When Sunrise Meet Sunset (Episode 6)

Sungmin, Jinki, dan Changmin sudah berjongkok di sebelah Donghae, berusaha menyadarkannya.

”Donghae-ah! Donghae-ah!” Changmin menepuk pipi Donghae. ”Lee Donghae! Apa yang terjadi?”

Sungmin menatap Haejin yang tergugu dengan ponsel Donghae di genggamannya. Haejin juga menangis. Sungmin berdiri dan menghampiri adiknya, ”Gwenchana? Apa yang terjadi? Siapa yang menelepon Donghae?”

”Oppa… orang tua Nara dan Donghae Sunbae meninggal karena arus listrik di dalam lift.” Ucap Haejin sambil menangis. ”Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa mengata-kannya pada Nara…”

Sungmin memeluk adiknya. ”Sudah, sudah… Changmin, kita sebaiknya ke rumah Donghae sekarang. Jinki, kau telepon mobil lainnya, kita batal jualan hari ini. Jangan beritahu Nara dulu kabar ini, nanti biar Donghae yang beritahu Nara.”

”Iya… kau bantu aku bawa Donghae…” Changmin dan Sungmin akhirnya memapah Donghae, yang mulai sadar masuk ke dalam mobil, di kursi tengah. Jinki dan Soeyoung ke belakang. Changmin duduk di depan di sebelah Sungmin, Haejin duduk di tengah, masih mau nangis. Dia kasiah kepada Nara, Haejin sangat dekat dengan kedua orang tuanya, sama seperti Nara, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Nara nanti.

Sesampainya di rumah keluarga Kwan, masih sepi dan lengang. Changmin membawa Donghae ke kamarnya. Kemudian mobil Kibum tiba, Nara, Kyuhyun, Siwon, dan Ririn muncul, wajah semuanya kebingungan.

Nara memasuki pintu rumahnya, melihat Jinki dan Sungmin mondar-mandir sambil menelepon. Soeyoung dan Haejin yang wajahnya murung.

”Ada apa? Kok nggak jadi jualan?” tanya Kibum pada adiknya.

Soeyoung cuma menunjuk ke Sungmin.

”Haejin-ah, waekeurae? Ada apa? Kenapa jadi malah ke rumahku?” tanya Nara heran. ”Donghae mana?” tapi melihat wajah Haejin dan Soeyoung yang sedih, Nara malah menyangka sesuatu terjadi pada Donghae.

”Donghae kenapa?!” tanyanya panik.

”Donghae tadi pingsan,” jawab Haejin tanpa berani memandang mata Nara. ”Sekarang lagi di kamar sama Changmin Sunbae.”

Nara mengernyit. ”Nggak biasanya Hae pingsan…”

Sungmin kemudian muncul setelah selesai menelepon. ”Nara…”

”Donghae kenapa?” tanya Nara cemas.

Changmin muncul dari tangga. ”Nara… Donghae mau bicara denganmu.” Changmin kemudian turun, Nara naik ke atas.

”Sebetulnya ada apa?” tanya Kibum pada kedua temannya.

”Orang tua Nara dan Donghae meninggal, karena arus pendek listrik di dalam lift yang mereka naiki.” Jawab Sungmin. Ririn, Siwon, dan Kyuhyun terkejut. Baru saja mereka hendak bertanya, terdengar teriakan dari atas. Nara pasti sudah tahu kalau orang tuanya sudah meninggal.

Berhubung suara-suara di atas semakin memanas, mereka tidak bisa tinggal diam lagi, mereka semua ikut naik ke atas. Pintu kamar Donghae terbuka, Donghae duduk di pinggir kasur, sementara Nara jerit-jerit merapat ke dinding. Melihat keadaan Nara, sungguh sangat menyedihkan. Nara berulangkali memanggil kedua orang tuanya, Haejin menangis melihat pemandangan tersebut. Begitu juga Soeyoung dan Ririn. Sementara Donghae diam, mematung.

