{JinHaeXy} When I Fall ~Part 11~

Aku mengernyit saat pintu lift lantai dua belas terbuka. ”Katanya suka sama aku udah tujuh tahun. Di lift sampe nggak ngenalin aku? Padahal aku nggak nyamar,” entah kenapa ada sedikit kesal dalam hatiku saat menyadari Donghae bahkan nggak melihat ke arahku tadi.

   ”Nggak begitu, Sayang, aku tadi lagi nunduk aja, karena takut papasan sama orang lain, mereka biasanya suka ngeliatin aku.” Jelas Donghae.

   Aku nggak puas sama jawaban itu. ”Tapi perempuan tadi kenal!”

  Dia menatapku berbinar-binar, benar-benar mau aku cubit! Orang lagi kesel malah disenyumin terus. Aku nggak tau kenapa, tapi aku sebel banget sama kenyataan kalo dia nyapa cewek tadi, tapi dia nggak ngenalin aku. Okelah aku memang mojok banget di lift, tapi aku nggak senihil itu, kan?

   ”Kamu marah ya?” tanya Donghae.

   ”Nggak.” Jawabku agak ketus sambil berjalan menuju pintu apartemennya.

   ”Maaf deh, aku bener-bener nggak liat itu tadi kamu. Tadi cewek itu, kamu penasaran sama dia kan?”

   ”Hmm.”

   ”Dia itu Kwan Nara, pacarnya Cho Kyuhyun.” Tepat saat Donghae memasukkan angka kombinasi di depan pintu, dan pintunya terbuka. Aku langsung berhenti dan melongo.

   Donghae menoleh. ”Kenapa?” tanyanya heran.

   ”Pacarnya Kyuhyun?”

   Donghae menutup mulutku pelan, dan berbisik. ”Jangan kencang-kencang dong, nanti ketauan.” Aku mengangguk, dan dia menggandengku masuk ke dalam sambil menutup pintu apartemen.

   ”Eh, beneran yang tadi itu pacarnya Kyuhyun?” tanyaku penasaran.

   Donghae mengangguk sambil tersenyum. ”Iya, itu pacarnya Kyuhyun, namanya Kwan Nara. Mereka udah pacaran kurang lebih dua tahun deh.” Kami berdua masuk ke ruang tamu.

   ”Annyeonghaseyo.” Sapaku pada beberapa member Super Junior yang ada di ruang tengah.

   ”Haejin!” seru mereka ramah.

   ”Aku bawa makanan nih,” aku menunjuk kantung plastik yang kubawa, dan mereka dengan brutal mengambilnya. Aku terkekeh, Ryeowook mengambil inisiatif untuk menghidangkannya.

   Donghae melihat Hyung dan dongsengnya dengan brutal rebutan bulgogi, dan wajahnya agak mengerut. Aku terkekeh, dan mengeluarkan kotak yang kusimpan. ”Ini buat kamu. Biar aja mereka rebutan, daripada kayak kemarin mereka ngiri, jadi aku beliin dua.”

   Benar saja matanya langsung berbinar, dan mengelus kepalaku. ”Aku taro ini di kamar dulu.” Pamitnya menunjuk Harddisk eksternalnya.

   ”Iya.” Aku mengikuti Ryeowook ke dapur untuk menghidangkan yang ini untuk Donghae. Ryeowook bersama Yesung Oppa di belakang sedang menghidangkan bulgogi-bulgogi tersebut di atas piring saat aku mendekat, mereka sepertinya sedang diskusi seru.

   ”Yakin?”

   ”Belum aman, Hyung. Aduh, aku lupa beres-beresin barang-barangku lagi, kalau keyboard-ku dibanting sama dia gimana?” tanya Ryeowook nampak cemas. ”Tadi Hae Hyung bilang dia baru sampe.”

   ”Jangan Ddangkoma, jebal… jangan Ddangkoma.”

   ”Aduuuh, kita sudah lelah, masa iya sampai di bawah harus merapikan sisa-sia perang dunia lagi?”

   ”Kwan Nara memang Ratu Iblis.”

   Aku mengernyit, apakah maksud mereka Kwan Nara yang tadi? Kenapa membicarakan kekasih member sendiri seperti ini? Aku jadi khawatir kalau aku melakukan kesalahan, maka aku akan digosipkan seperti ini oleh Yesung Oppa dan Ryeowook.

   Mereka berdua melihatku dan tersenyum, aku mengambil sendok, dan membuka paket bento untuk Donghae yang kubelikan.

   ”Itu buat Donghae?” tanya Yesung Oppa.

   Aku mengangguk sambil tersenyum, dan karena tidak mau mendengar mereka berdua bergosip lagi aku kembali ke ruang tengah, dimana sudah ada sepiring besar bulgogi di sediakan. Heechul Oppa, Shindong Oppa, dan Shindong Oppa sudah makan-makan. Lalu kulihat Donghae keluar dari kamarnya, sudah mengganti bajunya dengan pakaian santai, dan celana panjang tidur abu-abu. Dia melihatku dan duduk di sebelahku.

   ”Makan ya.” Kataku.

   Dia mengangguk.

