When Sunrise Meet Sunset (Episode 16)

Shindong kaget. ”Kwan Nara??? Anak Youngwoon dan Kheynie?!”

”Ne…” Yunho mondar-mandir. ”Kwan Nara berhasil masuk ke dalam rumahku, dan membawa kabur Kyuhyun. Kalau melihat dari sisi Kyuhyun, dia bukan orang yang mau dibawa secara paksa! Sialan! Dia pasti mau saja diajak kabur oleh Kwan Nara itu! Ini tidak bisa dibiarkan!”

Shindong menghela napas. ”Anakmu… dia jatuh cinta pada Kwan Nara?”

”Sepertinya! Hyung, telepon pasukan A, aku mau mereka mengobrak-abrik Seoul, sampai menemukan Kyuhyun dan Kwan Nara!”

”Oke…”

Yunho nampak naik darah. ”Bagaimana mungkin orang yang kusiapkan untuk jadi penerusku justru berdiri disisi penghancurku?!”

 

*Badan Pemeriksa Keuangan Korea Selatan*

Heechul harus bekerja sendirian kali ini, karena Jungsoo mendadak izin hari ini, ada keperluan keluarga yang mendadak katanya. Berhubung Jungsoo juga jarang memakai waktu cutinya, maka Heechul tidak mengeluh. Tapi kali ini, nampaknya kasus yang dihadapinya bukanlah kasus biasa.

Perusahaan-perusahaan ini seperti rantai makanan, saling berhubungan satu sama lain, dan jika analisanya salah sedikit saja, bisa menyebabkan kesalahan yang fatal, berikut akibat yang fatal.

”Heechul-ssi…” seorang wanita masuk.

”Ya…”

”Ini ada laporan baru yang masuk mengenai kasus K2 Enterpraise…” wanita itu meletakkan map di meja Heechul.

”Gomawo…” wanita itu keluar, dan Heechul menarik mapnya, kemudian membukanya. Heechul membacanya dengan teliti, kemudian menghela napas. ”Sudah kuduga ada yang tidak beres disini!” Heechul melempar berkas itu ke meja.

Heechul berpikir keras di mejanya, untuk menemukan bagaimana cara memerangkap biang keladi dari kasus ini. Tapi otaknya buntu, susunan benang ini terlalu rapi, dan jika salah tarik, malah akan menjadi kusut.

”Dalangnya jelas Cho Corp dan Shin Corp… tapi bukti yang mereka pegang sangat kuat!” gumam Heechul.

”Jungsoo pasti sedang ada masalah gawat, aku tidak bisa merepotkannya! Aku harus menyelidikinya sendiri…”

Heechul kemudian berdiri dan mengambil kunci mobilnya.

 

*Lee Counsultant Office*

”Apakah Anda saudara Lee Hyukjae?”

”Ya benar saya sendiri…”

”Anda ditangkap dengan tuduhan telah menggelapkan dokumen tender untuk K2 Enterpraise!”

“Mwo?!”

Dan tanpa tedeng aling-aling Hyukjae dibawa secara paksa keluar dari dalam kantornya. Haneul dan Jongwoon, yang kantor barunya terletak di sebelah kantor konsultan Hyukjae juga melihat mobil polisi dan Hyukjae yang digiring. Haneul dan Jongwoon memutuskan untuk ikut ke kantor polisi.

”Menggelapkan bagaimana?!” tanya Jongwoon kaget begitu mendengar penjelasan polisi.

”Ini…” Polisi tersebut mengeluarkan surat laporan dari Shindong dan Yunho mengenai perkara penipuan yang dilakukan Hyukjae, seolah-olah Hyukjaelah yang menjebak K2 Enterpraise dalam perebutan tender di Jepang, sehingga saham K2 Enterpraise anjlok.

Haneul dan Jongwoon cuma bisa terperangah.

”Bagaimana mungkin mereka bisa membuat laporan itu tanpa bukti?!”