Akhirnya sahabat-sahabat Donghae dan Nara-lah yang mengurus kepulangan jenazah kedua orang tua Nara dan Donghae. Bahkan anak-anak SMA itu pun ikut membantu. Jenazah kedua orang tua Nara dan Donghae tiba keesokan paginya, di dalam peti, begitu peti dibuka, Nara mulai menjerit-jerit lagi. Hingga akhirnya kehilangan kesadarannya, Nara ditemani Ririn, Soeyoung, dan Haejin, disuruh beristirahat di kamar lagi.

Donghae merasa, sebagai kakak dari Nara, dia yang harus tegar. Akhirnya kedua orang tua Nara dan Donghae di makamkan.

 

*Kamar Nara*

Nara duduk bersila di ranjangnya, satu persatu album foto dia buka, dan dia lihat. Kemudian foto paling besar, yang diambil beberapa minggu yang lalu. Youngwoon, Kheynie, Donghae, dan Nara. Keempatnya tersenyum bahagia di sebuah taman hiburan. Nara menangis sesenggukan, dan berbaring dengan memeluk foto tersebut.

”Appa…” tangisnya. ”Eomma… jangan tinggalkan aku…” sedunya. ”Appa, Eomma… aku belum jadi anak baik. Aku belum membahagiakan Appa dan Eomma… aku belum memenuhi keinginan Appa dan Eomma…”

Sementara di bawah, setelah acara pengajian selesai, Kibum, Changmin, Sungmin, Siwon, Jinki, Ririn, Haejin, Soeyoung, dan Kyuhyun duduk di sofa. Mereka memejamkan mata mereka sejenak. Sudah dua malam mereka menginap di rumah Nara dan Donghae, untuk membantu mereka mengurus perihal kematian kedua orang tua mereka.

Nara duduk lagi, dengan tangis deras dia memeluk foto. Ketika dia menatap ke balkon kamarnya, dia melihat Kheynie dan Youngwoon, keduanya tersenyum, memakai baju koko putih dan gamis putih, wajah keduanya damai. Nara mengerjapkan matanya beberapa kali. ”Eomma… Appa…” perlahan Nara meletakkan album fotonya di kasur. Kemudian turun dari kasurnya, dan perlahan mendekati beranda kamarnya, tangannya terulur ke depan.

”Eomma… Appa…” bisiknya. ”Jangan tinggalkan aku lagi…” Nara semakin melangkah ke depan. Nara memejamkan matanya, dan merasakan kebebasan, dia merasakan udara dingin.

GREB.

”KWAN NARA! APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Nara membuka matanya, dia terjatuh kebelakang, dengan sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. ”Kau ini bodoh ya?! Jangan pernah berpikir untuk mengambil jalan pintas seperti itu!” bentak orang yang di belakangnya ini. Nara menoleh ke belakang.

Cho Kyuhyun terengah-engah. Nara menangis tersedu, ”Aku tidak bisa hidup tanpa kedua orang tuaku, Kyuhyun-ah… aku takut! Aku akan bagaimana sehabis ini?!” katanya histeris.

Kyuhyun memeluknya, dan menepuk-nepuk bahunya. ”Nara-ya… kau masih punya kakak yang baik dan perhatian seperti Donghae Sunbae. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi!”

Nara terisak-isak di bahu Kyuhyun. Donghae yang hendak mengecek keadaan Nara, begitu melihat pintu kamar adiknya terbuka, langsung masuk begitu saja, dia berhenti ketika melihat Kyuhyun yang duduk di bawah, sambil memeluk Nara yang menangis tersedu-sedu. Donghae tersenyum kecil, ”Ahjumma… Ahjussi… mungkin tidak perlu waktu lama untuk mencari pria yang dapat menjaga Nara.” Dan Donghae tersenyum lagi, keluar dari dalam kamar Nara dan menutup pintunya.

Ketika menginjak pukul sebelas, Nara tertidur di pelukan Kyuhyun, Kyuhyun menggendongnya, dan membaringkannya di kasur, lalu menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu Kyuhyun mematikan lampu dan keluar dari kamar.

