{Exchange Fiction} Photograph Of Love

annyeong semua ^^

mau kasih tau ini ada FF Exchange, tukeran sama Nisya… buatan @yurilia buat aku🙂

Baca dan komen yaaa ^^

Buat @yurilia tunggu aku sehat banget yaaa, nanti aku bikinin kamu ff juga, gomawooo

Hae Jin melangkahkan kakinya menuju sebuah batu nisan yang sangat sering ia kunjungi selama tiga bulan terakhir. Batu nisan yang dibawahnya terkubur sesosok jasad manusia yang dicintainya selama 1 tahun terakhir. Sosok yang selalu bissa membuatnya tersenyum. Sosok yang selalu menemani harinya. Sosok yang selalu mencintainya. Namun kini sosok itu telah pergi.

Sampai hari ini, tepat tiga bulan setelah Ok Taec Yeon, seseorang yang dicintainya, meninggalkan dunia ini. Hae Jin belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Bahkan semakin hari gairah hidupnya semakin hilang. Hatinya masih saja untuk seorang Taec Yeon.

***

Hae Jin duduk disebuah kedai kopi yang berada di daerah Apgujeong. Dihadapannya tersanding secangkir Coffee Latte Tiramisu dan Strawberry Pancake. Pancake itu tinggal setengahnya. Begitu juga coffee lattenya. Sebelah tangannya memainkan ponselnya. Memerhatikan foto demi foto yang tersimpan disana. Foto-fotonya bersama Taec Yeon maupun foto-foto Taec Yeon yang diambilnya secara diam-diam.

Di tempat lain, seorang pria dengan kamera SLRnya asik memotret segala kegiatan yang dilakukan orang-orang disekitarnya. Hingga lensa kameranya menangkap sesosok gadis yang tengah duduk disebuah kedai kopi yang ada diseberang jalan. Karena kaca kedai kopi itu yang sangat bening, maka sosok gadis itupun terlihat jelas. Wajahnya sarat akan rasa kesepian dan kesedihan. Gadis yang semula duduk sambil memainkan ponselnya itu, kini meneguk kopi dicangkirnya kemudian berdiri dan pergi dari kedai kopi itu.

Sang pria tidak mencoba mengikuti sang gadis. Namun esoknya, kejadian macam itu terulanng kembali. Hampir setiap hari sang gadis datang ke kedai kopi tersebut, dan ia melakukan hal yang sama setiap kali mengunjungi kedai kopi tersebut. Ia juga duduk ditempat yang sama. Seperti tempat itu hanya ada untuknya.

KLANG. Seorang pria dengan kamera yang menggantung di lehernya memasuki kedai kopi tersebut. Memesan Coffee Latte Vanilla.

“Hai,” sapa sang pria pada gadis yang selama beberapa hari ini terus diperhatikannya.

“Maaf, siapa ya?” tanya sang gadis heran melihat pria yang kini berdiri dihadapannya.

“Boleh aku duduk disini?” tanya sang pria tanpa menjawab pertanyaan ang gadis.

Si gadis memandang sekelilingnya. Semua tempat duduk sudah penuh. ‘Kenapa dia masuk kesini sedangkan semua tempat sudah digunakan?’ pikir sang gadis. Pada akhirnya ia mempersilahkan sang pria duduk semeja dengannya karena merasa tidak tega juga.

Sang gadis melanjutkan kegiatannya mengotak-atik ponselnya. Hingga sang pria mengajaknya mengobrol. “Siapa namamu?” tanya sang pria sopan.

“Hae Jin. Lee Hae Jin,” jawab Hae Jin tidak peduli masih sambil memainkan ponselnya.

“Aku Dong Hae. Lee Dong Hae,” ujar Dong Hae tanpa ditanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. Namun Hae Jin tetap bergeming. Melihat reaksi Hae Jin yang tidak ada tanda-tanda akan membalas uluran tangannya, Dong Hae kemudian menarik kembali tangannya.

“Kamu sering kesini ya?” tanya Dong Hae lagi.

“Ng? Nggak juga,” jawab Hae Jin sambil lalu.

“Tapi aku sering liat kamu disini lho,” ujar Dong Hae bersemangat.

