When Sunrise Meet Sunset (Episode 8)

”Ige mwoya?!” Nara panik memeriksa internet bankingnya. ”Hae! Donghae! Lee Donghae!”

Donghae menghampiri Nara yang pucat menatap saldo rekeningnya. Kemudian matanya terbelalak. ”Nara-ya… rekeningmu atas nama siapa?”

”Eomma…”

”Pantas kalau uangmu juga hilang… rekeningku atas namaku sendiri. Kita masih punya uang…” Donghae menepuk bahu Nara.

Nara mengangguk pasrah. ”Keureom… Hae, bagaimana dengan kuliah kita?”

Donghae menggigit bibirnya, kemudian tersenyum. ”Kau tenang saja, kau pasti tetap bisa kuliah.”

”Ya! Apa maksudmu? Bagaimana denganmu?”

”Aku akan berhenti kuliah, aku akan mencari pekerjaan, supaya kita bisa terus hidup, dan kau tetap kuliah.”

Nara menggeleng-geleng. ”Aniyo!”

”Sudah, jangn dipikirkan… sudah malam, besok masih harus sahur… ayo istirahat sana!” Donghae berdiri, dan naik duluan ke atas.

Nara juga ikut naik ke atas.

Keesokan harinya adalah hari Jumat, kebetulan hari ini tidak ada kuliah untuk Nara, sedangkan Donghae memilih untuk mencairkan uangnya di Bank. Nara berbaring di kasurnya, dia masih sedih menghadapi semua cobaan. Bahkan untuk duduk mengambil PSP-nya, Nara tidak bersemangat. Nara berguling memandang PSP-nya yang tergeletak di sampingnya. Tapi yang terjadi adalah bayangan Kyu yang masuk ke kepalanya. Kemudian dia mengingat sahabat-sahabatnya, apa kata sahabat-sahabatnya tentang dia dan Donghae yang tidak muncul. Donghae dan Nara sengaja tidak mengaktifkan ponsel mereka. Yang Nara dan Donghae khawatirkan adalah jika mereka terus tidak memberi kabar, teman-teman mereka akan mencari ke rumah.

Nara-ya… kau tidak akan menang melawanku…’

Nara nyengir. ”Aku pasti bisa mengalahkanmu Cho Kyuhyun!” desisnya pada PSP kecilnya, dan menggetoknya pelan.

Pintu kamarnya diketuk.

”Masuk, Immo…”

Pelayannya masuk. ”Nona Nara, ada yang datang… tadinya mau bertemu dengan Tuan Muda, tapi Tuan Muda tidak ada.”

”Nugu?”

”Dari Notaris…”

”Notaris?” Nara langsung cemas. Dia langsung duduk, ”Ya udah, Immonim, gomawo. Nara turun…”

Perlahan-lahan Nara merapikan bajunya yang kusut karena dipakai berbaring, lalu dia menghela napas dalam-dalam, dan turun ke bawah.

 

*K2 Enterpraise*

Jongwoon dan Haneul cuma dapat terpana melihat Yunho dan Shindong datang ke perusahaan mereka. Jongwoon dan Haneul tidak dapat berbuat apa-apa, karena memang ini semua terjadi diluar kendali mereka. Saham sudah semua di tangan Shindong.

”Kalian siapa?” tanya Shindong pada Jongwoon dan Haneul.

”Saya Kim Jongwoon, dan ini istri saya, Kim Haneul…”

”Ah…” Yunho ikut menghampiri mereka. ”Jadi ini dua mantan direktur keuangan dan direktur pemasaran yang lalu. Apa kabar?” tanya Yunho ringan.

Haneul dan Jongwoon tersentak.

”Ah, iya… mianhamnida, aku lupa memberitahu kalian… kalian sudah tidak dibutuhkan disini… kalian bisa bereskan barang-barang kalian, dan segera pergi dari sini.” Ujar Shindong sambil tersenyum.

”Tapi kami pendiri K2 Enterpraise…” Jongwoon berusaha membela diri.

Shindong mengangguk. ”Kalian pendiri, dan sekarang saya pemiliknya… jadi jangan salahkan saya, salahkan teman kalian yang meninggal dengan mempertaruhakan seluruh perusahaan.”

Jongwoon baru saja ingin membalas, tapi Haneul menarik tangannya dan membawanya ke ruangannya.

