When Sunrise Meet Sunset (Episode 2)

*Dikelas Angkatan 2*

Nara, Ririn, Haejin, dan Soeyoung sedang tertawa-tawa bersama di dalam kelas. Menunggu dosen datang, ketika Dekan Akademik mereka, Lee Soo Man, masuk ke dalam kelas, dan sontak membuat seisi kelas terdiam.

”Kok dia sih?” bisik Nara pada Ririn. ”Bukannya sekarang kita kuliahnya Bahasa Jepang, ya?”

Ririn mengangkat bahu.

”Ini, kelas Hubungan Internasional angkatan dua?” tanya Lee Soo Man. Seisi kelas mengangguk, ”Ah begitu, kalau begitu… ya, kau silakan masuk, ini kelasnya!” Lee Soo Man memanggil seseorang dari pintu.

Dari pintu masuklah seorang pria jangkung dengan kaus dan sweater, serta celana panjang. Wajahnya luar biasa tampan, dan rambutnya pendek, matanya bulat. Dia membungkuk dalam-dalam.

”Annyeonghaseyo… Cho Kyuhyun-imnida, mahasiswa transfer dari Incheon, mohon bantuannya.”

Lee Soo Man kemudian berbicara pelan kepada Kyuhyun, Kyuhyun mengangguk, dan langsung duduk di salah satu kursi kosong. Nara, Ririn, dan Seoyoung cuek-cuek aja, tapi Haejin ngelirik Kyuhyun terus.

”Emang bisa ya, mahasiswa transfer di tengah-tengah semester gini?” tanya Haejin sambil terus menatap Kyuhyun yang duduk diam.

”Bisalah, itu buktinya…” tunjuk Nara.

”Hmm…” Soeyoung berkata setelah melakukan sesuatu pada laptopnya. ”Cho Kyuhyun, wajar dia jadi murid transfer! Otaknya… dia pernah menang olimpiade Matematika, terus waktu semester satu di kampus asalnya, pernah jadi perwakilan untuk sidang PBB di New York. Daebak!”

Ririn dan Nara langsung menoleh. ”Jinja?!” pekik keduanya.

”Iya, ini aku baca… orang sama fotonya sama kok!” tunjuk Soeyoung.

Haejin manggut-manggut. ”Pantes bisa transfer… aduh, cakep juga itu namja! Tapi jangkung banget!”

”Haejin-ah, inget-inget puasa! Jangan kau keluarkan yadongmu tengah hari begini!” tegur Ririn.

”Justru itu! Aku nggak nafsu sama dia!”

Nara dan Ririn kompak menoyor kepada Haejin, teman mereka yang satu ini memang suka lebai kalau sudah menyangkut soal laki-laki. Tapi meski begitu, Haejin ini belum punya pacar.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka, dan masuklah seorang pria lagi, yang badannya lebih kecil dari Kyuhyun, namun sama tampannya. Dia tersenyum kepada seluruh kelas.

”Mahasiswa transfer lagi?” bisik Haejin pada Nara.

Nara terkikik. ”Bukaaaaaan…” karena itu kakak angkatnya.

”Ckckckck…” Ririn berdecak.

”Maaf ganggu sebentar, belum ada dosen, kan?” tanyanya kepada seluruh kelas. Lagi-lagi seluruh kelas mengangguk. ”Saya Lee Donghae, dari Himahi, saya mau kasih pengumuman soal bakti sosial.”

Jinki langsung berdiri dan menghampiri Donghae. ”Ini, Sunbae… beberapa anak yang sudah bersedia jadi pengurus.”

”Ah, jinja?” Donghae mengambil kertasnya. Kemudian memandang ke seluruh kelas, “Kalau begitu, yang udah bersedia jadi panitia nanti tolong kumpul di kantor Himahi, ya?”

Ririn, Haejin, dan Soeyoung menunduk pasrah.

”Ne, Sunbae-nim!” cuma Nara yang semangat. Donghae nyengir pada adiknya.

Jinki tersenyum kepadanya, kemudian Jinki memandang Kyuhyun yang sedang duduk tenang. ”Kyuhyun-ssi, maukah kau ikut acara bakti sosial kami sebagai pengurus?” tanya ramah.

Kyuhyun cuma tersenyum. ”Mianhaeyo, aku harus mengejar ketinggalan kuliahku.”

