Miracle ~Part 2~

“Waah, kamarnya besar, rapi dan bagus,” pikir Heechul lalu kembali tertidur di tempat tidur Minri yang empuk dan hangat. Ketika matahari sedang terik-teriknya bersinar, barulah ketiga orang yang tertidur dengan nyenyak sejak fajar tadi terbangun. Gienim terbangun dengan gembira. Dia sadar kalau hari itu tak harus duduk dalam kelas dan mengerjakan berbagai tugas.

Perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya dan mandi. Ketika sedang mandi, ia mendengar suara pelan dalam kamarnya. Gienim tersentak, memasang teling lebih seksama, berusaha mendengar siapa yang ada dalam kamarnya. Kemudian sadar kalau yang masuk kamarnya adalah Haejin. Karena Haejin berseru memanggilnya.

“Ne onnie. Aku di kamar mandi. Sebentar lagi selesai,” sahut Gienim. Tak lama berselang Gienim keluar dari kamar mandi. “Wae onnie?” tanyanya pada Haejin yang duduk di tempat tidurnya. “Kita makan diluar aja ya. Mau nggak?” tanya Haejin. “Mau doong. Kenapa enggak. On youkanonnie?” jawab Gienim sumringah, karena lepas dari tugas masak dan membereskan sisa makanan.

Haejin hanya nyegir mendengar ucapan Gienim. Keduanya pun lantas bersiap-siap. Ketika sudah rapi, “onnie, Minri onniekankerja. Heechul oppa dimana? Semalamkandia tidur di sofa. Masih di sini apa sudah pulang?” Haejin mengangkat bahu, “molla. Kita cari aja yuk biar pasti,”. Maka keduanya pun mencari Heechul di seluruh penjuru rumah.

“Gienim-ah, mungkin dia sudah pulang. Aku nggak lihat dia,” kata Haejin setelah beberapa saat mencari. “Iya, aku juga nggak lihat,” balas Gienim. “Jadi? Kita pergi aja?” ujar Haejin lagi. “Yuk deh. Aku sudah lapar,” kata Gienim. Keduanya sudah berjalan menuju pintu, ketika terdengar langkah seseorang menuruni tangga.

Haejin dan Gienim berpandangan. “Waspadalah Gienim,” kata Haejin pelan. Keduanya menoleh dalam diam dengan waspada. Baik Haejin maupun Gienim sudah mengangkat tangan mereka, ketika orang itu kelihatan. “YAAA! Apakah ada orang di rumah?!” seru orang itu. Gienim menurunkan tangannya dan menjawab, “Heechul oppa? Oppa dimana?”

Tak lama kemudian Heechul menampakan batang hidungnya. Sementara kedua sepupu itu menarik nafas lega. “Kukira kita bakal bertempur lagi,” bisiknya pada Gienim. “Oppa, yuk kita makan. Terus kami antar oppa ke dorm,” kata Gienim pada Heechul. “Ayo, “ balas Heechul lalu membuka pintu. “Oya, tadi oppa dimana? Kami cari nggak ketemu,” tanya Gienim lagi.

“Aku di kamar Minri. Tadi sebelum berangkat kerja dia mebangunkanku. Katanya kalau mau pulang dia antar. Tapi kalau masih mau di sini, pindah aja ke kamarnya,” jelas Heechul. “Ooooh, pantesan,” ujar Gienim dan Haejin serempak. “Pantesan apa?” tanya Heechul. “Kami cari nggak ketemu. Soalnya kami nggak cari di kamar onnie,” sahut Haejin, sambil mematikan alarm mobilnya.

Kali ini tak seperti biasanya kedua sepupu itu naik Audi-nya  Haejin. “Mau aku yang nyetir?” tawar Heechul. Haejin dan Gienim berpandangan,  nyengir. “Boleh-boleh, dengan senang hati,” jawab Haejin girang. Haejin memang paling malas mengemudi kalau tidak terpaksa. Begitu juga dengan Gienim.

