{JinHaeXy} When I Fall ~Part 2~

PG 13 : For some reasons, an Idol lifestyle

*Summer 2003*

 

”Lee Haejin.”

”Ne, itu saya…” aku berdiri ketika di panggil oleh salah satu staff manajemen JYP Entertainment. Aku diterima sebagai trainee tiga hari yang lalu.

”Kau ke ruangan 205, disana kau akan berlatih vokal…”

”Ah, ye, kamsahamnida…” aku membungkuk, kemudian langsung mencari ruangan tersebut, setelah menaiki lift ke lantai dua, aku mulai mencari-cari ruangan yang dimaksud, sampai aku mendengarkan sebuah petikan gitar, yang memang berasal dari ruangan tersebut.

Aku membuka ruangan tersebut perlahan-lahan dan melihat beberapa orang sedang ada di dalam, termasuk yang memainkan gitar, aku menatap gitar cokelat itu, kemudian mendongak menatap wajah yang memainkan gitar, dia sambil memejamkan matanya, dan bernyanyi dengan heboh.

 

So lately, been wondering
Who will be there to take my place
When I’m gone you’ll need love to light the shadows on your face
If a great wave shall fall yeah fall upon us all
Then between the sand and stone could you make it on your own
The Calling – Wherever You Will Go

Aku langsung deg-degan, wajahku memanas, ada apa dengan diriku? Kenapa aku tiba-tiba begini, lalu kuputuskan untuk masuk ke dalam ruangan sambil mengucapkan permisi.

”Annyeonghaseyo, Lee Haejin-imnida…”

”Annyeonghaseyo…” ucap seisi ruangan, yang terdiri dari delapan pria, dan lima wanita.

Seorang guru vokal kami menunjukku setelah aku memberikan transkrip nilai dari JYP Accademy, dan dia nampak antusias. ”Dia ini lolos hanya dalam waktu sekali audisi lho…” katanya.

”Ah, jinja?!” komentar seisi ruangan.

”Dia pandai menari soalnya, kau dari Mokpo, kan?” guruku itu bertanya, aku mengangguk lagi sambil tersenyum. ”Ya, dia ini sejak setahun lalu, sudah mengajar ballet di salah satu SMA di Mokpo, padahal dia sendiri masih SMP…”

”Woaaaah, serius?” komentar beberapa lagi.

Aku cuma tersenyum, tapi mataku sejujurnya menatap cowok tinggi, besar yang duduk di belakang tersebut, dia terlihat tidak peduli, tapi sedikit senyum-senyum dengan giginya yang nampak mencolok tersebut. Kemudian setelah sesi perkenalan, aku diizinkan duduk, dan mendengarkan pelajaran. Hanya pelajaran dasar mengenai vokal disini, sekitar satu jam kemudian break.

Aku duduk sendirian di kursi dan masih nampak canggung, karena belum mengenal siapa-siapa, sementara yang lain sudah berseliweran ngobrol di depanku, aku memerhatikan beberapa namja yang sedang bermain dengan papan tulis plus spidol di tangan mereka. Tapi, pandanganku lagi-lagi terpaku kepadanya, dia sedang meledek seorang gadis dengan menarik-narik kunciran gadis itu, gadis itu ngomel-ngomel setengah hati.

Entahlah, rasanya aku iri dengan gadis itu, gadis itu melirikku, yang sedang menatap mereka, lalu gadis itu menghampiriku. ”Hai… kau diam saja dari tadi…” dia mengulurkan tangannya. ”Min Sunye…”

”Lee Haejin…” sapaku.

”Usiamu berapa?”

”Tiga belas tahun…”

”Aaah, aku lima belas… panggil aku Onnie, ya… aku sudah dua tahun trainee disini, selamat bergabung.”

”Ah, ye kamsahamnida, Onnie…” aku membungkuk, kemudian aku dikenalkan Sunye Onnie dengan beberapa orang lain, ada HyunA, Sohee, YeEun Onnie, dan Sunmi. Mereka berlima rupanya akan disatukan dalam sebuah girlband, namun menurut Sunye Onnie, masih lama untuk debut, perjalanan mereka masih jauh.

Yah, Sunye Onnie yang sudah dua tahun trainee saja belum debut-debut, apalagi aku yang baru masuk? Dan ternyata ketujuh pria tersebut masih punya empat orang anggota, rencananya, mereka juga akan dimasukkan dalam sebuah grup. Sebelas orang?! Bernama One Day, banyak benar…

Aku akhirnya tau kalau pria itu bernama Ok Taecyeon, dia cukup humoris, dia suka sekali menjahili Sunye Onnie dan HyunA, lambat laun, aku mulai mengenal teman-teman traineeku satu persatu. Dan cukup dekat dengan mereka semua, akhirnya lama kelamaan aku sadar kalau aku menyukai Ok Taecyeon. Aku selalu memerhatikan dia latihan, mulai vokal, tari, akting, dan sebagainya.