”Kenapa kau menahanku?!” tanya Jongwoon panas.

”Yeobo… kita sama sekali tidak punya apa-apa untuk melawan mereka. Memang mereka berhak segalanya… aku mengerti mereka berlebihan dengan memecat kita berdua, tapi…”

Jongwoon terdiam. ”Aku tidak habis pikir bagaimana anak-anak itu?”

”Donghae dan Nara?” tanya Haneul cemas. ”Kita harus bergerak cepat, Yeobo… kita bangun perusahaan baru, modal kita masih ada, kan? Kita jalankan bisnis kita yang dulu tertahan. Demi Donghae dan Nara… demi Youngwoon dan Kheynie…”

Jongwoon menghela napas. ”Baiklah.”

”Yeobo… kau kenal siapa mereka? Aku tidak yakin jika mereka orang yang berkompeten untuk mengelola perusahaan kita?”

”Kalau si Shin Donghee aku percaya, tapi kalau satunya aku tak kenal…”

”Mworago?!” pekik Haneul.

”Kenapa?”

”Tadi kau bilang siapa Yeobo? Shin Donghee?”

Jongwoon mengangguk. ”Ya, Shin Donghee… wae?”

”Dia yang mendanai Cho Corp untuk memenangkan tender di Jepang! Dan dia juga yang membeli saham…”

Jongwoon terperangah. ”Dia yang mendanai Cho Corp?”

”Iyaaaaaa!”

”Arasseo…” Jongwoon mengangguk, terlalu shock. ”Kau bereskan barang-barangmu, kita langsung pulang…”

Haneul menghela napas. ”Apa Yongwoon dan Kheynie ada kemungkinannya meninggal karena kecelakaan?”

”Molla, kita tidak punya bukti!” meski begitu pikiran Jongwoon berjalan seiya sekata dengan yang ada dipikiran Haneul.

Bagaimana mungkin ada perusahaan yang mau mendanai dua tempat sekaligus? Jongwoon dan Haneul meninggalkan kantor K2 Enterpraise, dengan berat hati, namun tetap mereka lakukan. Tak ada yang bisa mereka lakukan dengan kehadiran dua orang baru yang diketahui belakangan selain Shin Donghee, adalah Cho Yunho. Cho Yunho adalah pemilik Cho Corp yang memenangkan tender di Jepang, yang diperjuangkan oleh Kheynie dan Youngwoon sebelum ajal menjemput mereka.

Semua pasti bisa menebak ada udang di balik batu. Shin Corp yang mendanai K2 Enterpraise, dan mendanai Cho Corp. Begitu K2 Enterpraise gagal, keuntungannya malah berlipat dengan menarik Cho Corp. Ini terlalu dibuat-buat.

Di rumah, Jongwoon dan Haneul langsung mencari kedua anak mereka yang kebetulan adalah teman dekat Donghae dan Nara. Kibum dan Soeyoung. Kedua anak yang sama pendiamnya ini, ternyata terlihat begitu cemas.

”Donghae dan Nara tidak ke kampus kemarin…” kata Kibum.

”Ponselnya juga nggak aktif…”

Jongwoon menghela napas. ”Malam ini juga kita akan kesana, kita harus melihat keadaan mereka.”

Haneul kemudian menceritakan kepada Kibum dan Soeyoung perihal yang mereka alami di kantor, tentang Shin Corp, Cho Corp, dan dipecatnya mereka berdua dari K2 Enterpraise.

Kibum dan Soeyoung saling lirik.

”Ada yang nggak beres dengan Shin Corp dan Cho Corp itu…” ujar Kibum pada akhirnya.

Soeyoung mengangguk. ”Appa… itu sabotase!”

”Kita belum punya buktinya, Nak… Appa akan berusaha membantu keluarga Kwan, oke? Nanti malam kita kesana, sekarang Appa dan Eomma harus mengurus pekerjaan baru lagi.”

 

*Rumah Keluarga Cho*

Kyuhyun keluar dari kamarnya, dia kaget memandang perabotan rumahnya yang sudah menghilang semua.

”Oppa…” Eunji kecil sedang menarik-narik celana jinsnya.

