When Sunrise Meet Sunset ~Part 12~

”Nonton?” ulang JeSoo.

”Ne…” sahut Minho. ”Berdua…”

JeSoo cuma bisa melongo.

”JeSoo-ssi? Aaah ani, JeSoo-ya?”

”Ah, yeee…”

”Bagaimana?”

”>///////<”

”JeSoo-ya? Kau tidak mau ya?” nada suara Minho terdengar agak kecewa.

”Ani, ani, ani… bukan begitu, aku akan bilang pada kedua orang tuaku, nanti kalau aku dapat izin, akan kukabari kau.”

”Kau mau aku yang minta izin pada orangtuamu?”

”He???”

”Atau pada Sungmin Hyung dan Haejin Noona?” (Minho, gue seumuran sama lo! Jangan panggil gue Noona‼!”)

”Aaah tidak usah Minho-ya, mereka pasti mengizinkan kok.”

”Kalau begitu besok jadi… sekarang tidurlah, biar tidak susah bangun sahur… jaljayo…”

JeSoo siap mati saat itu juga.

*Rumah Keluarga Kim*

”Yoonrae masuk rumah sakit, karena dia bekerja terlalu keras…” Jaejoong mondar-mandir di depan ketiga anaknya. Jonghyun, Key, dan Ryeowook. ”Apa kalian yang memintanya bekerja?”

”Aniyo, Appa…” Wookie geleng-geleng.

Jaejoong mengangguk. ”Kalau kau dan Junsu, Appa percaya. Tapi Jonghyun dan Kibum, Appa tidak percaya!”

”Appa!” protes keduanya.

”Yoonrae itu perempuan, dan dia sekarang malah terkena gagal ginjal! Itu semua karena kalian tidak mau menganggapnya sebagai saudara kalian sendiri!” bentak Jaejoong.

”Dia memang bukan saudaraku!” bantah Key.

Jaejoong menampar wajah Key keras. ”Bilang lagi dia bukan saudaramu, dan kau bukan Appa!”

”Appa!” Jonghyun terperangah.

Key berdiri. ”Kenapa Appa lebih sayang pada Yoonrae daripada kami? Anak Appa itu Junsu Hyung, Jonghyun Hyung, aku dan Wookie!”

”Sejak Appa menikah dengan Miyoung, Yoonrae juga anak Appa!”

”Hyung, sudahlah…” Wookie menarik Key.

Jaejoong menatap kedua anaknya tegas. ”Kalau kalian tidak bisa menganggap Yoonrae sebagai saudara kandung kalian sendiri! Berarti kalian tidak menganggap Appa sebagai Appa kalian.”

Jaejoong masuk ke dalam kamar, Key dan Jonghyun nampak kesal sekali. Wookie hanya terdiam.

”Junsu Hyung, Appa, dan kau!” Jonghyun melirik sinis ke Wookie. ”Kalian bertiga diguna-guna ya sama Yoonrae dan ibunya itu?!”

”Hyung… Yoonrae sama sekali tidak salah apa-apa, memang kelewatan kalau terus memperlakukan Yoonrae seperti itu!”

”Cih! Kau membelanya, dibanding Hyungmu yang barusan ditampar oleh Appa?!” bentak Key.

”Tapi Appa benar, Hyung…”

”Sudahlah, Wookie, tutup mulutmu!” Jonghyun pergi ke kamarnya, Key juga menyusul.

Wookie menghela napas. ”Kapan keluargaku damai seperti dulu?”

Miyoung mendengar ucapan Wookie dan langsung merasa bersalah, kemudian dia menghela napas dalam-dalam. Tepat ketika ponselnya bergetar, Miyoung melihat nama yang tertera di ponsel, dan kaget, dia buru-buru ke halaman belakang rumah keluarga Kim yang luas.

”Mau apa kau?!” desis Miyoung.

”Yeobo… kenapa kau galak sekali?” tanya Yunho terbahak.

”Apa yang kau inginkan?! Jaejoong dan anak-anaknya ada di rumah pada saat ini! Jangan hubungi aku!”

”Yeobo… Cho Corp sudah berdiri lagi.”

Miyoung terperangah. ”Mwoyaaaa?”

”Cho Corp sudah berdiri lagi… seperti yang aku bilang dan aku janjikan padamu, Cho Corp sudah berdiri kembali. K2 Enterpraise sudah hancur terima kasih pada suamimu…” Yunho tertawa iblis.

