When Sunrise Meet Sunset (Episode 18)

*Esok Paginya*

”Ya Tuhan, badan Nara panas…” Kyuhyun bolak-balik memegang kening Nara yang tertidur di ranjang, setelah semalaman Kyuhyun berbaring di karpet kamar Nara. Tentu saja, setelah mereka berhasil selamat dari para preman.

Dan tentu saja, setelah Kibum menyadari bahwa Kyuhyun dan Nara bersembunyi di dalam air. Kyuhyun menarik Nara ke atas air, Nara sudah mulai megap-megap, sebetulnya, cuma dia bertahan. Akhirnya Soeyoung menggantikan pakaian Nara, dan Nara langsung tidur, karena khawatir Kyuhyun menjaganya, dan ternyata badan Nara panas.

”Bagaimana keadaannya?” tanya Soeyoung yang masuk membawa bubur. ”Ini… Nara sebaiknya tidak usah puasa, badannya panas sekali, kan?”

Kyu mengangguk khawatir. ”Sini, Soeyoung-ah… biar aku suapi dia…”

Soeyoung menyerahkan nampannya pada Kyuhyun. ”Kau tadi tidak sahur, apa kau kuat puasa?”

”Kuat, Seoyoung-ah… gomawo,” Kyuhyun tersenyum.

Soeyoung mengangguk. ”Kalau ada apa-apa, beritahu kami ya…” Soeyoung menepuk kaki Nara pelan, dan keluar dari kamar.

”Nara-ya… ireona… ini makan bubur dulu…” kata Kyuhyun sambil menepuk pipi Nara pelan.

Nara menggumam pelan, tapi tidak membuka matanya. Kyuhyun meraba kening Nara lagi, panasnya masih tinggi. Padahal sudah di kompres berulang kali, hanya karena menolongnya. Kyuhyun meletakkan nampannya di meja, lalu dia mengerling jam dinding.

”Aku harus melakukan sesuatu…” Kyuhyun kembali menghampiri Nara, dan mengelus pipinya. ”Nara-ya… suatu saat, kita pasti bisa bermain game bersama lagi…” Kyuhyun nyaris menangis saat mengucapkannya, lalu Kyuhyun membelai pipi Nara. ”Kita akan selalu jadi partner hebat kan? Mrs. Smith…” senyumnya. ”Mianhae… telah membuat hidupmu berantakan…” air mata yang susah payah ditahannya dari semalam pecah juga. ”Mungkin kau menyesal telah mengenalku, tapi aku tidak pernah menyesal mengenalmu, game-ku… Nara-ya… andai hidup ini bisa diputar kembali, aku akan berhati-hati agar tidak memasuki hidupmu…”

Nara masih tidur dengan wajah damai.

”Nara-ya… saranghae…” Kyuhyun mengecup dahi Nara. ”Mianhae… mianhae… mianhae… aku harus menyelesaikan semua ini sendiri!” Kyuhyun berdiri dan berbalik keluar.

Kyuhyun masuk ke dalam kamar Haejin, Haejin masih tidur. Tapi Donghae sudah bangun, Donghae sedang duduk bersila di kasur, dengan tangan membelai pipi Haejin lembut.

”Hyung… aku keluar sebentar, badan Nara panas sekali…” kata Kyuhyun.

”Jinja?! Masih belum turun?!” tanya Donghae panik.

”Iya, Hyung… aku mau beli obat dulu ya…” kata Kyuhyun pelan. ”Titip Nara di sebelah…”

Donghae mengangguk. ”I…iya…”

”Kalau begitu aku pergi dulu, Hyung… kalau nanti Nara bangun, bilang aku sedang mencarikannya obat…”

”Oke…”

Kyuhyun keluar dari kamar Haejin sambil menggumam kecil. ”Mencarikannya obat bahagia, aku harus menyerahkan diri…” Kyuhyun turun ke bawah. Sungmin, Kibum, Siwon, Minho, JeSoo, dan Soeyoung sedang duduk-duduk sambil berbincang mengenai Shin Corp dan Cho Corp.

”Mau kemana, Kyu?” tanya Siwon.

”Badan Nara panas sekali, aku mau membelikannya obat…” ujar Kyuhyun.

