When Sunrise Meet Sunset ~Part 13~

*Di Dalam Sekre*

”Ya, Choi Siwon!” panggil Yoochun.

Ririn melirik saudara kembarnya tajam, pasang kuping, mau apa lagi orang sarap yang satu ini, pikirnya. Kalau sampai dia cari ribut dengan Siwon, nyawamu kucabut sebelum Malaikat Pencabut Nyawa datang.

”Coba kau serut es ini… ajari aku!”

Ririn melongo parah.

”Ah, ye…” Siwon nampak heran dan menyerut es.

Yoochun memperhatikan dengan baik. ”Ah, begitu… terima kasih!” dan Yoochun melanjutkan pekerjaannya.

Nara, Soeyoung, Jinki, Kyuhyun, dan Ririn saling pandang. Siwon menggaruk kepalanya bingung.

Yoochun terus menyerut esnya.

”Sunbae, aku dan Kyunnie kan sudah selesai bekerja, bagaimana kami boleh tidak main komputer?”

==”

”Err, ya baiklah… lihat-lihat memori komputernya ya…” ujar Sungmin.

Nara menarik Kyuhyun menuju komputer di meja Sungmin. ”Hadapi kekalahanmu sekarang!”

”Jangan nangis kalau kalah…”

Soeyoung geleng-geleng sambil membetulkan letak kacamatanya dan terus mengerjakan tugasnya.

”Eh, mana si Bola Bekel?” tanya Yoochun. ”Nggak ada Junsu, mau cari Haejin aja ah… mana dia?”

”Ah, ye… aku belum lihat Haejin saat dia pulang tadi…” kata Nara juga. ”Ya! Cho Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?! Itu curang!”

”Tidak curang! Kau yang meleng…”

”Aku mencari Haejin!”

”Nah salahkan Haejin sana…”

”Apa kau bilang?”

”Salahkan Haejin membuatmu meleng…”

”Ya! Kalian ini berisik sekali berdua… Kyuhyun, lihat itu kau juga kalah karena kau meleng ketika berdebat dengan Nara!” kata Donghae.

”Apa yang kau lakukan? Aku jadi kalah juga kan?!”

Nara berdecak. ”Salahkan Donghae!”

”Donghae dan Haejin kesimpulannya bersalah!” kata Kyu.

Donghae malah tertawa terbahak-bahak. Nara melirik Donghae, ini orang perasaannya sudah membaik? Tanyanya dalam hati. Tapi Nara tersenyum melihat kakaknya itu sudah kembali seperti semula, pria ramah yang murah senyum dibanding dua-tiga hari ini cemberut melulu hanya karena manusia lemot bernama Lee Haejin.

Kali ini Changmin yang gantian dengan Donghae. Moodnya mendadak turun drastis sejak Haejin menghempaskan tangannya dengan kesal tadi siang! Shin Changmin, apa yang kau pikirkan? Tanyanya dalam hati. Kau cuma mau mengganggu Donghae, tapi kenapa kau terganggu saat Haejin meninggalkanmu?

Donghae berdiri, kemudian keluar dari dalam ruangan dengan langkah yang ringan, entah setan apa yang merasuki tubuh Changmin, Changmin berdiri dan mengikutinya keluar.

 

Sementara Itu…

Haejin duduk di taman kampus sendirian, memandang tanpa minat kepada lapangan basket yang terhampar di depannya. Tentu saja lapangan itu kosong, tidak ada yang bermain basket di siang bolong pada saat puasa seperti ini. Lagi-lagi Haejin mengembuskan napas dengan kencang, karena uring-uringan.

Donghae Sunbae yang dingin, Changmin Sunbae yang norak, dan Seulong yang kuliah! Lengkap sudah penderitaan Haejin pada saat ini. Bolak-balik panggilan dari Seulong direject olehnya, karena sedang sebal!

”Katanya mau ke Himti…”

Haejin kaget dan menoleh ke belakang, Donghae dibalik pohon dengan senyum terkembang. Haejin mengernyit menatapnya. ”Sunbae…”

”Boleh duduk?” tanya Donghae sambil terus tersenyum.

