When Sunrise Meet Sunset (Episode 3)

Episode 3

Perpustakaan Kampus

Changmin berjalan duluan memimpin, sementara dibelakangnya Siwon dan Ririn bebas bergandengan tangan. Yeah, tidak ada Yoochun yang mengganggu hari ini. Yoochun sedang bersama Sungmin, Soeyoung, dan Junsu, ke SMA Neul Paran, melakukan entah apa.

”Seneng banget, sih…” Siwon mengacak rambut Ririn.

”Iya doooong, jarang-jarang ada kesempatan begini…” Ririn malah merapatkan tubuhnya, dan Siwon meraihnya dalam pelukannya. ”Aduuuh, sayang banget masih puasa.” Siwon cuma terkekeh.

Changmin cuma bisa pasrah melihat kedua hoobaenya bermesraan, dalam hati dia pasti kepingin juga punya pacar. Tapi begitu mereka masuk perpustakaan, Siwon dan Ririn langsung membantu.

”Jadi kita cari link yang gimana, Sunbae?” tanya Ririn.

”Perusahaan yang kira-kira mau kasih kita dana untuk Sahur on The Road, perusahaan apa aja, yang jelas yang eco-friendly, ya.” Sahut Changmin, akhirnya mereka bertiga menyebar mencari beberapa data perusahaan di perpustakaan.

Setelah mereka berkumpul, dan mendiskusikan link-link yang mereka dapatkan, Ririn mengambil kertas kosong yang disediakan untuk mencatat. Setelah mereka selesai, ketiganya langsung keluar lagi dari perpustakaan dan kembali ke ruang sektretariat Himahi. Dalam perjalanan, masih saja Siwon dan Ririn bercanda berdua, memanfaatkan kesempatan.

”Siwon-ah… kita jalan-jalan yuk…” rengek Ririn.

Siwon mengernyit. ”Jalan kemana?”

”Kemana kek, soalnya kita jarang bisa bebas berdua begini! Biarin aja si Yoochun mumpung lagi di SMA, tebar pesona sama cewek-cewek kecil. Kita jalan yuuuuuk, yaaaa?”

Siwon bertanya. ”Lah, kalo nanti Yoochun dateng gimana?”

”Aduuuh biarin aja deh! Yang penting sekarang kita jalan dulu, gimana?” rengek Ririn.

”Ya, okelah… pamit dulu sama Haejin sana.”

Mereka bertiga sampai di kantor Himahi, begitu pintu dibuka nampak Donghae yang serius dengan komputer sekre, dan Haejin yang memakai laptop Donghae. Keduanya mendongak begitu mereka bertiga datang.

”Dapet?” tanya Donghae.

”Dapet lumayanlah…” Changmin menaruh kertasnya di atas meja Donghae, Donghae meraihnya, dan membukanya. ”Oke…”

”Haejin-ah…” Ririn mendekati Haejin.

Haejin mengangguk, serius menatap laptopnya, twitter-an ternyata. Ririn menghampirinya. ”Kau ngapain?”

”Tadi disuruh sama Donghae Sunbae cari resep patbingsoo…”

”Resep patbingsoo?” tanya Ririn melihat layar laptop Donghae. ”Mana ada resep patbingsoo Haejin-ah, kangen ketemuan yuk!”

Haejin menekap mulut Ririn. ”Aduuuuh! Bisa pelan-pelan nggak sih?! Bocor amat mulut lu!”

Baik Siwon, Changmin, dan Donghae jadi menoleh, mereka bertiga jelas mendengar kalimat Ririn tadi.

”Resepnya udah ketemu! Sekarang aku lagi twitteran!” desis Haejin malu.

”Ceilah… itu siapa sih?” tanya Ririn mau tau aja.

”Kenapa emang? Udah punya Siwon juga!”

Siwon tertawa. ”Jagiya, jadi nggak?”

”Ah iya!” Ririn menepuk dahinya. ”Haejin-ah… aku dan Siwon mau jalan-jalan berdua.”

