When Sunrise Meet Sunset (Episode 7)

Donghae mematikan teleponnya, dan meletakkannya di kursi, kemudian memeluk Nara. ”Nara-ya… uljima! Uljima!”

”Donghae-ah! Otokhe?!” tangis Nara pecah lagi. ”Apa yang harus kita lakukan?! Kita harus hidup dimana?!”

”Gwenchana, gwenchana… semua akan baik-baik saja… aku sudah berjanji pada Ahjumma dan Ahjussi untuk menjagamu, oke?” Donghae berusaha menenangkan Nara yang menangis sedih, meski dia sendiri kalut.

Akhirnya Nara mengangguk, dia berusaha tegar untuk kedua orangtuanya, maka Nara kembali ke kamar dan menangis sendirian di kamar, sambil berdoa. Pasrah, tak ada yang bisa dilakukannya kecuali berdoa memohon pertolongan Tuhan.

 

*Rumah Keluarga Park*

Sesampainya dirumah setelah menginap tiga hari dua malam di rumah Nara, Ririn pulang ke rumah. Setelah menyapa kedua orangtuanya yang sedang karaokean di ruang tamu, Ririn buru-buru naik ke atas, membuka pintu kamar Yoochun sembarangan.

”Ya! Ketuk pintu dulu kek!” seru Yoochun yang sedang berbaring.

”Alhamdulillah… masih sehat ternyata…” Ririn bersandar lega di pintu. Yoochun menatapnya nyureng. Ririn nyengir, dan langsung meloncat ke kasur, dan memeluk Yoochun. ”Micky, I miss you…

Yoochun ganti merinding menatap saudari kembarnya yang memeluknya erat-erat itu. ”Nggak salah makan kan?”

”Yah! Now I miss you so, and you blame me… and if I go to Siwon you will get upset… serba salah deh!”

”Yee gue kan marah sama lo kalo lo bilang si Kuda itu lebih ganteng dari gue!”

”Ya!” teriak Ririn. ”Choi Siwon itu memang lebih tampan daripada dirimu, kenapa kau tidak mau terima sih?!”

”Nggak sudi!”

Ririn berdiri kesal. ”Huh dasar!” Ririn menghentak-hentak keluar dari kamar Yoochun, dalam hatinya sebal sekali. Ngapain kemarin-kemarin dia khawatir banget sama Yoochun? Sementara yang dikhawatirkannya sehat walafiat, bahkan masih bisa ngata-ngatain Siwon.

 

*Rumah Keluarga Kim*

Jaejoong, Junsu, Jonghyun, Key, Wookie, dan Miyoung sedang duduk bersama makan malam. Ini dikarenakan Jaejoong pulang cepat, maka Jonghyun dan Key tidak bisa menolak untuk makan semeja dengan Miyoung. Junsu berkali-kali melirik jamnya. Yoonrae masih belum pulang, ketika dia melirik Miyoung, dilihatnya Miyoung juga sedikit cemas.

Jaejoong melirik Miyoung. ”Miyoung-ah… Yoonrae masih belum pulang?”

”Molla… katanya ada tugas tambahan…”

”Cih! Tugas tambahan apa?” sinis Key. ”Aku dan Yoonrae seangkatan, tidak ada tugas tambahan!”

Miyoung menunduk.

”Mungkin memang ada tugas, atau dia mau belajar kelompok…” bela Wookie baik hati.

”Ah, sudahlah… Wookie-ah…”

Jaejoong melirik Jonghyun dan Key sinis. ”Appa sudah bilang, perlakukan Yoonrae dengan baik, sebagai saudari kalian sendiri! Kalian ini, selalu membuatnya tidak betah dirumah!”

”Dia memang bukan adik kami!” balas Jonghyun.

”Ya! Tutup mulutmu!”

