I Wanna Live ~Part 1~

***

Waktu terus berjalan…

Detik berganti menit…

Menit berganti jam…

Jam berganti hari…

Lalu bulan… tahun… abad…

Entah sudah berapa lama, entah akan sampai kapan…

Yang pasti hanya satu hal…

AKU INGIN HIDUP…

***

Korea Selatan, 24 Maret 2011.

“Segarnyaaaaa!!” seru lelaki berambut coklat dan berwajah polos sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela belakang van berwarna metalik itu.

“Seneng, ya, liburan setelah sekian lama, Donghae-ya?” timpal lelaki berwajah imut seperti perempuan yang duduk di samping si rambut coklat itu.

Lelaki berwajah tirus dan beralis tebal yang duduk di bagian tengah sebelah kanan ikut membuka jendela dan menghirup udara pegunungan yang segar. Sejak memulai perjalanan, dia terus menerus mengeluh mabuk namun sekarang dia tertular semangat si rambut coklat.

“Kupikir kau lebih suka laut, Hyung? Kalau kita ke Mokpo, kan, bisa sekalian ke rumah orang tua Hyung,” tanyanya pada si rambut coklat.

Seorang gadis berpipi chubby dan berambut panjang langsung memasang telinga begitu mendengar pertanyaan polos si wajah tirus itu, sekuat tenaga dipusatkannya perhatian pada pemandangan di luar jendela sebelah kirinya di bangku tengah. Untunglah tampaknya tidak ada yang menyadari gelagatnya itu, kecuali mungkin lelaki kurus—dia  tampak asyik dengan PSPnya—yang duduk di antara dirinya dan si wajah tirus.

“Nggak,” jawab si rambut coklat, “Kita, kan, tujuannya yang penting berlibur, masa tujuannya ke rumah orang tuaku.”

“Yah, tapi aku masih curiga dengan harga yang ditawarkan pemilik villa itu,” potong lelaki berambut hitam halus dari belakang kemudi.

“Heechul-hyung, kan, Hyung sendiri yang kenal sama pemiliknya,” jawab si rambut coklat.

“Aku hanya melihat iklannya di internet lalu kalian yang memaksaku menyewanya,” bantah Heechul.

“Kalau begitu, ya sudah, toh sudah terlanjur,” ujar si imut.

“Bukan begitu, Sungmin-ah, tapi coba kau pikir, zaman sekarang mana ada barang bagus tapi murah? Aku baru kepikiran… jangan-jangan villa itu bocor, atau banyak kecoa dan tikus, hiii,” si rambut hitam bergidik setelah mengajukan argumennya pada si imut.

“Oppa! Jebal, jangan membuatku memikirkan kecoa,” keluh si gadis chubby sambil menggosok-gosok lengannya, seolah kecoa-kecoa itu sudah mendarat di lengannya.

Si wajah tirus tertawa, “Haejin-ah, kecoa-kecoa itu yang akan takut padamu, tahu!”

“Kim Ryeowook!” bentak si gadis chubby sementara seisi van tertawa, kecuali gadis tomboy yang sedang meniup permen karet di sebelah si imut di kursi belakang dan gadis kurus berambut ikal yang tertidur nyenyak di kursi depan.

“Lagi pula, kau akan sekamar dengan dua pembasmi kecoa kita yang paling hebat, untuk apa kau takut?” ucap si rambut hitam.

Si gadis chubby mendengus, “Tapi dua orang yang kau bicarakan itu sama sekali tidak membelaku tadi. Yang satu ngunyah permen karet di belakang, yang satu ngorok di depan.”

“Keunde…” potong si wajah tirus, mengembalikan topik bahasan mereka, “aku sependapat dengan Heechul-hyung. Jangan-jangan villa itu ada apa-apanya?”

“Yah, apa kau lupa kita ini siapa?” lelaki kurus itu akhirnya mematikan PSPnya dan ikut mengobrol.

Lelaki berambut hitam yang sedang menyetir bernama Kim Heechul, sedangkan gadis kurus ikal yang tertidur di sebelahnya adalah Kim Tami. Gadis chubby, lelaki kurus, dan lelaki berwajah tirus yang duduk di tengah adalah Lee Haejin, Cho Kyuhyun, dan Kim Ryeowook. Lalu, lelaki berambut coklat, lelaki berwajah imut, dan gadis tomboy yang duduk di belakang adalah Lee Donghae, Lee Sungmin, dan Hwang Minra. Mereka semua berasal dari Seoul University, dari jurusan dan tingkat yang berbeda-beda pula.

Awal pertemuan mereka adalah ketika mereka berdelapan kalah undian dan harus menjadi panitia rumah hantu pada festival tahunan universitas mereka dua tahun lalu. Rumah hantu yang mereka buat sukses besar dan sejak itu mereka jadi akrab. Seisi kampus menjuluki mereka Hantu Kampus dan menganggap mereka adalah sekelompok mahasiswa yang menyukai hal-hal berbau occult, walau pun itu tidak benar.

Tidak satu pun dari mereka yang suka mencari-cari masalah dengan hal gaib. Heechul dan Kyuhyun tidak percaya hantu, namun mereka menyukai julukan Hantu Kampus yang unik itu. Sungmin dan Minra, penampilan keduanya bak kutub utara dan selatan—Sungmin imut seperti perempuan, sedang Minra tampan seperti lelaki—namun mereka bertemu di garis khatulistiwa, yaitu keduanya tipe yang akan keluar dari rumah hantu sambil menguap bosan dan tidak tertarik. Donghae menyatakan percaya hantu dan berharap tidak akan pernah melihatnya. Haejin dan Tami jarang sekali mengutarakan pendapat mereka tentang hal-hal seperti itu. Sedang Ryeowook adalah tipe yang akan menjerit jika dikagetkan dari belakang.