Malamnya, semua sudah tidur. Kibum, Changmin, dan Sungmin satu kamar di salah satu kamar tamu. Jinki, Siwon, dan Kyuhyun di kamar tamu lainnya. Begitu juga dengan Ririn, Soeyoung, dan Haejin. Rumah megah itu sudah sepi, Donghae masih belum tidur. Berulang kali dia mengecek Nara, yang ternyata sudah tidur pulas. Setelah itu dia sendiri duduk di teras, dimatikannya lampu teras, dan dia melamun disitu.

”Sunbae?”

Donghae mendongak, dan melihat Haejin muncul di pintu, memakai kaus, celana piyama, dan sandal bulu. ”Ya Haejin-ah… kau sedang apa malam-malam begini keluar? Bukankah kau sudah tidur?”

”Aku haus…” Haejin malah maju dan menghampiri Donghae, lalu duduk di depan Donghae. ”Sunbae gwenchana?”

”Gwenchana.” Sahut Donghae datar.

Haejin mencoba menatap mata Donghae, tapi Donghae seperti menghindari tatapan Haejin. Haejin cuma tersenyum. ”Sunbae pasti masih mau sendirian… kalau begitu aku tidur lagi, Sunbae juga jangan tidur malam-malam, nanti Sunbae sakit.” Haejin berdiri lagi. Tapi Donghae menariknya, hingga jatuh terduduk ke kursi di sebelah Donghae.

Air mata Donghae jatuh, dia menangis. Haejin jadi panik, dia tidak pernah melihat pria manapun menangis, kecuali Sungmin, itu juga waktu masih kecil. Sekarang Donghae menangis. Dengan gemetar Haejin mengulurkan tangannya ke depan, dan menepuk-nepuk bahu Donghae pelan dan canggung.

”Apa aku itu sial ya?” tanyanya sedih.

”Mwo? Kenapa Sunbae bicara begitu?”

”Orang tua yang tidak menginginkanku… ketika akhirnya aku punya orang tua… mereka diambil dariku…”

Haejin jadi mau nangis. ”Sunbae… kenapa Sunbae bicara begitu? Itu tidak benar Sunbae… ini semua kan takdir?”

”Apa aku tidak pernah bisa menjaga orang-orang yang kusayangi?”

”Sunbae…”

Donghae terus menangis. Haejin jadi ikut menangis diam-diam, sambil menepuk-nepuk punggung Donghae. ”Sunbae… ikhlaskan saja, semua pasti ada maksudnya. Sunbae nggak boleh ngomong begitu…” Haejin menepuk-nepuk lagi dengan canggung. Donghae menjatuhkan kepalanya di bahu Haejin, Haejin kaget, tapi karena kasihan dia tidak berbuat apa-apa, hanya diam.

Donghae terus menangis di bahu Haejin. Haejin awalnya cuma menepuk bahunya saja, tapi kemudian dia sadar, seorang pria yang menangis, berarti beban yang dialami pria itu berat, Haejin mengulurkan tangannya dan memeluk Donghae erat, sambil ikut menangis. Tanpa disadarinya, suara isak Donghae perlahan menghilang, begitu Haejin menunduk melihat wajahnya, Donghae sudah tertidur, wajahnya damai. Maka Haejin meletakkan kepalanya sendiri di atas kepala Donghae, dan ikut tertidur.

Sementara Nara terbangun, dan melihat bahwa dirinya sudah berbaring di kasur, dan diselimuti. Dia tersenyum, dalam hatinya dia sungguh bersyukur Kyuhyun mengingatkannya tadi untuk tidak berbuat bodoh, Nara keluar mencari Donghae tapi tidak ditemukannya di kamarnya, tapi begitu pintu depan terbuka, Nara keluar. Mendapati kakak angkatnya itu sedang tidur di pelukan Haejin, yang juga pulas sambil memeluk Donghae.

Nara tertawa kecil melihatnya. ”Ckckckck…” dia geleng-geleng dan mengambil selimut dari kamar tamu, lalu pelan-pelan menyelimuti tubuh Haejin yang memeluk Donghae erat. ”Yah! Lee Haejin, kau harus jaga Hae dengan baik!” kemudian Nara masuk ke dalam lagi.

