I Wanna Live [Last Shot]

Title: I Wanna Live [Last Shot]

Author: heeShinju and Donghae’s wife

MC: Kim Heechul, Lee Donghae, Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook

OC: Lee Haejin, Kim Tami, Hwang Minra

Genre: Thriller, Horror (?)

Length: Three Shots

Rating: PG-15

Cover credit: superpunch.blogspot.com and editing by heeShinju

Disclaimer: Heechul punya heeShinju, Donghae punya Haejin, yang lain diobral #plaak. Ff ini terispirasi dari salah satu episode dari manga Ghost Hunt, tapi storyline nya kami kerjakan bareng dan pake mikir, jadi jangan diplagiat seenak dengkul.

INI BUKAN CHAIN-FF

Jadi, tolong jangan tanya part satu siapa yang buat, part dua siapa yang buat, karena keseluruhan ff ini dikerjakan bareng, harap maklum kalau gaya penulisannya jadi nyampur.

 

I Wanna Live [Last Shot]

“Tami-ya! Tami-ya! Eodiseo?!” Haejin mengililingi lantai dua dengan panik, air matanya sudah tumpah. Minra belum ditemukan, sekarang Tami juga harus hilang! Dia belum minta maaf atas segala sikap buruknya kepada sahabatnya itu, dan sekarang, demi apa pun, dia hanya ingin sahabatnya selamat.

“Haejin jangan sendirian kemana-mana!” teriak Kyuhyun yang memegangi Ryeowook yang sudah lemas. “Aigo! Hyung,” serunya lagi melihat Heechul juga sudah terduduk lemas. Sungmin mengambil alih Ryeowook, kemudian Kyuhyun dan Donghae berlari mengejar Haejin yang histeris memutari lantai dua.

“Haejin, Haejin… udah, udah,” perlu usaha gabungan Kyuhyun dan Donghae untuk menangkap tubuh Haejin yang meronta karena masih mau terus menjelajah mencari sahabatnya tersebut.

“Kita harus cari Tami! Kita harus cari Tami! Belum terlambaaaaaaat…” Haejin menjerit seperti orang gila. “Kita pasti bisa menemukan dia!” Haejin menjerit-jerit.

“Haejin, Haejin, sudah!”

“Sudah, tenang dulu, kita akan cari Tami, tapi kau harus tenang dulu!”

Haejin mengatur napasnya.

“Sekarang, sangat tidak baik kalau kita berpencar-pencar,” ujar Kyuhyun sambil memandang berkeliling ruangan lantai dua yang cukup luas itu. ”Kita turun dulu ke bawah. Heechul Hyung, Ryeowook, dan Sungmin masih dibawah, kita tidak boleh berpisah-pisah dulu.”

Haejin menangis terisak-isak dan gemetaran, Donghae menatapnya prihatin, Kyuhyun memberi isyarat agar Donghae membawa Haejin mengikutinya turun. Ketiganya turun ke bawah, mendapati ketiga temannya masih belum bergerak dari tempat duduk masing-masing. Sungmin kelabakan mengajak bicara Ryeowook—yang ketakutan—dan Heechul—yang nampak pucat dan pandangannya kosong—hanya supaya pikiran teman-temannya itu tidak kosong.

“Hyung, gwenchana?” tanya Donghae sambil mendudukan Haejin yang sama kacaunya dengan Ryeowook di sebelah Heechul.

Heechul mengangguk hampa.

“Eoddeokhae?” tanya Sungmin cemas pada Kyuhyun dan Donghae, dua orang yang masih terlihat berkepala dingin dalam suasana mencekam.

“Minra, dan sekarang, Tami…”

“Tami, Tami, dia pasti masih…”

“Iya, Haejin, iya…” Donghae mengelus kepala Haejin pelan, lalu menatap Kyuhyun dan Sungmin bingung, karena Haejin terus menarik-narik lengan jaketnya dan memohon agar mereka mencari Tami.

Kyuhyun mengangguk. “Oke, Tami kita cari sekarang, tapi tidak berpisah! Kita harus terus sama-sama, bagaimana?”

“Ayo!” ajak Sungmin yakin.

Mereka berenam mulai berjalan perlahan-lahan mengitari segala penjuru rumah, dan tetap saja tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Tami. Haejin menangis semakin menjadi, sampai badannya lemas, dan Ryeowook serta Heechul tidak juga jauh lebih baik keadaannya dari Haejin. Sekarang keenamnya duduk di ruang tengah dan tidak melakukan apa-apa.

“Tami… Tami…” Haejin masih mengisak dan memanggil-manggil nama sahabatnya itu. “Minra, Tami… Minra, Tami…” Haejin sangat merasa bersalah kepada Tami, dan sekarang Tami entah bagaimana nasibnya. Ryeowook begitu ketakutan, dan Heechul, dia nampak terguncang, padahal Heechul termasuk orang paling berani dalam kelompok Hantu Kampus mereka. Kehilangan Minra, ditambah Tami benar-benar membuat Heechul terguncang.

Sungmin melirik jam dinding, “Kita perlu makan, kita tidak boleh sakit sebelum kita benar-benar bisa keluar dari sini dan lapor polisi.”

“Tapi, tanahnya longsor, Sungmin-ah, kita tidak bisa berbuat banyak sampai polisi sendiri yang…” Kyuhyun menghela napas memikirkan kemungkinannya. ”Atau orangtua kita mungkin, yang khawatir dan mencari kita…”

“Ne, kita bahkan tidak bisa menghubungi mereka,” ujar Donghae lirih.

“Kalian bertiga istirahat dulu saja,” kata Sungmin kepada Haejin, Ryeowook, dan Heechul yang diam saja. “Lihat, supnya sudah dingin, sebentar, biar kuhangatkan lagi. Ayo, Kyuhyun-ah, bantu aku.”