Mereka malah lebih senang pada kegiatan-kegiatan seperti pesta barbeque di halaman rumah Minra, pergi kemping ke taman wisata, atau melihat panda yang baru melahirkan di kebun binatang, dan kegiatan-kegiatan lain yang membuat mereka bisa bersenang-senang dan berkonyol-konyolan bersama. Liburan kali ini, mereka akan berlibur di sebuah villa di daerah pegunungan. Heechul yang kebetulan menemukan penyewaan villa itu di internet dan dia mengurus semuanya dengan setengah hati atas desakan ketujuh temannya.

Setelah semuanya terurus, baru lah Heechul merasakan sedikit penyesalan, tapi sekarang sudah terlambat untuk berbalik. Lagi pula, ketujuh temannya benar-benar menunggu acara ini, acara terakhir mereka lengkap berdelapan karena Heechul akan lulus tahun ini.

Minra meletuskan balon permen karetnya dan berkata, “Aku tidak peduli villa yang kita tuju sekarang berhantu atau tidak. Aku capek dan ingin tidur. Kalau pun ada hantu, dia tidak akan lebih menyeramkan dari Kuchisake Onna-ku yang legendaris,” ocehnya.

Ketujuh temannya diam saja, mereka sudah mencapai suatu kesepakatan tidak resmi untuk tidak melayani si tomboy itu kalau sudah menyombong.

“Yah, Kim Tami! Bangun, sudah seribut ini kau masih bisa tidur seperti itu, hah?” seru Heechul nyaring untuk membelokkan percakapan.

“Ah, Hyung, biarkan saja dia tidur, dia begadang semalaman,” bela Donghae.

Haejin menoleh cepat, “Kenapa kau tahu?” tanyanya.

Donghae langsung tergagap, “A… aniyo…” dia tidak mungkin mengatakan pada seisi mobil bahwa Tami begadang karena gugup akan pergi bersama Heechul. Donghae sudah berjanji—sejak dia tidak sengaja melihat Tami melukis Heechul diam-diam—bahwa di antara mereka berdelapan, hanya dia yang tahu perasaan Tami terhadap Heechul serta bahwa Tami sering curhat tentang Heechul yang playboy padanya. Lagi pula, jika dia berani membocorkan rahasia Tami, Tami juga akan membocorkan rahasia Donghae pada Haejin. Ya, Tami juga tidak sengaja menemukan foto Haejin dalam dompet Donghae. Sejak itu, keduanya adalah sahabat senasib dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sampai,” Heechul menyelamatkan Donghae dari keharusan menjawab.

Van metalik itu memasuki halaman luas sebuah villa yang menghadap laut. Villa itu bagus dan besar, serta bersih dan terawat. Tanaman-tanaman hias di halamannya tumbuh subur, rumputnya pun terpangkas rapi.

“Lihat, Hyung, Wookie-ya, sama sekali tidak mencurigakan,” ucap Donghae dengan nada menang.

“Arasseo, arasseo,” ucap Heechul.

“Siapa yang pegang kuncinya?” tanya Sungmin pada Donghae.

“Ada di Heechul-hyung,” jawab Donghae, sementara Heechul mengeluarkan serencengan kunci dari sakunya dan memainkannya di jarinya.

Minra menyambar kunci itu dari Heechul.

“Biar aku yang membuka pintu, cowok-cowok urus bagasi aja,” senyumnya sambil memutar-mutar kunci itu pada gantungan kuncinya.

Sungmin, Ryeowook, dan Donghae mulai menurunkan tas-tas mereka, sementara Heechul mengekori Minra dengan alasan dia harus yang pertama mengecek kelayakan villa, padahal sebenarnya karena dia paling malas mengangkat-angkat barang.

“Oi, kalau semua barang udah diturunkan, kasih tahu, ya, biar mobilnya kukunci,” serunya.

“Arasseo,” timpal Sungmin sebal.

“Oke, sudah semua,” lapor Ryeowook.

“Yakin, udah dikeluarin semua?” tanya Heechul sambil mengeluarkan remote mobil.

“Yakiiin,” balas Ryeowook.

“Yah! Tunggu dulu, Hyung! Tami masih ketinggalan!” seru Donghae.

“Mwo?” Heechul geleng-geleng kepala, “Haejin-ah, bangunkan temanmu itu.”

Sambil memegang perut yang sakit karena tertawa, Haejin membuka pintu depan dan mengguncang-guncang Tami, “Yaaaah, Kim Tami-ya, kau mau tidur sampai kita pulang ke Seoul lagi?”

“Mmm?” Tami mengucek matanya, “Udah sampai?”

“Udaaaah, hahahaha,” mendengar tawa ketujuh temannya itu, Tami langsung meloncat turun dari mobil.

Diamatinya villa itu dengan bersemangat, dan diikutinya teman-temannya yang sudah berjalan ke pintu depannya.

Klik—terdengar suara ketika kunci diputar.

“Oke, ini dia!” seru Minra sambil membuka pintu.

Mereka semua berlarian memasuki bagian dalam villa yang sama rapi dan terawatnya dengan bagian luarnya itu, malah dengan barbarnya mereka langsung mencari kamar tidurnya dan saling menge-tag tempat tidur. Semuanya senang dan excited, mendapati villa murah, bagus, dengan pemandangan indah ke arah laut. Semuanya, kecuali satu orang.

Kim Tami terpaku di tempatnya, wajahnya pucat.

“Kenapa?” tanya Haejin sambil menghampiri sahabatnya itu.

Tami menggigit bibirnya dan menggeleng, “Aniyo…”

Aku ingin pulang!

***

“Aku mau tidur disini…”

“Ya! Aku duluan yang nempatin!”