Miyoung ternganga. ”Kau selama ini menyuruhku untuk membujuk Jaejoong untuk menghancurkan perusahaan orang lain?!” lengking Miyoung.

”Aish Miyoung… kau jangan pura-pura lah… bagaimana kalau Jaejoong tahu bahwa kau sebetulnya belum resmi bercerai denganku?!”

”Ya! Kau yang meninggalkanku! Kau yang berselingkuh! Kukira kau sudah mati, dan kita sudah pernah membahas hal ini sebelumnya, Yunho!”

Yunho tertawa. ”Kalau kau tidak mau kembali, aku punya hadiah kecil untukmu…”

”Jangan mengancamku, atau kuadukan semua perbuatanmu!” jerit Miyoung.

”Aigooo, jangan kau kira kau dalam posisi menguntungkan dengan mengancamku, Yeobo…” dan Yunho memutuskan sambungan telepon. Miyoung gemetaran dari ujung rambut hingga kaki, dan hampir menangis.

*Rumah Keluarga Lee*

Nara memerhatikan kakak-beradik Haejin-JeSoo yang nampak sangat bersemangat. Haejin memeluk JeSoo di ruang tengah, sementara Sungmin tak henti-hentinya bertanya, karena penasaran.

”Oppa kalah… weeee…” Haejin dan JeSoo memeletkan lidahnya pada Sungmin.

Sungmin geleng-geleng. ”Jadi besok kau mau kencan? Aigoooo… Oppa saja belum pernah kencan.”

”Kasiaaaaan deh, Oppa…”

”Keurom… aku besok harus pakai baju apa?” tanya JeSoo pada Haejin.

Haejin kemudian memberikan saran-saran, yang agak kurang masuk akal kepada JeSoo, Nara bisa memutuskan bahwa Haejin memang belum pernah berkencan, karena Sungmin selalu mengomelinya karena nasihatnya yang sangat tidak masuk akal.

Malam semakin larut, kedua orang tua Haejin, beserta Sungmin, JeSoo, dan Nara sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Donghae memang tidak keluar kamar semenjak pulang jualan tadi, sedangkan Haejin seperti biasa duduk di tempat favoritnya di halaman belakang. Menatap kolam renang yang sepi, ditemani langit malam dan lampu-lampu taman belakang.

Haejin duduk menyilakan kakinya di atas kursi malas yang biasa ada di pinggir kolam renang, dia memandang langit, kemudian menaikkan kakinya, sehingga dia bisa memeluk kakinya, dan membaringkan kepalanya di atas lututnya, tak lama kemudian, Haejin memejamkan matanya.

Donghae yang merasa rumah sudah sepi, keluar dari kamarnya, perlahan-lahan turun ke bawah mengambil segelas air, tapi begitu tiba di dapur, dia melihat pintu halaman belakang yang masih terbuka, setelah meminum air putih, Donghae kembali meletakkan gelasnya di atas konter, dan berjalan menuju halaman belakang, dia melihat Haejin yang sedang tidur dalam posisi memeluk lutut. Donghae menghampirinya dan menyentuh bahunya.

”Haejin-ah… ireona…”

Haejin masih saja diam.

”Haejin-ah, ireona, kau tidak pegal tidur seperti itu… ayo bangun! Pindah ke kamarmu sana…”

Haejin masih saja nampak pulas meski dengan posisi tidur menyakitkan.

”Ya‼!” Donghae mengeraskan suaranya, dan menepuk bahu Haejin semakin keras. ”Haejin-ah!”

Haejin akhirnya tersentak, dan nampak kaget. ”Ah, Sunbae…” Haejin berdiri dan menggaruk-garuk kepalanya.

”Kenapa kau tidur disitu?” tanya Donghae pelan, masih agak dingin, dan masih enggan menatap wajah Haejin.

”Aku terbiasa disini…” sahut Haejin.

”Pindahlah, nanti badanmu bisa sakit… nanti… nanti kau… masuk angin…” ucap Donghae susah payah.

Haejin mengangguk, merasa agak canggung. Donghae berbalik dan hendak meninggalkan Haejin, Haejin nampak kecewa. Sebenarnya apa salahnya sehingga Donghae agak dingin hari ini? Akhirnya Haejin naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Nara.

”Nara-ya… kau masih bangun?”