Haneul cuma bisa duduk kaget. ”Yeobo… lawan kita lebih kuat dari yang kita kira… mereka… mereka…”

”Aku yakin ini ulah Shin Donghee!” Jongwoon mendengus kesal. ”Hanya dia yang punya kaki tangan sebanyak ini!”

”Tapi laporan itu dapat darimana???‼! sama sekali tidak ada laporan seperti itu dari K2 Enterpraise?!”

Jongwoon menggeleng. ”K2 Enterpraise sekarang sudah bukan di tangan kita lagi, sudah di tangan mereka! Mereka mau melakukan apa saja disana sudah tidak ada lagi yang bisa menahan!”

”Tapi apa hubungan Hyukjae dengan semua ini?!” tanya Haneul.

Jongwoon menghela napas. ”Hyukjae mendekati kebenaran, maka Shin Corp dan Cho Corp takut! Yeobo, kita harus bantu Hyukjae! Hyukjae sudah banyak membantu kita…”

 

*Kim Corporation*

Jaejoong hanya bisa kaget menatap laporan dihadapannya. Dia masih tidak bisa percaya akan semua ini.

”Ini maksudnya apa?” tanyanya lagi pada sekertarisnya.

”Ya agen kita ternyata menipu kita, Sajangnim… pendapatan Kim Corp hancur total, dan dipastikan diperebutan tender mendatang kita akan kalah, kerugian perusahaan sudah mencapai lebih dari setengah cadangan devisa kita sendiri.”

Jaejoong terperangah. ”Bagaimana bisa?!”

”Agen itu…”

”Agen itu? Tuan Park, dia kan sudah lama bekerja bersama Kim Corp, bagaimana mungkin?!”

”Tuan Park diberika jabatan yang lumayan di K2 Enterpraise, Sajangnim… begitu yang saya dengar…”

Jaejoong menggelengkan kepalanya. ”Baiklah, kau atur saja yang bisa kau atur dulu…”

Jaejoong terduduk lemas di kantornya.

 

*Shin Corp*

”Terima kasih, Tuan Park…”

Tuan Park mengangguk. ”Karena disini jabatan saya tinggi. Saya benar-benar memberikan informasi yang akurat kan?”

Shindong mengangguk. ”Tentu saja… sangat akurat. Ini bayaran Anda…” Shindong mengulurkan sebuah cek, dengan sembilan angka nol.

Tuan Park keluar. Shindong tersenyum senang, ”Sekarang tinggal tunggu bagaimana Changmin. Sementara Yunho mencari cara untuk Kyuhyun, ah kenapa hidup ini rumit sekali…” Shindong terkekeh.

 

*Universitas Neul Paran*

Haejin melangkah ringan kembali ke dalam sekre Himahi, Ririn dan Siwon duduk berdua di pojok, Ririn memeluk leher Siwon, dan Siwon merangkulnya. Sepertinya mood Ririn sedang tidak bagus hari ini. Haejin menutup pintu di belakangnya dan duduk kembali di salah satu kursinya. Donghae menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

”Darimana?”

”Tadi Nara telepon…” Haejin berbisik.

Donghae mendekatkan telinganya. ”Kok bisik-bisik sih?”

”Nara bilang, dia bawa lari Kyuhyun dari rumah…”

”Hah?!”

”Makanya…”

”Kok bisa?”

Haejin mengangkat bahu. ”Molla… sekarang dia membawa Kyunnie ke rumah… hah…” Haejin menghela napas. ”Andai aku bisa mengerti apa yang dikatakannya, tentang kabur itu.”

”Kita pulang aja yuk!” firasat Donghae langsung nggak enak. Adiknya itu kan nekat, apalagi urusan bawa kabur anak orang.

”Eh, sekarang?”

”Besok malam! Ya sekarang lah, palli!” Donghae berdiri. Haejin buru-buru mengambil tasnya, Donghae juga meraih jaketnya.

Sungmin mendongak. ”Mau kemana?”