   Aku mulai menyendokkan nasi dan potongan daging campur sayur itu lalu menyuapinya, dan dia makan dengan senang sekali. Tanpa kami sadari ketiga orang yang sedang makan bulgogi, kini ditambah dengan Yesung Oppa dan Ryeowook sedang memandangi kami.

   ”Wae?” tanya Donghae dengan mulut penuh nasi.

   ”Kalian bisa nggak makannya di teras aja?” tanya Heechul sebal. ”Kalau kalian suap-suapan di depan kami, kami hilang selera.”

   ”Ya! Itu yang beli pacarku!” kata Donghae bangga menunjuk bulgogi-bulgogi yang sedang Hyung dan dongsengnya santap bersama-sama. ”Kenapa kalian mengusir kami?”

   Aku terkekeh.

   Mereka diam, dan langsung menyerbu bulgogi lagi, dan Donghae minta disuapi lagi, aku suapi lagi dia. Akhirnya mereka yang di meja memutuskan tidak menggubris kami berdua. Lagipula apa yang diirikan sih dari kami? Cuma suap-suapan doang kok, itu juga aku yang suapin, bukan dia nyuapin aku, aku nyuapin dia.

   ”Hae,” kataku pelan sambil menyisihkan nasi dan daging lagi, sementara dia masih mengunyah. ”Kenalkan aku sama Kwan Nara dong.” Dan yang kudapatkan reaksi dari Hae adalah dia tersedak.

   Aku buru-buru mengangsurkannya minum dan menepuk-nepuk punggungnya. ”Kamu kenapa?!” tanyaku kaget.

   ”Ngapain?!” tanyanya setelah selesai tersedak dan minum banyak-banyak.

   ”Ngapain apanya?”

   ”Ya itu, ngapain kamu mau dikenalin sama dia?” tanya Donghae bergidik ngeri tiba-tiba.

   ”Lho, emang salah ya?”

   ”Sayang, kamu tau Cho Kyuhyun kan?”

   Aku mengangguk.

   ”Nah, bayangkan aja pacarnya Kyuhyun itu, ya sebelas dua belas lah sama Kyuhyunnya sendiri. Atau bayangkan aja kelakuan pacarnya itu mirip sama Chihoon deh.”

   Aduh! Itu sih gawat, aku nggak bisa bayangkan ada dua Chihoon di dunia! Cukup satu, dan itu udah sukses bikin aku sakit kepala. Aku menatap Donghae, dan sepertinya dia mengerti ekspresiku. ”Nah ngerti, kan? Makanya udah nggak usah kenal deh.” Bujuknya.

   ”Tapi, kenapa Yesung Oppa dan Ryeowook bilang kalau Nara kejam?”

   ”Yah, dia lebih parah dari Chihoon kalau soal kejam! Apalagi kalau sudah bertengkar dengan Kyuhyun. Ah sudah, jangan dekat-dekat dia pokoknya, Lee Haejin, arasseo?! Nanti kau ketularan.”

   Ketularan, mwoya?!

   ”Arasseo.” Tapi aku masih penasaran tentang gadis bernama Kwan Nara itu. Aku tau kalau Kyuhyun kelakuannya mirip sama Chihoon, tapi aku heran kok bisa ada gadis yang mau sama dia, dan kelakuannya sama persis seperti dirinya juga. Lagipula mengingat saat kami tadi bertemu di lift, rasanya dia tidak semengerikan yang diceritakan itu, dia tersenyum padaku malah.

   Akhirnya diam-diam, saat Donghae ke kamar mandi, dan yang lain heboh masih makan pencuci mulut aku turun ke bawah. Aku hapal letak apartemen Kyuhyun, dan nomor sandinya, karena biasa menemani setan kecil di rumahku berkunjung kesini. Begitu kunci kombinasinya terbuka, dan aku baru mau masuk, sebuah panci melayang masuk dan menghantam kepalaku.

   ”ADUH!” teriakku.

   ”Eh?!” pekik dua orang berbeda di dalam.

   Kesadaranku menipis, dan pandanganku mengabur, panci itu telak menghantamku.

   ”Haejin?! Ngapain disini?!” tanya suara Kyuhyun heran. Sementara seorang gadis di sebelahnya melonjak-lonjak.

   ”Eh?! Dia baik-baik saja kan?!” tanya gadis itu panik. ”Cho Kyuhyun! Cepat carikan sesuatu, nanti dia pingsan! Buruan!” desak gadis itu. ”Kau sih bodoh, kenapa tidak pancinya kau tahan?!” dan kurasakan tanganku ditarik oleh gadis itu ke sofa di ruang tengah.

   ”Diam kau!” seru Kyuhyun padanya.

   Aku masih memijat pelipisku.

   ”Onnie, Onnie tidak apa-apa?” tanya gadis itu. ”Maafkan aku kau jadi terkena lemparan panciku. Aku bermaksud mengenai Cho Kyuhyun yang bodoh itu, tapi dia menghindar dan akhirnya malah Onnie korban tak bersalah.”

   Kyuhyun datang membawakan es batu. ”Eh, kau ngapain disini, Haejin-ah?”