”Ah, gwenchana…”

Siangnya, ketika seharusnya setelah sholat di mushola mereka tidur menunggu kuliah berikutnya, Ririn, Haejin, dan Soeyoung dengan langkah diseret mengikuti Nara yang dengan sukacita pergi ke kantor Himahi.

”Ririn-ah… Ririn-ah… sssttt!”

Ririn menoleh, begitu juga ketiga kawannya, Siwon tersenyum dari balik pohon, di depan musholla, pasti habis sholat juga.

”Iih! Gak boleh mesum tau kalo bulan puasa…” tegur Haejin.

Ririn nyengir. ”Kalo gak sekarang kapan lagi? Si Yoochun lagi makan di kantin pasti, dia nggak puasa… aku pacaran dulu ya, nanti aku nyusul!” Nara, Haejin, dan Soeyoung geleng-geleng, kemudian berlalu dari Ririn.

Ririn menghampiri Siwon, ”Jagiya, apa kabarmu hari ini?”

”Gwenchana, kau kan melihatku sejak pagi…” Siwon tersenyum. ”Kok tumben kalian cuma berempat? Yoochun kemana? Biasanya selalu mengekorimu, supaya kau tidak bisa bertemu denganku.”

”Yoochun menahan lapar dari tadi…” sahut Ririn. ”Dia kan tidak puasa, sekarang pasti sedang makan di kantin. Kau ikut rapat, kan?”

Siwon mengangguk.

Sementara Ririn dan Siwon cuma bisa pacaran di balik pohon, ketiga sahabat karib Ririn, yakni Nara, Haejin, dan Soeyoung berjalan menuju kantor Himahi. Tak lama kemudian, mereka sampai disana, di dalam ruangan tersebut sudah ada Jinki, dan Donghae.

”Oppa!”

Sungmin menoleh, dan mendapati adiknya. ”Hai!” sapanya singkat. ”Kau mau membantu, aish! Dongseng baik, gitu dong! Sekali-sekali berorganisasi, jangan kerjaannya internetan melulu di rumah.”

Haejin mendesis. ”Kalau bukan karena Nara memaksaku, aku pasti sedang tidur di mushola, Oppa!”

”Ha ha ha…” Sungmin ngakak. ”Nara-ya, good job! Kau boleh pakai komputer sepuasnya, asal mau membantu kami!”

”Sip, Sunbae!”

Akhirnya rapat dimulai, dipimpin oleh Sungmin. Perencanaan mengenai acara bakti sosial pun dimulai. Mereka berniat akan mengadakan Sahur on the Road serta buka puasa bersama. Di pertengahan rapat, Yoochun dan Junsu bergabung, setelah mengisi perut. Ririn cuma bisa geleng-geleng melihat kelakuan saudara kembarnya tersebut. Mereka kembali membicarakan langkah-langkah untuk bakti sosial, serta melakukan pembagian tugas.

”Jadi rencananya, untuk kegiatan bakti sosial… kita akan jualan patbingsoo di setiap lampu merah…” ujar Sungmin. ”Jualan kita mulai dari jam empat sore, sampai bedug maghrib. Di lokasi-lokasi yang terlihat strategis, lalu hasilnya nanti akan kita sumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu.”

Semua manggut-manggut mendengar omongan Sungmin. ”Untuk membuat pattbingsoo kan kita perlu modal, aku akan meminta iuran saja kepada kita semua, dan nanti modal itu akan kita putar setiap harinya. Apa kalian setuju? Ya, hitung-hitung, kita beramal lah…”

Semua mengangguk saja.

”Kalau begitu, Soeyoung-ssi, kau yang jadi bendahara, jadi kau kumpulkan uang anak-anak. Dan masalah jualan, mungkin kita bisa mulai besok, karena hari ini kita akan bertemu anak-anak SMA Neul Paran dulu. Soeyoung-ssi, kau ikut ya, kau kan bendahara, jadi kau bisa langsung menagih uang kepada anak-anak SMA itu untuk program ini.”

Soeyoung cuma dapat mengangguk lemas, dia melirik Nara ganas, tapi yang dilirik malah nampak cuek bebek. Akhirnya Soeyoung terpaksa ikhlas.