Entah sejak kapan wajah Haejin memanas melihat senyum Donghae, buru-buru Haejin memalingkan wajahnya. ”Taman umum, Sunbae boleh duduk… bukan milikku kursinya.”

Donghae duduk di sebelah Haejin. Haejin diam, Donghae juga diam, dua-duanya hanya memandang lapangan basket yang lengang,

”Kok diem sih, tumben…” ujar Donghae.

Haejin cuma senyum, ”Lagi bete aja, Sunbae…”

”Bete kenapa?”

’He’s not superman he must be mama boy…’ Donghae dan Haejin menoleh ke ponsel Haejin yang terletak di atas kursi, diantara mereka berdua. Seulong Calling…

Wajah keduanya berubah.

Haejin buru-buru mengambil ponselnya dan mengangkatnya. ”Apaan?!”

”…”

”Iya!”

”…”

”Iya, bawel!”

”…”

”He-eh…”

”…”

”Udah ah! Lagi belajar juga!”

”…”

”Nggak maraaaaaaaah…”

”…”

Donghae berdiri lagi dengan wajah masam, Haejin mendongak. ”Ya! Aku sedang banyak urusan, nanti kutelepon! Belajar yang benar!” Haejin buru-buru mematikan ponselnya, lalu mendongak. ”Sunbae, gwenchana?”

”Aniya!”

”Wae?”

Donghae menoleh. ”Karena kau!”

”Nega wae?” Haejin berdiri, sekarang keduanya berhadapan. ”Harusnya aku yang bertanya pada Sunbae, Sunbae kenapa memperlakukanku seperti ini tiap hari?! Kadang dingin, kadang hangat… kalau memang aku ada salah, bilang saja padaku!”

”Ya kau bersalah!” kata Donghae tepat di wajah Haejin.

”Salahku apa?!” tanya Haejin tak kalah tinggi.

”Neo… you’re steal my heart!”

”Mworago?!” Haejin terdiam. ”Kamu masih dihatiku?!” Haejin mikir. ”Apaan sih Sunbae?!”

Steal, Haejin! Bukan Still!

Donghae menutup wajahnya dengan tangan. Ya Tuhan, kenapa kau biarkan gadis lemot ini yang mencuri hatiku. *ingin rasanya saya injak si Donghae ini!*

 

*SMA Neul Paran*

”JeSoo-ya… kau kenapa tidak mau keluar?”

”Nggak mau… nggak mau… takuuuut…”

”Takut kenapa?” tanya Hyorin heran.

”Minho…”

Hyorin geleng-geleng. ”Kau dan Minho itu sebentar lagi jadi pasangan, kenapa kau malah takut.”

”Aku belum siap bertemu dengannya sekarang… aku bisa gila… aduuuuh, kau tidak tahu bagaimana wajahku semalam saat dia minta memanggilku JeSoo-ya…” JeSoo menggunakan nada Eunjoo-ya di drama Cinderella Sister..

”Eh, lebai! Lebai!” Hyorin geleng-geleng.

”Betulaaaaaan…”

Hyorin geleng-geleng. ”Jadi nanti malam kau mau kencan dengan Pangeran Kutubmu itu?”

”Ya! Minho bukan beruang…”

”Ara… tapi dia dingin.”

”Ya sudah si Minho dan kau ini nanti malam benar akan berkencan?” tanya Hyorin dengan penasaran.

”Hyorin-ah, kau sudah bertanya lebih dari dua puluh kali…”

Hyorin duduk di depan JeSoo. ”Habis aku penasaran…”

Bel berbunyi, dan JeSoo menghela napas dalam-dalam, ”Aku akan bertemu dengannya pertama kali, hari ini.”

”Aigo…” Hyorin geleng-geleng.

Mereka keluar dari dalam kelas, ketika seseorang berteriak-teriak dari belakang memanggil JeSoo.

”JeSoo! JeSoo!”

Hyorin dan JeSoo menoleh.

Key.

”JeSoo-ya… kudengar kau jualan ya?”

JeSoo mengangguk. ”Ye, kenapa memangnya?”

”Aniya… aku hanya bertanya apakah sepulang jualan kau mau ikut aku ke bioskop?”

Mwo?! Ajakan kencan lagi?

