When Sunrise Meet Sunset (Episode 15)

*Esoknya, Universitas Neul Paran*

Sungmin memarkir mobilnya di tempat biasa, kemudian mereka berempat turun dari dalam mobil bersama-sama. Kebetulan Kibum juga baru tiba, maka Sungmin dan Donghae langsung berbincang dengan Kibum, sementara Soeyoung menghampiri Nara dan Haejin.

Ketiganya berjalan bersama menuju kelas pertama kuliah mereka, kelas masih sepi. Maka Nara memutuskan meluruskan segalanya sekarang pada Haejin, setelah kemarin penasaran dengan tingkah laku kakak dan sahabatnya itu.

”Jadi, Haejin-ah… katakan padaku, apa yang terjadi padamu dan Oppaku kemarin?” tanya Nara begitu mereka sudah duduk di kelas.

Wajah Haejin memerah.

”Eh, Donghae Sunbae dan Haejin?” tanya Soeyoung kaget.

Nara mengangguk. ”Ayo! Katakan pada kami, apa yang terjadi antara kau dan Oppaku?”

”Mwoyaaaa?” Haejin garuk-garuk kepalanya.

”Sudahlah, Haejin-ah… aku tahu! Aku sudah memerhatikan kalian dari lama, dan kau kira Hae tidak cerita apa-apa padaku, hah?” tanya Nara galak.

”Ah, jadi itu sebabnya kau selalu sewot jika anak ini berbicara mengenai Im Seulong dan Changmin Sunbae… karena Donghae Sunbae rupanya!” ujar Soeyoung mengerti sekarang.

Haejin cengar-cengir nggak jelas.

”Ya, Lee Haejin!” kata Nara serius. ”Kalau kau memang serius dengan Hae, kuharap kau pegang janjimu itu! Kalau kau tidak serius, lebih baik kau tinggalkan kakakku! Aku tidak sudi jika kakakku disakiti gadis lain!”

Haejin menatap mata Nara lurus. Bagaimana mungkin dia tega menyakiti hati Donghae? Haejin cuma tersenyum, tidak menjawab, tapi dia tahu dari ucapan Nara barusan, Nara serius.

Anak-anak kemudian beriringan satu persatu datang, tapi makin hari rasanya semakin sepi. Junsu sudah tidak masuk selama tiga hari, dan tidak ada yang tahu keberadaan Junsu dimana sekarang, karena ponselnya selalu tidak aktif jika dihubungi. Bahkan hari ini Kyuhyun juga tidak masuk kuliah. Ririn kemudian datang dengan wajah murung, tanpa Yoochun.

Junsu, Yoochun, dan Kyuhyun sudah cukup mengurangi suasana kelas hari ini.

Nara pura-pura izin ke kamar mandi, padahal dia penasaran kemana perginya Kyuhyun. Di dalam kamar mandi, dia mengeluarkan ponselnya, dan mencari nama Kyuhyun, begitu ditemukannya, Nara langsung menekan tombol berwarna hijau.

Ponsel Kyuhyun tidak aktif. Nara mengernyit, Kyuhyun tidak biasanya menonaktifkan ponselnya, apalagi jika dia mau tidak masuk kuliah. Nara berpikir, rumah Kyuhyun sekarang adalah rumahnya dahulu, nomor telepon rumahnya pastilah sama. Maka Nara menghubungi nomor rumah Kyuhyun.

”Rumah Keluarga Cho…”

Nara tersentak, ini adalah suara Immonim-nya. ”Permisi, boleh saya bicara dengan Cho Kyuhyun?” tanya Nara hati-hati.

”Nara Agesshi?” tanya Immonim itu kaget.

”Immonim… Immonim masih mengenal suara saya?” tanya Nara ramah.

”Tentu saja, Agesshi…”

”Kalau begitu boleh saya bicara dengan Kyuhyun?”

”Tuan Muda Kyuhyunnie… dikurung di dalam kamarnya oleh Tuan Yunho, Agesshi…” bisik Immonim.

”Mwo?!” pekik Nara.

”Iya, Agesshi… Kyuhyun Huijangnim sepertinya dipaksa melakukan sesuatu, tapi Huijangnim tidak mau…”

Nara langsung berkata. ”Immonim, saya kesana sekarang!”

