ”Annyeong, Haejin-ssi.” Sapa Ririn-ssi.

   ”Eh??” aku bahkan baru sadar ada Park Ririn disini. Aku membungkuk, ”Annyeonghaseyo, Ririn-ssi.” Dan baru kuperhatikan ada beberapa yeoja di dalam sini. Ini pasti pacar member Super Junior yang lainnya. Donghae kabur ke kamar mandi untuk memakai kostum panggungnya.

   Ririn-ssi menarikku mendekat. ”Kenalkan, ini Choi JooEun.” Dia menunjuk gadis yang tingginya tak jauh beda denganku, dengan kacamata tipis membingkai wajahnya yang manis.

   ”Annyeonghaseyo, Haejin-imnida.” Kataku sambil membungkuk padanya.

   Dia tersenyum. ”Annyeong, JooEun-imnida.”

   ”Dia ini pacarnya Eunhyuk Oppa,” kata Ririn-ssi.

   Aku mengangguk sambil tersenyum.

   ”Super Junior, ready 10 menit lagi MR removed recording, ke panggung sekarang!” seorang staff memberi komando ke dalam ruangan. Satu persatu wanita-wanita yang kukira pacar member Super Junior lainnya, ternyata adalah coordie. Mereka memberikan last touching, sementara kulihat Ririn-ssi dan JooEun-ssi membantu pacar mereka mempersiapkan diri, sekaligus membantu para coordie.

   ”Ayo ke panggung! Haejin, Donghae kan masih belum siap, berhubung kau adalah yeoja idol, maka kau pasti mengerti cara-cara mendandaninya, tolong ya… kami buru-buru, sudah terlambat sekali sebenarnya! Coordie yang lain akan ikut kami untuk merapikan di panggung.” Pinta Leeteuk Oppa.

   Aku bingung. ”Tapi… aku kan…”

   ”Hanya rapi-rapikan saja, sesuai konsep, Donghae akan membantu, nanti di panggung coordie akan mengoreksinya lagi, oke? Tolong ya, Haejin. Kaja!” Leeteuk Oppa memberi komando, dan keluar dari kamar ganti diikuti semua member lainnya dan aku melongo sendirian.

   Mereka tega!

   Lalu aku melihat Donghae keluar dari dalam kamar mandi sudah memakai kostum panggungnya, dan tercengang, tak ada siapa-siapa. ”Donghae-ssi, lima menit lagi!” seorang staff muncul, dan pergi lagi.

   Mau tak mau aku bergegas mendekatinya dan membantunya. ”Mana aksesorismu?” dia menunjuk panik kotak kecil dengan tulisan namanya. Kami buru-buru memasangkan aksesorinya. Lalu dia memakai kacamata hitamnya, dan aku baru menyadari, dia hanya pakai rompi!!!

   Susah payah kutelan ludahku sambil memasangkan handband panjang di lengan kanannya yang, ya ampun, kekar sekali. Kemudian kulihat dia menyemprotkan sesuatu ke tangan kirinya.

   ”Itu apa?”

   ”Supaya terlihat berkeringat,” sahutnya cepat.

   Dia menyemprotnya ke leher, dan bagian tubuhnya yang terbuka. Jantungku langsung bergetar tak karuan, aromanya maskulin banget. Dan dia mulai mengusap tangannya pelan, membuat kulitnya basah. Aku cuma terpaku di hadapannya, tidak berbuat apa-apa, karena terlalu susah menelan ludah, tenggorkanku tercekat. Baru kali ini aku melihat langsung maskulinitas laki-laki dewasa, jaraknya pun kurang dari satu meter.

   ”Sayang…” panggilnya membuyarkan lamunanku.

   ”Ah, ye?!” tanyaku tergagap.

   ”Mau bantu aku, sepertinya sudah terlambat sekali…”

   ”Oh, ye… maaf, apa?”

   ”Ini, tolong diratakan…”

   Dia menyodorkan tangannya yang kekar, ”Ratakan spray-nya…”

   Aku menelan ludahku susah payah, dan menjulurkan tanganku, pelan-pelan menyentuh lengannya yang kekar itu, setelah kusentuh, kurasakan pori-pori kulitnya terbuka, aku menatapnya, sepertinya dia menolak tatapanku. Aku tersenyum kecil, bukan hanya aku yang gugup teryata. Akhirnya pelan-pelan kuusapkan dan kuratakan spray tadi di seluruh tangannya, sehingga lengannya terlihat basah dan tanned.

   Dia diam saat aku mengusap lembut tangannya, jarak kami terlalu dekat, aku bisa merasakan hembusan napasnya, saat dia mendekatkan tubuhnya, agar aku semakin mudah mengusap lengannya. Kedua tubuh kami sudah menempel sekarang, dengan posisi aku menunduk sambil memegang lengannya, dan dia menatap ke belakangku. Jantungku menggila.

   ”Sudah.” Kataku pelan, setelah mengaplikasikan spray tersebut di kedua lengannya.

   ”Gomawo.” Katanya pelan, hembusan napasnya mengenai wajahku, ya ampun apakah akan terjadi sekarang?! Ciuman pertamaku dengannya? Aku bisa melihat matanya, wajah kami sudah begitu dekat sekarang.

   Aku memejamkan mata, pasrah.

   ”HEI KALIAN NGAPAIN?!”

   Kami berdua kaget, dan langsung menjauhkan diri, menoleh melihat Leeteuk Oppa dan Heechul Oppa yang terperangah menatap kami. Sementara aku dan Donghae nampak seperti maling yang tertangkap mencuri, wajahku pastilah sudah merah padam.

To Be Continued

Hai ^^ #plakk maaf lama lagi update-nya hehehehe, akan selalu berusaha yang terbaik untuk update. Tapi bolehkah saya curhat sedikit? Stat pengunjung apalagi untuk FF When I Fall itu tinggi, dua ribuan lah… tapi aku sedih banget yang komen cuma 40-an, apa mungkin karena aku nggak balesin komen?  ^^ aku mau dikomen, dan kalian pasti mau aku juga apresiasiin kalian kan? Take and give… tapi, kalau misalkan di part ini yang komen makin turun, terpaksa part berikutnya atau mungkin blognya aku private, hanya untuk beberapa user yang memang langganan blog dan komen disini aja ^^

Aku janji kalau aku ada waktu dan sempet balesin, aku balesin, tapi aku gak selalu di depan komputer semenjak kerja sambil kuliah, tapi saran + kritik kalian di komen aku baca kok ^^ untuk part ini, wish-nya Aii yang minta bahasanya lebih baku, gimana Aii udah bisa blm ya? wkwkwkwk kalo blm kasih tw aku lagi yaa…

Trus ada beberapa temen-temen yang blg kependekan? ini aku kasih 20 page word yaaa ^^ jadi please leave comment, karena makin turun terus aku kan jadi nggak semangat juga… dan blog ini akan aku private lagi, mian yaaaa ^^ so please, read and comment…. give your appreciation *bow*

 

 

152 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 12~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s