{JinHaeXy} Too True

Incheon, Minggu 22 Mei 2011

   Donghae berjalan melewati pintu-pintu dan menyelesaikan administrasinya di bandara, kemudian melangkah keluar, dan melihat mobil mengkilap milik Leeteuk sudah menunggunya. Donghae menarik tudung jaketnya agar benar-benar menutupi wajahnya yang sudah ditutupi oleh masker dan kacamata hitam yang tidak biasa ia pakai. Hoodie-nya juga bukan hoodie yang biasa ia pakai, karena ia menghindari kecurigaan dari netizen.

   Dia masuk ke dalam mobil dengan kaca gelap tersebut, dan Leeteuk menjalankan mobilnya. ”Jadi masalahnya sudah jelas?” tanya Leeteuk hati-hati sambil menatap dongsengnya itu.

   ”Menurut member di Taipei, itu perbuatan perusahaan, tapi belum jelas perusahaan siapa.” Sahut Donghae.

   ”Sekarang kita kemana?” tanya Leeteuk.

   ”Langsung saja ke dorm Haejin, Hyung.”

   ”Oke.”

   Leeteuk membawa mobilnya menembus lalu lintas yang memang tidak begitu padat. Mereka akhirnya tiba di apartemen Felidis, dan Leeteuk memarkir mobilnya di basement, seperti biasa, untuk menghindari kejaran massa. Mereka turun dan naik ke atas melewati lift basement menuju lantai 15, dimana anak-anak Felidis tinggal. Tepat ketika tiba di depan apartemen tersebut, Donghae masih terlihat ragu-ragu untuk menekan belnya.

   Leeteuk menepuk bahu Donghae dan meremas bahu adiknya itu, menguatkan. Donghae menghela napas dan menekan bel apartemen tersebut dua kali. Tak ada sahutan dari dalam.

   ”Apa sedang tidak ada orang ya, Hyung?” tanya Donghae. ”Mereka ada jadwal?”

   ”Coba lagi,” saran Leeteuk.

   Donghae menekan bel beberapa kali lagi, sampai akhirnya ada sahutan berupa, ”Ne, jamkaman!” dari dalam apartemen tersebut. Mereka bersiap-siap ketika pintu apartemen terbuka, dan muncullah Chihoon dengan wajah mengantuk, yang langsung melotot begitu melihat keduanya.

   ”Oppa?!”

   ”Annyeong, Chihoon-ah,” sapa Leeteuk.

   ”Chihoonie, Haejin ada?” tanya Donghae pelan.

   Chihoon menggeleng, ”Memang ada apa?”

   ”Chihoonie, jebal, aku mau menjelaskan masalah kami padanya, izinkan aku bertemu Onniemu,” mohon Donghae.

   ”Tapi dia memang baru pergi, Oppa…”

   ”Dia syuting?” tanya Leeteuk langsung. ”Dimana syutingnya?”

   ”Di Taipei,”

   ”Mwo?!”

   ”Barusan?”

   ”Ya setengah jam lalu lah baru berangkat… dia syuting disana.”

   ”Ke Incheon lagi, kaja!” Donghae buru-buru berbalik, diikuti Leeteuk yang mengelus kepala Chihoon tanda terima kasih.

*           *           *

Haejin duduk di kursi ruang tunggu sambil memeriksa paspornya, dia tersenyum tipis, membayangkan bahwa dia akan segera pergi ke Taipei. Dia akan meminta Donghae berkata jujur kepadanya, dan setelah tau yang sebenarnya, dia akan menuntut penjelasan dari Direktur-direktur JYP-nya segera, atau dia memutuskan untuk mengambil jalur hukum, Haejin menghela napasnya pelan.

   ”Ayo, sudah waktunya,” ajak Junjin Oppa.

   Haejin mengikuti Junjin Oppa dan kru Let’s Get Married, Minho dan Changmin juga ada disana, bersama Manajer mereka. Pesawat mereka kemudian berangkat ke Taipei. Dan nyaris pukul empat sore mereka mendarat di Taoyuan. Para penggemar DBSK, SHINee, dan Felidis ternyata sudah mengetahui keberangakatan ketiganya ke Taipei hari ini, sehingga bandara Taoyuan pun di penuhi para penggemar.

   Mereka dibawa langsung ke sebuah hotel, dan direncanakan nanti malam syuting akan dilaksanakan di salah satu pulau kecil di dekat pantai.

   ”Oppa, aku masih ada waktu kan ya?”

   ”Memang kau mau kemana?”

   ”Aku mau jalan-jalan sebentar, boleh ya? Nanti malam aku sudah kembali lagi kok kesini,”

   Junjin Oppa mengernyit. ”Memang kau bisa bahasa Cina? Kau kan tidak bisa bahasa lain selain bahasa Inggris?”

   ”Ah cuma sebentar, kok, Oppa, lagian orang sini juga ada lah yang bisa bahasa Cina, ya?”

   ”Tapi ponselmu kan tidak ada,”

   ”Nanti aku beli ponsel deh, ya ya ya?” dan Haejin kabur begitu saja, Junjin Oppa cuma geleng-geleng sambil cemas. Haejin turun ke lobi hotel setelah merasa cukup yakin dengan penampilannya yang tertutup dia naik taksi menuju alamat tempat tinggal Super Junior M selama di Taiwan.