Sungmin menatapnya cemas. ”Nanti kalau kau ketahuan bagaimana? Kau bisa ditangkap, Kyu…”

”Aku akan hati-hati, Hyung… aku pamit dulu ya…”

”Hati-hati, Kyu…” ucap semuanya.

Kyuhyun melangkah keluar dari rumah keluarga Lee yang megah itu, berjalan pelan keluar dari pagarnya, dan menatap untuk terakhir kalinya jendela kamar Nara. ”Nara-ya… jangan sakit. Hwaiting Naui GameNara…” Kyuhyun berbalik dan pergi. Dia membelikan Nara obat, kemudian menulis sebuah surat, dan meminta satpam keluarga Lee yang mengantarkannya. Lalu dia pergi.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

”Bagaimana keadaannya?” tanya Junsu pada Ririn yang menatap tubuh Yoochun yang sedang dikemoterapi.

Ririn menatap saudara kembarnya melewati kaca ruangan kemoterapi itu. ”Molla… dokter bilang Yoochun bisa sembuh jika ada cangkok sumsum tulang belakang… padahal kami saudara kembar… tapi sumsum tulang belakang kami tidak sama…” ujarnya sedih.

Junsu menghela napas. ”Aku tidak percaya anak seperti Yoochun bisa terbaring lemah begini.”

”Junsu-ya… apa menurutmu Yoochun bisa sembuh?” tanya Ririn berkaca-kaca.

Junsu menatap tubuh sahabatnya itu, dan ingat Yoonrae. ”Kita sama-sama butuh keajaiban itu kok, Ririn-ah. Aku berharap Yoochun bisa sembuh, juga adikku…” ujarnya lirih.

”Adikmu pasti sembuh…” ujar Ririn sambil menangis tapi tersenyum. ”Yoochun juga harus sembuh!”

Junsu mengangguk, dan menepuk bahu Ririn. ”Ne… adikku dan Yoochun pasti sembuh kok! Tenang saja…” Junsu tahu itu menipu dirinya. Meski donor ginjal Yoonrae ditemukan, biaya sekarang sudah tidak ada.

”Bagaimana keadaan adikmu? Masih menunggu donor?”

”Ne…” jawab Junsu sambil tersenyum, tidak mau menceritakan perihal keluarganya pada Ririn yang sudah cukup pusing dengan masalah Yoochun. ”Ngomong-ngomong mana Siwon?”

Ririn menghela napas. ”Banyak sekali masalah sekarang di kampus… setelah Donghae dan Nara yang kehilangan rumah, ayah Sungmin Sunbae dan Haejin ditangkap polisi. Itu semua ulah ayah Kyuhyun, dan Kyuhyun melarikan diri dari rumah keluarganya… Siwon membantu teman-teman yang lain.”

”Jinjayo?!” pekik Junsu kaget.

Ririn mengangguk. ”Sebetulnya aku mau membantu mereka, tapi aku harus menjaga Yoochun dulu. Lagipula Siwon memintaku untuk menjaga Yoochun terlebih dahulu, dan dia selalu memberi kabar…”

”Ah…” Junsu mengangguk. Bagaimana mungkin keluarganya dan keluarga teman-tmeannya mengalami masalah yang sama? Keluarga mereka satu persatu hancur, Junsu menghela napas.

”Baiklah, aku kembali ya… aku harus mengecek keadaan adikku…” pamit Junsu pada Ririn.

Ririn mengangguk.

”Kalau ada perkembangan apa pun, beritahu aku ya…” kata Junsu.

”Ne…”

Junsu berbalik dan kembali ke kamar Yoonrae. Mereka akan membawa Yoonrae kembali ke rumah dalam keadaan Yoonrae yang tidak sadar, atau masih belum sadar benar. Junsu mau menangis membayangkannya, apa Yoonrae bisa bertahan jika seperti ini?

”Junsu-ya… bisa kau tolong Ahjumma mengambilkan hasil ke ruangan dokter?” tanya Miyoung pelan.

”Ne, Ahjumma…” Junsu berjalan keluar kembali, lalu beranjak ke ruangan dokter yang menangani Yoonrae. Setelah mengetuk pintu, dan dipersilakan masuk, Junsu masuk.

”Junsu-ssi… apa keluarga Anda yakin?” tanya Dokter itu. ”Ginjalmu dan ginjal Yoonrae-ssi cocok, operasi bisa dilakukan… jika menyerah sekarang, Yoonrae-ssi bisa…” dokter itu tidak meneruskan kata-katanya.

