When Sunrise Meet Sunset (Episode 5)

 

Untuk yang bingung silsilah keluarganya ini link pohon keluarga :

http://superjuniorff2010.wordpress.com/2010/08/06/when-sunshine-meet-sunset-family-tree-photojacket/

 

*Seoul, Korea Selatan, Shin Corp*

”Hyung, rencana sudah terlaksana.”

Shindong menyeringai kemudian berkata lagi kepada Yunho di ponsel. ”Kau mengerjakannya dengan bersih, kan?”

”Tentu, Hyung…”

”Kalau begitu bagus, tinggal tunggu berita. Kapan kau kembali ke Seoul, Yunho-ya?” tanya Shindong lagi.

”Aku sudah di bandara Tokyo, sebentar lagi aku pulang.”

Shindong menutup ponselnya, kemudian bergerak menuju ruang penerimaan tamu di ruang direkturnya yang besar itu, setelah duduk di sofa, sambil menyilangkan kaki, dia meraih remote televisinya, dan langsung pasang KBS World. Menunggu, tak lama kemudian berita yang ditunggunya sudah disiarkan di televisi.

”Youngwoon-ah, Kheynie-ah… may rest in peace…” Shindong tertawa. Karena di berita barusan, hanya diberitahu dua orang Korea yang meninggal dalam ledakan di lift Hotel Shibuya, namun mayat keduanya masih belum teridentifikasi.

 

*SMA Neul Paran*

JeSoo melamun di kelasnya, memandang keluar jendela, sesekali senyum-senyum mengingat bagaimana cara Choi Minho memperlakukannya. Hari ini sudah sangat disiapkannya dengan baik, dia tidur dengan nyenyak semalam, meski harus bangun sahur, juga sudah mempersiapkan bajunya.

”Ckckckck…” Hyorin yang duduk di depan JeSoo cuma bisa geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya ini. ”Nggak gila kan, kau?”

JeSoo masih melamun.

”Oi!” akhirnya Hyorin melakukan gebrakan dengan sangat brutal di meja JeSoo. Hingga JeSoo terlonjak. ”Ya ampun ini anak, makin hari ngelamunnya makin parah deh.”

JeSoo cuma bisa mengusap dadanya. ”Tabah deh punya temen kayak kamu.”

”Lagian!” sahut Hyorin kesal.

”Kenapa sih?” tanya JeSoo setelah mengatasi kekagetannya.

Hyorin menggeleng-geleng. ”Hari ini betulan jualan?”

Baru saja JeSoo hendak menjawab, pengumuman dari radio sekolah sudah terdengar. Seluruh fungsionaris OSIS diharap berkumpul di ruag rapat. Untuk itu, JeSoo dan Hyorin langsung bergerak ke ruang rapat. Di dalam belum semua anak OSIS berkumpul, tapi Minho sudah berdiri memunggungi mereka, menatap ke luar jendela, dengan kedua tangan dimasukkan di dalam kantong.

Setelah akhirnya keadaan ruangan sudah terdengar ramai, Minho membalikkan badannya, dia menatap satu persatu fungsionaris OSIS yang datang. Kemudian dia duduk di mejanya.

”Hari ini seperti yang kalian tahu kita akan jualan.” Dia memulai pidato, tanpa basa-basi sama sekali, senyum pun tidak. ”Aku tahu hari ini kita semua berpuasa, tapi ini kegiatan yang positif, jadi aku berharap kita semua bisa mengerjakannya dengan baik. Apalagi ini di depan mahasiswa-mahasiwa Universitas. Aku tidak mau ada yang berbuat atau melakukan hal yang tidak-tidak ketika nanti kita berjualan, arasseo?”

Semua mengangguk.

”Kalau begitu berangkat sekarang, izin sudah kudapat.” Dia langsung berdiri, mengambil tasnya. Anggota lainnya ikut berdiri dan keluar dari ruangan, Hyorin dan JeSoo di belakang.

