MIRACLE 1/?

annyeong, hahahaha… Ini FF bukan punya Nisya, tapi punya Tantenya Nisya, wkwkwkwk seriously… almost all of my entire family are ELFs, and this fiction REALLY belongs to My Aunty, wkwkwkwkwkwkwk… she’s Minri, and Geenim’s character’s was her daughter… Geenim actually 5 years old girl, she’s my cousin and she’s deadly Petals, and my Aunty is Angels🙂 wakakakaka… soo enjoy ^^ and my Aunty maybe will come here soon for reply your comments

Inspired by : Charmed

Adayang aneh hari ini, Kim Gienim membatin sambil turun dari bis. Gienim baru saja pulang sekolah. Seharian ini Gienim bingung karena kemana saja ia memandang tampaknya semua orang sedang berdebat atau berkelahi. Baik itu di sekolah atau di jalanan. Bahkan dekat rumah, ia bisa melihat beberapa orang yang bertengkar sengit.

Sambil menggeleng-gelang heran Gienim memasukan kunci, kemudian kode keamanan rumah dan masuk. Ternyata kakak sepupunya, Lee Haejin sudah pulang. Haejin sedang membaca di ruang tengah. Haejin mendongak, menyapa Gienim. “Hai, waeyo? Tampangmu kok aneh gitu?” tanyanya heran. Biasanya Gienim selalu pulang sambil mengoceh, tapi tidak kali ini.

“Anneyo onnie. Tapi hari ini aneh,” balasnya lalu duduk di samping Haejin. “Apanya yang aneh?” tanya Haejin. “apa onnie nggak sadar kalo hari ini semua orang bertengkar?” sahut Gienim. Kemudian dia mulai bercerita tentang kejadian yang dilihatnya. “Masa iya sih semua orang yang kulihat sedang bertengkar? Nggak mungkin banget,” Gienim mengakhiri penjelasannya.

 

Haejin termenung sejenak. “Ya memang nggak mungkin semua orang bertengkar dalam waktu yang bersamaan,” pikirnya. “Pasti ada penjelasan dibalik semua ini,” akhirnya Haejin berkata. “Ya memang, tapi apa?” sahut Gienim, kemudian berjalan ke kamarnya. Ia pun memutuskan menceritakan hal itu pada sepupunya yang lain, Park Minri. Gienim mengangkat telpon di kamarnya dan menghubungi Minri.

Telponnya diangkat pada deringan entah keberapa. “Sepertinya Minri onnie sibuk”, pikir Gienim. Sebenarnya ia segan mengganggu Minrin karena Minrin galak dan kadang tak sabaran. Tak suka ada gangguan bila sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Meski begitu Gienim dan Haejin sangat menyayanginya dan sebaliknya. Akhirnya, karena bingung Gienim memutuskan memberitahu apa yang dilihatnya.

“Onnie, aku mau menceritakan sesuatu,” kata Gienim begitu didengarnya suara Minri. “Huuuh, ada apa sih Gienim? Apa nggak bisa nanti di rumah aja ceritanya?” Minri terdengar gusar. “Aku nggak bisa nunggu lagi onnie”. “Minrin mendesah lalu, “waeyo?” Maka Gienim kembali menceritakan apa yang dilihatnya seharian ini.

“Hhhhmm baik aku sependapat denganmu kalau ini memang aneh. Tapi mungkin yang kau lihat hari ini semuanya kebetulan sedang bermasalah,” ujar Minri. “Onnie! Masa sih semua orang yang kutemui marah-marah? Nggak di sekolah nggak di jalan bahkan di depan rumah kita,” serunya sebal karena tanggapan yang tak sesuai dengan harapannya itu.

“Oke-oke, calm dowm. Jangan marah-marah. Aku akan pulang secepatnya. Kita akan membahasnya di rumah. Apa Haejin sudah pulang?” kata Minri akhirnya. “Ne, onnie. Haejin onnie sudah pulang. Aku juga sudah cerita padanya. Dia juga bingung tapi nggak tau harus ngapain,” sahut Gienim lalu memutus percakapan.

Ketika Minri pulang malam itu, keduaadik sepupunya sudah menunggu di ruang makan. Mereka berdua memandang Minri dengan tak sabar. “Ayo cepat sedikit. Aku sudah nggak sabar,” gerutu Gienim. Minri nyengir dan duduk depan Gienim dan Haejin, memandang keduanya dengan geli. “Oke, apa yang mau dilakukan sekarang?” tanya Minri kemudian.

Flashback

Ketiga gadis itu bukan saudara kandung, mereka semua bersepupu. Ibu merekalah yang kakak beradik. Itulah sebabnya nama keluarga mereka berbeda, Park, Lee dan Kim. Ibu Minri menikah dengan seorang bermarga Park, ibu Haejin menikah dengan laki-laki bermarga Lee dan ibunya Gienim dengan seorang bermarga Kim.

 

Mereka bertiga juga bukan perempuan biasanya. Ketiga memiliki kekuatan tersembuyi yang tidak diketaui orang lain. Minri punya kekuatan menggerakan benda dari jauh hanya dengan gerakan tangan, membakar dan meledakan sesuatu dengan mata. Haejin mampu menghentikan waktu, membekukan siapa atau apapun kecuali sesama penyihir dan  terbang!

 

Sedang Gienim bisa berada di dua tempat sekaligus pada waktu bersamaan dan melihat masa depan. Selain kekuatan yang dimiliki, mereka juga punya seorang pelindung. Yang selalu membantu ketiganya saat kesulitan menghadang. Pelindung mereka itu mampu menyembuhkan luka separah apapun. Han Wooin, nama pelindung mereka itu selalu membantu mencari tau penyebab masalah yang dihadapi ketiga sepupu itu.

 

Kekuatan yang mereka dapatkan ini sering membuat ketiganya terjebak kesulitan. Karena mereka tak memiliki kekuatan super natural ini tanpa sebab. Ketiganya harus menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menolong orang yang memerlukan, bukan untuk keuntungan pribadi. Mereka mewarisi kekuatan itu dari ibu mereka, yang ternyata juga memiliki kekuatan super natural.

 

Nenak dan orangtua ketiganya suda meninggal. Kini mereka tinggal bertiga di rumah tua, yang bagus, warisan dari sang nenek. Ketiganya masih sangat muda ketika ditinggal oleh orangtua mereka, terutama Gienim. Usianya baru 15 tahun ketika ibu dan ayahnya meninggal akibat kecelakaan kereta api, 2 tahun lalu.

 

Sepeninggal orangtuanya, Gienim dan kedua sepupunya seringkali mendapat pertanda yang tak pernah disadarinya sampai setahun yang lalu. Ketika ia dan kedua sepupunya menemukan surat dari sang nenek dan ibu-ibu mereka, yang menjelaskan semua kejadian aneh yang kerap dialami ketiganya tanpa penjelasan selama bertahun-tahun.

 

Penjelasan yang membuat mereka sadar, kalau mereka bukanlah orang biasa, tetapi memiliki kekuatan sihir yang dahsyat. Sejak itu ketiga acapkali atau malah selalu berada dalam keadaan yang tak bisa dijelaskan. Situasi yang membuat ketiganya terlibat kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dari ketiganya, Park Minri yang paling sering mendapat kesulitan karena tiba-tiba menghilang dari pekerjaannya. Karena sering tak berada di tempatnya saat dibutuhkan. Haejin yang masih kuliah sebenarnya juga mendapat kesulitan. Hanya saja karena jam kuliah yang tak mengharuskannya seharian dalam kelas, membuat Haejin bisa meninggalkan kampus, kapan saja diperlukan.

 

Sebenarnya, Gienim pun tak kalah sering berada dalam masalah, karena harus membantu kedua sepupunya menjalankan tugas mereka sebagai pembela kebenaran. Minri sering harus datang ke sekolah Gienim dan mendengar guru atau kepala sekolahnya mengeluh soal bolosnya Gienim saat pelajaran berlangsung. Minri hanya bisa mendengarkan keluahan itu tanpa bisa berjanji Gienim tak melalukannya lagi.

 

Walau ketiganya bukan saudara kandung, mereka saling menyayangi. Memang sejak kecil mereka terbiasa bersama di rumah sang nenek. Terutama Minri dan Haejin, karena orang tua Minri meninggal paling dulu, ketika Minri masih berusia 16 tahun. Sekitar 7 tahun lalu. Orang tua Haejin yang meninggal 4 tahun lalu membuatnya bergabung dengan Minri untuk tinggal di rumah sang nenek.

 

Nenek mereka, Choi Linma, punya pengaruh besar pada ketiga cucunya itu. Saat sang nenek meninggal, hampir 2 tahun lalu, ketiganya merasa sangat kehilangan. Apalagi karena sang nenek adalah satu-satunya saudara mereka yang masih hidup. Linma sshi hanya punya 3 putri, yang semuanya sudah meninggal. Membuatnya harus mengurus ketiga cucunya, Minri, Haejin dan Gienim.

 

Ends of flashback

Minri, Haejin dan Gienim membahas  cerita Gienim sambil menikmati makan malam yang disiapkan Gienim. Dari ketiganya yang paling pintar memasak ada Gienim, meski usianya paling muda, baru 17. “Jadi bagaimana menurutmu, Minri onnie?” tanya Gienim setelah ia selesai bercerita.

“Yaah, aku belum tau apakah ini ada hubungannya dengan makhluk-makhluk jahat yang sering mengganggu kita atau enggak. Sebaiknya kita lebih hati-hati sekarang,” jawab Minri setelah berpikir singkat. “Haejinaa, gimana menurutmu?” sambungnya lagi. Haejin mengangguk. “yah aku coba cari di buku deh. Kali aja ada yang kita cari,” ujarnya.

Tak lama, ketiganya sudah berada di loteng, membuka buku besar peninggalan nenek dan ibu mereka. Buku itu diberi nama Book of Reflection, Buku Refleksi. Buku antik itu berisi bagaimana menanggulangi sihir jahat yang mereka alami. Dengan semua mantra yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Seperti membuat ramuan penghancur “iblis dan warlock” dan lain sebagainya. Sebagian besar buku itu ditulis oleh nenek dan putri-putrinya. Tapi ada juga beberapa halaman kuno yang ditulis oleh para pendahulu mereka, yang ternyata kebanyakan adalah penyihir baik selama berpuluh-pulh bahkan ratusan tahun sebelumnya.