   ”Ah, aku cuma mau mampir…” jawabku lemah sambil merasakan gadis itu menempeli dahiku dengan es batu. Pandanganku yang mengabur mulai jelas, dan aku bisa melihat Kyuhyun melirikku sambil berdiri dan  gadis itu disebelahku sedang menatapku berbinar-binar. ”Ah, ye gwenchana.”

   Dia nyengir.

   Kenapa dia gembira sekali?

   ”Sudah, Haejin-ah, kau kembali ke atas, disini masih tidak aman, kami mau meneruskan perang kami.” Kata Kyuhyun dengan kesal pada gadis yang meliriknya tajam.

   ”Aku mau ngobrol dengannya, dia ini leader Felidis, Cho Kyuhyun! Annyeonghaseyo, Kwan Nara-imnida. JYP Nation Biased, Onnie Lee Haejin, kan? Kyaaa, aku penggemar semua BB/GB JYP!” katanya berbinar-binar.

   Aku melongo, lalu membungkuk. ”Ah, ye, annyeonghaseyo… Haejin-imnida.”

   Kyuhyun berdecak.

   ”Onnie, aku hapal semua lagu Felidis, 2PM, 2AM, Wonder Girls… jjang!”

   ”Ah, gomawoyo, Kwan Nara-ssi.”

   ”Sudah, sudah, Haejin-ah, kembali ke atas, sebelum terkena barang-barang yang lebih berat!”

   Melihat pandangan Kyuhyun kali ini, aku benar-benar tidak berani. Mengingatkanku pada Chihoon jika dia sedang marah, akhirnya aku membungkuk pada Nara, dan buru-buru keluar. Tapi, sebelum pintu menutup aku bisa mendengar suara gabrukan lagi.

   Itu mereka beneran pacaran? Aigo, tapi Nara tidak seseram yang Donghae katakan. Dia ramah, malah Kyuhyun yang menyeramkan. Akhirnya aku naik lagi dan melihat Donghae di depan lift berwajah cemas.

   ”Kamu dari mana sih? Bikin panik aja, aku kira kamu pulang nggak bilang-bilang, tapi tasmu masih ada.” Katanya.

   ”Maaf, aku tadi dari…”

   ”Dahi kamu kenapa?!” tanyanya kaget. ”Sampe merah-merah begitu?! Kamu dari mana?!”

   Aku nyengir bersalah terus cerita.

   ”Ah, kamu kan aku udah bilang jangan kesana, tuh jadi luka begini, kan…” desahnya frustasi. ”Ayo, aku kompres lagi.”

   ”Nggak usah, aku udah dikompres. Tapi Nara baik dan ramah kok, nggak yang kayak kamu bilang.”

   ”Jangan deket-deket dia pokoknya, kamu jadi luka kan?!” Donghae panik banget.

   ”Nggak sakit, kok, tadi udah dikasih sama Nara es batu, Hae… beneran nggak apa-apa kok.” Tapi dia berkeras membawaku masuk dan mengompres kepalaku atau dahiku, dan mengolesinya dengan Trombopop.

   Aku menahan perih saat salep itu mengenai bagian dahiku yang terkena lemparan panci nyasar, Donghae pelan-pelan mengolesinya, kayaknya dia takut aku meringis, dan aku sekuat tenaga menahan ringisanku.

   ”Hyung, ya ampun, Haejin kenapa?!” tanya Ryeowook kaget saat melihatku dan Donghae di sofa, dia baru keluar dari dapur.

   ”Dia habis dari bawah.” Jawab Donghae.

   ”Maksudnya? Dari dorm bawah?” tanya Ryeowook kaget, Donghae mengangguk, dan Ryeowook ternganga, lalu menepuk lenganku, hingga tanpa sengaja tubuhku maju, dan mengenai tangan Donghae yang mengusap dahiku dengan salep.

   ”ADUH!” teriakku tak tahan lagi, karena otomatis dahiku menekan jari Donghae.

   ”Ah, Wookie!” teriak Donghae marah.

   ”Mian, mian, mian,” panik Ryeowook.

   ”Sayang, gwenchana?! Mana yang sakit? Aduuuuh, maaf yaa…” Donghae panik banget dan langsung meniup-niup dahiku.

   Aku terkekeh sambil meringis. ”Gapapa, nggak sengaja dia, Hae.”

   ”Hati-hati dong!” Donghae melirik Ryeowook tajam.

   ”Maaf, Hyung, maaf Haejin-ah…”

   ”Gak apa-apa,” ringisku.

   ”Tapi kenapa kau turun ke bawah? Lagi tidak aman sekarang ini turun ke bawah…” kata Ryeowook. ”Makanya aku, Sungmin Hyung, Yesung Hyung, semua ada disini. Aigo, Haejin-ah. Lagipula kau ngapain ke bawah?”

   ”Aku penasaran sama pacarnya Kyuhyun, cuma mau kenal, kok.”

   ”Lebih baik nggak usah!” ucap Ryeowook.

   Aku mengernyit. ”Tapi dia baik dan ramah kok padaku.”

   ”Jangan dekat-dekat dia deh, nanti kau ketularan aku nggak mau.” Kata Donghae menggeleng keras.