Nara membuka pintunya, sudah memakai kaus dan celana piyama. ”Oh, Haejin-ah… masih… ada apa?”

”Boleh aku masuk?”

”Keurom…” Nara melebarkan pintunya. Haejin masuk dan Nara kembali menutup pintunya. Haejin duduk di kasur Nara, Nara juga duduk di sebelahnya. ”Ada apa? Kau terlihat cemas?”

”Ani…” Haejin menggaruk kepalanya, dan menatap Nara. ”Nara-ya… apa aku berbuat salah?”

Nara mengernyit. ”Salah? Salah apa?”

”Apa saja… aku sendiri juga tidak tahu…” sahut Haejin pelan. ”Tapi, Donghae Sunbae… nampak marah padaku. Apa aku membuat kesalahan? Dia kan Oppamu… mungkin kau tahu, aku berbuat salah apa padanya…”

Nara berusaha sekuat tenaga menahan tawanya.

”Apa aku menyinggungnya ya?”

Nara terkekeh. ”Memang dia ngapain?”

”Dia kayaknya marah padaku…”

”Menurutmu kau punya salah tidak?”

Haejin nampak berpikir, kalau diingat-ingat dia merasa tidak melakukan apa pun yang merugikan Donghae. ”Eobseo… tapi aku kan manusia juga, Nara-ya, mungkin saja aku berbuat salah dan aku tidak menyadarinya kalau itu kesalahan.”

”Nah itu kau tau!”

”Eh?!” mata Haejin membulat. ”Jinjayo? Aku berbuat salah?”

”Molla… menurutku sih kau tidak bersalah, kau cuma oknum yang tidak sadar saja… tapi kalau bagi Hae, yang kau lakukan kesalahan!”

”Apa? Apa? Nara-ya, beritahu aku…” Haejin mengguncang-guncang tubuh Nara.

Nara menjitak kepala Haejin. ”Aku sudah bilang padamu tadi… kalau kau memang sudah tidak luka, lepaskan plester itu… jangan kau biarkan terus melingkarimu, tanpa kau pedulikan kegunaannya.” Nara menekankan kata-kata tertentu.

Tapi sepertinya Haejin terlalu bodoh untuk mengerti. ”Aaah, jadi Hae Sunbae marah karena plester ini?! Aigooo, aku suka Chansung 2PM, makanya masih kupakai.”

Nara sudah tidak tahu lagi harus menjelaskannya bagaimana.

 

*Esoknya, K2 Enterpraise*

”Hyung…”

”Ne, Yunho-ya?”

”Aku mau menjalankan misiku selanjutnya…” kata Yunho sambil memandang ke arah jendela.

”Kim Corporation…” Shindong mengangguk. ”Jalankanlah…”

Yunho berbalik. ”Kali ini sepertinya tidak akan mudah, Hyung… dia lebih besar dari K2 Enterpraise. Kita nggak bisa main serang secara gamblang, harus pelan, licin, dan yang pasti tidak terdeteksi…”

”Ya kau benar…” ujar Shindong. ”Menyerang Kim Corporation tidak akan semudah menyerang K2 Enterpraise. Tapi, aku penasaran… sebetulnya ada dendam apa anatara kalian?”

Yunho tertawa. ”Harta. Tahta. Wanita.”

 

*Kampus*

Sungmin memarkirkan mobilnya di depan ruang sidang, tempat favoritnya untuk parkir. Haejin, Nara, dan Donghae kemudian keluar dari dalam mobilnya. Tepat ketika sedan milik Changmin tiba di sebelah mereka.

”Hai!” Changmin tersenyum cerah menyapa semuanya.

Sungmin tersenyum.

Nara melirik Donghae yang nampak cuek. Haejin yang cengar-cengir saja, dia memang tidak bisa membedakan apa-apa. Changmin berbincang riang dengan Sungmin dan Haejin, kemudian Haejin dan Nara langsung ke kelas. Nara agak heran pada Haejin yang biasanya setiap pagi akan nangkring di Himti.

”Kau tidak ke Himti, Haejin-ah?”

Haejin menggeleng. ”Keperluanku disana sudah selesai, he he he…” Haejin tersenyum.

”Jadi apa yang kau lakukan disana dengan pria bernama Im Seulong itu?”