Dunia sihir terbagi jadi dua bagian, bagian baik dan jahat. Kedua kutub itu sama kuatnya. Dengan ketiga saudari itu sebagai momok paling menakutkan bagi semua penyihir dari kutub berlawanan. Ketiga dijuluki “The Blessed One”, yang terpilih, karena kekuatan yang dimiliki ketiganya sangat dahsyat. Sehingga membuat mereka jadi sasaran yang paling dicari para penyihir hitam alias the dark side.

Ketika hari sudah larut, ketiga gadis itu akhirnya menyerah mencari penyebab kemarahan semua orang yang dilihat Gienim. “Aaaah sudahlah ayo kita istirahat saja. Sudah malam, besok aku ada kuliah pagi. Huaaah,” ajak Haejin pada Minri dan Gienim sambil menguap. Gienim menggosok matanya, “baiklah. Mungkin besok kita bisa mencari dengan lebih baik. Selamat tidur,” sambut Gienim lalu meninggalkan loteng, diikuti kedua sepupunya.

Tak seorang pun dari ketiga bersaudara itu menyangka, kalau esoknya mereka tak perlu bersusah payah mencari penyebab kemarahan hampir sebagian orang. Ketika matahari terbit, ketiganya melakukan rutinitas seperti biasa, sebelum berangkat ke tempat aktivitas masing-masing.

Hari itu Minri mengantar Gienim dan Haejin seperti biasanya. Setelah mengantar Haejin sampai di depan kampus, Minri melewati jalan pintas agar tiba di kantor tepat waktu. Saat sedang melintas di jalan yang relatif sepi itu, tiba-tiba sebuah mobil memotong jalannya dari arah kanan. Minri tersentak dan menginjak rem mendadak.

Setelah mobil yang nyaris menabrak melaju lagi, Minri mulai menjalankan mobilnya lagi, perlahan-lahan. Sayang pengemudi mobil di belakang Minri ternyata sangat tidak sabar. Dia membunyikan klakson terus-menerus, membuat Minri hampir naik darah. Untungnya ketika dia sudah hendak meluapkan kemarahannya, mobil itu melaju melewatinya, dan menabrak mobil pick up yang sedang melintas dari arah kiri.

Tabrakan antara kedua mobil itu tak terelakan. Bunyi nyaring braang, kemudian sayuran dan buah-buahan yang sedang diangkut pick up itu berhamburan ke segala arah. Untuk keduanya kalinya pagi itu Minrin terpaksa menginjak rem mendadak. Kedua pengemudi yang bertabrakan itu keluar dan mulai bertengkar tentang siapa yang salah dalam kecelakaan itu.

Saat itulah entah bagaimana, tiba-tiba sebuah semangka melayang dan pecah di kaca depan mobilnya. Minri tersentak dan menghela nafas. Kemudia ia keluar untuk mencari tau seberapa parah kecelakaan di depannya. Yang dilihat kemudian membuatnya tercengang. Karena semua orang yang ada jalan itu terlibat pertikaian tanpa sebab yang jelas.

Minri melihat sekelilingnya dan menangkap seorang pria berdiri di pinggir jalan sambil meniup sesuatu dari mulutnya. Saat tiupan itu mencapai sesosok wanita yang tengah berjalan, tiba-tiba tanpa sebab wanita menjadi marah. Ia mengeluarkan sumpah serapah dan melemparkan tasnya kearah Minri.

Minri yang terkejut secara refleks langsung menggunakan sihirnya untuk membelokan arah tas wanita itu. Tasnya jatuh di trotoir dekat pria berstelan jas hitam itu. Saat itulah Minri dan pria tak dikenal itu bertatapan. Kemudian, pria itu berlari, mencoba menjauhi Minri. Minrin yang masih terkejut mencoba mengejarnya. Sayang ia kemudian kehilangan jejak di sebuah gang kecil.

Dengan cemas Minri berbalik ke mobilnya dan melihat orang-orang masih berkelahi. Bahkan ada yang sampai terlibat adu jotos. Minrin menghela nafas dan sedikit lega ketika mendengar sirene polisi. Lalu kembali mengendarai mobilnya, meski dengan pikiran melayang pada kejadian yang baru saja dialaminya.

Secara naluriah Minri tau kalau kejadian tadi bukanlah kejadian biasa.Adasesuatu yang membuat keadaan kacau dan menyebabkan semua orang menjadi marah tak terkendali. Sambil menghela nafas Minri kemudian menulis pesan singkat untuk kedua sepupunya. Meminta agar siapapun  yang sampai duluan, segera mencari-cari hal itu di buku refleksi.

Kebetulan hari itu Haejin lah yang sampai di rumah lebih dulu. Sesuai dengan pesan dari Minri, Haejin segera naik ke loteng dan membuka buku refleksi. Sekitar 1 jam Haejin mencari apapun yang berhubungan dengan insiden yang dikatakan Minri. Tapi tak ada satu kalimat pun yang memberikan petunjuk.

Saat putus asa, Gienim muncul. “Anneyong onnie. Apa onnie sudah mencari apa yang diminta Minri onnie?” “Ne, tapi nggak ada apapun yang cocok,” balas Haejin. Akhirnya mereka berdua mencari petunjuk lagi bersama-sama, sampai keduanya memutuskan untuk berhenti mencari karena sudah putus asa.

Waktu Minri kembali, kedua sepupunya melaporkan pencarian mereka. “Heemhh, kalau di buku nggak ada, apakah ini jenis sihir hitam baru?” katanya. “Sihir hitam baru? Maksud onnie, kali ini lawan kita punya cara baru menghancurkan kehidupan?” tanya Gienim tercengang. “Ya itukan baru kemungkinan. Mungkin juga enggak,” balas Minri.

“Iya, itu baru kemungkinan. Jangan panik. Kita harus tetap menggunakan akal sehat,” kata Haejin setelah diam sambil berpikir. “Ah, tadi Chun sshi menelpon. Dia ingin tau apakah kekacauan ini disebabkan oleh kegiatan sihir atau bukan,” sambung Haejin lagi. Minri menoleh dengan pandangan bertanya.

“Menurutnya sejak kemarin banyak sekali terjadi pertikaian di seluruhkota. Hal ini membuat banyak orang berakhir di penjara atau rumah sakit,” jelasnya lagi. “Hhhmm, jadi kepolisian turun tangan untuk menyelidiki kejadian ini?” ujar Minri. “Ne,” balas Haejin. “Onnie, kita harus gimana dong sekarang?” tanya Gienim pada Minri dan Haejin.

Minri berpikir sejenak sebelum menjawabnya, “kita nggak harus gimana-gimana. Yang harus kita lakukan adalah waspada. Semoga saja kita tidak ikut terserat pertikaian”. Kedua sepupunya mengangguk. “Kita makan yuk. Mumpung belum kemalaman. Kali ini kita makan di luar. Aku yang traktir,” sambung Minri lagi.

“:Asyiiik,” seru Gienim berbarengan dengan teriakan “horreee!” nya Haejin. Keduanya langsung berhamburan turun dari loteng menuju kamar masing-masing. Minri tersenyum melihat tingkah keduanya dan menyusul turun. Tak lama kemudian ketiganya sudah berada dalam mobil, menuju Café Les Blue yang terkenal dengan hidangan lezatnya. Mereka sama sekali tak tau kejutan apa yang menanti di depan mereka.

Suasana di Les Bleu Café tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Tapi di sudut ruangan yang mengarah ke belakang, sebuah meja panjang terisi penuh. Ketiga saudara itu melewati meja panjang yang penuh tawa canda itu. “Onnie, woow, “ seru Gienim tertahan pada Minri dan Haejin setelah mereka duduk.

“Apa sih Gienim?” tanya Haejin. “Iii..itu lho meja panjang itu,” ujar Gienim tergagap. “Kenapa meja panjangnya?” tanya Minri bingung melihat tingkah Gienim yang aneh. “ItukanSuper Junior,” kata Gienim pelan dengan mata berbinar, masih memandang ke arah meja panjang yang penuh itu.

Minri dan Haejin menoleh sambil nyengir. Dengan sekali pandang keduanya tahu Gienim benar. Tapi tak seperti Gienim, keduanya tak lantas salah tingkah dan memperhatikan meja itu. Minri malah cuek, seakan-akan tak ada siapa-siapa di ruangan itu. Haejin memperhatikan buku menu sambil sesekali melirik ke arah member Super Junior yang tengah asyik menikmati hidangan mereka.

Tak lama ketiganya juga sudah mulai menikmati makanan mereka, sambil membincangkan kejadian aneh yang mereka alami dua hari belakangan itu. Tapi tiba-tiba, orang-orang di sekeliling mereka terdengar berisik. Ketiganya serempak memandang keliling dan mendapati semua tamu café saling bertikai dengan teman semeja mereka. Termasuk para member Super Junior.

Mereka yang tadinya berbincang dan bersenda gurau, tiba-tiba kehilangan kesabaran.Adayang membentak dengan nyaring, ada yang tiba-tiba memukul rekannya. Pokoknya dari 10 member Suju, tak ada seorang pun yang “waras” saat itu. Mereka bertengkar sangat hebat, apalagi karena mereka jumlahnya banyak, maka suara yang dikeluarkan pun keras.

Namun tak ada yang peduli. Karena semua tengah terlibat dalam pertikaian masing-masing. Kecuali ketiga saudara sepupu itu. Mereka terlindung, karena apa yang dilakukan pihak “hitam” tak mampu menyentuh mereka. Minri memandang sekeliling dan menemukan seorang pria berjas hitam berdiri di lorong menuju dapur café.

Pria itu menyeringai senang memandang kejadian itu. Namun Minri segera menghampirinya. Kejar-kejaran antara keduanya tak terelakan lagi. Hari itu, untuk kedua kalinya Minri kehilangan pria itu. Di tembok pembatas halaman café. Pria itu seperti bisa menembus tembok dan menghilang.

Minri segera kembali ke dalam café dan melihat pertikaian masih terjadi. Bahkan para pelayan dan semua awak café sekarang ikut bertengkar. “Haejin-ah!!! Bekukan semuanya sekarang!” seru Minri pada Haejin. Maka Haejin mengangkat tangannya dan membekukan semua orang yang ada di situ.