”Aku tidak mau makan lagi!” Key membanting garpunya dan berdiri. ”Appa! Sejak kedatangan mereka ke rumah ini, rumah tidak damai! Kenapa Appa begitu peduli kepada anak itu dibanding kami…”

Jonghyun berdiri, melirik Miyoung sinis. ”Puas kau menghancurkan keluarga kami?” dia dan Key pergi.

”Miyoung-ah… jangan di dengarkan anak-anak itu…” Jaejoong berusaha menenang-kan Miyoung.

Miyoung mengangguk.

Jaejoong mengelus tangannya, Miyoung menghela napas berkali-kali, berusaha menahan tangis, dan kecemasan yang melandanya. Sudah beberapa hari Yoonrae selalu pulang larut. Tidak ada yang tahu kapan dia kembali. Junsu selalu menunggui Yoonrae pulang, dia melihat Yoonrae sampai di rumah, tapi Yoonrae cepat sekali masuk ke kamarnya. Malam ini tidak boleh kelewatan lagi.

Junsu menunggu di pendopo rumah, dia melirik jam tangannya. Sudah pukul dua belas malam, tapi Yoonrae masih belum pulang. Tapi dilihatnya kemudian pintu pagar terbuka, dan masuklah gadis yang ditunggunya itu, Junsu berdiri siaga. Wajah Yoonrae pucat, dia berjalan sempoyongan, ketika Yoonrae limbung dan nyaris jatuh, Junsu berlari secepat kilat, dan langsung menahan badannya.

”Yoonrae-ya?”

Yoonrae antara sadar dan tidak sadar menatap Junsu, dia mau menjawab, tapi rasanya kepalanya berat, dan akhirnya Yoonrae tidak sadarkan diri. Segera Junsu menggendongnya ke dalam kamar Yoonrae, dibaringkannya Yoonrae, dan dilepaskan-nya sepatu Yoonrae. Kemudian Junsu ke kamar mandi, dan mengambil air kompresan, karena suhu tubuh Yoonrae sudah sangat tinggi.

Dikompresnya dahi Yoonrae, wajah pucatnya sungguh membuat Junsu khawatir. Setelah di kompres beberapa saat, Yoonrae sepertinya mulai sadar. Dia terus-terus meracau.

”Yoonrae-ya… Yoonrae-ya…” Junsu menepuk-nepuk pipi Yoonrae.

Yoonrae membuka matanya. ”Oppa…” katanya lemah.

”Syukurlah… badanmu panas, kuambilkan obat dulu ya… kau sudah makan?” tanya Junsu khawatir.

Yoonrae mengangguk. Junsu kemudian keluar mengambil obat demam, dan mem-berikannya kepada Yoonrae. Junsu menyuapkan pil penurun demam dan membantu Yoonrae meminum air putihnya, kemudian langsung berbaring lagi. ”Gomawo Oppa…”

”Boleh aku bertanya kau kemana saja beberapa malam ini?” tanya Junsu setelah meletakkan gelasnya di meja kecil di sebelah tempat tidur Yoonrae.

Yoonrae hanya diam.

”Yoonrae-ya…” panggil Junsu. ”Ara… kalau kau memang mau tidur, tapi aku berharap kau bisa bilang padaku kau pergi kemana.” Junsu mengelus kepala Yoonrae perlahan, lalu beranjak keluar dari kamarnya.

Baru saja Junsu hendak meraih gagang pintu.

”Kenapa Oppa peduli?” tanya Yoonrae lirih. Junsu langsung menoleh, Yoonrae masih memejamkan matanya. ”Kenapa Oppa peduli? Kenapa Oppa tidak seperti Jonghyun dan Key?”

Junsu menghela napas. ”Karena aku sayang padamu…”

Dan Junsu keluar dari kamar Yoonrae, menutup pintunya. Yoonrae menangis sendirian. ”Nado, Oppa…”

 

*Shin Corp*

”Rencanamu bersih!”

”Iya dong Hyung, siapa dulu? Yunho…” Yunho duduk bersila. ”Aku sudah bilang pada Hyung, investasi Hyung padaku itu tidak mungkin sia-sia. Sekarang terbukti kan? Hyung sekarang dapat modal 2x lipat, dan aku dapat K2 Enterpraise.”

