When Sunrise Meet Sunset (Episode 17)

”Appa menangani kasus ini?” ulang Siwon kaget.

”Ne…” Heechul mengangguk. ”Appa ikut dengan kalian ya? Appa masih mau mencari keterangan.”

”Oh, ne…”

Akhirnya Heechul, Siwon, dan Minho berangkat ke rumah keluarga Lee, yang nampak seperti rumah duka sekarang. Banyak orang, namun tidak ada tanda-tanda keceriaan.

Heechul, Jongwoon, dan Haneul berbincang bertiga, sementara anak-anak berkumpul di ruang tengah. Kibum, Soeyoung, Siwon, Minho, Sungmin, Donghae, Nara, Kyuhyun, Haejin, dan JeSoo.

”Changmin kok nggak kesini ya?” tanya Kibum pada Sungmin.

Sungmin mengangkat bahunya sambil mencoba tersenyum, ”Molla… mungkin dia juga ada urusan.” Sungmin mengerling kedua adiknya, yang luar biasa diam semenjak sang ayah diberitahukan masuk ke dalam penjara.

”Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu?” tanya Soeyoung pada Oppanya.

Kibum menghela napas. ”Molla… apa yang harus kita lakukan sekarang?”

”Iya, aku percaya kita harus melakukan sesuatu…” ujar Donghae, dia melirik Haejin yang diam memeluk lututnya, sementara sang adik, JeSoo memeluk Haejin. ”Aku tidak tahan diam terus begini! Bagaimanapun, Ahjussi begini karena… kami.” Donghae menunduk.

Nara menunduk juga.

”Ini karena ayahku…”

”Keumanhae…” Sungmin tersenyum. ”Appa akan melakukan apa yang dianggap Appa benar. Tidak usah menyalahkan diri…”

Haejin terbatuk, napasnya sesak. Asmanya yang sudah lama tidak kumat akhirnya kembali menyerang. Penyakit Haejin ini sama seperti ibunya, kalau sudah ada masalah, asmanya pasti kumat. Haejin sudah hampir megap-megap, JeSoo panik dan nyaris menangis lagi.

”Onnie… Onnie…”

”Haejin-ah, waekeurae?” semua panik.

Sungmin mendekati adiknya, dan merangkul bahunya. ”Haejin-ah… Haejin-ah, coba tenang… tarik napas dalam-dalam… buang pelan-pelan…”

Air mata mengalir di kedua pelupuk mata Haejin, sementara nafasnya semakin susah. Nara jadi menangis, dia merasa bersalah. Dia memijat kaki Haejin karena tidak tahu harus bagaimana.

Donghae panik. ”Haejin-ah… Haejin-ah… kau kenapa? JeSoo-ya, dia ada asma ya? Kau tahu inhaler-nya ada dimana?”

”Ah iya…” JeSoo berdiri dan berlari ke arah dapur, Donghae mengikutinya, JeSoo dengan panik membuka kotak obat dan mengulurkan inhaler kepada Donghae, dan Donghae buru-buru kembali ke ruang keluarga, dan memberikannya kepada Haejin.

”Mundur… mundur… kasih ruang, dia kurang nafas…”

Setelah itu Haejin memejamkan matanya, kelelahan.

”Biar aku yang membawanya ke kamar…” pinta Donghae memelas pada Sungmin. Sungmin mengangguk, tidak jadi menggendong tubuh adiknya yang lemas. Donghae menggendong Haejin dan keluar dari ruangan.

JeSoo berdiri dan memutuskan kembali ke kamarnya, tidak tahan juga menghadapi kenyataan seperti ini. Minho memerhatikan sosoknya yang menjauh dari ruang keluarga.

Siwon menepuk bahu adiknya. ”Sana, hibur pacarmu…”

Tanpa disuruh dua kali, Minho berdiri dan bergegas menyusul JeSoo yang sudah menghilang ke atas.

