When Sunrise Meet Sunset (Episode 9)

OST : (Rekomendasi) Super Junior – No Other

 

*Pukul 22.00 PM KST*

Donghae memutar-mutar jalan seluruh Seoul. Masih belum tahu kemana dan dimana dia akan tinggal sehabis ini, dengan uang tabungannya yang tidak terlalu banyak. Donghae melihat Nara sudah tertidur karena kelelahan, setelah keluar dari rumah tadi, Nara menangis dan tertidur.

Nara hanya bangun ketika waktunya buka puasa, itu pun Nara cuma mau minum patbingsoo, Nara tidak mau makan. Sepertinya Nara shock mendapatkan kenyataan kalau rumah itu diambil oleh Kyuhyun. Donghae sendiri juga shock, tapi dia yakin kalau Kyuhyun lebih shock lagi.

Donghae memarkir mobilnya di sebuah rest area daerah perbatasan. Donghae tidak mau sampai keluar Seoul, karena Nara harus tetap kuliah. Nara masih tidur, sementara Donghae turun dari mobil membeli dua gelas teh, Donghae juga membeli roti, dia mencoba membangunkan Nara, tapi Nara sepertinya tampak sangat lelah. Akhirnya Donghae membuka kaca dari luar, agar Nara dapat merasakan angin segar. Donghae berjongkok di sebelah mobilnya sambil memakan roti.

 

*Keluarga Jongwoon-Haneul*

Jongwoon, Haneul, dan kedua anak mereka, Kibum dan Soeyoung malam itu juga pergi ke rumah keluarga Kwan. Namun begitu sampai disana, yang mereka temukan bukanlah Donghae dan Nara, melainkan Yunho.

”Ini rumah warisan Youngwoon dan Kheynie!” teriak Jongwoon naik darah dengan penjelasan Yunho.

”Tidak lagi, rumah ini sudah disita…” kata Yunho kalem.

Haneul menggeleng-geleng. ”Lalu bagaimana nasib kedua anak itu?! Kenapa mereka diusir?”

”Aku tidak mengusir mereka, ini rumahku!” kata Yunho angkuh. ”Bukan rumah mereka lagi!”

Haneul menarik Jongwoon keluar, diikuti Soeyoung dan Kibum yang terperangah dengan kenyataan yang terjadi pada sahabat mereka. Jongwoon, Haneul, Kibum, dan Soeyoung langsung naik mobil mereka.

”Appa, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?” tanya Soeyoung.

Jongwoon menghela napas. ”Mereka tidak hilang, Soeyoung-ah… mereka hanya pergi, dan belum punya tempat tinggal. Yeobo, kita harus segera menjalankan usaha baru kita kalau tidak kita tidak bisa membantu mereka.”

 

*Sungmin dan Haejin*

Sungmin membelokkan mobilnya ke sebuah rest area. Haejin ngantuk-ngantuk karena dari siang udah muter-muter Seoul. Sungmin tidak juga mau berhenti, Haejin setuju saja, asal jangan nanti Sungmin minta tukeran nyetir aja. Sungmin pergi ke kamar kecil, sementara Haejin keluar dari mobil untuk melemaskan pantatnya yang sudah tidak terasa, karena sudah nyaris dua belas jam dia duduk di mobil, mencari-cari tanpa tau arah. Haejin hanya berharap mereka bisa cepat menemukan Donghae dan Nara, ingin memastikan mereka baik-baik saja.

Haejin duduk di trotoar, di dekat mobilnya, menatap mobil-mobil yang berlalu lalang. Kemudian dia melihat telunjuknya yang masih terbebat plester chibi Chansung 2PM pemberian Donghae.

”Sunbae, neo eodiya?” tanya Haejin.

Haejin berdiri dan melemaskan otot-ototnya. ”Lee Haejin hwaiting! Kau pasti bisa menemukan Kwan Nara dan Lee Donghae! Aja!” Haejin menyemangati dirinya sendiri. ”Ya Tuhan… berilah petunjukmu dimana mereka…” Haejin kemudian melemaskan ototnya ke kiri, kemudian ke kanan. Haejin tertegun.

Seorang pria sedang duduk di trotoar di sebrangnya. Haejin melirik mobil disebelah pria itu. Haejin mengenalinya, dengan langkah perlahan, Haejin menghampiri pria yang sedang duduk sambil makan sandwich tersebut.