Shindong terkekeh-kekeh di balik meja kerjanya. ”Ne, ne, aku percaya padamu. Memang sudah ada buktinya sekarang. Kau boleh mulai menjalankan K2 Enterpraise besok… dokumen-dokumen penyerahannya sudah aku terima pagi ini. Dan oh ya, satu lagi… kau dapat rumah baru, rumah keluarga Kwan itu.”

”Jinjayo? Ah gomawo Hyung…”

”Yee… itu juga semua berkat bantuanmu…” Shindong kembali tertawa. ”Jadi apa rencanamu berikutnya, Yunho-ya?”

Yunho memberikan seringai mautny. ”Kim Corp…”

 

*Esoknya, Universitas Neul Paran*

Sungmin memarkir mobilnya di dekat Sekre Himahi, Haejin keluar dari dalam mobil dan memandangi ponselnya, sampai tidak sadar, dan tertabrak pintu mobil yang terbuka.

”Matanya di dengkul ya?” ledek Sungmin.

”Aish!” Haejin membanting pintu mobil, dan kembali ber-sms ria, dengan ponsel pink-nya. ”Oppa… aku ke Himti dulu ya sebentar, ada urusan.”

”Heh, Im Seulong itu ya?! Ya, Lee Haejin! Beritahu padaku siapa Im Seulong itu?! Yaaaa‼!”

Haejin sudah keburu menghilang.

”Hai!” Changmin muncul. ”Adikmu udah ilang aja, mau kemana dia? Ada kuliah tambahan pagi in?”

”Im Seulong!” sahut Sungmin.

Changmin geleng-geleng. ”Kibum-ah! Annyeong…”

”Hai…” Kibum tersenyum kecil setelah mengunci mobilnya, lalu dia melangkah santai menuju kedua sahabatnya.

Mereka bertiga duduk-duduk di bangku dekat situ, sambil menunggu kedatangan Donghae. Tapi hingga lima menit lagi kuliah masuk, Donghae belum tampak.

”Mungkin udah ke kelas kali…” usul Changmin.

”Tapi dia kan biasanya parkir disini…” kata Sungmin.

Kibum mengangkat bahu. ”Ya udahlah, udah mau telat. Mungkin Donghae terlambat kali.”

Mereka berempat masuk ke dalam kelas, di dalam kelas mahasiswa-mahasiswi lain sudah lumayan ramai. Tapi tidak ada sosok Donghae, ketiganya duduk dengan heran. Changmin mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Donghae, tapi ponsel Donghae tidak aktif.

 

*Angkatan Dua*

Soeyoung, Jinki, Junsu, Yoochun, Ririn, dan Siwon sudah masuk ke dalam kelas. Kuliah sudah dimulai sekitar lima belas menit, barulah si Bola-Bekel-Jam-Karet Haejin tiba. Haejin duduk di sebelah Soeyoung.

”Aduuuuh, untung masih sempet… udah di absen belum?” tanyanya.

Soeyoung menggeleng.

”Aku selalu terakhir…” keluhnya.

”Eh!” Ririn menggeplak kepala Haejin dari belakang. ”Aku lihat kau tadi di Himti, kau sudah sampai dari tadi kan?! Apa yang kau lakukan di Himti? Sama si Im Seulong itu ya?!”

Haejin mendesis. ”Aku ada urusan disana!”

”Iya dengan Im Seulong… ckckckck…” sekarang Yoochun ikut-ikutan. ”Haejin-ah, Haejin-ah… pantas saja kau selalu menolakku. Sudah ada namja bernama Im Seulong yang merebut hatimu ternyata?!”

”Aigo, Yoochun-ah! Bahasamu jijay!” Haejin memukul Yoochun.

”Jadi selama ini terlambat karena ke Himti? Aigo, aigo…” Junsu geleng-geleng.