Sementara Gienim menghampiri meja tempat Super Junior. “Onnie, kemarilah. Banyak member Suju yang  terluka!” seru Gienim. Haejin dan  Minri segera berlari ke arah Gienim yang tengah memegang seorang member SJ yang terluka di kening. Keningnya robek dan mengeluarkan banyak darah akibat terkena pukulan botol. Sedangkan ada sekitar 8 member lain yang juga terluka di beberapa tempat.

“Wooin! Wooin!” teriak Haejin. “KAMI MEMERLUKANMU SEKARANG!!!” Cahaya putih berkelip menghampiri mereka disertai kemunculan Han Wooin. Wooin berlari ke arah Gienim dan meletakan kedua telapak tanganya di atas kening member yang terluka itu. Cahaya terang keluar dari telapak tangannnya. Kemudian luka di kening itu tertutup dan kembali seperti semula. Gienim menarik nafas lega dan meletakan kepala orang itu di lantai.

“Wooin, kemarilah. Banyak yang butuh bantuanmu,” seru Minri yang tengah memeriksa keadaan orang-orang. Wooin memegang tangan Minri dan berkata, “kau harus menolongku Minri. Banyak yang terluka dan aku takut tak ada cukup waktu menyembuhkan mereka semua,”. “Tapi aku tak bisa menyembuhkan orang!” seru Minri.

“Pegang tanganku dan lakukan apa yang kulakukan di atas luka orang yang terluka. Percayalah kau bisa melakukannya,” kata Wooin. Minri tak lagi berdebat dan mencoba apa yang dikatakan. Ia meletakan sebelah telapak tangannya di atas luka seorang member sedang sebelah tangannya memegang tangan Wooin.

Untunglah berkat kerjasama mereka, tak lama kemudian semua yang terluka sudah sembuh. “Apa yang terjadi Wooin? Siapa yang melakukan semua ini?” tanya Haejin setelah memandang berkeliling untuk mengetahui berapa besar kerusakan yang terjadi. “Aku belum tau Haejin. Mungkin sebaiknya aku menanyakannya sekarang. Siapatau para tetua tau siapa yang ada dibalik semua ini,” kata Wooin dan menghilang.

“Haejin onnie, gerakan mereka kembali,” kata Gienim kemudian menjauh dari meja Suju dan kembali duduk di bangkunya. Ya dengan kemampuan yang mereka miliki, ketiganya mencoba memperbaiki kerusakan yang ada. Meski tak sesempurna sebelum terjadi pertikaian. Ketiganya pun langsung mengambil posisi semula. Dan dalam hitungan 3 detik, Haejin menggerakan tangannya dan srrt, semua kembali seperti semula.

Minri, Haejin dan Gienim menarik nafas lega ketika keadaan pulih kembali. “Aku melihat pria berstelan jas hitam sepeti yang kulihat tadi pagi,” kata Minri. “Sepertinya dialah yang menyebabkan kekacauan ini.” “Benarkah onnie?” tanya Haejin dan Gienim bareng. Minri mengangguk. “Sayang aku tak bisa menangkapnya. Dia menghilang, menembus tembok halaman belakang,” tambah Minri menyesal.

“Sudahlah onnie. Onniekansudah berusaha. Pasti ada alasan kenapa onnie nggak bisa menyusulnya,” ujar Haejin menenangkan sepupunya itu. “Ne onnie. Lain kali kita coba menangkapnya bersama,” timpal Gienim. “Tapi aku bingung apa sebenarnya yang ingin mereka capai,” tambah Gienim, menatap kedua sepupunya. “Aku juga nggak tau. tapi kalau banyak kekacauan, masalah besar akan timbul,” sahut Haejin.

“Mungkin itu tujuannya, mengacaukan kehidupan. Tapi apa setelah itu?” ujar Minri dengan tampang bingung. Ketiganya terdiam dalam pikiran masing-masing dan tak sadar ada seseorang yang menghampiri. “Maaf, apa benar itu ponselku?” tanya pria itu mengagetkan ketiganya.

“Aaah, apa?” tanya Gienim bingung. “Ponsel. Sepertinya itu ponselku. Tapi aku nggak tau kenapa bisa ada di meja kalian,” kata pria itu lagi. Gienim, Minri dan Haejin memandang ponsel hitam yang ada di tengah-tengah meja mereka dan berbicara bersamaan. “Ah kenapa benda itu ada disini?” ujar Haejin keheranan.

Rupanya saat mereka sibuk “mengurus” kekacauan, mereka tanpa sengaja membawa ponsel itu ke meja dan meletakannya begitu saja. “Wow, ponsel bagus,”ucap Minri dan “Eehmm ya kau benar. Ini bukan milik kami,” kata Gienim tergagap. Rupanya Gienim tau siapa pria yang menghampiri meja mereka.

“Ini silakan. Kami juga nggak tau kenapa ponselmu bisa ada di meja kami,” jelas Gienim sambil menyodorkan ponsel itu.  Masih dengan tingkahnya yang kacau. “Gomawo. Ehhhm boleh aku minta nomormu?” balas member itu sambil menyunggingkan senyum manis pada Gienim. “Pasti dia TP. Mentang-mentang ngetop,” pikir Minri sebal.

Gienim terperangah kemudian memandang kedua sepupunya. Haejin nyengir sambil mengedipkan mata, sementara Minri mengangguk tak ketara. Gienim tersenyum senang, “boleh. Tapi….ehhhhmmm,” Gienim berhenti. “Kamu nggak percaya aku ya?” sahut pria itu sambil nyengir. “Hhhm bukan, tapi pengen tau aja kenapa,” balas Gienim.

Cengiran pria itu bertambah lebar, “kamu nggak tau ya siapa aku?” Gienim memandangnya sebal, “rese banget sih ni orang. Kayak yang paling ngetop sedunia aja,” pikirnya sebal. “Memangnya aku harus tau semua orang,” sahut Gienim ketus. Pria itu nyengir mendengar jawaban Gienim yang ketus. “Mianhe. Jadi gimana nomornya?”

Gienim memandangnya orang itu balas menatapnya. Gienim menatap dengan sinar kesal, dan lawannya dengan sinar mata geli. Kemudian Gienim menunduk, menulis sederet nomor di kertas  dan memberikannya pada pria itu. “Thank u,” ujar sambil menerima kertas dari Gienim dan kembali ke tempatnya. Semua yang ada di meja panjang itu menyambutnya meriah.Adayang bertepuk tangan, menepuk bahunya dengan senang.

“Sabar ya Gienim.Kankamu suka banget sama Suju,” ujar Minri sambil nyengir. “Iya tapikan nggak sama member yang kayak gitu tingkahnya,” sahut Gienim membuat Haejin dan Minri malah terbahak-bahak. “Hiiih onnie!! Kenapa kalian malah tertawain aku?” serunya kesal. Kedua sepupunya itu bukannya berhenti tertawa malah makin geli.

Sampai ketika melihat tampang Gienim berubah total, barulah Minri dan Haejin serempak berhenti tertawa. “Oke-oke. Apa kalian sudah selesai? Kalo sudah yuk kita pulang,” ajak Minri. Gienim dan Haejin mengangguk kemudian ketiganya keluar café. Di lapangan parkir, ketiga gadis itu kembali bertemu member Suju.

Letak jeep BMW X5 hitam metalik milik Minri terparkir di sebelah beberapa buah  Audi berbagai warna, yang ternyata milik member-memer SJ. Gienim yang berjalan lebih dulu tertegun ketika melihat 13 member SJ itu. Kemudian dengan suara keras, “onnie cepatlah, masih banyak yang harus kukerjakan”. Haejin dan Minri yang berjalan agak di belakangnya, berpandangan dan nyengir lagi. Keduanya tak melihat siapa yang ada di depan mereka sampai Minri mengeluarkan kunci mobil.

Ia menelan ludah dan mematikan alarm mobilnya. Saat itu Haejin juga langsung menyadari apa yang membuat Gienim kesal. Haejin merangkul Gienim, mencoba menenangkannya. “Selamat malam ladies,” sapa pria yang tadi ke meja mereka. Minri hanya mengangguk dan membuka pintu mobil. “Gienim ssi?” tiba-tiba pria itu berkata lagi. Membuat ketiga gadis itu terpaku di tempat masing-masing.

Gienim memandang pria itu dan, “ne, wae?” “Aku cuma mau mengembalikan ini. Tadi terbawa,” sahut pria itu sambil menyodorkan selembar kertas. Gienim mengambil kertas itu dan membacanya. Seketika itu rautnya berubah. Diremasnya kertas itu dan dilemparnya ke arah memer Suju itu. Gienim masuk mobil dan membanting pintunya.

Sementara ke-13 orang di parkiran itu tertawa. Minri mengangkat tangannya geram. Ia tahu tak diperbolehkan menggunakan sihir untuk kepentingan pribadi. Tapi ia tak terima adiknya dipermainkan. Sehingga tanpa sadar melakukan gerakan mengibaskan tangan yang menyebabkan pria yang dipanggil “Heechul hyung” oleh teman-temannya terjengkang.

Membuat semua terdiam. Haejin bergegas menghampiri Minri. “Onnie. Waeyo?” tanyanya pelan. Minri menggeleng, menghampiri Heechul yang masih terduduk di tanah. “Gwenchaneyo?” tanyanya. Heechul mengangguk. “Apa yang kau lakukan padanya?” tiba-tiba seorang pria dengan warna rambut pirang bertanya pada Minri. Minri mengenalinya sebagai pria yang tadi disembuhkannya.

Minri hanya menggeleng, membantu Heechul berdiri. “Mianhe Heechul ssi,” ujarnya tanpa menjawab pertanyaan pria pirang itu. Setelah membantu Heechul, Minri berbalik menuju mobil dengan langkah gagah. Pria-pria yang semula mengelilingi Heechul bergerak, memberi jalan bagi Minri. Semua mata memandangnya khawatir.

Haejin dan Gienim bergegas menghampirinya. “Onnie, gwenchaneyo?” tanya Gienim. Minri hanya mengangguk dan masuk mobil diikuti keduanya. Tak lama mereka meninggalkan tempat itu. “Onnie, harusnya onnie nggak usah marah begitu,” ujar Haejin membuka percakapan. “Arraseo. Tapi aku nggak sadar, refleks aja” sahut Minri, membuat Haejin dan Gienim berpandangan.