Di pelataran parkir, Minho sedang mengkoordinir anggota-anggotanya untuk naik motor berdua-berdua.

”JeSoo-yah… tunggu dulu! Ini maksudnya apa? Kita kesana bukannya naik kendaraan umum ya?” tanya Hyorin menarik JeSoo.

JeSoo mengangkat bahu. ”Molla…”

JeSoo dan Hyorin memerhatikan satu persatu anggota OSIS menaiki motor yang dimiliki anggota yang lain. Bahkan adik kandung Hyorin, Taemin, sudah membonceng seorang gadis, padahal kakaknya tidak ada yang mengantar.

”Aigo! Aigo! Taeminnie… jinja!” Hyorin mencak-mencak di tempatnya. ”Apa itu? Tidak ada peduli-pedulinya sama sekali pada Noona-nya, padahal dibelikan motor oleh Appa supaya bisa antar-jemput Noona-nya, malah sama cewek lain! Aigoooo… ige mwoya?”

JeSoo terkekeh. ”Sudahlah! Kita naik bis saja, paling cuma makan waktu setengah jam sampai kampus. Disana ada Oppamu, kau bisa pulang bersamanya kan nanti? Kajja…” JeSoo menggandeng Hyorin. Keduanya melewati Minho.

”JeSoo-ssi! Hyorin-ssi!”

Keduanya menoleh.

”Ne, Minho-ssi?” sahut Hyorin.

”Tenang saja, Minho-ssi, aku tidak lupa kalau hari ini kita akan rapat terlebih dahulu di Universitas Neul Paran. Letak kampus itu pun aku ingat, dan aku serta Hyorin ingat harus menaiki bis yang mana, bayarnya berapa, dan kami akan ganti baju ketika sampai disana. Kami akan bersikap baik.” Cerocos JeSoo panjang lebar karena takut Minho menganggapnya pelupa lagi.

Baik Hyorin maupun Minho melongo.

Tapi kemudian Minho tersenyum, dan mulai tertawa. Kini ganti JeSoo dan Hyorin yang melongo dibuatnya. Seumur hidup JeSoo, dia tidak pernah melihat Minho tertawa seperti itu. Minho tertawa sangat lepas, mata tegasnya tertarik ke belakang karena tawanya, Minho tertawa cukup lama sekali, hingga JeSoo benar-benar terpana. Hanya Hyorin yang geleng-geleng diantara mereka. (Hyorin sabar ya, aku juga sebetulnya nggak rela banget bikin JeSoo dan Minho satu scene yang kayak di pilem-pilem romantis a la Titanic begini).

Karena melihat kedua orang ini sedang tidak berada pada alam sadarnya masing-masing. Minho masih tertawa, dan JeSoo terpana. Hyorin berdeham kenceng-kenceng seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.

”Ah…” JeSoo dan Minho buru-buru mengontrol diri mereka masing-masing.

Dan dengan wajah masih mau menahan tawa, Minho berkata. ”Sebetulnya, aku mau bertanya kalian mau naik apa, tapi sudah di jawab.”

”Mianhamnida, Minho-ssi.” JeSoo membungkuk dalam-dalam. ”Kami mau naik bus umum.”

”Ne, aku sudah tau.” Sahut Minho. ”Aku cuma mau mengajak, ehem!” dia tiba-tiba batuk, dan menarik-narik kerah bajunya, seolah-olah sulit bernapas. ”Cuma mau mengajak… er… yah… kalian berdua… naik mobilku.”

”Ah, jinjayo?” pekik Hyorin senang.

”Gwenchanayo, Minho-ssi?” tanya JeSoo sambil tersipu-sipu.

”Gwenchana. Ayo!” Minho kemudian memimpin menuju mobilnya.