Mereka berdua beranjak ke dapur yang memang jaraknya dekat, dan pantry-nya terbuka ke ruang tengah, sehingga tetap terus bisa melihat keadaan ketiga teman mereka yang ada di ruang tengah. Sembari menunggu kedua temannya masak, Donghae mengambil buku harian tadi. Setelah membaca beberapa halaman pertama, ia melirik Haejin, Heechul, dan Ryeowook yang tampak sibuk dengan lamunan masing-masing, lalu beranjak ke dapur.

“Kyuhyun-ah, Sungmin-ah, coba lihat ini,” bisik Donghae.

Kyuhyun dan Sungmin mendekat, bersama-sama mereka membaca tulisan tersebut.

22 April 1953.

Aku mencapai ulang tahunku yang kelima belas. Pendeta dari kuil di bawah berkunjung dan menghadiahkan buku harian ini padaku. Katanya untuk menulis hal-hal indah dalam hidupku. Yang benar saja, sejauh apa dia akan menertawakanku yang ingin terus hidup di dunia ini? Lima belas tahun… berarti aku hanya memiliki waktu setahun lagi.

 

15 Mei 1953.

Bunga Sakura bermekaran di mana-mana. Indah sekali. Ternyata keputusanku menggunakan semua uang warisan untuk jalan-jalan ke luar negeri tidak buruk juga.

 

24 Mei 1953.

China, begitu banyak orang. Makanannya juga enak-enak. Hanya saja, tadi aku pingsan di salah satu kedai mie. Tapi, anak gadis si pemilik kedai itu cantik juga.

 

2 Juli 1953.

Big Band, Eiffel, Alpen… dunia ini indah sekali. Kenapa? Kenapa waktuku hanya sebentar? Aku ingin melihat lebih banyak lagi. Aku ingin hidup lebih lama lagi!!

 

14 Juli 1953.

Aku menemukan sebuah dongeng. Tentang ratu mesir, Cleopatra, yang cantik dan awet muda. Semua orang mengakui kecantikannya dan menganggapnya sangat beruntung berumur panjang serta awet muda. Semua ingin tahu rahasia kecantikannya. Katanya dia memakan sarang lebah dengan madu-madunya. Apa harus kucoba juga?

 

15 Juli 1953.

Ternyata tiap dongeng memiliki versi gelapnya. Seperti Cleopatra juga. Ternyata bukan sarang madu, melainkan darah. Darah manusia, lagi. Diminum atau dijadikan air mandi. Orang-orang bilang kejam sekali, tapi aku juga tampan dan umurku pendek, aku mengerti perasaan Cleopatra. Kalau darah—

Halaman selanjutnya kosong.

“Kalau darah? Kalau darah apa?” tanya Donghae.

Kyuhyun membalik-balik halaman buku harian tersebut, berusaha menemukan lebih banyak lagi tulisan.

“Apa jangan-jangan dia kena serangan jantung saat menulis?” tebak Sungmin.

“Sedang apa kalian?” tanya Heechul.

Kyuhyun cepat-cepat menutup buku tersebut sementara Donghae dan Sungmin serentak berbalik menutupi Kyuhyun. “Ani,” geleng mereka berbarengan.

Ketiganya bertukar pandang, Heechul, Ryeowook, dan Haejin mungkin sebaiknya tidak perlu tahu dulu soal ini, bisa-bisa hanya menambah kepanikan mereka saja.

“Supnya sudah siap dimakan,” kata Sungmin cepat.

“Ayo, Hyung, kita ke meja makan,” Donghae buru-buru membawa Heechul pergi dari situ, Kyuhyun buru-buru menyimpan buku harian itu dibalik rak piring lalu mengikuti mereka.

Keenamnya makan dengan tidak bersemangat. Sungmin menelan makanannya tanpa merasakan sedikit pun apa yang dia makan. Donghae dan Kyuhyun tak jauh berbeda, keduanya hanya makan demi kelangsungan fisik mereka disaat-saat genting begini, meski mulut, perut, dan pikiran tidak bisa diajak kompromi. Heechul diam saja, Ryewook makan sedikit, dan Haejin cuma mengaduk-aduk mangkuknya.

“Heechul Hyung, Haejin-ah, makanlah,” bujuk Donghae prihatin.

“Aku tidak mau makan…” sahut Haejin.

“Tak ada nafsu makan,” sahut Heechul ketus dan mendorong mangkuknya menjauh.

“Bagaimana mungkin bisa makan sementara Tami dan Minra…” lanjut Haejin tercekat.

“Haejin-ah, bagaimana kau mau mencari mereka kalau kau tidak punya tenaga?” tanya Donghae lagi. “Hyung juga, ayolah, ini juga demi kebaikan kita semua, kita harus mencari mereka.”

Akhirnya mereka makan, demi sisa-sisa tenaga dan harapan, untuk menemukan kembali sahabat mereka. Badai diluar masih mengamuk begitu parahnya, dan setelah makan tak ada lagi yang mereka lakukan kecuali berdiam diri, dan nampak cemas satu sama lain.

Waktu akhirnya menunjukkan pukul sembilan malam, mata Haejin sudah merah sekali, dan di kelima mata para cowok sudah mulai muncul lingkaran hitam. Haejin mulai terantuk-antuk dan bergelung di sofa.

“Sudah malam, sepertinya kau harus tidur, Haejin-ah,” komentar Donghae yang dari tadi duduk di sebelah sofa Haejin, Donghae berusaha semaksimal mungkin menjaga gadis ini.

“Pajo, nanti kau sakit,” Kyuhyun ikut berkomentar.

Haejin menggeleng, “Aku tidak mau tidur…”

“Haejin-ah, jangan bandel, semua tau bagaimana fisikmu, kalau kau kenapa-napa bagaimana? Kita terisolasi di sini…” bujuk Donghae cemas. “Ayolah tidur, Haejin-ah…”

Haejin menggeleng.