“Hehm sudahlah onnie, biar mereka kapok,” ujar Gienim kemudian menenangkan. Setelah itu selama sisa perjalanan pulang, semuanya diam. Minri memikirkan konsekuensi perbuatannya. Sedang Gienim, diam-diam senang akan perbuatan Minri onnienya. Tiba di rumah ketiganya langsung masuk kamar tidur masing-masing tanpa membicarakan kejadian aneh malam itu.

Pagi harinya Haejin dan Gienim terkejut menemukan Minri duduk di tangga sambil termenung. “Onnie, ada apa?” tanya kedua. Minri menoleh, “aku harus membayar apa yang kulakukan semalam. Aku tau ada konsekuensi atas semua perbuatan, tapi nggak nyangka secepat ini.” “Apa maksudnya on?”tanya Haejin cemas.

“Yaaah, aku kehilangan semua kekuatanku pagi ini,” balas Minri. “Apa?!” seru Haenim dan Haejin serempak. “Kenapa menghilangkan kekuatanmu onnie? Gimana kalau ada sesuatu yang harus kita lakukan?” tanya Gienim. “Akan kucari jalan keluarnya. Mungkin aku harus membawa beberapa macam ramuan penangkal dalam tasku,” kata Minri lesu.

Ketiganya sarapan dalam diam pagi itu. Ketenangan itu pecah ketika Wooin muncul di hadapan mereka. “Adaapa sekarang Wooin?” tanya Haejin dengan nada mengeluh. “Kalian minta aku mencari tau tentang pria berstelan jas hitam semalamkan,” balas Wooin. “Lalu?” sambut Minri ingin tau. “Cepatlah katakan. Kami bisa telat nih,” desak Gienim.

“Paratetua mengatakan pria berjas itu adalah salah satu dari empat pembuat keonaran di bumi. Tugas utama mereka adalah menguasai dunia dan melenyapkan manusia dan tentunya penyihir baik seperti kalian,” jelas Wooin. “Maksudnya?” tanya Haejin tercengang dengan penjelasan itu. Gienim mengangguk setuju dengan pertanyaan Haejin.

“Keempatnya berada di 4 penjuru mata angin untuk menyebarkan permusuhan. Jadi ada 1 pria pembuat kekacauan di Utara, Selatan, Timur dan Barat. Karena jika semua bermusuhan, akan mudah bagi pihak hitam untuk mengambilalih dunia dan membinasakan manusia,” terang Woodi lagi. “Hanya kalian yang bisa mencegah hal itu terjadi”.

“Tapi mereka nggak mengincar kamikan?” tanya Gienim panik. Wooin menggeleng. “Ku rasa bukan hanya kalian, tapi semua makhluk di bumi ini”. Minri, Haejin dan Gienim menarik nafas panjang serentak. “Saat ini kami tak akan bisa menghentikan mereka,” keluh Haejin. “Mwo?? Weo?” tanya Wooin heran. “Kaliankan“yang terberkati” kenapa tak bisa?”

“Aku mengacaukan semuanya semalam. Saat ini aku tengah dihukum,” jelas Minri. Wooin tercengang sambil menatap ketiga saudara itu bergantian. “Tapi hukuman apa yang kau terima Minri-ah?” tanyanya. “A..aku kehilangan kekuatanku,” balas Minri pelan, “semuanya”. Wooin benar-benar terkejut sekarang.

“Kenapa kau bisa kehilangan kekuatanmu? Apa yang kau lakukan? Apakah kau menggunakan sihir dengan tak semestinya?” tanya Wooin bertubi-tubi. “Minri onnie tak sengaja membuat orang jatuh terlempar. Dia melakukannya untuk membela Gienim,” terang Haejin. “Tapi orang itu nggak apa-apa kok, cuma kaget,” tambah Gienim.

“Onnie nggak melakukannya dengan sengaja. Hanya saja para tetua tetap menghukumnya,” kata Haejin. Wooin mendesah. “Tapi Minri-ah, kau melakukannya di depan semua orang? Well, aku ragu apakah para tetua akan mengembalikan kekuatanmu. Akan kucoba membuat mereka menangguhkan hukuman,” ujarnya dan menghilang, tepat saat bel berbunyi. “Siapa yang datang pagi begini?” tanya Haejin lalu ke depan untuk membuka pintu.

Haejin tercengang ketika membuka pintu dan mendapati seorang pengantar bunga dengan sebuah bouquet mawar besar berwana pink ditangan. “Selamat pagi nona. Apakah Kim Gienim ada?” tanya pengantar bunga itu. Haejin berseru, “Gienim, ada yang mencarimu. Kemarilah cepat!” Gienim muncul dengan tasnya siap berangkat dan. “Wae? Bunga yang indah, untuk siapa?” “Untuk Gienim ssi,” pengantar itu menjawab.

Gienim menandatangani tanda terima dan menerima boquet itu dengan bingung. “Dari siapa mawar ini ya?” ujarnya bertanya pada Haejin. Haejin menggeleng, tepat saat Minri masuk ke ruang depan. “Siapa yang datang?” tanya Minrin. “Bunga,” jawab Haejin. “Bunga? Bunga apa?” tanya Minri heran. “Ini onnie, seseorang mengirimkannya untukku,” jawab Gienim sambil menunjukan bunga yang diterimanya.

“Adakartunya?” tanya Minri kemudian. Gienim mencari-cari dan menemukannya. “Ada. Aku akan membacanya,” ujar Gienim. “Aku mengirimkan bunga ini sebagai tanda damai. Ku harap kau menyukainya. Kim Heehul,” baca Gienim kemudian tertegun. “Kim Heeccul? Kim Heechul yang semalam? Heechul Super Junior?” ujarnya kemudian tak percaya. “Tahu darimana dia alamat ini?”

“Yaah memangnya ada berapa banyak Kim Heechul yang kita kenal sih?” balas Minri. Sementara Gienim bersorak girang. “Onnie, aku nggak percaya Kim Heechul mengirim bunga untukku!” seru Gienim sambil melonjak-lonjak kegirangan. Haejin tersenyum geli melihat tingkahnya. Sementara Minri nyengir antara kesal dan geli. Minri kesal karena Heechulah yang menyebabkannya dihukum.

“Ayo onnie, berangkat nggak?” tanya Gienim setelah selesai mengurus bunganya. “Oke, let’s go,” ujar Minri lalu menuju pintu diikuti kedua sepupunya yang lebih muda itu. “Aku sebenarnya bingung kenapa kalian nggak mau bawa mobil sendiri sih?” tanya Minri di mobil. Haejin dan Gienim nyengir mendengar pertanyaan itu.

Keduanya bisa mengemudi, punya SIM bahkan mobil sendiri, tapi mereka sudah terbiasa diantar Minri dan selalu kemana-mana bersama. Sehingga menurut keduanya aneh sekali rasanya harus menyetir sendiri. Meski Haejin terkadang harus mengemudi sendiri karena jadwalnya beda dari Minri dan Gienim. Apalagi sudah bertahun-tahun mereka selalu diantar Minri kemanapun hendak pergi.

“Nggak enak aja rasanya nyetir sendiri onnie. Aneh deh. Maklumlah aku sama Gienimkanbiasa diantar onnie,” jawab Haejin polos. “Emang onnie keberatanan ya harus antar kami sekarang?” tanyanya lagi. “Aaah andwe, andwe, onnie sama sekali nggak keberatan. Cuma heran aja kok kalian nggak mau bawa mobil sendiri. Padahal udah punya SIM,” kata Minri datar. “Aku belum mau. Enakan disetirin onnie. Nggak capek,” cetus Gienim sama polosnya dengan Haejin.

“Ya sudah kalo gitu, aku jadi supir kalian aja deh gimana?” seloroh Minri. “Jangan onnie,kansayang kerjaan onnie.Apalagi onnie udah punya gaji lumayan,” balas Gienim sambil tertawa. Tawa pun memenuhi mobil itu. Setelah mengantar Gienim, seperti biasa Minri menuju arah kampus Haejin. Seperti kemarin, hari itu mereka kembali menemukan kecelakaan lalu lintas.

———-

“Haejin-ah, kemarin setelah mengantarmu juga keadaannya seperti ini. Coba kau lihat sekeliling, apakah ada pria berstelan jas hitam,” kata Minri waspada. Haejin memandang berkeliling, mencoba mencari tanda-tanda pria berjas hitam. Dan ia melihatnya di sudut jalan, dekat lampu lalu lintas. Pria itu tersenyum dengan posisi meniup.

“Onnie berhenti, aku melihatnya di sudut dekat lampu lalu lintas,” seru Haejin tertahan. Maka dengan agak mendadak Minri memberi sen dan menghentikan mobilnya. Kemudian bersama Haejin berlari ke arah pria berjas hitam itu berdiri. Ketika mereka berhadapan, pria itu mencoba berlari, meninggalkan kekacauan yang dibuatnya.

Tapi kali ini Haejin lebih cepat, ia membekukan pria itu, dan menghampirinya. “Haejin-ah, hati-hati,” ucap Minri sambil ikut mendekat. Ketika jarak Haejin sudah sangat dekat dengan pria berjas hitam, ketika mendadak pria itu terlepas dari sihir dan menendang Haejin hingga terjungkal.

Ia memandang kedua saudara itu dan mengeluarkan sihirnya. Sihirnya mengenai Minri yang sedang membungkuk untuk membantu Haejin berdiri.. Minri terpental ke atas setinggi 3 meter dan jatuh berdebam di trotoir yang keras, dan pria itu mennghilang seperti angin. Haejin menjerit keras saat melihat Minri jatuh tergeletak dan tak bergerak, diam.

Haejin menoleh mencari bantuan saat sadar kalau semua dalam sihirnya. Dengan segera ia menjentikan jari, membuat kehidupan berputar lagi kemudian berlari mendekati Minri, mengguncangnya. Tapi yang diguncang tak bergerak sama sekali, membuatnya panik. Dalam kepanikannya Haejin ingat untuk menelpon 119 dan berlari ke arah mobil untuk mengambil ponsel yang ditaruhnya dalam tas.

Karena tak hati-hati, Haejin nyaris tertabrak sebuah van hitam yang tengah melintas dengan anggunnya. Hanya karena supirnya terlatihlah, ia lolos dari hantaman van itu  dengan jarak kurang dari setengah meter. Van itu berhenti dengan mengeluarkan bunyi rem berdecit. Haejin menarik nafas dan jatuh terduduk karena merasa sangat lega.