Haejin menutup telinganya dengan kedua tangannya. ”Eh…” dia memandang ke kanan dan ke kiri. ”Nara mana?”

”Ah! Kabur melulu nih dari pertanyaan!” kata Ririn kesal.

”Ye! Serius… Nara mana?”

”Iya ya… Nara belum dateng…”

”Oh iya, hari ini kita mulai jualannya, kemarin kan karena ada hal tak terduga…” kata Jinki.

Semua mengangguk. Begitu jam kuliah pertama, yakni Bahasa Inggris selesai, angkatan dua langsung pindah gedung ke gedung belakang, untuk kuliah Aplikasi Komputer. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Kibum, Changmin, dan Sungmin.

”Donghae Sunbae juga nggak ada?” tanya Haejin cemas. ”Jangan-jangan ada apa-apa nih…”

”Ada apa-apa gimana?” tanya Ririn ikut khawatir. ”Jangan nakut-nakutin dong… maksudmu mereka bunuh diri berdua gitu?”

”ANDWE!” sahut Kyuhyun keras. Dia langsung ingat ketika Nara nyaris bunuh diri kemarin. Penyangkalannya cukup kencang, sehingga Ririn, Soeyoung, Haejin, Yoochun, Jinki, Junsu, dan Siwon menoleh padanya. ”Ah… maksudku, Ririn-ah, kau tidak boleh bicara hal seperti itu!”

”Dia benar, Ririn-ah…” Siwon mengangguk setuju.

Yoochun melotot, tapi kemudian melirik Ririn. ”Tapi bener juga Ririn-ah…”

”Eh, hai…” Changmin menoleh dan melihat rombongan hoobae-nya. ”Lho, Nara nggak masuk?”

”Donghae Sunbae juga nggak ada ya?” tanya Haejin.

Sungmin dan Changmin saling pandang. Kayaknya ada yang nggak beres disini.

”Hape-nya nggak aktif…” sahut Kibum cemas. ”Nara juga nggak kasih kabar sama sekali ke kalian?”

”Nggak…” semua menggeleng.

Jinki mengeluarkan ponselnya menghubungi Nara, sementara Changmin juga mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Donghae. Yoochun melirik jam tangannya. ”Eh, kita udah telat sepuluh menit lho!”

”Alaaaah gaya lo! Biasanya juga bolos!” sahut Junsu.

Yoochun menggeplak kepala Junsu. ”Gue kan cuma ngingetin!” tapi tak ada yang peduli dengan mereka berdua. Pikiran semuanya sedang melayang ke sahabat masing-masing.

”Telepon rumahnya diblokir?!” Changmin tercengang setelah dia mencoba menghubungi rumah keluarga Kwan. ”Sungmin-ah, aku rasa benar-benar ada yang tidak beres dengan rumah Donghae!  Kita harus cari tau.”

”Mau bagaimana lagi, sekarang kita tunggu kabar dulu dari mereka berdua. Kita juga punya tugas. Kalau sampai nanti malam masih belum ada kabar… baru kita cari mereka, gimana?” usul Sungmin.

 

*SMA Neul Paran*

Bel tanda pulang berbunyi, segera saja seluruh pengurus OSIS kembali di panggil oleh pengeras suara. Sebetulnya hari ini JeSoo sedang tidak enak badan, mungkin karena terlalu banyak bekerja selama bulan puasa. Karena sebagai sekertaris OSIS, JeSoo dituntut harus membuat proposal dan mendesain proposal semenarik mungkin agar dana yang diminta tembus.

JeSoo sebetulnya tidak biasa begadang, maka dari itu, setelah beberapa hari kemarin nekat tidak tidur demi membuat proposal bakti sosial, maka akhirnya kesehatan JeSoo menurun. Meski semalam Appanya sudah memaksanya minum madu, tetap saja sekarang dia sudah benar-benar tepar. Hyorin khawatir melihat JeSoo hari ini yang sama sekali tidak bersemangat. JeSoo tidak melamun dan senyam-senyum seperti biasanya, tapi hanya membaringkan kepalanya di atas meja, dan wajahnya mulai terlihat pucat. Tapi begitu bel, JeSoo berdiri dan membereskan barang-barangnya.