Nara menunduk dengan sedih, kenapa jadinya justru seperti ini? Kyuhyun melihat wajah Nara yang muram, dan tangisnya yang kecil, yang susah payah ditahan olehnya. Kyuhyun menggenggam tangan Nara, dan meremasnya kecil, untuk menguatkan gadis itu.

Nara kaget dengan sentuhan Kyuhyun, dia menoleh Kyu tersenyum kecil memberi semangat, mau tidak mau Nara ikut tersenyum, dan balas menggenggam tangan Kyuhyun lagi.

”Apa ya yang bisa kita lakukan?” ujar Kibum lagi.

”Hyung, bagaimana kalau kita mencari data-data umum mengenai Shin Corp dan Cho Corp? setidaknya supaya kita tahu medan saja…” usul Siwon.

Sungmin mengangguk. ”Aku setuju dengan ide Siwon, kita harus tahu segala tentang Shin Corp dan Cho Corp. Kyuhyun bisa membantu kita soal Cho Corp, Nara dan Donghae dengan K2 Enterpraise, juga orang tua kalian…” Sungmin menunjuk Kibum dan Seoyoung.

”Ne…”

”Lalu kalau kita sudah tahu data tentang perusahaan itu?”

”Kita pikirkan nanti, yang penting besok kita fokus ke dua perusahaan itu!”

”Oke…”

*Kamar JeSoo*

JeSoo menutup pintu kamarnya, lalu langsung berlari ke balkon kamarnya, dan duduk bersila dibalkonnya, dia melepaskan perasaan sedihnya disitu. JeSoo menangis terus sampai terisak-isak, untung dia tidak punya keturunan asma seperti Ibu, dan Onnienya.

Dia tidak sadar kalau Minho sudah masuk ke dalam kamarnya, Minho membuka pintu kamarnya pelan-pelan, dan mendapai JeSoo sedang menangis di balkon yang pintunya memang dibiarkan terbuka. Minho menghela napas, dan menghampiri gadis yang disayanginya itu.

”JeSoo-ya…”

JeSoo mengangkat wajahnya, begitu melihat Minho yang berdiri menjulang, JeSoo justru semakin menangis, dan membenamkan wajahnya ke dalam tangannya. Minho langsung ikut duduk bersila di sebelahnya.

Perlahan-lahan, diraihnya tubuh JeSoo yang berguncang-guncang karena tangis, kemudian dipeluknya. Tangis JeSoo bukannya mereda, malah  makin keras, dia balas memeluk Minho, menangis sejadi-jadinya. Minho mengeratkan pelukannya dan matanya ikut berkaca-kaca, dalam diam dia hanya bisa memberikan pelukan pada gadis yang sudah mengisi hatinya itu, dia berharap dengan pelukannya, setidaknya JeSoo bisa melampiaskan kesedihannya.

 

*Ruang Tamu*

”Begitu, Heechul-ssi…” jelas Jongwoon mengenai kasus hari ini, dibantu istrinya dia menjelaskan panang lebar mengenai permasalahan ini.

Heechul mengangguk. ”Kalau dari data yang sudah kukumpulkan, dan keterangan kalian barusan, aku bisa mengambil kesimpulan kalau hal ini bisa selesai jika kita bisa menemukan buktinya.”

”Nah itu pangkal masalahnya! Bukti…”

”Kita butuh bukti…” Heechul berpikir keras. ”Aku akan berusaha semampuku untuk memeriksa kasus ini, kalian juga kalau bisa tolong kumpulkan bukti sebanyak mungkin, sebelum Hyukjae disidang.”

”Tentu saja, Heechul-ssi…”

Ponsel Heechul bergetar, Heechul membuka flipnya dan mendekatkannya ke telinga. ”Yeoboseyo… ya, tak apa… ada berita apa? Mworago?!” Heechul nampak terkejut. ”Kirim datanya ke emailku sekarang, yee… kamsahamnida.” Heechul menutup flip ponselnya.