”Sunbae…”

Pria itu menengadah, dan terbelalak, kemudian langsung berdiri. ”Haejin-ah? Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya kaget.

Haejin malah menangis.

”Ya! Ya! Ya! Waekeurae? Ada apa? Haejin-ah… jebal, kau terluka lagi? Ada yang tersayat beling lagi?!”

Haejin menoleh ke mobil, dan melihat Nara tertidur. Tangisnya semakin kencang. Lalu dia menggedor pintu kaca Nara. ”Nara-ya! Buka jendelanya! Buka…” teriak Haejin histeris. Donghae terpaku, dia kebingungan.

Nara terbangun, dan terkejut, lalu buru-buru turun dari mobil. ”Haejin-ah, waeyo???” tapi Haejin sudah keburu memeluknya sambil menangis. ”Haejin-ah… waeyo? Ada apa? Kenapa kau… Hae, ini dimana? Kenapa ada dia?”

”Molla…” sahut Donghae bingung.

Haejin melepaskan pelukannya. ”Kalian berdua ini bodoh atau polos sih?!” teriak Haejin. ”Seharian aku dan Oppa mencari kalian berdua! Kalian tidak muncul di kampus! Begitu dengar berita dari Kyuhyun, dia bilang… dia bilang… kalian tidak punya tempat tinggal lagi! Kalian anggap apa aku dan yang lainnya! Kami teman, sahabat! Bahkan sudah menganggap kalian sebagai saudara sendiri! Tapi kalian anggap kami sebagai sekedar teman di kampus sajakah?! Kami tidak bisa membantu kalian kah?! Pabo! Pabo! Pabo!” Haejin berteriak-teriak histeris sampai kehabisan napas. ”Kalian jahat‼!”

Nara menunduk, Donghae terperangah. Sungmin kemudian muncul, dia sama terperangahnya dengan Donghae dan Nara, karena sungguh mustahil bagi gadis sebawel dan seceria Haejin bisa marah seperti itu.

”Mianhae…” Nara memeluk Haejin.

Haejin balas memeluk Nara, sambil menangis. ”Kau membuat kami cemas! Kami takut terjadi apa-apa padamu… kenapa kau tidak cerita? Jangan bilang takut membebani atau kau kubunuh!”

”Tapi memang itu jawabannya Haejin-ah…” ucap Nara lirih.

Sungmin menepuk Donghae. ”Kau tega sekali pada kami! Aku, Kibum, dan Changmin mencemaskanmu…”

”Mianhae, Sungmin-ah…”

”Lalu apa rencanamu sekarang? Kau tinggal dimana?”

”Aku rencana akan mencari hotel terlebih dahulu, aku masih pegang sedikit uang. Besok aku akan berusaha mencari rumah, dan menjual mobil, lalu aku akan mencari pekerjaan, untuk membiayai Nara kuliah.”

”Maksudmu kau akan berhenti kuliah?!” lengking Sungmin.

Nara dan Haejin memisahkan diri, Haejin menangis lagi. ”Andwe! Nara-ya, kau tidak boleh pergi…”

”Kita bisa cari cara supaya kalian berdua tetap bisa kuliah! Kalian tidak boleh begini! Kalian jangan menyimpan beban sendiri!” seru Sungmin. ”Sekarang Haejin-ah, kau bawa mobil Donghae, kita pulang. Donghae, Nara, kalian tinggal dirumahku mulai detik ini!”

”Sungmin-ah…” kata Donghae.

”Tapi, Haejin-ah…”

”Tidak pakai tapi!” seru Haejin dan Sungmin.

Sungmin menatap Donghae. ”Kalau kau masih menganggapku saudara, maka kau harus ikut! Berikan kunci mobilmu pada Haejin, biar Haejin yang bawa mobilmu supaya kau dan Nara tidak bisa kabur!”

Haejin mengulurkan tangannya pada Donghae. ”Mana Sunbae?”

”Tapi… tapi…” Donghae mengeluarkan kunci mobilnya, karena pancaran mengan-cam dari Sungmin. ”Sungmin-ah, ini sudah malam…”

”Lalu?” tanya Sungmin. ”Justru karena sudah malam kalian berdua harus tinggal di rumahku! Memang kalian berencana tidur di mobil? Shiruh!”

