When Sunrise Meet Sunset (Episode 4)

*Rumah Keluara Lee*

Di Beranda

”JeSoo! JeSoo!”

Yang di panggil tetap diam, memandangi langit, sambil menopang dagunya, pandangan kosong. Haejin mencolek adiknya, ”JeSoo-yah! JeSoo-yah! YAH, LEE JESOO‼!”

JeSoo terlonjak. ”Onnie!” teriaknya.

”Ya! Kenapa kau malah balas berteriak padaku?!”

”Ngagetin!” JeSoo mengelus-elus dadanya.

”Aku panggil daritadi, kau tidak menyahut… dipanggil Eomma, ayo makan malam… Appa sudah pulang taraweh.”

JeSoo mengangguk, tiba-tiba ponselnya berdering, dan JeSoo geragapan meraihnya. Haejin menunggu adiknya.

”Ye, Minho-ssi?”

”Besok pulang sekolah jangan lupa kita harus jualan patbingsoo…”

”Ne, Minho-ssi, aku ingat…” dalam hati JeSoo sedih sekali. Apa Minho menganggap dirinya seperti Haelmonie yang sudah tua dan pelupa. ”Aku sudah menulisnya di agenda hapeku.”

”Jangan lupa bawa baju ganti!” perintah Minho.

”Ne, aku ingat, Minho-ssi…”

”Kalau begitu simpan tenagamu, tidur cepat dan besok tidak boleh lupa! Arasseo?!”

”Ne… Minho-ssi.”

Minho mematikan ponselnya, JeSoo senyum-senyum sendiri, Minho menelepon untuk menyuruhnya tidur. Meski nadanya tidak romantis, tapi tindakannya amat sangat romantis.

”Yah! Kau ini gila ya?” tanya Haejin sambil berkacak pinggang.

JeSoo menoleh kepada Haejin, biarpun dibilang gila, wajahnya penuh senyum mendamba. ”Ne, Onnie?”

Haejin menghampiri JeSoo, dan memegang dahinya. ”Kau kenapa sih? Senyum-senyum sendiri… telepon dari siapa?”

”Onnie…” JeSoo memeluk Haejin bahagia.

”Yah! Yah! Yah! Kau kenapa?”

”Onnie… aku pernah cerita kan sama Onnie, kalau aku suka sama seorang namja yang bernama Choi Minho?”

Haejin mengangguk. ”Ne, lalu?”

”Yang telpon itu tadi dia…”

”Woaaah!” Haejin ternganga, dan menggeplak badan adiknya. ”Daebak! Adikku sudah punya pacar, kyaaa…” dan kedua kakak beradik itu berpelukan di beranda kamar JeSoo.

Sungmin muncul. ”Hei! Dicari Eomma… taunya malah pada main Teletubies disini…”

”Oppa sirik!”

”Makanya cari pacar, Oppa…”

”Yee! Dibilangin malah ngelawan, dipanggil Eomma, ayo turun!” Sungmin keluar lagi.

Akhirnya Haejin dan JeSoo turun ke bawah, JooEun, Eomma mereka sedang menaruh gelas di atas meja makan menoleh. ”Aduuuh, ini anak gadis bukannya bantuin Eomma-nya malah di atas aja…”

”Mian, Eomma… tadi JeSoo telpon-telponan dulu sama pacarnya…” Haejin menghampiri meja.

JooEun menoleh pada JeSoo yang wajahnya memerah. ”Aigoo, anak Eomma udah punya pacar… kasih tau Appa, ah…”

”Eomma…” wajah JeSoo memerah. ”Dia bukan pacarku…” JeSoo kemudian duduk, Haejin cekikikan.

”Insya Allah jadi pacar, kan?” ledek Haejin.

”Amin…” bisik JeSoo pelan-pelan.

”Woo bilang amin, ha ha ha…” Sungmin tertawa.

Wajah JeSoo semakin memerah. Tak lama Hyukjae, Appa mereka masuk masih memakai baju koko, dan sarung (author ngakak bayanginnya), baru pulang dari taraweh, dan duduk.