”Lalu?” tanya Haejin tak peduli.

”Yee! Aku mau bilang, kalau si Yoochun itu bertanya…”

Haejin menoleh menatap Ririn. ”Aku harus jawab apa dong?”

”Jawab saja sudah pulang ke rumah! Oke? Daaah…” dan Ririn berdiri. ”Dan sampaikan salam buat si…” Ririn mengintip. ”Im Seulong itu ya!” Ririn kemudian kabur.

Haejin gemas sekali dengan kelakuan Ririn tersebut.

”Wah, Haejin udah punya pacar ya?” ledek Changmin dan Donghae bareng.

Haejin meringis.

 

*SMA Neul Paran*

Minho mengantarkan ketiga seniornya keluar dari dalam ruang rapat, kemudian kembali ke dalam. ”Kalau begitu, rapat hari ini juga selesai saja, jangan lupa besok kita ke kampus Neul Paran, dan siapkan baju ganti, karena sorenya kita akan langsung berjualan patbingsoo.” Ujar Minho.

Semua mengangguk, berdiri dan saling membungkuk memberi hormat.

JeSoo merapikan lagi catatannya dan kotak pinsilnya, lalu berdiri mengikuti Hyorin. Minho memanggilnya. ”Lee JeSoo-ssi!”

JeSoo menoleh. ”Ne, Minho-ssi?”

”Aku harap kau tidak terlambat lagi untuk rapat, karena statusmu yang merupakan sekertaris OSIS!” ucap Minho tegas.

”Ah, ye…” JeSoo mengangguk, dan membungkuk. ”Joesohamnida, Minho-ssi.”

”Ini karena ada Lee Taemin yang kebetulan kenal dengan kakaknya, Lee Hyorin, yang merupakan salah satu fungsionaris OSIS…” Minho nampaknya masih belum berhenti menasihati JeSoo.

JeSoo mengangguk, dalam hati dia sedih, image-nya di mata orang yang disukainya buruk.

”Sekarang coba bayangkan kalau Lee Hyorin yang bukan pengurus OSIS inti itu tidak perlu rapat, dan kau berkeliaran hilang seperti tadi… aku harus apa, coba?” masih saja Minho memarahi JeSoo.

Wajah JeSoo sudah memerah karena hendak menangis.

”Aku tidak mau hal seperti ini terulang kembali…”

”Ne, Minho-ssi, aku jan…”

”Maka aku minta nomor ponselmu…”

”Mwo?!” JeSoo mengangkat wajahnya karena kaget.

Minho menyodorkan ponselnya dengan enggan dan menatap ke arah lain. ”Aku tidak mau terulang kejadian seperti tadi, jadi jika ada rapat aku bisa menghubungimu lebih dulu. Kau kan sekertaris…”

”Ah…” JeSoo meraih ponsel Minho, dan memasukkan nomornya dengan jari gemetaran, kemudian mengembalikannya lagi kepada Minho.

Minho melihat nomornya, dan menghubungi JeSoo. JeSoo mengeluarkan ponselnya yang bergetar karena ditelepon Minho, Minho langsung mematikan sambungannya. ”Itu nomorku, simpan.” Dan dia langsung pergi begitu saja.

JeSoo masih terperangah di depan pintu ruang OSIS. Choi Minho, Choi Minho, baru saja meminta nomor ponselnya. Kemudian muncul wajah Hyorin di depan pintu, tepat di depan wajah JeSoo.

”JeSoo-yah… mau sampai kapan kau berdiri disitu?” karena JeSoo masih agak-agak nggak sadar, Hyorin yang tidak sabar akhirnya menarik tangan JeSoo keluar dari ruang OSIS.

”Kau itu kenapa sih?” tanya Hyorin heran.

”Molla…” JeSoo cuma geleng-geleng.

Hyorin akhirnya menepuk pipi JeSoo, pelan sih, namun bunyinya ya lumayan. Hingga JeSoo menoleh sadar. ”Ah, Hyorin-ah… HYORIN-AH…” JeSoo langsung memeluk Hyorin.