”Cabut!” dan Donghae menggandeng Haejin keluar dari dalam ruangan.

”Jadian ya?” tanya Kibum sambil nyengir.

”Aish!”

Donghae keluar sambil bergandengan tangan dengan Haejin, tanpa mereka sadari Changmin memerhatikan mereka dari jauh. Keduanya naik bis, dan langsung buru-buru pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Haejin buru-buru naik ke atas, mencari Nara diikuti Donghae dibelakangnya. Ternyata Nara dan Kyu sedang bermain game di ruang keluarga di lantai dua.

”Ya!”

Nara dan Kyu mendongak bersamaan. ”Hai…”

”Ini yang namanya kabur?” tunjuk Haejin.

”Aish, ceritanya panjang!” Nara memencet tombol pause. Akhirnya Nara dan Kyuhyun menceritakan kejadian sebetulnya kepada Donghae dan Haejin, yang diceritakan ini sampai menganga.

Donghae menatap Kyuhyun. ”Kyuhyunnie, kalau boleh aku tahu… apa kau tahu ada dendam apa antara ayahmu dan orangtuaku serta Nara, sehingga ayahmu bisa seperti ini?”

Kyuhyun menatap Nara, Donghae, dan Haejin yang menatapnya penasaran, kemudian menghela napas. ”Sebetulnya tidak ada dendam yang spesifik… hanya saja, keadaan pada waktu sangat tidak menguntungkan bagi Appa…” kata Kyuhyun sambil menunduk.

”Tidak menguntungkan bagaimana?”

”Jadi begini…” akhirnya Kyuhyun memulai kisahnya. ”Dulu, Appa juga menjalankan perusahaan, Cho Corporation, yang bergerak di bidang konstruksi. Dan dulu juga ada tender yang menguntungkan… Appa tentu saja ingin memenangkan tender itu, sama seperti orangtua kalian, Sunbae… Nara… Appa mempertaruhkan seluruh saham, perusahaan, dan aset keluarga kami pada tender di Jejudo. Dan pada saat itu saingannya juga K2 Enterpraise…”

Donghae dan Nara memerhatikan dengan baik, sementara Haejin sepertinya sudah bisa menebak jalan ceritanya.

”K2 Enterpraise akhirnya berhasil menang di tender tersebut. Rumah kami, dan seluruh harta kami habis disita oleh Bank…” ujar Kyuhyun sedih. ”Appa awalnya tidak menyalahkan orangtua kalian, sungguh… tapi kemudian, ketika kami harus hidup dirumah kecil, dan tanpa sengaja kecelakaan kecil menimpa kami…”

”Kecelakaan apa?”

”Arus pendek listrik, rumah kami kebakaran… Appa, aku, dan dua adikku sempat terkena luka bakar, karena rumah kami di tepi tebing, semua orang banyak mengira kami meninggal dunia. Ibu dan adikku masih hidup, tapi entah dimana keberadaannya sekarang… sejak itu, Appa merasa marah pada K2 Enterpraise, karena menurut Appa disitulah kehancuran kehidupan keluarga kami.”

Donghae dan Nara terdiam.

”Aku juga marah pada keadaan, tapi aku tidak mungkin menyalahkan orang yang tidak bersalah…” sorot mata Kyuhyun penuh permohonan. ”Appa berubah, kebencian dan dendam merubahnya seperti ini, padahal tadinya Appa orang baik.”

Nara mengatur napasnya, dia merasakan apa yang dulu Kyuhyun rasakan, dia tidak bisa marah.

”Lalu sekarang?”

”Appa memintaku memimpin K2 Enterpraise… Appa khawatir kalau… kalau…” ucapan Kyuhyun terbata.

”Kalau apa?”

”Kalau aku dekat denganmu…”

Donghae tersenyum ketika Kyuhyun melayangkan pandangannya kepada Nara, Nara nampak terkejut.

”Tunggu dulu, tadi katanya Kyuhyun dijaga kan?” tanya Haejin.