”Ada apa sih? Rame bener…” komentar Hyukjae.

”Ini, Yeobo… JeSoo udah punya pacar…” JooEun duduk di sebelah Hyukjae dan menuangkan sup di mangkuk Hyukjae.

”Eomma… itu bukan pacarku…”

”Calon…” sahut Sungmin.

Hyukjae menatap JeSoo. ”Jinja? Aigooo… putri Appa paling kecil yang paling duluan punya pacar ternyata, Onnie dan Oppamu kalah!”

”Appa!” protes Haejin dan Sungmin.

”Sungmin-ah, jangan kalah dong sama Appa…” Hyukjae menepuk dadanya. ”Jaman Appa masih SMA dulu, pacar Appa sudah banyak!”

JooEun mendengus. ”Aigo, Yeobo… jangan mendongeng jam segini!”

”Lho, kok kau tidak percaya?! Aku ini digilai banyak gadis… aku tampan, menarik, ramah, baik hati, tidak sombong, rajin menabung… cuma karena aku cinta padamu, jadi aku menolak yang lainnya, Yeobo…”

Sungmin, Haejin, dan JeSoo kompak membuat suara orang muntah. ”Woek!”

”Nah, Yeobo… kau lihat anak-anakmu itu sangat pintar, sampai tidak mempercayai roman picisanmu…” JooEun geleng-geleng.

”Teganya kalian pada Appa…” rengek Hyukjae

”Lah, bukannya emang iya? Yang mau sama Appa kan cuma Eomma…” sahut Haejin polos.

JooEun langsung tos sama Haejin.

”Aigooo, Haejin-ah… kau ini…” Hyukjae merajuk. ”Tapi kau seharusnya sedih, dong… adikmu sudah punya apa itu nama istilah tren masa kininya dari cem-ceman itu?”

”Gebetan, Yeobo…”

”Iya, gebetan…”

JeSoo menyahut. ”Siapa bilang Haejin Onnie tidak punya gebetan? Onnie udah punya pacar, Appa… anak Teknik Informasi di kampusnya, Im Seulong!”

”Yah!” Haejin menginjak kaki JeSoo. ”Ember banget, sih!”

”Onnie ember duluan!”

Sungmin menatap Haejin. ”Kau jadian sama Seulong?”

”Tau ah!” Haejin pura-pura ngambek.

 

*           *           *

”Hoahm…” Nara menguap dalam perjalanan mencari kelasnya. Hari ini hari rabu, dan dia ada kelas Bahasa Mandarin. ”Kepagian nih… Haejin jam karet, pasti belum dateng. Ririn? Nggak jam karet, tapi Yoochun yang jam karet, jadi intinya sama aja. Soeyoung, ah… dia pasti di perpustakaan.”

”Nara-ya…”

Nara menoleh. ”Oh, Jinki… hai!” Nara tersenyum.

”Tumben pagi banget…” Jinki menyamakan langkah Nara.

”Yaaa… bangun terlalu pagi, siap-siap terlalu pagi, dan Hae juga mengajak berangkat pagi, jadi ya kepagian deh…” Nara tersenyum.

Jinki mengangguk. ”Kalau begitu kau sudah bawa baju ganti untuk nanti sore?”

”Sudah…” Nara mengangguk dan tersenyum, kemudian mereka tiba di depan kelas Mandarin mereka.

”Eh, sudah ada orang ya?” Jinki terlihat heran. Melihat lampu di dalam kelas yang sudah menyala sepagi ini.

”Molla…” Nara juga heran.

Jinki mendorong pintu tersebut hingga terbuka, dan Nara mengikutinya masuk ke dalam ruangan. Ruangan masih sepi, hanya ada seorang namja yang sedang duduk di kursi paling belakang, tangannya memegang PSP, dia mendongak sebentar, begitu melihat Nara dan Jinki masuk, dia kembali memainkan PSP-nya.