Haejin merampas kunci mobil begitu saja. ”Ayo, Nara-ya, naik ke mobilmu!” Haejin membuka pintu kemudi.

”Kajja!” Sungmin mengajak Donghae ke mobilnya.

”Sungmin-ah, ini sudah malam! Kau tidak khawatir adikmu cuma berdua dengan adikku. Mereka berdua kan perempuan… ini batas kota, untuk kembali ke rumahmu perlu waktu tiga jam…” kata Donghae cemas.

”Ah benar!” Sungmin menepuk kepalanya. Tapi Haejin sudah menyalakan mesin mobil.

Sungmin menatap Donghae curiga. ”Tapi kalau tak kubiarkan Haejin membawa mobilmu, kau kabur!”

”Sungmin-ah!” kata Donghae tak terima.

”Ah begini saja… Nara, kau bersamaku, Donghae! Kau bawa mobilmu, tapi jangan nyesel ya berduaan sama adikku. Dia itu pelor… nanti kau akan sendirian sepanjang jalan karena Haejin pasti tidur!”

Nara menghela napas. ”Ara…” dia mengikuti Sungmin ke mobil Sungmin, dan Donghae tersenyum pada Nara. (Readers ini si Nara yang minta ya, ada adegan sama si Sungmin, jadi bukan author yang mau berduaan sama Donghae, tapi MURNI Kwan Nara yang minta, LOL.)

Donghae mengetuk pintu kemudi. Haejin menurunkan kacanya. ”Nara kemana, Sunbae?”

”Nara sama Sungmin. Kamu nggak boleh nyetir ah udah malem, lagian kata Sungmin tadi kamu suka ngantuk, udah sana geser, aku yang nyetir.” Kata Donghae sambil senyum.

Haejin manggut-manggut, sambil meloncat begitu saja ke kursi sebelah Donghae. Donghae membuka pintu mobil dan masuk. Haejin memasang sabuk pengamannya, dan melihat mobil Sungmin sudah bergerak. Perlahan-lahan Donghae menjalankan mobilnya dan mengikuti mobil Sungmin.

Seperti dugaan Sungmin, tak lama Haejin tertidur. Begitu pula dengan Nara yang berada di mobil Sungmin. Sekitar pukul dua mereka baru sampai di rumah keluarga Lee. Lampu di dalam rumah sudah menyala. Sungmin membantu Donghae mengelu-arkan koper-koper besar dari bagasi mobil Donghae. Sementara Nara dan Haejin, masih pulas di bangku masing-masing.

”Sungmin-ah… apa tidak apa-apa?” tanya Donghae.

”Bicara apa kau?!” tanya Sungmin. ”Ayo sudah masukkan barang-barangmu, Eomma dan Appa urusanku dan Haejin. Lagipula mereka pasti mengerti, ayo…”

”Nanti dulu…”

”Apa lagi?! Kau ini mau kuseret masuk ya?!”

”Bukan begitu! Itu adikmu dan adikku masih tidur di mobil…” tunjuk Donghae ke dua mobil yang berjejer di garasi. Di kursi depan, sama-sama tidur dua orang gadis amat pulas.

Sungmin menoleh. ”Ah, kau gendonglah Nara! Haejin sih biarkan saja… salah sendiri pelor!” Sungmin menggeret koper ke dalam.

”Yah! Oppa macam apa kau ini!” Donghae geleng-geleng, dan menghampiri mobil Sungmin. ”Nara-ya… Nara-ya… ireona…”

Nara terbangun. ”Sudah sampai?” tanyanya sambil mengucek-ngucek matanya. Donghae mengangguk.

”Ayo turun.” Lalu Donghae berjalan ke mobilnya sendiri, dan menepuk-nepuk pipi Haejin pelan. ”Haejin-ah, ireona… sudah sampai!”

Haejin menggeliat. ”Hmm?”

”Udah sampe… turun!”

Kebetulan JooEun, ibunda Sungmin dan Haejin sudah bangun dan sedang menyiapkan makanan sahur. Hyukjae juga sudah bangun, Haejin dan Sungmin langsung menjelaskan panjang lebar.

”Jadi Cho Corp benar-benar menyita semua aset K2 Enterpraise?” Hyukjae kaget. Donghae dan Nara saling pandang.

”Bagaimana Ahjussi tahu?” tanya Donghae.