”Ya! Ya! Ya! Kau gila ya? Digampar malah girang?”

”Aniyoooo… Minho, Choi Minho! Choi Minho!”

”Ah, kenapa dia?”

”Dia minta nomor hapeku‼!”

 

*Lantai Lima, SMA Neul Paran*

Wookie yang baru saja keluar dari kelasnya melihat dua orang yang sudah tidak asing lagi. Ya, kakaknya, Junsu, yang sedang menarik paksa saudari tirinya, Yoonrae ke atas. Terbersit ingin mengikuti, namun ketika berbelok di tangga Wookie menabrak seorang gadis.

Gadis itu tersungkur.

”Ah, mianhaeyo…” Wookie langsung membantu gadis itu duduk. ”Gwenchana? Mianhamnida… aku sama sekali tidak sengaja.”

Gadis manis itu menggeleng. ”Gwenchana,”

Wookie membantunya berdiri. ”Sepertinya aku belum pernah melihatmu… atau kita memang belum pernah bertemu? Kita sama-sama kelas satu, kan?” Wookie menunjuk badge anak peremepuan itu.

”Ne…” gadis itu tersenyum. ”Murid pindahan, Cho Hyunmi-imnida.”

”Ah… Kim Ryeowook-imnida…” Wookie ikut memperkenalkan diri. ”Panggil saja, Wookie. Kau murid pindahan?”

”Ne, ayahku dipindah tugaskan dari Incheon kesini, karena nilaiku cukup bagus, jadi aku berhasil masuk kesini.”

”Incheon? Kau dari Incheon?”

”Ne… Wookie-ssi…”

”Ah, jangan sungkan…” kata Wookie ramah. ”Kau pasti agak canggung, aku juga orang Incheon. Kalau begitu ini hari keberapamu disekolah ini?”

”Hari kedua, Wookie-ssi…”

”Ah, jangan sungkan…”

”Ah, ye…”

”Kalau begitu, ayo kutraktir makan…” ajak Wookie. Dia langsung lupa pada apa yang dilakukan kakaknya dan saudari tirinya.

 

*Pelataran Parkir SMA Neul Paran*

”Yoochun-ssi, dimana Junsu?” tanya Sungmin.

Yoochun juga bingung, dia mencoba menghubungi Junsu, namun Junsu sama sekali tidak mengangkat ponselnya. Tapi akhirnya kemudian Junsu muncul, wajahnya muram. Yoochun sendiri tidak berani bertanya ada apa kepada sahabatnya itu, mereka kembali ke kampus.

Di perjalanan, Junsu nampak murung, sehingga suasana menjadi canggung. Ya Junsu memikirkan Yoonrae, saudari tirinya. Sesampainya di kampus, Junsu langsung mengambil mobilnya sendiri, dan tanpa kata sedikitpun dia langsung pergi dari kampus. Dia langsung mengendarai mobilnya ke rumah, sesampainya di rumah, dia langsung masuk.

”Tuan…” sapa pelayannya.

”Yoonrae sudah pulang?” tanyanya.

Pelayan itu menggeleng. ”Baru Tuan Jonghyun dan Tuan Key yang sudah sampai di rumah. Yoonrae biasanya sebentar lagi akan sampai, dan Tuan Wookie masih belum pulang.”

”Aku tidak mencari Wookie…” Junsu langsung ke dalam.

Rumah ini seperti penginapan saja. Isinya tak ada yang berkomunikasi satu sama lain. Jonghyun di kamar, Key juga, hanya Junsu dan Wookie yang masih sering ngobrol. Sejak kedatangan Miyoung Ahjumma, dan anak perempuannya, Yoonrae. Junsu duduk dan menatap jendela kamarnya, letak kamarnya memang didepan, jadi jika Yoonrae pulang, dia bisa melihat.