Maka Heechul pun duduk di kursi pengemudi, membiarkan empunya mobil duduk di kursi belakang. Setelah makan siang yang ternyata membutuhkan waktu sekitar 2 jam, mereka akhirnya menuju dorm Super Junior. “Mau diantarin sampe atas?” goda Haejin pada Heechul. Heechul nyengir, “kalau nggak keberatan, aku mau aja,” balasnya.

Gienim tertawa mendengar balasan Heechul. “Kena kau onnie,” ujarnya pada Haejin yang tersenyum pasrah mendengar balasan Heechul. “Ya Heechul ssi, aku mewakili Minri onnie dan Gienim, minta agar kau merahasiakan kejadian semalam. Maksudku jangan bercerita tentang kami,” kata Haejin sebelum Heechul turun dari mobil.

“Bagaimana kalau manajer hyung bertanya tentang kenapa aku semalam nggak pulang?” tanya Heechul. “Ehhm terserah bagaimana menjawabnya. Yang penting jangan cerita tentang kami,” jawab Haejin tegas. “Arraseo, ok. Aku nggak akan cerita soal kalian. Jadi aku harus mengarang indah nih,” balas Heechul. “Gomawo,” sambut Haejin.

Heechul pun turun ditemani Gienim yang berkeras mau mengantarnya ke dorm. Gienim bermaksud membantu Heechul oppanya menghadapi masalah yang akan segera dihadapi, selain memastikan Heechul tak membongkar rahasia mereka. Keduanya segara sampai di lantai 12. Lantai dimana Heechul tinggal, meninggalkan Haejin di mobil sendirian.

Heechul memasukan kode keamanan, dan pintu pun terbuka dengan bunyi, titeririt.. “Ayo masuk,” ajaknya pada Gienim sambil melangkah masuk diikuti Gienim di belakangnya.  Tak lama setelah mereka masuk ke ruang tengah yang rapi dan sepi, “Ya Heechul-ah, dari mana saja kau?” sebuah suara bertanya.

Gienim menoleh terkejut ke arah suara itu berasal. Dilihatnya seorang pria yang belum pernah dilihatnya sebelum ini. Gienim yakin kalau pria itu pasti salah satu manajer Super Junior. Dia menelan ludah sambil berharap semoga Heechul oppanya tak mendapat masalah. Heechul menyapa pria itu. “Hai hyung,”

“Kemana saja kau sejak kemarin? Kenapa tak ada kabar darimu? Kau bahkan tidak ingat untuk ikut shooting Good Night Show kemalam,” kata pria itu. “Maaf hyung, tapi ada insiden yang harus kuhadapi semalam. Aku sendiri juga masih bingung gimana menjelaskannya,” terang Heechul.

“Masa kamu nggak bisa menjelaskan insiden apa yang menimpamu semalam?” tanya pria itu lagi, dengan nada meninggi. “Yang bisa aku jelaskan hanya, ada orang jahat yang berusaha mencelakakan Gienim. Aku nggak bisa terima itu, jadi aku membantu Gienim,” jelas Heechul.

“Aku yakin hyung juga akan berbuat serupa jika ada di posisiku,” tambah Heechul lagi. Pria itu menatap Gienim yang duduk diam di sofa yang ada di ruangan itu. “Benarkah yang dikatakan Heechul itu Gienim ssi?” tanyanya. “Ne, benar oppa. Heechul oppa membantuku melawan pria-pria itu. Kalau nggak ada Heechul oppa, aku nggak tahu dimana aku sekarang,” jawab Gienim tanpa berbohong.

Gienim memang mengatakan yang sejujurnya pada manajer itu, kecuali bahwa pria-pria yang dihadapinya bukanlah pria biasa. Manajer itu menatap Heechul dan Gienim bergantian, menyelidiki kemungkinan keduanya berbohong. Kemudian, “baiklah, aku percaya. Tapi Heechul-ah, usahakan agar jadwalmu tidak berantakan lagi,”. “Ne, gomawo hyung,” ujar Heechul.

“Kalau gitu aku pamit ya. Onnie nunggu di bawah,” kata Gienim lalu minta diri. Ketika berjalan kenuju pintu, terpegang olehnya sebuah jaket biru-krem yang digantung dekat pintu. Dan Gienim tersentak, ia mendapat pertanda kalau si empunya jaket itu dalam bahaya. Dalam pengelihatannya, pemilik jaket itu diserang orang tak kenal, hingga luka-luka parah.