Sementara pintu van hitam itu terbuka, disusul keluarnyalimapria dari dalam van, menghampiri Haejin. Seorang diantara mereka membantunya berdiri. “Hai bukankah dia ini perempuan yang semalam ada di café?” ujar pria berbadan besar, yang ada tepat di depan Haejin. Ke-4 temannya memandang Haejin seksama, “Ya benar dia yang semalam,” jawab orang yang kini dikenali Haejin sebagai Kim Heechul.

Dalam hatinya Haejin mengeluh, kenapa dia harus bertemu dengan mereka lagi. Kemudian Haejin teringat akan Minri yang ditinggalkannya tergeletak di trotoir, ia tersentak dan, “Minri onnie,” ujarnya lalu berjalan menuju trotoir lagi. Tak dipedulikannya memar yang didapatnya. Karena bingung dan takut terjadi sesuatu, kelima pria itu mengikuti Haejin.

Sampai di samping Minri, Haejin memandang sekeliling dan menemukan kelima member Suju di dekatnya. Dia mendongak, “Heechul ssi, apa aku boleh pinjam ponselmu?” tanya Haejin. Sementara kelima member itu memandang Minri yang tergeletak diam. “Wae, apa yang terjadi?” akhirnya seorang member lagi bicara.

“Aku..aku perlu ponsel. Sekarang!: seru Haejin akhirnya. Pria yang menolongnya tadi mengeluarkan ponsel dan memberikannya pada Haejin. “Tenang nona,” ujarnya kemudian. Haejin memencet nomor emergency tersebut dan menyebutkan apa yang terjadi. Setelah menutup telpon, Haejin mengembalikan ponsel itu. “Gomawo,” ujarnya lirih, kemudian memandang Minri lagi.

“Minri onnie, ayo bangun. Onnie dengar akukan?” kata Haejin sambil menguncang-guncang tubun Minri. “Ayo onnie, jangan diam saja”. Kelima member Suju itu menatap kejadian di depan mereka prihatin. Kemudian, “kita bawa saja mereka ke RS sekarang. Lebih cepat lebih baik, daripada nanti terjadi sesuatu,” akhirnya Heechul bicara.

“Kakaknya Gienim, kami mau bawa kakakmu ke RS, jadi tolong minggirlah,” kata Heechul pada Haejin. Haejin tak mendengar karena masih sibuk mencoba membangunkan Minri. Yang ia tahu adalah tangannya digenggam seseorang dan ia dipapah menuju van. Setelah itu semuanya putih. Haejin tak sanggup menahan kesedihan jika Minri sampai meninggal.

Ketika sadar, Haejin melihat ia dikelilingi cowok-cowok tak dikenalnya. Kemudian terdengar langkah tergopoh-gopoh mendatanginya. “Haejin onnie, onnie nggak apa-apakan?” tanya Gienim terengah-engah sambil berlari menghampiri tempat tidur Haejin. Tapi Heechul mencegahnya. Ia menarik tangan Gienim untuk memperlambat langkahnya.

Kemudian, “pelan-pelan saja,” ujarnya lirih pada Gienim. Gienim memandangnya. “Kenapa? Kenapa kalian ada di sini? Apa yang terjadinya?” tanya Gienim sambil menepis tangan Heechul. Kemudian diguncangnya tangan Haejin, “onnie,” katanya lagi. Haejin memandang Gienim, digenggamnya tangan Gienim.

“Minri onnie?” tannyanya pada Gienim. Gienim hanya memandangnya sambil menggeleng. Haejin terduduk, tak dipedulikannya selang oksigen yang menempel di hidungnya. “Apa maksudmu Gienim?” desaknya. “Haejin onnie, kita tidak bisa menentang takdir,” jawab Gienim pelan sambil menarik nafas panjang. “Jangan bilang, kalau Minri onnie…,” ucapannya berhenti.

Haejin menangis dalam pelukan Gienim. Gienim tertunduk lalu menatap sekelilingnya. “Aku tak kenal mereka, aku hanya tahu siapa mereka,” pikir Gienim menatap kelima member Suju yang ada di dekatnya. Kemudian tiba-tiba Gienim tersentak, sebuah ide melintas. Kemudian, “Haejin onnie, aku tahu bagaimana menolong Minri onnie,” bisiknya pelan di telinga Haejin

“Lakukan saja apa yang kau mau. Aku tak peduli,” desah Haejin putus asa. “Tapi onnie, kita tak bisa melakukannya di depan orang lain,” balas Gienim lirih. “Aku tak peduli, lakukan apapun, secepatnya” desak. “Huuuh, baiklah. Dimana Minri onnie?” tanya Gienim kemudian. “Molla, tanya saja pada mereka,” jawab Haejin sambil menunjuk kelima member Suju.

Gienim mendesah lagi, “Maaf, apa kalian tahu dimana mereka menempatkan Minri onnie?” tanyanya pada kelima member yang terpaku di sudut ruangan itu. Heechul mengangguk, “yuk aku tunjukin,” ajaknya lalu memimpin Gienim keluar ruangan.”Aku titip Haejin onnie sebentar ya, oppa,” ujarnya pada member suju lain lalu keluar mengikuti Heechul.

Keluar dari kamar Haejin, menuju tangga dan turun ke lantai bawah. Heechul dan Gienim terus berjalan tanpa bicara. Sampai akhirnya Heechul berhenti di depan pintu sebuah ruangan. “Kakakmu di dalam,” katanya sambil membuka pintu. Gienim kembali membuntuti Heechul, dan melihat ranjang tempat Minri terbaring.

Minri terbaring diam, dengan berbagai selang yang menuju tubuhnya.Adapula alat monitor detak jantung didekatnya. Gienim menatap monitor itu dan mendesah. “Heechul ssi gomawo. Tapi sebaiknya anda meninggalkan saya bersama Minri onnie,” ujar Gienim pada Heechul. “Baiklah,” Heechul pun keluar tanpa bertanya meninggalkan Gienim sendirian.

“Minri onnie, apa kau mendengarku?” tanya Gienim lembut sambil mengelus tangan Minri. Tangan Minri sedingin es, tapi Gienim tak peduli digenggamnya terus tangan Minri. Tak ada respon dari Minri meski Gienim mengelusnya terus. Gienim menatap monitor jantung lagi, dan bernafas lega karena detaknya teratur.

“Onnie, aku dan Haejin onnie sudah sepakat. Aku siap menanggung resikonya, termasuk kehilangan kekuatanku. Kami tak mau kehilangan onnie,” kata Gienim pelan. Kemudian ia berseru tertahan, “Wooin oppa, Wooin oppa, kami memerlukanmu,” serunya pelan. Dan pelindung mereka itu datang tepat di depan Gienim. “Adaapa?” tanya Wooin.

“Kau harus menyembuhkan Minri onnie, sebelum terlambat,” desak Gienim. “Tapi aku perlu tahu apa penyebabnya,” balas Wooin. “Aku hanya mendengar kalau Haejin onnie dan Minri onnie mengejar pria berjas hitam itu. Minri onnie tengah dihukum, dia tak punya kekuatan. Pria itu dibekukan Haejin onnie, tapi ia bebas tak lama setelah dibekukan dan menyerang mereka,” jelas Gienim.

Wooin mengangguk mengerti kemudian menghampiri Minri. Dia meletakan telapak tangan diatas dada Minri. 5 menit berlalu tanpa ada perubahan. Wajah Gienim berubah, “waeyo Wooin oppa? Kenapa tidak bisa?” tanyanya resah. Wooin tak menjawabnya, dia hanya menggeleng dan terus berkonsentrasi menyembuhkan Minri.

Akhirnya setelah 10 menit yang terasa selamanya bagi Gienim, Minri bergerak! Setelah Minri bergerak, Wooin melepaskan telapak tangannya dari Minri. “Dimana aku?” tanya Minri pelan. “Onnie,” ujar Gienim lalu memeluk Minri. “Onnie di RS. Onnie kena serangan sihir hitam. Tapi sekarang onnie sudah sembuh. Syukurlah,” kata Gienim lega.

“Untung kau tak pernah tak datang jika kami memanggilmu. Entah apa jadinya kalau kau tak ada oppa,” kata Gienim panjang pada Wooin. Wooin hanya tersenyum, “itu sudah tugasku untuk memastikan kalian baik-baik saja. Oh satu hal lagi, ke-4 pengacau itu, sudah tahu siapa kalian. Dan mungkin tengah menargetkan kalian sebagai sasaran”.

“Mwo? Tapi Minri onniekansedang tak punya kekuatan. Apa yang jadinya kalo kami harus berhadapan dengan mereka sekarang?” tanya Gienim sedikt panik. Maklum, kekuatan yang dimiliki Gienim bukan kekuatan untuk membinasakan atau menghancurkan sesuatu. Meski kalau mereka membaca mantra bertiga bersama, hasilnya akan sangat dahsyat.

“Hanya itu yang bisa kukatakan. Sebaiknya kalian panggil perawat untuk memastikan kondisi Minri,” ujar Wooin sebelum menghilang. Minri dan Gienim berpandangan sambil mengangkat alis. “Apakah aku harus bersiap-siap jadi incaran mereka? Karena saat ini akulah yang terlemah,” kata Minri. “Onnie, jangan ngomong gitu,” tukas Gienim lalu menekan bel memanggil perawat.

Perawat yang datang tercengang melihat kondisi Minri. Dia segera memanggil dokter untuk menegaskan kondisi Minri. Dokter yang memeriksa Minri pun akhirnya menandatangisuratijin kepulangan. “Tak ada masalah, semua baik,” ungkap dokter itu tanpa menutupi keheranannya melihat kondisi Minri yang bugar, setelah tadi tergeletak tanpa respon.

Sepeninggal dokter dan perawat, berbekalsuratijin pulang, Minri mengurus administrasi RS dan naik ke kamar rawat Haejin bersama Gienim. Haejin sebenarnya tidak apa-apa. Dia hanya shock karena ketakutan kehilangan Minri. Saat keduanya masuk kamar, Haejin menjerit turun dari tempat tidurnya, dan memeluk kedua sepupunya senang.