Aaah, pokoknya jatuh cinta itu benar-benar seperti kata semua orang di dalam film deh. Berjuta rasanya, mau makan, mau minum yang terbayang hanya wajahnya ketika tersenyum. Hariku jadi bahagia saja, pokoknya aku suka mengamati dia dari jauh, tapi aku mau lebih. Aku kan iri dengan Sunye Onnie dan HyunA yang cukup dekat dengan Taecyeon, meski Taecyeon juga kadang-kadang menyapaku.

”Onnie…” kataku pada Sunye Onnie dalam sesi latihan tari kami.

”Hmm?”

”Aku punya permintaan…” kataku dengan nada merengek, dia melirikku heran, tak biasanya aku merengek, makanya dia heran.

”Ada apa?”

Kami mojok di ruangan kaca tersebut, kemudian aku berbisik. ”Onnie… aku minta nomor ponsel Taecyeon Sunbae, doooong…” kataku menahan malu. Aku menunduk, tapi kurasakan Sunye Onnie menatapku, kemudian dia terkekeh. ”Onnie, jangan tertawakan aku…” rengekku malu.

”Aku sudah menduga ya, kalau kau akan meminta ini lambat laun.” Katanya masih terkekeh.

”Onnie…”

”Kau itu suka pada Taecyeon Oppa sudah kelihataaaaaaaan sekali!” ledek Sunye Onnie.

”Jinja?!”

”Yaaaah, kau selalu memperhatikan dia, walaupun dari jauh… kalau ada dia, kau berbunga-bunga, aaah, hanya orang bodoh yang tidak bisa lihat kalau kau suka padanya!”

”Ah aku maluuuuuuu…” aku menutup wajahku.

”Makanya, kendalikan wajahmu saat melihatnya… eh, Haejin-ah, apa sih yang kau taksir dari Taecyeon? Yang kuingat dari wajah Taecyeon hanya giginya…”

”Onnie!”

 

*           *           *

”Aaaah, akhirnya aku punya nomor ponselnya…” aku senyum-senyum sendiri dengan deretan angka di hadapanku. Tapi, kalau aku sudah punya nomor ponselnya, apa yang akan kulakukan? Masa aku harus mengiriminya sms duluan? Lagipula kalau mengiriminya sms duluan, apa yang akan katakan kepadanya? Aaaah, Haejin babo, kenapa tidak memikirkan itu?

Aku menjitak-jitak kepalaku sendiri.

”Hya, Lee Haejin!”

”Oh…” aku mendongak. ”Hai… Seulong-ssi…”

Dia duduk di sebelahku, aku langsung menutup detail kontak Taecyeon, takut dibaca Seulong yang merupakan sahabat dari Taecyeon juga. ”Ada apa?”

”Kudengar kau suka pada Taecyeon, ya?”

Wajahku memerah. ”Ani…” gagapku.

Dia tertawa terbahak-bahak. ”Sudah kuduga…” dia menepuk bahuku. ”Tenang saja… pasti aku bantu.”

”Ani! Seulong-ssi… ani…” aku gelagapan.

”Heiii… kau yakin tidak mau? Aku dekat dengannya lho, sayang-sayang menolak bantuan gratis dariku…”

Aku diam.

”Nah kan diam… ha ha ha…” dia kembali tergelak menertawakanku.

”Kau tau dari mana, Seulong-ssi?”

”Sunye…”

”Aaaaah Sunye Onnie!” geramku.

”Tak perlu dia beritahu juga aku bisa lihat kau suka pada Taecyeon!” Seulong menitak kepalaku.

”Wae?”

”Kau kan selalu mengintip kami latihan, cih… mungkin Taecyeon tidak sadar, saking babonya dia, tapi aku, Junsu, Wooyoung, dan Changmin tau kalau ada yang melihat kami! Heee… kau saja yang tidak sadar, kalau sudah banyak yang tahu kaus suka pada Taecyeon!”

Aku menutup wajahku. ”Matilah…”

”Kalau kau mati, aku akan mengurus pemakamanmu, kau tenang saja…” ujar Seulong enteng.

”Ya! Kau mendoakanku mati?!”