”Tapi, Agesshi… disini keamanannya diperketat, agar Kyuhyun Huijangnim tidak melarikan diri!”

”Tenang saja!”

Nara mematikan sambungan teleponnya dan langsung keluar dari dalam kamar mandi, merogoh kantungnya, uangnya masih ada di dalam kantung celana jinsnya. Yang dipikirkannya sekarang adalah : Kenapa Kyuhyun dikurung oleh Yunho? Nara langsung keluar dari kampusnya dan berlari menuju halte bus.

Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya bus yang menuju alamat rumahnya yang dulu datang, Nara buru-buru naik. Dan sekarang dia sudah berjalan menyusuri jalan rumahnya dulu. Akhirnya Nara bisa melihat rumahnya dari jauh, rumah bertingkat tinggi yang kokoh itu terlihat berbeda, mungkin karena beberapa penjaga berjas hitam banyak berlalu lalang.

”Ige mwoya?” tanya Nara heran. ”Apa yang dilakukan Kyuhyun sampai ayahnya harus menjaganya seperti ini?” Nara kemudian berbalik menuju jalan belakang. Jalan yang biasa dipakainya untuk bermain perang-perangan sewaktu kecil dengan Donghae.

Ampuh! Jalan itu masih terbuka, tapi jalanan itu jauh lebih sempit dibanding ketika Nara kecil dulu. Tentu saja, sekarang badannya sudah jauh lebih tinggi, tapi jalanan itu masih terbuka, dan sekarang dia berdiri di tepi kolam renang belakang. Nara memicingkan matanya, sepertinya tidak ada penjaga di belakang, Nara kemudian berlari masuk ke dalam dapur.

”Immonim…” panggil Nara.

Immonim langsung kaget dan nyaris menjatuhkan nampan yang sedang dipegangnya, buru-buru ditariknya Nara di dalam kamar sepen di dalam dapur. ”Nara Agesshi… apa kabar?”

”Saya baik, Immonim…” sahut Nara sambil tersenyum.

”Agesshi benar-benar nekat…” suara Immonim merendah hingga menyerupai bisikan. ”Apa yang Nara Agesshi lakukan disini? Kalau Tuan Yunho sampai tahu…”

”Aku mau tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun! Dia temanku, aku tahu dia baik… tidak seperti ayahnya.”

Immonim mengangguk. ”Tuan Muda Kyuhyun sangat baik, orangnya tidak banyak bicara. Tapi sepertinya semalam mereka berdua terlibat pertengkaran sengit, Agesshi… saya tidak tahu lagi, yang jelas Tuan Muda sekarang di kurung, sampai dia mau menurut pada Tuan Yunho.”

”Karena apa?” tanya Nara penasaran.

”Saya nggak tahu, Agesshi…” jawab Immonim lagi nampak cemas. ”Tuan Muda tidak mau makan dari semalam. Makanannya tidak tersentuh…”

”Mwo? Tidak makan?” tanya Nara kaget. ”Immonim… apakah menurut Immonim, aku bisa naik ke atas dan bertemu dengan Kyuhyun?” bisik Nara.

”Agesshi benar-benar ingin bertemu dengannya?”

Nara mengangguk.

Immonim itu tersenyum, ”Kalau begitu, saya akan membantu Agesshi, Agesshi tunggu disini, kalau sudah saya kasih tanda, Agesshi boleh keluar.”

Nara mengangguk lagi.

Immonim kemudian keluar dan memerintahkan beberapa penjaga untuk menyingkir karena dia mau mengambil makanan yang belum disentuh Kyuhyun. Nara mengintip, para penjaga itu menyingkir begitu saja, Immonim menoleh dan memberi isyarat agar Nara berlari ke arahnya.

Nara berlari dan mengikuti Immonim naik ke atas, mengikuti Immonim menyusuri koridor lantai dua, yang mengarah ke kamarnya yang dulu. Kyuhyun ternyata menempati kamarnya dulu.

”Agesshi… saya berjaga disini saja, Agesshi masuk ke dalam, Tuan Muda ada di dalam.”

Nara mengangguk dan langsung menyelinap ke dalam koridor yang menuju ke kamarnya dahulu. Pintu kamarnya masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah, Nara mengetuk pintunya.

”Aku tidak mau makan…” sahut suara di dalam lemah.