Hati Junsu mencelos. Ginjalnya cocok?

”Ginjal saya cocok dengan ginjal Yoonrae?!” pekiknya.

”Ya…”

Junsu semakin berat bernapas. Rasanya dia mau menangis saat itu juga, dia permisi pada dokter sambil membawa kertas hasil tes ginjalnya. ”Yoonrae… bagaimana ini? Ginjal kita cocok, tapi biayanya tidak ada…”

 

*Shin Corp*

Changmin memakai jas dan dasinya, berjalan gagah dengan dingin melewati koridor-koridor kantor Shin Corp, dia masuk ke dalam ruangan ayahnya, memandang dingin ayahnya yang tersenyum.

”Appa tahu kau akan kesini…”

”Aku akan melakukan apa yang aku mau…” ujar Changmin.

Shindong mengangguk sambil tersenyum. ”Appa tidak mengira, hanya demi seorang Lee Haejin, putri dari Lee Hyukjae, kau bisa masuk ke dalam perusahaan Appa.” Kekeh Shindong. ”Kalau begitu sesuai janji Appa padamu, Appa akan membebaskan Hyukjae itu.”

”Ani!” potong Changmin.

”Eh?”

”Jangan lepaskan Hyukjae!” kata Changmin keras.

Shindong menatap Changmin lekat-lekat. ”Jangan lepaskan Hyukjae? Tapi… bukankah…”

”Kalau Appa tetap mau aku disini, jangan lepaskan Hyukjae, dan biarkan aku yang menangani masalah Lee Hyukjae sendiri.”

Shindong menatap Changmin lurus. ”Baiklah, terserah kau saja…”

”Aku mau ruangan sendiri…”

”Akan Appa siapkan…”

Changmin keluar dari dalam ruangan itu dan menghela napasnya, nurani dan pikirannya bertengkar hebat. Tapi, dia sudah mengambil keputusan, Lee Haejin, harus ada di dalam tangannya sekarang.

 

*Rumah Keluarga Lee*

”Aduuuh…” Haejin terbangun sambil memegangi kepalanya yang sakit, dan matanya yang membengkak. Dilihatnya Donghae tertidur sambil duduk bersila di atas kasurnya. Kepalanya terantuk-antuk.

”Oppa… Oppa…” Haejin menyenggol bahu Donghae pelan.

Donghae terbangun dengan kaget. ”Oh, Haejin-ah? Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?”

”Gwenchana…” sahut Haejin muram.

”Benarkah?” Donghae mengamati wajah Haejin. ”Sudah tidak sesak lagi? Mau minum?”

”Aku puasa…”

”Jangan puasa dulu, fisikmu sedang lemah… Nara juga tidak puasa, dia demam tinggid dari semalam…”

”Nara demam?” tanya Haejin khawatir.

”Ne… Kyuhyun sedang membelikannya obat, kalau begitu kau berbaring lagi ya… aku mau melihat Nara…”

Haejin mengangguk, dan kembali berbaring. Donghae beranjak dari kasur Haejin dan keluar masuk ke dalam kamar Nara, meraba keningnya. Panas Nara masih tinggi, Donghae melirik jam.

Sudah tiga jam sejak Kyuhyun pergi, kemana dia?

”Donghae-ah! Donghae-ah!” Sungmin berlari-lari ke atas. Dan menghampiri Donghae yang berada di dalam kamar Nara, wajah Sungmin panik.

Donghae terkejut melihatnya. ”Ya! Waekeurae? Apa yang terjadi?”

”Kyuhyun… Kyuhyun… dia pergi…”

”Eh?!”

”Ini, dia menitipkan obat ke satpam, dan ada surat untuk Nara…”

”Mworago?!” Donghae panik dan langsung meraih obat dari Kyuhyun, ”Aku sudah duga! Anak itu pasti kembali ke ayahnya… dia tidak mau rumah ini terancam oleh keberadaannya!”

Sungmin menghela napas. ”Harusnya tadi kita cegah!”

Nara bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya, kemudian karena suara-suara ramai dari Donghae dan Sungmin, dia akhirnya membuka matanya. ”Hae… Sungmin Sunbae…”

”Nara-ya… gwenchana?!” tanya Sungmin dan Donghae bersamaan.