Wajah Nara langsung berbinar. ”Kyuhyun-ssi…” Nara menghampiri Kyuhyun, dan duduk di depannya.

”Ne?” tanya Kyu.

”Kau suka main PSP juga ya? Kulihat itu PSP keluaran terbaru, aku juga baru beli…” Nara dengan sukacita mengeluarkan PSP dari dalam tasnya.

Kyuhyun tersenyum melihat PSP yang dikeluarkan Nara. ”Wah, daebak! Kau suka game?”

”Bukannya suka lagi, lebih tepatnya game adalah belahan jiwaku…” dan Nara tertawa lebai.

”Jinja? Kalau begitu kau sama denganku! Kau suka main game apa? Kalau perempuan biasanya lebih suka bermain Harvest Moon ya?”

”Semua game aku suka! Tapi aku sedang menamatkan Starcraft…” ujar Nara.

”Starcraft? Kau bermain Starcraft?” mata Kyuhyun membulat kagum. ”Wow! Daebak… sudah level berapa?”

”Tujuh…”

”Horeee… aku delapan!” ujar Kyuhyun bangga.

Akhirnya Nara menghabiskan waktu sepagian itu dengan mendiskusikan game bersama Kyuhyun. Jinki ditinggalkan sendirian duduk di depan, karena dia tidak mengerti sama sekali soal game, dan Kyu serta Nara tidak ada yang mau repot-repot mengajarinya. Jinki cuma bisa melihat dari jauh, tak lama kemudian teman-teman sekelasnya satu persatu berdatangan.

”Jyah… si Nara! Ngapain pagi-pagi udah mojok?” Siwon menepuk bahu Jinki.

Jinki menoleh.  ”Kyu ternyata suka game.” Jelasnya.

”Ah, pantesan…”

Bukan cuma Siwon yang kaget, bahkan Soeyoung, Junsu, Yoochun, Ririn, dan Haejin yang muncul paling belakang juga heran melihat Kyuhyun dan Nara nampak akrab di bagian belakang kelas. Berhubung Yoochun, Ririn, dan Haejin dateng terlambat, mereka nggak bisa nyamperin Nara.

”Nara kok sama si Kyuhyun deh?” tanya Ririn begitu Haejin ambil tempat di sebelahnya.

”Laaah, aku aja baru duduk!”

”Yee, kirain tau! Aku kan kemarin udah pulang duluan…”

Haejin mengangkat bahu. ”Molla…”

Akhirnya kuliah bahasa Mandarin selesai, dosen keluar dari ruangan, dan Haejin, yang memang memiliki julukan Bola-bekel-tuing-tuing ini langsung mendekati Nara dan Kyuhyun di belakang. Begitu baru tiba di meja keduanya, Nara sudah memegang PSP, begitu juga Kyuhyun.

Haejin langsung melongo.

”Haejin-ssi?” tanya Kyuhyun bingung melihat ekspresi Haejin. ”Gwenchanayo?”

”Pantesan betah di belakang…” ujar Haejin geleng-geleng. ”Ririn-ah, Soeyoung-ah… akhirnya si Nara nemu temen! Kyuhyun suka game…”

Nara tertawa campur meringis. ”Habisnya kalau aku cerita game di deket kalian, kalian cuek aja.”

”Aku nggak ngerti game!” sahut Ririn yang sudah ikut mendekat ke belakang. ”Annyeonghaesyo, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun tersenyum. ”Annyeonghaseyo…”

”Ya, Kyuhyunnie… mereka berdua ini,” Nara menunjuk Haejin dan Ririn. ”Ani, bertiga… sama yang disana, yang pake kacamata. Mereka itu sahabatku, maklumlah… perempuan di kelas ini cuma ada empat orang. Ini Ririn, ini Haejin, yang disana Soeyoung. Dan Ririn-ah, Haejin-ah, ini sahabat baruku… Kyuhyun.”

Ririn geleng-geleng. ”Cuma gara-gara PSP bisa langsung jadi sahabat, Kwan Nara memang hebat.”