“Kamu stalker ya?!” sentak Hae Jin kemudian langsung pergi.

Dong Hae yang kaget, langsung ikut pergi dari situ dan mengikuti Hae Jin.

“Hei, maafkan aku, aku bukan stalker kok,” ujar Dong Hae begitu berhasil menyejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Hae Jin.

Hae Jin berhenti. Otomatis Dong Hae juga ikut berhenti. “Kalo kamu bukan stalker, ngapain kamu  ngikutin aku?!” tantang Hae Jin.

“Soalnya kamu kelihatan sedih terus sih,” jawab Dong Hae polos.

“Terus kenapa kalo aku kelihatan sedih?!” tantang Hae Jin lagi.

“Ya aku mau bikin kamu senyum lagi,” jawab Dong Hae tanpa berpikir panjang.

“Kamu nih beneran stalker!” Hae Jin makin kesal. Kemudian langsung melenggang pergi.

Namun Dong Hae tidak patah semangat. Ia terus saja mengikuti Hae Jin pergi, hingga akhirnya ia mendapati Hae Jin memasuki sebuah gedung pencakar langit yang merupakan apartemen tempat Hae Jin tinggal. Melihat itu, Dong Hae pun berhenti mengikuti Hae Jin. Ia membalikkan badannya dan berjalan pulang.

***

Sinar matahari sukses membuat Hae Jin membuka mata dari tidur panjangnya. Pulang dari kedai kopi kemarin sore, ia langsung merebahkan tubuhnya diranjangnya dan tertidur hingga pagi ini, bahkan ia belum mengganti bajunya.

Hae Jin melirik jam kecil yang ia letakkan diatas meja di sebelah ranjanganya. Setengah sembilan. Mwo? Setengah sembilan?! Jantung Hae Jin seketika itu berdegup kencang. Pasalnya, pukul sembilan nanti, ia harus menyerahkan tugasnya pada salah satu dosennya. Lewat satu menit saja, tugas itu tidak akan diterima sang dosen.

Akhirnya Hae Jin mandi dan bersiap-siap dalam waktu yang singkat. Limabelas menit berlalu. Hae Jin melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya. Bergegas keluar untuk mencapai halte bus. Sialnya, bus yang akan dinaikinya akan datang sepuluh menit lagi.

Sialan! Umpat Hae Jin dalam hati. Raut  wajahnya sudah tak karuan karena khawatir. Diliriknya jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Tiga menit telah berlalu.

“Mau kuantar? Sepertinya kau harus buru-buru,” ucap seseorang dari dalam mobilnya.

Hae Jin melirik kearah mobil yang ada dihadapannya itu. Ternyata pria yang kemarin. “Ani, aku bisa naik bus,” tolak Hae Jin ketus.

Sebenarnya Hae Jin sangat ingin menerima tawaran pria dihadapannya itu, dari matanya, Hae Jin bisa menilai kalau pria itu benar-benar tulus.

“Serius?” tanya Dong Hae memastikan.

Hae Jin diam. Akal sehatnya mengatakan ia harus menerima tawarn pria ini, namun keegoisannya enggan menerima tawaran pria ini. Dong Hae menyerah, ia hendak mengemudikan mobilnya ketika pintu penumpang disebelahnya terbuka, dan seorang gadis dengan wajah angkuhnya duduk dan memasang sabuk pengamannya. Dong Hae hanya tersenyum melihat tingkah Hae Jin itu.

“Anda mau kemana, agasshi?” tanya Dong Hae dengan gaya sok pada Hae Jin.

“Myongji University,” jawab Hae Jin datar dan singkat.

“Jeongmalyo?” Dong Hae terlihat terkejut.

“Ne, wae?” tanya Hae Jin.

“Aku juga lulusan universitas itu!” ujar Dong Hae bersemangat.

“Lalu apa hubungannya denganku?!” tanya Hae Jin ketus.

“Ya! Kau tak bisa lembut sedikit apa?” Dong Hae mulai sewot karena gadis yang sedari tadi diajaknya ngobrol menanggapi obrolannya dengan nada suara yang jutek, ketus malah.

“Kenapa kamu malah sewot gitu?!”

“Beginikah sikapmu pada orang yang sedang menolongmu?”