”Ayo, kau kenapa masih duduk?” tanyanya pada Hyorin.

Hyorin menatap JeSoo. ”Gwenchana? Kau tidak enak badan kan… lesu sekali hari ini.”

”Aniyo… gwenchana, kurang tidur!” JeSoo merangkul Hyorin keluar dari dalam kelas.

Seperti biasa mereka menemui Minho di pelataran parkir SMA Neul Paran, ternyata semua sudah berangkat. Minho berbalik dan melihat Hyorin serta JeSoo mendekat. Minho berkata. ”Lama sekali!”

”Ya!” protes Hyorin, tapi JeSoo menahannya.

Minho kemudian melihat wajah JeSoo yang tidak bercahaya, ”Apa yang terjadi? Kau sakit, JeSoo-ssi?”

”Animida…” JeSoo menggeleng. ”Palli! Kita masih harus membuat patbingsoo…”

Akhirnya mereka pergi ke Universitas Neul Paran. Sesampainya disana, Changmin dan Haejin sudah selesai berbelanja.

”JeSoo-ya?” Haejin menghampiri adiknya yang lemas saat membuat patbingsoo di lantai seperti kemarin. ”Panasmu belum turun?” dia meraba kening JeSoo. ”Sudah minum madu tadi?”

”Aaah, paling cuma radang…” jawab JeSoo santai.

Dilihatnya Minho sedang menatapnya, tapi JeSoo memaksakan diri tersenyum dan terus membuat patbingsoo. ”Oh iya, Onnie… Nara Onnie dan Donghae Oppa kemana? Aku tidak melihat mereka… apa mereka masih ada pekerjaan untuk membereskan masalah?”

”Molla… setahuku tak ada. Ya sudah, tapi kalau capek jangan ikut jualan! Dimarahin Oppa nanti!”

”Gwenchana, Onnie!”

Haejin duduk lagi di sebelah Changmin dan mulai menyerut es batu perlahan-lahan. Sesekali melirik ponselnya yang dia geletakkan di lantai sebelahnya.

”Nunggu sms siapa sih?” tanya Changmin.

”Nara…” jawab Haejin cemas. ”Smsnya masih pending daritadi, dia nggak ngaktifin ponselnya, Sunbae.”

Changmin menghela napas. ”Donghae juga.”

”Mereka kenapa ya?” Haejin mengangkat jarinya yang terpasang plester chibi Chansung 2PM yang dibalutkan oleh Donghae.

Changmin memandang Haejin yang sedang memerhatikan plesternya dengan seksama. ”Itu jarinya kenapa?”

”Kena pecahan kaca… Sunbae lupa?”

Changmin mengangguk-angguk, ”Ah waktu itu Donghae… Ya Tuhan!” Changmin menepuk kepalanya.

”Kenapa Sunbae?”

”Bingkainya yang pecah itu kan bingkai foto keluarganya, dan itu sorenya kita tahu kalau orangtua Donghae dan Nara meninggal.”

Haejin manggut-manggut. ”Ah iya ya, Sunbae…” Haejin terdiam, lagi-lagi diliriknya plester chibi Chansung yang melekat di jari telunjuknya. Dia ingat pria yang dipeluknya, juga Nara. Kenapa mereka tidak masuk hari ini? Padahal ketika mereka berpamitan kepada Donghae dan Nara kemarin, keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda apa-apa, maupun rencana pergi. Apa Donghae dan Nara pergi, seperti drama-drama kebanyakan?

Tapi Nara bukan tipe wanita seperti drama-drama kebanyakan. Haejin diam lagi, dan menghela napas. Haejin menyeka poninya yang menutupi mata, ketika tangannya sedang memegang sirup cocopandan. Changmin geleng-geleng, dan mendekatkan badannya, lalu menghapus sisa sirup di dahi Haejin.