“Kau takut?”

Haejin mengangguk. “Aku… tidak mau hilang, aku tidak mau ada yang menghilang lagi! Aku takuuuut…”

”Begini saja, deh, kita tidur sama-sama disini, aku dan Sungmin akan mengambil selimut dan bantal,” Kyuhyun mengambil alternatif, Donghae dan Ryeowook mengangguk, sedangkan Heechul masih diam seperti robot yang kehabisan baterei.

Sungmin dan Kyuhyun turun membawa beberapa selimut dan bantal, lalu mereka mulai mengaturnya sedemikian rupa, sehingga sofa panjang itu berubah jadi tempat tidur bagi Haejin, dan yang lainnya tidur di bawah mengelilingi sofa Haejin, agar gadis itu tetap merasa terlindungi. Bagaimana pun, dia satu-satunya wanita disini.

“Tidurlah,” kata Donghae pada Haejin yang masih menggigit bibirnya dan menggenggam erat-erat selimut tersebut. Donghae mengambil tempat tepat disamping sofa Haejin, kemudian Ryeowook, lalu Sungmin, Heechul, dan terakhir Kyuhyun jadilah semua mengelilingi gadis itu.

“Aku masih takut.”

“Gwenchana,” Donghae menarik selimut Haejin, dan mengelus pipinya singkat. “Aku disebelahmu, takkan terjadi apa-apa padamu, oke? Sekarang, aku mohon, dengarkan aku… tidurlah,” pintanya pelan.

Haejin membaringkan tubuhnya. Kyuhyun mematikan lampu, lalu satu per satu teman-temannya mulai tertidur, tinggal matanya saja yang masih membandel terbuka. Di kepalanya masih terngiang-ngiang pertengkarannya dengan Tami tadi. Di manakah Tami dan Minra sekarang? Kenapa dia harus bertengkar seperti itu tadi dengan Tami? Bagaimana kalau dia selamanya tidak bisa meminta maaf pada Tami?

Tes…tes…tes…

Tiba-tiba Haejin mendengar bunyi tetesan air.

Apa keran di kamar mandi belum ditutup ya? pikir Haejin.

Haejin berniat mengecek ke kamar mandi untuk melihat apakah kerannya yang meneteskan air. Betapa kagetnya ia ketika ternyata tubuhnya tidak bisa bergerak. Haejin berusaha tenang, ini hanya salah satu fenomena di mana otak dan tubuh gagal berkoordinasi, semua orang pernah mengalami hal ini.

Tiba-tiba, pintu terbuka dan seorang lelaki masuk. Kamar yang gelap membuat Haejin tidak dapat melihat wajah lelaki itu, namun cara berjalannya membuat Haejin terbelalak. Lelaki yang masuk itu berjalan tanpa suara dengan lengan teracung, suara air itu terdengar bersamaan dengan tiap langkahnya. Haejin tidak ingat Donghae, Kyuhyun, Heechul, Sungmin, atau Ryeowook pernah berjalan dengan cara seperti itu. Lagi pula mereka berlima masih tertidur lelap di lantai di dekatnya.

Lelaki itu menghampiri Haejin yang masih tidak bisa bergerak, lalu menggendongnya. Jantung Haejin berdebar keras. Diliriknya teman-temannya yang tidak sedikit pun terbangun dari tidur mereka.

“Tolong aku!” Haejin ingin berseru, tapi mulutnya juga terkunci.

Lelaki itu menggendongnya keluar kamar.

“Donghae! Kyuhyun! Heechul-oppa! Sungmin! Ryeowook!” Haejin ingin sekali memanggil teman-temannya tersebut.

Kenapa tidak ada yang terbangun? Kenapa tidak ada yang sadar dirinya dibawa pergi? Air mata ketakutan mulai membasahi pipi Haejin.

Lelaki itu menggendongnya melewati tempat-tempat yang sangat gelap sehingga Haejin tidak tahu mereka ada di bagian mana villa itu, atau apakah mereka malah sudah berada di luar.

Mendadak bau darah yang sangat pekat menyergap hidungnya, membuat Haejin mual dan mau muntah. Kemudian, dia dibaringkan di atas sesuatu yang dingin dan keras, seperti meja batu. Lelaki itu melingkarkan rantai di sekujur tubuhnya. Berikutnya, Haejin melihat kilau yang dikenalnya, sebuah pisau besar.

“Aku ingin darah… darah para gadis…” geram suara itu.

Tidak! Tidaaaaak!!

Haejin berusaha meronta, namun nihil, satu jari pun tidak bisa digerakkan olehnya.

“Tenang, kau tidak akan sendirian. Saat ini, temanmu sudah menunggumu di alam sana.”

Minra? Tami?

Pisau itu berayun.

Haejin-ah!! Lariiiiiiiii!!

Dinginnya pisau itu membelah lehernya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

“…jin… Haejin-ah! Ireona!!”

PLAAAAK!!

Haejin membuka mata. Wajahnya basah oleh air mata, nafasnya tersengal-sengal, pipinya berdenyut-denyut dan rasa dingin itu masih terasa di lehernya.

“Gwenchana? Kau mimpi buruk?” tanya Donghae.

Haejin menatap wajah teman-temannya yang sudah mengelilinginya di sofa. Tangis Haejin langsung pecah. Kengerian mimpi itu benar-benar nyata, bercampur dengan kelegaan bahwa itu hanya mimpi.

Donghae menariknya duduk lalu memeluknya.

“Aku… mimpi…” Haejin tersedu.

“Sudah, sudah, itu cuma mimpi biasa…” bujuk Donghae.

Haejin menggeleng, “Bukan, itu Tami!”

Kelima lelaki itu terdiam.