   Haejin tiba di tempat tersebut dan langsung menuju apartemen Super Junior M, dan ditekannya bel apartemen mereka dengan tidak sabar. Dan Ryeowook lah yang membuka pintu. Ryeowook nampak terkejut melihat seseorang berpakaian hitam-hitam dengan topi, kacamata, dan masker hitam.

   ”Siapa?” tanyanya dalam bahasa Cina.

   Haejin menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang, lalu perlahan melepas semua atributnya. ”Donghae ada?” tanyanya langsung.

   ”Haejin!” seru Ryeowook kaget.

   ”Donghae ada tidak?”

   Sungmin muncul mendengar seruan kaget Ryeowook, dan langsung menarik Haejin masuk ke dalam apartemen dan menguncinya. ”Haejin-ah, apa yang kau lakukan disini?!” tanya kaget.

   ”Aku mau menemui Donghae,” sahut Haejin. ”Ayolah katakan dia ada dimana, lokasi syutingnya, aku benar-benar buru-buru!” desak Haejin.

   ”Tapi, Haejin… Donghae sekarang ke Korea, dia mencarimu!”

   ”Kurasa seharusnya dia sudah tiba di Korea.”

   ”Mwo?! Dia ke Korea?”

   ”Iya, kami mendesaknya agar mengatakan yang sejujurnya kepadamu perihal dia memintamu berpisah. Dan dia berangkat tadi pagi ke Korea, sumpah!” kata Ryeowook. ”Sekarang di dorm hanya ada aku dan Sungmin Hyung, yang lain sedang ada jadwal semua.”

   Haejin menghela napas, dan menunduk. ”Jangan bilang kami selisih jalan?”

   ”Ryeowook-ah, coba kau telpon Donghae!” seru Sungmin, sementara Ryeowook buru-buru mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Donghae, tapi sepertinya gagal.

   Haejin mengangguk. ”Ne, gwenchana, Sungmin Oppa, Ryeowookie, aku kembali saja. Aku harus syuting jam enam nanti, aku benar-benar buru-buru.”

   ”Arasseo, hati-hati di jalan, Haejin-ah,”

   ”Sampaikan saja, kalau dia menelepon atau apa, kalau aku mau bertemu dengannya,” pesan Haejin dengan wajah muram.

   Ryeowook menepuk bahu Haejin pelan. ”Gwenchana, Haejin-ah, kalian berdua pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Kalian memang harus membicarakannya, tapi mungkin bukan sekarang.”

   ”Ne, aku pergi dulu.”

   Haejin kembali ke hotel dengan semangat yang merosot. Dia ke Taipei, dan Donghae ada di Korea sana, betapa sepertinya takdir memaksa mempermainkan mereka berdua, dan dalam keadaan seperti ini. Haejin sudah tidak punya ponsel, dan memang sejak mengembalikan ponsel itu, hasrat Haejin berdekatan dengan ponsel sudah tidak ada, karena dia yakin tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak mengecek yang namanya BBM atau Direct Messege Twitter.

   ”Apa memang kami tidak jodoh?” Haejin mendongak ke langit, dan melihat betapa buramnya langit saat mentari menghilang, dan akhirnya melihat Choi Minho berlari-lari menghampirinya.

   ”Ya! Kau dari mana saja? Syuting sudah mau mulai, kami semua, bahkan aku dan Changmin Hyung sampai mencarimu kemana-mana!” katanya begitu Haejin yang berjalan pelan menyusuri pekarangan hotel.

   Haejin mendongak. ”Bukankah syutingnya nanti malam?”

   ”Ya memang, tapi kita kan harus menyebrang pulau,” sahut Minho, lalu dia menoleh ke belakang. ”Hyungnim! Haejin ada disini.” Dan kerumunan orang yang banyak di pekarangan belakang hotel, yang tidak terlihat oleh Haejin tadi, sekarang mulai berpencar.

   Changmin terkekeh dari sana. ”Sudah perempuan, nggak ada ponsel, pergi sendirian, ckckckck!”

   ”Mianhaeyo, Oppa! Mianhaeyo semua…” Haejin membungkuk.

   ”Kau ini! Membuatku cemas saja! Kau jalan sendiri ya ternyata?!” seru Junjin Oppa sambil menghampiri Haejin, dengan gaya ibu-ibu ngomel. ”Kalau tau kau akan pergi sendiri, takkan kuizinkan!”

   ”Oppa, aku kan bilang kalau aku akan pergi sendiri! Lagipula aku janji akan kembali petang! Kenapa pula harus mengumpulkan semua orang untuk mencariku, bahkan Minho dan Changmin Oppa!” tunjukku pada mereka berdua.

   Junjin Oppa mendesah kecewa. ”Aku kira kau dan Minho akan pergi berdua!”

   ”OPPA!” Haejin benar-benar malu. Manajernya ini punya sindrom MinHae Biased, dia sangat terobsesi menjodohkan Haejin dan Minho. ”Aku kan sudah bilang aku mau pergi sendiri!” sementara Minho tertawa.

   ”Ayolah, kalian berdua cocok, ya kan?” dia bertanya pada kerumunan kru.