”Junsu! Temenin ke kantin, lapeeeeer…” Yoochun berdiri dan memegang perutnya.

Junsu geleng-geleng. ”Ah, tega lo! Aku kan puasa, Yoochun-ah…” keluh Junsu, tapi Yoochun malah menarik Junsu, dan membawanya secara paksa, sambil berteriak lagi. ”Park Ririn, jangan macem-macem lo!”

”Heh! Dasar kembaran biadab!”

”Yah! Puasa… jaga omongan…” celetuk Haejin.

Siwon kemudian ikut menghampiri mereka di belakang. ”Ada apa sih? Rame bener kayaknya…”

”Ah, Jagiya… kenalkan, kemarin belum sempat berkenalan secara formal kan. Ini Cho Kyuhyun, temannya si Nara.” Ririn menunjuk Kyuhyun.

Siwon membungkuk. ”Annyeonghaseyo, Kyuhyun-ssi, Choi Siwon-imnida.”

”Annyeonghaseyo, Siwon-ssi… Cho Kyuhyun-imnida.”

Jinki kemudian ikut menghampiri mereka. ”Hei, kita ke Sekre Himahi yuk. Ada rapat lagi sekarang, mumpung kuliah kedua mulainya nanti jam satu. Kyuhyun-ssi, ikutlah dengan kami. Aku sudah lihat biodatamu di laptop Soeyoung barusan, kau sangat pintar… kau pasti bisa mengejar ketinggalan.”

Kyuhyun terlihat canggung campur malu.

”Iya, Kyuhyun-ssi, ikut saja dengan kami, kami mau mengadakan program bakti sosial.” Siwon ikut mengajak sambil memaikan rambut Ririn yang sudah nemplok dipelukannya. Mumpung, nggak ada Yoochun.

”Iya, Cho Kyuhyun, ikut aja…” Haejin ikut mengajak.

Kyuhyun masih saja senyum belum mengiyakan.

”Sudahlah, kau ikut saja! Di komputer sekre ada Starcraft juga!” celetuk Nara.

Kyuhyun berdiri dan menggandeng Nara. ”Ayo tunggu apa lagi!” mereka sudah duluan sampai di pintu. Jinki, Haejin, Ririn, dan Siwon menganga.

”Eh, sekrenya dimana?” tanya Kyuhyun kemudian.

”Haish!” ganti Nara yang menyeretnya.

”YA TUHAN, BAGAIMANA MUNGKIN ADA KWAN NARA KEDUA DI MUKA BUMI INI???‼!”

Jinki, Haejin, Soeyoung, diikuti dengan Jack & Rose wanna be, ya soalnya mereka berdua udah nemplok kayak gorden sama jendela, mumpung nggak ada si Yoochun, pergi ke Sekretariat Himahi. Begitu pintu dibuka, Nara dan Kyuhyun sudah duduk di depan komputer sekre, dan sedang seru berkelahi berdua. Ada Sungmin yang memerhatikan keduanya dari belakang dengan wajah cengo.

Setelah akhirnya Nara dan Kyu bersikap cukup kooperatif untuk mendengarkan instruksi dari Sungmin, yang merupakan ketua Himahi. Tak lama mereka rapat, pintu sekre terbuka lagi, dan masuklah Changmin serta Donghae.

”Yoochun dan Junsu tak ada ya?” tanya Sungmin waktu dia mau mulai membagi tugas.

”Lagi makan dia di kantin!” sahut Ririn. ”Udah, biarin aja Sunbae, nggak ada Yoochun malah damai!”

”Yee!” Haejin menyikutnya. ”Kau mah mau mesum kalo nggak ada dia!”

”Mesum?! Ya, aku dan kau itu tingkat ke yadongannya sama!”

”Mwo?!”

”Ya! Kalian sama-sama yadong, sudahlah… dengarkan Sungmin Sunbae dulu…” kata Soeyoung capek.