Nara mengangguk.

”Apa ada kemungkinan kalau mereka akan terus mencari Kyuhyun?”

Nara terdiam. ”Ya, itu pasti…”

”Kalau begitu…”

Telepon rumah berdering, keempatnya menoleh ke arah telepon, Haejin berdiri dan menghampiri telepon itu.

”Yeoboseyo…”

Haejin diam sebentar mendengarkan orang yang berbicara padanya ditelepon, tapi kemudian telepon yang dipegang Haejin jatuh. Kyu dan Nara saling pandang, Donghae langsung berdiri menghampiri Haejin.

”Andwe! Andwe!” Haejin geleng-geleng.

”Wae? Waeyo?” tanya Donghae.

”Appa… Appa…”

”Ahjussi waeyo?” tanya Donghae.

”Appa ditangkap!”

”Mworago?!”

Kyuhyun dan Nara buru-buru berdiri.

Haejin duduk berlutut dan menangis, ”Appa… Appa…” isaknya. Donghae linglung kemudian Nara mendekati Haejin dan memeluknya.

”Nara, jaga Haejin! Aku harus memberitahu Sungmin…” kata Donghae yang langsung mengeluarkan ponselnya.

 

*Sorenya*

Berita ditangkapnya ayah dari Sungmin dan Haejin sudah membuat satu jurusan di kampus ketar-ketir. Setelah menyusul ke kantor polisi, Sungmin diantarkan oleh Kibum dan Soeyoung pulang ke rumah. JooEun, ibunda Sungmin, Haejin, dan JeSoo sangat terpukul, berulangkali beliau pingsan. Haneul dan Jongwoon pun ikut serta ke rumah keluarga Lee.

”Ini akan bulus dari kedua orang itu…” ujar Jongwoon berapi-api pada JooEun, dan anak-anak yang ada disitu. ”Shin Donghee dan Cho Yunho.”

”Tolong, tolong suamiku…” JooEun terus menangis.

JeSoo cuma bisa ikut menangis, sambil memeluk ibunya, sementara dari tadi siang Haejin cuma melamun kosong. Hanya karena ayah mereka ingin mencari kebenaran atas kasus dari keluarga Nara.

Nara dan Donghae luar biasa diam, mereka merasa bersalah. Kyuhyun lebih lagi, dia merasa dia penyebab dari hancurnya keluarga Nara, Nara dan Donghae merasa menghancurkan keluarga Sungmin, Haejin, dan JeSoo.

”Hyukjae…” dan JooEun pun pingsan lagi.

JeSoo menangis, begitu juga dengan Haejin yang memeluk ibu mereka. Sungmin, Kibum, dan Donghae menggendong JooEun ke dalam kamarnya, Haneul menemani JooEun, sementara Jongwoon menelepon entah siapa-siapa lagi.

”Onnie… Oppa… otokhe?” JeSoo menangis.

Sungmin memeluk kedua adiknya, ”Gwenchana… gwenchana, aku yakin Appa akan baik-baik saja. Sudah uljima, adik-adikku…”

 

*Shin Corp*

Changmin berjalan menghentak seperti biasa menghampiri kantor ayahnya. Tidak dihiraukannya para pegawai ayahnya, Changmin terus maju dan menggebrak pintu kantor ayahnya.

”Appa!”

”Shin Changmin! Apa yang kau lakukan?! Bersikaplah sopan sedikit…”

Changmin mengatur napasnya, menatap ayahnnya yang sedang duduk dengan Yunho. Keduanya nampak kaget.

”Appa! Apakah Appa yang menjebak Lee Hyukjae?!”

”Kenapa kau kenald dia?!”

”APPA!” teriak Changmin, yang membuat Shindong dan Yunho sedikit terlonjak. ”Lepaskan Hyukjae itu!”

Shindong menatap Changmin heran. ”Sejak kapan kau peduli pada urusan Appa?!”