”Mianhaeyo…”

”Ah, kau tidak diperbolehkan pergi, kah?” tanya Key langsung. ”Aku bisa minta izin pada kedua orang tuamu…”

”Aniya, bukan begitu, Key-ssi…”

”Kalau begitu nanti malam jadi!” ujar Key.

”Ya! Kau ini jangan seenaknya memutuskan, JeSoo sudah punya janji dengan orang lain nanti malam!” dan Hyorin membawa pergi JeSoo, nyaris bisa dibilang Hyorin menyeret JeSoo. ”Kau ini! Bisa tidak sih jadi orang tegas sedikit… jawab dengan tegas pada si Key itu, atau imagemu di depan Minho bisa hancur!”

”Aku juga sudah mau menjelaskan, tapi dia nyerocos kayak kereta api, Hyorin-ah…” kata JeSoo.

Hyorin geleng-geleng. ”Ah, itu Pangeran Kutub Selatanmu sudah menunggumu sepertinya…”

JeSoo melihat Minho yang sedang bersandar di depan kelasnya, wajah JeSoo memerah. Hyorin geleng-geleng di sebelahnya, ”Rasanya aku memang harus buru-buru punya pacar.”

”Waeyo?” tanya JeSoo heran.

”Aku tidak tahan melihat pancaran dan radar cinta darimu untuk Minho, aigooooo aku melihatnya saja malu!”

JeSoo malah senyam-senyum.

”JeSoo-ya…” senyum Minho.

Kalau sedang tidak ada orang, JeSoo mungkin sudah menekuk lututnya karena lemas. Aigoooooo Choi Minho, bagaimana mungkin dengan sekali senyuman flaming charisma, aku bisa lemas begini? Pikir JeSoo.

”Kita ke kampus sekarang?” tanya Hyorin, karena JeSoo cuma tersenyum penuh damba memandang Minho.

”Ayo…” Minho menggandeng JeSoo tiba-tiba, sehingga seluruh sekolah yang melihat kejadian itu langsung kasak-kusuk tidak jelas. Hyorin geleng-geleng di belakang mereka berdua.

”Aku harus cari pacar…” gumamnya lagi.

 

*JH Enterpraise*

Berkat bantuan dari Hyukjae, akhirnya Jongwoon dan Haneul berhasil mendapatkan pinjaman modal dari pengusaha-pengusaha dan Bank yang disarankan oleh Hyukjae. Sekarang Jongwoon dan Haneul mendirikan JH Enterpraise, untuk kembali membangun K2 Enterpraise, ini demi Youngwoon dan Kheynie.

Sekarang di kantor JH Enterpraise yang gedungnya terletak di sebelah kantor  konsultan milik Hyukjae, Jongwoon dan Haneul sedang membicarakan proyek penegakan hukum dengan Hyukjae.

”Kalau begitu nanti akan kukenalkan pada temanku yang merupakan pengacara sekaligus biro detektif handal…” ujar Hyukjae.

”Kamsahamnida, Hyukjae-ssi, Anda benar-benar membantu kami…” Jongwoon benar-benar berterimakasih.

”Aku juga merasa bersalah karena telah membantu perusahaan itu tanpa aku tahu masalah sebenarnya.” Ujar Hyukjae.

”Itu bukan salahmu, Hyukjae-ssi…”

Hyukjae menghela napas. ”Baiklah kalau begitu kita bicarakan langkah selanjutnya saja. Kalian berdua mengurus dokumen yang tadi aku beritahukan, dan aku akan segera mengkonsultasikannya kepada temanku yang pengacara itu.”

Telepon berdering, Haneul segera mengangkatnya. ”Ya?”

”Sajangnim, ada tamu dari Badan Pemeriksa Keuangan…”

”Oh? Errr… ya suruh tunggu sebentar…” Haneul memutuskan sambungan. ”Yeobo, ada tamu dari Badan Pemeriksa Keuangan.”

”Eh? Kita kan perusahaan baru?” tanya Jongwoon heran.

”Kurasa mereka tahu kalau kalian adalah pecahan dari K2 Enterpraise…” jawab Hyukjae.

Haneul mengangguk. ”Itu masuk akal…”

”Ya sudah persilakan dia masuk, Hyukjae-ssi, Anda tidak keberatan disini dan ikut memberi keterangan jika diperlukan, kan?” tanya Jongwoon sementara Haneul keluar ruangan.