“Kamu yang ngasih tawaran kan? Aku ga minta.”

“Aku juga ga maksa. Tadi kamu nolak, aku mau pergi, eh kamu malah masuk!”

Hae Jin tediam. Benar kata Dong Hae, ia yang dengan seenaknya masuk ke mobilnya setelah menolak tawaran Dong Hae. ‘Bodoh! Kasar sekali sifatku sebagai wanita!’ rutuk Hae Jin dalam hati.

CKIT. Mobil Dong Hae berhenti didepan gerbang kampus Myongji University. “Sudah sampai, aku harus pergi, jadi tak bisa mengantarmu sampai didalam,” ujar Dong Hae lembut disertai senyuman manisnya.

Tuhaaan. Ia masih saja bersikap lembut padahal aku bersikap sangat kasar padanya. Maki Hae Jin pada dirinya.

Hae Jin pun keluar dan sebelum menutup pintu mobil Dong Hae ia melongokkan kepalanya masuk dan berterimakasih, “Gomaptago, Dong Hae-sshi,” ujar Hae Jin lembut dengan seyuman yang mengembang dibibirnya.

“Ne,” balas Dong Hae singkat. Kemudian ia segera melajukan mobilnya ke studionya.

***

Tiga bulan terlewati. Hae Jin mulai menerima kehadiran Dong Hae, terlebih lagi Dong Hae selalu bersikap baik dan lembut padanya. Hae Jin juga bingung kenapa pria itu beitu baik padanya. Padahal dulu ia sangat kasar dan jutek pada Dong Hae. Walaupun begitu, Dong Hae tetap bersikap lembut.

“Ya, Hae Jin-ah, sudah bisa melupakan Taec Yeon sekarang huh?” tanya Park Ri Rin, sahabat sekaligus kakak kelas Hae Jin, saat Hae Jin baru saja keluar dari kelasnya dan Ri Rin menghampirinya.

“Onnie? Maksud onnie?” tanya Hae Jin bingung.

“Diantar jemput sama cowok, siapa itu namanya, Dong Hae? Terus obrolanmu akhir-akhir ini itu tentang diaaaaa terus. Ditambah lagi, sekarang kau sudah bisa tersenyum lagi. Sebelum kau bertemu Dong Hae kan mukamu itu udah kaya jemuran kering tiap hari muram terus. Kerjamu tiap hari ke makam Taec Yeon terus diam di kedai kopi, melamun sambil mainin hapemu,”

“Onnie! Kau jadi stalker ya sekarang?!” tanya Hae Jin karena kaget mendengar penuturan akhir Ri Rin, masa dia tau semuanya sih?

“Babo ya! Kau kira kita sudah bersahabat sejak kapan?! Aku sudah hapal dengan kelakuanmu, Hae Jin-ah,” jelas Ri Rin sambil menoyor kepala Hae Jin pelan.

Hae Jin hanya mengangguk-ngangguk mendengar hal itu. Pikirannya melayang keperkataan Ri Rin sebelumnya. Benarkah ia sering menceritakan tentang Dong Hae? Masa sih sampai segitunya? Kalau dia jarang mengunjungi makam Taec Yeon, karena sekarang ini ia…Hae Jin berpikir keras. Harus dia akui, hal itu karena Dong Hae selalu menjemputnya dari kampus dan mngajaknya jalan-jalan. Entah itu makan, duduk di taman, ke taman bermain, yah kemana sajalah. Dan mereka akan pulang pukul tujuh atau delapan. Kalau hari minggu, walaupun Dong Hae tidak mengajaknya kemana-mana, dia harus bekerja katanya, Hae Jin enggan untuk pergi kemana-mana.

“Ya! Itu pangeranmu sudah datang!” Ri Rin menepuk bahu Hae Jin dan pikiran-pikiran yang tadinya berkecamuk dalam kepala Hae Jin pun menguap sudah.

Dilihatnya Dong Hae baru keluar dari mobilnya dan bersandar di bagian samping mobilnya sambil tersenyum kearahnya. Hae Jin pun membalas senyuman Dong Hae dan segera ketempat Dong Hae.