”Ada apa, Heechul-ssi?”

”Kim Corporation mengalami kebangkrutan karena bersaing tender dengan K2 Enterpraise…”

”He?!” pekik Jongwoon dan Haneul.

Heechul menghela napas. ”Apa disini ada komputer? Aku butuh datanya sekarang, mungkin bisa membantu kita…”

Jongwoon dan Haneul berdiri lalu masuk ke dalam, Heechul mengikutinya. Setelah menjelaskannya kepada Sungmin, Sungmin mengajak Heechul, Jongwoon, dan Haneul menggunakan komputer di ruang kerja ayahnya.

”Semoga ini bisa membantu…”

Heechul membaca serius emailnya, kemudian menghubungi seseorang. ”Benar laporan yang kau kirim?”

”…”

”Baiklah, kalau begitu, berikan kasus ini kepada kejaksaan dengan status Urgent!” perintah Heechul. Kemudian Heechul menutup flipnya, ”Perbuatan Cho Corp dan Shin Corp sudah benar-benar kelewatan…”

”Ada apa?”

”Sepertinya ada main tangan dengan salah satu petinggi Kim Corporation, makanya bisa seperti ini…” jelas Heechul.

”Ya ampun, kenapa mereka begitu mengerikan sih?”

Sementara dari luar Kyuhyun menunduk mendengarkan dengan terperangah, ayahnya… kenapa ayahnya tega melakukan perbuatan keji seperti itu? Kyuhyun bersandar menahan tangisnya.

”Aku harus melakukan sesuatu…” bisiknya. ”Appa harus dihentikan…”

Tiba-tiba saja pintu rumah keluarga Lee digedor-gedor, dengan kencang, semua yang sedang duduk di ruang tengah buru-buru berlari keluar.

”Tahan!” perintah Sungmin pada yang lain ketika hendak ke ruang tamu. ”Aku mau lihat siapa yang datang…” Sungmin berlari ke pintu, dan mengintip melalui jendela, dan terperangah.

”Sungmin-ah, nuguya?” tanya Kibum.

Sungmin mengangkat bahu. ”Kurasa seperti debt collector deh…” bisik Sungmin. Baru Sungmin mau membukakan pintu, suara dari luar mendadak keras.

”YA! KELUAR KALIAN, SIAPA PUN YANG MENCOBA MENYEMBUNYIKAN CHO KYUHYUN AKAN KAMI HABISI!”

”Omo!” pekik Soeyoung.

Nara menoleh pada Kyu, yang wajahnya langsung pucat. Sungmin terdiam di depan pintu, beruntung gorden-gorden semua sudah tertutup sehingga tidak memungkinkan untuk dilongok.

”Aku beritahu Eomma dan Appa…” Soeyoung berlari ke dalam ruang kerja.

Kyuhyun menghela napas. ”Sepertinya memang cepat atau lambat akan ketahuan seperti ini…”

”Bagaimana mungkin mereka tahu?” tanya Nara.

”Mereka pasti tahu, Appa punya orang yang bisa dibayar sekarang…” desis Kyuhyun.

Siwon menghela napas. ”Kalau begitu kau harus sembunyi…”

”Kaja!” Nara menarik Kyu.

”Kemana? Percuma…”

”Kaja!” desis Nara dengan mata penuh ancaman, dan kekuatan luar biasa dia menarik Kyuhyun.

Kyuhyun terpaksa ikut Nara ke halaman belakang. ”Kita pasti akan ketahuan Nara-ya… mereka pasti akan memeriksa kesini…” ujar Kyuhyun lirih.

”Kau bilang kau akan ikut aku kemanapun aku pergi?! Kenapa kau mendadak penakut begini? Mana jiwa Mr Smith-mu?” Nara memukuli Kyuhyun, sambil menangis.