”Ya!” kata Sungmin sambil berkacak pinggang di depan keduanya. ”Shin Changmin! Lee Haejin! Kalian ini deket-deket melulu deh… Haejin-ah… kau kan sudah punya Im Seulong!”

Haejin mendongak. ”Oppa lebai! Sunbae cuma mengelap bekas sirup di dahiku! Lagipula aku dan Changmin Sunbae kan ditugaskan bareng! Yang menugaskan kami siapa? Oppa kan!”

”Lagian kenapa sih kalau aku mau mendekati adikmu, ha?!” tanya Changmin sambil mengedip.

”Sunbae!” Haejin menggetok bahu Changmin.

Sungmin geleng-geleng. ”Aigooo… Im Seulong, sekarang Shin Changmin! Aigoooo, Haejin-ah!”

Haejin mendelik.

Sementara itu Ririn sebal sekali hari ini, Yoochun seperti biasa mengekorinya. Maka sekarang dia sekelompok dengan Yoochun dan Junsu, sementara Siwon bersama Jinki dan Kyuhyun.

”Nanti dulu, aku cek dulu ada racunnya nggak…” dan dengan tak tahu malunya, Yoochun meminum segelas patbingsoo.

Ririn dan Junsu cuma bisa pasrah melihat kelakuan Yoochun.

”Kau ini! Aku dan Ririn kan puasa… hormati dikit kek!” kata Junsu sambil menyikut Yoochun.

”Eh, puasa itu ibadah Tuhan sama umatnya langsung. Kalo lo tahan iman, pasti lo sanggup ngejalaninnya… yang penting niat!” kata Yoochun sambil meminum habis-habis gelas tersebut.

Ririn dengan gemas melemparinya dengan botol kosong. ”Ya! Jaga bicaramu barusan! Sudah tau puasa ibadah langsung sama Tuhan, kenapa kau tidak puasa?!”

”Aigooo… agamaku kan netral, kemana aja ngikut!”

”Ya! Park Yoochun, diazab kau nanti!”

Sementara di sudut, Siwon, Jinki, dan Kyuhyun membuat patbingsoo dalam diam. Siwon ingin membuka percakapan, namun menatap wajah Jinki dan Kyuhyun, terlebih Kyuhyun yang kuyu, membuatnya kembali mengunci rapat-rapat mulutnya.

Akhirnya setelah selesai membuat patbingsoo, sekitar pukul empat mereka berangkat ke lokasi yang sudah dipilihkan oleh Donghae. Sebelumnya didekat lampu merah tersebut, ada sebuah taman kecil, yang mereka gunakan untuk menjadi basecamp, atau tempat berkumpulnya mereka.

”Oke, kalau begitu… orangnya hari ini ada…” Sungmin menghitung. ”Dua puluh, dan gelas yang mau kita jual, seratus. Soeyoung-ah, kau disini jaga… siapa tau nanti ada yang dagangannya habis dan ingin ambil stok lagi.” Akhirnya mereka dibagi menjadi lima kelompok.

JeSoo menerima nampan berisi patbingsoonya kemudian dia bersama Minho dan Hyorin, yang satu kelompok berjualan akan bergerak ke titik yang dirasa pas untuk menjual patbingsoo.

”Gwenchanayo?” tanya Hyorin lagi.

JeSoo mengangguk, tapi Minho kemudian mengambil nampan berisi patbingsoo itu. ”Aku yang pegang! Kalian jalan di depan!” perintahnya. JeSoo tersenyum dan berjalan sambil menggandeng Hyorin.

Akhirnya petang pun tiba, yang masih berjualan kembali ke taman tadi, membawa sisa patbingsoo yang belum terjual. Setelah itu mereka duduk dan buka puasa bersama-sama.