“Onnie, onnie aku sangka kau akan meninggalkan kami,” ujarnya haru. Minri memeluk kedua sepupunya erat. Ia tak bisa berkata-kata. Kemudian, terpandang olehnya kelima member Suju yang sedari tadi memperhatikan mereka. Minri melepas pelukannya, “kurasa ada yang butuh penjelasan,” ujarnya sambil mengendikan kepala ke arah 5 orang itu.

Kedua sepupunya menoleh ke arah mereka. “Ah aku lupa kalau mereka masih disini,” ucap Gienim sambil nyengir. “Aku juga,” timpal Haejin. “Aku malah nggak tahu kenapa mereka ada disini,” kata Minri. “Onnie, merekalah yang membawa onnie ke sini saat onnie tak sadar tadi. Mereka adalah penolong kita,” jelas Haejin.

“Apakah menolong kami membuat kalian mendapat kesulitan? Atau membuat jadwal kalian untuk hari ini berantakan?” tanya Minri pada mereka. “Pastinya sebagai yang tertua, aku mengucapkan banyak terima kasih. Kalau bukan karena kalian, mungkin saat ini aku sudah terbujur kaku,” sambungnya lagi sambil membungkukan badan pada kelima pria itu, diikuti kedua sepupunya.

Kelima member Suju jadi salah tingkah melihat perlakuan ketiga gadis bersaudara itu. Kelimanya membalas bungkukan itu dan “sudahlah jangan berlebihan. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” ujar pria pirang berjas putih. “Iya benar apa yang dikatakan Jungsoo,” tambah Heechul.

“Pokoknya kami ingin kalian tau, kalau kami sangat berterima kasih,” balas Minri. “Jadi, masalah kemarin clear ya? Nggak akan ada masalah lagi nih?” ujar member yang tadi meminjamkan ponselnya pada Haejin. “Tentu aja enggak. Apalagi setelah kiriman bunga itu,” sambut Gienim. “Haaa? Bunga? Bunga apa?” tanya member yang paling tinggi heran.

Mereka saling pandang, mencari tahu siapa gerangan yang mengirim bunga untuk gadis – gadis itu. Heechul balas memandang teman-temannya sambil nyengir. “Ah rupanya kau ya hyung,” ujar member yang dari tadi diam saja sambil nyengir. “Boleh dong? Akukancuma cowok biasa,” jawabnya diiring tawa semua. “Gienim mungkin masih muda, tapi dia memang cantik dan menggemaskan,” pikir Minri mencerna perkataan Heechul

Tak lama kemudian, kedelapan orang itu meninggalkan RS. Leeteuk, Heechul, Siwon, Eunhyuk dan Donghae kembali naik van, sedangkan ketiga gadis itu menggunakan taksi. Setelah menolak tawaran member Suju yang mau mengantar mereka pulang. Mereka beralasan lebih suka  berjalan di sore yang cerah itu.

Dalam perjalanan pulang, Minri, Haejin dan Gienim  berdiskusi  tentang insiden ini dengan suara pelan. Sesampai di rumah, ketiga segera naik ke loteng dan membuka Buku Refleksi. “Wooin! Wooin!” seru Minri. Wooin pun muncul dihadapan mereka hanya 10 detik setelah Minri selesai memanggil namanya.

“Adaapa?” tanya Wooin seperti biasa. “Apa kau sudah tau bagaimana menghentikan mereka?” tanya Minri serius. “Maaf, tapi para tetua tidak memberitahu bagaimana caranya. Meski mereka bilang kalau keempat pria itu tak berhasil, mereka akan dibinasakan oleh atasan mereka dan digantikan oleh 4 pria lain. Sampai mereka berhasil menguasai bumi,” jelas Wooin panjang. “Lalu bagaimana dengan hukuman Minri onnie?” tanya Haejin.

“Mereka bilang, kekuatan itu akan kembali saat Minri membutuhkannya,” jawab Wooin. “Benarkan demikian? Tapi kenapa tadi pagi aku tak bisa menggunakannya saat diserang?” tanya Minri. “Molla. Sebaiknya kalian tak usah mencemaskan itu. Lebih baik kalian mencari cara memusnahkan mereka saja,” sahut Wooin.

Keempatnya berpandangan dan, “aku akan membacanya lebih teliti,” ujar Gienim akhirnya. Sementara Gienim membaca, Haejin dan Minri berdiskusi mengenai cara menghancurkan ke-4 pria berstelan jas hitam itu. Akhirnya malam itu juga diputuskan untuk membuat ramuan yang dapat menuntun mereka menemui 4 pria itu penghancur dunia itu.

Ketiga sepupu itu juga membuat mantra ampuh untuk membinasakan musuh mereka itu. Sayangnya ramuan yang dibuat butuh waktu 3 x 24 jam sebelum bisa digunakan. Ketiganya mempersiapkan apa saja yang menurut mereka diperlukan untuk pembinasaan itu. Minri, Haejin dan Gienim berada dalam keadaan siap tempur.

Hari-hari pun berlalu, hingga berbulan-bulan kemudian, tanpa tanda-tanda kemunculan 4 pria yang mereka tunggu. Ramuan yang mereka buat pun sudah siap digunakan. Tapi tampaknya tak ada kekacauan yang terjadi. Orang-orang yang mereka lihat pun tak lagi terlihat bertikai. Semuanya kelihatan aman dan damai.

Sementara itu, hal baik terjadi. Hubungan antara Minri, Haejin dan Gienim dengan member Super Junior, terutama dengan kelima member yang menolong mereka membaik. Mereka bisa saling mengunjungi pada waktu senggang. Gienim yang sejak awal sangat mengagumi Super Junior makin senang karena bisa bersahabat dengan membernya.

Mulanya Gienim sangat menyukai Donghae yang menurutnya sangat gentleman. Tapi seiring berjalannya waktu, Gienim malah suka melihat sifat cuek Heechul. Apalagi dibalik sikapnya yang cuek, Heechul sangat perhatian. Jadi makin senanglah Gienim pada Heechul. Keduanya sering bersama, lengket kemanapun.

Meski di saat bersamaan mereka juga kerap bertengkar, yang biasanya hanya karena masalah sepele. Pertengkaran itu tak akan bertahan lama, karena keduanya dengan cepat sudah akur lagi. Heechul dan Gienim pun mendapat julukan dari semua, TTM, teman tapi mesra. Gienim bahkan sering menceritakan masalahnya pada Heechul, tentunya tak termasuk “rahasia” ketiga sepupu itu.

Keduanya memang akrab, walau sikap keduanya tak mirip teman sama sekali, melainkan lebih mirip orang pacaran. Sampai Minri dan Haejin yang biasanya protektif pada Gienim, kali ini luluh pada perhatian Heechul. Bahkan Minri pun merelakan tugas mengantar atau menjemput Gienim, kalau Heechul punya waktu luang.

Jika Gienim pulang agak terlambat, keduanya tak lagi banyak bertanya. Karena biasanya Gienim selalu pulang bersama Heechul. Maka semua kekhawatiran yang ada pun langsung lenyap. Maka bagi Minri dan Haejin juga semua member, kalau Heechul tak ada pastilah bersama Gienim dan sebaliknya.

Sedang Haejin yang juga suka member Super Junnior, malah bersikap acuh pada para membernya. Meski selalu menyambut Heechul, Eunhyuk, Donghae atau Leeteuk jika mereka berkunjung. Dia juga selalu menemani Gienim berkunjung ke dorm, bila Heechul meminta Gienim datang. Dan Haejin selalu ditemani seorang member, sehingga ia merasa kerasan jika Gienim asyik bersama Heechul.

Selama itu pula Gienim dan kedua sepupunya tetap menurut rapat rahasia mereka. Untungnya saat Gienim “dekat” dengan Heechul cs, tak ada sesuatu yang aneh. Jadi mereka tak perlu susah payah menyembunyikan “kekuatan” mereka. Minri juga sudah mendapatkan kekuatannya lagi, 14 hari setelah “para tetua The White Side” mencabutnya.

Untungnya Minri sudah mendapatkan kekuatannya kembali karena sesuatu yang tak terduga kemudian terjadi. Saat itu sudah pukul 8 malam, tapi Gienim belum kembali. Karena biasanya jika pulang malam ada Heechul bersamanya, Haejin yang pulang sebelum Minri tak khawatir pada Gienim.

Haejin malah sibuk menyiapkan makan malam untuknya sendiri, karena Minri sudah mengatakan akan pulang terlambat. Jadi Haejin berpikir kalau Gienim yang belum pulang pasti sudah makan di luar bersama Heechul seperti biasa. Ketika jam berdentang 10 kali, Minri tiba dan bertanya pada Haejin dimana Minri.

“Biasalah, Gienim pasti keluar sama Heechul,” jawab Haejin santai. Minri pun tak bertanya lagi sampai. Kring..kring..telpon berbunyi. Minri yang dekat telpon mengangkatnya dengan malas. Maklum saat itu ia dan Haejin tengah asyik nonton film Harry Potter.  Namun telpon itu membuatnya berhenti menonton.

“Mwo?? Kamu bilang apa?!” seru Minri membuat Haejin menoleh. “Maksudnya apa?” ujar Minri lagi. “Oke-oke kami akan cari mereka”, kata Minri lalu menutup telpon. “Kenapa?” tanya Haejin. “Itu tadi Leeteuk, katanya dia kehilangan Heechul. Ponselnya dan Gienim nggak bisa dihubungi,” jelas Minri.

“Ya tapi kali aja mereka memang matiin hp. Lagi nonton mungkin,” balas Haejin. “Kata si Teukie harusnya Heechul tampil di acara Good Night Show, tapi sampe mereka selesai shooting Heechul nggak nongol,” kata Minri lagi. “Masa sih Heechul nggak tau jadwalnya? Nggak mungkinlah,” tambahnya lagi.

Haejin melongo, “eh bukannya jadwal Heechul emang padat? Lagian dia nggak biasanya lupa jadwal, apalagi jadwal show kayak gini. Bisa-bisa dia kena marah manajemen”. Kedua terdiam, dan tiba-tiba kaca jendela ruangan tempat mereka tengah duduk pecah, seperti kena lemparan batu. Minri dan Haejin menunduk, menuju ke balik sofa, berlindung.