“Minra-ya, jangan begitu doooong… aku kan ada asma, harus dekat jendela…”

“Ya, Lee Haejin, jangan manja! Ini udara pegunungan, udara disini enak dan sejuk, mana mungkin asmamu kumat! Sudahlah jangan manja!” Minra dengan seenaknya menghempaskan travel bag Haejin ke lantai.

Haejin speechless, susah melawan Nona Keras-kepala ini.

“Sudah, kau tidur disini saja… disini masih kena ventilasi, biar aku yang di kasur paling pojok…” kata Tami sambil menarik Haejin ke kasur tengah.

Minra berbaring dengan kedua tangan di atas kepalanya, sementara Haejin bersungut-sungut duduk di kasur tengah. Padahal dia duluan yang mau tidur di samping jendela.

“Aigooo, udaranya sedap ya…” Tami membuka pintu balkon yang menghadap ke hamparan hutan pinus di depannya, semuanya nampak hijau, indah di pandang, dan angin sepoi-sepoi bertiup.

Haejin mengikutinya keluar. ”Udaranya memang segar…”

“Ya! Tutup pintunya, dingin tahu!” keluh Minra dari dalam, Haejin dan Tami bertukar pandang dan memutar mata mereka.

“Ya! Turun kalian!” teriak seseorang dari bawah.

“Haejin dan Tami menoleh, ternyata Heechul, dengan rambut pirangnya yang tertimpa matahari mendongak menatap mereka.

“Kenapa?” tanya Haejin.

“Masak! Lapar nih!”

“Heuu, giliran begini aja…” Haejin berdecak, sementara Tami hanya tersenyum.

“Pokoknya turun, masak!” perintah Heechul seenaknya.

Tami menyentuh bahu Haejin, dan menggeleng saat Haejin hendak membalas kata-kata Heechul, urusan takkan selesai kalau melakukan debat kusir dengan pria itu. “Sudah kita turun saja, masak… lagipula aku juga sudah lapar, memang kau tidak lapar?”

“Eobseo…”

“Pikirkan kesehatanmu, Haejin-ah, jangan telat makan…” Tami menarik Haejin turun, mengajak Minra, namun Minra sudah tertidur di atas ranjangnya. Entah tidur betulan, atau dia mau menghindar dari kodrat, dimana wanita harus memasakkan makanan.

Tami dan Haejin sampai di dapur, ternyata para lelaki sudah mengeluarkan semua bahan-bahan makanan yang sudah mereka persiapkan.

“Ayo, ladies… masak!” tunjuk Heechul pada bahan-bahan tersebut.

“Woah, ada apa aja nih?” Haejin dengan ceria melihat bahan-bahan makanan tersebut. “Ikan, udang, cumi, kepiting… huuuum… kayaknya enak-enak, Tami-ya, kau bisa masak apa?”

Tami menjawab, ”Sashimi…”

“Sashimi…” Haejin mengangguk-angguk.

“Kau kan tidak bisa masak, Haejin-ah… sudah jangan di dapur…” usir Kyuhyun dengan mengibaskan tangannya.

Wajah Haejin memerah, apalagi ketika Heechul, Ryeowook, Donghae, dan Sungmin menatapnya dengan pandangan: ya ampun, kok perempuan gak bisa masak? Kyuhyun menyeringai.

“Makanya aku mau belajar!” seru Haejin tergagap.

“Yah, jadi Tami doang nih yang bisa masak disini? Minra bagaimana?” tanya Sungmin.

“Dia sudah tidur di atas,” jawab Tami.

“Aku bisa masak,” tawar Ryeowook.

“Jangan, kita bagi tugas, yang laki-laki mengurus meja dan perapian, biar yang perempuan aja yang masak,” cegah Heechul. “Sebentar, biar aku bangunkan Tuan Putri Minra,” tambahnya sambil berlari naik ke lantai dua.

“Kalau begitu, lebih baik aku ke gudang mengambil kayu bakar untuk perapian,” kata Sungmin sambil keluar pula dari dapur.

Tak lama kemudian terdengar Heechul dan Minra saling berseru ribut dan keduanya muncul di dapur.

“Yah! Kenapa aku harus ikut di dapur juga? Tami, kan bisa masak!” seru Minra.

“Lalu kau mau tidur saja dan bangun tidur makan? Nggak usah, ya!” balas Haejin yang semakin kesal.

“Yah! Hwang Minra, dengarkan aku! Kau bantu Tami dan Haejin, aku sudah lapar!” perintah Heechul.

“Sudah lah, masa baru sampai di sini kita sudah ribut?” Tami berusaha melerai keempat temannya yang sudah berdiri saling berhadapan.

Haejin masih mendelik pada Minra, sementara Tami dengan kalem sudah mulai menyiapkan bumbu-bumbu. Ryeowook, Donghae, dan Sungmin masih memandangi pantry dengan ingin tahu, sementara Heechul sudah pergi ke ruang tengah.

“Ngapain masih disini?! Sana, sana…” usir Haejin.

“Yakin, bisa?” tanya Ryeowook khawatir.

“Bisa!” seru Haejin jengkel. Dan keempat cowok itu menghambur keluar pantry karena kaget disemprot Haejin.

Tami tertawa. “Sudah ah, Haejin-ah, jangan galak-galak, ayo sini bantu aku kupas bawang ya…”

“Oke…” Haejin menghampiri Tami, kemudian mengambil pisau dan talenan.

“Kau duduk saja di sana, Minra,” ucap Tami.

“Memang itu mauku. Kalau bukan Heechul-oppa yang menyuruh aku tidak akan turun,” ucapnya ketus.

Haejin harus mengingatkan dirinya bahwa yang sedang dipegangnya adalah pisau. Dari pada jadi gelap mata karena Minra, Haejin beralih memperhatikan Tami.

“Kau pintar masak ya?”

Tami tersenyum sekilas. “Biasa saja, hanya sekedar bisa… kalau sudah di kupas, cuci, dan langsung iris ya, Haejin-ah.”