”Aniya, aku mendoakanmu semoga kau punya keberanian untuk maju… dengarkan ya, Nona Mokpo, Taecyeon itu tipe pria paling tidak peka yang aku kenal, dia suka menganggu wanita-wanita, tapi dia sepertinya merasa kau suka padanya… makanya dia tidak pernah menganggumu, coba kau lihat Sunye, HyunA, Yoobin, semua di ganggu sama dia…”

Aku menunduk sedih.

”Eits! Jangan hujan dulu, masih terang…” potong Seulong lagi. ”Dia sepertinya juga tertarik padamu, tapi kau jangan GR dan melayang-layang dulu, ini baru perkiraanku. Coba deh kau dekati dia pelan-pelan, anggap saja dia temanmu, ajak ngobrol dulu, aku akan membantumu…”

”Wae?”

”Karena aku bosaaaaan jadi pacar Taecyeon…”

”Mwo?!”

”Ahahahahaha, kami YAOI tau, kau kemana saja?!”

”Jangan bercanda?! Kau mau kucekik?”

”Ahahahaha, kau ternyata beneran suka pada Taecyeon ya…”

”Im Seulong!” teriakku.

 

*           *           *

Akhirnya berkat bantuan dari Seulong dan Sunye Onnie, aku berhasil dekat dengan Taecyeon. Awalnya kami berkirim pesan, karena aku akhirnya memberanikan diriku mengiriminya pesan, tengah malam buta, saking bodohnya. Tak kusangka dia akan membalas pada saat itu juga.

Ternyata kami sama-sama sedang menonton siaran sepakbola, dia cukup kaget dengan hobiku yang suka menonton sepakbola juga, tapi ternyata disitulah celahnya, kami berdua dekat karena kesamaan hobi. Taecyeon merasa tidak perlu menyamakan diriku lagi, karena aku dan dia sudah sama, aigoyaaaa senangnya… kami jadi sahabat via mobile phone. Karena kalau bertemu langsung, aku masih malu menyapanya, tapi akhirnya dia menyapaku duluan, dan mengajakku ngobrol.

Aku masuk JYP Accademy sekitar bulan Juli, kami mulai berkirim pesan Agustus, dan akhirnya setelah lama dekat, di bulan Februari 2004, Taecyeon mengirimiku sebuah pesan yang bisa membuatku melayang ke langit ke tujuh, dia bilang dia sayang padaku. Ya Tuhan, aku bisa mengapung dimana-mana kalau begini…

Akhirnya dia mengajakku bertemu di belakang gedung JYP, dimana disana ada taman, dia berdiri sendirian di tengah udara yang masih menusuk tulang, ini kan bulan Februari, apa yang dia lakukan?

”Taecyeonie…” sapaku. Oke, rasanya memang tidak sopan memanggilnya hanya dengan nama, tapi dia yang memintaku begitu, begitu pula dengan beberapa namja lain yang meski terpaut beberapa tahun denganku, tapi mereka tidak memintaku memanggil mereka dengan sebutan Oppa.

Dia berbalik dan menatapku, lalu tersenyum, dia menepukkan tangannya, kemudian entah dari mana, dan siapa pelakunya, ratusan balon warna-warni berterbangan di sekitar kami. Aku tersentuh sekali, balon-balon itu indah dan mengelilingi kami, aku masih memandangi balon-balon itu dengan girang.

”Ini untukmu…” dia mengulurkan satu balon berwarna pink.

Tau saja dia aku mengincar balon pink, aku mengambilnya. ”Ah, gomawo… eh, dalam rangka apa? Aku ultah kan Juli, Taecyeonie…”

”Jadi pacarku ya?” pintanya.

Wajahku langsung mirip kepiting rebus. Ya Tuhan, dia to the point sekali, aaah… rasanya aku melayang-layang.

”Jawab lah… jadi pacarku ya, awas kalau gak mau!”

”Ne… aku mau…” aku tersenyum.

 

*Flashback End*

Aku menahan air mataku, dan buru-buru kututup lagi pintu kamar Donghae Sunbae, aku kembali ke sofa, lalu terisak sepelan mungkin disana, hatiku terlalu sakit. Kenangan itu membekas sekali, rasanya baru kemarin balon-balon indah itu berterbangan di sekitarku, tapi kini, nyatanya aku sudah sendiri, kami berdua sudah berpisah jalan.

’Mianhae… suatu saat nanti, kau akan menemukan penggantiku…’

”Aaaah…” aku menutup kupingku, sementara air mataku masih turun satu persatu, sayangnya suara-suara itu masih jelas berbunyi di telingaku. ’Kau akan menemukan seseorang yang mencintaimu, sebesar kau mencintai dia… tapi itu bukan aku…’ aku terus menggigit bibir, sampai kurasakan amis darah di mulutku, dan aku menahan kupingku terus.