”Lalu yang akan jadi utusan untuk kesana, pertama aku… ketua panitia, Soeyoung bendahara. Junsu-ssi, bagaimana kalau kau ikut juga ke SMA?”

Junsu kaget, mengangkat wajahnya. ”Na?” dia menunjuk dirinya.

”Ye…” Sungmin mengangguk. ”Kau juga, kau seksi dana… nanti kuberitahukan tugasmu, jadi kau, aku, Soeyoung-ssi, dan siapa lagi ya?” Sungmin menatap berkeliling. ”Ah, Yoochun-ssi, kurasa Junsu-ssi akan lebih nyaman jika temannya juga ikut.”

Yoochun mengernyit, namun karena Sungmin adalah seniornya, dia tidak berani membantah. Setelah itu, Sungmin memberikan tugas kepada masing-masing orang, dan dia, Soeyoung, Junsu, dan Yoochun segera berangkat menuju SMA Neul Paran, sebelum pergi, Yoochun melayangkan pandangannya pada Ririn.

”Jangan macem-macem lo!”

”Apaan sih?!” sergah Ririn.

Yoochun berlalu mengikuti Junsu, Soeyoung, dan Sungmin keluar dari ruangan tersebut.

”Kalau begitu, urusan spanduk, Jinki-ssi, Nara-ssi, kalian ikut aku…” Kibum berdiri. Nara mengucapkan selamat tinggal kepada Haejin dan Ririn.

”Kalau begitu, yang akan jadi tim untuk mencari link perusahaan-perusahaan adalah, Siwon-ssi dan Ririn-ssi.” Changmin berdiri, kemudian dia menoleh pada Donghae. ”Kalau begitu aku dan mereka berdua akan langsung ke perpustakaan utama, kau disini siapkan sisanya ya.”

Donghae mengangguk sambil tersenyum. ”Serahkan padaku…” mereka bertiga langsung keluar dari ruangan, sementara Donghae kembali duduk dan menatap salah satu laptop di ruangan itu dengan serius, tanpa menghiraukan gadis yang sedang bingung di hadapannya.

”Sunbae…” panggil Haejin. ”Tugas saya apa?”

Donghae mengangkat wajahnya, bingung. ”Eh, kamu nggak dibilangin ya sama si Sungmin? Aigo, kukira dia bilang… sini, sini…” Donghae melambaikan tangannya kepada Haejin untuk mendekatinya.

Haejin menghampirinya. ”Kita disuruh riset, di lampu merah mana sebaiknya kita jualan. Terus, karena kau wanita, kurasa kau tau resep patbingsoo apa.”

”Ne?” ulang Haejin lola.

”Iya kata Kibum tadi kan kita disuruh urus sisanya, pekerjaan sisa adalah menentukan dimana lokasi yang tepat untuk kita berjualan patbingsoo itu. Dan karena urusan jalanan adalah urusan laki-laki, kau cari soal patbingsoo saja. Nih, kupinjamkan laptopku…” Donghae mengeluarkan laptop Vaio biru metaliknya.

Haejin mengambilnya. ”Cuma resep patbingsoo, kan?”

Donghae mengangguk. ”Ne…”

 

*SMA Neul Paran*

Minho menempelkan kertas pengumuman di salah satu mading, dan merekatnya dengan hati-hati.

Nan chakadi chakhanjeunghugooni geollin neoreoul ihae mot hagaetda

Minho menarik keluar ponselnya, dan melihat nama yang tertera di layar lcd-nya, Minho mengangkatnya. ”Yeoboseyo? Ah, keurae? Baik, Sunbae-nim… kami menunggu.” Minho mematikan sambungan telepon, dan kebingungan, dia memandang ke arah kerumunan teman-temannya yang sedang ramai karena sekarang adalah jam istirahat, dan sedang bulan puasa. Jadi koridor kelas sangat ramai.

”Yoonrae-ssi…”

Seorang gadis yang bernama Yoonrae, dengan rambut panjang dan wajah dingin menoleh padanya. ”Ya, Minho-ssi?” balas Yoonrae.

”Kau OSIS, kan? Kumpul sekarang di ruang rapat, ada yang perlu kita bicarakan lagi soal proyek bakti sosial.” Kata Minho. Dilihatnya Yoonrae mengangguk, dan berjalan menuju tangga.