JeSoo duduk di salah satu undakan pohon, dia lelah sekali, tapi dia senang hari ini dapat berjualan bersama Minho. Di tambah lagi, Minho tadi yang memegang nampan berat, tapi masih bisa melindungi dirinya dan Hyorin, seperti ketika menyebrang, atau ketika menawarkan patbingsoo. Hyorin sekarang sedang setor uang ke Soeyoung, JeSoo membuka tutup patbingsoonya, ketika Minho duduk disebelahnya, mengambil gelas patbingsoonya.

”Minho-ssi… aku belum buka puasa…”

”Kau sedang sakit, minum ini saja…” Minho mengulurkan minuman penambah tenaga hangat, yang pasti baru saja dibelinya. ”Patbingsoo kan dingin, biar aku yang minum.”

Wajah JeSoo bersemu merah, dan mengambil gelas hangat itu. Minho baik sekali… >///////<

”Kamsahamnida, Minho-ssi.”

”Cheonmane…” Minho menenggak patbingsoonya.

JeSoo meminum minuman yang dibeli Minho dan merasa badannya lebih segar. Entah ini sugesti atau apa. Sementara Hyorin yang baru saja mau duduk di sebelah JeSoo, namun melihat sahabatnya sedang senyum-senyum sendiri, urung kesana, hingga menghampiri kakaknya sendiri, Jinki.

JeSoo minum dalam diam, begitu juga Minho, tapi perasaan JeSoo menghangat sekali. Haejin melihat adiknya, tersenyum. ”Aigoooo! Dia sudah akan punya pacar sebentar lagi… ckckckck, aku kalah… mana pacarnya ganteng banget lagi.” Haejin geleng-geleng sambil meminum patbingsoonya.

”Aduh sudah malam! Aku mau pulang… Ririn-ah, ayo pulang!” kata Yoochun pada Ririn.

”Shiro! Aku belum mau pulang… kau lebai sekali jam segini sudah minta pulang! Biasanya kalau tidak dicari Eomma kau tidak akan pulang!”

Yoochun berkata. ”Ya, Minnie! Kau ini tidak pernah menurut padaku ya… aku kan kakakmu!”

”Eeh, usia kita cuma beda lima belas menit, plis deh!”

Yoochun mendelik. ”Ayo pulang sekarang!”

Ririn memberengut. ”Ara… ara… Sungmin Sunbae, aku duluan ya… Haejin-ah, Soeyoung-ah, kalau ada kabar mengenai Nara jangan lupa beritahu aku ya. Kabar apa pun!” lalu Ririn melirik Siwon. Siwon tersenyum, dan dengan tangannya dia membentuk hati.

”Saranghae…” ucap Ririn tanpa keluar suara, jangan sampai Yoochun dengar.

”Nado…” Siwon mengangguk.

JeSoo kemudian bersandar ke pohon, kepalanya masih pusing. Minho menoleh dan melihat JeSoo berusaha tidur.

”JeSoo-ssi, joesohamnida…”

JeSoo membuka matanya. ”Ne?”

”Joesohamnida…” Minho mengangguk. ”Mungkin selama ini aku terlalu keras. Kau kan perempuan, kau pasti butuh istirahat. Aku terlalu menekanmu dengan tugas-tugas OSIS.”

”Ah, aniyaaaa… gwenchana, aku memang sedang tidak enak badan…” sahut JeSoo lembut.

Minho tersenyum. Aigo! Ini pertama kalinya Minho tersenyum langsung padanya, pada JeSoo, untuk JeSoo. Nyaris saja aliran darahnya berhenti saking senang dan melelehnya menatap senyum Minho.

”Aku memang tepat memperjuangkanmu menjadi sekertaris… jadilah partnerku terus ya…”

Kalimat itu digantung, entah apa artinya, tapi JeSoo sudah cukup bahagia untuk tetap mengangguk. Partner apa pun asal bersama Minho, JeSoo rela. Minho mengelus kepalanya pelan, kemudian berdiri dan meninggalkan JeSoo.