   Aku menunduk. ”Aku kan cuma mau kenal. Lagipula, Super Junior itu kan keluargamu. Pacar-pacar member Super Junior otomatis juga jadi keluargamu, aku juga mau menganggap keluargamu itu keluargaku juga, jadi aku mau kenal sama mereka…”

   ”Jinja? Kau menganggap Super Junior keluargamu juga?” Donghae tiba-tiba tersipu-sipu dan wajahnya imut sekali.

   Ryeowook tiba-tiba sudah pergi dari kami.

   Aku mengangguk. ”Aku mau mengenal keluargamu dengan baik.”

   Dia tersenyum senang, aku balas menatapnya tersenyum.

   ”Ya ya ya! Sudah, ini tempat umum, jangan berpandangan seperti itu di depan kami! Euuuuh!” seru Heechul Oppa bawa-bawa kemoceng dan menunjuk-nunjuk kami berdua dengan brutal.

   ”Hyung!” protes Donghae.

*Mei 2010*

Tanpa terasa aku dan Donghae pacaran sudah satu bulan, hihihi. Benar-benar nggak terasa sama sekali, mungkin karena aku benar-benar menikmatinya. Aku selalu ikut kemana pun dia pergi, dan dia senang sekali. Entah kenapa melihat dia senang begitu, aku juga ikut senang sekali.

   Ketika sesekali aku tidak bisa menemaninya, karena aku ada panggilan syuting atau pemotretan,  aku mulai merindukannya, dan merasakan hal itu membuatku sangat excited lagi. Aku kira aku tidak akan pernah merasa seperti ini lagi, sejak putus dari Taecyeon, meski jujur saja, aku belum merasakan apa yang kurasakan saat berpacaran dengan Taecyeon, dan ini menggangguku.

   Kadang-kadang kalau malam hari sesudah Donghae pulang mengantarku, dan aku sudah siap tidur. Aku melamun dan gundah sendiri, apakah benar aku menerima Donghae, sementara ternyata aku masih belum yakin akan perasaanku sendiri padanya.

   Kuakui aku suka padanya, dia merebut hatiku, dan aku sering memikirkannya, dan aku kira setelah berpacaran dengannya, aku akan semakin menyukai dan mencintainya seperti aku mencintai Taecyeon dulu, tapi aku terlalu banyak berharap sepertinya. Aku mencintai Donghae? Iya, aku sudah mulai cinta padanya, aku tidak suka kalau dia bekerja terlalu keras, aku tidak suka kalau dia sakit, dan kurang tidur. Tapi entah kenapa belum seperti orang kasmaran pada umumnya.

   Dan rasa kasmaran itu yang aku cari! Apa yang salah pada diriku? Kenapa aku belum bisa meleleh, padahal aku mau merasakannya lagi, dan Donghae sudah begitu baik dan dia sangat menjagaku. Dia mencintaiku, tapi aku mencintainya tidak sebesar dia mencintaiku? Dan itu terlalu tidak imbang, itulah yang membuatku resah. Hingga akhirnya aku selalu berusaha ada di sampingnya, dan memaksa hatiku mencintainya.

   Tapi memang hati tidak bisa dipaksa.

   Apa yang terjadi pada diriku? Apakah sesusah itu untuk benar-benar jatuh cinta lagi seperti dulu? Aku kangen perasaan tergila-gila, perasaan kasmaran, perasaan berdebar-debar seperti saat bersama Taecyeon, yang belum kutemukan pada Donghae. Aku merasa berdosa sekali, apakah ini artinya aku mempermainkan Donghae? Memikirkan itu aku sedih sekali, aku nggak mau menyakiti orang menyayangiku, karena aku tau rasanya disakiti.

   Masuk bulan Mei, Donghae semakin sibuk, persiapan comeback-nya semakin dekat, sementara aku tidak boleh lihat dia menari. Dia masih pelit soal comeback-nya, akhirnya sejak awal Mei aku jarang bertemu dengannya. Aku senang mendapati aku suka melamun memikirkannya, dan suka membuka-buka foto-fotonya di laptop, dan di ponselku. Lalu membuka video-video yang aku download sendiri tentang dirinya. Aku rindu pada Donghae, tapi gengsi untuk bilang. Aku tidak pernah sms dia duluan, meneleponnya duluan apalagi. Selalu Donghae yang melakukannya duluan, dan kalau dia bertanya kangen atau tidak, aku selalu jawab tidak, dan dia akan merajuk. Barulah aku jawab aku juga rindu padanya.

   Donghae sibuk dalam akhir minggu ini sampai akhirnya Ongie meneleponku, aku sampai lupa padanya, aduh sahabat macam apa aku ini?! Dia juga sih, sibuk comeback sampai tidak meneleponku, biasanya dia rajin menggerecokiku. ”Yeoboseyo.” Sapaku Minggu pagi saat dia menelepon.

   ”Yeoboseyo, ah… Nyonya Lee, masih hidup?” tanyanya iseng.

   ”Mwoya?! Kau mendoakanku mati?!” balasku.

   ”Aniyo, habis tak ada kabar beritanya, ckckckck… sudah sama Hae Hyung lupa segalanya ya? Hahahaha, syukurlah, aku tidak direngeki terus menerus, Hae Hyung berhasil rupanya.”