Beberapa jam kemudian, Donghae terbangun. Perasaan cemas yang dia alami menghilang begitu saja, dia merasa tenang dan damai, Donghae mengerjapkan matanya dan merasa seseorang masih memeluknya, Donghae mendongak, dan melihat Haejin yang masih tertidur.

”Gomawo… gomawo…” bisik Donghae sambil tersenyum.

*Sahur Time*

Donghae masih diam di posisinya, dia tidak bergerak meski sudah terbangun, karena Haejin masih tertidur. Tapi karena ini sudah jam tiga pagi, Donghae takut Sungmin melihat adiknya tidur diluar, dan dia yang akan dimarahi, maka pelan-pelan Donghae melepaskan pelukan Haejin, dan menggendong Haejin ke dalam, membaringkannya di sofa, kemudian menyelimutinya.

Donghae meminta pelayan di rumahnya untuk menyiapkan makanan sahur. Setelah itu dia membangunkan teman-temannya satu persatu. Mereka makan sahur bersama, suasana agak sedikit sunyi. Donghae memerhatikan Nara, yang wajahnya sudah agak berwarna, tapi tidak ada sepatah katapun yang terucap untuk Kyuhyun. Padahal keduanya biasanya tidak pernah berhenti ngobrol. Kyuhyun juga jadi diam saja menikmati makanannya. Donghae tersenyum melihat adiknya itu, geleng-geleng sambil kemudian menatap Haejin yang mengantuk-ngantuk menghadapi makanan sahurnya, wajah Donghae memerah ketika Haejin mengangkat wajahnya, dan mata mereka bertemu.

Haejin menundukkan wajahnya, begitu juga dengan Donghae. Kali ini Nara yang melihatnya, Nara tersenyum kecil, dan geleng-geleng. Tapi Kyuhyun menangkap mata Nara, keduanya sama-sama malu, dan memalingkan wajah. Alhasil, Nara, Kyuhyun, Donghae, dan Haejin tidak ada yang buka mulut.

”Sepi amat? Ngobrol kek gitu… kayak pada musuhan aja nih…” kata Changmin sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. ”Masih pada ngantuk ya?”

”Tau nih…” Sungmin menyikut Haejin, yang duduk di sebelahnya. ”Di rumah aja berisik, ngomongin Choi Minho melulu!”

Siwon tertawa. ”Adikku?”

Donghae mengangkat wajahnya.

Haejin melirik Sungmin ganas. ”Kenapa sih kau jadi Oppa bisa tidak ember sekaliiiiiiii saja! Jinja!

”Ahh…” Sungmin menggaruk-garuk kepalanya. ”Mianhae… Siwon-ah, lupakan kata-kataku tadi!”

Nara melirik Haejin. ”Ya! Berapa banyak pria yang kau bicarakan di rumah?!” tanyanya agak sinis.

”Kwan Nara, jangan kau dengarkan Oppaku! Ada alasannya kenapa aku membicarakan Choi Minho di rumah…”

”Lalu bagaimana dengan Im Seulong?”

Ririn mengangguk sambil minum. ”Benar itu! Katakan pada kami disini, sebetulnya hubunganmu dengan si Im Seulong itu apa…”

”Ditelan dulu makanannya, Jagiya…” tegur Siwon halus.

Nara memandang Haejin tajam. ”Marhae! Beritahu padaku, siapa Im Seulong itu?”

”Kenapa kau jadi penasaran?” tanya Haejin heran. ”Setahuku yang bisa membuatmu penasaran hanya game.”

”Tapi Haejin-ah, kenapa sih kau tidak pernah mau menjawab kalau kami tanya tentang Im Seulong?” tanya Sungmin memperparah suasana.

Haejin berdiri, ”Aku mau ke kamar mandi!”

”Ah! Dia kabur melulu!” kata Sungmin frustasi. ”Emang kenapa sih dia suka nggak mau jawab siapa itu si Im Seulong!” Sungmin menggetok-getokkan piringnya dengan garpu.