Hyorin cekikikan, melihat JeSoo yang masih ngelamun sambil senyum. ”Yah! Sudahlah, kau ini jangan banyak melamun! Udah cepetan!” dan Hyorin menyeret JeSoo menuju mobil Minho.

Minho sudah mematikan alarm dari kunci yang dipegangnya, dia langsung membuka pintu kursi pengemudi dan masuk ke dalamnya. Hyorin dan JeSoo saling pandang bingung.

”Hyorin-ah… kau di depan, ya?”

”Ih! Ogah… flaming charisma-nya itu menakutkan buatku, aku mau dibelakang aja ah…” Hyorin geleng-geleng.

”Yaah… masa kau tega membiarkan aku duduk di depan!” JeSoo malah ketakutan sendiri. ”Aku juga takut sama flaming charisma-nya. Aku nggak mau lumeeeeer… bisa meleleh nanti kalo duduk di sebelahnya, apalagi kalau dia diam aja. Aduuuh bisa-bisa aku stresss…”

”Kau memang sudah stress!”

Kaca dibuka, dan Minho menatap keduanya. ”Tunggu apa lagi? JeSoo-ssi, Hyorin-ssi, waktu kita tak banyak.” Katanya dengan nada tegas yang biasa.

”Ah, ne…” JeSoo mengangguk ngeri.

”Cepat! Duduk disebelahku!” perintahnya, dan langsung menaikkan kaca jendelanya.

Hyorin tertawa. ”Yah! Dia mau kau yang duduk di sebelahnya, lagipula kurasa dia akan seperti supir jika kita berdua di belakang. Kau mau, pangeran pujaanmu itu kita jadikan supir?” dan Hyorin langsung naik di bangku belakang.

JeSoo hanya bisa pasrah duduk di sebelah Minho, meski dalam hatinya sangat berbunga-bunga. (author sedih).

 

*Sekretariat Himahi, Universitas Neul Paran*

”Kalau begitu setelah memasukkan daftar keperluan yang Donghae Sunbae berikan,” Soeyoung menghitung-hitung di kalkulatornya, bersama Sungmin dan Donghae. ”Ya segini deh hasilnya…”

Sungmin langsung menulis di kertas dengan pensilnya. ”Kalau begitu beres, tinggal tunggu anak-anak SMA Neul Paran datang. Kita bisa mulai belanja bahan-bahannya, dan langsung buat.”

Soeyoung kembali merapikan mejanya, tugasnya sudah selesai, tinggal menunggu kawan-kawannya yang lain kembali setelah mengerjakan tugas-tugas mereka. Sungmin terkekeh, dan menatap Soeyoung.

”Soeyoung-ah… memang Im Seulong itu siapanya Haejin sih?” tanyanya penasaran. Karena di rumah Haejin selalu kabur jika pembicaraan sudah diarahkan kepada pria yang bernama Im Seulong.

”Im Seulong?” tanya Soeyoung lagi. ”Memangnya kenapa, Sunbae?”

”Aniya, Haejin… semua orang di rumah penasaran dengan Im Seulong itu. Kata JeSoo adikku yang paling kecil, Seulong itu pacar Haejin, tapi setiap ditanya ya… kau lihat sendiri tadi? Cuma ngomel, dan kabur. Aku hanya bertanya, karena sebagai Oppa aku mau adikku mendapat pacar yang benar.” Jelas Sungmin panjang lebar. (Aigo, terima kasih Oppa!)

Donghae tertawa. ”Kau seperti Ahjumma dan Ahjussiku saja.”

”Oh, waeyo, Donghae-ah?” tanya Sungmin.

”Ne, Ahjumma dan Ahjussi berpesan agar aku mencarikan pasangan untuk Nara.” Dan Donghae tertawa lagi. ”Aigo! Cari pasangan untuk Nara, pria mana yang tahan dinomorduakan oleh Nara gara-gara Starcraft tercintanya itu coba?!”

”Eeeh… Cho Kyuhyun yang tadi!” Sungmin memberi saran.