Nara mengangguk. ”Gwenchana… ada apa? Kenapa kalian begitu panik?” tanyanya lemah. Lalu Nara menoleh kesana-kemari. ”Kyunnie mana?”

”Ah…” ujar Sungmin dan Donghae sambil saling pandang.

”Dia semalam tidur disini kok, dia menjagaku… kemana dia?” tanya Nara heran. ”Jangan-jangan dia demam juga…”

”Nara-ya… ini dari Kyuhyun.” Donghae menyerahkan plastik obat itu pada Nara.

Nara duduk dan menerimanya, Donghae melirik Sungmin. ”Ya! Lihat adikmu dulu sana…”

”Ah ye…” Sungmin keluar dan pergi ke kamar Haejin.

Donghae duduk di samping Nara, memerhatikan Nara yang mengeluarkan obat-obatan dari dalam plastik, dan sebuah kartu berwarna biru. Nara tiba-tiba mendapat firasat jelek begitu melihat kartu itu, Nara kemudian membukanya.

 

Nara-ya…

Mianhae, aku tidak bisa menepati janjiku untuk ikut kemanapun kau pergi.

Terlalu berisiko, aku melihatnya semalam, bukan hanya membahayakanku, kau, tapi juga seluruh teman-teman, sahabat, yang sudah kuanggap keluarga sendiri…

Cepat sembuh ya, maafkan aku, karena aku kau jadi sakit…

Makan obatnya sampai habis, kau harus sehat lagi!

Game-Nara hwaiting!

Mianhae, saranghaeyo…

GameKyu

 

Nara menangis membaca suratnya, ”Kyunnie! Kyunnie!” dia langsung berdiri dan hendak pergi. ”Aku harus mencarinya…”

Donghae menahannya. ”Nara-ya… Nara-ya, keumanhae…”

”Kyuhyunnie! Dia kemana? Dia kembali ke ayahnya? Shiro! Dia tidak boleh begitu!” Nara menjerit.

Donghae memeluk adiknya, dan berusaha menenangkannya. ”Nara… kau masih sakit, tenangkan dirimu…”

”Aniya! Aku tidak mau tenang! Kyuhyunnie! Kyuhyunnie!” Nara terus berontak sambil menangis.

Donghae terus memeluknya.

”Hae… kenapa dia pergi? Kenapa aku ditinggalkan lagi? Andweee! Kyunnie…” Nara menangis terduduk.

Donghae terus memeluknya. ”Nara-ya… sudah ya… Kyuhyun tidak bermaksud meninggalkanmu…”

”Kyunnie…” isak Nara.

Sementara Sungmin dan Haejin cuma duduk terpaku berdua mendengar isak tangis nelangsa Nara, Haejin menunduk, dan Sungmin menghela napas dalam-dalam. ”Seharusnya tidak aku biarkan Kyu pergi tadi…”

”Kasihan Kyu dan Nara…”

”Ne…”

Ponsel Haejin bergetar di meja, Haejin meraihnya. ”Yeoboseyo… oooh, ne… waeyo?” tanya Haejin.

”Haejin-ah…” bisik Changmin. ”Bisa bertemu berdua saja?”

”Tapi, kan aku sudah pernah bilang…” baru Haejin mulai menjelaskan.

”Ini menyangkut Appamu, kau mau Appamu bebas, kan?” desak Changmin dari telepon. ”Jangan beritahu orang lain! Termasuk Sungmin dan Donghae, kalau kau mau ayahmu bebas, cepat bertemu denganku!”

Haejin pucat. ”Dimana?”

”Restoran Luxurious…”

”Ah… ne…”

”Satu lagi, jangan bilang aku yang menghubungimu!”

Haejin mematikan teleponnya begitu Changmin memutuskan sambungan teleponnya.

”Nuguya?”

Haejin menggigit bibirnya, dan menggaruk kepalanya. ”Wooyoung…” kekehnya.

”Eh? Teman SD-mu?”

Haejin mengangguk, lalu berdiri dan ke kamar mandi. ”Oppa aku mau mandi dulu ah…”

”Ya! Kau sudah sehat?”

”Sudah…” sahut Haejin dari dalam kamar mandi.