”Ah biarin aja lah! Lagian kau juga jadi Oppa rese banget… biar aja! Namanya juga anak muda!” kata Changmin santai.

Nara melirik Donghae yang memakan nasinya tanpa bernafsu, Nara geleng-geleng lagi.

 

*Badan Pemeriksa Keuangan Korea Selatan*

Tok. Tok. Tok.

”Masuk.”

Heechul masuk ke dalam ruangan Jungsoo, membawa sebuah map yang lumayan tebal, berikut dengan koran dan satu majalah. ”Kayaknya kita bakalan lembur lagi nih, Jungsoo.”

”Waekeurae?” tanya Jungsoo penasaran. ”Masalah pajak lagi, kah?”

”Lebih hebat dari itu…” Heechul duduk, dan meletakkan koran di bagian berita utama.

”’Kwan Youngwoon dan istrinya, Lee Kheynie, pendiri perusahaan K2 Enterpraise Meninggal Dunia?’ Astaga! Aku baru baca berita ini…” Jungsoo buru-buru membukanya. ”Meninggal di hotel tempat mereka menginap, di dalam lift ketika mereka mau presentasi tender? Karena arus pendek listrik di elevator?!”

Heechul mengangguk. ”Polisi bilang sih itu murni kecelakaan.”

”Kau tidak yakin kalau itu kecelakaan?” tanya Jungsoo.

”Aigo, Jungsoo-yah… semua itu terlalu kebetulan kalau dikatakan kecelakaan. Sekarang yang ini…” Heechul meletakkan majalah bisnis. ”Saham K2 Enterpraise yang sudah terjual delapan puluh persen, terlebih Youngwoon dan Kheynie tentunya tidak dapat memenangkan tender tersebut. K2 Enterpraise sekarang saham terbesarnya ada di tangan Shin Corp! Dan Shin Corp ini yang mendanai Cho Corp, yang merupakan saingan K2 Enterpraise di tender Jepang ini.”

Jungsoo menggeleng-geleng. ”Jadi Heechul-ah, maksudmu adalah… K2 Enterpraise sekarang bangkrut?”

”Ne! Aku mencium ada aliran dana kotor disini…” Heechul menjelaskan lagi.  ”Bagaimana menurutmu?”

”Bukti belum ada.” Jawab Jungsoo masih membaca majalah tersebut. ”Dalam hitungan minggu K2 Enterpraise akan bangkrut. Kita lihat ke depannya saja, kalau K2 Enterpraise benar-benar di ambil alih oleh Shin Corp, dan Shin Corp serta Cho Corp bergabung. Aku akan telepon kepolisian.”

Heechul mengangguk. ”Oke!”

*Rumah Keluarga Cho*

Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya, dan meletakkan tasnya di sofa. ”Eunji-ah! Hyunmi-ah!” dia berteriak memanggil kedua adiknya. Karena sepi, dia masuk ke kamar adik-adiknya. Kamar kedua adiknya masing-masing, kosong, tapi banyak kardus-kardus bergeletakan.

Kyuhyun pun beranjak ke kamarnya. Dan terperangah sendiri, TV-nya diganti baru, begitu pula komputer, laptop, dan seluruh peralatan elektronik lainnya.

”Oppa!” Hyunmi muncul.

”Hei! Sini kau!” Kyuhyun melambaikan tangannya. ”Ini semua apa?”

”Buta ya? Itu kan TV…”

”Aku tau! Tapi ini darimana?”

Yunho masuk ke dalam kamarnya sambil menggendong Eunji. ”Annyeong! Eunji-ah, lihat Oppamu sudah pulang…”

”Appa…” sahut Kyuhyun. ”Ini apa?”

”Bagaimana Kyuhyunnie? Kau suka? Appa sudah pesankan yang paling bagus semua hanya untuk anak-anak Appa.”

”Appa daebak!” Hyunmi mengacungkan jempolnya.