   Aku menyahut. ”Kau yang tidak menghubungiku!”

   ”Masa harus aku duluan yang menghubungimu?! Leader Felidis masa tidak punya pulsa?”

   ”Bukan masalah pulsa! Aku tau waktuku banyak, tapi tidak denganmu kan, Im Seulong?”

   ”Ahahahaha, bilang saja lupa padaku!”

   ”Aniyo!” seruku kesal, lebih karena malu sih, memang sedikit lupa padanya.

   ”Ne ne ne, aku percaya, jadi setelah sebulan lebih pacaran dan tidak traktir kami, bagaimana?”

   ”Apanya yang bagaimana? Traktiran? Kenapa di otakmu hanya ada traktiran?”

   ”Bukan itu, bodoh! Meskipun aku tidak akan menolak kalau kau mau traktir, tapi bagaimana dengan Hae Hyung?” tanya Seulong dengan suara menggoda. ”Kan sudah sebulaaaan~”

   Aku mengernyit. ”Lalu kalau sebulan kenapa?”

   ”Ah, jangan pura-pura bodoh! Kau sampai tidak mengingatku, berarti dia pandai mengalihkan pikiranmu. Ada jadwal tidak? Jalan-jalan yuk, nanti sore temani ke Inkigayo.”

   ”Ayo deh, aku lagi bosan di rumah.”

   ”Lho, kukira kau akan menolak.”

   ”Dasar bodoh! Kalau kau mengharapkan aku menolak ajakanmu kenapa malah kau bertanya?!”

   Seulong mendengus. ”Kukira kau akan menjawab sudah ada janji dengan Hae Hyung gitu, kan aku jadinya bisa meledekmu.”

   ”Tuhan tau niatmu tidak baik, makanya tidak diizinkan. Jadi kau mengajakku serius atau tidak, nih?!”

   ”Serius, serius… ya sudah kau kesini lah, aku mau mendengar ceritamu.”

   ”Memang kau dimana?”

   ”Di kantor, masih harus latihan.”

   ”Ya sudah aku kesana.”

   Aku menutup ponsel flip pink-ku dan buru-buru bersiap-siap, hari minggu ini, Kyorin dan Chihoon pulang ke rumah mereka. Karena aku sudah tidak punya rumah, tidak punya keluarga pula, hanya kakak sepupu dan Nenek jauh yang kupunya, jadilah aku main saja bersama keluarga JYP-ku.

   Aku sampai kantor pukul sembilan, dan mendapati kalau 2AM semua sedang di kantor, tapi tidak dengan 2PM. Syukurlah, aku masih enggan bertemu dengan Taecyeon pokoknya, meskipun sekarang pastilah dia tau kalau aku sudah punya pacar lagi.

   Aku pergi ke ruang latihan vokal 2AM, dan bertemu dengan semua member disana, mereka memelukku dengan girang, sambil sesekali meledek bahwa aku tambah subur. Hell yeah, aku kan jarang latihan sekarang karena memang tidak ada jadwal, tapi ledekan mereka terlalu aneh.

   ”Dikasih makan apa sama Hae Hyung sampe subur begini?” tanya Seulong kurang ajar.

   ”Kau mau kuhajar, ya?” tanyaku tak niat.

   ”Galaknya masih sama.” Kekeh Seulong.

   Aku memutar mata.

   Setelah menunggu mereka latihan tiga kali lagi, Changmin Oppa, Jinwoon, dan Jokwon pergi keluar, tentu saja memberikanku waktu bersama Seulong. Mereka memang pengertian semua. Aku sudah lama tidak bertemu soulmate-ku ini, Seulong minum banyak-banyak karena pastilah tenggorokannya sudah kering sekali dipakai bernyanyi terus menerus.

   ”Ayo, mau jalan kemana?” tanyaku.

   ”Udah makan belum? Makan yuk, belum sarapan nih.” Ajaknya.

   ”Ayo, mau makan dimana?”

   ”Kafetaria sini aja, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi jauh-jauh.” Seulong mendahuluiku keluar dari ruangan, aku mengikutinya. Dalam perjalanan ke kafetaria aku bisa melihat beberapa poster Wonder Girls terbaru, dengan konsep agak-agak aneh.

   ”Mereka mau comeback?” tanyaku.

   ”Kayaknya sih, mereka nggak ada yang bisa dihubungi, pasti lagi sibuk-sibuknya nyelesain kerjaan di LA, abis itu biar langsung balik kesini.” Jawab Seulong sambil masuk ke kafetaria bersamaku. ”Cari tempet! Jangan dipojokan.”

   Aku sudah hapal tabiatnya, akhirnya aku cari kursi yang agak ke pinggir ruangan. Tak lama dia sudah datang membawa nampan berisi bubur dan roti, serta kopi dan jus jambu merah. Ahahaha, dia masih ingat minuman favoritku, dia duduk dan mulai makan. Kami mulai ngobrol membicarakan aktivitas 2AM yang meningkat, dan nasib Felidis yang di awang-awang.