Nara kaget mendengar suara Kyuhyun selemah itu. Nara menoleh ke belakang, kemudian membuka pintu kamar Kyuhyun perlahan-lahan. Kyuhyun sedang memunggunginya, duduk di kursi. Nara menutup pintu kamar Kyuhyun perlahan-lahan, tapi nampaknya Kyu bisa mendengar seseorang masuk.

”Aku tidak mau bertemu siapa pun!” bentaknya.

Nara kaget. ”Ya! Kasar sekali…”

Kyuhyun menoleh cepat, wajahnya pucat, tapi matanya penuh keterkejutan. ”Nara… kau?”

”Ne, ini aku! Bodoh, kenapa kau tidak memberi kabar?”

”Ponselku diambil…”

Nara menghampiri Kyuhyun dan memerhatikan wajahnya, ”Ya ampun, kau pucat sekali! Kata Immonim kau tidak mau makan, kenapa kau tidak makan? Kau kan butuh tenaga…”

”Bagaimana kau bisa disini?” Kyuhyun menatap Nara lekat-lekat.

”Aku penasaran, kita kan harus bertanding hari ini…” ujar Nara.

Kyuhyun tertawa, tapi wajahnya seperti mau menangis. ”Nara-ya… mungkin aku tidak akan masuk kuliah lagi.”

”Waeyo?”

”Appa memaksaku memimpin K2 Enterpraise…”

”Mwo?”

”Awalnya dia hanya memintaku memimpin Cho Corp, tapi sekarang dia malah memintaku memimpin K2 Enterpraise…” ujar Kyuhyun lirih.

Nara terdiam. ”Memangnya kenapa kau tidak mau?” tanya Nara pada akhirnya.

”Itu bukan perusahaanku…” ujar Kyu lirih, sambil menoleh ke arah lain. ”Dan aku tahu Appa… Appa menyembunyikan sesuatu mengenai perusahaan itu, karena semalam aku sempat mencari data mengenai K2 Enterpraise… banyak yang Appa sembunyikan dariku!” Kyu menjambak rambutnya. ”Aku bingung…”

Nara lebih bingung lagi.

”Nara-ya… tolong aku…”

”Bagaimana kalau kita kabur saja?” tanya Nara spontan. ”Kita pergi dari sini… kita selidiki bersama-sama. Appamu dan… dan… perusahaan milik orangtuaku…”

Kyu menengadah. ”Yakin?”

”Justru aku yang harus bertanya padamu, apakah kau yakin untuk mengetahui segala rahasia yang ada… entah itu menyakitkan atau tidak…”

”Menyakitkan atau tidak, aku hanya butuh kebenaran!”

”Kalau begitu ayo pergi sekarang!”

Kyuhyun mengangguk. ”Aku pergi kemanapun kau pergi…”

Nara mengangguk, kemudian dia melirik jendela keluar. ”Penjagamu rata-rata hanya di depan… kita bisa kabur lewat jendela kamar Donghae yang dulu. Ayo!” Nara menarik Kyuhyun, Kyu mengambil tasnya dan mengikuti Nara. Keduanya masuk ke dalam kamar Donghae yang lama, yang sekarang tidak ditempati siapa-siapa, kemudian Nara membuka jendela.

”Kosong! Kau loncat duluan…”

Kyu meloncat ke bawah dengan kaki ditekuk pas, sehingga bunyi debamnya teredam. Kyu mendongak, ”Ayo!”

Nara meloncat, dan turun dengan mulus. ”Wah! Gak sia-sia kita main game Tomb Rider ya?”

”Kau memang Lara Croft…” puji Kyu.

”Kalau berpasangan begini, lebih enak Mr & Mrs Smith…”

”Kalau begitu kita pembunuh bayaran?”

”Anggap saja begitu…” Nara menarik Kyuhyun lagi menyusuri lorong di samping rumahnya, kemudian menyusup ke lubang yang biasa dilewatinya ketika masih kecil dahulu, lorong ketika Nara tadi menyelinap masuk ke dalam rumah ini.

Kyuhyun mengikuti Nara menyusuri lorong itu, sampai Nara berhenti. Kyuhyun ikut berhenti. ”Kenapa?”