 

*Rumah Keluarga Kwan*

 

Seharian ini Donghae dan Nara bolak-balik ke beberapa Bank, bursa efek Seoul, kantor pengacara, dan ke kantor K2 Enterpraise. Mereka harus berpencar untuk mencari dana-dana sisa. Nara yang lebih dulu kembali ke rumah, dia duduk di sofa, kelelahan, dadanya sesak. Segala usahanya tidak ada hasilnya. Seluruh deposito dan surat-surat berharga milik kedua orangtuanya sudah di alihkan. Begitu Nara ke kantor pengacara, pengacara pribadi keluarga juga menyatakan kalau memang itu konsekuensi dari kegagalan tender di Jepang ini.

”Eomma… Appa… eotokhe?” Nara menangis kembali. Cobaan ini berat sekali? Kenapa setelah kedua orangtuanya dipanggil, masih ada yang harus mereka hadapi lagi.

Suara kerikil yang berderak diluar, menandakan mobil Donghae yang baru saja tiba. Nara mengusap kedua air matanya, dan langsung berlari ke arah pintu. Donghae berjalan dengan langkah berat.

”Hae-ah, othe?” tanya Nara lirih.

Donghae menghela napas, lalu menggeleng. ”Saham-saham itu memang dijual oleh Ahjumma dan Ahjussi. Dan mulai besok, akan ada direktur baru yang memegang K2 Enterpraise.”

”Mwo?!” pekik Nara. ”Hae! Itu perusahaan yang dibangun Eomma dan Appa dari masih sedikit hingga sekarang…”

”Ne, arasseo… aku juga tahu…” Donghae menghela napas, dia sendiri ketakutan.

”Kita harus pertahankan perusahaan Appa dan Eomma!”

”Nara…” kata Donghae sabar, dan membawa Nara duduk. ”Aku juga maunya seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak memungkinkan, saham kita sudah tidak ada. Sekarang kutanya, apakah deposito Eomma dan Appa masih ada?”

Nara menggeleng. Air mata sudah menggenang lagi. ”Hae otokhe?” Nara tak bisa menahan tangisnya.

”Tuan Muda, Nona…”

Donghae dan Nara menoleh. Seorang pelayan muncul dengan wajah cemas dan terlihat ketakutan. ”Maaf, Tuan Muda… Nona… ini ada surat.”

Donghae mengambil surat tersebut, dan membukanya. Nara yang firasatnya sudah buruk, memejamkan matanya menunggu Donghae memberinya kabar buruk lainnya. Donghae menghela napas. ”Kamsahamnida, Immonim…”

”Apa lagi yang diambil dari kita, Hae?” tanya Nara sambil menutup wajahnya.

Donghae menjawab muram. ”Rumah.”

”Mwo?!” Nara menangis tersedu-sedu lagi. ”Donghae-ah, eotokhe? Kita tinggal dimana sekarang?”

Donghae pun akhirnya tidak bisa menahan aliran air matanya lagi, cobaan demi cobaan menimpa mereka. Tapi Donghae sudah berjanji pada Ahjumma dan Ahjussinya untuk melindungi Nara, hingga dia menemukan orang yang dapat menggantikannya melindungi Nara.

”Nara-ya… kau masih punya tabungan? Kita kumpulkan uang tabungan kita, lalu kita cari rumah yang kecil, yang bisa untuk kita tinggali berdua.” Usul Donghae.

Nara kemudian mengecek saldonya, begitu juga Donghae. Yang terjadi adalah diluar dugaan mereka. Saldo mereka kosong.

Bersambung

haiiii… alhamdulillah selesai part 7, sengaja aku bikin panjang karena kemaren gak publish. semoga semua terhibur. bagaimana? makin lebai? Mian ya kalo mengecewakan… Insya Allah episode 8 besok publish pada jam yang sama…

Dan saya mau mengucapkan SAENGILCHUKAE INDONESIA!!! hehehehe… FF Korea citarasa Indonesia!!! Kamsahamnida, saranghae, *hug, deep bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s