When Sunrise Meet Sunset ~Episode 14~

Junsu memerhatikan sosok Yoochun yang membungkuk pada perawat di hadapannya, lalu pintu ruangan kemoterapi itu ditutup. Junsu menggigit bibirnya, apa yang dilakukan Yoochun disana? Pikirnya khawatir, tapi kemudian dia ingat untuk mengambil hasil tes pemeriksaan ginjal Yoonrae, maka Junsu buru-buru pergi ke ruangan dokter terebut.

”Junsu-ssi… silakan duduk,” kata dokter tersebut.

Junsu duduk. ”Bagaimana keadaan Yoonrae, Dok?”

”Iya ginjalnya memang harus diangkat… dan hasil menunjukkan tidak memiliki kesamaan delapan puluh persen dengan ginjal ibunya…” ujar Dokter itu lagi.

Junsu tercengang. ”Tidak memiliki kesamaan, Dok?”

”Memang tidak ada yang seratus persen sama ginjalnya…” jawab Dokter itu lagi. ”Tapi biasanya jika orangtua dan anak, hampir sama ginjalnya… mungkin Yoonrae Agesshi ginjalnya lebih sama ke ayahnya atau adik-kakaknya.”

”Lalu bagaimana, Dok?” tanya Junsu khawatir.

”Kami akan berusaha mencari ginjal yang cocok dengan Yoonrae Agesshi… untuk sementara keadaan Yoonrae Agesshi akan terus lemah seperti ini.” Jawab Dokter.

Junsu menelan ludah. ”Lalu kalau tidak ketemu?”

”Berusalah optimis, Huijangnim…” Dokter itu cuma tersenyum tipis.

Junsu menggigit bibirnya. ”Apa ada kemungkinan, orang yang bukan saudara kandung atau ayah kandung dari Yoonrae bisa mendonorkan ginjalnya, Dok?”

”Banyak sekali kemungkinan seperti itu…”

”Kalau begitu, bagaimana kalau Dokter cek ginjal saya?”

 

*Rumah Keluarga Cho*

”Aku pulang…” Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya yang besar, huh… rumah Nara, pikirnya perih. Tiba-tiba Eunji muncul dan minta gendong, Kyuhyun langsung menggendong Eunji. ”Halo… adik Oppa sudah makan?”

”Sudah…” Eunji memeluk Kyu. ”Onnie belum pulang… Eunji kangen Onnie… mau main sama Onnie…”

”Hyunmi Onnie belum pulang?” tanya Kyu terkejut.

Eunji mengangguk.

”Kyuhyunnie, sudah pulang?” Yunho muncul sambil memegang ponselnya.

Kyu mengangguk singkat.

”Eunji, main di kamar dulu ya… Appa mau bicara dengan Oppamu…” kata Yunho sambil tersenyum pada Eunji.

Eunji mengangguk dan turun dari gendongan Kyu, lalu berlari ke dalam kamar bermainnya. Kyu menatap ayahnya, Yunho memberi isyarat agar Kyu mengikutinya ke ruang kerjanya.

Yunho duduk di balik mejanya, dan menyilangkan kakinya sambil menatap Kyu yang nampak tidak nyaman. ”Duduklah, Kyu…”

Kyu duduk.

”Ada yang ingin Appa bicarakan secara serius denganmu…” kata Yunho menatap dalam mata Kyu.

”Apa?” tanya Kyu.

Yunho menatap lurus mata Kyu, pandangan Yunho yang menakutkan. Sudah lama Kyu tidak melihat pandangan seperti itu dari ayahnya. ”Kau masuklah perusahaan Cho Corp.”

”Mwo?!”

”Dengan prestasimu selama ini, Appa rasa tidak sulit untuk memimpin perusahaan kita. Appa masih harus berkonsentrasi di K2 Enterpraise, maka Appa berharap kau sebagai pewaris tunggal dari Cho Corp, mulai menangani…”

”Aku kan masih kuliah, Appa…”

”Kuliah itu untuk mencari pekerjaan pada akhirnya, Kyunnie… untuk apa kau kuliah jika kau sudah punya pekerjaan?”

”Appa… banyak orang yang tidak bisa kuliah diluar sana…” Kyuhyun jadi ingat Nara, bagaimana anak itu dan kakaknya membayar kuliah jika seluruh aset keluarga mereka disita sang ayah?