   Dan koor kompak, ”Ne, pajoyo…” bisa didengar di seantero hotel.

   Minho merangkul Haejin. ”Jinja?! Kami cocok?” Haejin yang kaget bahkan tidak bisa berkata-kata saat Minho melakukan itu, apalagi ditambah sorakan seluruh kru yang bersuit-suit dengan Junjin Oppa yang paling heboh. Lalu Minho mengeratkan rangkulannya. ”No! Haejin itu terlarang, dia itu Noona Iparku.” Dan Minho tersenyum. ”Jadi mohon jangan salah paham.”

   Haejin nyengir kecil, sambil menunduk, sementara orang-orang sudah sibuk mengeluh kecewa, apalagi Junjin Oppa.

   ”Lebih baik Oppa cari pacar sendiri, daripada menggangguku!” seru Haejin sambil mengikuti stylist designer untuk mengganti bajunya dan siap syuting naik kapal kecil menuju pulau kecil di dekat pantai.

*           *           *

Donghae tiba di Taipei tepat pukul tujuh malam, sementara Manajernya sudah menelepon agar dia segera tiba di lokasi syuting Skip Beat. Sementara dari kabar yang dia dapat, Haejin dan kru Let’s Get Married hanya akan dua hari di Taiwan, dan kemungkinan besar selama dua hari tersebut Haejin akan sibuk syuting terus, dan dia sibuk.

   Betapa terkejutnya dia begitu dia tiba di apartemen Haejin, berita yang dia dapatkan adalah gadis itu justru pergi ke tempat dimana seharusnya dia berada, Taiwan. Mereka benar-benar seperti ditakdirkan untuk tidak bertemu.

   ”Otokhe, Siwonnie?” tanya Donghae lewat telepon. ”Haejin justru ada di Taipei saat ini, dan aku harus syuting!”

   ”Sabar, Donghae-ya, tenang ya, aku akan ikut memikirkan cara…”

   Donghae menjawab lirih. ”Siwon-ah,”

   ”O?”

   ”Apa menurutmu, aku tidak jodoh dengannya? Sampai saat seperti ini, kami bahkan tidak bisa bertemu? Aku ke Korea, ternyata dia ke Taiwan.” Donghae berkata lemah. ”Siwonnie, apa yang kau lakukan jika ini kau dan Ririn?”

   Siwon terdiam sebentar, kedengaran berpikir sebelum menjawab, ”Kalau tidak jodoh? Maka jodohkanlah…”

   ”Mworago?”

   ”Ya! Tuhan tidak akan merubah nasib umat-Nya, kecuali jika umat-Nya berusaha sendiri! Masa baru seperti ini kau menyerah, Hae?” tanya Siwon lagi. ”Rintangan yang akan kita hadapi bersama kekasih kita, pasti masih banyak, ini saja baru tahap pacaran. Belum lagi nanti jika sudah masuk rumah tangga. Kau harus kuat, Hae.”

   ”Ne, kau benar,” Donghae tersenyum kecil. ”Kalau begitu aku akan ke hotel Haejin sekarang!”

   ”Tapi kan kau harus syuting,”

   ”Nah kau bujuk sutradara dulu ya,” dan Donghae langsung mematikan sambungan teleponnya, menyisakan Siwon yang bertampang speechless, harus bicara apa dia pada sutradara soal absennya Donghae?!

   Sementara Donghae berhasil mendapatkan informasi soal hotel tempat menginap kru Let’s Get Married, lewat iPad tentu saja. Dia tiba disana, dan mendapatkan kabar bahwa syuting sudah dimulai satu jam yang lalu, dan kru Let’s Get Married kini menuju sebuah pulau kecil, yang akan dipakai sebagai lokasi syuting entah episode berapa, dan yang jelas, Haejin sudah ikut pergi bersama rombongan.

   ”Ne, aku memang pantas menunggu,” desah Donghae lelah. Matanya sudah pedas, akumulasi kurang tidur, dan kelelahan. Akhirnya Donghae memutuskan untuk memesan sebuah kamar di hotel tersebut, yang satu lantai dengan kamar Haejin.

   Ditunggunya Haejin kembali, tapi ada kemungkinan syuting yang memang tidak bisa ditebak waktunya, akan selesai esok hari. Donghae terus menunggu di depan pintu kamarnya sendiri, karena jarak beberapa pintu, disitu adalah pintu kamar Haejin, dan Donghae tidak mau ketiduran di dalam saat Haejin pulang nanti, pokoknya jika Haejin kembali, dia harus langsung menemuinya, dan itu tidak bisa di tunda lagi!

   Tapi apa daya, kelelahan yang amat sangat pada diri Donghae membuatnya akhirnya tertidur dalam keadaan memeluk lututnya di depan pintu kamar hotelnya sendiri.

*           *           *

Haejin dalam keadaan dibungkus handuk, dan rambut basah turun dari kapal kecil itu ke darmaga kecil di pinggir pantai, dia mulai bersin-bersin sementara para kru mengangsurkan botol minum air hangat kepadanya, Minho dan Changmin yang sekujur tubuhnya basah juga.