Hyukjae menceritakan kronologi Shin Corp yang meminta bantuan jasa kepada perusahaan konsultannya. Shin Corp ingin Cho Corp yang memenangkan tender, tapi ternyata Shin Corp juga membeli saham K2 Enterpraise.

”Kalau begitu, maksud Ahjussi…” kata Nara gemetaran. ”Shin Corp dan Cho Corp memang ingin berusaha merebut tender itu dari K2 Enterpraise? Dari Eomma dan Appa?”

Hyukjae mengangguk. ”Sebetulnya, proposal K2 Enterpraise kemarin sangat matang. Perusahaan konstruksi K2 Enterpraise adalah yang paling kuat di Korea Selatan. Tender di Jepang itu seharusnya memang mereka yang pegang, tapi… karena orang tua kalian belum sempat presentasi. Padahal aku yakin kalau orang tua kalian sempat presentasi, tender itu K2 Enterpraise yang menang.”

”Appa, jamkaman…” potong Sungmin. ”Shin Corp mendukung Cho Corp untuk memenangkan tender tapi Shin Corp juga membeli saham K2 Enterpraise?”

Hyukjae mengangguk.

”Appa! Pasti ada sabotase disitu!” seru Sungmin.

Donghae dan Nara membelalak ngeri.

”Benar! Itu masuk akal…” kata Haejin lagi. ”Kalau memang Shin Corp mau Cho Corp yang menang, untuk apa Shin Corp ikut membeli saham K2 Enterpraise, yang notabene justru membantu K2 Enterpraise sendiri? Sedangkan kalau aku dengar dari Appa, K2 Enterpraise sangat matang, tidak mungkin kalah! Perusahaan tidak mungkin mendanai perusahaan lain, jika tidak menguntungkan perusahaan itu juga!”

”Omo!” JooEun yang disitu juga menekap mulutnya

Hyukjae mengangguk. ”Ada kejanggalan memang…”

”Dan orang tua Donghae dan Nara, meninggal sebelum presentasi! Ini janggal!” seru Sungmin. ”Ada sabotase disini!”

”Tunggu dulu!” potong Nara. ”Sabotase? Berarti kalau memang orangtuaku di sabotase, kemungkinan pelakunya?”

”Shin Corp dan Cho Corp!”

Donghae dan Nara terperangah.

”Kalau begitu, nanti akan Ahjussi bantu untuk mencari keterangan ya. Kita tidak punya bukti soalnya…”

”Kamsahamnida, Ahjussi… Ahjumma…” Nara dan Donghae membungkuk.

”Untuk sementara kalian tinggal disini dulu,” JooEun tersenyum. ”Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah kalian sendiri, oke? Nah, Haejin-ah, Sungmin-ah, tunjukkan kamar untuk Donghae dan Nara.”

”Kajja!”

JeSoo yang baru saja bangun terbengong-bengong melihat Nara dan Donghae bawa-baawa koper.

 

*Esoknya, Universitas Neul Paran*

Mobil Sungmin memasuki pelataran parkir di depan ruang sidang Himahi, Donghae, Nara, dan Haejin keluar dari dalam mobil tersebut. Kuliah mereka hari ini sama jamnya, pukul sebelas. Begitu turun, Haejin langsung mengeluarkan ponselnya, dan menelepon.

”Aku ke Himti dulu ya, Nara-ya… sampai jumpa!”

”Im Seulong lagi deh!” kata Sungmin kesal.

”Ya! Lee Haejin!” teriak Nara.

Haejin cuma melambai dan pergi dari situ. Nara geleng-geleng, ”Bahkan sampai sekarang aku masih belum tau siapa Im Seulong itu.”

”Ya sudah ayo ke kelas…” ajak Donghae pada Sungmin. Nara mengikuti keduanya ke lift.

”Nara-ya!” pekik suara cempreng seseorang.

Nara berbalik, dan tiba-tiba dia sudah berada di gendongan Yoochun, dan Ririn menari-nari disekitarnya. ”Nara masuk… Nara masuk…”

”Ya! Ya! Ya! Park Yoochun!” teriak Nara.

Yoochun cekikikan dan menurunkan Nara. ”Aigo, Nara-ya… tahukah kau sehari saja tak bertemu denganmu aku rindu!”

Dua jitakan datang dari Ririn dan Nara.

”Playboy cap botol!” Ririn memelototi saudara kembarnya.