”Jangan pedulikan orang… kau cukup urusi hidupmu…”

Kyu berdecak. ”Sejak kapan Appa jadi memaksakan kehendak kepada anak-anak Appa begini?!”

”Dan sejak kapan pula kau berani melawan orangtuamu?!”

Kyu terdiam.

”Appa hanya tidak mau kalian merasakan hal menyakitkan yang dulu kita rasakan ketika perusahaan Appa bangkrut! Kalian ingat, kan?! Sekarang Appa mati-matian membangun perusahaan unuk kalian juga, dan kau Kyu, yang seharusnya membantu Appa!”

Kyu diam dan menunduk.

”Kau mau melihat Appa menjadi buruh lagi, Kyu?!”

”Aniya…” Kyu menggeleng, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya jika mengingat kejadian dulu.

Yunho mengangguk. ”Masuklah perusahaan, pimpinlah Cho Corp dengan baik. Kau mengerti, Kyu?”

Kyu masih diam.

”Dan satu lagi, kau dekat dengan gadis itu?”

Kyu mengangkat wajahnya. ”Gadis mana?”

”Kwan Nara…”

”Waeyo?”

Yunho menatap Kyu lurus lagi di manik mata. ”Jauhi dia! Appa tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan anak dari Youngwoon dan Kheynie. Kau tahu kalau Appa serius kan?”

Kyu tercengang.

 

*Shin Corp*

”Sajangnim, ada surat dari BPK Korea Selatan.” Kata sekertaris Shindong.

”Bawa masuk.”

Tak lama kemudian surat itu sudah sampai pada Shindong, Shindong menghela napas. ”Aku harus bertindak cepat kali ini, Yunho harus membantu… K2 Enterpraise harus di utamakan sekarang…”

Ponsel Shindong bergetar.

”Yeoboseyo…”

”Hyung… aku sudah meminta Kyuhyun untuk menangani Cho Corp, dan dia tidak punya pilihan lain.”

”Syukurlah, kau harus berkonsentrasi untuk merebut lahan Kim Corp, dan menghabisi Kim Jaejoong. Aku akan konsentrasi untuk membersihkan nama K2 Enterpraise karena Badan Pemeriksa Keuangan sudah mulai ikut campur…”

Yunho terdengar terkejut. ”Badan Pemeriksa Keuangan?!”

”Ya, mereka mulai menyorot…”

”Kalau begitu aku juga harus bergerak cepat, Hyung juga… Shin Corp serahkanlah pada Changmin, biar Hyung bisa konsentrasi di K2 Enterpraise…”

Shindong menghela napas. ”Changmin tidak semudah Kyuhyun…”

”Ayolah, Hyung… kau adalah pria hebat, kau pasti bisa menemukan kelemahan Changmin, dan menggunakannya…”

 

*Kyuhyun’s Room*

Kyuhyun menaruh tasnya di atas meja belajarnya, dan tanpa mengganti bajunya langsung berbaring di tempat tidur, kedua tangannya diletakkan dibawah kepalanya sambil menatap langit-langit.

Kyuhyun tau perjuangan ayahnya itu sangat besar, ketika cobaan beruntun menimpa keluarga mereka. Perusahaan ayahnya yang bangkrut karena kalah bersaing dengan K2 Enterpraise, kemudian rumah mereka yang terbakar, dan nyaris merenggut nyawa Kyuhyun dan kedua adiknya. Beserta sang ibu dan satu adiknya yang menghilang entah kemana.

Tapi Kyuhyun tetap tidak tega! Nuraninya mengatakan bahwa semua ini tidak benar! Terlebih ketika ayahnya menyita seluruh aset keluarga Kwan meski itu hak ayahnya. Kyuhyun mengembuskan napasnya berat.

”Apa ini karena Nara?” tanyanya. Kyuhyun menghela napas lagi. Yang dia pikirkan hanyalah tidak ingin berdiri berdampingan dengan ayahnya di atas perusahaan yang dibangun atas kehancuran keluarga Nara.