“Dalam mimpi itu… seseorang masuk dan menggendongku keluar dari ruangan ini. Lalu dia membunuhku, dan… dan ada suara Tami, dia menyuruhku lari,” isak Haejin.

Haejin-ah!! Lariiiiiiiii!!

Haejin yakin sekali, suara yang meneriakkan itu dalam mimpinya adalah Tami.

“Tapi, kalau mimpimu itu benar…” bisik Kyuhyun, “jangan-jangan Minra dan Tami… sudah…”

“NGGAAAAK!!” Haejin membantah keras sambil menoleh pada Kyuhyun.

Namun, yang lebih menangkap perhatiannya bukan lah wajah Kyuhyun, melainkan tembok di belakangnya. Melihat ekspresi Haejin yang mendadak membeku, kelima temannya pun menoleh, mengikuti arah pandangan Haejin.

Di salah satu tembok ruangan itu, di bagian yang agak tinggi, tertulis dengan warna merah pekat.

AKU INGIN HIDUP

“KYAAAAAAAA!!” Haejin menjerit.

Heechul merosot ke lantai, lalu menangis, “Tami-ya…”

Kyuhyun dan Sungmin saling pandang.

“Hyung, sudah, Hyung…” Ryeowook ikut menangis.

“Salahku! Ini salahku!” Heechul terisak. ”Aku tidak percaya padanya… aku bahkan berjanji melindunginya tapi… tapi…”

“Hyung, ini diluar kuasa kita semua, kok,” Sungmin berusaha menenangkannya. ”Hyung jangan menyalahkan diri Hyung sendiri…” Sungmin menepuk punggung Heechul.

Haejin tiba-tiba teringat sesuatu, dia memekik.

“Wae?!” tanya Donghae, Kyuhyun, dan Sungmin sigap.

“Aku ingat…” sendat Haejin, “di mimpi tadi… pria itu… pria itu bilang… pria itu bilang…”

“Pria itu siapa?”

“Dia! Dia yang membawa Minra dan Tami! Dia bilang dia butuh darah gadis, dan dia… dia akan membunuh Minra dan Tami!” jerit Haejin.

“Mwo?! Darah gadis?!” pekik Donghae, Kyuhyun, dan Sungmin sambil saling pandang.

“Kyuhyun-ah, buku harian tadi!” seru Donghae.

Kyuhyun berlari ke dapur dan mengambil buku harian yang tadi dibacanya bertiga bersama Donghae dan Sungmin.

“Darah… darah para gadis!” Kyuhyun menyentil lembaran tersebut. “Ini yang disebut-sebut pemilik buku harian ini!”

Donghae refleks merangkul Haejin.

“Maksudmu pemilik rumah ini yang menculik Tami dan Minra?” tanya Ryeowook.

“Tidak mungkin! Mana mungkin ada orang yang bisa membunuh demi darah. Kalau pun orang seperti itu ada, kejadian itu sudah lama berlalu, orang itu pasti sudah mati sekarang!” ujar Kyuhyun.

“Tapi nyatanya Minra dan Tami hilang dengan misterius,” bantah Ryeowook.

”Haejin,” kata Sungmin tiba-tiba. “Kita lihat saja, yang hilang pertama Minra, lalu Tami, dan sekarang pasti Haejin yang diincar!”

Haejin gemetaran dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Itulah, itulah yang dikatakan oleh Tami! Tami menyuruhku lari…” isaknya lagi. “Andwae, Tami belum mati, dia selalu mengajak kita pulang, dia menyuruhku lari, semua demi aku, tapi aku bilang dia tidak peduli padaku. Tami nggak boleh mati. Andwae! Andwaeee!!” Haejin histeris sendiri.

Tiba-tiba bel berbunyi, semuanya mematung kaget.

“Siapa yang datang jam segini?” tanya Kyuhyun.

“Itu pasti Minra dan Tami!!” Haejin berlari untuk membukakan pintu, diikuti Heechul yang berharap Tami kembali, lalu semuanya yang tidak ingin mereka terpisah lagi.

“Minra-ya! Tami!” pekik Haejin sambil membuka pintu.

Namun, yang berdiri di luar adalah seorang bapak yang memakai jas hujan, membawa tali, senter, dan sekop.

Donghae langsung menarik Haejin menjauhi orang itu, Kyuhyun bertanya, “Nuguseyo?”

“Teman kalian hilang?” bapak itu bukannya menjawab malah langsung bertanya seolah sudah memperkirakan.

Haejin otomatis menjawab, “Ya.”

“Ahjusshi ini siapa?” Kyuhyun menaikkan sedikit nada suaranya.

“Saya pendeta kuil di desa bawah. Saya baru saja kembali dari luar kota dan mendengar bahwa kalian menyewa villa ini. Cepat pergi dari sini!” kata pendeta itu.

“Tapi, teman-teman kami?”

“Astaga! Tidak mengertikah kalian? Tempat ini berbahaya! Pikirkan saja keselamatan kalian sendiri!”

“Shireo! Aku nggak mau pergi kalau nggak sama Tami dan Minra!” Haejin berlari kembali masuk ke rumah dan duduk mencengkeram sofa di ruang tengah.

Pendeta tersebut mengejar Haejin dan menariknya dengan kasar, “Jangan membantah! Ayo, pergi!”

“Shireo!”

“Jangan tarik dia!” Donghae mendorong pendeta itu dengan marah.

“Ahjusshi, setidaknya jelaskan dulu pada kami ada apa sebenarnya di villa ini? Di mana teman-teman kami?” tanya Heechul.

“Dasar kalian remaja-remaja bodoh, teman kalian sudah menghilang, masa kalian masih tidak mengerti juga?”

“JUSTRU KARENA MEREKA HILANG MAKANYA KAMI INGIN MENGERTI SEMUANYA! KAU TIDAK BISA SEENAKNYA MENYURUH KAMI HANYA MENYELAMATKAN DIRI SENDIRI, BANGSAT!!” Heechul mencengkeram kerah pendeta itu.