Yunho tertawa. ”Kyuhyunnie, apa Appa bilang? Appa akan berhasil, berkat bantuan salah seorang teman Appa, sekarang perusahaan kita sudah kembali seperti semula lagi.”

”Jinja?” tanya Kyuhyun kaget, dan tersenyum. ”Syukurlah!”

”Mulai besok, Kyuhyunnie, kau akan punya mobil sendiri… Hyunmi juga, kau akan diantar sopir lagi… Eunji juga. Oh ya, Kyuhyunnie… kau darimana saja? Dua hari ini kau tidak pulang?”

Kyuhyun menggaruk kepalanya. ”Temanku orangtuanya meninggal… aku membantu untuk menyelenggarakan pemakaman. Kasihan mereka, karena orangtuanya langsung dua-duanya yang meninggal.”

”Oh jinjayo?” Yunho bingung.

”Apalagi orangtua temanku itu meninggalnya di luar negeri, mereka meninggal karena kecelakaan di hotel mereka di Jepang.”

Yunho kaget. ”Jamkaman, Kyuhyunnie, kau bilang apa barusan? Mereka meninggal karena kecelakaan di hotel mereka di Jepang?” ulang Yunho.

”Ne, Appa…”

”Siapa nama temanmu itu?”

”Kwan Nara…”

Yunho benar-benar kaget, nyaris dia menjatuhkan Eunji dari gendongannya, tapi kemudian dia mengontrol emosinya. ”Ah, salam untuk temanmu itu… Appa mau istirahat sekarang, Hyunmi, tidurkan adikmu… Kyuhyunnie, selamat malam.”

”Malam, Appa…” Kyuhyun duduk di kasurnya, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia memikirkan Nara. Apa yang dilakukan bocah itu sekarang? Semoga dia tidak melakukan hal bodoh lagi.

 

*Rumah Keluarga Lee*

”Kita pulaaaaaang…”

”Eeh udah pulang?” sambut JooEun. ”Gimana keadaan Donghae sama Nara? Udah baik?”

Sungmin menjawab sambil melepas sepatunya. ”Yah, mereka udah lumayan mendingan deh, Eomma… nggak shock kayak kemarin. Udah lebih tenang… iyalah siapa yang gak shock orangtuanya meninggal kecelakaan kayak gitu.”

Hyukjae yang juga duduk disitu sambil membaca majalah bisnis berkata. ”Padahal K2 Enterpraise lagi mau adu tender di Jepang ya? Ada klien Appa juga yang minta dikonsultasikan untuk itu. Sekarang kejelasannya bagaimana juga masih belum tahu.”

”Jadi kalau begitu perebutan tender yang di Jepang bagaimana? Dibatalkan begitu sajakah?” tanya Haejin penasaran.

”Ya jelas nggak lah…” Hyukjae menggeleng. ”Makanya Appa juga belum tau apa klien Appa menang tender itu.”

Haejin mengangguk, kemudian pamit untuk naik ke kamarnya. Di kamarnya, dia mandi, kemudian mengganti bajunya menjadi piyama, lalu berbaring di kasur, tiba-tiba lamunannya berubah menjadi Donghae yang menangis, dan meminjam bahunya, lalu dia yang memeluk Donghae, Haejin senyum sendiri.

 

*Rumah Keluarga Kwan*

Donghae berdiri di beranda atas, memandang bintang sambil melamun. Dia masih sedih, tentu saja. Tapi hidup harus terus berjalan, dan dia harus bergerak maju demi Ahjumma dan Ahjussi yang sudah merawatnya dengan baik dari kecil, meski dalam hati masih merasa, apakah memang dia tidak ditakdirkan untuk bahagia.

’Segala sesuatu itu, pasti ada maksudnya…’ suara itu terngiang di telinga Donghae. Ia ingat Haejin menghiburnya dengan kata-kata tersebut, dan merasa berterima kasih. Donghae tersenyum lembut mengingat hal tersebut.

”Yah! Sudah bisa senyum-senyum sendiri rupanya…” Nara muncul sambil tersenyum, dan PSP ditangan.