”Aigo, kau cemburu, Minnie?”

My name is Alice Park!

For me just Minnie Mouse…”

Ririn menjitak kepala Yoochun lagi, tiba-tiba wajah Yoochun berubah pucat, dan darah merembes keluar dari hidungnya.

”Micky!” pekik Ririn. ”Are you okay? What’s wrong with you?” tanyanya panik.

Nara merogoh-rogoh kantungnya, dan mengeluarkan tisu, lalu memberikannya kepada Yoochun. Yoochun buru-buru mengelap hidungnya. ”Aduuuuuh, kayaknya panas dalem nih. Cari minum ah… kantin udah pada buka kan? Bye…” Yoochun buru-buru pergi.

”Micky!” pekik Ririn cemas.

Nara menepuk Ririn. ”Sudah, yuk kita ke kelas.”

Perasaan Ririn semakin kacau. Yoochun sudah beberapa kali mimisan. Di kamarnya seprainya banyak sekali bercak darah, Yoochun selalu ngeles bilang dia mimisan karena panas dalam.

”Jagiya…” Siwon muncul. Kemudian dia melihat wajah Ririn yang tidak bersemangat. ”Waekeurae? Ada masalah?”

”Siwon-ah… Yoochun mimisan…”

Nara menyahut, ”Kan kata dia, dia panas dalem, Ririn-ah…”

Siwon mengerti masuk Ririn, Siwon merangkul Ririn dan menenangkannya. Kemudian Junsu muncul, melambai, dan menyapa Nara. Di kelas, Nara mau tidak mau terpaksa menceritakan kejadian yang sebenarnya, Soeyoung juga membantu menjelaskan. Semua memarahi Nara, mengapa Nara tidak bercerita dan justru mematikan ponsel.

Hanya ada satu bagian yang tidak Nara ceritakan. Ya, Cho Kyuhyun, yang ternyata adalah anak dari Yunho, pemilik Cho Corp. Dan sekarang, Kyuhyun pun belum datang ke kampus. Entah kenapa Nara mencarinya, kebenciannya pada Yunho sama sekali tidak membuat dirinya membenci Kyuhyun. Nara malah takut Kyuhyun yang akan membencinya, tapi jika mendengar penuturan Sungmin dan Haejin kemarin, sepertinya Kyuhyun panik. Lagipula benar kata Donghae kemarin, Kyuhyun juga sepertinya tidak tahu apa-apa.

Dosen Sistem Politik Korea Selatan sudah masuk ke dalam kelas, maka mereka yang tadinya ribut menjadi tenang.

”Kemana lagi si BolBek itu?” tanya Junsu sambil mengeluarkan bindernya.

”Ah pake ditanya, lagi di Himti, sama si Im Seulong!” sahut Ririn.

”Tapi Kyunnie juga belum datang ya…” kata Jinki mencari Kyuhyun. Lalu dia melirik Nara yang juga sepertinya mencari Kyuhyun, karena dari tadi melongokkan kepalanya keluar.

”Ah iya, dia kemana?” tanya Siwon menoleh-noleh.

Ririn sibuk mengkhawatirkan Yoochun, ponsel Yoochun pun begitu dihubungi tidak diangkat. Tapi tak lama kemudian pintu kelas dibuka dan masuklah Yoochun yang menyeret-nyeret Haejin.

Semua terbelalak melihat mereka.

”Ini anak…” desis Yoochun menunjuk Haejin. ”Orang udah kuliah, dia asik banget di depan Himti ngobrol sama cowok! Akhirnya aku tahu Im Seulong itu yang mana!”

Haejin menggebuk-gebuk Yoochun. ”Aku belum selesai bicara padanya kenapa kau menyeretku!”

Nara, Ririn, Soeyoung, Junsu, Jinki, dan Siwon mengangkat jempol mereka untuk Yoochun. ”Baguuuuus…”

”Ckckck… jadi Im Seulong itu pacarmu, Haejin-ah?” tanya Ririn memastikan.

”Ne! aku mau tau… siapa Im Seulong itu?!” tanya Nara galak.

Haejin menatap Nara dan Ririn bergantian. ”Kenapa sih kalian ini ingin sekali tahu siapa dia?”

”Sudahlah jangan banyak alasan, beritahu saja!”

”Kalian ini mau belajar atau tidak?!” tanya Dosen dari depan. Semua langsung diam dan mengikuti kuliah dengan baik.