“Hyung!”

“Hyung! Tenang!”

Sungmin dan Ryeowook memeluk Heechul. Heechul memang memasang wajah murka luar biasa, namun matanya berkaca-kaca.

“Ini… kami menemukan buku ini…” Kyuhyun memperlihatkan buku harian tersebut pada pendeta itu. “Di sini tertulis hal-hal aneh, seperti pemilik buku harian ini menginginkan darah…”

“Buku itu diberikan kakekku untuk Gong Sokjin berpuluh-puluh tahun lalu. Beliau adalah saksi hidup kengerian villa ini,” pendeta itu berkata dengan wajah seram.

“Kengerian?” tanya Ryeowook.

“Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa itu Gong Sokjin?” tanya Sungmin.

“Apa boleh buat, kalau kalian sebegitu bersikerasnya untuk mengetahui legenda rumah ini, akan kuceritakan. Tapi, setelah itu kita harus kabur, tanpa teman kalian yang hilang. Mengerti?”

Heechul kelihatan akan berteriak lagi, tapi Kyuhyun menahannya dan mengangguk.

“Keluarga Gong adalah keluarga paling kaya secara turun temurun di desa ini, namun mereka selalu mati muda. Entah karena penyakit, pembunuhan, kecelakaan, atau apa pun. Hal tersebut sudah jadi rahasia umum. Semakin generasi baru, semakin pendek usia mereka. Gong Sokji adalah garis terakhir keluarga itu. Saat itu, dia pemuda yang tampan, pintar, kaya oleh warisan orang tuanya yang juga mati muda, namun dia divonis hanya akan hidup hingga umur enam belas tahun. Bagi yang sehat dan hidup bermasyarakat, vonis tersebut mungkin bisa disikapi dengan santai, tapi Sokjin terobsesi dengan hidupnya. Ia tidak mau mati muda, berbagai pengobatan telah ditempuhnya, kakekku juga sering mengunjungi villa ini untuk mendidik rohaninya. Namun Sokjin sudah membenci Tuhan. Saat berusia lima belas tahun, dia memutuskan keliling dunia, dan saat kembali lagi kemari, orang-orang bilang dia gila. Dia terus menerus menyuruh pelayannya membawakan darah. Tentu saja mereka semua takut dan satu per satu berhenti bekerja. Hanya tinggal seorang gadis yang memang yatim piatu, sehingga dia tidak punya tujuan kalau pun berhenti bekerja. Tapi, kemudian dia pun menghilang.”

“Menghilang?” tanya Sungmin.

“Gadis itu biasanya turun ke desa tiap pagi untuk berbelanja. Namun suatu hari dia tidak lagi muncul. Tidak ada yang peduli, gadis itu mungkin kabur seperti pelayan yang lain. Tapi, kakekku, mengetahui keanehan Sokjin, datang kemari untuk mencarinya. Tapi…” pendeta itu mendesah.

“Apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun.

Haejin mencengkeram ujung jaket Donghae erat-erat, tiba-tiba saja dia merasa seseorang mengawasinya.

“Rumah ini kosong,” jawab pendeta itu.

“Ko… kosong?” latah Ryeowook.

“Mungkin Gong Sokjin pergi, pindah ke luar desa dan gadis itu menemaninya?” Sungmin berusaha bersikap optimis.

“Lalu, bagaimana kau menjelaskan jejak darah yang ditemukan kakekku?” tanya pendeta itu.

“Jejak darah?!” Ryeowook nyaris memekik.

“Jejak darah, ada di kamar Sokjin. Berasal dari tempat tidurnya dan berakhir di tembok yang bertuliskan—dengan darah juga—aku ingin hidup.”

Petir tiba-tiba menyambar, Donghae menyambar Haejin ke dalam pelukannya, seolah ingin menyelamatkan gadis itu.

“Persis seperti yang itu,” pendeta itu menunjuk tulisan di tembok, “itu berarti Sokjin sudah menculik teman kalian.”

“Tidak mungkin! Katamu Sokjin hidup di masa kakekmu, dia pasti sudah meninggal sekarang!” bantah Heechul.

“Mayatnya tidak pernah ditemukan. Kakekku bilang rumah ini punya banyak ruangan rahasia. Sokjin bersembunyi di rumah ini. Dia berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari pada sekedar mati dan bergentayangan. Dia monster.”

“Bohong! Cerita itu pasti bohong!” Heechul berteriak.

“Kalau itu benar, tidak mungkin bangunan ini masih berdiri dan penduduk desa menyewakan tempat ini,” dukung Kyuhyun.

“Tempat ini tidak diruntuhkan dan malah disewakan karena semua orang-orang bodoh yang bersikap seperti kalian. Tidak percaya pada cerita kakekku bahkan sampai teman mereka hilang sekali pun!” teriak pendeta itu. “Sudahlah, aku sudah berbaik hati ingin menyelamatkan kalian. Cepat kita pergi dari bangunan terkutuk ini! Lupakan teman-teman kalian, mereka sudah mati!”

“Kauuu!!” Heechul menerjang maju, untung lah Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook masih bisa menahannya.

“Tidak! Teman-teman kami masih hidup! Tega benar Ahjusshi bilang begitu,” bantah Haejin.

“Kau, namamu Haejin, kan?” pendeta itu menunjuk Haejin.

“Kalau iya kenapa?” tantang Haejin.

“Sahabatmu yang hilang adalah seorang gadis sebayamu, bertubuh kurus dan berambut panjang bergelombang, benar, kan?” tanya gadis itu.

Heechul langsung berhenti berusaha menyerang pendeta itu.

“Kenapa… Ahjusshi tahu?” bisik Haejin shock.