   Karena beberapa kendala, maka syuting agak molor, sehingga adegan berenang di lautnya harus menunggu tengah malam baru di laksanakan. Itu juga dengan retake beberapa kali terjun dari tebing yang tidak terlalu tinggi, namun memakan tenaga. Maka, ketika adegan renang itu rampung, ketiganya langsung dibawa kembali ke hotel tanpa ritual mengeringkan rambut dan sebagainya.

   Kepala Haejin mulai pusing, dia juga kurang tidur, dan kurang makan, dan banyaknya pikiran yang merecoki kepalanya membuat kondisi fisiknya menurut perlahan-lahan. Bersinnya bahkan tak kunjung henti, dan wajahnya mulai memucat saat dibawa ke hotel lagi.

   Para kru memberikannya air jahe hangat, dan Haejin meneguknya pelan-pelan. Dia malah mau menangis, padahal rencananya secapek apa pun dia, dia akan langsung mencari tau keberadaan Donghae lagi, dan akan langsung menanyakan kejujuran itu langsung dari mulutnya sendiri, tapi fisiknya benar-benar sudah tidak mau diajak kompromi sama sekali.

   Junjin Oppa masih sibuk menelepon ke Seoul, sementara Haejin naik sendiri ke atas, bersama beberapa staff yang kamarnya, tentu saja, berbeda kelas dengan kamar Haejin, Minho, dan Changmin, yang memang dipesan sedikit lebih mewah dibandingkan para staff.  Minho dan Changmin malah lain lagi, mereka pergi ke tempat sauna dahulu, jadilah Haejin sendirian tiba di lantai delapan, dimana kamarnya berada.

   Haejin bersin dua kali sebelum akhirnya dia tiba di depan pintu kamarnya, Haejin menarik keluar card-nya dan menggeseknya di pintu kamarnya, yang langsung berbunyi kecil, tanda pintunya terbuka, dan terdengar suara batuk kering dari belakangnya.

   Haejin menoleh, dan melihat seorang pria yang bergelung di depan salah satu pintu kamar, yang jaraknya empat kamar darinya. Di dorong rasa penasaran, Haejin mendekati pria itu, dan sadar kalau pria itu tertidur. Maka Haejin memutuskan membangunkannya.

   ”Paman bahasa Cinanya apa ya?” tanya Haejin sebelum pelan-pelan menepuk bahu pria itu. ”Kalau kupanggil ’ahjussi’ nanti dia tidak mengerti. Ya sudahlah, Ahjussi saja…” Haejin menepuk bahu pria itu. ”Ahjussi… Ahjussi, bangunlah! Wake up!” ucap Haejin.

   Pria itu tetap menunduk, pulas.

   ”Ahjussi! Ahjussi! You sleep in front of people’s room, what if the owner report you as a thief… oh, please, Sir, wake up! Ireona!” Haejin dengan kencang menepuk bahu pria itu, dan pria itu terjatuh sambil terbatuk tapi tak terbangun.

   Haejin terbelalak saat mengenali pelupuk mata yang menutup itu, lalu Haejin pelan-pelan menarik turun masker yang dikenakan pria itu, dan betapa terkejutnya dia mengetahui identitas ’Ahjussi’ itu. ”Lee Donghae?! Apa yang kau lakukan disini?!” desis Haejin memandang berkeliling, memastikan tidak ada siapa-siapa, sebelum menepuk-nepuk pipinya. ”Donghae-ya, Donghae-ya, bangun!” terasa di permukaan kulit tangannya, bahwa pipi yang sedang ditepuknya panas. Haejin meraba kening pria itu, dan memang suhu tubuhnya sudah panas. ”Ya Tuhan!” Haejin menarik Donghae bangun, dan menyeretnya masuk ke dalam kamarnya yang masih terbuka oleh Haejin.

   Donghae bahkan tidak terbangun saat Haejin dengan susah payah menyeret tubuhnya, yang meski terlihat kecil, namun tetap saja berat bagi seorang wanita untuk membawanya dengan tangan kosong sendirian pula. Haejin menarik Donghae naik ke atas ranjangnya, dan dengan susah payah membetulkan posisi tidur Donghae. Lalu melepaskan jaket tebal Donghae, beserta sepatu yang masih dikenakannya.

   Lalu dengan panik Haejin mengambil gayung dan handuk dari kamar mandi. Gayungnya diisi dengan air dingin, dan handuknya dicelupkan ke dalam situ, lalu di kompresnya kepala Donghae yang panas. Awalnya tidur pria itu gelisah, tapi lama kelamaan tidurnya semakin nyenyak dan diam.

   Haejin melirik jam, sudah pukul empat pagi, dan dia belum tidur sama sekali, badannya sudah benar-benar remuk, tapi dia khawatir terjadi sesuatu pada Donghae. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Apa yang pria ini lakukan disini? Kenapa dia bisa panas? Dan, tentu saja, betapa rindunya dia pada pria yang sedang sakit di hadapannya kini. Haejin menguap beberapa kali, kemudian kembali duduk di kursi yang ditarik dari meja makan, yang ada di dalam kamar hotelnya.