”Mianhae… aku hanya tidak mau kalian kenapa-napa… ayahku sekarang akan melakukan apa pun, Nara-ya…” ujar Kyuhyun menatap Nara serius. ”Menghancurkan perusahaan besar saja dia bisa, apalagi menghancurkanmu…”

Nara terdiam menatap Kyuhyun yang cemas.

 

*Ruang Tamu*

”Kita harus apa?” desis Kibum.

”Kita harus membiarkan mereka masuk, atau mereka pun akan mendobrak pintu ini…” kata Siwon.

Sungmin mendesah di depan pintu. Tiba-tiba Donghae muncul, wajahnya penuh kekhawatiran. ”Apa yang terjadi? Siapa mereka?”

”Mereka mau mencari Kyuhyun.”

”Kyuhyun mana?”

”Sudah bersembunyi dengan Nara…”

Heechul, Jongwoon, dan Haneul muncul. Ketiganya juga nampak cemas mengetahui keadaan ini.

”Bagaimana ini?” cicit Soeyoung.

”Buka saja…” saran Donghae. ”Aku percaya pada Nara, dia pasti bisa menyembunyi-kan Kyuhyun dengan baik.”

Semua langsung mengangguk.

Akhirnya perlahan-lahan Sungmin membuka pintu rumahnya, pria-pria berbadan besar berdiri menjulang di hadapannya. Heechul maju, dan menghadapi para preman-preman itu.

”Anda sekalian kan bisa mengetuk dengan cara yang baik…”

”Kami tidak peduli! Kami hanya menjalankan tugas kami!” bentak preman itu. ”Mana Cho Kyuhyun?!”

”Tugas kalian? Kalian kira ini rumah kalian?!” tanya Sungmin. ”Jika kami laporkan pada polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, dan pelanggaran hak asasi manusia, kalian bisa dituntut!”

Preman-preman itu terdiam.

”Kalau begitu, berikan kepada kami Cho Kyuhyun!” katanya lagi.

”Cho Kyuhyun memang teman anak kami,” kata Heechul. ”Tapi dia tidak ada disini…”

”Bohong!”

”Untuk apa kami berbohong?! Apa ada untungnya menyandera Kyuhyun? Kalau memang ada untungnya kami sudah meminta tebusan!” seru Kibum.

”Kami mau memeriksa!”

”Silakan…” ujar Heechul berani.

Donghae menahan napas begitu pria-pria itu masuk, dia percaya pada adiknya yang tomboi itu, Nara pasti bisa menyembunyikan Kyuhyun. Semua tegang berharap jika Kyuhyun dan Nara dapat bersembunyi dengan baik.

Para preman itu naik ke atas, Donghae buru-buru menyusul, diikuti Sungmin dan Kibum. Kamar ibunda Sungmin di periksa, mereka tidak menemukan siapa-siapa. Hanya JooEun yang tertidur.

Sungmin, Donghae, dan Kibum mengekori mereka, yang kemudian masuk ke dalam kamar Sungmin. Digeledahnya kamar itu, dan tidak ditemukan oleh mereka apa pun. ”Sialan!” mereka terus memaki-maki, dan membuka pintu kamar Donghae. Kamar Donghae juga kosong.

Kemudian mereka beralih ke kamar Haejin, kebetulan Haejin tidur dengan seluruh selimut menutupi badannya, hingga salah seorang preman itu menarik selimutnya secara paksa.

”Ya!” teriak Sungmin dan Donghae bersamaan.

”Dia sedang sakit! Cepat periksa, dan jangan ganggu dia!” kata Sungmin.

Preman itu memeriksa seluruh inci kamar Haejin, dan juga tidak menemukan siapa-siapa. Kemudian mereka memeriksa kamar JeSoo, dan nyaris mengira Minho yang tertidur, sambil memeluk JeSoo adalah Cho Kyuhyun dan Kwan Nara. Akhirnya mereka turun ke bawah, dan menemui setengah dari pasukan mereka yang memeriksa lantai bawah.

Nara dan Kyuhyun benar-benar tidak ditemukan.