Akhirnya aku berhasil mengendalikan diriku, aku berusaha fokus, dan tidak memikirkan dia lagi, aku menarik napas dalam-dalam dan bersandar di sofa lagi, seorang diri. Chihoon pasti masih bermain game console bersama Kyuhyun, aku memejamkan mataku perlahan-lahan, sampai kudengar seseorang berkata.

”Chihoon-ah, ayo pulang… Onnie-mu sudah mengantuk tuh…”

Hee? Aku tidak ngantuk, aku hanya menutupi mata merahku, aku buru-buru berdiri, aku melihat Donghae Sunbae masuk ke kamar satunya. ”Chihoon-ah… Onniemu sudah ketiduran tuh, kau pulang dengan siapa?”

”Ada supir, Oppa…” sahut Chihoon tak peduli dari dalam. Dasar Dongseng kurang ajar.

”Gwenchana, Sunbae… aku tidak ngantuk kok… kasihan dia sudah lama tidak ketemu Oppanya,” kataku sambil tersenyum.

”Kalau ngantuk, pakai saja kamar ini nih…” Donghae menunjuk kamar satunya. ”Kamarnya kosong, tidur saja…”

”Ani, aku tidak ngantuk, Sunbae…” kataku malu.

”Besok kan kita ada pemotretan, tidak boleh capek-capek, aku juga mau tidur… sudah ayo tidur sini, jangan malu… nanti kalau ketiduran, kugendong deh ke mobil… kau pasti lelah.”

”Ani, gwenchana! Jinja gwenchana…” aku mencoba menolak. Donghae Sunbae ini tukang maksa! Huee… akhirnya setelah kuyakinkan, dia membuatkanku kopi, biar melek katanya.

Kopi tidak pernah berpengaruh padaku, Sunbae, sejujurnya, tapi karena dia baik, ya sudahlah, kuminum saja kopinya, sementara dia kembali gonjrang-gonjreng gitar di dalam kamarnya. Hmm, I hate that voice… aku benci suara gitar sekarang, dan Donghae Sunbae malah memainkannya.

Kasihan gitar, gara-gara dia, aku jadi ikut trauma sama gitar.

 

*           *           *

Keesokan harinya, seperti biasa, setelah menyiapkan susu untuk kedua adikku, aku langsung memeriksa jadwal lagi. Hari ini hanya Chihoon yang sekolah, sementara Kyorin memutuskan ikut andil dalam salah satu konser musikal, mulai akan bolos-bolos sekolah. Kasihan…

Aku sendiri harus pemotretan, dan ada dia pula… aku menghela napas dalam-dalam ketika suda selesai berpakaian, kakiku seolah diberi pemberat. Mana sanggup aku melihatnya beradegan mesra dengan orang lain, nanti… meski hanya untuk keperluan entertaining semata.

”Onnie kerja sama dia ya?” tanya Kyorin tiba-tiba.

Aku terkejut, tapi kemudian tak ada juga yang harus aku sembunyikan dari Kyorin, aku mengangguk pelan. ”Ne…” sahutku lirih.

Dia menghela napas. ”Mereka semua, khawatir padamu, Onnie… kenapa kau tidak bilang kemarin?”

”Aku juga baru tahu ketika kalian sudah tidak ada…” sahutku. ”Dan Junjin Oppa memaksaku, katanya ini perintah Jinyoun Sunsangnim. Aku bisa apa? Toh lambat laun kami akan bertemu dalam satu pekerjaan…”

”Bagaimana rasanya, Onnie?” tanyanya sedih. ”Kau tak apa-apa, kan?”

”Aku menangis…” jujurku sambil menunduk. ”Untung ada Ongie… dan…” air mata menggenang lagi, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diriku. ”Kyorin-ah…” aku menangis, dan dia memelukku, dia mengusap bahuku pelan-pelan.

”Sudahlah, Onnie… lupakan dia, lupakan dia… carilah gantinya… aku bicara begini, karena sudah mau dua tahun kalian berpisah, tapi kau tetap seperti ini, Onnie!”

”Aku masih cinta padanya…”

”Ani! Itu bukan cinta… kau hanya tergantung padanya! Matamu tidak pernah mau melihat yang lain, sekarang bukalah! Lihat di sekitarmu… kalau kau jeli, Onnie, banyak yang menaruh hati padamu, tapi kau tidak peduli…”

Aku mengusap mataku perlahan.

”Kalau dia meninggalkanmu, tinggalkan lagi dia!” kata Kyorin. ”Kalau dia tidak mencintaimu, berhenti cintai dia! Kalau dia menghancurkanmu, hancurkan lagi dia!”