Haejin dan Ririn mau marah, tapi nggak jadi, Soeyoung memang begitu, tipe yang to the point. Akhirnya Sungmin langsung mengambil kesempatan. ”Jadi, karena orangnya cuma segini… kita bagi-bagi tugas yang gampang dulu aja deh. Ririn dan Siwon, kalian ikut Kibum ke Dekan, untuk minta tanda tangan persetujuan proposal Baksos kita ya.”

”Lalu Nara, Jinki, dan Kyuhyun, kalian ke bagian Keuangan, dari universitas mereka juga mau ngasih sumbangan untuk bakti sosial. Soeyoung kau disini dengan Donghae dan aku hitung pengeluaran, dan target lokasi penjualan. Dan Changmin serta Haejin, kalian berdua sebar surat baksos ke himpunan jurusan lain.”

Haejin mengambil undangan yang diangsurkan Changmin kepadanya, sementara Jinki, Nara, Kyuhyun, Kibum Sunbae, Ririn, dan Siwon sudah meninggalkan kantor sekre Himahi.

”Himasi, Himti, Himakom, Himako, Astri…” Haejin membalik-balik undangannya.

Changmin berkata. ”Kalo mau cepet, mendingan undangannya kita bagi dua… tapi kalo kamu nggak takut ngomong sendirian.”

”Hmm… kalo gitu aku ke Himti sama Astri, Sunbae sisanya…” ujar Haejin curang.

”Lho, kenapa kamu yang ambil Astri?” tanya Changmin.

Haejin mengacungkan telunjuknya, dan menggerak-gerakkannya di depan wajah Changmin. ”Akademi Sekretari. Aigo, Sunbae… disana cewek-ceweknya roknya pendek segini…” Haejin menunjuk dua jengkal di atas lutut. ”Sunbae mau batal puasanya? Nggak, kan… makanya mending aku yang kesana.”

Sungmin, Donghae, dan Soeyoung ngakak mendengar penjelasan Haejin.

”Terus, Himti?” tanya Changmin. ”Disana kan kebanyakan cowok, Haejin-ah… nanti kamu yang batal gimana hayo?”

”Di Himti…” baru Haejin mau menjawab.

”Himpunan Mahasiswa Teknik Informasi… ah!” Sungmin menepukkan tangannya. ”Ada si Im Seulong ya?!”

Haejin langsung menarik Changmin keluar dari ruangan dengan kesal, karena Sungmin menyebut nama Im Seulong lagi.

 

*Dikantin*

”Park Yoochun! Udah kek makannya, tega banget! Aku kan lagi puasa…” ujar Junsu yang memelas melihat deretan makanan yang berjejer di atas meja. Sementara Yoochun dengan asiknya meminum patbingsoo.

”Buka aja makanya…” sahut Yoochun enteng.

”Enak aja!”

Yoochun kemudian terbatuk beberapa kali dan menutup mulutnya dengan tangan, tapi begitu dia menengadahkan tangannya, Junsu terbelalak melihat bercak merah di tangan Yoochun.

”Yoochun-ah!” pekik Junsu. ”Apa yang terjadi, kok batukmu berdarah begitu, sih?” tanya Junsu khawatir. ”Kau pasti di azab tuh, gara-gara nggak puasa!”

Yoochun menggetok kepala Junsu. ”Ini sirup!”

”Sirup? Ah, elo jangan bego-begoin gue deh!” kata Junsu sebal. ”Emangnya orang nggak bisa bedain, yang mana darah yang mana sirup cocopandan! Itu tuh darah, Park Yoochun!”

Kemudian tubuh Yoochun terkulai begitu saja, jatuh kebawah. Junsu berteriak-teriak panik. Untung kantin tidak terlalu sepi, akhirnya Junsu dibantu beberapa orang, membawa Yoochun ke ruang kesehatan kampus. Badan Yoochun panas tinggi, dan batuk terus, darah segar merembes keluar dari mulut Yoochun.

Tak lama kemudian Yoochun sadar, dia melihat Junsu yang sedang panik mengelap mulutnya.