“Onnie, aku duluan ya! Bye~,” pamit Hae Jin pada Ri Rin. Ri Rin hanya tersenyum melihat sikap Hae Jin. Dalam hatinya, ia bersyukur bahwa sahabat karibnya itu sudah tak bersedih hati lagi.

“Ngapain kamu liatin mereka, baby?” tanya seseorang yang baru saja datang pada Ri Rin.

“Hubby? Ani, aku hanya senang melihat Hae Jin sudah bisa tersenyum lagi,” jawab Ri Rin sambil tersenyum pada Si Won, kekasihnya.

Tidak seperti biasanya, hari ini Dong Hae langsung mengantar Hae Jin ke apartemennya. Yang biasanya ia mengantar Hae Jin sampai didepan pintu apartemennya, kali ini ia hanya mengantar sampai di lobby.

“Aku harus pergi sekarang. Mian,” ucap Dong Hae saat di lobby gedung apartemen Hae Jin.

“Gwaenchana,” kata Hae Jin tulus.

“Oh iya, aku punya tiket pameran, mau datang?” Dong Hae menyerahkan satu lembar tiket pameran fotografi yang digelar di salah satu tempat pameran terkenal.

“Aku disuruh datang sendirian nih?” tanya Hae Jin karena Dong Hae hanya memberinya satu tiket.

“Hehe, mian, selama pameran itu digelar, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku, jadi aku tak bisa menemanimu. Aku juga ga bisa anter-jemput kamu mulai besok, mian,” jelas Dong Hae dengan dihiasi cengiran diwajahnya.

“Oh, gwaenchana, memangnya kamu supirku apa? Harus selalu antar-jemput aku, santai aja lah,” kata Hae Jin bijak.

“Lho, emang aku jadi supir kan? Pagi jemput kamu disini, anter ke kampus, sorenya jemput kamu di kampus terus anter pulang,” kilah Dong Hae.

“Oh, jadi ga ikhlas? Yaudah, ga usah jemput-jemput aku lagi, lagian aku ga minta kan?” Hae Jin malah sewot.

“Loh, kok marah sih?”

“Siapa yang marah?”

“Itu kamu, sewot gitu?”

“Biasa aja kok.”

Dong Hae tertawa melihat reaksi Hae Jin itu.

“Kok malah ketawa?” Hae Jin makin sewot.

“Hae Jin-ah, aku tuh ikhlas seikhlas-ikhlasnya kok,” kata Dong Hae akhirnya, dengan seulas senyum tulus dari bibirnya. “Oh, iya, aku harus pergi dulu, annyeong!” pamit Dong Hae.

Hae Jin hanya diam melihat punggung Dong Hae yang makin menjauh dari pandangannya. Satu detik ia merasakan debaran jantungnya meningkat luar biasa saat Dong Hae mengulaskan senyumnya yang dimata Hae Jin terlihat saaaaaaaangat menawan.

Drrt…drrt…drrt…

Hae Jin merasakan ponsel yang ada disaku celananya begetar. Diraihnya ponselnya itu, ternyata sebuah pesan masuk, dibacanya pesan itu.

From: Dong Hae

Kenapa kau masih berdiri saja? Masuklah, aku tak bisa pergi sebelum melihatmu masuk.

Sebuah pesan singkat dari pria yang tadi mengantarnya dan membuat jantungnya berdebar cepat. Ia mengedarkan pandangannya, dan ia melihat mobil Dong Hae berada tepat didepan pintu masuk gedung apartemennya. Hae Jin tersenyum singkat lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju lift untuk mencapai lantai 7 tempat apartemennya.

***

Sudah lima hari Hae Jin tidak bertemu dengan Dong Hae. Tapi Dong Hae masih mengiriminya pesan dan menelponnya saat malam hari. Kini Hae Jin sedang duduk diam didepan laptopnya yang masih tertutup. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Baru beberapa menit yang lalu ia sampai di apartemennya sepulang dari kuliah.

Tiba-tiba ia teringat akan tiket pameran yang diberi oleh Dong Hae untuknya.  Hari ini hari kedua pameran itu digelar. Akhirnya, saat itu juga ia memutuskan untuk melihat pameran itu. Sendirian.

Sampai ditempat pameran, ia melihat banyak pengunjung disana. ‘Ternyata pameran orang terkenal.’ Pikirnya. Ia pun langsung melangkahkan kakinya memasuki tempat diadakannya pameran itu.