”Dia tidak sekejam itu!”

”Bagaimana tidak kejam?!” tanya Kyorin naik darah. ”Kau yang membuatnya jadi seolah-olah pribadi yang kejam! Dia sudah meminta berpisah, karena dia merasa tidak nyaman, dia hanya sayang padamu sebagai adiknya! Dia membohongimu selama empat tahun, Onnie!”

Aku menangis dan menggeleng-geleng, lalu menutup kupingku. ”Jangan katakan itu lagi…” isakku.

”Maka relakanlah dia, Onnie…” kata Kyorin berkaca-kaca. ”Ikhlaskan dia… kalau kau memang cinta padanya, relakan dia pergi! Dia tidak akan pernah bisa bahagia, sementara kau terus mengurungnya! Meski dia sekarang sendirian, dia tidak akan pernah bisa memiliki orang yang dia cintai, jika Onnie terus seperti ini…”

Aku sesenggukan, tapi kusadari, ucapannya memang benar.

”Haejin-ah… siap?” Junjin Oppa masuk tiba-tiba, dan melihatku menangis. ”He? Kalian bertengkar?!”

”Aniya…” sahut Kyorin.

Aku buru-buru mengusap mataku, lalu mengikuti Junjin Oppa ke bawah, dan berangkat menuju lokasi pemotretan, yang akan dilakukan di sebuah hotel ternama di Seoul, dan begitu menuju kesana, aku bisa melihat banyak stalker. Dan melihat balon milik Flyers, yah… aku jadi terharu, disaat aku sedang gugup, Flyers ada yang datang untuk meliputku. Paling banyak balon berwarna biru safir, jelaslah itu ELF, fandom Super Junior, dan fandom 2PM beserta 2AM juga ada dimana-mana. Aku dan Junjin Oppa turun, ketika kilauan blitz mulai menyinariku, aku berusaha pasang senyum, meski sebenarnya berat.

Aku bertemu dengan salah seorang staff, yang langsung mengajakku ke lokasi pemotretan, yang ternyata di indoor swimming pool hotel tersebut, sehingga fans tidak dapat melihat pengambilan gambar. Aku sampai disana, melihat Hara, Gain Sunbae, dan Jooyeon Sunbae sudah ada disana, mereka bersama manajer mereka, dan sedang mendiskusikan soal pemotretan.

”Sepertinya YoonA-ssi akan terlambat, maklum jadwal SNSD sangat padat belakangan ini…” kata seorang staff lagi. ”Kalau begitu, kita akan memulai pemotretan berpasangan dahulu, sebelum masuk ke pemotretan bersamaan, sembari menunggu YoonA-ssi…”

Fashion stylist majalah tersebut maju dan memanggil kami. ”Haejin-ssi, Gain-ssi, Hara-ssi, dan Jooyeon-ssi, silakan ikuti saya untuk mengganti baju kalian…” selesai dia bicara begitu, sebuah pintu terbuka, dan kami semua yanga ada di ruangan menoleh ke arah pintu tersebut.

Bagaikan slow motion dalam iklan dan film-film, Donghae Sunbae, Minho, Seulong, Taecyeon, Lee Joon, Jungmin, dan Dongwoon masuk ke dalam ruangan, hanya mengenakan CELANA RENANG! Wajahku memerah, dan langsung memalingkan wajah, ya Tuhan… badan mereka jadi semua! Kukira hanya aku yang gugup, tapi sepertinya Jooyeon Sunbae juga gugup, dia terbatuk sangat keras, Hara bahkan menutup wajahnya dengan tangan.

”Haejin-ah…” sapa Seulong tak tau malu dari sana, dan melambai dengan heboh.

Aku balas melambai lemah.

”Ayo…” ajak fashion stylist yang sepertinya agak terkesima juga dengan pemandangan indah dari laki-laki tampan dari seluruh penjuru Korea Selatan tersebut, aku mengikuti Hara yang cekikikan ke dalam sebuah ruangan.

Kami berempat kemudian dihadapkan pada masing-masing sebuah gantungan panjang berisi baju-baju olahraga, dengan warna-warna gelap, dan bentuk-bentuk yang berbeda. Kali ini konsepnya adalah, renang! Piuuuuh, tak heran pria-pria itu hanya pakai celana renang… dan sekarang kami diperbolehkan memilih sendiri pakaian renang yang akan kami pakai.