Minho kemudian mengeluarkan ponselnya lagi dan menghubungi kawannya, yang juga merupakan penyiar radio sekolah. ”Kyorin-ssi… bisa kau siarkan kepada seluruh sekolah, kalau seluruh pengurus OSIS ditunggu diruangan OSIS sekarang? Oke, kamsahamnida…”

Setelah itu pengumuman terdengar, Minho berjalan santai ke arah ruang OSIS, di dalamnya sudah ada beberapa orang anggota OSIS, termasuk adik kandungnya sendiri. Minra. Minho menunggu hingga lengkap semua, namun hingga sepuluh menit, hanya dua orang yang belum tampak.

Lee JeSoo dan Lee Hyorin. Padahal JeSoo adalah sekertarisnya! Minho agak gugup, padahal sebentar lagi perwakilan dari universitas akan datang. Mungkin beberapa anak dan adik kelasnya bisa melihat kalau Minho sekarang sedang gelisah menunggu sekertarisnya datang.

”Sunbae…” Taemin memanggil Minho. ”Kebetulan Hyorin itu kakak saya, saya bisa meneleponnya dan menanyakan keberadaannya dan JeSoo Noona.”

Minho mengangguk. ”Ah, ya… tolong ya!”

Taemin menelepon tak lama kemudian tergesa-gesa, masuklah JeSoo dan Hyorin, Minho langsung meminta mereka berdua duduk. Tak lama kemudian pintu ruangan OSIS diketuk, masuklah Sungmin, Soeyoung, Junsu, dan Yoochun. Mereka kemudian terlibat pembicaraan soal program mereka tentang acara bakti sosial. Minho setuju atas seluruh saran Sungmin yang menurutnya sudah amat sangat matang, mereka kemudian menyarankan untuk besok berkumpul di kantor sekretariat Himahi di Universitas Neul Paran untuk mulai berjualan patbingsoo.

Setelah pembicaraan ini selesai, Soeyoung dan Junsu mulai mengumpulkan uang anak-anak OSIS SMA Neul Paran sebagai modal awal, Soeyoung yang mencatat, Junsu yang menagih.

”Kalau begitu, Minho-ssi terima kasih atas kerjasamanya.” Sungmin menjabat tangan Minho.

”Ne, sama-sama, Sunbae-Nim…” Minho tersenyum. ”Besok, kami akan kesana, setelah sepulang sekolah, pukul satu siang. Kita bisa langsung membuat patbingsoo, dan sorenya kita mulai berjualan.”

”Kalau begitu kami pamit…” Sungmin mengangguk kepadanya. Sungmin kemudian mulai berpamitan kepada seluruh isi ruang rapat, diikuti Soeyoung dan Yoochun. Junsu agak enggan.

Tiba-tiba Yoonrae berdiri, ”Minho-ssi, apa aku boleh keluar sebentar?” tanyanya.

”Ya, silakan…”

Yoonrae tiba-tiba saja sudah berdiri dan buru-buru keluar, Junsu menatap pergi gadis berambut panjang yang berwajah dingin tersebut. ”Sunbae, aku keluar juga duluan ya, mau ke kamar mandi.”

”Ah, ye…”

Junsu buru-buru keluar dari dalam ruangan rapat tersebut dan berhasil menangkap tangan Yoonrae yang sedang melangkah cepat-cepat, Yoonrae yang kaget nyaris memekik, namun Junsu melempar pandangan meminta Yoonrae diam, Junsu menarik Yoonrae dan membawanya ke atap.

”Kenapa kau menghindariku?!” tanya Junsu.

”Aku tidak menghindari Oppa!” balas Yoonrae.

”Aku memang tidak menyukai ibumu! Tapi aku tidak ada masalah denganmu, jadi berhentilah bersikap seolah-olah memusuhiku!” balas Junsu.

Yoonrae menatap Junsu galak, rambut panjangnya tersibak ke belakang. ”Tak perlu baik-baik saja padaku, Oppa! Kalau kau membenci Eomma, maka kau juga membenciku! Oppa, kau, Jonghyun Oppa, dan Key sama saja! Kalian semua membenciku, membenci Eomma!”

”Kami tidak membencimu…” jawab Junsu salah tingkah.

”Tapi kalian membenci Eomma!” teriak Yoonrae. ”Jadi jangan sok baik padaku! Perlakukan aku seperti Jonghyun dan Key!”