Begitu berada didalam, ia mulai memerhatikan foto-foto yang diberi bingkai yang cantik terpajang didinding-dinding ruangan tersebut. Foto-foto tersebut menghidangkan suasana kota Seoul dari musim semi hingga musim dingin, dari pagi hingga suasana malam. Bagaimana hiruk-pikuk kehidupan di kota Seoul.

Sampai ditengah-tengah ruangan, ia melihat foto yang terpajang di tengah-tengah ruangan. Ia kaget setengah mati saat ia melihat sosoknyalah yang menjadi model pada foto tersebut, padahal ia tak pernah merasa menjadi model atau apapun. Diperhatikannya foto tersebut. Ia tengah berada di sebuah coffee shop. Duduk sendirian dengan secangkir kopi dan sepiring pancake terhidang di meja didepannya. Tangannya memegang ponselnya. Dan matanya tertuju pada ponsel tersebut. Itu adalah saat-saat dimana ia masih sangat kehilangan sosok Taec Yeon.

“Kau datang?” tiba-tiba seseorang berbisik ditelinganya. Dengan sigap, ia langsung membalikkan tubuhnya. Dan dilihatnya Dong Hae tengah berdiri didepannya. Dong Hae yang sangat berbeda dari biasanya. Biasanya ia hanya menggunakan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja santai atau kaos, malah ia sering juga menggunakan celana pendek. Hari ini Dong Hae mengenakan setelan tuxedo berwarna hitam dipadukan dengan kemeja berwarna putih tanpa menggunakan dasi.

“Katanya kamu sibuk kerja, kenapa malah ada disini?” tanya Hae Jin heran.

Dong Hae tersenyum, kemudian ia merentangkan tangannya sambil berkata, “ya inilah pekerjaanku.”

Hae Jin nampak berfikir, lalu ia teringat akan pertemuan pertama mereka. Saat itu, Dong Hae menggantungkan kameranya di lehernya. Jadi, dia ini street photographer. Ia tak menyangka Dong Hae memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang fotografi. Selama ini, ia juga tak tahu mengenai pekerjaan Dong Hae.

“Kenapa melamun?” tanya Dong Hae membuyarkan lamunan Hae Jin.

“Eh? Ani,” jawab Hae Jin sambil nyengir.

“Ayo, kuantar liat-liat,” ajak Dong Hae sambil menggandeng tangan Hae Jin.

Hae Jin sontak terkaget atas sikap Dong Hae karena selama ini walaupun mereka sering pergi bersama, tak pernah sekalipun Dong Hae menggandeng tangannya. Namun ia hanya diam dan berjalan mengikuti Dong Hae. Dong Hae berhenti disalah satu foto yang menampilkan pemandangan pantai yang sangat indah. Awan-awan yang bergumpal diatasnya menambah kecantikan pantai tersebut.

“Kau ada waktu sekarang?” tanya Dong Hae tiba-tiba.

“Ah, ada kok. Wae?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Kamu kan harus kerja.”

“Aku sudah capek. Pengen refreshing bentar lah. Mau ya?”

“Okedeh,” jawab Hae Jin mengiyakan ajakan Dong Hae.

Mereka pun keluar dari tempat pameran Dong Hae setelah Dong Hae meninggalkan pesan pada asistennya. Mereka masuk ke mobil Dong Hae dan Dong Hae melajukan mobilnya ke arah pusat kota Seoul. Ia menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah yang cukup mewah walaupun rumah itu tidak besar, namun rumah itu terlihat sangat elegan.

“Ini rumahmu?” tanya Hae Jin.

Dong Hae hanya mengangguk sambil tersenyum pada Hae Jin. Lalu ia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu penumpang untuk membukakan pintu bagi Hae Jin. Lalu mereka memasuki rumah Dong Hae. Interior rumah Dong Hae seperti sedang ada pameran fotografi disana. Rumahnya dipenuhi banyak foto-foto hasil jepretannya. Hae Jin terpana melihat itu semua.

“You have such a beautiful place,” gumam Hae Jin.