Kemudian YoonA Sunbae datang, dia nampak lelah, tapi dia terus meminta maaf atas keterlambatannya, dan langsung memilih pakaian juga. YoonA Sunbae memilih pakaian renang dengan model tidak terlalu terbuka, tapi memerkan perut, dan kaki indahnya, khas SNSD sekali. Jooyeon Sunbae seluruh badan tertutup, tapi bajunya mengekspos kakinya. Gain Sunbae memilih pakaian renang dengan punggung terbuka, dan memerkan kakinya juga. Hara memilih pakaian renang yang memamerkan perutnya yang memang sangat rata, berikut tangannya.

Sementara aku bingung, apa yang harus aku pakai? Dengan Taecyeon diluar sana, siap melihatku… aku melirik YoonA Sunbae, yang sudah percaya diri dengan apa yang dia kenakan, begitu pula yang lainnya, aku kemudian mendesah kesal. Biasanya aku selalu percaya diri!

Tapi dengan adanya Taecyeon diluar sana, tentunya aku ingin terlihat sempurna di matanya, apalagi dibandingkan dengan YoonA Sunbae, aku melirik dirinya, dia cantik, dan Taecyeon memilihnya sebagai tipe ideal. Tiba-tiba aku merasa diriku bagaikan itik buruk rupa saja, aku sedih sekali…

”Kau tidak bisa memilihnya?” tanya Hara tiba-tiba.

”Ah, aniyo…” aku kaget dengan pertanyaannya.

”Dari kemarin kulihat kau tidak fokus, Haejin-ah…” kata Hara heran. ”Ada apa sih denganmu? Mau kubantu…”

Aku menghela napas dalam-dalam. ”Boleh…”

”Hmm… kalau menurut sudut pandangku, karena kau tidak terlalu tinggi, sebaiknya pakai sesuatu yang memperlihatkan kakimu, jadi kau terlihat tinggi… lalu, kau begitu…” Hara memerhatikanku. ”Montok!”

”Aigo…” kataku malu.

”Itu nilai plus,” sambung Hara. ”Perutmu berbentuk! Satu hal yang tidak terjadi padaku, meski perutku rata… sebaiknya pamerkan juga perutmu… tapi dadamu juga indah…”

”Hara-ya! Jangan harap aku mau pamer dada!”

”Hmm… kalau tak mau ya sudah, padahal itu aset!” ujarnya asal.

Ingin rasanya aku meninjunya! Heuuu, rasanya aku salah sudah minta tolong pada Hara, tapi kemudian aku disodorkan beberapa pakaian renang lagi, aku suka salah satunya, yang berwarna pink. Akhirnya kuputuskan mengenakannya, lalu membalut tubuhku dengan jas mandi, kemudian kami bersama-sama keluar dari kamar ganti, dan melihat pria-pria itu sudah menyebar, sambil ngobrol.

Rasanya udara sekitar menjadi sangat panas, aku berusaha tidak memerhatikan Taecyeon yang sedang ngobrol dengan Minho dan Donghae Sunbae, akhirnya aku hanya duduk disebelah Junjin Oppa. Aku terus memerhatikan Taecyeon yang ngobrol sangat antusias, sesekali dia tertawa. Garis matanya yang hilang, selalu kurindukan sekali, aku menunduk lagi, air mataku tidak keluar, tapi hatiku sedih sekali, rasanya merana.

”Oke, karena semua sudah lengkap… ada baiknya kita pengambilan foto yang keseluruhan dulu ya, di pinggir kolam renang disini…” pengatur gayanya menunjukkan. Kami mulai diatur, satu persatu dengan ekspresi wajah sok seksi, yang harus kami tunjukkan, aigoyaaaaa… aku pusing, mataku tak hentinya melirik ke arah sana, dimana Taecyeon sungguuuuh seksi!

”Haejin-ah, konsen!” teriak Junjin Oppa.

Aku menelan ludah, sepertinya aku benar-benar tidak konsentrasi, lalu Seulong menjitak kepalaku, dan memberi gelengan. Jelas dia memintaku agar tidak terus memerhatikan Taecyeon, aku menghela napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri, dan berhasil! Syukurlah… karena Junjin Oppa sudah tidak bawel lagi.

”Oke, yang wanita… jas mandinya tolong dibuka…” pinta sang fotografer.

Gain Sunbae tanpa ragu melepaskan bajunya, begitu juga dengan Jooyeon Sunbae, YoonA Sunbae, dan Hara, akhirnya aku perlahan-lahan melepaskan jas mandiku, dan memberikannya pada fashion stylist yang mengulurkan tangannya. Kami mulai difoto, dan perlahan-lahan aku mulai nyaman, tidak gugup lagi. Pasang muka sok seksi yang agak-agak judes, dan Junjin Oppa sudah mengacungkan jempol bolak-balik.