   Dipandanginya wajah tampan Donghae yang tertidur pulas itu, perlahan-lahan seulas senyum muncul di wajah Haejin yang pucat. Dan air mata meleleh di kedua pipinya, ”Aku merindukanmu, Ikanku… kenapa kau jadi candu buatku?! Kenapa aku tidak bisa lepas darimu? Membencimu pun aku tak mampu…” dielusnya perlahan wajah tampan yang tertidur itu, matanya, hidung mancungnya, pipinya, dan terakhir dielusnya pelan bibir yang menutup itu.

   ”Ah, kepalaku pusing…” keluh Haejin sambil memijit pelipisnya, dan kemudian bersandar di kursi itu, dan tertidur.

*           *           *

Donghae merasa nyaman, dalam tidurnya, kasur empuk yang sudah lama tidak dia rasakan, dan ada kehangatan yang menyusup dalam dirinya, dan berkas-berkas cahaya yang menyelusup dalam matanya. Berbagai pikiran menyambarnya pada saat yang bersamaan, dan pada saat itulah dia merasa ada yang salah! Dia kan seharusnya menunggu Haejin!

   Donghae membuka matanya, dan kaget bahwa dia sudah ada di atas kasur empuk, dan di dalam kamar yang mewah. Lalu dia duduk dan kaget mendapati gadis yang ingin dia temui tertidur di kursi dengan posisi tidak enak. Apalagi wajahnya pucat, Donghae menoleh ke meja kecil di samping tempat tidur. Ada gayung dan dia memegang handuk kecil.

   Apakah dia semalam sakit? Dan Haejin yang merawatnya? Haejin yang sudah ditinggalkan olehnya dengan seenak hati, kini merawatnya yang sakit? Tapi, Haejin juga pucat, dan dengan panik Donghae meraba kening gadis itu. Panas! Bibirnya yang biasanya merah, jadi biru pucat.

   Mata Haejin terbuka pelan-pelan saat Donghae berusaha mengangkatnya untuk berbaring di tempat tidur. ”Sudah… bangun?” tanyanya pelan pada Donghae.

   ”Sudah,” jawab Donghae pelan, sambil merebahkan tubuh Haejin, dan menarik selimut menutupi tubuh gadis itu. ”Badanmu panas sekali, tunggu aku kompres dulu!” dan Donghae mengambil air lagi di dalam kamar mandi, beserta handuk kecil baru, dan mulai mengompres kepala Haejin.

   Haejin membuka matanya sambil terus berusaha fokus melihat Donghae. ”Donghae-ya…”

   ”Hmm…”

   ”Kenapa disini? Kenapa bisa tidur di depan kamar itu?” tanya Haejin dengan suara mengantuk.

   ”Tidurlah… nanti baru kita bicara, kau istirahat dulu! Kenapa kau tidur di atas kursi semalam?!” tanya Donghae.

   ”Aniyo… aku mau dengar dulu kenapa kau…”

   ”Suaramu sudah lemah seperti itu, Lee Haejin! Jadi dengarkan kata-kataku, tidur dulu, dan aku akan belikan obat!” kata Donghae tegas sambil berdiri, tapi Haejin menarik tangannya, dan duduk mendadak.

   Haejin menggeleng. ”Kajima!” isaknya. ”Jebal, kajima…”

   ”Aku nggak akan kemana-mana, aku cuma mau beli obat,” kata Donghae pelan, dan mengeratkan genggaman tangan Haejin untuk meyakinkan gadis itu, kalau dia tidak akan meninggalkannya lagi.

   Haejin terus menggeleng. ”Nggak!” dia terus mencengkram tangan Donghae. ”Kau tidak boleh pergi! Jelaskan dulu padaku, kenapa kau pergi?!”

   Akhirnya Donghae menyerah, dia menarik kursi yang ditiduri Haejin, dan duduk di situ, dengan tangan masih dalam cengkraman Haejin. ”Mianhae, Haejin-ah, aku salah sudah pergi.”

   Haejin terus menatapnya meminta penjelasan meski dengan wajah pucat.

   ”Sebetulnya,” Donghae memilin jari-jari Haejin dalam genggamannya. ”Aku berbohong, aku sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku bicara begitu, agar kau meninggalkanku…”

   Perlahan Haejin mulai melepaskan tangannya. ”Jadi, kau memang mau aku pergi?”

   ”Bukan begitu maksudku,” Donghae menatap Haejin dengan pandangan memohon. ”Aku terpaksa! Kalau bukan kau taruhannya, aku tidak akan pernah mau melakukannya!”

   JDERR!‼

   ”Apa maksudmu aku taruhannya?!”

   ”Ada yang mengirim foto kita berdua…” jelas Donghae lirih. ”Foto kita berdua sedang berciuman di tempat syutingmu waktu itu. Kalau aku tidak melepasmu, maka foto itu akan disebarkan…”

   Haejin berusaha mengatur napasnya.

   ”Dia mengancam, jika aku tidak melepasmu, maka… maka… akan terjadi sesuatu padamu, karena dia selalu mengikutimu, Haejin-ah. Setiap apa yang kau lakukan, foto-fotomu selalu sampai padaku dengan pesan agar aku tetap tidak kembali padamu.” Lanjut Donghae. ”Aku takut…” Donghae mulai menangis. ”Aku takut dia benar-benar melakukan sesuatu padamu, apalagi aku tidak ada di Seoul untuk menjagamu. Aku bicara begitu supaya kau pergi… aku tidak tau bahwa itu berdampak buruk bagiku, dan bagimu…”

   Haejin masih dazed off mendengar penuturan Donghae.