“Gadis itu, dia memiliki sedikit indera keenam. Sejak awal tiba di sini, dia sudah merasakan keanehan dan ketakutan di tempat ini…”

“Hentikan…” bisik Heechul.

“Dia ingin pulang…”

“Hentikan…” kata Heechul.

“Kenapa Ahjusshi tahu?” Haejin mengulang pertanyaannya.

“Tapi tidak satu pun dari kalian yang percaya pada—”

“KUBILANG, HENTIKAAAN!!” teriak Heechul sambil menutup telinganya dan berlutut, tiap kalimat pendeta itu menghujam telak ke dadanya.

“KENAPA AHJUSSHI TAHU??” jerit Haejin.

Pendeta itu menoleh pada salah satu sudut ruangan, “Karena gadis itu masih di sini, terus menjerit, ‘Lari, Haejin!’”

Kepala Haejin mendadak kosong, apa pendeta itu bermaksud mengatakan bahwa Tami sudah…

“BOHOOOONG!!” Haejin menjerit sambil berlari ke lantai dua.

“HAEJIN!!” teriak semua temannya serentak.

Haejin terus berlari menuju ruangan tempat mereka menemukan buku harian itu. Begitu dia masuk ke ruangan itu, pintunya langsung terbanting menutup. Namun Haejin terlalu dikuasai kemarahan hingga tidak lagi memikirkan takut.

“GONG SOKJIN SIALAAAAN!! KEMBALIKAN TAMIII!!”

***

Pintu ruangan itu menutup begitu Haejin masuk. Donghae dengan kalap berusaha membuka pintu itu, namun terkunci.

“Haejin-ah! Buka pintunya!!” gedor Donghae.

“Kembalikan Tami!! Kembalikan!!” terdengar Haejin berteriak-teriak di balik pintu.

“Haejin-ah, jangan bodoh!!” teriak Kyuhyun.

“Gong Sokjin!! Kembalikan dia!!” Haejin tidak memperdulikan mereka.

“Bodoh! Jangan panggil dia!” maki pendeta itu.

“KELUAR KAU, GONG SOKJIIIIIN!!!” teriakan Haejin malah semakin keras, “KAU DENGAR? GONG—MMMHHFF!!”

Sunyi mendadak.

“HAEJIN-AH!!” teriak mereka semua dengan panik.

“DOBRAK SAJA PINTUNYA!!”

Keenam lelaki itu serentak mendorong, memukul, dan menendang sampai pintu itu menjeblak terbuka. Sayangnya terlambat, Haejin tidak ada di dalam.

“HAEJIN-AH! HAEJIN-AH!” Donghae langsung kalap mencari Haejin, saking gelap matanya dia hampir menjungkirbalikkan semua benda yang ada di ruangan tersebut.

“Percuma, dia sudah dibawa oleh Sokjin,” kata pendeta itu.

Sebelum siapa pun sempat mencegahnya, Donghae menyambar kerah pendeta itu.

“Mau memukulku? Itu tidak akan merubah nasib gadis itu,” kata pendeta itu tenang.

“Donghae-ya, tenang,” Sungmin berusaha menarik Donghae menjauh.

Donghae bergeming, dia menggertakkan giginya lalu bersimpuh di kaki pendeta itu.

“Jebal… katakan padaku kalau sekarang masih sempat menolong Haejin,” dia memohon dengan suara bergetar.

“Percuma, Nak, sudah kukatakan banyak ruangan tersembunyi di rumah ini, aku…” tiba-tiba pendeta itu terdiam, dia menatap fokus pada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat.

Pendeta itu mengangguk pelan lalu berlari, “Ikuti aku!”

***

Kesadaran Haejin tidak pernah benar-benar meninggalkan raganya, bahkan sejak makhluk itu—yang memiliki postur manusia, namun hanya tinggal tulang berbalut kulit kemerahan, berbau darah, menghembuskan nafas berupa kabut panas, berkepala tanpa rambut, hidung dan bibir yang lebih menyerupai lubang, serta bola mata yang tidak lagi dilindungi kelopak mata—muncul begitu saja dari balik tembok dan menyekapnya. Dia ketakutan, sangat, bahkan untuk menjerit meminta tolong pun. Namun ketakutan itu justru membantunya mempertahankan kesadarannya. Sekarang Haejin merasakan dirinya digendong. Mereka melewati tempat-tempat gelap, entah ini masih di rumah atau di hutan—persis seperti dalam mimpinya. Yang jelas, tempat itu dingin dan lembab, juga bau darah.

Mereka sampai di sebuah ruangan. Mata Haejin yang mulai terbiasa dalam gelap melihat bahwa ruangan itu tampak menyerupai kamar mandi. Lantai dan temboknya tertutup petak-petak keramik. Bak mandinya separuh terisi dengan cairan hitam dan kental—dari baunya sudah bisa dipastikan itu adalah darah. Haejin langsung merasa mual. Ia tidak berdaya ketika makhluk itu membaringkannya di meja batu—meja penjagalan.

“To… long,” akhirnya suaranya bisa keluar juga.

Makhluk itu mengambil sesuatu yang tampak seperti pisau besar.

“Aku tidak mau… mati,” bisik Haejin.

Tanpa diduga-duga, makhluk itu berbicara, “Aku ingin hidup,” dengan suaranya yang kering.

“Seperti ini kau bilang hidup?” tanya Haejin.

“Aku ingin hidup,” ulang makhluk itu.

Dia mengayunkan pisaunya, namun Haejin berguling ke samping dan terjatuh dari meja, menimpa sesuatu yang terasa seperti rangka manusia yang masih mengenakan pakaian. Haejin menjerit sejadi-jadinya saat matanya melihat sebentuk kepala yang sudah lepas dari lehernya. Kepala seorang gadis berambut panjang bergelombang yang dalam mimpi pun tidak pernah diharapkannya akan dilihatnya tanpa tubuh.

Kepala Tami.