”Oke, Gain-ssi sedikit lebih mendekat pada Jungmin-ssi… iya, begitu bagus! YoonA-ssi, sedikit turunkan dagumu… iya benar! Haejin-ssi, letakkan tanganmu di atas bahu Dongwoon-ssi…”

Aku tersenyum meminta izin pada Dongwoon, yang membalas senyumku ramah, aku meletakkan tanganku, di atas bahunya, dan kami difoto lagi. Sekitar satu jam, setelah entah berapa kali ganti gaya, sesi pemotretan untuk keseluruhan model selesai, dan setelah ini masuk foto berpasangan, lalu foto sendiri-sendiri.

Jadwalku masih panjang rasanya, keluhku sambil duduk di atas kursi dan menepuk-nepuk bahuku yang pegal. Kemudian kulihat Donghae Sunbae menghampiriku, sambil membawa Minho, aduuuuuuuh… Donghae Sunbae kau tega! Bisa megap-megap aku melihat badan Minho! Aduuuuuh, Seulong benar-benar harus membayar perbuatannya padaku, suatu saat nanti!

”Halo, Haejin…” sapa Donghae Sunbae.

”Halo, Sunbae…” aku membungkuk. ”Minho-ssi…” aku membungkuk malu juga pada Minho.

Minho menyahut. ”Minho-ya, saja…”

”Ah, ne…” aku membungkuk lagi.

”Bajunya bagus…” puji Donghae Sunbae menunjuk baju renangku.

Aku menunduk. ”Ah ye… aku suka warna pink…” kataku sambil tersenyum. ”Gomapsumnida, Sunbae…”

Tapi kulihat Minho nyureng melirik Donghae Sunbae. ”Sejak kapan Hyung suka warna pink?!”

”Aku tidak suka warna pink.” Sahut Donghae Sunbae.

”Lah ini, katamu bagus…” Minho menunjuk bajuku.

”Bajunya bagus, pink… kalau yeoja yang pakai pink bagus… ya kan, Haejin-ah?” dia meminta dukunganku.

Aku cuma nyengir bingung.

”Kau kelihatan lelah, Haejin-ssi…” kata Minho.

”Ah, jinja?!” tanyaku sambil memegang wajahku.

”Ne, sudah kusuruh kau tidur semalam, tapi kau tidak mau tidur… kau pasti kelelahan tuh…” kata Donghae Sunbae.

Aku tersenyum saja.

”Dia ke dorm Hyung semalam?” tanya Minho.

”Ne… Chihoon mau bertemu Kyuhyun,” jawab Donghae Sunbae sambil tersenyum. ”Eh, aku mau ambil minum, Minho-ya, kau tunggu disini ya… Haejin, mau minum apa? Sekalian…”

Aku menjawab, ”Jangan jeruk… apa aja boleh, asal jangan jeruk…”

”Oke…”

”Aku duduk sini ya?” Minho menunjuk tempat di sebelahku, yang memang kursi panjang di pinggir kolam renang. Aku mengangguk, meski aku deg-degan juga sebenarnya. Donghae Sunbae pastilah sedang berusaha menjodohkanku dengan Minho ini… ==” Im Seulong, awas kau!

Minho duduk di sebelahku, dan aku berusaha cool! Dengan tersenyum menatap kolam renang. Entah siapa yang kuberi senyum di kolam itu.

”Kudengar dari Hyung, kau suka padaku ya?” tanyanya tiba-tiba.

Aku yang asyik tersenyum, langsung menoleh cepat pada Minho. ”Hee? Donghae Sunbae bilang gitu?!”

”Ani,” Minho geleng-geleng sambil tertawa. ”Dia bilang kau kagum padaku… hehehe…”

Donghae Sunbae ini polos atau bodoh, sih?! Gak pernah nyomblangin orang kali ya? Jangan langsung bilang suka, kek… jodohin tuh harusnya ditanya pendapat dulu kesan-kesan, ini langsung bilang aku kagum?! Aaaaaah…

”Oooh…” aku berusaha mengatur ekspresiku. ”Yaaah, kau sendiri kan tahu, kalau aku memilihmu sebagai tipe idealku di beberapa acara. Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman…” aku malah membungkuk.

Minho tertawa, ”Ani, aniya… bukan begitu maksudku… aku malah senang kau kagum padaku, makasih Haejin-ah…”

”Sama-sama…”

Akhirnya aku dan Minho ngobrol-ngobrol berdua, dan Donghae Sunbae tidak pernah kembali, dan membawakanku minuman. Benar-benar terlihat bahwa dia sengaja meninggalkanku dengan Minho, ckckckckck… akhirnya pemotretan berpasangan dimulai. Gain Sunbae – Dongwoon, Lee Joon – Jooyeon Sunbae, dan Jungmin Sunbae – Hara sudah selesai, mereka kemudian beristirahat makan siang.