Hyukjae mengangguk. ”Keureom…”

Tak lama kemudian Haneul kembali dengan seorang pria. Pria itu kemudian menjabat tangan Hyukjae dan Jongwoon, Jongwoon mempersilakan pria itu duduk di ruang rapat yang tidak terlalu luas tersebut.

”Ada yang bisa kami bantu?” tanya Jongwoon ramah.

”Begini… saya Choi Heechul, dari Badan Pemeriksa Keuangan… saya kesini bukan untuk menyelidiki perusahaan baru ini, melainkan ingin menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan K2 Enterpraise. Anda berdua adalah Kim Jongwoon-ssi dan Kim Haneul-ssi bukan?”

Jongwoon dan Haneul mengangguk.

”Ada yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan ini…” Heechul mengeluarkan sebuah surat.

Jongwoon dan Hyukjae membacanya.

Tuhan sepertinya memberi jalan kepada Jongwoon dan Haneul untuk segera membuka kebusukan dari Cho Corp dan Shin Corp.

 

*K2 Enterpraise*

”Kita mau ambil proyek perhotelan, Sajangnim?”

”Ne…”

”Tapi, Sajangnim, kita kan bergerak di bidang konstruksi…”

Yunho memandang sekertarisnya dengan garang. ”Kalau aku mau menjadi bidang pariwisata kenapa?! Memangnya ini perusahanmu?! K2 Enterpraise sekarang sudah menjadi milikku! Jangan nasihati aku seolah-olah kaulah pemiliknya…”

Sekertaris itu mengkeret. ”Algessimnida, Sajangnim.”

”Aduuuh, mengurus dua perusahaan sekaligus memang tidak gampang…” gumam Yunho. ”Aku harus berkonsentrasi untuk menghancurkan Kim Corp, tapi bisa mengabaikan Cho Corp juga…” Yunho akhirnya duduk di kursi Direkturnya. ”Kurasa sudah waktunya, Cho Kyuhyun yang pegang kendali.”

 

*Taman Kampus*

Changmin diam terpaku mendengarkan setiap bait yang Donghae katakan kepada gadis di hadapannya. You’re steal my heart… seharusnya dia senang karena akhirnya rencananya berhasil. Donghae akhirnya mengakui perasaannya juga kepada Haejin, tapi… disisi lain, hatinya ingin berontak. Dia tidak rela… omona, apa yang terjadi pada dirinya?!

Changmin berbalik dan pergi dari pemandangan yang menurutnya sangat menyakitkan tersebut. Selama ini, Changmin memang tergolong lebih dekat lebih dahulu kepada Haejin dibandingkan Donghae, karena Changmin sering menginap di rumah Sungmin. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kedekatakannya dengan Haejin yang awalnya diartikannya sebagai rasa sayang kakak kepada adiknya sekarang berubah.

Sementara Haejin masih menunggu penjelasan dari kata still itu, dan Donghae sudah mau mati frustasi karena Haejin lola banget.

”Sunbae… masih apa?” tanya Haejin heran.

”Ya! Kau mau aku tidak marah lagi padamu, kan?!” tanya Donghae.

Haejin mengangguk.

”Jangan dekat-dekat pria lain!”

Haejin mengernyit. ”Waeyo? Memangnya kenapa tidak boleh? Sungmin Oppa, Appaku… Yoochun, Junsu, Jinki, Siwon…”

”Selain mereka tidak boleh! Terutama Changmin dan si Im Seulong itu!”

”Waeyo?!” tanya Haejin lagi.

”Karena aku cemburu…”

”Eh?!” Haejin terperangah, otaknya mulai menyusun kata-kata dan tindakan-tindakan Donghae selama ini. Lalu dia menarik jarinya yang dibalut oleh plester chibi Chansung 2PM, dan memerhatikannya, lalu mendongak kepada Donghae, yang buru-buru memalingkan wajahnya karena memerah.

Haejin tersenyum. ”Sunbae…”

”Panggil aku Oppa!”