Dong Hae kembali meraih lengan Hae Jin dan menggandengnya menuju sutu ruangan yang biasanya ia tak membiarkan siapapun memasuki ruangan tersebut. Karena disana merupakan “galeri pribadinya”.

Mereka memasuki ruangan tersebut. Entah sudah berapa kali Dong Hae mebuatnya terpana hari ini. Mulai dari foto dirinya yang terpajang dipameran yang digelar oleh Dong Hae. Penampilan Dong Hae yang sangat berbeda dari biasanya. Serta rumahnya yang selain mewah, sudah seperti ada pameran fotografi sedang diadakan disana. Dan sekarang, ia dihadapkan pada ruangan yang dipenuhi oleh foto-foto dirinya sebagai model, tiga per empat dari foto yang ada disana merupakan foto Hae Jin. Dan seperempatnya merupakan foto-foto seorang anak perempuan yang berumur sekitar enam tahun.

“Anak kecil itu adalah adikku, ia meninggal pada umur tujuh tahun karena leukemia,” cerita Dong Hae sedih. Namun ia segera tesenyum lagi. “Dan seperti yang kau lihat, yang lainnya adalah foto dirimu,” jelas Dong Hae sambil tersenyum tulus dan sangat menawan.

“Kapan kau mengambil foto-foto ini?” tanya Hae Jin sambil menunjuk foto-foto dirinya.

“Menurutmu?” Dong Hae menjawab pertanyaan Hae Jin dengan pertanyaan lagi.

Kemudian Dong Hae berdiri didepan tubuh Hae Jin dan berlutut disana, tangan kanannya meraih tangan kanan Hae Jin. “Aku sudah tertarik pada dirimu sejak aku pertama kali melihatmu di kedai kopi yang biasa kau kunjungi. Aku sangat senang saat kau mulai bisa menerimaku. Dan saat ini kau sudah bisa menerima diriku. Would you be my girl?”

Hae Jin hanya diam, sedalam itukah perasaan Dong Hae untuknya? Ternyata apa yang dipikirkannya setiap malam selama ini adalah perasaan cinta juga. Cintanya untuk Dong Hae. Bahkan pria dihadapannya ini membuatnya melupakan sosok Taec Yeon. Sejak Dong Hae memasuki hidupnya, ia tak pernah menangisi kepergian Taec Yeon lagi. Bahkan Ri Rin, sahabat terdekatnya, mengatakan kalau ia selalu membicarakan Dong Hae.

“Mungkin ini terlalu cepat untukmu, aku tak memaksamu untuk memberiku jawaban saat ini juga. Aku akan setia menunggumu sampai kau memiliki jawaban yang paling matang dan tulus dari dasar hatimu,” kata Dong Hae bijak dan lembut.

“Kau tidak perlu menunggu lama untuk menantikan jawaban dariku, bahkan saat ini juga aku sudah memiliki jawabannya. I will never be your girl…” ujar Hae Jin.

Seketika hati Dong Hae mencelos. Ia menundukkan kepalanya dan matanya menatap lantai yang tengah dipijaknya. Juga memerhatikan ujung sepatu yang dipakainya.

Melihat reaksi Dong Hae itu, Hae Jin mengulaskan senyumnya dan melanjutkan kata-katanya yang belum selesai, “but I will be your bride.”

Dong Hae langsung mendongakkan kepalanya lagi begitu mendengar penuturan Hae Jin. Hae Jin menyunggingkan senyuman termanisnya untuk lelaki yang kini sudah berdiri lagi dihadapannya.

Dong Hae langsung memeluk tubuh gadis yang ada dihadapannya itu. Namun tak lama ia menguraikan pelukannya dan meraih tengkuk Hae Jin. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hae Jin. Kemudian ia mengecup bibir Hae Jin lembut. Hae Jin meletakkan tangannya ditengkuk Dong Hae juga. Terkadang ia juga meremas rambut Dong Hae. Dong Hae makin memperdalam ciumannya. Lama keduanya saling berciuman, hingga Dong Hae melepaskan bibirnya dari bibir Hae Jin.

“Saranghae,” ucap Dong Hae singkat.

“Nado,” balas Hae Jin tak kalah singkat.

Lalu keduanya saling berciuman lagi entah sampai berapa lama. ^^

The End.