Sungmin menghela napas, dan meraih ponsel Haejin, memeriksa log yang diterima Haejin. Mata Sungmin menajam begitu membaca nama Changmin Sunbae. Kenapa Haejin berbohong? Pikirnya.

Sungmin memutuskan untuk mengangkat bahu saja, dan meletakkan kembali ponsel putih itu di atas kasur Haejin, dan keluar dari dalam kamar Haejin, melihat Nara masih menangis dalam pelukan Donghae. Sungmin turun ke bawah bertemu dengan teman-temannya.

”Ayo, jadi kan kita menyelidiki data Cho Corp dan Shin Corp?” ajak Kibum.

”Ah, ne… ayo…”

Akhirnya Sungmin, Kibum, Soeyoung, JeSoo, dan Minho masuk ke dalam ruangan kerja Hyukjae, dan mereka mulai mencari data-data dari internet yang dioperasikan oleh Soeyoung.

Sementara itu di atas, Haejin sudah selesai mandi dan mengganti bajunya, dia mengintip keluar. Donghae masih sibuk menenangkan Nara, ini kesempatannya untuk kabur! Sungmin juga tidak kelihatan, maka berjingkat pelan-pelan, Haejin turun dan keluar lalu menyetop taksi dan menyebutkan nama restoran tempat janjiannya dengan Changmin.

Haejin turun tepat di depan restoran mewah itu, dia masuk ke dalam dan seorang pelayan bertanya padanya.

”Nona Lee Haejin?”

Haejin mengangguk.

”Lewat sini…” pelayan itu menunjukkan jalan ke arah ke sebuah ruangan yang nampak pribadi. Haejin mengikutinya, dan melihat Changmin duduk dengan setelan jas sambil meminum kopi, wajahnya nampak galak, nampak berbeda dari Changmin yang biasa ia kenal.

”Sunbae…”

Changmin mendongak. ”Haejin-ah… duduklah…” ujarnya dingin.

Haejin duduk di depan Changmin sambil melongo, Changmin berpenampilan rapi, sikapnya dingin. Dan tidak puasa?! Astaga, apa yang terjadi, yang di depannya saat ini benar Shin Changmin kan?

”Ada apa? Kenapa kau melihatku begitu?”

Haejin menggeleng. ”Aniya… aku hanya, er… kenapa Sunbae tidak puasa?” tanya Haejin.

”Tidak penting…” jawab Changmin dingin. ”Aku ada tawaran untukmu, mengenai ayahmu…”

”Appa?” tanya Haejin.

”Ne… kau tahu kenapa ayahmu ditangkap?”

”Karena dituduh…”

”Melakukan penipuan dan penggelapan dokumen…” ujar Changmin menatap Haejin dingin.

Haejin mengangguk, takut pada tatapan dingin Changmin.

”Kau tahu siapa yang membuat ayahmu masuk penjara kan?”

”Shin Corp dan Cho Corp…”

Changmin mengangguk lagi. ”Cho Corp, adalah perusahaan ayahnya Cho Kyuhyun. Tapi kau tahu Shin Corp perusahaan siapa? Ayah dari Shin Changmin…”

Mata Haejin membeliak terkejut. ”Mworago?!”

Changmin menyeringai sinis. ”Kaget? Ha ha ha…” tawanya juga sinis, Haejin menatap Changmin nanar. ”Kenapa? Kau tidak menyangka ya? Ayahku memang licik, dan aku keturunannya…”

”Maksud Sunbae apa?” tanya Haejin ngeri.

”Aku bisa saja membebaskan ayahmu, sebetulnya kemarin aku sudah mau membebaskan Hyukjae Ahjussi…”

Haejin semakin menatap Changmin ngeri.

”Tapi, tidak jadi… kenapa aku tidak memanfaatkan situasi saja, ya kan? Kau mau nama baik ayahmu diselamatkan?” Haejin mengangguk. ”Kau mau ayahmu bebas dari penjara, dan semua asetmu tidak jadi kusita?”

Haejin semakin ngeri. ”Sunbae, apa maksud Sunbae?”

”Kau mau atau tidak?!” tanya Changmin dingin.

”Keurom…” sahut Haejin lirih.

”Kau bersedia melakukan apa saja untuk itu?”

Haejin mengangguk. ”Apa saja demi Appa…”

”Kalau begitu, menikahlah denganku…”

”Mwo?!”