“Gwenchana?” tanya Heechul khawatir sambil memandang Gienim. “Andwe, aku nggak apa-apa,” jawab Gienim. “Siapa yang punya jaket ini oppa?” Heechul memandang jaket yang dipegang Gienim, “sepertinya itu punya Donghae. Wae?” tanyanya. Gienim menggeleng. “Ani”.

“Tolong katakan pada Donghae oppa untuk lebih hati-hati dan waspada,” kata Gienim lalu menghilang meninggalkan Heechul yang terheran-heran melihat tingkahnya. Gienim segera menuju mobil dengan terburu-buru. “Onnie, aku mendapat pertanda buruk,” kata Gienim pada Haejin. Haejin menoleh, “mwo? Kapan?” tanyanya seketika.

“Jalankan dulu mobilnya onnie,” pinta Gienim. Kemudian ia menceritakan penglihatan yang didapatnya di dorm tadi. “Jadi, kamu memegang jaket Donghae dan mendapat kilasan dia akan diserang?” tanya Haejin setelah mendengar penuturan Gienim. “Ne” sahut Gienim. “Tapi kapan dia bakal diserang?” tanya Haejin lagi. “Itulah yang aku belum tahu. Kalau aku tahu ya gampang,” balas Gienim.

“Kalo gitu gimana kalau kita mengikuti Donghae?” usul Haejin. “Apa? Ikutin Donghae? Kayak di film-film itu? Kok rasanya jadi kayak memata-matai ya,” komentar Gienim. “Aku nggak enak,” tambahnya lagi. “Emangnya aku enak apa harus ikutin orang? Tapi ya gimana lagi. Kali aja kalau kita ada di dekatnya terus, insiden itu nggak akan terjadi,” balas Haejin.

Gienim diam sambil memikirkan apa yang harus dilakukan. “Nggak mungkin aku kirim SMS bilang dia harus hati-hati,” pikirnya. “Telpon Minri onnie aja deh. Kita tanya pendapatnya,” kata Gienim kemudian. Haejin mengangguk setuju. Gienim pun mengeluarkan ponselnya dan menekan speed dialnya.

Tak lama berselang ia sudah menceritakan penglihatannya pada Minri dan menutup telpon. “Wae?” tanya Haejin. “Minri onnie bilang, dia setuju denganmu. Karena tak ada jalan lain,” jawab Gienim lesu. “Jadi..kapan kita mulai melakukan tugas?” kata Haejin. “Kitakan harus tahu jadwalnya dulu. Baru bisa membuntutinya,” desah Gienim.

Dia sama sekali tak suka dengan ide mengikuti Donghae itu. Bagi Gienim itu sama saja dengan memata-matai. Meski dia tahu kalau itu dilakukan demi keselamatan Donghae dan bukan karena alasan lain. Gienim pun kembali mengambil ponselnya. Kemudian berbicara dengan Heechul yang keheranan tapi menyanggupi permintaan Gienim.

Sesampainya di rumah, Gienim langsung membuka laptopnya. Membuka email, dan menemukan email yang dicarinya, email dari Heechul. Dicetaknya email itu dan dibawanya ke kamar Haejin. “Haejin onnie!” panggilnya sambil membuka pintu kamar Haejin. Haejin menoleh, “Ne, wae?” “Ini jadwal Donghae dan semua member,” sahut Gienim sambil menyodorkan kertas-kertas berisi jadwal semua member Super Junior selama 2 minggu.

Haejin mengambil kertas-kertas itu dan membacanya. “Huuuuh, untung jadwalnya nggak padat-padat amat dua minggu ini,” ujarnya setelah mempelajari jadwal Donghae. Malam ini jadwalnya kosong, sementara besoknya Donghae ada jadwal pemotretan dan jadi bintang tamu di sebuah acara reality show di SBS. Semuanya bersama member lain.