Soeyoung mengangguk. ”Iya, Sunbae… Cho Kyuhyun tadi langsung akrab dengan Nara gara-gara Starcraft.”

”Astaga… haruskah aku punya adik ipar gila game seperti itu? Apa jadinya kalau mereka menikah? Bayinya menangis, orang tuanya berkutat dengan game…

”Donghae-ah, pikiranmu terlalu jauh.”

Pintu sekre terbuka, masuklah Changmin. ”Yey! Sudah selesai, semuanya setor uang… nih!” Changmin memberikannya pada Sungmin.

”Soeyoung-ah, hitung!”

Soeyoung kembali berhitung.

”Aigo! Kemana si Haejin? Cuma ke dua tempat saja belum kembali, aku yang mengantar ke tiga tempat saja sudah selesai…” komentarnya.

”Ah, paling ke si Im Seulong itu!” celetuk Sungmin. ”Oh iya, Donghae-ah… mana kertas resepnya?”

Donghae meraih kertas resep patbingsoo yang tergeletak di atas meja kerjanya, ketika menarik kertas tersebut, tak disengaja bingkai foto keluarga yang terdiri dari Youngwoon, Kheynie, dirinya, dan Nara terjatuh ke bawah, bingkainya pecah.

”Aigo! Donghae-ah… gwenchana? Kau pusing?” tanya Changmin.

Donghae menggeleng. ”Aniyo, gwenchana… aduuuh, jatuh deh…” dia langsung membereskan pecahan kaca, sembari memberikan kertas tersebut kepada Soeyoung. Soeyoung memberikannya kepada Sungmin.

Neomu yebbeun ge joeilbbun.

Sungmin meraih ponselnya dan mengangkatnya. ”Yeoboseyo, ah jinjayo? Ne… dari parkiran begitu ketemu gedung astri, berbelok… disitu ada Ruang Sidang, disebelahnya kantor Himahi, keurae? Ne…”

”Nugu?” tanya Changmin.

”Choi Minho, ketua OSIS SMA Neul Paran. Mereka sudah sampai disini… kita bisa mulai rapat kalau semua sudah berkumpul.” Kata Sungmin.

Tak lama kemudian Kibum, Ririn, dan Siwon masuk, dibelakang mereka, Kyuhyun, Nara, dan Jinki juga masuk, dan Haejin mengikuti dengan wajah masam. Ririn asik teriak-teriak meledek.

”Kenapa?” tanya Soeyoung.

”Haejin tadi pacaran di depan Himti sama si Im Seulong…”

”Ya‼!” teriak Haejin.

Changmin geleng-geleng. ”Dasar curang! Aku gak boleh ke Astri, kamu sendiri ke Himti biar pacaran sama si… siapa tadi namanya Ririn-ah?”

”Im Seulong!”

”Iiiih!” Haejin gemes mau nyubit Ririn, tapi lalu menepuk-nepuk dadanya. ”Sabar… sabar… orang sabar di sayang…”

”Seulong!” sahut yang lain rame-rame, kompak.

Haejin bener-bener mau nangis di ganggu seperti itu. Wajahnya dimanyunkan dan dia menghentak-hentak mau keluar begitu dia buka pintu muncul sesosok namja tepat di depan wajahnya.

”Aigo… gantengnya…” ucap Haejin tanpa sadar.

”Annyeonghaseyo, Sunbae-nim, Choi Minho-imnida.”

”A…a…a….annyeong! Oh! Kau yang namanya Choi Minho?!” teriak Haejin langsung histeris.