“Apa lagi sekarang?” ujar Haejin sambil menatap Minri. Sementara dari arah pintu depan terdengar suara ledakan keras. “Haejin-ah, bersiaplah membekukan siapapun yang muncul,” ujar Minri pelan. Haejin mengangguk , menyiapkan diri. “Aah memang kami tak boleh santai. Baru 4 bulan hidup santai, kini ada masalah lagi,” pikir Haejin.

Sedetik kemudian muncullah 3 pria berjas hitam. Mereka memandang berkeliling ruangan, mencari – cari pemilik rumah. “Aku tau kalian ada disini. Tunjukan diri kalian, dan kami tidak akan melakukan apapun!” seru pria jas hitam berdasi hijau. Minri dan Haejin berpandangan,  kemudian Minri mengangguk dan bersama-sama mereka bangkit dengan waspada.

“Lama tak berjumpa,” ujar pria itu lagi. Minri dan Haejin diam saja, mendengarnya. “Kami harus bicara pada kalian. Ini penting,” kata pria berdasi kuning kemudian. “Kami butuh bantuan kalian untuk mengeluarkan rekan kami yang terjebak di antara bumi dan dunia sihir,” jelasnya lagi. “Dia harus bersama kami kembali untuk menyelesaikan misi.

Akhirnya Minri bicara, “kenapa harus kami?” Ketiga pria itu berpandangan, “karena rekanku membawa serta adik kecilmu,” “Mwo?!” seru Minri dan Haejin serentak. “Gie..Gienim?” ujar Haejin tak percaya. “Kalian boleh saja tak percaya. Silakan pergi ke tempat dimana dia berada sebelum terjebak,” kata pria berdasi kuning pada mereka.

“Dimana dia?” tanya Minri galak. Ketiga pria itu tersenyum, “terakhir kali ia dan pacar konyolnya itu ada di café Tulip, sebelum bertemu kami. Pergilah kesanadan tanyakan sendiri pada pacarnya yang konyol itu,” ujar pria berdasi merah, sebelum ketiganya menghilang dari ruangan itu.

Haejin dan Minri berpandangan, “ayo, kemungkinan Heechul ada disana. Semoga saja dia tidak apa-apa,” kata Minri sambil menyeret Haejin menuju pintu. 15 menit kemudian keduanya tiba di café yang dimaksud. Café itu ramai seperti biasanya, “Haejin, hentikan semua agar kita bisa mencari Heechul dengan mudah,” kata Minri dan tak lama berselang, café itu sunyi. Tak ada sedikit suara pun, dan tak ada yang bergerak.

Keduanya masuk dan mencari dengan cepat. “Coba mantra pencarian onnie,” seru Haejin. Minri melakukannya dan seketika semua yang menutupi keberadaan Heechul lenyap. Mereka melihat Heechul tergeletak di lantai, di lorong yang mengarah ke halaman belakang. Dengan berlari keduanya menghampiri Heechul.

Haejin memegangnya dan Heechul bergerak. “Heechulie oppa, dimana Gienim?” tanya Haejin langsung. Heechul menggeleng, “molla, aku nggak tau dimana Gienim. Tadi kami duduk disana, kemudian datanglah 4 pria berjas hitam, Mereka berdebat tentang sesuatu, dan tiba-tiba Gienim menghilang. Aku tak sadarkan diri,” terangnya panjang lebar.

“Jangan bicara dulu,” ujar Minri lalu duduk di dekat Heechul. “Apa kau terluka?” tanyanya. “Rasanya kepalaku mau pecah,” jawab Heechul. Minri mengangguk karena ia melihat luka menganga, lagi-lagi di pelipis Heechul. Minri mendekatkan telapak tangannya ke pelipis Heechul, mencoba mengobatinya. Sayangnya luka itu tetap menganga.

Minri tertegun dan, “Wooin-ah! Wooin-ah! Kami membutuhkanmu,” serunya. Heechul tercengang melihat  reaksi Minri. Wooin segera datang dan meletakan telapak tangannya di pelipis Heechul dan luka itu menutup lagi. Heechul baik-baik saja. “Adaapa?” tanya Wooin pada Haejin. “Wooin-ah, Gienim terjebak diantara bumi dan dunia sihir. Bagaimana mengeluarkannya?” desak Haejin

Sementara itu Heechul memandang mereka dengan bingung. “Adayang tak kuketahui tentang Gienim bersaudara,” pikirnya. Wooin memandang Heechul kemudian Haejin dan Minri. “Gerakan mereka dulu Haejin. Supaya diskusi kita tak terdengar,” balas Wooin. Haejin menjentikan jarinya, dan semua bergerak, diiringi suara musik.

Heechul ternganga melihat apa yang terjadi. “Waah apakah mereka penyihir?” tanyanya dalam hati. “Ceritakan padaku apa yang terjadi,” kata Wooin pada Haejin dan Minri. Keduanya langsung menjelaskan apa yang mereka ketahui, membuat Heechul semakin yakin kalau ketiga gadis bersaudara itu memang penyihir.

“Mereka bilang ingin bekerjasama?” tanya Wooin. “Ne,” sahut Minri dan Haejin bersamaan. “Menurut mereka, kami harus melakukannya bersama mereka bertiga, sebelum matahari terbit,” kata Minri setengah putus asa. “Apa kalian tak berpikir ini jebakan? Bagaimana kalau kalian ikut terjebak bersama Gienim?” tanya Wooin.

“Kalau itu terjadi, apa kau bisa menyelamatkan kami?” Minri balik bertanya. Wooin menatapnya kemudian, “tidak. Itu berada diluar kemampuanku,” Minri menarik nafas, “kami akan pulang dan menyiapkan semua yang kami butuhkan”. “Kalian akan tetap bertempur?” tanya Wooin. “Ya, apapun resikonya. Kami harus menyelamatkan Gienim,” sahut Haejin.

“Tidakan kalian berpikir kalau kalian terjebak tak akan ada yang bisa menghentikan kehancuran bumi?” tanya Wooin lagi. “Jadi menurutmu apa yang harus kami lakukan?!” bentak Minri. “Kami harus menyelamatkan dunia, tanpa memperdulikan Gienim?” lanjutnya pelan tapi berbahaya.

Haejin mengelus tangan Minji, mencoba menenangkannya. “Onnie, kita semua harus sabar. Kita harus melakukan sesuatu tanpa marah,” kata Haejin. Minri menarik nafas, “Wooin, mianhe. Tak seharusnya aku membentakmu,” ujarnya kemudian. “Ayo Haejin,” ajaknya kemudian bergegas berjalan menuju mobil.

“Ya Minri-ah! Tunggu! Bagaimana dengann Heechul ssi?” ujar Wooin, yang ternyata ampuh menahan Minri dan Haejin. “Aah, ya kami lupa,” kata Haejin. “Heechul ssi, sebaiknya kau ikut kami saja sekarang. Karena kami tak tahu apa yang akan terjadi. Kau satu-satunya saksi, maka kau harus dilindungi,” tambah Haejin lagi.

“Wooin, kau ikut juga. Supaya bisa menjaga Heechul ssi,” sambung Minri. Tak lama kemudian keempatnya sudah dalam perjalanan menuju rumah keluarga Choi. Setibanya di rumah, mereka meminta Heechul untuk tetap berada di ruang keluarga sementara mereka naik ke loteng. Membaca Buku Refleksi sekali lagi, sebelum menyetujui usul para pembuat kekacauan.

Heechul menatap pecahan kaca dan ruangan yang bak kapal pecah itu. “Apa yang terjadi sebenarnya Wooin ssi?” tanyanya pada Wooin yang menemaninya. “Rasanya musuh mereka tadi kesini,” jawab Wooin. “Ehhhhmmm, apakah hidup mereka selalu seperti ini? Dikejar dan bertarung?” tanya Heechul lagi. “Kira-kira begitulah,” ujar Wooin, tersenyum.

Tak lama, Minri dan Haejin sudah ada di ruang keluarga yang berantakan itu. “Kami akan menunggu kabar dari para pria berjas itu di sini,” kata Minri. Kemudian, “Heechulie oppa, kami harap kau tak membocorkan ini pada siapapun, termasuk member Suju lainnya”.  Heechul mengangguk, “Arasseo”.

Sekitar 20 menit kemudian, para pria berjas hitam itu muncul tiba-tiba di hadapan mereka. Wooin membawa Heechul menyingkir ke belakang sofa. “Jadi?” tanya pria berdasi hijau pada Haejin dan Minri. “Baik, kami akan bekerjasama. Tapi apa yang membuat kata-kata kalian bisa dipercaya?” tanya Haejin, menjawab pertanyaan pria itu.

“Kami menginginkan rekan kami. Sedangkan kalian menginginkan adikmukan? Apa kalian pikir rekan kami tak berharga, sehingga membuat kami akan mengkhianati kalian?” sahut si dasi hijau lagi. Minri dan Haejin bertukar pandangan. “Lalu dimana kita harus memulainya?” balas Minri.

“Kita harus kembali ke awal kejadian, di tulip café,” jawab si dasi kuning. “Baik. Kalian duluan, kami akan menyusul segera,” kata Minri menutup percakapan. Ketiga pria berdasi itupun menghilang tanpa jejak. “Wooin-ah, kami pergi sekarang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada kami, kau tau apa yang harus dilakukankan?” ujar Minri, lalu keluar rumah bersama Haejin.

Heechul memandang Wooin, “apakah mereka akan kembali?” tanyanya pelan. Entah kenapa Heechul merasa cemas akan keselamatan gadis-gadis itu. “Molla. Semoga saja mereka selamat, ketiganya,” jawab Wooin. “Heechul ssi, apa kau bisa tinggal di sini sebentar? Aku ingin mengikuti mereka, agar tahu mereka tak dijebak,” kata Wooin.

“Apa?” tanya Heechul seperti salah dengar. “Kau tinggal sebentar. Aku menyusul mereka,” balas Wooin. “Tapi, bagaimana kalau ada yang kesini?” tanya Heechul lagi. Wooin mendesah, “kalau itu yang terjadi panggil namaku keras-keras. Dan aku akan kembali. Ok?”

Heechul memandang Wooin serius. Wooin pun memandangnya tak kalah serius. Setelah mendesah akhirnya, Heechul mengangguk. “Ingat ya kau diam disini saja. Jangan kemana-mana. Kalau terjadi sesuatu, panggil aku,” kata Wooin kemudian menghilang. Sepeninggalan Wooin, Heecul memandang ruangan itu kemudian mulai merapikannya!