31 thoughts on “{Exchange Fiction} Photograph Of Love

  1. Huwaaaaaaaaaaau senang sekaligus terharu baca fictionnyaaaa :’) Waaah eon, bagus banget ffnya. Kapan yaa punya ff sebagus ini .-. Hihii lagi-lagi nama om Taeccool dibawa-bawa ya. Tapi kecian masa dibuat mati.. /plak. Mas Hae.. Selalu romancis cis cis.. .-. Sekali lagi keren eon, daebak (y) (y) O iya salam kenal ya, Chitra imnida, 15🙂

  2. innalillahi wa innailaihi rojiun ok taec yeon menininggal! tp sukur deh hae jin udah ngelupain abang ok n mau merit ma bang ikan. ckckck…adegan terakhir abang ikan bener2 mesum euy! sesuai ama namanya,nama kepanjangan dong hae kan yaong hae………
    wkwkwkwk

  3. uwah.. poor taec.. baru mulai udh mati.. but love this fic! authornya daebak! bener2 kerasa feelnya! aduh hae unnie jutek bgt sih! msh bgs ada yg mw nolongin! inget lho haepa itu future husbandnya unnie!
    btw endingnya nanggung tuh! coba lanjutin lg pasti jd yadong deh!(wahaha byeontae mode on)
    tp overall… KEREN! *o*

  4. Kageeett! >,<
    kirain Hae yg dbawah nisan! *amit2
    keren neh ff'y .. Simple tp ngena(?) .. True story y thor? XP *sotoy
    haduuh Endingnyaaa.. JinHae JinHae, imej mu tetep yadong ye neee' ..
    XDD *ditendang nisya onnie
    daebak lahh.. ^^

  5. IGE MWOYAAAAAA ~ !!
    blum apa-apa Taec udah tiada O.O
    *ikut Haejin tabur bunga*
    #plakk :p
    amit-amit JGN SAMPE >.<
    suka bgt karakter Haejin yg angkuh, heheu Xp
    tapi tetap yah skinship number one, baru jadian udah kisseu sama Haepa (.______.)
    but still love this FF :*

  6. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Taec meninggal..
    Eh aku pikir tadinya si Ikan yg meninggal *astagfirullah*, eh pas baca dibilang yg meninggal si Taec, langsung tau jalan ceritanya mau dibawa kemana (?)
    Wah, bagus thor~

  7. sepertinya endingnya dibuat untuk menegaskan skinship couple… Kekeke *plak*
    Nice story… I enjoy it so much !! =)

  8. om taec taec numpang nama duang..wkwkwkwk…
    Tp kesian dibikin ‘telah tiada’ …

    Om ikan so romantic bgt..
    Aku iriii..
    *lirik heechul*

    beuh..skinshippp,
    jinhae emg raja n ratunya skinship dah..

  9. Keren bangetttt!!! Taecyeon meninggal kah? Yah bang Taec sabar ya, itu Donghae bener bener roooooomantiiiisssssss. Aku nangis pas Donghae nyeritain adiknya huhuu, Haejin beruntung bgt deh disini, Donghaenya gak playboy *dicekekDonghae* akhirnya skinship lageeeh, emg JiunHae gabs lepas dr skinship yap #plak

  10. agak shock n manggap pas baca awalnya kirain itu ikan! XDXD *dgampar ama ikan lol*

    etjieeeeee ian disini ‘normal’ ya?*plak*

    salah maksudnya jinhae disini normal ya!*beuggh*

    ihh haejin ga tau terimakasih *plak*
    masih syukur ada yg bae ama die *dtabok balik*
    opper all suka sm alurnya kekekekek

    ethdah si baby-hubby nyelip aje*joget* kekekekekke

  11. taecyon maen meninggal aj nih di ep” ini… kekekeke
    haejin mah jgn jutek” atuh neng… ntar digigit donghae lho.. (?)
    #cmnt gx penting banget
    inti na suka ma ni ep”.. b^^

  12. ya Allah…si Tae…kecian *poor Tae*

    Uwoooww…si ikan tukang foto…
    jgn moto haejin aja…foto2 aku juga…. xDDD
    kalimat yg terakhir…ckckckckckc…
    Aku rasa sampai ni FF publish JinHae juga belom selese ciuman’x….haahaahaaaaaa!!!

    buat nisya onn…jga kesehatan selalu…fighting!!!