Dibelakang Minho muncul sang adik, JeSoo. ”Onnie…”

Akhirnya rombongan anak SMA Neul Paran itu masuk satu persatu dan duduk melingkari meja sekre Himahi. Sungmin langsung membicarakan soal rencana mereka untuk berjualan hari ini. Minho, ternyata adalah adik kandung dari Choi Siwon, pacar Ririn. Ririn yang memang sudah kenal, biasa-biasa saja. Soeyoung yang cuek juga biasa-biasa saja. Apalagi Nara yang asyik mendiskusikan strategi perang dengan Kyuhyun sambil bisik-bisik. Hanya Haejin yan melongo parah.

”Kalau begitu sekarang, berhubung nanti sekitar jam satu angkatan dua masih ada kuliah. Anak-anak SMA yang akan membuat patbingsoo-nya, tapi sekarang yang belanja harus dari angkatan dua.” Ujar Sungmin bijak. ”Aku tahu benar Haejin pintar belanja, jadi kau saja.”

Haejin mengeluh. ”Oppa…”

”Dan kau Changmin, bagaimana?”

”Oke! Ayo, Haejin-ah… lupakan urusan Seulong-mu dulu itu. Soeyoung-ah, mana uangnya?” begitu mendapatkan uang dari Soeyoung, Changmin menarik paksa Haejin keluar dari dalam ruangan.

Setelah selesai berbelanja patbingsoo, Changmin dan Haejin kembali ke kampus. Dengan peralatan di dapur milik khusus Himahi, Sungmin, Kibum, Changmin, Donghae, beserta anak-anak SMA Neul Paran bahu membahu membuat patbingsoo, sementara angkatan dua harus kuliah Sistem Sosial Budaya Korea. Ketika kuliah di mulai, Ririn merasa aneh dengan Junsu yang tanpa Yoochun.

”Eh, Junsu… si Yoochun kemana?” tanya Ririn begitu mereka semua sudah duduk dan tinggal menunggu dosen datang.

”Pulang, lagi nggak mood katanya.” Sahut Junsu.

”Hah? Apa dia bilang? Nggak mood?! Gaya-gayaan bener si Yoochun! Tapi beneran nih dia pulang ke rumah?” tanya Ririn.

Junsu mengangguk. ”Dia bilangnya sih begitu…”

Ririn geleng-geleng. ”Punya kembaran liar amat ya…”

Tapi perasaan Ririn sepanjang siang itu selalu kacau, perasaannya selalu tidak enak, dia tidak tahu kenapa, yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi pada Yoochun. Naluri kembarnya mengatakan hal itu. Meski jenis kelamin, sifat, dan wajah sama sekali berbeda, yang namanya kembar, naluri pasti sama. Karena Yoochun tidak ada, maka Ririn bebas duduk di sebelah Siwon, Siwon pun merasa kalau Ririn gelisah.

”Jagiya, gwenchana?” tanya Siwon. ”Kau pucat…”

”Jinjayo?” tanya Ririn pada Siwon. ”Gwenchana, tapi aku cemas…”

”Kau mencemaskan Yoochun?”

Ririn menggeleng. ”Molla… tapi pikiranku tertuju pada Yoochun. Mungkin… dia sedang apa ya?”

”Jagiya, kau dan Yoochun itu saudara kembar. Mungkin disana dia sedang cemas atau mood-nya sedang tidak baik, kalau kau cemas dan takut dia kenapa-napa, lebih baik kau telepon dia.”

Ririn menghela napas. ”Kau yakin?”

”Iya… kalian kembar, kau ikuti nalurimu…”

Ririn menutup matanya dan berpikir tentang Yoochun. Memorinya kembali teringat ketika lima belas tahun lalu.

 

*15 Tahun yang lalu, Seattle, Amerika Serikat*

Ririn kecil duduk gelisah di kasurnya, sesekali memegang bonekanya, dia berbaring lagi, kemudian duduk lagi. Melihat kasur di sebelahnya. Kasur kosong, Ririn mondar-mandir di dalam kamarnya. Lalu dia menangis sejadi-jadinya, tidak tahu ada apa, dia hanya mau menangis.