Kyuhyun menunduk dan tersenyum, lalu menggendong adik kecilnya itu. ”Eunji-ya? Kau tau kenapa barang-barang pada hilang?”

”Kita kan mau pindah…”

”Pindah?!” tanya Kyuhyun heran. ”Hyunmi-ah!” panggilnya.

Hyunmi muncul. ”Ah, Oppa sudah bangun? Bereskan barang-barang Oppa, kita akan pindah ke rumah baru hari ini.”

”Jinja? Appa tidak bilang apa-apa?”

”Karena Oppa pulang sudah capek, dan langsung tidur… ayo kemasi barang-barang Oppa!” seru Hyunmi sambil menggendong Eunji. ”Eunji-ya, jangan ganggu Oppa ya… Oppa belum beres-beres.”

Kyuhyun geleng-geleng. Baru dua minggu pindah rumah dari Incheon ke Seoul. Sekarang sudah di Seoul mau pindah rumah lagi. Kyuhyun kembali ke dalam kamarnya, dan mulai membereskan baju-bajunya. Setelah selesai dia kembali ke ruang tengah yang sofanya belum di angkat.

”Hyunmi-ah… memang kita akan pindah kemana?” tanya Kyuhyun.

”Molla… kata Appa perusahannya kembali bisa dipulihkan, dan sekarang kita dapat rumah baru. Jauh lebih besar dari ini…”

”Rumah ini sudah besar… mau lebih besar seperti apa lagi?” tanya Kyuhyun bingung.

”Molla…”

Telepon rumah berdering, Hyunmi beranjak mengangkatnya. ”Yeoboseyo… ah, Appa? Ne… ne… keureom, oke.” Hyunmi menutup teleponnya lagi. ”Oppa, ayo kita berangkat ke rumah ini, urusan disini biar suruhan Appa saja yang kerjakan.”

”Suruhan Appa?”

”Ya… Appa hebat ya, sekarang sudah punya suruhan,” sahut Hyunmi girang. ”Tak bisa dibayangkan kalau kita akan kembali kaya seperti ini. Padahal kukira kita akan selamanya terdampar di Bupyeong.”

Kyuhyun tersenyum. ”Ya sudah, Eunji mana? Ayo suruh Eunji siap-siap, aku ambil barang-barangku yang perlu dulu.”

*Rumah Keluarga Kwan*

”Annyeonghaseyo…” Nara membungkuk.

”Annyeonghaseyo, kau yang bernama Kwan Nara? Salah satu ahli waris dari Kwan Youngwoon dan Lee Kheynie?” tanya pria berjas dan berdasi di hadapan Nara.

Nara mengangguk. ”Ah, ye…”

”Ah iya, kami dari Notaris…” pria itu mengeluarkan beberapa kertas. ”Kami mendapat surat perintah untuk mengubah akta kepemilikan tanah dan bangunan dari rumah ini.”

Nara tersentak. ”Maaf?”

”Iya… rumah ini termasuk aset yang disita, dan kami diberi perintah untuk segera mengosongkan rumah ini. Karena hari ini juga pemilik rumah yang baru, akan menempati rumah ini.”

”Mwo?!” pekik Nara. ”Hari ini?”

”Iya, Nona Kwan…”

”Tapi… tapi…”

Salah satu notaris ikut bicara lagi. ”Rumah ini mulai malam ini akan ditempati oleh pemilik baru. Beliau juga yang memiliki K2 Enterpraise.”

Dada Nara sesak. Kenapa pemilik baru itu begitu jahat? Tidak membiarkannya untuk mencari tempat tinggal baru sebelum rumah ini diambil. Dia tahu kalau dia harus meninggalkan rumah ini, tapi tidak secepat ini.

”Kami mengerti perasaan Nona, tapi kami juga hanya menjalankan pekerjaan kami. Karena Direktur tersebut, mengingkan rumah ini hari ini juga.”

Nara mengangguk. ”Ne, algessimnida… saya dan kakak saya akan segera membereskan barang-barang kami.”

”Ini suratnya, mohon tanda tangan ahli waris…”

Dengan berat hati Nara memandangi dokumen itu, lalu perlahan-lahan menggoreskan tanda tangan berikut capnya.

Terdengar suara mobil di depan, ternyata Donghae. Donghae buru-buru masuk ke dalam melihat ada tamu. Kedua notaris tersebut mengatakan maksud kedatangannya kepada Donghae, Donghae tidak bisa berbuat apa-apa.