Junsu terperangah. Yoonrae mengibaskan tangannya keras, dan langsung berlari keluar dari rooftop. ”Aku memang membenci ibumu! Tapi aku sama sekali tidak pernah membencimu, Kim Yoonrae…” bisiknya lirih.

 

*Ruang Rapat HS Enterprise*

Hankyung dan Hyukjae nampak bertukar cerita, mengenai kegiatan mereka di rumah. Anak-anak mereka, bagaimana istri mereka. Keduanya sedang duduk di ruang rapat kantor Hankyung, untuk membicarakan bisnis dengan seorang teman Hankyung, yang bernama Shindong.

Pintu ruangan diketuk, masuklah seorang wanita yang merupakan sekertaris Hankyung. Sekertaris itu membungkuk, dan mengantarkan seorang pria berperawakan besar, dengan jas hitam lengkap, kemeja kuning cerah, dan dasi merah.

”Shindong-ah… apa kabar?” Hankyung langsung menyambutnya.

”Baik-baik…” Shindong balas memeluknya, kemudian langsung menjabat tangan Hyukjae.

Hankyung berkata. ”Shindong-ah, ini teman yang kukatakan kepadamu tempo hari, Lee Hyukjae, pengusaha konsultan ternama. Hyukjae-ah, aku sudah bercerita kepadamu soal Shindong yang sedang mencari tender untuk memajukan perusahaannya.”

Hyukjae mengangguk. ”Kami tinggal lihat profil perusahaan, dan kami akan mengu-sahakan yang terbaik, Shindong-ssi. Kudengar perusahaan Anda bergerak di bidang konstruksi.”

Shindong mengangguk sambil tersenyum. ”Begitulah, perusahaan ini harus dibesarkan seperti yang punya.”

Mereka bertiga tertawa.

”Kalau begitu, dapat saya usahakan, Shindong-ssi.”

”Apa kubilang, Shindong-ah… Hyukjae pasti bisa memberikan tender yang baik untuk usahamu!” Hankyung menepuk pundak Hyukjae.

Hyukjae kemudian bertanya. ”Memang konstruksi bagian mana yang ingin Anda ambil sebagai sasaran?”

”Tender disini saja, K2 Ltd…”

Hyukjae mengangguk. ”Kalau begitu, kurasa kami bisa mendapatkan datanya dalam waktu sekitar dua hari. Anda bisa datang ke kantor kami, Shindong-ssi sekitar pukul dua siang.”

”Kalau begitu nanti akan kukirim orang, dia adalah wakilku.” Sahut Shindong.

”Baiklah kalau begitu.”

Setelah selesai rapat Shindong langsung menaiki Alphard hitamnya kembali ke kantornya, dalam perjalanan dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.

”Yeoboseyo,” sahut seseorang di seberang sana.

”Yeoboseyo, yah! Aku sudah mendapatkan pekerjaan itu untukmu…” kata Shindong sambil terkekeh.

”Oh, jinja, Hyung?”

”Ye…” Shindong mengangguk. ”Kau harus ke kantor konsultan milik Lee Hyukjae untuk menjalankan rencanamu. Dan ingat, lakukan rencana ini dengan sebaik mungkin, aku tidak mau rencana ini mencemari nama baik perusahaan.”

”Tenang saja, Hyung… sasaranku adalah K2 Enterprise… kalau begitu rencana A sudah berjalan, aku akan menjalankan rencana B. Jika berhasil, jalan ini akan mulus, dan kau, Hyung… tidak akan pernah terlibat apa-apa.” Sahut pria yang terkekeh di seberang sana nampak amat sangat puas memandang jalanan dari balik gorden rumahnya.

”Baguslah, kalau begitu kau harus ke kantor untuk mengurusnya.”

”Baik, Hyung… sampai nanti.”

Shindong menutup sambungan teleponnya sambil menyeringai.

 

*K2 Enterprise*

Haneul merapikan dokumen-dokumen yang diperlukan, kemudian mengecek lagi seluruh data yang telah dibuatnya di Microsoft Excell, setelah sudah yakin benar, tanpa ada kesalahan, Haneul mencetak kertas-kertas itu dan langsung menuju ruangan Direktur Utama.

”Kangin-ah… ini dokumen yang kau dan Kheynie perlukan untuk berangkat ke Jepang.” Haneul meletakkan tumpukan map tersebut.