Sangmi membuka pintu kamar anaknya, dan langsung berlari memeluk Ririn. ”Aigoooo… Alice, don’t cry baby… uljima!” Sangmi mengusap air mata Ririn. ”What’s wrong, Honey? Tell mom…

Mommy… where is Micky?”

Sangmi terbelalak. ”Ah? Micky?”

Yes, Mom… I was wondering, where is he? I miss him… I felt pain all of my body… where is Micky?” tanya Ririn masih sambil menangis.

Sangmi terus memeluk Ririn, dan berusaha menenangkannya. ”Allright, listen to me carefully, Honey… and don’t be panic…” Sangmi terus memeluk Ririn. ”Micky sekarang sedang melawan kuman jahat, Sayang…”

Bactery? What kind of bactery Mommy?” tanya Ririn.

Well, they were so naughty! So Micky have to fight them…” sahut Ririn lagi. ”Kuman-kuman itu berusaha melemahkan kekuatan Micky, jadi Micky harus tidur di rumah steril. Arasseo, Honey?”

Ririn mengangguk.

So baby, don’t cry… because Micky will be sad… he just need our support now, espescially from you… makanya kalo ada Micky nanti nggak boleh berantem ya?”

”Oke, Mommy…”

Allright, now go to sleep baby… pray for Micky, jaljayo Alice Park.”

 

*Flashback End*

”Yoochun sakit.” Hati Ririn mencelos.

”Jinja?” tanya Siwon khawatir.

Ririn mengangguk. ”Aku pernah seperti ini sebelumnya, dan itu cuma terjadi lima belas tahun lalu. Usiaku masih empat tahun, dan saat itu Yoochun cukup lama tidak pulang ke rumah, Yoochun dan Appa.” Bibir Ririn bergetar.

”Apa yang terjadi pada Yoochun waktu itu, Jagiya?”

”Antibodi… ada kuman yang menyerang antibodi tubuhnya, dia harus dibangsal isolasikan untuk membunuh…” kemudian Ririn melirik Soeyoung. ”Soeyoung-ah! Boleh aku pinjam laptopmu?”

Soeyoung yang asyik mencatat kulaih dari dosen hanya mengedikkan kepalanya ke tas laptop yang tergeletak di sebelahnya. Ririn meraihnya, begitu laptop Soeyoung menyala, dan sambungan internetnya sudah terpasang Ririn langsung membuka situs Google. Akhirnya penyakit yang dicarinya ketemu, penyakit yang menyerang antibodi tubuh. Dan firasatnya tajam mengenai penyakit itu.

Kanker darah, Leukimia.

Ririn gemetaran membaca nama penyakit tersebut di layar laptop Soeyoung, kemudian dia mematikan laptopnya lagi, dan mengembalikannya. Ririn nampak cemas sekali.

”Nanti kalau sudah pulang ke rumah, kau tanyakan kepada Yoochun, ya… Jagi?” usul Siwon.

Ririn mengangguk.

Kuliah kedua sudah selesai, mereka beriringan satu persatu keluar dari kelas, Nara dan Kyu jalan bareng sambil sama-sama nunduk, memegang PSP. Ya ampun, bagaimana caranya mereka bisa akrab dalam satu hari begitu?

Ruangan Sekretariat Himahi masih penuh, karena sekarang meja bundar di tengah-tengah ruangan sudah terisi oleh peralatan untuk membungkus patbingsoo. Semua menyebar membungkus patbingsoo tersebut.

”Jangan diminum ya,” ledek Changmin, sementara Kibum memasukkan patbingsoo ke dalam gelas dan membungkusnya dengan penuh senyum.

Siwon dan Ririn membantu Kibum. Jinki dan Soeyoung membantu Changmin. Sungmin bersama Taemin, dan teman perempuannya yang bernama Kyorin. Haejin sendirian duduk di dekat meja kerja Donghae, sementara yang punya meja di pojokan bantuin anak SMA bungkus-bungkusin.