Changmin menyeringai. ”Mudah, kan? Menikah denganku, ayahmu akan bebas… perusahaan dan keluargamu akan selamat.”

Haejin diam, rasanya nyawanya dicabut saat itu juga.

”Sekarang kau bisa bandingkan kan? Apa yang bisa Lee Donghae lakukan pada hidupmu? Dan apa yang bisa aku lakukan pada hidupmu?!”

”Sunbae!” air mata Haejin tak kuasa dibendung. ”Sunbae melakukan ini karena aku dan Donghae Oppa?!”

Changmin cuma tersenyum. ”Harga diri laki-laki…”

”Sunbae…” Haejin tidak sanggup berkata apa-apa lagi selain menangis.

Changmin tersenyum. ”Kau tinggal pilih!”

”Sunbae rela… aku menerima ini semua, tapi hati dan pikiranku tetap pada Donghae Oppa?!” tanya Haejin berani.

Changmin tersenyum sinis. ”Aku tidak peduli! Yang penting kau bersamaku, disampingku! Tidak dengan Donghae!”

 

*Rumah Kyuhyun*

Kyuhyun turun dari taksi tepat di depan rumahnya, dan dia sudah bisa menebak, seluruh pengawal langsung menangkap tangannya, dan menggiringnya secara paksa ke dalam rumahnya. Kyuhyun kembali di kurung di dalam kamarnya, kali ini dengan proteksi yang benar-benar kuat, kamarnya diberi gembok-gembok di setiap inci jendela dan pintunya, jadi bisa dipastikan dia tidak bisa masuk.

Kyuhyun duduk di tepi ranjangnya, dan diam, menerima semua nasibnya, dia hanya berdoa, agar Nara bahagia.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

Ririn kembali berjalan-jalan untuk melemaskan kakinya selama Yoochun di kemoterapi hari ini, tanpa sengaja, tertangkap matanya sosok Junsu yang menangis sambil memegang surat.

Ririn berlari menghampirinya. ”Junsu-ya… waekeurae?”

Junsu mendongak dengan kaget, lalu langsung menghapus air matanya perlahan-lahan. ”Ah, Ririn-ah… aniya, gwenchana!”

”Gotjimal!” seru Ririn tegas. ”Kau menangis sedih sekali… beritahu aku ada apa? Itu surat apa?’

”Aniya…”

Tapi Ririn keburu merebut kertas itu dan membukanya, lalu membacanya dengan cepat. ”Junsu-ya… ginjalmu cocok dengan ginjal adikmu?!”

”Ne…”

”Lalu kau sedih karena ginjalmu akan diambil?!”

Junsu menggeleng. ”Aniya, justru aku sangat senang… aku ingin sekali Yoonrae sembuh, tapi…”

”Tapi kau tidak mau menolongnya?! Kau takut kehilangan satu ginjalmu?!” teriak Ririn berapi-api, tiba-tiba air mata bergenang. ”Junsu-ya! Apa pun akan aku lakukan untuk Yoochun! Apalagi jika Yoochun membutuhkan ginjalku, hatiku, bahkan jantungku akan aku berikan padanya! Kenapa kau tidak mau?! Dia adikmu… kenapa kau jahat?!” jerit Ririn.

”Bukan begitu!” bantah Junsu tak kalah keras. ”Kau kira aku tidak rela memberikan ginjalku?! Nyawaku pun akan aku berikan demi Yoonrae! Tapi… tapi… Ririn-ah, keluargaku bangkrut…” ujarnya lirih dengan air mata tumpah. ”Appa tidak bisa, tidak sanggup lagi… membiayainya… padahal ginjalku dan ginjal Yoonrae cocok…” isak Junsu.

Ririn terperangah. Kenapa bisa ada orang yang mau menolong saudaranya tapi tak punya uang, sementara dia yang punya uang, tapi tidak bisa membantu.

”Operasi sekarang! Biayanya biar aku yang urus!”

Bersambung

Mian telat ngepost… internet lagi babo kalo hujan deres… kekekekek… udah masuk 3 episode terakhir nih… hehehe… gomawo yaaa untuk semua readers yang baca, kasih komen, kritik, saran… aku perhatikan kok saran kalian.

Part ini spesial untuk Putri Onn, yang sedang menghilang… hueeee… Putri Onn bogoshipo… wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s