”Puas kalian? Sudah kami katakan, Cho Kyuhyun tidak ada disini! Begitu juga dengan Kwan Nara!” kata Donghae keras.

”Tapi Kwan Nara sudah membawa lari Cho Kyuhyun!”

Heechul tertawa sinis.  ”Kwan Nara membawa lari Cho Kyuhyun? Yaaa, kau tidak salah sebut kan?! Mana ada anak gadis yang membawa lari anak laki-laki orang! Seharusnya kami yang bertanya, kemana Cho Kyuhyun membawa lari Kwan Nara…”

Siwon berusaha menahan senyumnya.

Akhirnya mereka pergi, mereka sendiri sudah memeriksa setiap inci rumah keluarga Lee, namun tidak dapat mereka temukan. Sungmin memerintahkan satpamnya untuk menggembok pagar rumahnya.

”Tapi, kemana Nara dan Donghae pergi?”

 

*Flashback KyuNara*

”Menghancurkan perusahaan besar saja dia bisa, apalagi menghancurkanmu…”

”Aku tidak peduli! Aku sudah menceburkan diri untuk menolongmu! Dan kau tidak boleh pergi begitu saja, atau menyerah begitu saja! Aku yang menculikmu, dan kau harus menurut padaku!”

Kyuhyun terkekeh. ”Nara-ya… mereka sebentar lagi akan masuk dan menemukan kita…”

”Ani…” Nara memandang berkeliling taman belakang. Meneliti setiap incinya, siapa tahu ada pijakan untuk kabur. Ya, dia sudah tercebur terlalu dalam, di masalah ini. Terlambat menyerah sekarang. Tunggu dulu, tercebur? Nara menoleh ke arah kolam, memerhatikan kolam renang rumah keluarga Lee ini.

Kyuhyun ikut menoleh. ”Waeyo?”

”Ini waktunya kita main Hunter X Hunter…” kedip Nara.

Hunter X Hunter…”

Nara mengangguk. Kebetulan kolam renang keluarga Lee itu bernuansa etnik, sehingga banyak patung-patung bidadari yang melekat di situ, dan Nara yakin dia bisa bersembunyi disitu.

”Ayo, kita sembunyi di dalam air…” Nara menarik Kyuhyun masuk ke dalam kolam pelan-pelan.

Kyuhyun ikut masuk, air sudah mencapai dadanya, dan seleher Nara. Nara menariknya berenang menuju salah satu patung, yang letaknya ditengah-tengah kolam. Kyuhyun mendengar suara-suara semakin keras.

”Nara, apa rencanamu kita bersembunyi di dalam air?!” pekik Kyu.

”Keureomnyo…” sahut Nara masih sambil berenang maju.

Kyuhyun menahan perut Nara dengan satu lengannya, Nara tertarik mundur ke belakang. Kyuhyun menggeleng. ”Nara, itu mustahil… kita tidak punya kemampuan seperti Gon yang bernapas dalam waktu lima menit di dalam air… kita juga tidak punya senjata napas…”

Nara berbalik menatap Kyu lekat-lekat. ”Aku yakin kita pasti bisa…”

”Mustahil Nara-ya… sudahlah, kalaupun bisa… kita akan mati…”

”Usaha dulu!” Nara terus menariknya, kebalik kolam. ”Sudahlah, Kyuhyun-ah… dengarkan aku sekali saja, jebal…”

Kyu menghela napas.

”Kalau kita mati… kita mati berdua kok…” ujar Nara sambil tersenyum. ”Jadi aku tidak takut…”

Kyu diam, dan tersenyum. ”Ara…”

”Mereka datang…” bisik Kyu.

Nara meraih bahu Kyuhyun, dan menurunkannya perlahan ke dalam permukaan air, bersamaan dengan badannya sendiri. Nara bisa merasakan orang-orang yang berseliweran mencarinya dan Kyuhyun.