Minho, JeSoo, dan Hyorin bertiga juga. Sebetulnya Hyorin mau cabut, tapi JeSoo ketakutan ditinggal cuma berdua sama Minho.

”ADUH!”

Semua menoleh.

”Aish!” Haejin mengibas-ngibaskan tangannya, jarinya tergores lumayan besar oleh pecahan beling, dan sekarang darah segar merembes di tangannya.

”Onnie!” pekik JeSoo, meletakkan gelas di bawah, dan langsung menghampiri kakaknya. ”Aduh, Onnie… kena piso?”

Haejin menggeleng, ”Tadi aku meletakkan tanganku di bawah, lalu ada beling disini…” Haejin mengibaskan tangannya. Sungmin menghampirinya, dan memeriksa sekeliling tempat duduk Haejin.

Donghae juga ikut datang. ”Sungmin-ah… mianhae, itu tadi pasti beling bekas foto…”

Pintu ruangan terbuka. ”Lee Sungmin-ssi.”

Sungmin mendongak, ternyata Dosen Penasihat Himahi, ”Aigo! Donghae-ah, tolong obati adikku dulu ya, JeSoo, jaga onniemu…”

”Oppa lebai! Emang aku mau mati apa?” kata Haejin sambil melihat Sungmin yang keluar dari ruangan.

Donghae menarik tangan Haejin dan memeriksa telunjuk tangan kanannya yang terus mengeluarkan darah. (Oke penggemar JinHae, yang nanyain JinHae moment dari kemarin, *dilempar panci).

”Sakit, Sunbae!” Haejin menepuk tangan Donghae, meringis.

Donghae mengamati jari Haejin. ”Kok darahnya keluar terus ya?”

”Mungkin masih ada belingnya, Sunbae-nim… mendingan di bawa ke ruang kesehatan.” Usul Siwon.

Donghae mengangguk, dan menarik bangun Haejin, lalu menggeretnya keluar dari ruang sekretariat, ke ruang kesehatan kampus yang letaknya tidak begitu jauh dari sekre Himahi. Begitu sampai di ruang kesehatan, Donghae menyuruh Haejin duduk di atas kasur kaku tersebut, sementara dia mengambil penjepit, kapas, dan alkohol.

”Dibersihin dulu…” Donghae menuangkan alkohol ke kapas, dan tanpa peduli sama sekali diusapkannya ke tangan Haejin.

”AAAAAAHHHH…” jerit Haejin mengibaskan tangannya. ”SUNBAE! Sadis amat sih‼!”

”Ah, mianhae…”

”Nggak mau ah! Udah udah udah… nunggu Oppa aja! Sunbae kagak pake perasaan ngobatinnya!”

Donghae tertawa. ”Yah, mianhae… mianhae… kirain nggak bakal sakit!”

”Amit-amit kirain nggak bakal sakit?! Sunbae cakep-cakep, otaknya psikopat ya?!” Haejin masih tidak terima.

”Aigo! Yang penting cakep!”

”Woek!”

”Udah ah, jangan kayak anak kecil… itu tuh tadi gunanya biar ngeliat masih ada pecahannya nggak?”

”Kalo Sunbae teken begitu, yang ada pecahannya makin ke dalem!”

”Ah iya… lupa!”

”Nggak mau! Nggak mau di obatin sama Sunbae lagi! Belum mau mati! Aku masih punya cita-cita, masih mau nikah, punya anak tujuh…” Haejin mendorong Donghae. ”Sunbae keluar aja, panggil Changmin Sunbae atau Kibum Sunbae sana!”

”Iya janji nggak kayak tadi lagi!” Donghae mengelus kepala Haejin. ”Aigooo… dasar bola bekel! Janji gak kayak tadi lagi… kamu masih bisa nikah sama si Im Seulong itu kok…”

Haejin mendelik. ”NGGAK MAU DIOBATIN!”