   ”Aku bodoh sekali, aku tidak menjelaskan duduk perkaranya sejak awal kepadamu… dan saat kukira kau sudah bisa tanpaku,” Donghae menghela napas. ”Kau melakukan itu… kau memukul kaca, dan tanganmu berdarah! Aku tau itu pelampiasan sakit hatimu… aku merasa buruk sekali! Aku tau bagaimana hancurnya kau dulu, tapi aku melakukannya lagi, membuatmu hancur lagi…”

   Haejin mendengus. ”Itu perbuatan perusahaanku pasti…” Haejin menunduk. ”Rasanya mereka tidak akan pernah berhenti untuk menggangguku. Aku dan Taecyeon berpisah juga karena mereka, dan sekarang sudah pasti ini perbuatan perusahaan!” Haejin menangis. ”Aku tidak akan bisa memiliki kekasih sampai kapan pun, aku akan selalu dibuat seperti ini!”

   ”Aniya! Aku yang bodoh!” Donghae menggenggam tangan Haejin. ”Haejin-ah, kita ambil resiko itu bersama! Aku akan menghadapinya bersamamu… aku tidak mau jadi pengecut lagi!”

   ”Apa maksudmu?”

   ”Aku tidak peduli perusahaanmu mau mengancam menyebarkan foto atau apa, aku siap dengan semua konsekuensinya!” katanya mantap dengan tangan menggenggam tangan Haejin. ”Lihat aku, Haejin-ah…”

   Haejin menatap mata Donghae yang teduh itu.

   ”Kita hadapi bersama, oke?”

   Haejin masih menangis. ”Aku… aku… kalau begini terus, mereka tetap akan berusaha terus memisahkanku darimu, Hae.”

   ”Maka kita harus lebih sering terbuka,” sahut Donghae. ”Aku janji akan cerita apa pun kepadamu, dan mulai tidak menyembunyikan apa-apa darimu. Kumohon Haejin-ah, sudah cukup seminggu lebih ini aku menderita… kembalilah padaku…” pintanya serius.

   ”Lee Donghae,” Haejin meletakkan sebelah tangannya di pipi pria itu. ”Kau yakin menjalani kehidupan seperti ini bersama gadis sepertiku?”

   ”Gadis sepertimu apa maksudmu?!” tanya Donghae. ”Aku tidak melihat apa-apa lagi selain kau. Percayalah padaku…”

   Haejin mengangguk. ”Aku percaya, tapi aku yang tidak punya kepercayaan diri untuk ini. Aku tidak tau lagi, sudah dua kali perusahaanku memperlakukanku seperti ini! Bukan tidak mungkin mereka akan berusaha memisahkan kita lagi, Hae…”

   ”Yang penting sekarang, kau percaya padaku, dan aku percaya padamu, soal itu, kita hadapi bersama!” Donghae memegang kedua pipi Haejin dalam telapak tangannya. ”Jebal kembalilah padaku.”

   Air mata turun lagi dari pipi Haejin. ”Aku tidak akan pernah kembali, Hae…”

   Donghae terkejut.

   ”Karena aku memang tidak pernah pergi… aku, masih disini…” diletakkannya tangannya di dada bidang Donghae.

   Donghae tersenyum dan memeluk erat gadis itu. ”Maafkan kebodohanku, Haejin-ah. Jangan lakukan hal bodoh seperti kaca-kaca itu, kau tau aku tidak berhenti menangis melihatmu melakukan hal itu.”

   Haejin mengangguk sambil terisak kecil di pelukan Donghae. ”Maaf juga tidak percaya padamu pada awalnya.”

   ”Ne, jangan ada putus lagi, kumohon…” pinta Donghae memelas.

   ”Semoga.” Sahut Haejin. ”Aku juga berharap begitu.”

   Donghae melepaskan pelukannya, lalu menautkan jari-jari di kedua tangannya dengan jari-jari di tangan Haejin, lalu menempelkan keningnya di kening Haejin. Mata mereka bertatapan, dan mereka bisa merasakan deru napas satu sama lain.

   Donghae mengecup pelan bibir Haejin.

   ”Saranghae, Momma…”

   ”Huaaa…” Haejin langsung nangis lagi dan memeluk Donghae erat.

   ”Eh, kenapa? Kok nangis lagi?” tanya Donghae.

   ”Aku kangen panggilan itu,” isak Haejin. ”Kukira aku tidak akan pernah mendengarnya lagi dari mulutmu, Poppa…”

   ”Aku selalu menyebutmu Momma, jadi kapan barang-barang yang kau kirim padaku mau kau ambil lagi?”

   Haejin langsung memekik. ”Aigo! Aku tidak bisa tidur karena bonekaku semua kukirim padamu…”

   ”Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu yang sudah membenciku,”

   ”Ah, andai aku bisa.”

   ”Andwe!” rengek Donghae. ”Selamanya Lee Haejin hanya milik Lee Donghae! Bukan orang lain…”

   ”Cih~ curang, lalu Lee Donghae boleh jadi milik siapa saja gitu? Haejin juga mau dong…”

   ”Gak boleh!” balas Donghae.