Tapi tak lama kemudian yang datang justru mobil Wookie, dan Wookie sendirian. Padahal menurut pelayannya seharusnya Yoonrae kembali jam segini. Junsu keluar dari kamarnya dan menghadang Wookie yang baru mau masuk ke kamarnya juga.

”Wookie-yah!”

”Eh, Hyung…”

”Kau darimana?”

”Aku punya teman baru, dia baru tiba dari Incheon… maka aku mengenalkan Seoul kepadanya hari ini.” Jawab Wookie semangat.

”Dimana Yoonrae?”

Wookie bingung. ”Mana aku tahu, Hyung…”

”Kau ini! Yoonrae itu kan perempuan kenapa kau tidak bisa bersikap dewasa? Jonghyun dan Key sudah tidak mau mengajak Yoonrae di mobilnya!” Junsu tiba-tiba menyemprot.

”Hyung, percayalah… aku tidak mengabaikan Yoonrae! Tapi aku sama sekali tidak bertemu dengannya, Hyung… biasanya aku selalu mengajak Yoonrae pulang bersama. Tapi tadi Yoonrae memang tidak ada…”

Junsu masuk lagi ke kamarnya dengan kaki dihentakkan. Sementara Wookie ikut geleng-geleng.

 

*Dikamar*

”Jadi kau sudah menjalankan rencana itu?” tanya Yunho dari telepon.

”Ne…” Miyoung mengangguk.

Yunho tertawa lepas. ”Bagus, Miyoung-ah… bagus! Kau berada di jalan yang benar sekarang! Kau harus pastikan pada suamimu itu kalau dia benar-benar membeli saham di perusahan K2 Enterprise, karena kalau tidak… kau tahu akibatnya…” ucap Yunho menggantung.

”Kau tak perlu mengancamku!” desis Miyoung. ”Jaejoong sudah setuju, dan dia akan membeli saham itu!”

”Baguslah kalau begitu, jalanku ke Youngwoon dan Kheynie semakin dekat. Sekarang kau pastikan, jika surat bukti pembelian saham itu sudah ada. Kurasa kau sudah bisa hidup tenang bersama Yoonrae.” Kekehnya.

Miyoung cuma bisa menghela napas. ”Kau tinggal tunggu kabarnya saja!”

”Baiklah…”

Sementara Yunho tersenyum menyeringai di kamarnya. ”Bagus, untuk tender terbaru ini, Kheynie dan Youngwoon jelas membutuhkan dana banyak sebagai modal. Saham sebagian besar sudah berada di tangan Shindong Hyung, dan Jaejoong sudah membeli sahamnya juga. Tinggal show time!”

 

*Rumah Keluarga Park*

Ririn turun dari motor Siwon, tersenyum sangat senang. ”Gomawo, Jagi… hari ini aku benar-benar senaaaaang sekali.”

”Cheonmaneyo… lain kali semoga kita bisa buka puasa bersama.”

”Oke, kalau begitu aku masuk. Kau hati-hati dijalan ya, Jagiya…”

”Ara, saranghae…” dan Siwon menyalakan mesin motornya, dan langsung pergi dari situ.

Ririn masuk ke dalam rumah, ”Eomma… aku pulang!”

”Udah pulang?” tanya Sangmi, ibunda dari Yoochun dan Ririn yang sedang duduk menonton televisi. ”Uuh, anak Eomma sumringah sekali. Habis darimana sih?” goda Sangmi.

”Yaelah, Eomma… kayak nggak pernah muda aja!”

”Waduh jawabannya…” Sangmi geleng-geleng. ”Yoochun kok belum pulang? Kemana dia?”

”Lah? Belum pulang?”

Sangmi menggeleng. ”Belum.”

”Tumben, biasanya mencak-mencak dia kalau aku sama si Siwon.”

”Kenapa ya?” Sangmi geleng-geleng lagi. ”Siwon kan ganteng, orangnya soleh pula… kenapa Yoochun sebel ya sama dia?”

”Karena Yoochun kalah ganteng sama Siwon!” jawab Ririn enteng.