”Nara-ya… ayo kita kemasi barang-barang kita.” Ajak Donghae sedih, digandengnya Nara naik ke atas.

Nara membereskan baju-bajunya sambil menangis, diraupnya seluruh foto-foto keluarganya ke dalam tas. Segala jenis game yang dia punyai, dibawanya, Nara berpikir untuk menjualnya untuk kelangsungan hidupnya dengan Donghae sementara ini. Ketika hendak menutup kopernya, Nara jatuh terduduk, dan menangis tersedu-sedu.

Donghae sementara itu cuma bisa pasrah memasukkan baju-bajunya berikut buku-buku kuliahnya. Setelah selesai dia melihat Nara yang menangis dalam posisi duduk, Donghae menghampirinya dan memeluknya.

”Nara-ya… gwenchana, aku sudah janji padamu… aku akan menjagamu… sudah ya, jangan nangis. Ahjumma dan Ahjussi bisa marah padaku nanti, oke?”

Nara mengangguk. ”Hae… aku takut…”

”Gwenchana, selama kita berdua bersama-sama kita pasti bisa…” Donghae terus membelai punggung Nara. Meski dia sendiri sedih, dia tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya kepada adiknya itu.

”Kita turun yuk sekarang, kita harus pamit pada para pelayan…” ajak Donghae. Nara mengangguk dan menarik kopernya.

Para pelayan juga sangat sedih. Mereka semua menangis, mereka mengenal Donghae dan Nara dari keduanya masih bayi, dan sekarang ketika kehilangan majikan, mereka juga harus kehilangan kedua anak majikan mereka, karena rumah ini disita.

”Immonim sekalian… kalian harus sehat-sehat, ya…” pesan Donghae.

”Terima kasih sudah menjaga kami dari kecil…”

”Ageshi… Huijangnim… kalian juga jaga diri baik-baik…” kata kepala pelayan sambil menangis.

Donghae dan Nara mengangguk, kemudian keduanya berbalik sambil mendorong koper-koper mereka. Begitu mereka sampai di depan pintu sebuah mobil hitam mengkilap muncul.

”Inikah yang mengambil rumah kita?” tanya Nara pelan.

Donghae menggenggam tangan Nara. ”Sudahlah, Nara-ya… mobil jangan kita jual dulu sampai kita menemukan rumah. Nanti kalau kita sudah menemukan rumah, mobil baru kita jual ya?”

”Terserah kau saja…” Nara tersenyum lemah.

Dua orang pria mendatangi mereka. Yang satu berperawakan besar, dan yang satunya lagi berperawakan jangkung, dan atletis.

”Aigoo… kalian pasti putra dan putri Youngwoon dan Kheynie?” tunjuk pria berperawakan besar itu.

Donghae dan Nara membungkuk. ”Annyeonghaseyo.”

”Aku Shin Donghee, dan ini Cho Yunho. Kami adalah pemilik K2 Enterpraise sekarang.” Kata Shin Donghee dengan senyum lebar.

Yunho mengangguk. ”Jadi hari ini kalian sudah mengosongkan rumah? Baguslah, keluargaku akan tinggal disini hari ini.”

Nara nyaris menangis mendengar kata-kata yang diucapkan begitu ringan oleh pria ini. Nampaknya Donghae menyadari perubahan ekspresi Nara, Donghae langsung merangkulnya.

”Kalau begitu, kami permisi…”

Donghae dan Nara memasukkan barang-barang mereka mobil Donghae. Tepat ketika Donghae menutup bagasi mobilnya, sebuah mobil tiba lagi. Donghae dan Nara menoleh.

”Hae…” kata Nara lirih. ”Lebih baik kita pergi sekarang… aku tidak tahan melihat ini semua.”

Tapi Donghae tetap diam di tempat, memandang ke satu titik. Nara menyenggol-nyenggol bahu Donghae. ”Donghae, ayo kita pergi dari sini… aku sedih melihat rumah ini!”

 

*Di Mobil Kyuhyun*

Kyuhyun mengenali jalan ini. Ini di dekat rumah Nara, Kyuhyun amat bersyukur. Jika rumahnya yang baru dan rumah Nara nanti berdekatan, dia bisa mencari Nara, dan bertanya mengapa Nara tidak muncul kuliah.