   ”Curang!”

   ”Biarin! Biar semua orang tau, kalau Lee Haejin itu memang pacarnya Lee Donghae!” kata Donghae seperti anak kecil, dan mulai menciumi pipi Haejin bertubi-tubi, dan turun ke leher.

   ”Ahhh geli ah!” dorong Haejin sambil cekikan.

   ”Kasih tanda dulu!”

   ”Gak mau, Poppa mesum!” dorong Haejin dan Haejin berlari menghindar, sementara Donghae mengejarnya. Entah karena badan Haejin yang masih tidak enak, atau memang dia yang mau ditangkap, dengan mudah Donghae sudah menangkap pinggang Haejin dan membawanya ke ranjang.

   ”Ah, kepalaku pusing…” keluh Haejin.

   ”Kan, pusing! Sudah aku beli obat dulu deh…” Donghae berdiri.

   ”Ah, jangan, sini aja…”

   ”Kangen ya?”

   ”Cih, siapa bilang! Kamu yang kangen sama aku…” kata Haejin pede sambil memunggungi Donghae dan memeluk guling.

   ”Mwo?! Yakin?” ledek Donghae dan mulai menggelitiki perut Haejin, sambil dia sendiri menciumi pipi dan turun ke leher Haejin.

   ”Poppa geli!” jerit Haejin.

   Donghae membalik tubuh Haejin menghadapnya, ”Ayo tidur deh kalo gitu! Kapan pulang? Istirahat sini dulu ya,” dia mencium bibir Haejin singkat.

   ”Paling siang nanti pulang,” sahut Haejin sambil memeluk Donghae lebih erat.

   ”Aku juga harus syuting, bersabarlah, Sayang… aku segera pulang kok,” diciumnya lagi bibir Haejin pelan. ”Dan bersabarlah, kita pasti bisa melewatinya… bersama.”

   Haejin mengangguk. Tak ada lagi yang boleh mempermainkan mereka berdua setelah ini. Haejin sadar, rintangan mereka masih banyak, tapi dengan yakin dan percaya, semoga semua bisa ia lewati.

   Bersama Donghae.

END

Oke cukup bergalau ria-nya sampai disini #plakk feel refreshed setelah satu minggu lebih tiga hari putus #slapped wkwkwkwkwk, tetep aja demen ama Hae! Pelet si Ikan beneran kuat kayaknya… hahahahaha

Siapa yang ngambil foto Haejin itu nanti akan dijelaskan di JinHaexy berikutnya, pokoknya di ff di atas udah ada clue-nya siapa orangnya, tapi yang jelas lanjutannya udah bukan ff kegalauan hati saya. Mudah-mudahan gak ada gosip yg emang selalu bikin saya down itu, dan saya bisa publish ff lain lagi  amin ^^

makasih buat semua yang menunjukkan dukuangan dan apresiasi, aku terharu banget… *bow* saranghae *cium satu2* maaf  kalo yg ini ff-nya gak memuaskan, aku ngetiknya rada-rada maag kumat soalnya ^^ makasih semuaaaa

78 thoughts on “{JinHaeXy} Too True

  1. YEAAAAAH!!!
    akhirnya Tuhan menjawab kegelisahan saya selama baca beberapa FF terakhir jinhae!!

    balikan, balikan, balikan *narinarigaje*

    wkwkwk, aku seneng, SENENG BANGET lebih tepatnya pas baca part ini. ngga ada yang aneh, semua oke, semua keren, semua sesuai harapan!!

    standing applause buat Nisya onnie!! jangan galau lagi ya onn. aku kayak lagi sport jantung kalo baca ff yang onnie bikin pas onnie galau..

    hehehehe🙂

  2. sepppp….
    bahagia…bahagia…
    akhirnya,

    tapi…haeppa kok mesum bnget seh,ckckckck*jadi mau*

    jinhae…kembali…~~!!

  3. *bawa pompom* huwaaa akhirnya JinHae kembali.. *sujud syukur*…
    yah kesisiban (?) bener khan?? tapi akhirnya.. ah skinship couple kembali,, meski sakit tetep aja ga bisa hilang mana si Hae makin mesum aja tu…
    Otakku selalu ngira klo Junjin Oppa, manajernya Felidis yang ambil tu foto.. habisnya dia khan MinHae shipper… mungkin kyk gitu…
    ni Part menguras perasaan bener dah *jiah bahasa saya*…
    HAejin kuat banget ya nyeret Hae….
    pokoknya ntar jgn ada lagi galau2 yak,…
    Nisya,,, FFmu daebak…

  4. ya allah ahirnya ikan ikan lo ga bwt banjir lagi *dgampar*

    nah gtu donkk

    harus percaya benre tuh kunci klo LDR
    sahhhhhh

    hayolah mari qta bongkar kasus ini (?)

    udh empet jg aye ne sm tuh org. dikira apa ganggu jinhae ga ganggu yg laen. GANGGU BGD WOY…ampe ga bisa mesra2an
    Ok abaikan itu *plak*