”Oppa…”

 

Sorenya…

”Oke, sekarang kita berangkat jualan.” Kata Sungmin setelah dia dan Soeyoung telah selesai menghitung seluruh patbingsoo yang berhasil dibuat pada hari ini.

Nara memerhatikan Donghae dan Haejin terus dari tadi ketika keduanya kembali ke dalam sekre Himahi. Keduanya nampak ’berbeda’ mungkin hanya dia yang menyadarinya. Dua-duanya sama sekali tidak bicara satu sama lain, tapi dua-duanya juga senyum melulu.

Apa yang terjadi di luar sana? Pikir Nara geleng-geleng.

Mereka semua tiba di tempat jualan, seperti biasa Sungmin yang membagi-bagi kelompok jualan, dan Donghae duluan minta pada Sungmin untuk bersama dengan Haejin dan Jinki sebelum Sungmin menyarankan Changmin. Akhirnya mereka bertiga jalan untuk berjualan.

”Kyunnie… ada yang gak beres dengan Haejin dan Donghae…” kata Nara menatap keduanya curiga dari jauh.

Kyuhyun yang sedang mengangsurkan segelas patbingsoo kepada pembeli di jalan raya, kemudian menoleh. ”Apanya yang nggak beres? Kamsahamnida…” Kyuhyun membungkuk pada pembeli.

”Entahlah, ada yang tidak beres saja…”

”Apa sih?” tanya Kyu tidak mengerti dengan ucapan Nara.

Nara kemudian menarik kerah Kyu. ”Ayo kita jualan sedikit mendekat kepada mereka…”

”Eh?!” Kyu cuma menurut sambil membawa nampan berisi patbingsoo, sementara Nara membantunya menyebrang, karena tangan Nara yang bebas.

Tanpa disadari ada seseorang dari dalam mobil mewah yang sedang terjebak padatnya lalulintas disitu yang memerhatikan keduanya menyebrang jalan berdua. Ya, ayah Kyuhyun melihatnya.

 

*Shin Corp*

”Begitu, Sajangnim…”

Shindong mengangguk. ”Baiklah, laporkan terus jika ada perkembangan… kau boleh pergi.” Sahut Shindong dingin.

Tangan kanan Shindong tersebut keluar dari dalam ruangan. Shindong mengatupkan kedua tangannya. ”Badan Pemeriksa Keuangan curiga… astaga, padahal Yunho bermain sangat bersih. Park Jungsoo dan Choi Heechul memang hebat! Aku harus melakukan sesuatu…”

Shindong kemudian meraih kertas laporannya lagi. ”Biar dua orang itu menjalankan tugasnya dengan baik… tapi jika aku melakukan hal itu…” rencana sudah tergambar jelas di kepala Shindong. ”Kecurigaan akan beralih pada Lee Hyukjae. Ah benar… aku harus melakukan rencana ini!”

 

*Basecamp Jualan*

Adzan Maghrib sudah terdengar, seperti biasa Sungmin mulai patroli, lebih tepatnya berteriak-teriak layaknya tukang ikan, untuk memanggil anak-anak buahnya agar kembali ke basecamp karena sudah waktunya berbuka puasa.

Sungmin memicingkan matanya terbelalak melihat Minho menggandeng JeSoo, dan di sebrangnya Donghae menggandeng Haejin. Posisi kedua pasangan tersebut, sama sekali tidak terlihat canggung!

”Wah! Parah…” Sungmin geleng-geleng.

Setelah mereka berbuka bersama dan membereskan barang-barang untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.

”Oppa… aku pergi ya?” pamit JeSoo.

”Hati-hati…” sahut Haejin girang sambil memeluk adiknya. ”Aigooo… enaknya yang jalan-jalan.”

JeSoo nyengir, wajahnya bersemu merah. ”Daaah Onnie… dah Oppa…”

Minho menghampiri Sungmin dan membungkuk. ”Hyungnim, aku minta izin mengajak jalan adik Hyungnim… Noonim juga…”

”Silakan, silakan…” Haejin mengangguk. ”Jaga baik-baik ya…”

Minho mengangguk. ”Hyorin-ssi, aku pinjam sahabatmu ya…”

Hyorin terkekeh. ”Bawa aja jauh-jauh…”

Minho kemudian menggandeng JeSoo dan membawanya masuk ke dalam mobil. Rasa-rasanya seperti melihat ada kaleng-kaleng di belakang mobil dan tulisan Just Married.