“Oke…”

Haejin mengupas bawangnya perlahan-lahan, dan dengan amat hati-hati, karena memang Haejin jarang menyentuh dapur, tapi bukan berarti dia tidak pernah, sementara Tami nampak terampil ketika menyiangi ikan dan teman-teman seafood-nya yang lain. Haejin menatap Tami takjub, tanpa sengaja dia mengiris jari telunjuknya sendiri dengan pisau tajam karena terkesimanya melihat Tami menyiangi ikan segar tersebut.

“Aduuuuh…” Haejin mengibaskan tangannya pelan, dia tidak mau ketahuan anak-anak cowok di depan kalau dia terluka, bisa-bisa Kyuhyun ketawa paling sedap, menikmati kemenangannya, bahwa Haejin memang tidak bisa di dapur.

Tapi, Tami mengetahuinya, Tami yang panik dan heboh sendiri. ”Haejin-ah, gwenchana?! Ya ampuuuun, darahnya banyak!” dia langsung mencari tisu dan membebat telunjuk Haejin.

“Nggak sengaja, santai aja…” kata Haejin sok cool, padahal tangannya pedes banget.

 Tami geleng-geleng. “Pasti ngelamun deh? Kamu tuh ya, kalau lagi pegang yang kayak ginian, usahain pikiran jangan kosong, apalagi di tempat kayak begini… aduuuh, darahnya gak mau berhenti… gimana, nih??!” ucapnya panik dengan suara yang makin meninggi.

“Kenapa tuh?!” seru cowok-cowok yang kedengarannya tidak jauh jaraknya dari mereka, terdengar suara cowok-cowok bergegas ke dapur.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Donghae paling depan.

“Apa yang terjadi?” tanya Sungmin di belakang Donghae, sementara Kyuhyun, Ryeowook, dan Heechul melongokkan kepalanya.

“Haejin-ah, tanganmu berdarah!” pekik Ryeowook.

“Ne, tangan Haejin, tolong dong! Darahnya nggak mau berhenti dari tadi,” seru Tami.

“Ya, ampun!” pekik Heechul dan Kyuhyun yang maju bersamaan.

Sungmin sudah heboh mencari kotak obat, sementara Donghae menatap kaget darah yang berbercak di pantry, bagaimana mungkin dia tidak melihat darah itu semua? Kyuhyun langsung memerban tangan Haejin, sedangkan Ryeowook mengelap bercak darah di pantry.

Tami terdiam menyaksikan yang lain menolong Haejin, entah kenapa dia merasa bau darah itu semakin kental dan kuat, membuatnya pusing. Keseimbangannya mendadak hilang dan dia menyambar ujung sweater Donghae sebelum benar-benar terjatuh.

“Tami-ya, gwenchana?” tanya Donghae sambil memapahnya sigap dan mendudukkannya di sebelah Minra yang masih duduk santai melihat kejadian itu.

“Alaaaah, cuma luka begitu aja dibesar-besarkan,” kata Minra cuek.

“Minra-ya, jebal!” bisik Tami sehingga hanya Minra dan Donghae yang mendengarnya, “Tolong jaga perilaku dan perkataanmu, kalau tidak…” dia menggantungkan kalimatnya.

“Apa? Kalau tidak apa?!” tantangnya. “Kau juga kenapa pakai lemas segala, sih?”

Aku ingin hidup…

Tami terbelalak dan menatap Minra dengan ketakutan.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Minra sambil berdiri.

Heechul, Sungmin, Ryeowook, Kyuhyun, dan Haejin yang dari tadi sibuk mengurus luka Haejin kini menatap keributan kecil itu.

“Aku… aku…” gagap Tami, lalu dia menundukkan kepalanya.

“Cih, kenapa, sih, dasar cewek aneh!” Minra meninggalkan dapur dalam langkah-langkah lebar.

“Gwenchana?” tanya Donghae sambil berlutut.

“Gwenchana, Hae-ya… mendadak aku pusing, mungkin karena melihat darah,” kata Tami sambil tersenyum dan menggeleng, lalu menoleh menatap Haejin.

Haejin, dengan tangan yang masih dalam proses dibalut oleh Kyuhyun, memandang Tami dan Donghae dengan tatapan penuh arti.

“Sudah, sudah… Tami mau pingsan, Haejin jarinya nyaris putus, mendingan Ryeowook aja yang masak!” Kyuhyun menarik Haejin keluar dapur, Haejin mengikuti sambil menunduk.

Tami menghela nafas lalu menepuk pundak Donghae, “Sana, temani Haejin.”

Tentu saja Donghae ingin sekali melakukan itu, tapi wajah Tami sangat pucat dan Donghae yakin sekali ada yang tidak beres.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Donghae.

“Ayo, ngapain pada disini?!” tanya Heechul memelototi Tami dan Donghae. “Biarin aja si Wookie!”

Donghae mendadak mendapat ide, “Hyung, tolong antar Tami ke atas, ya.”

“Ya~ Donghae-ya!” seru Tami, tapi Donghae sudah berlari keluar dapur.

“Ehm,” Heechul berdeham, “Ayo, kau bisa jalan?”

“Bisa, Oppa,” angguk Tami.

Heechul menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu merangkul Tami, “Ayo…”

Dan akhirnya Ryeowooklah yang terpaksa memasak sendirian.

“Oppa,” ucap Tami takut-takut.

“Ne?”

“Bagaimana kalau habis makan, kita pulang saja ke Seoul?” usul Tami.

“Wae? Apa kau sebegitunya merasa tidak enak badan?”

“Bukan, tapi… aku takut… aku merasa sesuatu yang buruk akan mengincar kita di sini,” jawab Tami serius.

Heechul berhenti melangkah, menatap Tami lama kamudian…

“HAHAHAHAHA!” dia tertawa keras, “Mana ada hal seperti itu?”