“Rasanya besok kita harus mulai mengikutinya,” kata Gienim kemudian. “Ya tentu saja. Untungnya jadwal besok dia nggak sendirian. Jadi mungkin penyerangnya nggak mau ambil resiko,” ujar Haejin. “Semoga saja demikian,” balas Gienim. Keduanya kemudian terdiam. Asyik dengan pikiran masing-masing.

Sambil makan malam keduanya kembali berdiskusi tentang masalah yang akan dihadapi Donghae. “Siapa yang akan mengikutinya besok? Akukanharus sekolah,” kata Gienim pelan. “Minri onnie juga nggak akan bisa.”  Haejin menatap Gienim galak. “Masa harus aku sih?” tanyanya. “Akukan besok juga ada kuliah”. “Kita tanya Minri onnie aja deh,” kata Gienim lagi.

Dalam hatinya Gienim senang karena Haejin onnie bakalan mendampingi Donghae. Soalnya dia tau kalau sebenarnya Haejin onnie-nya tersayang itu mengagumi Donghae, gara-gara MV Supergirl-nya SJM. Sayangnya sejak bertemu dan bahkan bersahabat dengan anggota Super Junior, Haejin malah seperti menarik diri. Seakan takut orang tahu kalau dia menyukai Donghae.

Malam itu Minri pulang terlambat sehingga Haejin dan Gienim tak bisa menanyakan pendapatnya tentang siapa yang sebaiknya mengikuti Donghae besok. Keesokan harinya mereka bertemu di meja makan, saat sarapan. “Onnie bagaimana? Siapa yang akan menngikutinya?” tanya Haejin ketika Gienim masuk ruang makan.

“Rasanya hari ini hanya kau yang bebas Haejin-ah. Aku ada meeting dengan atasanku. Mungkin besok aku bisa menggantikanmu,” jawab Minri. “Tapi nanti aku ada kuliah jam 2,” sahut Haejin. “Heeeemm, Gienim sekolah selesai jam berapa?” tanya Minri pada Gienim kemudian. “Ya jam 3lah onnie kayak biasa. Kenapa?” balas Gienim.

“Aku memerlukanmu untuk menggantikan Haejin. Haejin harus kuliah jam 2, artinya jam 1 dia sudah harus berangkat. Aku nggak suka meninggalkan Donghae  selama 2-3 jam tanpa pengawasan,” kata Minri. “Aku bisa ke SBS sekitar jam 4an,” kata Gienim. “Artinya Donghae lepas dari penmgawasan kita sekitar 3 jam,” ujar Haejin, membuat semua terdiam.

“HHhhhm aku ada ide,” ujar Gienim tiba-tiba. “Mudah-mudahan kalian setuju”. “Just say it and we’ll see,” ucap Minri penuh harap. Sedangkan Haejin menatapnya, juga berharap. “Bagaimana kalau selama 3 jam itu kita minta tolong pada Heechul oppa untuk mengawasi Donghae? Jadwal merekakansama. Lagian Heechul oppakansudah tahu tentang kita. Gimana?” jelas Gienim berharap usulnya disetujui Minri dan Haejin.

Minri dan Haejin berpandangan, lalu “oke,” sahut keduanya serempak, membuat Gienim tampak sumringah. Dia pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Heechul. Tak lama kemudian Gienim sudah bicara dengan Heechul yang mendengarnya masih dengan keadaan setengah mengantuk. Tapi penjelasan Gienim membuatnya terbangun. Heechul menyanggupi permintaan Gienim tanpa banyak bertanya.

——–TBC

5 thoughts on “Miracle ~Part 2~

  1. first kah?
    awwwwww >.<
    brasa lyat trio charlie's angels baca ff ini, haha😄
    cuma bedanya charlie's angels gak ada kekuatan supranatural😀
    dsini haejin unni bakal jadian sama donghae juga kah?
    lastly, as usual, daebak ^o^

  2. makin seru ni FF~ hae bakal celaka? ckckckckck, poor haepa*nepok2bahunya. tp gmn kl bkn hae diang yg diserang? kl misalnya chulpa jg ikut diserang gmn? oh jangan sampe! ah jd penasaran! i’ll wait for the next chap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s