Aigo! Dia sudah menjadi Kwan Nara yang gila game lagi. Tapi syukurlah, melihat keadaannya kemarin, Nara mungkin bisa jadi gila. Donghae tersenyum, ”Kau sendiri! Sudah bisa main game?”

”Aish!” keluh Nara sambil ikut bersandar di pagar balkon.

Donghae terus menatap ke langit sambil tersenyum. ”Awalnya aku kira, hidup ini nggak adil…” dia mulai bicara, Nara menoleh. ”Tapi… kayaknya yang dia bilang bener, semua pasti ada maksudnya.”

Nara tersenyum. ”Iya, semua pasti ada maksudnya kok, Hae…” Nara terus memerhatikan Donghae yang masih tersenyum lembut, tapi kemudian mencerna kata-kata Donghae. ”Eh, Hae-ah, jamkaman… tadi katamu dia?”

Donghae menoleh. ”Hah?”

”Iya tadi kau bilang : kayaknya yang dia bilang bener, semua pasti ada maksudnya. Dia siapa?”

”Eh?” wajah Donghae memerah.

”Aigo! Aigo! Jinja!” Nara geleng-geleng. ”Jangan bilang si Tante Bola-bekel itu sudah memasuki pikiranmu?! Lee Donghae… kenapa tidak naksir yang lain saja sih? Kenapa harus dia?”

”Ya! Aku kan tidak bilang apa-apa!”

”Aish… kau tidak menyangkal juga kan?”

Donghae terdiam.

”Arasseo, arasseo…” Nara menepuk bahu Donghae pelan. ”Kurasa Appa dan Eomma memang ingin kita berdua punya pacar. Dan ternyata si Bola-bekel yang masuk ke pikiranmu itu!”

”Ya! Aku tidak bicara apa-apa dari tadi kenapa kau menarik kesimpulan sendiri sih?!”

”Aku akan menanyakan padanya soal Im Seulong itu, kau tenanglah…” sahut Nara. Dilihatnya Donghae diam saja. ”Nah kan! Kau saja tidak menyangkal… aigo! Ckckckck…”

”Diplomat Game-mu itu apa kabar?” balas Donghae.

Wajah Nara langsung merah seperti tomat. Wah, pembalasan Donghae memang benar-benar telak. Nara gelagapan. Donghae tertawa, baru Nara mau membalas pelayan mereka datang membawa telepon.

”Tuan Muda… ada telepon dari perusahaan.”

Donghae mengambil teleponnya. ”Kamsahamnida, Immonim…” dia kemudian menatap Nara. ”Kau saja yang angkat.”

”Hae, Appa percaya soal perusahaan padamu…”

”Nara-ya… yang anak kandung Ahjussi itu kan kau…”

”Apaan sih?!” desis Nara. ”Sudah kau angkat saja!”

Donghae akhirnya meletakkan gagang telepon di telinganya. ”Ye, yeoboseyo…” katanya. Donghae mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan orang perusahaan kepadanya. Nara ikut mendegarkan dengan seksama.

Tapi semakin di dengarkan, rasanya dada Donghae dan Nara semakin sesak, Nara mencoba menahan tangis, tapi tidak bisa, Donghae bertahan sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan telepon ini.

K2 Enterpraise bangkrut, seluruh aset milik Kwan Youngwoon dan Lee Kheynie harus digunakan untuk membayar seluruh hutang perjanjian pembelian saham. Berikut uang asuransinya.

Bersambung

Mian ya kemaren nggak bisa publish sambungannya, jadi sebagai gantinya aku publish pas sahur aja. Tapi nanti sore, aku juga nggak bisa publish lagi, soalnya hari ini aku musti ke kampus.

Makasih buat yang udah nungguin FF-nya, dan yang baca + komen, *hug* betewe gimana FF-nya kayak sinetron nggak sih? wkwkwkwk, mian ya kalo mengecewakan. Terima kasih buat para penggemar RinWon KyuNara JinHae dan JeMin yang setia terus pantengin FF ini… saranghae… insya allah mulai selasa akan publish jam 5 sore lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s