Nara izin keluar dari dalam kelas, karena ingin buang air kecil. Ketika dia menyusuri koridor, dia melihat seseorang yang amat sangat ia kenal, sedang duduk bersandar dengan mata terpejam, dikepalanya terpasang headphone.

”Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun terbangun, dan langsung melepaskan headphone-nya. ”Oh, Nara-ya… annyeong!”

”Kenapa kau tidak masuk kelas?”

”Ah, ani…” Kyu cuma tersenyum singkat, nampak agak gugup. ”Aku terlambat, kurasa tidak ada gunanya aku masuk. Kau apa yang kau lakukan?”

”Aku mau ke kamar mandi…” jawab Nara.

Kyuhyun mengangguk. Begitu Nara beranjak, Kyuhyun menarik tangan Nara, dan menatap Nara penuh permintaan maaf.

”Nara-ya… mianhae…”

Nara tersenyum. ”Gwenchana…”

”Jangan membenciku…” kata Kyuhyun lirih dan melepaskan pegangannya pada Nara. ”Aku sama sekali tidak tau kalau… kalau…” dia sama sekali tidak bisa mengatakannya. ”Kau mungkin membenciku.” Kyuhyun menunduk.

Nara memandang sosok Kyu yang begitu mengenaskan di hadapannya kini. Nara menepuk bahu Kyu. ”Gwenchana, aku percaya padamu.”

Kyu mengangkat wajahnya.

”Aku tau, kau sama sekali tidak tau hal ini. Aku juga tau, kau pasti terkejut begitu… begitu ayahmu bilang rumahku adalah rumahmu. Tapi jangan khawatir, sampaikan pada ayahmu, aku dan Donghae hidup dengan baik!”

Kyu mengangguk. ”Aku senang kalian hidup dengan baik.”

Nara tersenyum lagi, kemudian berbalik pergi. Kenapa harus pria sebaik sahabatnya yang menjadi anak dari Yunho?! Kenapa? Hanya itu yang ada di pikiran Nara, sementara Kyuhyun menatapnya dari kejauhan.

 

*Sekretariat Himahi*

Sungmin, Donghae, Changmin, dan Kibum duduk berempat. Donghae menceritakan apa yang dia alami, ditambah keterangan dari Sungmin dan Kibum, yang juga tahu permasalahan ini.

”Bahkan orangtuamu juga dipecat, Kibum-ah?” tanya Changmin kaget.

Kibum mengangguk. ”Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas Shin Corp dan Cho Corp benar-benar licik.”

Changmin terperangah. ”Shin Corp dan Cho Corp? Mereka yang mengambil perusahaan K2 Enterpraise?”

Kibum, Donghae, dan Sungmin mengangguk.

Changmin menghela napas, ini ulah Appa! Changmin mendesah, kali ini temannya sendiri yang merasakan tangan kotor Appanya! Ini tidak bisa dibiarkan, Changmin berdiri.

”Rasanya aku kurang enak badan…” kata Changmin.

”Eh? Waekeurae? Kau perlu istirahat?”

Changmin mengangguk. ”Sepertinya… aku pulang saja, maaf ya hari ini aku tidak bisa ikut jualan.” Dan Changmin pergi secepat kilat ke mobilnya, lalu melajukan mobilnya ke sebuah gedung bertingkat tinggi yang sudah dikenalnya.

”Huijangnim…”

”Appa dimana?!” Changmin berusaha menerobos pintu ruangan ayahnya. ”Aku mau bertemu dengannya!”

”Huijangnim…”

Changmin menggebrak pintu dengan kasar. Shindong sedang duduk di kursinya, membelakangi meja, dia langsung berbalik, dan menatap Changmin. ”Tinggalkan kami…”

Sekertarisnya buru-buru menutup pintu.

”Lama sekali kau tidak mau mengunjungi Appa!” Shindong tersenyum. ”Akhirnya kau muncul juga…”

Changmin mendekati meja. ”Appa! Kau yang menyabotase K2 Enterpraise, kan?! Mengaku!”

Shindong terbelalak. ”Apa-apaan ini?!”

”Sudahlah Appa tidak usah menyangkal!”

”Appa tidak melakukannya…” jawab Shindong santai. ”Kau menuduh Appa terus. Apa ada buktinya?”