”Enak aja!” Yoochun tiba-tiba muncul dan menggeplak kepala Ririn.

Sangmi menoleh. ”Yoochun-ah! Gak boleh begitu ah, sama adik sendiri kok kasar gitu sih?”

”Mian, Eomma… siapa yang nggak kesel kalau dibilang pacar adiknya lebih ganteng dari oppanya!” kata Yoochun bersungut-sungut.

”Eh, terima nasib dong! Kau kan oppaku, masa aku milih kau daripada Siwon? Plis deeeh…”

”Tidak boleh!” ujar Yoochun.

”Kenapa sih?!” tanya Ririn naik pitam.

”Eit! Eit! Udah ah, mulai deh… lagi puasa juga! Yoochun, Ririn, mandi sana! Bentar lagi buka puasa…”

”Ririn-ah! Mandi bareng yuk!”

Dan jawaban dari Ririn adalah tasnya yang melayang ke wajah Yoochun. Yoochun cuma tertawa ngakak. Sangmi menghela napas melihat kelakuan tak dewasa Yoochun dan Ririn.

Bel pintu berdering lagi, tak lama kemudian masuklah suami Sangmi, Jungsoo, yang wajahnya nampak lelah. ”Yeobo…” sapanya sambil tersenyum lelah, dan mengecup kedua pipi Sangmi.

”Banyak kasus, Yeobo?” tanya Sangmi sambil mengambil tas kerja Jungsoo.

Jungsoo tersenyum. ”Harga saham sedang naik turun terus beberapa hari ini, aku harus jeli. Tidak bisa sembarangan…”

”Ya sudah, kau duduk dulu… aku siapkan air hangat, sebentar lagi buka puasa. Malam ini mau tarawih?”

”Keureom.”

 

*Keluarga Kwan*

”Eomma…”

”Nara-ya… sudah pulang? Donghae-ah…” Kheynie menyambut kedua anaknya. ”Bagaimana kampusnya?”

”Baik!” sahut Nara mengacungkan jempolnya.

”Ahjumma baru pulang?” tanya Donghae melihat Kheynie masih memakai seragam kantornya. ”Mana Ahjussi?”

”Iya, kami baru pulang, hari ini pulang agak terlambat karena mengurus berkas-berkas untuk di bawa ke Jepang.” Sahut Kheynie. ”Ahjussimu sedang mandi, Ahjumma baru menyiapkan perlengkapan berbuka… kalian ganti bajulah dulu, sebentar lagi adzan.”

”Oke…” Nara dan Donghae naik ke atas.

Ketika adzan berbuka, mereka berempat buka puasa bersama, kemudian shalat maghrib berjamaah, baru makan malam. Ketika makan malam, Youngwoon berkata kepada Nara.

”Nara-ya… cepatlah punya pacar.”

Nara yang sedang mengunyah bakso bulat, langsung menelan bulat-bulat bakso tersebut, hingga tak dapat bernapas. Donghae dan Kheynie tertawa, lalu Donghae menggebuk punggung Nara, dan Nara dapat bernapas dengan lancar.

”Appa!” pekik Nara.

”Lho kenapa?” tanya Youngwoon polos. ”Yeobo, bukankah memang benar ini sudah saat yang tepat untuk Nara punya pacar?”

Kheynie mengangguk. ”Benar.”

”Eomma…” keluh Nara.

”Kau juga, Donghae-ah… jangan cuma tertawa!” tegur Kheynie. ”Sudah kami bilang berkali-kali untuk cari pendamping.”

”Ahjumma…” keluh Donghae.

Youngwoon geleng-geleng. ”Kalian berdua ini sama saja, Nara-ya… kau harus cari pria yang dapat melindungimu, Appa kan sudah tua… dan Donghae tidak mungkin menjagamu terus. Donghae juga harus mencari gadis untuk dijaga.”