”Park Yoochun, sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?” tanya Junsu panik. ”Ah, iya aku harus beritahu Ririn, kau jangan bergerak dulu ya…”

Tapi Yoochun menahan tangan Junsu. ”Aniya! Jangan…” Yoochun menggeleng-geleng. ”Aku begini cuma kau yang boleh tau! Kalau sampai kau sebar-sebar keluar, hidupmu nggak akan pernah tentram!” ancam Yoochun.

”Tapi kan…”

”Kim Junsu!”

Akhirnya Junsu mengangguk pasrah.

 

*Badan Pemeriksa Keuangan Korea Selatan*

Tok. Tok. Tok.

”Masuk.” Ucap Jungsoo masih sambil membaca laporan-laporan yang berserakan di mejanya.

Masuklah Choi Heechul (marga Heechul jadi Choi disini). Membawa dokumen lagi, dan langsung duduk di hadapan Jungsoo. ”Laporan dari kantor pajak sudah aku terima, Jungsoo. K2 Enterpraise memang pajaknya menurun, dikarenakan saham mereka yang sudah terjual lebih dari delapan puluh persen.”

Jungsoo mengangkat wajahnya. ”Sahamnya hampir delapan puluh persen terjual?” tanyanya kaget.

”Itu dia yang mau aku laporkan, ternyata K2 Enterpraise sedang mengejar tender di Jepang, dan itu membutuhkan modal besar. Jadi wajar saja, kalau mereka menjual saham mereka gila-gilaan.” Heecul kemudian membuka laporannya. ”Dari Komisi Pemberantas Korupsi Korea Selatan ada laporan baru yang masuk ke kita, kalau ada perusahaan baru, yang suntikan dananya sangat besar. Itu harus diperiksa… ada kecurigaan aliran dana kotor disitu.”

Jungsoo mengambil dokumen yang dibawa Heechul. ”Ini perusahaan baru?”

”Iya, bergerak di bidang konstruksi seperti K2 Enterpraise, dan banyak perusahaan besar yang berani beli saham mereka. Dan kudengar perusahaan ini mau langsung ikut tender di Jepang. Tender yang sama yang dikejar oleh K2 Enterpraise…” kata Heechul lagi.

Jungsoo menghela napas. ”Kok kayaknya perusahaan-perusahaan ini saling berhubungan ya? Kasus besar ini!”

”Makanya… kita tak boleh lengah. Aku harus kembali, Jungsoo… nanti kalau ada yang baru akan langsung kuberikan laporannya kesini.” Heechul berdiri dan keluar dari ruangannya.

Jungsoo bersandar di kursinya. ”Cho Enterpraise, baru berdiri, tapi Shin Corp. dan Kim Corp. sudah berani pasang tender cukup tinggi disini… belum lagi… Kim Jaejoong, Direktur Utama Kim Corp, yang sudah membeli saham banyak dari K2 Enterpraise, itu kan seperti Kim Corp juga mendukung K2 Enterpraise memenangkan tender! Ada yang nggak beres disini…”

 

*Shibuya, Jepang*

Kheynie dan Youngwoon sedang bersiap-siap di kamar hotel mereka. Keduanya berpakaian sangat rapi. Youngwoon dengan jas terbaiknya, tas laptop sudah siap. Kheynie juga dengan blazer terbaiknya. Keduanya akan memulai presentasi mereka kepada salah satu perusahaan di Jepang.

Setelah siap, keduanya kemudian keluar dari dalam kamar hotel. Mereka agak canggung dan gugup untuk presntasi ini, maklumlah, ini adalah presentasi yang menentukan masa depan perusahaan mereka. Saham sudah terjual delapan puluh persen, jika proyek ini gagal, perusahaan mereka bisa bangkrut.

Bersambung

alhamdulillah episode 4 rampung, Insya Allah episode 5 besok juga bisa rampung. Kalau bertele-tele mohon maaf ya… hehehehe, jangan lupa kritik, saran, komen. dan sekali lagi saya nggak maksa untuk baca lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s