Tami menarik paksa sudut-sudut bibirnya, “Haha… ha… iya, juga, ya, Oppa…”

Heechul menepuk-nepuk kepala Tami, “Tenang, tidak akan ada apa-apa, kau punya aku yang menjagamu di sini.”

Wajah Tami memerah mendengarnya dan Heechul pun mendadak salah tingkah, “Eh, maksudku… ada lima cowok yang menjaga tiga cewek di sini. Pasti tidak apa-apa, oke?”

Mereka sudah sampai di depan kamar cewek dan ketika membuka pintu, Minra sudah ada di atas tempat tidurnya, membaca komik.

“Hwang Minra,” tegur Heechul sebelum keluar lagi, “Minta maaf pada Tami dan Haejin, ya?”

Tami merebahkan diri di ranjangnya dan memejamkan mata. Di dengarnya Minra berkata pelan, “Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu seperti tadi.”

“Gwenchana,” bisik Tami.

Kau tidak perlu minta maaf hanya karena Heechul-oppa yang menyuruhmu, Minra, tambahnya dalam hati.

***

Haejin duduk di sofa sambil memperhatikan Donghae yang mulai menata meja makan dibantu Heechul yang baru saja kembali dari mengantar Tami, sedangkan Sungmin menyusun kayu bakar di perapian.

Luka di jarinya terasa berdenyut-denyut, namun sesuatu dalam dadanya berdenyut lebih keras lagi tiap kali dia mengingat adegan di dapur tadi. Padahal yang terluka dan berdarah-darah itu dia, tapi kenapa Donghae tidak melakukan apa-apa? Sedangkan, ketika Tami merasa pusing, Donghae bertanya, “Gwenchana?” padanya.

“Kyuhyun-ah,” ucap Haejin pelan pada Kyuhyun yang sedang membereskan kotak obat.

“Mmm?”

“Menurutmu, Donghae dan Tami…” Haejin tidak sanggup meneruskan kalimatnya.

Kyuhyun menutup kotak obat itu, “Tadi kau sudah diurus oleh empat orang sekaligus sehingga tidak ada yang sadar Tami hampir pingsan dan kebetulan Donghae yang berdiri paling dekat dengannya. Donghae itu cowok baik, cuma itu,” katanya, mengerti pertanyaan apa yang akan dikeluarkan Haejin.

Kyuhyun bertanya pada Sungmin, di mana ia tadi menemukan kotak obat itu, lalu beranjak untuk mengembalikannya ke tempatnya. Haejin memikirkan perkataan Kyuhyun itu dan pelan-pelan merasa setuju. Benar juga…

“Hei,” tiba-tiba saja Donghae sudah berdiri di sisi Haejin. “Yang luka hanya jarimu, kan? Dari pada duduk saja, mending kita keliling-keliling villa ini, yuk,” ajaknya.

Haejin mengangguk lalu mengikuti Donghae. Mereka memasuki satu demi satu ruangan di villa besar itu dan pelan-pelan menyadari bahwa arsitektur villa ini sangat tidak biasa. Di banyak tempat, Haejin melihat lekukan atau celah yang tidak wajar.

“Donghae-ya, menurutmu untuk apa mereka membuat celah yang bisa dimasuki satu orang di dinding?” tanya Haejin sambil menghampiri salah satu celah di dinding itu.

“Molla,” geleng Donghae yang sedang berusaha membuka pintu ruang terakhir di lantai atas, “Mungkin pemiliknya suka aneh-aneh, seperti Heechul-hyung.”

“Seperti siapa?” tanya Heechul yang sudah berdiri di belakang mereka.

“Hyung! Kau membuatku kaget!” seru Donghae.

Heechul terkekeh, “Makanya jangan ngomongin orang.”

“Oppa, kenapa ke sini?” tanya Haejin.

“Aku mau memanggil Tami dan Minra, juga kalian. Makanan sudah siap, ayo kita makan.”

“Oke, kalau begitu biar kupanggilkan mereka,” seru Haejin senang.

“Kkaja,” ajak Heechul pada Donghae yang masih berusaha membuka pintu itu.

“Hyung, kau punya semua kunci villa ini, kan? Kunci ruangan ini ada tidak?” tanya Donghae.

Heechul mengeluarkan serencengan kunci itu dari sakunya, “Nih, silakan saja periksa satu-satu kalau kau kurang kerjaan.”

Donghae langsung kehilangan semangat begitu melihat banyaknya kunci itu dan mengikuti Heechul turun untuk makan.

***

Malam pun tiba, kedelapan orang itu memutuskan untuk barbecque party di halaman villa. Di bawah bintang-bintang yang gemerlapan indah, mereka duduk mengelilingi api unggun yang hangat, memanggang daging, kentang, jagung, dan marshmallow sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Pertengkaran kecil tadi siang sudah benar-benar terlupakan. Minra bersikap menyenangkan dan Tami pun tertawa-tawa nyaring, sama sekali tidak terlihat lesu seperti ketika mereka berada di dalam villa.

Setelah puas makan, mereka mematikan api unggung dan masuk ke dalam villa. Di pintu masuk, Tami menahan lengan Haejin.

“Lukamu terbuka, Haejin-ah?” tanyanya.

Haejin memperlihatkan jarinya yang masih terbungkus rapi, “Ani… wae?”

“Aneh sekali, aku mencium bau darahnya,” Tami mengendus-endus.

“Jangan bercanda, ah, hidungmu terlalu tajam,” tawa Minra, tapi Haejin jadi gelisah mendengar ucapan Tami itu.

“Sudah malam, tapi masih terlalu cepat untuk tidur. Kita main sesuatu, yuk?” ajak Kyuhyun.

“Jalangkung!” pekik Minra gembira.

“Jang—” Tami dan Haejin serentak menolak, namun.