”Aih aih…” Nara geleng-geleng. ”Emang cari pacar kayak cari baju di Tanah Oppa apa?” *Tanah Oppa itu semacam Tanah Abang, karangan saya sendiri, #plakk*

”Nara-ya… nggak boleh begitu,” Kheynie ikut menambahkan. ”Kalau nanti Eomma sama Appa pergi kan, harus ada yang jaga Nara. Masa Donghae sih? Donghae itu kakak kamu  lho, walau bagaimana pun juga…”

”Eomma! Saya nggak napsu sama Donghae…”

Pletak! Jitakan mendarat mulus dikepala Nara, dari Donghae.

”Yah! Kau ini…” Nara melotot.

”Ahjumma… Ahjussi… lihat saja tuh, padaku saja dia galak seperti ini… aigooo, kira-kira tipe macam apa yang akan cocok denga gadis sepertimu Nara-ya?” Donghae kembali makan.

Nara geleng-geleng. ”Yang jelas harus suka game!”

”Nara-ya… kau ini sudah kuliah, jurusanmu Hubungan Internasional, kenapa cari pacar yang suka game? Cari kek diplomat…” Kheynie geleng-geleng.

”Diplomat yang jago game pasti ada!”

”Aigo…” Kheynie, Youngwoon, dan Donghae geleng-geleng bareng melihat kelakuan abnormal Nara. *dicekek yg punya nama*

”Tapi, Nara-ya… Donghae-ah…” kata Kheynie lagi. Nara dan Donghae langsung mendongak dari piring masing-masing. ”Kami berdua ini serius. Kalian harus mencari pendamping hidup. Donghae, carilah yang bisa menerimamu apa adanya, dan Nara, yang bisa menjagamu.” Ujarnya serius.

”Karena kami berdua ini kan sudah tua…” kata Youngwoon lagi.

”Appa… Eomma…”

”Ahjumma… Ahjussi…”

Nara bicara lagi. ”Umurku saja belum dua puluh, Appa… kenapa buru-buru banget sih? Tuh si Hae, umurnya udah dua puluh!”

”Kok jadi bawa-bawa umur!” Donghae mendelik pada Nara.

”Donghae-ah, Nara-ya… kami serius! Apalagi kami akan pergi ke Jepang… akan lebih baik jika kalian sudah punya pasangan.”

”Eomma…” rengek Nara.

”Berjanjilah, kalian akan berusaha mencari pasangan jika kami pergi, oke?” kedip Youngwoon.

Donghae dan Nara tidak punya pilihan lain kecuali mengangguk.

 

*Di Sebuah Kantor*

Shindong duduk membelakangi meja, menatap jendela kantornya, yang terletak di lantai paling tinggi. Melihat ke luar, udara malam, dan lalu lintas kota Seoul terlihat jelas dari jendela. Shindong masih terdiam, ketika kemudian pintu diketuk lagi, dan masuklah sekertarisnya.

”Tuan Shindong… Tuan Muda mengembalikan kembali paketnya…” Sekertaris itu nampak takut.

Shindong langsung memutar kursinya. ”Mwo?!”

”Iya, Tuan… Tuan Muda Shin menolak paket yang Tuan berikan, saya sudah mencoba menghubungi Tuan Muda, tapi Tuan Muda menolak menjawab telepon dari saya.”

Shindong menghela napas kencang. ”Mau sampai kapan anak itu bertindak bodoh?! Ya sudah, paketnya disimpan saja! Ada pekerjaan apa lagi yang harus aku kerjakan malam ini?”

”Hanya menunggu berkas dari Tuan Cho, Tuan.”

”Ya sudah, kau boleh keluar!” Shindong kembali memutar kursinya, sementara sekertarisnya keluar. Shindong mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor anak semata wayangnya.

Dia menjawab. ”Ada apa?” tanyanya ketus.

”Kenapa kau menolak paket dari Appa-mu, ha?”

”Aku tidak mau!”

”Berhenti bersikap egois!”