   ”Memang benar-benar tak ada rencana membuat album lagi?” tanya Seulong serius, dia benar-benar serius kalau sudah menanggapi masalah karier kami. ”2AM dan 2PM sudah. Lagipula 2PM pun sedang bersiap meluncurkan album pertama mereka di pertenghan tahun ini, dan Wonder Girls juga akan comeback, masa Felidis tidak ada kerjaan?”

   Aku menghela napas. ”Mollayo.”

   ”Menurutmu karena apa?” Seulong balik bertanya. ”Kudengar perusahaan juga akan meluncurkan girlband baru tahun ini, lho.”

   ”Ya mungkin saja karena itu, tapi aku berpikir kami mungkin memang tidak laku.” Ujarku.

   ”Ah!” Seulong mengibaskan tangannya. ”Jangan berpikiran seperti itu, Haejin-ah. Kalian mungkin memang hanya bertiga, tapi bakat kalian bertiga benar-benar berbeda-beda dan itu menjadikan Felidis memiliki ciri sendiri.”

   ”Tapi Hysteria kan kurang laku dibanding Aegyo Chu~ Ongie-ya, lalu sekarang kami hanya muncul sesekali di televisi. Dan jumlah Flyers yang semakin lama semakin menurun karena turunnya aktivitas kami. Kami bahkan tidak mendapatkan kontrak CF apa pun.” Jelasku.

   Seulong meneguk cangkir kopinya. ”Begini, memang tidak ada yang mudah pada awalnya, tapi aku rasa pelan-pelan kalian bisa sukses. Kau harus menyemangati kedua adikmu, kau kan yang paling tua diantara mereka, kau yang harus semangat, jangan ikut melempem.”

   ”Mereka sih tidak bilang apa-apa, cuma kami bertiga tau kalau kami cemas sebenarnya.”

   ”Ayo, Lee Haejin, himnae!” semangat Seulong.

   ”Himnae.” Sahutku tak niat.

   ”Ya sudah, sekarang berhenti membicarakan hal sedih seperti itu,” potong Seulong. ”Bagaimana Hae Hyung?” alisnya naik-naik menggodaku.

   ”Dia kenapa?” tanyaku bingung.

   ”Euh, kau ini pelit sekali.” Seulong mencolek tanganku. ”Bagaimana? Kau pelit sekali tidak mau cerita padaku soal hubunganmu dengan Hae Hyung. Jadi bagaimana?”

   Aku terkekeh. ”Apanya yang bagaimana? Yang mau kau tanya itu apa? Senangkah aku jadian dengannya? Kalau itu yang kau tanya, kau lihat aku senang kan?”

   ”Jinjayo? Aaaah, chukae!”

   ”Iya dong…” kekehku.

   ”Coba cerita, bagaimana dia orangnya? Terakhir yang kudengar soal dia, kau bilang dia overprotektif?”

   Aku mengangguk sambil tersenyum. ”Ya kalau sama dia, dia berusaha melindungiku, padahal kan nggak ada perang atau apa, tapi caranya menggandengku kemana-mana seperti takut aku kena peluru nyasar.” Seulong terbahak-bahak. ”Dia cengeng dan lembut sekali.” Terusku.

   ”Ah, kau kan juga cengeng!”

   ”Tidak secengeng dia kayaknya! Bayangkan, aku buatkan dia bekal makanan, dan dia menangis terharu, di depanku!”

   ”Aduh, rasanya pastilah mengerikan.”

   Aku menggeplak kepala Seulong. ”Karena terharu, bodoh!”

   ”Iya iya, aku kan cuma bercanda.” Seulong mengusap kepalanya yang geplak tadi. ”Eh, nanti dulu, uri Haejin bikin bekal untuk pacarnya? Wah, sejak kapan kau bisa masak?”

   ”Aigo! Aku membuatkan dia sandwich.”

   ”Ah, memang aku terlalu banyak berharap kau bisa memasak,” geleng Seulong sok prihatin, minta ditabok memang. ”Lalu kenapa kau dan dia tidak jalan hari Minggu begini?”

   Aku menghela napas, ”Yah, dia kan harus latihan, sebentar lagi Super Junior comeback. Aku tidak boleh lihat sampai akhirnya mereka comeback, katanya sih biar surprise.” Kulihat alis Seulong mengangkat tinggi.

   ”Kalau dari yang kutangkap kau kecewa, ya?”

   ”Kecewa mereka comeback?”

   ”Bukaaan, kecewa tidak bisa bersamanya.”

   Entah kenapa aku merasa wajahku panas, dan Seulong kembali tertawa lepas.

   ”Aku nggak kecewa, kok… itu kan kerjaan dia.” Ujarku terbata-bata.

   ”Ah, kau sudah tergila-gila padanya ternyata, memang sudah berapa lama kalian tidak bertemu?”

   ”Hampir seminggu.” Jawabku.

   ”Aw… sedih banget mukamu.”

   ”Nggak sih, biasa aja!” sergahku.

   ”Nih, nih liat kaca nih!” dia menunjuk kaca. ”Kau kangen padanya ya? Wakakaka, akhirnya Lee Haejin!”

   ”Apa sih?!”

   ”Hihihi, syukur deh at least kau beneran suka sama dia.”

   Aku menghela napas.