”Ada penjaga diluar…” Nara mengintip. ”Sepertinya kita harus mengalihkan perhatian penjaga itu, lalu berlari ke arah kiri. Disana biasanya banyak pangkalan taksi…”

Kyuhyun melepaskan ranselnya. ”Kayaknya aku membawa sesuatu yang bisa digunakan deh…”

”Apa?”

”Mainannya Eunji sih…” Kyuhyun mengeluarkan kantong plastik. ”Kau takut ular tidak?”

”Ular betulan sih takut…”

”Kalau begitu kita lihat, mereka takut ular betulan, atau bohongan…” Kyuhyun mendekat ke tepi lorong dan membidik, lalu melemparkan segenggam ular-ularan ke arah para penjaga, dan dia langsung sembunyi lagi.

Nara tertawa terpingkal-pingkal mendengar suara para penjaga yang heboh. Kyuhyun mengintip lagi, para penjaga yang berkerumun disitu sedang heboh dan berlarian.

”Lari sekarang!” Kyuhyun menarik Nara berlari ke arah kiri.

Tapi penjaga itu melihat mereka, dan membunyikan pluitnya.

Nara dan Kyuhyun menoleh ke belakang, ”Omona!” pekik keduanya.

”Ya ampun! Kita harus melakukan sesuatu… mereka mengejar kita!” pekik Nara sambil terus berlari.

Kyuhyun masih terkekeh. ”Seru ya…”

”Cho Kyuhyun paboya! Lari saja jangan cengar-cengir!”

Kyuhyun berkata. ”Di depan persimpangan jalan…”

”Kita ke kiri! Di kiri jalan buntu, tapi aku tahu jalan tembusnya…”

”Ayo!”

Mereka berbelok ke kiri, dan menemukan jalan buntu.

”Mana jalan tembusnya???”

”Manjat!” dan dengan kecepatan mengagumkan, Nara mengambil ancang-ancang, lalu langsung melompati tembok batu itu.

Kyuhyun mendengar gemuruh di belakangnya dan langsung ikut memanjat ke atas, tepat ketika Kyuhyun menghilang di balik tembok, para pengawal itu tiba. Di balik tembok, Nara dan Kyuhyun mengatur napasnya pelan-pelan.

”Sekarang… kita tinggal cari taksi…” ujar Nara sambil mengatur napasnya.

 

*Universitas Neul Paran*

Ririn dan Siwon sedang jalan-jalan berdua mengelilingi taman kampus, wajah Ririn sedang murung sekali, dan Siwon memutuskan untuk menghiburnya sambil berjalan-jalan.

”Eomma, Appa, dan Yoochun tidak bilang padaku mereka pergi semalam. Tadi pagi mereka memberi kabar, katanya mereka mengantar Yoochun untuk mencari beasiswa di luar negeri…”

”Jinja?”

Ririn menggeleng. ”Yoochun bukan tipe orang yang mengejar beasiswa, pintar saja tidak!”

”Lalu menurutmu kenapa orangtuamu dan Yoochun pergi?”

Ririn menghela napas dan berhenti berjalan. ”Aku harus tahu apa yang terjadi pada Yoochun! Aku lelah tidak tahu apa-apa begini, aku harus tahu apa yang terjadi kepada saudara kembarku!”

Siwon mengangguk. ”Lalu apa rencanamu sekarang?”

”Molla… perasaanku terus menerus tidak enak, tanpa pasti harus mencari kebenaran dimana.”

”Kalau begitu lebih baik kita kembali ke Sekre, nanti sepulang kampus, kubantu kau mencari tahu.”

Keduanya pergi ke Sekre Himahi.

Di dalam Sekre, ada Kibum, Sungmin, Changmin, Donghae, Soeyoung, dan Haejin mereka semua sedang sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing, hingga tidak memerhatikan Siwon dan Ririn yang baru saja masuk.

Never thought that I falling love, love, love, love…

Haejin mengeluarkan ponselnya, dan mengangkatnya, ”Yeoboseyo… ya! Kau kemana sih?! Mworago? Ne ne ne… aku keluar dulu…” Haejin buru-buru berdiri dan keluar dari ruangan. Donghae meliriknya, begitu juga Changmin, tapi Donghae kembali pada diktat Politik Luar Negeri-nya, sementara Changmin justru berdiri dan keluar mengikuti Haejin tanpa disadari Donghae.

Haejin bicara pada Nara. ”Kau dimana?”