Minho dan JeSoo tiba di Lotte Department Store, setelah memarkirkan mobilnya, Minho menggandeng JeSoo naik menuju bioskop. Mereka berdua melihat-lihat film yang sedang diputar.

”Mau nonton film apa?” tanya Minho pada JeSoo.

JeSoo memandang film-film yang diputar. ”Aduuuh, Minho-ya… aku bingung… filmnya banyak.”

Minho juga memandang film-film tersebut dan memilih-milih. ”Hmm… kalau kita nonton Street Dance gimana?”

JeSoo menoleh pada Minho. ”Yee? Namja mau nonton film itu?”

”Bukannya yeoja suka film itu?”

Keduanya saling pandang dan tertawa bersamaan. Mereka ternyata mencari film yang mereka kira akan disukai laki-laki, atau perempuan.

”Sudah, tak usah pikirkan aku… kau mau nonton apa?” tanya Minho.

”Ani, kau saja yang pilih…”

”Ani… kau saja…”

Minho senyum. ”Ya udah Toy Story aja…”

”Oke!”

Sekarang keduanya sudah duduk di dalam kursi bioskop, JeSoo menonton film dengan senang, karena ceritanya lucu. Tapi tak dipungkiri perut JeSoo lapar, karena pulang jualan mereka langsung pergi nonton.

Tiba-tiba saja Minho menyorongkan nachos ke hadapannya. ”Makanlah, aku tahu kau lapar…” senyumnya.

 

*Basecamp Jualan*

”Aku pulang duluan! Heh, Siwon… antar Ririn pulang!”

Ririn dan Siwon saling pandang, ada apa dengan Yoochun? Tumben sekali menyuruh Siwon mengantarkan Ririn pulang.

”Ya, Micky… what’s wrong with you? You’re not sick, right?”

”Eh, Minnie… diam saja!” lalu Yoochun berlalu. Ternyata Yoochun malam hari ini memiliki jadwal kemoterapi dengan dokternya di rumah sakit internasional Seoul.

Siwon mengantarkan Ririn sampai di depan rumahnya. ”Jagiya… sepertinya Yoochun berubah, ya?”

Ririn mengangguk. ”Aku jadi khawatir…”

”Ya sudahlah, tunggu waktu Yoochun bercerita kepadamu oke?” Siwon membelai kepala Ririn.

Ririn mengangguk.

”Ya sudah, jangan tidur malam-malam ya, Jagiya…”

”Oke…” Ririn menoleh dulu dan senyum-senyum.

Siwon menghela napas. ”Yaah untung sudah buka puasa…” dan Siwon mendekatkan wajahnya pada Ririn dan mengecup bibirnya pelan, dan mengulumnya, lalu dia melepaskan diri.

”Gomawo, Jagi… dadah… saranghae!” Ririn mencelat keluar dari mobil.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

”Junsu-ssi… hasil pemeriksaan ginjal Yoonrae Agesshi sudah bisa diambil di ruang dokter…”

Junsu mengangguk, dan menutup kembali telepon dari suster. Junsu menoleh menatap Yoonrae yang matanya sudah terbuka lemah, Junsu menggenggam tangannya.

”Aku ambil tes dulu ya…” kata Junsu.

Yoonrae mengangguk.

Junsu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan keluar menuju ruang praktek dokter. Namun matanya menangkap sosok pria yang dikenalnya, memasuki ruangan kemoterapi.

”Yoochun?”

Bersambung

 

Yap! Mudah-mudahan tidak mengecewakan, hohoho… kritik, saran, dan pesan saya tunggu. Udah mulai mau episode-episode pamungkas… Mohon doanya untuk menyelesaikannya tepat waktu!

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Sirega

Twitter : @nisya910716

YM : nisya_siregar

One thought on “When Sunrise Meet Sunset ~Part 13~

  1. annyiong-haseo……
    Q penggemar cerita onni lho, q da baca sampai akhir dan q tersentuh, pa lagi sama kisahnya micky and alice
    btw, kapan buat cerita yang lain,q dan teman-teman tunggu lho, onnie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s