Dan pemotretan masuk ke YoonA Sunbae, Donghae Sunbae, dan dia… Taecyeon, mereka bertiga diarahkan gayanya, dan mulai difoto. Aku tidak bisa berhenti melihat ke arah situ, dimana pose-posenya semakin lama, terlihat semakin intim, dan chemistry antara Taecyeon – YoonA malah lebih hebat. Aku justru kasihan pada Donghae Sunbae, yang sepertinya jadi orang ketiga disitu. Tapi aku lebih kasihan pada diriku sendiri, harus melihat pemandangan tersebut. Setelah itu, barulah aku, Minho, dan Seulong yang difoto.

Dan Taecyeon pulang terlebih dahulu, bersama YoonA Sunbae.

Aku berusaha profesional, sekuat tenaga, agar aku tidak menangis lagi, dan berhasil! Padahal hatiku sudah sedih bukan main. Aku tahu, rasanya Taecyeon menghindariku. YoonA Sunbae ada jadwal bersama SNSD, dan dia pulang sendiri. Tapi Taecyeon ikut pulang justru menambah daftar kecurigaanku.

Akhirnya setelah selesai pemotretan, tanpa ba bi bu lagi, aku berlari ke kamar mandi, dan menangis lagi disana. Setelah puas menangis, aku keluar sambil menunduk dan terus mengusap mataku, kepalaku mulai pusing. Beginilah kalau kebanyakan menangis, tapi aku sudah menahan tangisku dari tadi.

”Ya ampun, Haejin-ah… kau menangis?”

Aku kaget, dan mendongak. Donghae Sunbae menghampiriku, masih dengan celana renangnya. Wajahnya terlihat prihatin, aduuuuuh… memalukan! Kalau dia bilang pada Minho, tamat riwayatku.

”Aniyo, Sunbae… mataku hanya…”

”Ani, kau menangis.” Katanya yakin sambil melihat mataku. ”Ya ampun, matamu merah sekali… aku juga sering menangis, aku tahu mana orang yang betulan menangis, dan mana yang hanya kelilipan, sudah… jangan bohong.”

Aku hanya diam, dan mencoba tersenyum.

”Kau kenapa?” tanyanya. ”Ah…” dia mengangguk. ”Masalah patah hati itu ya? Tenang saja, aku akan memabantumu kok…”

Baiknya dia… aku menghela napas, Ok Taecyeon… pergilah kau dari hidupku, aku capek seperti ini terus.

To Be Continued

20 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 2~

  1. Pingback: {JinHaeXy} When I Fall ~Part 12~ « JinHaeXy

  2. Ya ampun…
    Abang ikan berasa kek setan disini dech..
    Tau2 nongol aja mana momen dtgnya
    Pas haejin LG kejer….

    Jin-ah,
    Salam bwt seulong n Chansung ya…
    Wkwkwk, lanjutkan PR…
    *siap2 bawain tissu bwt haejin yg demen nangis*

  3. flasback nya kya gtu hubungan haejin ma taecyeon,,,,,,,#manggut”
    aku suka kyorin bijak bener kata”nya,,,,,,
    tp it(nunjuk ats)hae kelewat polos,,hhhhhh
    msa cara nyomblanginnya to the point gt,,,,kwkwkwkwkw#ketawa guling”
    lanjut part 3

  4. Omoooo…Ni ff jalan ceritany mkn kocak aj…Mski dbubuhi adegan mewek2 si haejin…Bkin emosi jiwa dan senyuman menganga muncul bersamaan…Lanjutt ya!!

  5. Haejiiiiiiiin km yg sbar ya hihihihiks, kok smpe sgitunya cnta ama taecyeon . Aaah mau baca mpe last part aja deh ekkekekeke

  6. Astagaa donghae knp malah dikasih tau kalo hyejin suka sama minho? Polos beneran ye haha
    Wah kasian juga ya hyejin , taecyon nya sama yoona-_-
    Tenang2 hyejin-ah donghae bersamamuu hihi

  7. haejin smpe segtunya cinta sm taecyeon.. kasian jg sich apalagi mrk satu management jd ya srg ktmu jg.. donghae oppa blg dia srg nangis jd dia bs ngbedain org yg abis nangis n mn yg ga, fishy oppa kau mmg cengeng =_=..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s