”Aku sedang membawa lari Kyuhyun…” bisik Nara. ”Ceritanya panjang! Aku pulang ke rumahmu ya?”

”Kenapa kau membawa lari Kyunnie?!” tanya Haejin heran.

”Ceritanya panjang! Nanti kuceritakan, maka sepulang kuliah kau langsung pulang saja ya! Ajak Hae…”

”Iya deh…”

”Oke…” Nara memutuskan teleponnya.

Haejin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jinsnya, lalu berbalik, tapi kaget ketika Changmin sudah berdiri di hadapannya. ”Sunbae…”

Changmin menarik tangan Haejin. ”Ada yang ingin kubicarakan denganmu…”

”Ya! Ya! Ya! Sunbae…” Haejin pasrah ditarik oleh Changmin menuju taman Rektorat yang lebih besar, namun lebih sepi dari taman kampus. ”Sunbae! Lepaskan tanganku… Sunbae!”

Changmin melepaskan tangan Haejin.

”Ada apa Sunbae?”

”Haejin-ah…” kata Changmin pelan sambil memainkan ujung jaketnya. ”Apa kau tahu kenapa aku memintamu memanggilku Oppa?”

Haejin terdiam. ”Eh? Ani, waeyo?”

Changmin menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap Haejin. ”Karena, aku tidak mau hanya menjadi sekedar senior, atau kakak kelasmu. Aku ingin jadi orang spesial… selama ini aku dekat denganmu, menganggapmu seperti dongsengku sendiri, karena aku dekat dengan Sungmin… tapi, aku juga tidak tahu, entah sejak kapan… perasaan itu berubah.”

Haejin mendengarkan dalam diam.

”Haejin-ah… waktu kau mulai dekat dengan Im Seulong, aku mulai resah… waktu kau akhirnya dekat denganku aku senang… tapi kemudian kau… dan Donghae…”

Haejin masih diam.

”Haejin-ah… aku tidak mau hanya sekedar menjadi kakakmu, aku mau jadi pacarmu…”

Haejin menekap mulutnya. ”Sunbae…”

Changmin menggenggam tangan Haejin, dan menatap Haejin lembut. ”Aku serius, Haejin-ah… aku siap bertanggung jawab pada Sungmin. Jadi tolong jangan terus menarik-ulur hatiku…”

”Sunbae, mianhae…” ucap Haejin sambil menarik tangannya.

Changmin tertegun. ”Waeyo?”

”Aku juga sayang kok sama Sunbae…” Haejin tersenyum. ”Tapi, jeongmal mianhae… aku tidak bisa membalas perasaan Sunbae. Aku memang menyayangi Sunbae, tapi sampai kapanpun, Sunbae adalah kakak bagiku.”

”Itu bisa berubah, kok… dari Oppa bisa menjadi yeobo… di drama seperti itu!”

”Sunbae…” Haejin tertawa. ”Hidup itu tidak sama dengan Korean Drama… karena sampai kapanpun Changmin Sunbae, adalah Oppa bagiku, seorang kakak.”

”Berikan aku kesempatan, aku yakin bisa merubahnya…”

Haejin tersenyum dan menggeleng. ”Mianhae, Oppa… aku sudah ada yang punya, sejak kemarin… ani, sepertinya memang sudah sejak awal, hatiku dimenangkan oleh orang lain.”

”Donghae?” tanya Changmin.

”Ne… Donghae… dia yang ada disini…” Haejin menyentuh dadanya. ”Aku yakin Oppa pun pasti suatu saat nanti akan memiliki orang yang spesial di hati Oppa, dan itu bukan aku.” Lalu Haejin tersenyum dan berbalik pergi.

Changmin diam menatap punggung Haejin yang menjauh. Apa memang dia sudah tidak bisa memenangkan hati gadis itu?

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

Junsu melangkahkan kakinya berkeliling rumah sakit untuk menunggu hasil pemeriksaan Yoonrae yang berikutnya, ketika dia berbelok, dia melihat pasangan suami-istri yang sudah amat dia kenal, sedang duduk berdua.

”Ahjumma… Ahjussi…”

Sangmi dan Jungsoo mendongak dengan kaget begitu mendapati Junsu menghampiri mereka.

”Junsu-ya? Kau sedang apa disini?”