”Ada urusan saja…” sahut Haejin riang. ”Lagipula kenapa sih kau ini? Penasaran sekali…”

”Halo gadis-gadis…” Yoochun muncul dengan langkah ringan, dan nampak bersemangat sekali, sementara dibelakangnya Ririn geleng-geleng mengikuti langkah Yoochun.

Nara dan Haejin cuma senyum.

Kemudian Yoochun merangkul Nara dan Haejin bareng dan meninggalkan Ririn di belakang sendirian. Tepat, ketika Siwon muncul, berbisik dibelakang telinga Ririn. ”Baby… Baby… Baby… Oh…”

”Jagiya…” Ririn kaget dan menoleh, tersenyum.

Siwon melirik Yoochun yang merangkung Nara dan Haejin memasuki kelas, dan menatap Ririn. ”Bagaimana? Kau sudah bertanya pada Yoochun apa yang terjadi kepadanya?”

”Belum…” Ririn menghela napas. ”Dia tetap sarap seperti biasa, Siwon-ah… aku sampai bingung sebetulnya dia itu sakit betulan atau tidak. Kurasa dia hanya menutupinya. Tapi Eomma dan Appa juga biasa-biasa saja, sih…”

Setelah selesai kuliah, seperti biasa mereka semua berkumpul di sekre Himahi, untuk menyiapkan bahan-bahan patbingsoo.

”Ya, karena sudah terjadi cinta lokasi antara tukang beli bahan-bahan,” kata Sungmin pada seisi Sekre. ”Maka tugas pembelian aku alihkan, Nara-ya, kau dan Kyuhyunnie yang akan berbelanja.”

”Na?” Nara menunjuk dirinya.

Haejin menatap tajam Oppanya. ”Oppa ini! Kenapa sih Oppa senang sekali menyebarkan gosip?”

Changmin senyum-senyum di sebelah Sungmin. Kibum geleng-geleng, dan Donghae jauh lebih pendiam daripada biasanya.

”Ya sudah, ayo Nara, kita ke supermarket…” ajak Kyu mendahului Nara, Nara keluar dari dalam ruangan mengikuti Kyu. Kyu mengendarai mobilnya menuju supermarket, yang terletak di pusat kota, setelah keduanya turun dan mengambil troli, Nara mulai memilih-milih bahan-bahan yang biasa dipakai untuk membuat patbingsoo, bersama Kyu yang mengekorinya.

Nara tiba-tiba saja berhenti di rak penuh kaset game. Kyuhyun yang masih melihat-lihat rak sebelumnya memerhatikan pandangan Nara, Nara kemudian menghela napas dan melewati rak itu begitu saja.

”Beli saja…” kata Kyu pelan.

Nara menoleh, dan tersenyum. ”Kau kira aku punya uang darimana, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun langsung terdiam. ”Mianhae…”

”Gwenchana…” Nara terus berjalan, tapi Kyuhyun terus menatap kaset-kaset game itu, dan mengambilnya. Satu rencana muncul di kepalanya.

Setelah selesai berbelanja, Nara mendekati kasir, diikuti Kyuhyun. Kasir menghitung jumlah belanjaannya. ”Jumlah totalnya lima puluh ribu, dan Ageshi berhak mendapatkan satu set video game ini.”

”Jinja?!” mata Nara membulat kaget.

Kasir itu tersenyum. ”Ne… sedang ada promosi kaset game, Ageshi…”

”Ah, kamsahamnida…” Nara nyaris menangis saking terharunya, kemudian dia membawa belanjaannya dengan riang. Kyuhyun dibelakangnya tersenyum dan mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar kaset tadi.

Di dalam mobil Kyuhyun sendiri tidak bisa menahan senyumnya melihat Nara yang girang sekali mendapatkan rejeki dadakan. Ya, bagi Nara, kaset game gratis disaat-saat dia sedang krisis begini bagaikan hujan uang.

”Kyuhyunnie… kita dapat hadiah, kau mau juga?” tawarnya pada Kyu.

Kyu menggeleng. ”Ani… aku sudah ada.”

Nara tersenyum. ”Untunglah hari ini aku dan kau yang disuruh berbelanja, jadinya aku dapat kaset game. Hehehehe… eh, Kyunnie… kita masih belum selesai bertanding ya?”

”Oke…” sahut Kyu. ”Siapa takut?”