”Sudah cukup Appa bertindak seperti itu! Appa, Eomma yang sudah meninggal pasti tidak akan suka dengan cara Appa! Yang Appa kerjakan itu kejahatan, dan aku tidak akan mau ikut di lubang hitam seperti Appa!”

”Ya, Shin Changmin!” teriak Shindong.

Changmin. ”Lebih baik aku hidup terbuang daripada aku mempunyai Appa yang berkecimpung dibidang kejahatan!”

”Appa melakukan ini ada alasannya, Shin Changmin! Jangan kerjamu cuma membantah Appa!”

”Aku tidak mau! Jangan harap aku pulang ke rumah kalau Appa tidak mau berhenti menjalankan bisnis kotor Appa!” Changmin memutuskan sambungan teleponnya.

Shindong berdecak. ”Apa yang bisa membuatnya kembali kepadaku? Ah, sebaiknya telepon Yunho!”

Tak lama Yunho mengangkat teleponnya. ”Hyung…”

”Bagaimana? Sudah bertemu dengan Lee Hyukjae?”

”Sudah, Hyung… masalah tender sudah beres, saham juga semua sudah beres, si Jaejoong mau membeli saham-saham K2 Enterpraise atas bujukan orang suruhanku, dan sekarang saham K2 sudah benar-benar tipis sekali… tapi modal mereka untuk ke Jepang akan semakin kuat. Rencana C adalah rencana Hyung!”

”Rencana C sudah siap, tinggal waktunya saja… kalau begitu kerjamu bagus, Cho Yunho.”

Shindong menyeringai lagi. ”Kheynie dan Youngwoon, mianhamnida…” dia tertawa.

 

*Bandara Incheon*

Kheynie memeluk Nara erat-erat. ”Jaga diri baik-baik ya, jangan susah bangun sahur! Jangan main game sampe malem, kalau kuliah nggak boleh bolos-bolos.”

”Sip, Eomma!”

”Solat nggak boleh bolong! Kalo bolong, Donghae-ah, sabet aja pake sapu lidi anak ini ya!”

”Eomma…”

Donghae tertawa, kemudian ganti memeluk Kheynie. ”Ahjumma jaga kesehatan ya disana, sering-sering kabari kami.”

”Titip Nara, ya…” kata Kheynie begitu melepas pelukannya.

Kemudian Youngwoon memeluk Nara. ”Nara-ya… jangan nakal, baik-baik disini dengan Donghae! Jangan begadang melulu gara-gara main game! Solat, dan puasa yang bener ya…”

”Ne, Appa…”

Ganti Donghae yang memeluk Youngwoon. ”Aigooo, uri Donghae!” Youngwoon menepuk Donghae. ”Sudah jadi namja yang tampan (author curhat dari hati teramat dalam). Jaga Nara, ya… kalau bisa, aku percayakan kau untuk mencari pendamping Nara.”

”Ahjussi… Nara masih muda kok, masih lama…”

”Tolonglah…”

”Appa… emang si Hae ini mak comblang apa?” ujar Nara malu.

Kheynie mengelus kepala Nara. ”Janji carikan Donghae pacar yang pengertian, dan dapat menerima Donghae apa adanya. Donghae juga, carikan Nara namja yang dapat melindungi Nara.”

”Ne, Ahjumma… Ahjussi…”

Nara mengangguk.

”Kalau begitu kami berangkat, ingat pesan kami!” Youngwoon dan Kheynie akhirnya memasuki gerbang keberangkatan.

Bersambung…

Jadi, apakah ceritanya malah jadi bertele-tele? Maaf yaa kalau misalkan bertele-tele, saya juga masih berusaha untuk lebih maju lagi ke depannya untuk mengalahkan Cinta Fitri.

Seperti biasa, maaf kalo mengecewakan para readers, dan saya nggak maksa untuk membaca, kalau ada yang menganggap ini membosankan, boleh menyampaikan kritik dengan baik, no bash, oke ?🙂 author juga perlu koreksi dari kalian. *hug pembaca* Gomawo semua… Insya Allah besok ada lanjutannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s