”Waaah… rumah disini besar-besar sekali Oppa…” pekik Hyunmi terkagum-kagum.

Mobil berbelok di beberapa belokan, Kyuhyun semakin senang. Ini semakin mendekat ke rumah Nara. Rumah Nara ada di ujung tikungan sebelah kiri, Kyuhyun amat berharap. Mobil berbelok ke kiri, dan Kyuhyun terperangah ketika mobil berhenti di bangunan megah yang dikenalinya itu.

Rumah Nara.

”Oppa, daebak! Rumah ini besar sekali…” kata Hyunmi takjub.

Kyuhyun bertanya pada supirnya. ”Ahjussi, rumah yang mana tepatnya yang akan menjadi rumah kami?”

”Yang itu, Huijangnim…”

Kyuhyun kaget. Ini rumah Nara! Pikirnya, apa yang terjadi pada Nara? Apakah kemarin Nara dan Donghae tidak masuk kuliah karena pindah rumah? Kyuhyun membuka pintu mobilnya, Hyunmi juga turun sambil menggandeng Eunji. Kyuhyun masuk ke halaman rumah yang sudah dia kenali itu, dengan perasaan cemas. Sampai dilihatnya dua pasang mata elang sedang menatapnya.

Donghae. Donghae sedang berdiri di samping mobil hitam yang biasa ia pakai, sedangkan disebelahnya ada Nara yang menoleh kepada Donghae. Pikiran Kyuhyun macet. Apa maksudnya semua ini? Baru Kyuhyun ingin membuka mulutnya. Appanya sudah muncul dan berkata. ”Kyuhyunnie, kau sudah sampai?”

Kyuhyun menoleh, Nara juga. Nara terperanjat melihat Kyuhyun. Seluruh badan Nara lemas.

”Kyuhyunnie?!” bisiknya pada Donghae. ”Ahjussi itu… memanggil Kyuhyun dengan sebutan Kyuhyunnie?”

Kyuhyun mendekati mereka. ”Sunbae… Nara…”

”Kyuhyunnie… Hyunmi-ya, Eunji-ah, aigooo…” Yunho mendekati mereka. ”Kyunnie, ini rumah baru kita.”

Kyuhyun menoleh cepat. ”Tapi bukankah ini, ini rumah Nara…” kata Kyuhyun kebingungan.

”Tidak lagi… kau bisa bertanya pada mereka berdua. Kau kenal Nara ya?” tanya Yunho.

Kyuhyun menatap Nara. Nara memandangnya dengan pandangan terkejut, dan tidak dapat dipercaya. Hyunmi dan Eunji sudah masuk ke dalam bersama Shindong. Yunho tersenyum.

”Ini anakku, Kyuhyun… dia yang akan menjadi pewaris K2 Enterpraise…”

”Mwo?!” pekik Kyuhyun.

Donghae dan Nara lemas mendengarnya.

”Chukaeyo, Kyuhyun-ah…” ucap Donghae kemudian dia menepuk Nara. ”Ayo kita pergi…”

Nara mengangguk, dia mengerling Kyuhyun sebentar. Keduanya berpandangan, masih shock dengan kenyataan barusan, tapi kemudian Nara berpaling, dan masuk ke dalam mobil.

Kyuhyun menyaksikan perginya mobil tersebut dengan nanar. Kemudian setelah mendengar penjelasan ayahnya yang dengan ringannya mengatakan bahwa ini rumah sitaan. Dan Kyuhyun sadar, Donghae dan Nara kehilangan semua harta benda mereka, termasuk rumah.

”Appa! Kau tidak kasihan? Mereka akan tinggal dimana?” tanya Kyuhyun panik.

”Kenapa kau peduli? Itu kan bukan urusan kita, Kyuhyunnie…”

”Appa mereka temanku!” sahut Kyuhyun keras.

”Teman?” Yunho tertawa sinis. ”Jangan bilang kalau kau menganggap Kwan Nara lebih dari sekedar teman!”

Kyuhyun diam, Yunho masuk ke dalam. Bagaimana mungkin? Donghae dan Nara kehilangan segalanya dalam waktu beberapa hari setelah kematian kedua orangtuanya. Dan sekarang, Donghae dan Nara akan pergi kemana? Kyuhyun mengeluarkan ponselnya.