”Sejak saat ini!” desis Changmin. ”Kalau Appa masih mau melihat putra Appa hidup, lepaskan Lee Hyukjae itu!”

Shindong diam. ”Kalau kau mau Appa melepaskan Lee Hyukjae, bergabunglah dengan perusahaan Appa…”

 

*Rumah Keluarga Park*

Ririn sampai di rumahnya, dan kaget mendapati kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu, seperti menunggu kedatangannya.

”Eomma… Appa…”

”Ririn-ah…” Jungsoo menarik Ririn untuk duduk di sofa, tepat di sebelah Sangmi. ”Ada yang ingin Appa bicarakan denganmu…”

Sangmi mengangguk.

”Ne…” Ririn mengangguk, kemudian menghela napas dalam-dalam. ”Apakah ini tentang Micky?”

Jungsoo dan Sangmi saling pandang.

”Appa, Eomma… beritahu padaku apa yang terjadi sebetulnya…” akhirnya tangis dan kecemasan yang lama ditahan oleh Ririn tumpah juga. ”Appa dan Eomma lupakah kalau aku dan Micky itu kembar? Aku tahu sesuatu sedang terjadi padanya sekarang… jadi kumohooooon, seberapa menyakitkannya itu, beritahu padaku, apa yang terjadi padanya!”

Sangmi menunduk, dan menangis lagi.

Alice, do you remember, when you were a little kid, in Seattle? Micky was sick…” Jungsoo berkata perlahan.

Ririn mengangguk. ”Yes, I remember…

”Micky leukimia…”

Dan pertahanan Ririn roboh seketika, dia langsung jatuh terduduk sambil menangis tersedu. Meski sebetulnya dia sudah tahu jauh dari dalam lubuk hatinya, tentang apa penyakit yang diderita Yoochun, saudara kembarnya, yang protektif kepadanya. Tidak urung kabar ini membuatnya shock juga. Sangmi memeluk putrinya, dan membelai kepala putrinya.

”Micky said he doesn’t want to tell you, because he doesn’t want you to worry, but I guess, you should know…” ucap Sangmi.

Well of course I should know bout this!” teriak Ririn. ”Why you didn’t tell me earlier, Mom? I’m your daughter, and also Micky’s sister twins…

I’m sorry, Honey…” Jungsoo memeluk Ririn. ”But Micky just want you to be happy…

I will not happy as long as Micky’s notwhere is he now? Aku mau bertemu dengannya…”

”Di rumah sakit.”

Akhirnya Ririn dibawa oleh kedua orangtuanya menuju Rumah Sakit Internasional Seoul. Perasaan Ririn kacau, bagaimana keadaan Yoochun nanti saat ditemuinya di rumah sakit?

Mereka sampai di rumah sakit, dan Sangmi menggandeng Ririn menuju koridor-koridor ruang rawat yang sudah dihapalnya. Jungsoo mengikuti dari belakang mereka. Sebelum masuk ke dalam ruang rawat, Ririn memakai baju steril rumah sakit, beserta masker, dan perangkat lainnya.

Separah apakah Yoochun sehingga Ririn harus memakai perlengkapan seperti ini untuk masuk dan menjenguknya? Ririn cuma bisa berdoa dalam diam, kemudian Sangmi menggandeng tangannya menuju sebuah ruangan, Sangmi menggeser pintunya, dan Ririn melangkah masuk.

Yoochun berbaring diam di atas kasur rumah sakit, pakaiannya putih, wajahnya pucat, dengan selang oksigen menempel di mulut dan hidungnya. Tangannya memakai selang infus, dan jarinya dijepit oleh sesuatu yang entah apa namanya. Ririn malah menangis dan langsung mendekat.

Micky…” desahnya sedih.

Ririn meraih tangan Micky dan menggenggamnya. ”Micky, wake up! I’m here… how dare you sleeping like that? We should go to collage, wake up…” Ririn tersedu-sedu. Sangmi dan Jungsoo memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.