Sementara di Tulip Café, Wooin memandang tempat dimana tadi ia dipanggil Minri. Kelima orang yang terlibat itu sudah berada di posisi mereka masing-masing. Membentuk lingkaran dengan 2 titik, yang seharusnya ditrempati Gienim dan pria berjas hitam, kosong. Pria berjas hitam dengan dasi hijau mulai membaca mantra yang diperlukan untuk membuka penutup dunia sihir hitam.

Minri pun mulai membaca mantra yang sudah disiapkan. Tapi, sebelum selesai ia berhenti. “Kenapa berhenti? Ayo baca terus,” kata pria berjas hitam dengan dasi merah mendesak Minri. Minri memandang Haejin, kemudian membaca ulang mantranya. Tapi lagi-lagi sebelum selesai ia berhenti membaca. Rupanya ada keraguan untuk menyelesaikannya.

Minri menelan ludah, kemudian mulai membaca mantra kembali. Dalam kabut yang diciptakan ketiga penyihir hitam itu, Minri berbisik pada Haejin. “Aku ragu-ragu membantu mereka. Karena akibat yang mereka timbulkan berbahaya. Tapi kita harus menyelamatkan Gienim. Jadi apa keputusanmu?” bisik Minri.

“Kalau onnie ragu, maka jangan. Biarkan saja mereka merapal mantra mereka dan kita lihat hasilnya,” balas Haejin berbisik pula. Maka Minri pun menghentikan membaca mantra dan menunggu apa yang terjadi. Ketika si dasi hijau selesai membaca mantra, terlihat pusaran di lantai, penutup bumi dan dunia shir hitam menganga, terbuka.

Segera Haejin melemparkan ramuan yang sudah mereka buat ke pusaran tersebut. Pusaran itu mengeluarkan bunyi seperti bom meledak. Nyaring memekakkan telinga. Dan tiba-tiba Gienim muncul dari pusaran itu dan berdiri di dekat kedua sepupunya. Sedangkan ketiga pria berjas hitam seperti tertarik ke dalam pusaran dan kemudian terbakar sampai tak bersisa. Begitu juga dengan pria yang berada dalam pusaran, ikut terbakar tak berbekas.

Minri, Haejin dan Gienim menyaksikan kejadian itu dalam diam. Kemudian setelah ketiga pria berjas hitam menyusul rekan mereka, ketiga berpelukan lega. “Onnie, lega sekali melihat kalian. Ku sangka kalian tak akan membebaskan aku jika tukarannya adalah salah satu pria itu. Karena resikonya besar sekali jika mereka berhasil menuntaskan misi,” kata Gienim. Tak lama mereka bertiga kembali ke rumah.

Wooin yang menyaksikan pertempuran itu, tentu saja sudah meninggalkan café itu segera setelah keempat pria pengacau itu terbakar. Saat Wooin muncul dilihatnya Heechul tengah tertidur di sofa. Ruangan itu sudah rapi, tak ada sisa pecahan kaca dan kotoran lain. Wooin tersenyum, “rupanya Heechul ssi membenahinya,” pikirnya.

Diselimutinya Heechul dengan selimut yang ditemukannya di lemari perlengkapan kamar tidur. Kemudian ia mulai membetulkan kerusakan yang ada, sambil menunggu kedatangan ketiga gadis itu. Ketika didengarnya bunyi pintu terbuka, Wooin menunjukan dirinya di lorong depan. “Kami pulang Wooin oppa,” kata Gienim. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Wooin.

“Yaaah saat itu aku dan Heechul oppa sedang makan malam. Keempat pria itu datang dan ingin mengacaukan café itu, tapi aku menghalanginya. Akhirnya aku dan seorang dari mereka terlibat perdebatan. Ia melakukan sihirnya yang ku balas. Sihir kami bertemu dan membuka selubung bumi, membuat kami berdua terjebak. Membuat Heechul oppa terpental dan mungkin pingsan,” jelas Gienim.

“Aku berusaha memberitahu kalian tentang keberadaanku dan keinginan mereka, tapi tak bisa. Aku takut kalian setuju dengann usul mereka,” tambah Gienim lagi. “Untung kau batal membaca mantranya Minri,” kata Wooin. “Ya aku juga senang. Aku memang agak ragu karena takut hasilnya tak bagus,” balas Minri.

“Aaah aku capek. Pengen tidur,” ujar Gienim sambil menguap. “Nggak sekolah ya hari ini. Capek banget. Lagian sekarang udah pagi,” sambungnya lagi. “Aku juga nggak kuliah. Sama, mau istirahat,” kata Haejin juga menahan kuap. “Iyalah, terserah kalian saja. Eh, tapi mana Heechul? Bukannya tadi dia di sini sama kamu Wooin?” tanya Minri.

“Heechul ssi juga seperti kalian, letih. Itu dia tertidur disofa. Aku menyelimutinya dengan selimut dari lemari,” jawab Wooin nyengir. Ketiga sepupu itu melongok ke sofa dan melihat Heechul tidur dengan damai. Minri, Haejin, Minri dan Wooin berpandangan, kemudian tertawa.  “Sudah, sudah nanti dia bangun,” kata Gienim menenangkan.

“Lagian aku juga sudah mau tidur,” tambah Haejin. “Yuuuk,” sahut Gienim. Keduanya pun langsung masuk kamar masing-masing dan terlelap tak lama kemudian. “Kalau begitu, aku pergi saja ya.Kansementara ini kalian aman,” kata Wooin lalu menghilang, meninggalkan Minri sendiri. Sebenarnya sih nggak sendiri, ada Heechul yang tidur di sofa.

Sebenarnya Minri pun letih seperti yang lain. Tapi karena hari sudah pagi, ia harus masuk kantor atau kehilangan pekerjaan. Dibuatnya kopi untuk menahan kantuk, juga sedikit sarapan untuknya sendiri. Sambil menunggu, matahari meninggi Minri menikmati sarapannya pelan-pelan. Kemudian ingat akan telpon Leeteuk semalam. Akhirnya dengan segan, Minri mengangkat telpon, menghubungi dorm Super Junior.

Setelah mengabarkan bahwa Heecchul baik-baik saja, Minri beranjak ke kamar mandi. Seperti yang lain, Minri juga letih dan ingin istirahat saja di rumah setelah “pertempuran” semalam. Tapi ia tak ingin kehilangan pekerjaan, jadi dengan menabahkan hati ia menyiapkan diri berangkat ke kantor.

Sebelum berangkat, Minri mengecek keadaan kedua sepupunya. Mereka tidur pulas dengan wajah damai. Sambil menutup pintu pelan-pelan, Minri turun kembali. Saat melintasi lorong menuju pintu, ia teringat Heechul yang masih tertidur di sofa. Minri menghampiri Heechul dan membangunkannya.

“Heechul ssi, Heechul ssi, bangunlah. Hari sudah pagi. Aku tak bermaksud mengganggu, hanya mau tahu apakah kau mau pulang ke dorm atau tetap disini?” ujar Minri pada Heechul yang masih mengantuk. “Wae?” balasnya sambil menahan kuap. “Aku cuma mau tahu, kau mau pulang atau tidak? Kalau mau tetap disini, silakan gunakan kamarku untuk istirahat,” kata Minri.

 “Ah kalau kau bilang begitu, aku disini sajalah. Masih ngantuk,” sahut Heechul malas. “Ya sudah. Aku nggak akan ganggu lagi. Naik dan belok kanan. Masuklah ke pintu pertama, itu kamarku,” balas Minri lalu meninggalkan Heechul. Sepeninggal Minri, Heechul beranjak mengikuti petunjuknya.

TBC

16 thoughts on “MIRACLE 1/?

  1. tante tante tante *SKSD* XDXDXD
    ini mah keren atuh…

    berasa inget mlm2 ngintili si bunda nonton charmed di sctv kekekekek

    saia bakal setia menanti ff mu tante *nari2hula2*

    LHJ kau boleh menyerahkan blogmu pda tante XDXDXD *Dgamparamahaejin*

  2. baru baca stgah dtengah2 kerja..kekkk
    ntar dlanjut lg.. ;p

    suka nontn charmed jg! tengah malem djabanin tuh
    tapi masi agk bingung ma setting tempat
    ms kbayang charmd yg d frisco..
    ni d korea kan?..
    seru..seru.. nyampe part brp nih?

  3. Well, ni ff masih dalam pengerjaan. Tunggu aja. Thanks for reading and write comments. Hhhm setting, Seoul-lah. Hehehe.

  4. annyeong😀
    ini genrenya fantasy kan eonnie?
    ceritanya seru, jujur saya suka banget cerita tentang penyihir , apalagi penyihir modern kayak 3 bersodara ini
    hohoho
    ditunggu yaa lanjutan ffnya
    hwaiting ! ^^

  5. huwaaaaaa @.@
    pnjg bgt, puas bacanya😀
    ini berapa halaman yah ngetiknya? *ptanyaan gapen*
    tante’nya Nisya unni daebak euy😀
    gak jauh beda sama kponakannya, berbakat ^^b
    d tunggu lanjutannya, tante, unni😀

  6. oh iya, bnyk bgt salah nulis Minri jadi Minrin, nd ada bnyk kalimat yg gak pke spasi, jadi agak gak nyaman dsitu -.-
    laennya, gak ada masalah koq😀
    mianhae komen kpanjangan -.-

  7. Yaps, maaf banget kalo nggak nyaman ya. Maklum nggak diedit lagi sama yang punya blog. Hehehe. Thank u for all the critics & comments. Ditunggu ya. Nggak lama deh lanjutannya.

  8. this is too long but this is daebak..
    Keren bgt..

    Aku awalnya nyangka ini ff romance biasa..aku gk liat kategorinya lbih dulu,,
    pas dibaca dibacaa dibacaaa..ngehkeh sendiri pas ada penjelasan mreka punya kekuatan..hehe..

    Lanjut tanteuuu..*sksd mode on*

  9. ya ampun tante….
    ikut2 bikin ff juga ??
    tapi seru deh… ku kan waktu SD juga sering diem2 nnton Charmed walopun dilarang ibu gara2 kemaleman. hehehe =P
    tapi bener ada yg komen tadi klo yg kebayang msi setting pelemnya tnte. bukan di korea. hehehe
    lanjutnny ditungguin lo tante… =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s