 

*Rumah Keluarga Lee*

Hey girl girl girl girl girl girl girl I nunmatteumyeon ni saenggak…

[kyuhyunnie :D]

Calling

 

Haejin yang sedang duduk di halaman belakang mencari angin karena udara panas sekali, meraih ponselnya. ”Tumben Kyuhyun telepon…” Haejin menekan tombol hijau di ponselnya dan mengangkatnya. ”Yeoboseyo…”

”Haejin-ah… tolong aku!”

”Waeyo?”

Kyuhyun langsung menceritakan tentang keadaan keluarga Nara dan Donghae. Mata Haejin terbelalak ngeri mendengarnya.

”Temukan mereka… mereka tidak punya tempat tinggal sekarang!”

”Ara! Ara! Gomawo, Kyuhyun-ah…” Haejin buru-buru mematikan ponselnya, dan berlari-lari ke dalam rumah.

JooEun yang sedang menonton televisi geleng-geleng melihat Haejin. ”Jangan lari-lari, nanti jatuh…”

Haejin tidak menghiraukan ucapan ibunya, dia terus berlari dan membuka pintu kamar Sungmin dengan brutal. ”Oppa!”

Sungmin yang sedang duduk di depan komputernya, berbalik dengan wajah masam. ”Apaan sih?! Heboh banget…”

”Oppa, palli! Kita harus menemukan Donghae dan Nara secepatnya!”

”Donghae dan Nara? Mereka kenapa?!”

”Cepat! Nanti kujelaskan dimobil! Darurat ini!”

Sungmin buru-buru mengambil kunci mobilnya dan ikut berlari ke bawah bersama Haejin.

”Hei! Ini anak dua-duaan lari-lari! Heh…” tegur JooEun. ”Mau pada kemana sih? Katanya libur kuliah?”

”Darurat Eomma!” teriak Sungmin dan Haejin kompak keluar dari dalam rumah.

JooEun cuma geleng-geleng. ”Pengaruh Appanya ini…”

Sungmin langsung pasang sabuk pengaman, begitu juga dengan Haejin. Sungmin memutar kunci kontak, dan dengan kecepatan penuh mobilnya berjalan. Haejin menjelaskan informasi yang dia dapat dari Kyuhyun.

”Cari dimana ya kira-kira?” Sungmin berpikir keras, tapi kecepatannya tidak berkurang.

Haejin cemas menatap berkeliling. ”Mungkin belum terlalu jauh dari daerah rumahnya, Oppa.”

 

*SMA Neul Paran*

JeSoo bersandar di kursinya. Badannya masih tidak enak. Tapi tidak terlalu parah seperti kemarin, setidaknya pelajaran hari ini banyak yang masuk ke dalam kepalanya. Kemudian Hyorin duduk di depannya sambil ngedumel.

”Ya! Kau kenapa?” tanya JeSoo pelan.

”Taemin!”

JeSoo tersenyum. ”Kenapa lagi si Taemin?”

”Dia tadi pagi berangkat duluan, dia bilang ’Noona, kau pergi dengan Hyung saja.’ Dan begitu kita mau pulang ini… barusan saja dia mengirim pesan ’Noona, pulang bersama Hyunji Noona naik bus umum saja ya… aku dan Kyorin mau jalan-jalan.’ Nggak sopan banget!”

”Sabar ya…”

Hyorin mendengus. ”Aku harus punya pacar!”

”Eh, mworago?!”

”Ya! Tidak enak melihat orang-orang terdekatmu sudah pada punya pacar!”

JeSoo bingung. ”Memang Hyunji Sunbae dan Jinki Oppa sudah pada punya pacar?”

”Hyunji Onnie dan Jonghyun Sunbae itu pacaran! Ketua dan Sekertaris OSIS! Sama sepertimu dan Minho!”

”Ya!” JeSoo menepuk Hyorin malu. ”Aku dan Minho kan tidak berpacaran…”

”Tapi akan… huh! Kau tidak lihat bagaimana kalian berdua saling memandang penuh damba di bawah pohon kemarin… orang dari radius seratus meter dari situ, sampe pada balik badan!”

”Lebai‼!” wajah JeSoo memerah dan menepuk Hyorin.