   ”Belum yakin ya?” tanya Seulong tiba-tiba, aku terkesiap. ”Wajar kok kalau belum yakin, emang nggak segampang itu kan? Tapi aku lihat kau berusaha keras banget, bagus itu. Mungkin cuma butuh sedikit lagi waktu sampe kau benar-benar total sama Hae Hyung.”

   ”Jinja?” tanyaku akhirnya.

   Seulong mengangguk. ”Cuma butuh sedikit lagi waktu, dan kalau nanti kita bertemu kau akan terus memandang ponselmu menunggunya menghubungimu.” Ledek Seulong. Aku memutar mataku.

   Malamnya, aku mendapatkan kabar baik, Junjin Oppa bilang aku ditawari jadi MC sebuah acara variety show yang menyerupai talkshow, yang akan kubawakan bersama 2PM Wooyoung di slot televisi MBC. Mau tak mau aku menyangka ada campur tangan Seulong disini.

   ”Onnie, Hae Oppa telpon tuh!”

   Saking lamanya melamun, sampai aku tidak sadar ponselku berbunyi, aku mengambilnya dan langsung kabur ke kamar, supaya tidak diganggu Chihoon saat menelepon.

   ”Yeoboseyo.”

   ”Hmm, lamanya…” komentar Donghae. ”Bogoshipo.” Ujarnya manja.

   Aku tertawa. ”Nado. Bagaimana kabarmu? Sehat, kan? Tidak lupa makan? Tidak lupa istirahat kalau ada waktu luang sedikit?”

   ”Iya, Sayang…” katanya, dari nada suaranya aku bisa menangkap dia sedang tersenyum. ”Aku mau bertemu denganmu, tapi rasanya mustahil kabur dari latihan. Semua latihan seperti orang gila, begitu semangat, jadi aku tidak mau kalah.”

   ”Hwaiting!” kataku lembut. ”Sebentar lagi kalian comeback, kan? Aku pasti lihat kerja kerasmu nanti.”

   ”Kau harus menemani comeback stage-ku, arasseo?”

   ”Iya.” Janjiku.

   ”Kuharap kau sudah melihat teaser kami, tapi kalau dipikir-pikir aku lebih suka kau lihat langsung MV-nya,”

   ”Teaser-nya sudah keluar?!” tanyaku terkejut.

   ”Omo! Jangan bilang kau tidak tau teaser kami keluar?”

   Aku terkekeh bersalah. ”Aku tidak buka internet hari ini, mianhae.”

   ”Hmm.” Kurasa dia merajuk sekarang.

   ”Aku tidak di rumah seharian ini, Hae…” bujukku, tapi aku membayangkan wajahnya yang merajuk. Aaah, dia lucu sekali, bibirnya yang tipis melengkung ke belakang dan membentuk ekspresi manyun yang menawan, dan matanya akan melirik ke bawah, aigooo Lee Donghae, aku baru sadar aku kangen sekali padanya.

   ”Hee? Kau kemana?” tanyanya tertarik.

   ”Tadi pagi diajak Seulong menemaninya latihan, lalu menemaninya di Inkigayo, aku baru sampai di dorm ya dua jam lalu lah.” Jelasku, tapi kudengar dia tidak memberi respon apa-apa, aku bingung lalu kuperiksa ponselku, dan masih connected kok sama telepon dia. ”Halo? Hae? Tidur ya?”

   Kudengar dia mengembuskan napas berat. ”Ani.” Jawabnya.

   Aku salah dengar atau bagaimana? Dia terdengar sedih.

   ”Kenapa, Hae?” tanyaku.

   ”Aniyo, gwenchana.” Kudengar dia seperti berusaha tidak terdengar sedih, tapi aku makin yakin dia sedih.

   ”Jeongmal?” tanyaku.

   ”Hmm.” Dia menggumam.

   Aku diam juga, aku jadi bingung mau bilang apa. Apakah dia ada masalah? Tapi aku tidak mau terdengar terlalu ikut campur? Tapi aku khawatir mendengar nada suaranya yang turun drastis begitu. Haruskah aku bertanya? Atau haruskan aku membuatnya senang? Atau haruskah aku menghiburnya? Saat sedang bingung kudengar dia menghela napas dalam-dalam.

   ”Bicara denganku tak begitu menyenangkan ya?” tanyanya dengan nada sedih, apa maksudnya?

   ”Apa maksudmu?”

   ”Kau tidak suka bicara denganku, kah?”

   ”Aniyo!” gelengku. ”Kenapa bicara begitu?”

   ”Gwenchana. Tapi Haejin-ah, bisakah lain kali kalau mau pergi kemana-mana, kau bilang padaku?”

   Aku blank. Apa hubungannya tidak suka bicara dengannya, lalu kalau mau pergi kemana-mana bilang padanya? ”Bilang bagaimana?”

   ”Ya bilang, kau mau pergi bersama Seulong misalnya, atau kau mau kerja, kau beritahu aku. Aku tidak tau apa-apa soal kau dimana, sama siapa, kau ngapain aja… kukira kau di rumah saja.”