  13. Waduuhh ttp aj ya pasti deh ending ny skinship. Pdhal bru jadian tuh? Haduh2 emg jinhae gk bsa lepas ya dr skinship.. LOL

    Crita ny bgs dh, makna ny dalem bgt. Hae suer deh romantiis bgt..!!
    wkwkwk

  14. wakakakaka Haejin tidak akan pernah bisa terpisahkan dari Donghae-Taecyeon :p
    ampunnn dah taecyeon udah mati aja u.u sabar ya bang, semoga dirimu tenang disana *digampar*
    tapi iyalooo saya pikir yang mati ikan *nyengir* ehhh ternyata bukan. #plakk
    ihhh itu halmoni sama kuda jingkrak ikutan eksis yeee xD wkwkwkwk
    aduh adegan terakhir tu ._. pake meremas rambut juga ._. berasa dalem banget tuh ciuman. dasar skinshipper~!
    tapi suka deh cerita ginian,ketemunya di kpo2an gitu (?)

  15. Taec-Taec Ajussy Meninggal..ckck **Nonton C’Author yg lagi di bakar Hottest**

    Ehemmm,,,Dimana2 FFHaeppa..Slalu romantis…

  16. wow!!! daebak ff ny>>>>>

    romanrisss eonn!!!
    ngena bgt cerita ny,,, kyaaa!! lee donghae mank selalu bikin greget deh!!!
    kebayang,, senyum hae yang bikin klepek2!!hehe
    poko ny daebakkk lh eonn!!

  17. malang nian nasib taec oppa, meninggal sbelum ff d mulai..hhaa

    wiiiih, jinhae couple emang selalu skinship kapanpun & dimanapun…
    btw, aku suka jawaban cinta ny haejin, romantissss~~~

  18. sukaaaaaaaaaa….. ikan selalu jadi yang bikin haejin tersenyumm…. hae kayak pengagum rahsia disini…. tapi untungnya tetep bisa bersatu….
    ,mianhae telat komennnn

  19. mian bru bisa komen + baca sekarang.
    ni ff super duper romantis.
    di mana ada donghae pasti sellu romantis..
    ahh~ aku suka karakter donghae di sini, jadi photografer. seneng banget ngeliat org yg pergi ke sana ke mari bawa2 SLR.

    bang taec meninggal~ aiggoooooo~~~ kasihan sekali bang taec, sudah dikubur di dlam tnah. hahaha~

    bag. terakhir bener2 jinhae bgd ni. SKINSHIP!!!! haha~~ selalu ada SKINSHIP~

  20. So sweet🙂
    Hae, ak suka profesi barumu
    Km keliatan kereeeen :*

    Aigoooo donghae emg raja gombal (?)
    Buseeeet, baru jadian aja udh sgtuny cium2an…
    Dasar ya -____-“

  21. Astaga,kpan Bang Taec2 mati,?kok sayah kgak tau ya,?
    Innalillahi~ semoga aja boong (?)Hhaha maap Bang becanda
    Idiiiih Bang Donge mah bisaan ajah so sweet nateh,jdi kepengen juga *plak
    nice epep ^^

  22. haduhh jinhae yahh ,.. ga dmana ga dmana pdahal baru jadian uda kissu kissu aja.. tpi inilah yg aku suka dari pasangan ini.. skinshipnyaaa😛
    donghae sabar bnged dahh ngedeketin sii haejin… kasian yahh haejin yg kyak mayat idup *dgetok nisya unn* garagara ditinggalin taecyeong.. untung ada mas ikann…
    aigooo klo uda baca jinhae jdi jatuh cinta lagi sama sii ikan .. tenang nisya unn,, cintaku tetep uda mentok di unyukk😀
    maksudnya aku jdi ngelupain tuhh cemburu aku klo ngeliat donghae dket dket unyukk pas baca ff jinhae…
    aigooo ini couple emank DAEBAKlahhh😀
    auhtornya authornya *clingakclinguk* bagus dhh thor critanya cuma setuju sama comment yg di atas alurnya agak kecepetan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s