“Ide bagus!” seru Heechul keras, mengalahkan suara mereka berdua.

“Apalagi suasananya mendukung!” sambut Sungmin.

“Apa nggak malah bahaya?” tanya Donghae ragu.

“Idih, kamu kan cowok,” olok Minra, “Lagian kalau hantunya beneran datang, serahkan padaku! Akan kukalahkan,” sombongnya.

“Minra, ja—” seru Tami, namun lagi-lagi suaranya yang lirih kalah oleh seruan Heechul.

“Yeah, hebat kamu!” serunya sambil mengajak Minra ber-high five.

Akhirnya Heechul, Kyuhyun, Sungmin, dan Minra menyiapkan board untuk permainan itu, ditonton oleh Donghae dan Ryeowook yang tidak begitu setuju ide itu. Tami mundur sampai punggungnya merapat ke tembok, tangannya didekap erat di dada. Haejin menatap Tami khawatir. Haejin sendiri bukannya takut, hanya saja dia merasa permainan itu tidak tepat dimainkan sekarang, apalagi melihat Tami bersikap seperti itu.

“Hei, kalian berdua, kalau takut kalian nonton saja. Main jalangkung, kan, cuma perlu empat orang,” kata Minra.

“Ini cuma permainan, jangan berwajah seolah-olah sedang menonton adegan pembunuhan, dong,” ucap Heechul santai.

“Lagi pula, kalau benar ada yang kesurupan, paling salah satu dari yang main, bukan yang non—”

“HWANG MINRA!!!” teriak Donghae begitu keras sehingga mereka nyaris terlompat dari tempat duduk masing-masing.

Donghae melirik Tami yang sudah begitu pucat seperti mayat. Haejin merangkul Tami dan Ryeowook bertanya, “Noona, gwenchana?”

“Kalian ini, coba lah lebih sensitif sedikit. Tami merasa takut dengan permainan ini, tapi kalian masih saja bersikap seperti itu tanpa mendengarkannya. Tami, Haejin, Ryeowook, ayo kita keluar saja,” ajak Donghae pada tiga orang tersebut.

“Shireo!” Tami menolak. “Kalau… kalau memang harus main, lebih baik kita semua bersama-sama di satu ruangan.”

“Tami-ya, jangan memaksakan diri,” bisik Haejin.

Tami menggeleng, lalu berkata pada empat temannya yang lain, “Aku tidak apa-apa.”

“Kenapa jadi tegang begitu, sih? Tami-ya, ini cuma permainan, tidak ada yang namanya hantu di dunia ini,” ucap Heechul santai.

“Lihat sendiri, akan kami buktikan, ayo,” ajak Kyuhyun.

Akhirnya Heechul, Kyuhyun, Minra, dan Sungmin duduk di tiap sisi meja. Di atas meja sudah siap sebuah board yang ditulisi YA, TIDAK, dan huruf-huruf alfabet, di tengah-tengah board sudah terpancang sebatang lilin. Tangan mereka disatukan di atas sebuah gelas yang terbalik, lalu mereka mulai membaca mantra panggilnya.

Wahai kau yang menghuni alam lain, jika kau ada di sini, datanglah pada kami yang memanggilmu…

Untuk sesaat tidak ada yang terjadi, kemudian api lilin tersebut bergerak, lalu padam.

Haejin merasa Tami merapat padanya, dia kemudian merangkul bahu sahabatnya itu dengan sikap menenangkan.

“Apa kau sudah datang?” tanya Minra.

Gelas mereka bergerak ke arah lingkaran bertuliskan YA.

“Apa jenis kelaminmu?” tanya Kyuhyun.

Gelas itu mulai bergerak perlahan, menunjuk huruf-huruf sampai membentuk jawaban LAKI-LAKI.

“Bagaimana kau mati?” tanya Heechul.

Gelas itu bergerak cepat, berpindah-pindah dari satu huruf ke huruf lainnya di atas board.

Kyuhyun membacakan tiap huruf yang ditunjuk gelas tersebut, “A… K… U… I… N…”

AKU INGIN HIDUP.

Lampu padam dan Tami menjerit kencang, melepaskan diri dari rangkulan Haejin yang terkejut dan gemetar.

“Tami-ya!”

Terdengar bunyi kursi-kursi berderit dan langkah-langkah berlari.

“Tenang semuanya!” seru Kyuhyun.

Tiba-tiba, lampu kembali menyala. Haejin terduduk lemas, Ryeowook mematung di sampingnya, Sungmin masih duduk di kursinya, Heechul dan Kyuhyun membeku dalam posisi menuju pintu keluar. Di ambang pintu, Donghae sedang berusaha menahan lengan Tami.

“Tenang, Tami-ya!” serunya karena Tami terus meronta-ronta.

“AKU MAU PULANG!!” jerit Tami.

Heechul menghampiri mereka dan bertepuk keras-keras, “KIM TAMI!”

Mendengar suara itu, histeria meninggalkan Tami. Diangkatnya wajahnya, “Oppa…?”

“Aku di sini…” ucap Heechul, “Sudah kubilang aku akan melindungimu.”

Donghae melepaskan lengan Tami yang langsung memeluk Heechul erat dan menangis di dada Heechul, “Oppa, aku takut… ayo, kita pulang saja.”

Heechul menepuk-nepuk kepala Tami.

Kyuhyun menghampiri Ryeowook dan Haejin yang masih membeku di tempat, “Kalian berdua, ayo fokus! Kalian tidak apa-apa, kan?”

“Haejin-ah, kau baik-baik saja?” tanya Donghae sambil menepuk-nepuk pipi Haejin.

Haejin menarik nafas panjang, lalu berkata dengan cukup mantap, “Aku baik-baik saja.”

Semuanya menarik nafas dan baru saja akan merasa lega ketika Sungmin, dari kursinya, berkata gemetar.

“Teman-teman… di mana Minra?”