Nara memejamkan matanya, sambil menggenggam tangan Kyuhyun erat, berusaha agar tidak mengambil napas, dan tidak bergerak sama sekali. Tapi, usaha adalah usaha, biar bagaimanapun tentu saja mustahil menahan napas selama mungkin di dalam air.

Kyuhyun membuka matanya, dia masih menggenggam tangan Nara, dilihatnya Nara memejamkan matanya, dan wajahnya berkeriut menahan napas. Perlahan-lahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya, memeriksa keadaan Nara, nafasnya sudah satu-satu. Dia harus melakukan sesuatu.

Dia yang menyebabkan Nara begini, maka dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, Kyuhyun perlahan-lahan menyembulkan wajahnya ke atas, sesedikit mungkin. Masih banyak preman-premen berseliweran, Kyuhyun menghirup napas sebanyak-banyaknya, dan turun lagi ke dalam, lalu mendekatkan wajahnya pada Nara, dan mencium bibirnya, mata Nara terbuka, tepat saat dia membuka bibirnya karena terkejut, Kyuhyun mengembuskan nafas untuknya.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

Jaejoong mengetuk pintu kamar rawat Yoonrae.

Junsu terkejut mendapati ayahnya muncul, dengan wajah lusuh dan sangat letih. ”Appa?”

”Junsu-ya…” senyum Jaejoong. ”Bagaimana keadaan Yoonrae?”

”Masih menunggu hasil tes ginjalnya…” jawab Junsu.

Jaejoong menatap Junsu lekat-lekat. ”Begitu? Junsu-ya… sepertinya Appa tidak sanggup lagi membiayai pengobatan Yoonrae.”

”Eh, waeyo?!” pekik Junsu. ”Kenapa Appa tiba-tiba mau menghentikan pengobatan Yoonrae?! Appa mulai mau menjauhinya juga kah?!”

Jaejoong menggeleng. ”Kim Corp, bangkrut, Nak…”

”Mworago?!”

”Ne… Appa ditipu Park Yonghwa… salah satu orang kepercayaan Appa, dan sekarang seluruh saham, serta aset kita sudah diambil. Yoonrae harus segera keluar dari rumah sakit ini…”

Junsu terperangah. ”Appa… tapi, tapi… Yoonrae butuh donor, kalau tidak dia tidak akan selamat!” pekiknya.

”Ara… Appa juga bingung…”

”Appa… bagaimana ini bisa terjadi?”

Setelah Jaejoong pulang, Miyoung datang dan merapikan baju-baju Yoonrae. Mungkin mereka akan pulang esok pagi, terpaksa Yoonrae harus dibawa pulang ke rumahnya.

Maka Junsu memutuskan keluar, dia sangat sedih, dia berjalan-jalan mengitari rumah sakit pada malam hari, dengan menahan air matanya. Apa yang harus dia lakukan untuk menyembuhkan Yoonrae?

”Junsu-ya?”

Junsu menoleh, Ririn menghampirinya. Ririn memakai jaket dan wajahnya nampak kelelahan. ”Junsu-ya? Apa yang kau lakukan disini?”

”Ririn-ah…” Junsu tersenyum tipis. ”Adikku sakit…”

”Oh jinja? Nugu?”

”Yoonrae,” jawab Junsu sambil menepuk bahu Ririn. ”Gwenchana? Bagaimana keadaan Yoochun?”

Wajah Ririn berubah muram. ”Yaah… sedang menunggu banyak hasil te, dia tidak mau dibawa ke Seattle.”

”Waeyo?” tanya Junsu panik. ”Ririn-ah…” Junsu menggenggam tangan Ririn. ”Selagi ada biaya untuk Yoochun berobat, bawalah dia berobat ke Seattle, jangan tunggu keadaan mendesak! Jebal…”

Ririn keheranan. ”Junsu-ya?”

”Ah… ani, aku harus kembali…” Junsu berbalik dan pergi.

Ririn menghela napas dalam-dalam. ”Apa maksud Junsu begitu?” Ririn kembali berjalan ke kafetaria untuk membeli makanan kecil.