*Lee Counsultant Office*

”Lee Sajangnim, ada tamu untuk Anda…”

”Persilakan masuk,” sahut Hyukjae sambil merapikan dasinya. Begitu pintu terbuka betapa terkejutnya dia bahwa yang masuk adalah Shindong dan Yunho. Hyukjae berusaha menyembunyikan raut wajahnya, dan tetap tersenyum. ”Selamat datang, Tuan Shin… Tuan Cho… silakan duduk.”

Shindong dan Yunho duduk di hadapan Hyukjae.

”Ada yang bisa saya bantu?” tanya Hyukjae lagi.

Shindong tersenyum. ”Sebetulnya kami punya tender baru lagi untuk di menangkan, dan berkat bantuan Hyukjae Sajangnim, tender kemarin berhasil kami menangkan.”

”Ah, kamsahamnida…” Hyukjae membungkuk. ”Tender apa lagi?”

”Sekarang kami mau mencoba sektor bisnis perhotelan dan pariwisata…”

”Yee… dan saingan kami sekarang adalah Kim Corp, Sajangnim…” kata Yunho pada Hyukjae.

Hyukjae menganggukkan kepalanya dan mulai memeriksa berkas yang dibawa oleh Shindong dan Yunho. Kemudian Shindong dan Yunho pergi dari kantornya, Hyukjae segera menghubungi Haneul dan Jongwoon.

Kim Corp dalam bahaya.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

”Junsu-ya…”

Junsu terbangun dari tidurnya di samping tempat tidur rawat Yoonrae, Miyoung membangunkannya. ”Ah, Ahjumma… kau sudah datang?”

”Junsu-ya, kau pasti lelah… sudah, kau pulang saja, biar Ahjumma yang menjaga Yoonrae.” Miyoung tersenyum pada Junsu. ”Kau sampai tidak kuliah… Ahjumma tidak mau merepotkanmu…”

”Gwenchana, Ahjumma…”

Miyoung melihat Yoonrae yang masih tertidur, napas Yoonrae masih dibantu oleh selang oksigen. Miyoung sedih sekali melihat keadaan Yoonrae yang seperti ini. Dia terpaksa bekerja karena ingin mengurangi beban Miyoung.

”Keadaannya mulai membaik, Ahjumma…” kata Junsu membaca kekhawatiran di wajah Miyoung.

”Kau baik sekali, Junsu-ya…”

”Aniya, Ahjumma… Yoonrae…” tapi Junsu bingung hendak menjawab apa, karena Miyoung hanya tersenyum. Dan Junsu juga bingung hendak menjelaskan perkara kisahnya dengan Yoonrae.

Junsu menatap Yoonrae lagi, tapi kemudian pintu kamar rawat terbuka dan masuklah seorang dokter.

”Orang tua pasien?” tanyanya.

”Ya, Dokter…” sahut Miyoung menghampiri dokter tersebut.

”Dengan berat hati kami ingin mengabarkan, bahwa hasil pemeriksaan terhadap ginjal Yoonrae positif. Yoonrae Ageshi harus segera diangkat ginjalnya…”

Miyoung langsung menunduk dan menangis.

”Sebaiknya segera mencari donor ginjal untuk menyelamatkan hidupnya…” tambah dokter itu lagi.

”Ambil saja ginjal saya, Dok…” Miyoung nyaris histeris menunjuk dirinya sendiri.

Dokter itu tersenyum. ”Kami akan melakukan pemeriksaan ginjal untuk Nyonya kalau begitu, berdoa saja semoga ginjal Nyonya cocok untuk anak Nyonya. Dan Tuan, apakah Tuan juga bersedia?”

”Aniya… tidak usah, jangan Junsu…” Miyoung menggeleng.

Junsu masih diam dan shock, dia  menoleh pada Yoonrae yang terbaring diam tanpa mengetahui apa yang sedang berlangsung sekarang ini. Dia cuma bisa berdoa di dalam hati agar gadis yang paling dicintainya saat ini dapat terselamatkan, bagaimanapun caranya.

*Sekretariat Himahi*

Changmin tersenyum puas melihat perubahan sikap Donghae hari ini, dia tau Donghae itu bom waktu, lambat laun kalau Changmin terus mempermainkannya seperti ini, Donghae pasti meledak.

Sementara Donghae, seperti menyimpan bara dalam sekam, dia mau marah, tapi dia bukan siapa-siapa, dan tidak tahu menahu soal perasaan apa. Protektif sebagai Oppa sajakah, atau seperti yang Nara selalu bilang, kalau Donghae mulai jatuh cinta hanya karena sedikit kesan. Ya, kalau mengobati luka Haejin bisa dibilang suatu kesan.