Kangin mengambil salah satunya, membukanya dan memeriksanya. ”Aigooo, kau memang Direktur Keuangan terbaik yang pernah kukenal, Haneul-ya…”

Haneul tertawa.

Pintu terbuka lagi, dan masuklah suami Haneul, Jongwoon, yang juga merupakan Direktur Pemasaran. Dia nampak resah dan kaget.

”Kenapa?” tanya Haneul heran.

”Aku baru dapat berita dari Jepang, katanya ada tender dari Korea juga yang mau masuk.” Katanya kaget.

Kangin nampak kaget. ”Tender dari Korea?”

”Iya,” Jongwoon mengangguk. ”Aku sendiri tidak mengerti. Padahal setahuku disini cuma ada perusahaan kita, Kangin-ah. Tapi tadi ternyata penawaran dari Korea selain kita berhasil masuk.”

”Sudahlah, Yeobo… perusahaan kita ini sudah begitu terkenal di Korea, dan luar negeri. Biarkan saja, namanya juga persaingan.” Sahut Haneul santai.

Kangin mengangguk. ”Proposal kita meyakinkan kok, tenang saja…”

Tapi kemudian pintu terbuka lagi, masuklah Kheynie, Wakil Direktur, yang juga istri dari Kangin. ”Ah, kebetulan kalian berkumpul!” dia bawa-bawa map putih. ”Saham kita harganya lagi tinggi banget di pasaran…”

”Ah, jinja?!” Kangin, Jongwoon, dan Haneul berteriak bareng.

”Iya… betulan, aku sendiri baru dapat laporannya dari bagian keuangan! Karena katanya kau tidak ada diruangan, Haneul-ya… jadi dokumennya kubawa kesini! Ada yang berani investasi besar untuk kita…” Kheynie menyerahkan map itu kepada Haneul.

Haneul buru-buru mengambil map itu dan membukanya. ”Wow! Daebak! Harganya tinggi pula…”

”Kalau begitu nama kita dimata Jepang pasti bagus…” yakin Jongwoon. ”Kalau begitu kapan kalian akan ke Jepang?”

”Minggu depan,” sahut Kangin sambil tersenyum. ”Selama itu nanti, kau dan Haneul harus menjaga perusahaan, serta Donghae dan Nara, ya?”

Kheynie mengangguk. ”Nara dan Soeyoung kan sangat dekat, begitu juga Donghae dan Kibum. Tolong dijaga ya…” pinta Kheynie serius.

”Aigo, kalian ini!” Haneul menepuk Kheynie dengan mapnya. ”Memang kalian ke Jepang berapa tahun?”

”Tau nih… ya sudah, Kangin-ah, kau mau ada kerjaan bagaimana lagi nih?”

Kangin mengangguk. ”Ada yang harus diiklankan lagi, dan Yeobo, kau urus para investor dengan Haneul ya…”

”Oke, Yeobo…”

Sementara itu beberapa blok dari kantor mereka, di sebuah kantor seseorang sedang menyunggingkan senyumnya. Pintu ruangannya di ketuk, dan masuklah seorang wanita. ”Perintah Tuan sudah kami kerjakan semua, sebentar lagi akan ada pembicaraan soal dana.”

”Berikan berapa pun yang mereka minta…” sahut pria itu sambil menyeringai.

Wanita itu mengangguk, dan keluar dari ruangan sambil membungkuk. Pria ini menyeringai lagi. ”Kwan Youngwoon (Kangin ceritanya marganya Kwan) dan Kheynie… kalian akan merasakan pembalasanku!”

 

Insya Allah Besok Kembali

horeeee part dua udah kelar… gimana? tokohnya udah mulai keluar semua kan? Mian ya kalo pada bingung awal-awalnya, karena memang semua tokohnya harus dikeluarin dulu biar semua pada tau, terus nanti baru ceritanya akan mengalir perlahan-lahan.

sekali lagi Author sama sekali TIDAK PERNAH memaksa siapapun untuk membaca FF yang MEMBOSANKAN ini, jadi kalau ada yang nggak suka, silakan kalau nggak mau baca.

terima kasih tak terhingga untuk Geng Waras + Readers yang udah nyemangatin Nisya yang nyaris mau berhenti nulis. Saranghae, gomawo, deep bow…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s