Hyorin tersenyum. ”Yah, JeSoo-ya, kurasa Choi Minho itu sebetulnya suka deh padamu.”

”Mwoya??? Dia dingin sekali…”

”Kalau dia dingin, itu memang benar… tapi dia baik sekali padamu, kau pegang nampan, diambil… dia yang bawa. Kemarin kau sakit, dia memberimu obat penambah tenaga.”

”Yah… kalau aku sakit tugas OSIS akan terbengkalai…”

Hyorin menghela napas sambil nyengir jail. ”Kalau begitu kita tunggu saja tanggal mainnya! Choi Minho yang aku kenal dari kelas satu SMA, tidak pernah ramah pada gadis manapun, kecuali kau!”

”Ya! Dingin begitu kau sebut ramah?!”

Bel pulang berbunyi. JeSoo dan Hyorin bersama-sama turun ke bawah, karena waktu pulang sudah tiba. JeSoo sangat bersyukur hari ini tidak ada tugas OSIS yang harus ia kerjakan JeSoo menemani Hyorin ke halte bus, Hyorin menaiki bus terlebih dahulu, karena rumahnya dan rumah JeSoo berbeda jalan utara-selatan. JeSoo duduk di halte dan mengeluarkan ponselnya.

”Apaan?” sahut Haejin dari seberang sana.

”Kok hape Oppa ada di Onnie? Jemput dong, kepalaku pusing nih…” sahut JeSoo.

”Kita lagi jalan berdua, mianhae ya…” dan dengan sopannya Haejin memutuskan sambungan telepon.

JeSoo cemberut lagi. ”Aaah masa naik bus sih? Kepalaku masih sakit nih…” keluhnya.

Sebuah sedan hitam berhenti di depan halte, JeSoo terbelalak. Kayaknya dia kenal sama mobil ini.

Kaca mobil itu turun.

”Naik!” kata orang itu dingin.

”Minho-ssi!”

”Naik, palli!”

JeSoo membuka pintu mobil itu, dan masuk ke dalamnya.

”Pake sabuk!”

JeSoo memakai sabuk pengamannya, kemudian Minho menjalankan mobilnya. Di dalam mobil JeSoo diam, Minho apalagi.

”Masih sakit?” tanya Minho membuka percakapan.

”Sudah mendingan, Minho-ssi…”

Minho mengangguk kemudian mengantar JeSoo tepat sampai di depan gerbang rumahnya. JeSoo terheran-heran bagaimana Minho bisa tau rumahnya, kemudian Minho mengambil sebuah bungkusan dari belakang dan menyerahkannya pada JeSoo sebelum JeSoo turun. Minho kemudian mengangguk, ”Untukmu… ini rumahmu kan?” tanyanya.

JeSoo mengangguk, ”Kamsahamnida, Minho-ssi.” JeSoo keluar dari dalam mobil dan membungkuk.

”Besok kujemput!” dan Minho membawa mobilnya menghilang begitu saja. JeSoo cuma bisa terperangah. Minho itu benar-benar penuh kejutan, apalagi begitu dilihatnya isi bungkusan yang diberikan Minho kepadanya.

Hoodie berwarna peach, JeSoo tersenyum, dan menyadari ada catatan kecil yang diselipkan Minho. JeSoo membukanya, dan membacanya. Pakai! Supaya kau tidak gampang sakit. Minho ^^

JeSoo tersenyum. ”Gomawo, Minho-ya…”

Bersambung

Fotonya nggak aku masukin lagi, karena aku mau ganti poster, hehehe… cuma masih belum sempet bikin, Insya Allah besok sekalian sama Episode 9, udah ada poster baru. Bagimana, bagaimana? Banyak banget yang protes sama begitu menderitanya HaeNara… wkwkwkwk, jujur saja… saya emang kepengen bikin Hae menderita! Dendam karena digerepe-gerepe seksi dancer… #plakk

Perjuangan HaeNara baru akan dimulai. Gitu juga kisah cinta para main cast, RinWon, KyuNara, JinHae, dan JeMin… oiya buat yg penasaran sama siapa Im Seulong… hehehe, nanti pasti akan terungkap siapakah Im Seulong bagi seorang Haeji. gomawo semuanya, saranghae, *hug, deep bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s