Donghae akhirnya agak menghindari Haejin, ketika Haejin mendekatinya, meski maksud Haejin mau menghampiri Sungmin yang kebetulan sedang ngobrol dengan Donghae, Donghae langsung pergi dan memilih ngobrol dengan orang lain. Haejin melirik Donghae dan merasa semakin bersalah, padahal dia tidak tahu apa salah dia sama sekali.

Akhirnya Haejin murung, dan duduk di sudut ruangan sendirian. Changmin geleng-geleng, kemudian memutuskan keluar dan menemui Donghae yang untuk kesekian kalianya kabur dari Haejin yang berusaha mengajaknya bicara. Diluar, Changmin melihat Donghae duduk di kursi panjang yang terletak di taman depan ruang sekre, diam memandang semak bunga yang berderet rapi di hadapannya.

Changmin menghampirinya, dan duduk di sebelahnya, awalnya Donghae kaget, tapi kemudian diam lagi.

”Kau kenapa?” tanya Changmin sambil menepuk bahu Donghae.

Donghae menoleh dan mengernyit. “Apanya?”

”Kau kelihatan sedang tidak dalam mood yang baik…” ujar Changmin santai. ”Kau tidak pernah begini lho sebelumnya.”

”Gwenchana, hanya banyak yang kupikirkan…” sahut Donghae datar.

”Hmm… kau marah pada Haejin ya?”

Donghae menoleh kaget. ”Aniyo!” sangkalnya cepat.

Changmin mengangkat alisnya. ”Keurae?” tanya Changmin dengan tampang tidak percaya. ”Kalau begitu syukurlah, aku tidak mau gadis yang kusukai bingung karena orang yang tidak jelas menyuekinya… aku ke dalam ya…” Changmin berdiri dengan puas.

”Ya!” panggil Donghae.

Changmin menoleh.

”Neo…”

Changmin memandang Donghae, menunggu Donghae melanjutkan kata-katanya. Changmin mengangkat alisnya. ”Aku kenapa?”

Donghae menggeleng. ”Ani, tidak jadi…” Donghae diam lagi. Pintu ruangan sekretariat terbuka, Sungmin dan Haejin muncul.

”Ah kalian disini…” kata Sungmin. ”Aku mau memberitahu kalau ada ide untuk Sahur On The Road, untuk menyelesaikan misi bakti sosial kita. Jadi hasil penjualan kita selama ini, akan kita sumbangkan di acara Sahur On The Road itu…”

Changmin dan Donghae diam.

”Ya! Aku ingin dengar pendapat kalian…” kata Sungmin gusar.

”Setuju…” sahut Changmin dan Donghae garing.

Haejin menghela napas, karena barusan dia menangkap mata Donghae, dan Donghae malah membuang wajah. ”Oppa, aku ke Himti dulu… nanti kalau Nara dan Kyu sudah kembali beritahu aku.” Ujarnya dengan nada malas.

”Kau mau bertemu dengan Im Seulong?” tanya Sungmin penasaran.

”Ne…” sahut Haejin tidak bersemangat.

Changmin menarik tangannya. ”Ya ya ya… kau ngapain sih kesana melulu?” tanyanya.

”Ada urusan!” Haejin menepis tangan Changmin dan pergi dari situ.

Sungmin melirik adiknya yang berjalan menjauh. ”Ada apa sih? Kenapa dia galak begitu… mau dapet kali ya?”

Changmin tercengang.

Donghae tersenyum kecil.

Bersambung

 

Mian lama banget nggak update… aku sempet sakit dan gak bisa bangun dari tempet tidur gara-gara darah rendah dan flu tulang. Ya walaupun flu tulangnya belum sembuh banget, tapi keadaanku udah mendingan. Udah gitu sekarang harus bolak-balik ke kampus karena di kampus mau ada acara… Mian bangeeeeet, FYI aja… rumahku di Bogor, dan kampusku di Jakarta, jadi bolak-balik bikin aku capek. Huuuu maaf banget yaaaa *bow* nggak bisa menepati janji.

Part ini aku tulis pas lagi sakit dan disambung lagi begitu udah sehat… jadi kalo isinya mengecewakan, maaf banget… aku terima komen, kritik, dan saran. hehehehe… *hug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s