Dan hitungan mundur itu pun dimulai…

***

__To Be Continued__

hullaaaa, ini dia ff misteri yang aku janji-janjiin sama temen-temen semuanyaaaaa ^^ maaf keterlambatannya, karena aku sama Aya, kolaborasiin ini bener-bener pengen sampe selesai baru di publish🙂 semoga temen-temen semuanya suka dan gak kecewa sama FF kolaborasi kami yaaaa ^^

From aya : salam kenal semua ^^ maaf kalo kurang serem karena yang nulis juga penakut ^^

PS : buat Minra🙂 ini dia nama kamu muncul hehehehe

Created by : Donghae’s Wife & heeShinju

42 thoughts on “I Wanna Live ~Part 1~

  1. alhamdulilah blognya ga diprotect lagi….
    untung, bacanya siang2 coba kalo malam, mana skrg mlm jumat lagi wkwkwkk…
    wah.. penyegaran nih, ada tokoh baru
    blognya jgn di protect2 lagi ya….
    teruslah berkarya, chingu!!!!
    HWAITING!!!!!!!!!!!

  2. iyeeee, onnie uda ga ngambek lagi??
    ini toh ff mysteri yg sering onnie bilangin?? masyaAllah,,,, #tutupmata
    aku ingin hiduuuuup

    lanjut ya onn ^^ sekali2 baca yg gini enak juga

  3. yeee ga di protect xD
    hoho akhirnya bisa ngerusuh disini.. -___-

    ayoo onnie nisya jangan mengalau xD
    trus ff nya lanjutin hehe😄
    ini ff nya bagus.. suka😀

  4. oia, baru inget, ceritanya rada2 mirip ama anime ghost hunt tp lupa episode berapanya, yg ada elizabeth bartory nya kalo ga salah…

  5. akhirnya d buka lagi blognya😀
    ohh, ini kolaborasi sama Aya unni yah?
    suka suka suka >.<
    ak juga penggemar fanfic'nya Aya unni😀

  6. fuih aku kira blognya bakal diprotect terus, untung nggak ^^
    bagus kok nih ceritanya, udah jangan serem2, ntar gak kuat bacanya -__-
    penyegaran nih ada bangchul😄

  7. akhirnya dibuka lagi blognyaa un😀
    deg2an un baca ini ._.
    celah2 pada villa itu jangan2 untuk nyimpen mayat lagi
    hiiiii sereemm
    Tami doang ya yang peka terhadap ‘hal begituan’ ckck
    saya uda bayangin yang tidak2 ni baca ini o,o
    ditunggu kelanjutannya un~

  8. Minra kemana? huaaa diculik hantu kah? #plak Tami daritadi denger Aku Ingin Hidup itu dari pertama dateng ya? makanya minta pulang terus… emang aura villa nya bikin mereka jadi gampang berantem, pas diluar mrk biasa2 aja >.<

    eh salam kenal dulu buat authornya, haloooo Aya hehe ^^

    Buat Duo author ditunggu lanjutannya yaa😀

  9. wah wah tami ama donghae ternyata senasib sepenanggungan..hahahhahah *red: sahabat sejati*

    tami punya indra ke eman kah jd bsa ngrasain kehadiran mkhluk lain..
    pada main jalangakung??? pantesana aja,,, alah pd sok berani ujung-ujungnya mati jg… >.<
    seru-seru,,itu minra songong ama ya #plak *di tabok yg punya nama* ^^
    kolaborasi 2 author yg apik…lanjuuutttt…. ^^

  10. Onn ff dpt bnget feel.a serasa keak knyataan and sukses buat reader speechless ,deg2kan ,tegang ,ad rasa takut jga !!! in ff horor pertama onn yah,,tp dh sekren in !! hmmm next part jangan lama2 yah onn#plakkk

  11. Kyaaaa onnie sumpah seru ! Itu minra belagu bngt yak , ah ngeselin. Si tami kasian bngt , dia punya indra ke 6 gtu ya. Apa bsa ngrasain makhluk halus ?! Haejin cemburu ya haha onnie , cepet2 publish ya selanjutnya. Aku penasaraaaan huweee daebak !

  12. Kyaaaa onnie sumpah seru ! Itu minra belagu bngt yak , ah ngeselin. Si tami kasian bngt , dia punya indra ke 6 gtu ya. Apa bsa ngrasain makhluk halus ?! Haejin cemburu ya haha onnie , cepet2 publish ya selanjutnya. Aku penasaraaaan huweee daebak !!

  13. Udah baca dari tadi siang, tp baru komen skrg. *gapenting
    Whoaaa… Ini kolaborasi ya ternyata. Udah nyangka sih dr awal soalnya ada nama Kim Tami~ hey2 ny.chullie… ^^
    Lanjut lanjut~ keren banget ceritanya, itu si minra kok sombong sekali, ck. Tami tau something kah??

  14. Kyaaaa onnie sumpah seru ! Itu minra belagu bngt yak , ah ngeselin.

    Si tami kasian bngt , dia punya indra ke 6 gtu ya. Apa bsa ngrasain makhluk halus ?!

    Haejin cemburu ya haha onnie , cepet2 publish ya selanjutnya. Aku penasaraaaan huweee daebak !

  15. HUWA AKU DIMANA AKU DIMANA??(panik nyari diri sendiri) ADUH AKU NIH GIMANA SIH MAKANYA JANGAN SOK BERANI DEH LO JADI ANAK!(ngomelin diri sendiri) semoga aku ketemu amin(do’a sendiri, ngaminin sendiri) SUNGMIN OPPA HELP ME, FIND ME!! PLEASE I STILL WANNA LIVE!!

    ahaha unnie tau aja aku tomboy(walo g setomboy amber unnie) prinsipku kan: SAY NO TO SKIRT, DRESS, AND ALL THAT GIRLY THING! beneran lho kl ngeliat barang2 girly gt aku lgsg geli2 gmn gt #lhokokjadicurhatbegini? dan sejujurnya aku takut hantu, tergolong phobia malah. tp gpp deh bwt kepentingan FF mari berantas ketakutan kuu!! uyeah(?)