   ”Oooh iya, tapi bukannya kau sibuk? Aku tidak mau kau lihat ponsel terus menunggu pesanku, aku tidak mau mengganggu konsentrasimu.” Jelasku lagi.

   ”Tapi kau bisa mengirimiku pesan sekali saja, kan?”

   Aku menyadari sepertinya dia sedih karena aku tidak bilang padanya kalau hari ini aku jalan-jalan keluar. Protesnya bukan protes protektif, tapi bentuk protes seperti ini lebih membuatku sedih, dia seperti merasa bahwa dia pacar yang tidak dianggap, sementara aku tidak memberitahunya karena kupikir tidak perlu.

   Kami sama-sama diam akhirnya.

   ”Keurae, istirahatlah, Haejin-ah.” Katanya akhirnya, dengan nada final tak mau lagi meneruskan bicara, harus kuakui aku masih mau ngobrol dengannya, dan aku menyadari kalau aku kangen padanya, juga aku sedih dia tidak memanggilku ’Sayang’ seperti biasanya.

   Aku diam saja.

   ”Tidur nyenyak ya.” Suaranya masih dingin.

   ”Ne.” Dengan bodohnya aku menjawab, padahal aku bisa saja jujur masih mau bicara dengannya.

   Kudengar suara napasnya yang teratur, dia belum mematikan ponselnya, entah apa yang dia tunggu. Akhirnya sambungan telepon kami mati, dan aku mendadak merasa sedih sekali, seolah-olah aku yang membuatnya seperti itu. Akhirnya alih-alih keluar lagi, aku justru berbaring dan memeluk boneka Nemo-ku.

To Be Continued

Hullaaa ^^ akhirnya saya isi pulsa modem dan bisa ngupdate JinHaeXy When I Fall part 11, hahahahaha… disini memang agak-agak galau, tapi masih so sweet lah… part depan mulai comeback Bonamana, dan mudah-mudahan aku nggak salah urut-urutan mereka mulai comeback ya, jadi kalo salah mohon maklum, soalnya aku pelupa wkwkwkwkwkwk

sebenernya ff ini udah mau aku bikin end, tapi nggak selesai-selesai, yah yowis lah dilihat ampe seselesainya aja ^^ comment and like ditunggu yaaa, walaupun nggak dibalesin karena aku kerja, dan pulang kerja udah teler, tapi komen dan saran kalian di setiap ff aku baca kok ^^ comment like oxygen ya kan? *ngutip lagu SHINee* kayak di part 10, ada yang minta Haejin-Seulong Moment… aku juga kangen moment mereka, makasih udah ngasih saran, aku masukin di part ini ^^ trus yang komen : “katanya hae suka udah 7 tahun masa gak liat?” nah itu juga aku masukin,, hehehe makasih sarannya… see you di next ff ^^ saranghae

60 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 11~

  1. haha, aku pengen tanya deh sama haejin onn, kenapa bisa jadi akrab gitu sama nara? padahal kan dia udah ngelempar panci *yah walaupun tidak sengaja* ke onnie di pertemuan pertama, trus dia juga ngoceh ga jelas gitu soal onnie-taecyon di depan hae pula (ini part berapa ya? setelah ini deh kayaknya…) Tapi kayaknya nara ngga iblis-iblis amat kok *dilempar sepatu sama nara* kkekekekeke

  2. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ aku baru bacaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ hatulaaah maaaf onnie sayang😦
    aku juga baru inget, dan itu di ingetin sama onnie!~😀
    aww~
    tapi mer suka protectif nya Hae~ gak tau kenapa~ rasanya emang gak berlebihan aja~
    gimana ya~ itu kan tanda sayang gitu onnie~🙂
    aaah sarangHaeeeeeee~ :*
    sebenernya~ mer nge adaptasiin dulu diri mer buat baca ff kpop~ keseruan sama ff2 nya naruto jadi gini deh .____.v
    LoL~ but but but~ aku selalu suka karya onnie~ manis :3

  3. aigoooooooooo
    kyunara heboh klo udah brantem
    hehehehe
    kasian amet haejin eonni bru msuk udah dikasi panci
    ckckckckck
    makanya hae oppa nglrang haejin dket nara
    daebak eon ^^

  4. pake kecepatan max aq bcanya tp baru nympe part ini .___.
    mian onn ga bisa comment satu” bgg mau comment apa abis bawaan lanjut mulu wkwkwk #digeplak

    ettt dahhh si ikan pasti cemburu ma seulong itu kkk
    dan sampai chapt ini misteri akan siapa sosok seoulong di WSMS sudah dipastikan. pasti sama statusnya ky d WIF kan?? kkk *ketawa bangga* #salahtempat

    sudahlah saia lanjut ya~ *bow

  5. Aah senangny ad seulong lg…kangen jg sm best frenny haejin yg 1 in.. Crita trakhirny bkin galau niih.. Mdh2n smua kmbali spt smula.. Haejin hub donghae duluan giih..

  6. aahhh mereka berduaa.,, benar2 kasmarann!!! seperti nya cemburu nih si dong hae.,, kasian dong hae,, si haejin kenapa mesti mikirin si mantan sih??? -_-
    bisa nggak ini dibikin dorama nyaa??? kyaaaaaaa……. #digaplok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s