”Micky…” Ririn menangis sambil memeluk tangan Micky.

Tangan Yoochun bergerak-gerak, Ririn terperangah, buru-buru disekanya air mata yang mengalir deras di pipinya. Perlahan-lahan mata Yoochun membuka, dan menatap Ririn.

”Ririn-ah…” ucapnya lemah.

”Ya! Kau ini kenapa tidur tidak ajak-ajak?!” susah payah ditahannya tangisnya, Ririn hanya ingin kelihatan tegar seperti biasa di hadapan Micky. ”Bolos melulu! Tidak puasa…”

Yoochun mengangguk susah payah. ”Kau… disini?” tanyanya lemah.

”Ne… aku mencari saudara kembarku yang bodoh!” ujar Ririn. ”Apa yang kau lakukan disini?! Tidak bosankah?” suara Ririn bergetar.

Yoochun tersenyum lemah. ”Kau… kira… enak… begini?”

”Ani… makanya ajak aku…” dan Ririn menangis. ”Micky, don’t leave me… never leave me alone! I’m half of you, and also you half of me…

Yoochun tidak bisa bicara banyak kecuali hanya menggenggam tangan Ririn. ”Can I sleep?” tanyanya.

No!”

I’m sleepy…”

If you not wake up, I’ll kill you…”

Believe me… I still need fight with Choi Siwon…”

Ririn tertawa. ”I’ll kiss him in front of you everyday, so you can fight with him…

Thank you…

 

*Keluarga Choi*

Chaeri memasukkan kembali makan malam ke dalam mesin penghangat. Ketiga anaknya sudah makan, hanya suaminya, Heechul, yang belum, karena sampai sekarang belum pulang.

”Appa tugas?” tanya Siwon pada ibunya.

Chaeri mengangguk. ”Ada kasus katanya, Minra, ayo habiskan makananmu, lalu buat PR…”

”Ne, Eomma…” adik Siwon yang paling kecil.

Minho kemudian masuk ke dalam ruang makan dengan wajah keruh, berulangkali dia melirik ponsel flipnya. Lalu Minho duduk di meja makan, dan menatap resah ponselnya lagi.

”Kenapa?” tanya Siwon.

Minho menghela napas. ”JeSoo…” ujarnya khawatir. ”Ayah JeSoo di tangkap polisi…”

”Eh?!” Siwon terkejut.

Minho mengangguk. ”Dari tadi setelah pulang sekolah dia tidak memberi kabar. Aku khawatir, dia pasti sedang kalut sekarang.” Kata Minho sambil menunduk.

”Haejin… ya ampun, kita ke rumahnya saja, yuk.” Kata Siwon yang juga ikut prihatin.

”Ne, ayo, Hyung…”

Tapi kemudian ketika mereka baru akan berangkat ke rumah keluarga Lee, ayah mereka pulang.

Begitu Siwon dan Minho menceritakan maksud kepergian mereka kepada sang ayah, sang ayah justru memberitahu bahwa kasus yang sedang dia tangani adalah kasus yang berhubungan dengan Lee Hyukjae, ayah dari Sungmin, Haejin, dan JeSoo. Serta berhubungan dengan perusahaan K2 Enterpraise, yang dahulu adalah milik Donghae dan Nara, dan sekarang menjadi milik Kyuhyun.

Bersambung

Berhubung hari ini author mau shopping lagi, wkwkwkwk… jadi publish sekarang aja deh. Hehehe, oiya Tuan Park yang bantuin Shindong sama Yunho itu sama sekali nggak ada hubungannya sama tuan Park Jungsoo dan keluarganya ya… author cuma bingung cari nama aja, hehehehe…

Part ini sengaja aku buat lebih kelam, karena udah mulai masuk 4 episode terakhir, jadinya udah masuk penguraian-penguraian masalah. Kritik, saran, dan pesan sangat dibutuhkan lhoooooo…

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

YM : nisya_siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s