Gelap menyelubungi Haejin…

***

“… jin-ah, ireona, jebal…”

Haejin membuka matanya, dia terbaring di bawah langit yang masih gelap namun tak lagi hujan. Semburat kemerahan mewarnai awan-awannya dan bau asap memenuhi udara.

“Haejin-ah!” seseorang memeluknya, namun Haejin tidak menyadarinya.

Rohnya seolah masih tertinggal di ruangan itu, ruangan tempat Minra dan Tami berada…

“Minra-ya… Tami-ya…” tangis Haejin pilu.

“Sssshh… sudah, sudah… semua sudah berakhir sekarang,” ucap Donghae, namun ia menangis juga.

“Tami… ada di sana, Hae-ya… tolong Tami…” pinta Haejin.

Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook yang mengelilinginya semua menggeleng.

“Tami ada di sana!!” jerit Haejin.

“Kami tahu, tapi sudah terlambat, Haejin-ah…” bisik Donghae.

Mereka mendobrak pintu sebuah ruang rahasia di bawah tanah villa itu tepat saat makhluk itu hendak menebas leher Haejin. Sang pendeta memukulnya mundur dengan mantra-mantranya sementara para lelaki itu menyambar tubuh Haejin, dan saat itu lah mereka juga melihat apa yang telah terjadi pada tubuh Minra dan Tami. Sampai mati pun mereka tidak akan mungkin menghilangkan pemandangan keji itu dari benak mereka. Heechul bahkan langsung pingsan dan harus digendong keluar oleh Kyuhyun dan Sungmin. Makhluk itu mengejar mereka sesaat, namun pendeta itu membaca mantra di pintu utama rumah itu sehingga makhluk itu mundur. Kemudian mereka melakukan apa yang seharusnya sudah dilakukan dari dulu, yaitu membakar habis rumah itu.

Heechul yang sadar beberapa saat sebelum Haejin kini duduk sambil menatap hampa pada api yang menyelimuti rumah itu. Empat lelaki lain menangis tanpa suara, menemani Haejin yang menjeritkan nama Minra dan Tami berulang kali.

Pendeta itu menghampiri mereka, lalu berkata, “Dia tersenyum…”

Heechul berkedip dan menoleh, Haejin mengangkat wajahnya.

“Indera keenam gadis bernama Tami itu pasti lah cukup kuat hingga masih bisa mengembara setelah kematiannya. Dia yang membimbingku menemukan jalan ke ruangan rahasia itu. Dia ingin mengatakan sesuatu padamu. ‘Maaf, telah memperlihatkan mimpi buruk padamu,’ katanya.”

“Ppabo! Tami-ya, neo ppabo, neon!” isak Haejin. “Mianhae, Tami-ya… Ahjusshi, apa dia bisa mendengarku?”

“Entah lah, setelah mengatakan itu tadi, dia langsung menghilang. Keinginan terakhirnya untuk menyelamatkanmu telah terwujud,” kata pendeta itu lembut.

Haejin kembali terisak, dibenamkannya wajahnya di dada Donghae. Heechul menatap asap yang terus membumbung ke langit, membawa pergi semua kengerian yang terjadi di villa itu, juga membawa pergi Tami. Yang tinggal hanya lah penyesalan di dadanya.

***

Seoul, dua bulan kemudian.

“Chukkahae, untuk kelulusannya,” ucap empat orang pemuda dan seorang gadis serempak.

“Goma wo,” senyum Heechul.

Mereka berdiri di depan aula kampus mereka, diantara puluhan wisudawan lain yang juga merayakan kelulusan mereka. Di bandingkan orang-orang yang berteriak gembira itu, mereka tampak tidak begitu bersemangat. Heechul bahkan menolak untuk difoto.

“Kurang dua orang,” senyumnya pahit.

Haejin buru-buru berkata hendak ke toilet dan pergi sambil mengusap wajahnya.

“Minra pasti akan meninjumu sambil berteriak heboh sampai kau marah padanya,” kata Sungmin.

“Dan Tami akan berkata, ‘Chukkahae, Oppa,’” sambung Ryeowook.

“Dan aku akan berkata padanya kalau aku mencintainya,” balas Heechul.

Donghae memberi isyarat pada tiga yang lain untuk meninggalkannya bicara empat mata dengan Heechul. Setelah mereka pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Heechul.

“Ini ada di loker Tami, waktu kami beres-beres.”

Heechul membuka gulungan kertas itu dan matanya langsung berkaca-kaca. Itu adalah gambar wajahnya dengan tulisan ‘saranghae’ ditulis dengan tulisan tangan Tami.

“Tami selalu menyukaimu, Hyung, tak peduli kau selalu bermanis-manis pada semua perempuan yang kau temui,” kata Donghae.

“Ya~ kau pikir itu akan meringankan perasaanku?” tanya Heechul sebal.

“Ani,” geleng Donghae.

“Kalau saja aku tidak sok keren, sok jaga wibawa, dan langsung menuruti ajakannya untuk pulang…” gumam Heechul.

“Dia suka sifat Hyung yang sok keren dan sok jaga wibawa itu, kok,” Donghae menepuk pundak Heechul.

Heechul tersenyum hambar, lalu menyeka air mata yang untungnya belum sempat jatuh itu.

“Jaga Haejin baik-baik, Donghae-ya… jangan sampai sepertiku dan Tami. Cepatlah utarakan perasaanmu padanya. Jangan sampai dia lebih dulu menghilang,” katanya.

“Ne, Hyung. Aku menyesal seperti ini jadinya,” jawab Donghae.

“Kita semua menyesal. Tapi anehnya, aku merasa kalau mereka berdua tersenyum di atas sana,” Heechul menunjuk langit.

Donghae ikut menengadah, “Yah, si tomboy dan si tegar, hanya kita yang masih menangisi mereka di sini,” katanya setuju.