Changmin menggelengkan kepalanya. ”Yang Appa lukai itu adalah sahabatku sendiri! Dia suadaraku, Appa! Apa Appa tidak bosan berbuat jahat terus?! Kapan Appa mau sadar?! Apa kata Eomma!”

”Sahabatmu? Lee Donghae? Ah, dia hanya anak angkat keluarga Kwan!”

Changmin menggebrak meja. ”Tahukah Appa sekarang aku berharap jika aku bukan anak kandungmu! Aku malu memiliki ayah sepertimu!” Changmin meninggalkan Shindong begitu saja.

Shindong malah menyeringai. ”Bagaimana kalau teman-temanmu tahu kalau kau adalah pemilik Shin Corp?!”

 

*Lee Counsultant Office*

”Lee Sajangnim, klien baru Anda sudah tiba…” kata sekertaris melalui telepon pada Hyukjae.

”Ah ya, persilakan masuk.”

Kemudian masuklah dua orang, pria dan wanita, Hyukjae berdiri dan menjabat tangan mereka, lalu mempersilakan mereka duduk.

”Saya Kim Jongwoon. Ini istri saya, Kim Haneul… kami mantan Direktur Pemasaran dan Direktur Keuangan K2 Enterpraise…”

Mata Hyukjae membeliak. ”K2 Enterpraise?! Ah, saya tahu… benarkah K2 Enterpraise sudah diambil alih oleh Shin Corp dan Cho Corp?”

”Ne, itu benar…” Jongwoon mengangguk. ”Sebetulnya kamilah yang harusnya menggantikan Kwan Youngwoon dan Kheynie untuk meneruskan perusahaan ini. Tapi…”

”Aset disita semua, kan? Aku tahu, anak Youngwoon-ssi dan Kheynie-ssi sekarang tinggal di rumahku.”

”Mwo?!” pekik Jongwoon dan Haneul.

Hyukjae terperangah. ”Ah ye, anakku adalah sahabat dari Donghae dan Nara.”

”Jinja??? Syukurlah…” Haneul menangis. ”Kukira mereka akan kelaparan dan kedinginan di jalan. Terima kasih, Hyukjae-ssi… kami mencarinya kemana-mana, tapi tidak ketemu.”

Hyukjae tersenyum. ”Anakku yang menemukan mereka.”

Akhirnya Jongwoon dan Haneul menjelaskan kalau mereka ingin membangun kembali K2 Enterpraise dari awal, Hyukjae siap membantu. Kemudian Jongwoon menjelaskan perihal sabotase kepada Hyukjae.

”Ya, semalam waktu Donghae dan Nara tiba, kami langsung mendiskusikan masalah ini. Kami yakin ada sabotase…”

”Hyukjae-ssi, apakah kau tau apa yang terjadi jika kita bisa membuktikan kalau Youngwoon dan Kheynie di sabotase?”

Hyukjae berpikir. ”Menurut hukum, yang jelas Donghae dan Nara bisa memperoleh kembali harta mereka. Tapi buktinya itu yang harus kuat, terlebih Youngwoon-ssi dan Kheynie-ssi meninggal di Jepang, dan polisi Jepang sendiri menyatakan kalau kematian Youngwoon-ssi dan Kheynie-ssi adalah murni kecelakaan.”

Haneul menunduk.

”Untuk itulah, Hyukjae-ssi, bantu kami membangun kembali K2 Enterpraise… demi kedua anak itu.” Pinta Jongwoon.

”Saya bersedia.”

Bersambung

Mian kemarin telat post, karena perasaan yang sedang kacau, hehehe… jadinya baru post episode 9 sekarang, dengan Poster baru. Poster pertama, sengaja Uri Sunbaes… Changmin, Donghae, Sungmin, dan Kibum. akan ada poster-poster lainnya…

ditunggu kritik, saran, dan komennya disini… hehehe gomawo semuanya, part 10 publishnya mungkin nggak jam lima sore besok, soalnya sekarang aja aku belum tidur. Hehehehe… tapi aku akan berusaha publish secepatnya.

Yang nggak bisa komen disini, karena lewat hape komen susah masuk, ditunggu juga komennya di Facebook dan Twitter saya :

Facebook : nisya_nadine_haejin@hotmail.com (Nisya Mutiara Busel-Siregar)

Twitter : @nisya910716

YM : nisya_siregar

Gomawo *Hug, Bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s