”Yeee, ngambek… iya deh nggak, nggak, ampuuuuun! Aduuuuh, ngambek mulu nih dari tadi!”

Donghae membuka kapasnya, dan ternyata memang masih ada belingnya. Donghae menggunakan penjepit untuk mengeluarkan beling dari jari Haejin. Haejin meringis, nyaris menangis.

”Jangan nangis dooong, nanti puasanya batal…” ucap Donghae masih sambil mencoba mengeluarkan belingnya. Akhirnya beling keluar, Donghae menghisap darah yang keluar dengan mulutnya, dan langsung membuangnya ke wastafel, lalu menutup jari Haejin dengan handsaplast dengan gambar chibi Chansung 2PM.

Haejin melihat jarinya. ”Gomawo, Sunbae…”

”Ne, cheonmaneyo…” Donghae mengelus kepala Haejin lagi. ”Yuk, balik lagi ke sekre.”

Akhirnya pukul empat tiba, mereka bersiap untuk langsung berangkat berjualan.

”Kita naik mobil aja ya, kebetulan ada beberapa mobil… Siwon, Ririn, Nara, Kyuhyun, kalian ikut mobil Kibum. Donghae, Changmin, Soeyoung, Jinki, Haejin, ikut mobilku. Taemin, Kyorin, ikut mobil Minho.”

Baru Donghae dan Changmin memasukkan patbingsoo ke bagasi mobil Sungmin, sebuah nada mengalun.

Mwol salgga salgga salgga salgga neoreul wihan seonmul.

Donghae meraih ponselnya. ”Yeoboseyo.”

”Lee Donghae-ssi? Anak dari Kwan Youngwoon-Lee Kheynie?”

”Ne,” jawab Donghae sambil tersenyum. Tapi kemudian ketika mendengar apa yang dikatakan orang yang meneleponnya tersebut, ponselnya langsung jatuh. Changmin menoleh.

”Donghae-ah, waekeurae?” tanya Changmin.

Air mata mengalir dari mata Donghae, memandang kosong. Pintu bagasi yang terbuka membuat Soeyoung, Jinki, Haejin, dan Sungmin dapat menoleh ke belakang. Menatap Donghae.

”Sunbae? Gwenchana?” tanya Haejin  heran.

Donghae ambruk. Haejin menjerit, Jinki dan Sungmin buru-buru keluar dari dalam mobil, Changmin panik. Haejin dan Soeyoung ikut turun. Haejin mengambil ponsel Donghae.

”Yeoboseyo, nuguseyo?” tanya Haejin panik. ”Donghae-ssi sedang…”

”Joesohamnida, Donghae-ssi…” orang yang entah siapa itu terus bicara. ”Tapi itu benar, kedua orang tua Anda, meninggal dunia di dalam lift, karena gesekan arus listrik.”

Haejin ternganga, air matanya ikut mengalir. ”Nara… Nara… Donghae Sunbae… Nara…” hanya itu yang terucap di bibirnya.

Bersambung

Alhamdulillah lagi part ini selesai juga. Aku sampe nggak tidur semaleman, hohoho… soalnya hari ini mau buka bersama, jadi mungkin nggak bisa ngetik sore-sore sebelum publish. Oh iya, FF ini saya persembahkan untuk penggemar JinHae *apa lu kata sya???* wkwkwkwk, di beberapa komen kemaren banyak banget yang nanyain : Kok Haejinnya sama Seulong sih? wakakakaka… *dilempar panci*

Karena hari ini saya ada buka bersama, dan untuk pertama kalinya dalam bulan ramadhan ini, author akan solat taraweh nanti malem *bongkar aib* maka, kemungkinan saya akan balesin komennya agak malem. Juga mau mohon maaf, ada kemungkinan besok aku nggak bisa publish part 6-nya… maaf ya… tapi terima kasih yang udah baca… *hug, deep bow* saranghae…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s