Haejin kembali bersama Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook, wajahnya sudah segar kembali.

“Ayo kita makan-makan, kutraktir. Kkaja,” ajak Heechul.

Kelima dongsaengnya mengangguk serentak dan mengikuti langkah Heechul. Donghae menggandeng tangan Haejin erat. Seperti yang dikatakannya pada Heechul tadi, dia akan menjaga gadis itu baik-baik. Sampai akhir hayatnya, tidak akan dibiarkannya Haejin mengalami teror itu lagi. Teror yang merebut dua teman mereka dalam dua malam.

***

__The End__

Annyeong lagi… ini heeShinju, maaf kalau ending kurang seram atau kurang memuaskan. Maaf juga kalau ada typo, dsb. Seperti biasa kritik dan saran sangat ditunggu di @heeShinju walau pun saya jarang ol, maklumin aja kalau lamaaaa banget ngebalas komen dan mention. Sampai jumpa di karya berikutnya ^^/

Ohyaaa, buat yang ingin di folback, plis jangan mention –> mind to folback atau sejenisnya, saya sangat tidak suka itu… lebih baik kenalan baik-baik, say hi dan keep contact, bukan cuma sekedar folback-folbackan… malah, saya makin males ngefolback kalau diminta folback ==”

Buat STYX, saya pengen bertapa dulu biar part-part akhir ini nggak mengecewakan. Harap sabar menunggu ya… makasih banyak.

Sekarang ini Nisya ^^ makasih banyak yg udah mau baca, mudah-mudahan masih dikasih kesempatan buat kolab lagi sama Aya hehehehe, she’s a great partner, jeongmal… wkwkwkwkwk makasih yaaa ^^

22 thoughts on “I Wanna Live [Last Shot]

  1. Hiks..hiks..hiks.. Terharu..Kehilangan teman itu paling nggak enak. Apalagi dengan cara tragis kayak gitu. Endingnya sedih, terutama pas lagi wisuda. Jadi kayaknya dari ff ini semua dapet pelajaran. Good ff. Kental dengan friendship.

  2. sedih banget…
    aku nangis bc ending’y… ;(

    apalagi kata2
    => “dia tersenyum….”
    “Maaf, telah memperlihatkan mimpi buruk padamu.”

    aku merasa bener2 kehilangan sahabat terbaikku… T.T
    ff yg sangat kental friendship’y…😀

  3. tragis amat nasib Minra ama Tami. .
    huhuhuhu gak enak banget kehilangan sahabat wktu kita masih ada salah ama dia, psti beban bgt. .
    tegang bcanya. .
    jdi itu monster??keren”, hiiii byangin wujudnya serem.

    bagusbagus^^

  4. Tami T.T
    Minra T.T
    kasian mrka😥
    wah, itu sosok Gong Sokjin’nya seram >.<
    untg aja ada pendeta dtg, jd Haejin dkk selamat u,u

  5. asli merinding disko gw baca ff ini
    tahan napas mulu sampe sesek
    LOL

    aku kira akhirnya bakalan kaya gini:
    semua kejadian mlm itu, vila itu, liburan itu, cuma mimpi haejin.
    ternyata ga. itu rupanya beneran!
    (o_o)

    great ff thor!
    share lg yg kaya gini tp yg lebih misterius lagi yak!
    *banyak maunya*
    hehe

    d^^b

  6. w kira endingnya bakal kaya crita2 horor lainnya. ternyata haejin msi diincer gitu. si sokjin ternyata masi ada. tapi ternyata ‘hepi ending’ juga… lega deh. hehe

  7. lagi2 saya beruntung karena baca dipagi hari..
    Fiuuuh..tegang tau ih bacanyaa..ampe beberapa kali tahan napas pas adegan myeramkan..fufufu..

    Itu pendeskripsian sosok sokjin naudzubilah..serem..
    Ampe kebayang2 tu sosok dikepalaku..terutama matanya yg tanpa kelopak..huee..andwaee..
    *tekep muka*

    ditunggu next colab nyaa..🙂

  8. Wahh akhirnya keluar juga last shootnya….
    Knp hrus mati Tami n Minra –” ksian s Haejin….
    Keren kq.. Walaupun kurang ngena endingnya…hehehe *bocahsotoy mode:on*😄

  9. wah part akhirnya publish juga, err suka mystery tapi kalo suruh baca malem plih mundur aja dch., sayang ya tami gak balik, kalo balik pasti jadian ama bang chullie, aku juga gak kebayang ama rupa tuh hantu, amit2 dah.. Hwaiting buat authornya..

  10. demi apapuun T.T
    sedih liat ada yang mati begitu T.T
    ada ya mahluk macam gong itu? mungkin maksud celah2 sempit didalam rumah itu digunakan sebagai jalan rahasia kali yaaa~ aigooo~
    ffnya bagus un
    part akhirnya memuaskan🙂

  11. waduh buku hariannya aja udah serem banget itu.
    ihh kasian haejin jadi paranoid sendirian gtu yah. haduh itu udah serem banget untung aja cuma mimpi doang yah. oke suasana makin mencekam. itu pendeta. ternyata si sokjin. ah sialan banget itu makhluk deh. kyaaaaaaaa~
    hm haejin gila berani banget dah itu. ya ampun itu mau dibunuh. itu tami sama minra. huwaaaaaaa kasian banget itu deh mereka berdua. haduhh sumpah kasian banget yah.
    akhirnya kelar juga deh itu. kasian banget nasibnya tami sama minra. untung aja haejin masih selamet. kisah cinta jinhae beruntung banget. ga kayak heechul sma tami. haduh padahal aku ngarep ini orang dua jadian #plakk
    nice ff deh mommma sama aya eon🙂

  12. kasian Taminya T^T aku benci semuanya yang ga percaya sama Tami. Kurang baik apa dia T^T *penggal semuanya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s