 

Sementara itu…

Changmin melarikan mobilnya menuju rumah keluarga Lee, dia sudah tahu rencana ayahnya. Mereka akan menggerebek rumah keluarga Lee, yang ada di otak Changmin sekarang adalah menyelamatkan keluarga gadis yang dicintainya itu. Sesampainya di rumah keluarga Lee, Changmin buru-buru masuk.

”Gwenchana?” tanyanya pada Sungmin. ”Kudengar ayah kalian…” suara Changmin mendadak hilang.

Sungmin tersenyum. ”Sekarang keadaan sudah baik-baik saja, Changmin-ah…”

”Maafkan aku baru datang sekarang, aku ada urusan…” ucap Changmin pelan. Dia masih malu mengakui bahwa dia adalah anak dari pemilik Shin Corp.

”Gwenchana… aku senang kau sudah memikirkan kami…”

”Diluar ada mobil Kibum dan Siwon, mereka ada disini?”

”Ne, semua ada disini, mungkin sekarang mereka sedang beristirahat di dalam…”

”Kenapa kau tidak istirahat?”

Sungmin menghela napas sambil tersenyum. ”Banyak yang aku pikirkan, Changmin-ah…”

”Bagaimana keadaan adik-adikmu?” tanya Changmin lirih.

”Yah, semua shock… setelah Eomma pingsan, menyusul Haejin yang asmanya kumat, dan JeSoo terus menangis…”

”Boleh aku melihatnya?”

”Naik saja, anak-anak di atas kok…”

Changmin menaiki tangga satu persatu, meninggalkan Sungmin yang masih ingin merenung sendirian di ruang tamu. Lampu lantai dua sudah redup, hanya menyala lampu-lampu redup yang khusus dipasang jika memang penghuninya sudah tidur semua.

Di ruang tengah, tidur bergelimpangan Siwon dan Kibum, sementara banyak pintu-pintu kamar yang terbuka. Selama bersahabat dengan Sungmin, Changmin sudah sering kali bermain ke rumah Sungmin, hingga dia tahu yang mana kamar JeSoo dan Haejin, tentunya.

Pintu kamar JeSoo terbuka, Changmin bisa melihat Minho yang tertidur sambil merangkul JeSoo di balkon kamar JeSoo. Changmin kembali melangkahkan kakinya, untuk melihat pujaan hatinya yang sakit. Tapi begitu dia tiba di tepi kamar Haejin, dia langsung berhenti.

Jantungnya seakan-akan direnggut begitu saja, gadisnya sedang tertidur di balik selimut, namun disebelahnya tidur Donghae sambil merangkulnya. Changmin diam melihat Donghae yang tidur sambil memeluk Haejin, meski Haejin di balik selimut, dan Donghae di atas selimut, tidak ikut masuk ke balik selimut Haejin. Kemudian tangan Haejin bergerak.

”Donghae… Donghae…” bisiknya gelisah.

Donghae terbangun lagi, dan mengelus pipi Haejin. ”Aku disini… sudah tidur lagi, ya…” bisiknya pelan, sambil memegang tangan Haejin, Haejin malah mengeratkan pelukannya. Itu sungguh menyakitkan di mata Changmin, Changmin berbalik dan buru-buru turun kebawah.

”Kau mau kemana?” tanya Sungmin.

Tapi Changmin menerobos pintu keluar dan langsung naik mobilnya di mobil dia menelepon Shindong. ”Aku bersedia masuk perusahaan Appa!”

Bersambung

Part ini spesial buat Tinky Winky sama Poo, horeeee udah nggak inosen, wakakakakakakaka…  jangan lupa, kritik, saran, pesan yaaa🙂 aku seneng banget banyak yg ngasih saran, saran kalian juga kritik dan pesan aku perhatikan banget deh. *bow* kamsahamnida, saranghae… H-3 nih… heheheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s