  5. Well pasangan pg ini kembali lagi! Popa n moma it emg plg top! Jdi, takada lagi yang bisa menghalangi mereka ber2.. Sekalipun minho oppa, atau taec oppa yg notabennya mantan haejin! Kya~ haeppa~ jaga haejin eon!! Lu buat masalah lg gue ga segan segan ngeluarinlu dari kamarmandi loh!!~~ *galakamatya? Ditendang elffishi ntar gue * eon, awet awet y ama haepa! Aku restuin luardalem kok! Iklas 100% kok! Nisya eon paiting yau,,

  6. JinHae baekan lagi…
    *tiup terompet*
    akhirnya.. ga galau2an lagi..
    tapi dasar skinsip couple, baru juga beberapa menit baekan uda kiseu2an lagi, ckck

    nah, ini lho, yang ambil poto2 itu,
    ntah kenapa feeling aq tu si stalker itu tu JunJin, o.o”
    *jiwa detektif kumat*

    kalo bener kasi hadiah ff yaaa?
    #plaaak XDv

    saya tunggu kelanjutan jinhaexy nya,
    JinHae couple jjang!!😀

  7. YEAH!!!!
    Donghae oppppaaaaa~ keren *lohloh*
    Akhirnya pergalauan selesai donghae oppa jgn galau yah begitupun sama haejin
    Jangan saling menyakiti krn kalo hae sakit aku juga sakit *lohloh*
    Jangan galau2 haejin kasian uri donghae
    Entar kalo galau terus hae-nya aku ambil looohhhhh *hahahaaaaa*
    Yoooo yoooo~ semangat nis

  8. horehore.. *jingkrak2* balikan lg akhirny, jgn pts lg y, nanti menyiksa kalian lg!
    untung ajj haejin penasaarn tuh ma ajusshi!!
    ckckckk, cium2 leher, aigoo *bkin iri* dah lm nie g skinship! itung2 pnyemangt nie!!hhehe
    tp was lho rangkali ad yg mergokin! gwt atuhh
    duhh, mian eonn aq curiga manajer oppa mu nie pelakuny!!
    next ff slalu d tunggu!!

  9. errrrrr……akhirnya mereka balika juga….takut kalo sampe gak balikan bisa tama nich jinhae…..kkkkk, ahhh skinshipnya dah kambuh aja nich,, mana gak tau keadaan sakit2 masih aja mau…kkkkk
    tapi seruuuuuuuuuuuuuuuuuu

  10. yeee…:)
    akhirnya jinhae bersama lagii… senangnya. tapi nanti masih ada lanjutannya kan siapa yang ngambil foto tu???
    jinhae sakit ya?? sakit aja barengan…memang pasangan yang serasi.

  11. asyik….#jingkrak3modeon#….jinhae blikan lg…mkasih y chingu udh buat mrka blikan lg…jinhae couple emng gk bs trpisahkan…..snang bgt wktu hae blng”lee haejin hanya milik lee donghae….”
    slamat y chingu udh gk galau lg…n lnjutin trus ff jinhae couple n aq jg udh pnasaran sma yg ngfto junhae smpai buat mrka ptus sbntar….congrat chingu ya

  12. Ye ye ye*joget2 gaje smbil megang pom2* wkwk
    mank g ad yg bsa misahin donghae m haejin.
    Wlopun bnjir bandang, gempa, tsunami + co2 ckep n ce2 cntik (?)
    penasarn bget onn ma org yg udh moto hae m haejin.
    Jgn2 junjin oppa ya?O.O
    ah, ska bget m kta2 haejin.”aku tidak akan pernah kembali, hae krna aku memang tidak pernh pergi*
    waaah >,< so sweet.
    Haejin m donghae mank serasi dh, cri2an,tunggu2an + skitpun gantian. Jgainny ganti jga -.-"
    sumpah dh onn, geli pisan m adegan kisseu2 it brrrrr

  13. kkkkkk, senangnya jinhae balikan lagi hahaha, aigooo jinhae baru aja balikan udah romatisan romantisan aja langsung skinship lagi wkwkwkwk, hehh aku seneng banget deh pokonya ama yg ini wkwkwkw heh di tunggu onnie yg dalang dalang nya itu hehe

  14. Keseringan baca ff naruto jadi lupa gak kesini, maaf *cium
    tuuuuh paaaaan pasti balikan lagi *getok
    yang kuat ya :*
    moga hae gak kayak hyung nya :’)

  15. saling kejar-kejaran,sakit sama sakit,sama2 tukang nangis,putus nyambung -putus nyambung,ppopo-ppopo’an..Huuuaaaa…gemes-gemes sma jinhae..*cubitin jinhae*
    seneng dehh,galaunya udahan..awas klu putus lg,ntar skinship couple ilang dr dunia per-FF’an..kwkwkwk …”WELCOME BACK FISHY couple” hahaha …

  16. Ahh ternyata udah baca yang ini. Scene disini emang bikin geregetan banget >.< emang jinhae seharusnya gaboleh dipisahkan. JINHAE HIMNAE!!
    Duhh itu yah poppa ko dikit2 cium pipi terus turun ke leher.. terus gitu lagi.. bilang aja kau mau lebih turun lagi poppa.. momma pasti ngasih kali #kabuuuur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s