  16. epep horor?! O.O
    huwaaa… merinding bacanya..
    unnie…. kyu mati gak entar?
    kayanya gak dech.. kn dia itu rajanya hantu(?) kekeke..

  17. yeeay akhirnya blognya gak di protect lagi
    blognya kenapa sempet di protect onn?
    baru part 1 aja udah serem onn. yang bikin serem Tami sama donghae.
    donghae kenapa gak bisa ngeliat darahnya?
    kok tumben ada kyuhyun tp gak ada nara? kekeke
    itu minranya ilang kemana? atau dia udah ‘pergi’? yeahaha
    ahh serem onn, tapi keren
    part 2, onn~ ^^

  18. udah mah bacanya pas malem jumat lagi.
    mantep bgt merinding diskonya.

    asiiik ada sungmin. jarang2 nih sungmin muncul hehe

  19. minra ilang ya? Kemana dia?
    Celah2 tu apa thor?
    Tami nya kasihan, dia bisa ngerasain hal2 buruk..
    Jadi sebel ma minra, dia sombong amat ya..
    Ditunggu part selanjutnya thor🙂
    kerenn….

  20. baru buka inet eh nemu kolabs duothor favorit neh!
    dari naga-naganya, ryeowook itu penakut ya? aduh pendeskripsian pas di awal, gimana g2!
    tp td kok pas di cerita, chul rambutnya berubah, dr hitam jd pirang?

  21. Bacanya degdegan,itu minra sok berani bgt deh. Apa karna dia yg plg sok jadi korban pertamaaaa?? wah kl dlm kondisi kaya gitu sih mending pulang sendiri deh. Daripada harus bertahan. Masih baca ff mending pembunuhan sama orang drpd ma hantu,ahhh tapi udah terlanjur penasaran sama ff ini. ><

  22. ebuset dah tegang amatt..untung aku bcanya pagi2..

    “Bukan begitu, Sungmin-ah,
    tapi coba kau pikir, zaman
    sekarang mana ada barang
    bagus tapi murah? Aku baru
    kepikiran… jangan-jangan villa
    itu bocor, atau banyak kecoa
    dan tikus, hiii,” si rambut
    hitam bergidik setelah
    mengajukan argumennya pada
    si imut.
    <—— set dah ni suamiku konyol amatt..ckckck..
    *tekep muka*

    Tami punya indra keenam ya?
    Dan ya ampuun..minra ya jangan bilang kau korban pertama..
    Hii..serem..

    Onnie..gk dibikin mati semua kek di murder admirer kan??

  23. ngek sereeem😦 mana sendirian di rumah..
    minra di culik alien ya? #ganyambung
    minra ngomongnya sembarangan aja sih, jadi ‘makhluk’-nya marah
    tami punya ke-6? atau bisa ngerasain ‘sesuatu’?
    tadinya aku kira tami itu vampir loh, soalnya panik pas liat darah, terus bisa nyium bau darah hahaha
    eh, onn~ jangan ada adegan-adegan kaya di final destnation ya😄
    ini publishnya malem jumat?
    jangan deh.. alamat ga bisa tidur, onn~

  24. wuih, merinding….
    mana bc’y malam pas mati lampu nih, hihi

    iih, sebel ma minra *yg pny nama maaf yah*
    gaya’y selangit…. *d’golok*
    kim tami pny six sense yah, bs liat hal2 gaib… sedikit mengerikan…🙂
    pdhl kupikir da leeteuk, trnyata gak da…^^

  25. ini bareng sama aya?? Aya yang ntu??
    Huweee…..

    Aduh…. Horor ni ye….
    Dan hitungan mundur pun dimulai… Kita lihat siapa aja yg ‘lenyap’ duluan (?) haha

  26. baguss onnie. .
    suka cerita-cerita kaya gini. .
    minra sok brani, dia ngilang jga kn akhrnya ckckckc. .
    sebenernya ada apa ma tuh villa??
    knpa Tami tau smuanya??
    waaaahhhh penasaran onnie. .

  27. seru horor ny,,,
    aq ingin hidup!! ich bkin merinding
    baru pertama nie bc ff horor!!!
    minra ny nyebelin,, tp ska ma gy ny yg cuek!! hhehe!
    wah haejin cemburu tuh!!! ckckckkk
    duhh pd maen jlangkung, bikin tambah srem ajj!!errrr
    kyaaa,,, itu minra ny kmana????

  28. ihhhh akugak tau lo ni FF mysteri tapi begitu baca sampe bawwah baru nyadar,,, agrrrhhhhada wookie juga *melting*, seru FF nya, nyeremin gimana2 gitu…kkkkk,,,,untung bacanya pas siang bolong, coba pas malem dijamin gak tidur gue gara2 kebayang *lebe*…
    gogogogoo… FIGHTING!!!

  29. kyaaaa~ aku suka ini momma. tegang deh tapi seru ceritanya.
    baca ff ini sempet aku tunda loh pas bagian maen ‘itu’nya. aku baca udah tengah malem pas jagain ade di rumah sakit pula. daripada parno sendiri jadi mendingan aku terusin baca pas paginya deh #curcol :p
    seru sih. tami tuh punya indra keenam yah. sumpah itu si minra ngeselin banget jadi cwe #plakk~ aturan mah emank dari awal aja mereka pulang lagi tapi pada bandel sih. seru ini ffnya. ini tuh bkinnya barengan sama aya eon yg suka bkin ff mystery di sujuff yah? kyaa~ seru seru ayoo momma duet lagi sama aya eon #plakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s