”Annyeonghaseyo…” Junsu membungkuk. ”Aku menunggu adikku yang sakit.”

Sangmi mengangguk.

”Ahjumma dan Ahjussi sedang apa?”

Jungsoo menghela napas. ”Yoochun…”

”Mwo?!” pekik Junsu kaget. ”Jadi benar, kalau Yoochun sedang sakit? Sakit apa dia, Ahjussi?” tanya Junsu panik.

Sangmi tiba-tiba langsung menangis. ”Kanker darah…”

”Mwo?!” tanya Junsu langsung lemas.

Jungsoo mengeratkan pelukannya kepada Sangmi. ”Yoochun sudah seharusnya dipindah rawatkan di Seattle, seperti dulu ketika dia kecil. Tapi dia selalu menolak, dia tidak mau membuat Ririn khawatir.”

”Lalu sekarang dimana Yoochun?”

”Semalam setelah kemoterapi, tiba-tiba dia drop… mimisan terus tidak berhenti…” sahut Jungsoo.

Junsu terperangah, sahabatnya yang biasanya ceria dan suka menganggu orang itu sekarang tiba-tiba saja sudah mengidap penyakit parah macam Leukimia? Junsu langsung melongok ke dalam, di dalam sana beberapa dokter spesialis sedang sibuk menangani tubuh Yoochun yang terbaring.

”Tiba-tiba separah ini?!” tanya Junsu tak percaya.

Jungsoo mengangguk. ”Yoochun selalu tidak mau merasakan sakitnya, makanya sekarang begini. Rasanya kami memang harus segera memberitahu Ririn meski Yoochun melarangnya.”

”Iya, kejujuran memang menyakitkan, Ahjussi… tapi daripada terus berbohong…” ujar Junsu nanar.

 

*SMA Neul Paran*

”Jadi, kau sudah jadian dengan Minho?”

JeSoo menghela napas. ”Nggak tahu ya…”

”Aigo! Bagaimana sih kau ini!” Hyorin mendecak kesal. ”Status kalian berdua di Facebook kok sudah In A Relationship…?”

JeSoo nyengir. ”Minho yang minta.”

”Nah kalau begitu, kenapa kau tidak bertanya kepada Minho kenapa dia meminta kalian membuat status begitu?”

”Kata Minho karena dia suka padaku…” dan wajah JeSoo memerah.

”Ya sudah kalian sudah jadian kalau begitu.”

JeSoo mengangguk. ”Manis ya… ada yang mengatakan kalau kami berdua itu JeMin couple, Hyorin-ah…”

”Aigooo…” Hyorin geleng-geleng. ”JeMin mwoyaaaa?”

”JeSoo-Minho…”

Hyorin geleng-geleng, ”Tapi chukae-lah… yang penting akhirnya setelah setahun lebih, kau dan Minho bersamanya juga.”

”Gomawo…” JeSoo memeluk Hyorin.

 

*Shin Corp*

”Hyung, bagaimana rencanamu sudah selesai?” tanya Yunho.

Shindong mengangguk. ”Tentu saja, hari ini mungkin sudah ada kabar tentang rencana mengenai K2 Enterpraise. Kau tidak perlu khawatir, Yunho-ya… setelah itu baru aku menangani Changmin.”

Ponsel Yunho berbunyi. Yunho mengangkatnya. ”Yeoboseyo… ya, ada apa? Mworago?!” teriak Yunho. ”Dengan seorang gadis?! Cari Kyuhyun sampai ketemu, atau kalian akan kuhabisi satu-satu!” Yunho memutuskan sambungan teleponnya. Wajahnya terlihat frustasi, dan mondar-mandir. ”Kyuhyunnie benar-benar sudah buta‼!”

”Ada apa Yunho-ya?”

”Kyuhyun kabur dengan Kwan Nara!”

Bersambung

Ini masuk 5 atau 4 episode terakhir yaaa… seneng banget bisa sama-sama readers selama sebulanan ini… hehehehe… oiya ini aku buat bener-bener ngebut, jadi kalo ada typo atau ceritanya agak-agak kurang memuaskan, mohon kritik sama sarannya ya🙂

Part ini special buat : Tinky Winky sama Poo, karena Dipsy sama Lala sudah menemukan kebahagiaan. wkwkwkwkwk…

One thought on “When Sunrise Meet Sunset (Episode 15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s