Keluarganya pernah hancur, Kyuhyun tau rasanya, makanya dia tidak suka menghancurkan keluarga lain. Tapi, apakah itu benar? Atau dia tidak suka menghancurkan keluarga lain, karena di keluarga itu ada Nara? Tapi siapakah Nara hingga Kyuhyun bisa begitu mempertimbangkannya.

”Itulah kenapa aku membenci kedewasaan!” Kyuhyun menggaruk kepalanya kesal. ”Lebih susah daripada bermain game!”

 

*Blitzmegaplex Seoul*

”Wuaaah lama nggak nonton film…” JeSoo merentangkan tangannya begitu keluar dari dalam bioskop.

”Aku senang kau suka…” Minho tersenyum.

Aigooo, Minho banyak sekali tersenyum hari ini, hati JeSoo riang sekali, puasa rasanya jadi nikmat, apalagi berbuka dengan orang yang spesial. Wuiiiiiih >////////< JeSoo makin senang.

”Keurom… sekarang sudah malam, kita makan dulu yuk…” ajak Minho.

”Aku masih kenyang…” sahut JeSoo.

”Nanti kau sakit, kau kan puasa… semalam kau mengerjakan tugas OSIS, pulang buka puasa, kau hanya makan kue beras, dan di dalam hanya makan nachos, plus minum lemon tea… perutmu masih kosong…”

Hati JeSoo melambung tinggi, bagaimana mungkin Choi Minho memerhatikan setiap inci yang dia lakukan? Aih, dia pastilah orang spesial di mata Minho. Aduuuh kok JeSoo jadi narsis begini? JeSoo berusaha mengendalikan dirinya, dengan hanya tersenyum manis.

”Mau makan apa?” tanya Minho pelan.

”Ehm… makan apa?” tanya JeSoo balik.

Minho tertawa. ”Aku bertanya…”

”Tapi aku juga bingung…”

Minho mengangguk, ”Kalau begitu, mau tidak kalau kita makan ttokbokki di pinggir jalan?”

Mata JeSoo membulat. ”Jinja?! Ah, mau mau…”

Akhirnya keduanya berhenti di pinggir jalan, dan memakan ttokbokki dengan lahapnya. Minho senang melihat JeSoo, dia benar-benar gadis yang sangat easygoing dan ramah.

Sudah begitu, tidak segan di ajak makan di pinggir jalan, malah kalau Minho lihat, JeSoo tipe yang suka juga jajan di pinggir jalan, meski JeSoo anak orang kaya, dan JeSoo pasti tahu kalau Minho juga anak orang kaya. Minho tersenyum melihat JeSoo yang lahap makan.

Aku tidak salah pilih… suara hatinya menggema.

 

*Rumah Keluarga Park*

Ririn tidur di dalam kamarnya, tapi tiba-tiba dia terbangun dan merasakan sesuatu di hidungnya. Ririn buru-buru menyalakan lampu, dan melihat ke kaca, tidak ada apa-apa di hidungnya.

Ririn melirik jam dinding, pukul dua belas. Ririn bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya, melirik kamar di sebelahnya. Kamar Yoochun gelap, tapi Ririn punya perasaan untuk membuka pintu kamar Yoochun.

Pintu kamarnya tidak dikunci. Ini aneh, Yoochun selalu mengunci pintu kamarnya jika dia mau tidur. Maka Ririn masuk dan menyalakan lampu kamar Yoochun. Ternyata kamar Yoochun kosong, kamarnya nampak rapi sekali, Yoochun pastilah belum pulang.

Tapi kemana Yoochun? Kenapa dia belum pulang? Ririn buru-buru kembali ke dalam kamarnya dan mengambil ponselnya yang diletakkan di bawah bantal, dan mencari nomor Yoochun lalu menghubunginya. Ponsel Yoochun tidak aktif, perasaan Ririn langsung kacau.

”Eomma… Appa…” Ririn buru-buru berlari menuju kamar kedua orangtuanya. Ririn mengetuk pintu kamar mereka. ”Eomma… Appa…” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Ririn memegang kenop pintu dan membukanya, lalu menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Ririn, kedua orangtuanya juga tidak ada di dalam kamar mereka. Tempat tidurnya rapi, belum ditiduri.

”Ige mwoya?” kata Ririn langsung berlari turun ke bawah. Pelayannya semua sudah tidur, Ririn jadi bingung. ”Otokhe? Apa yang harus aku lakukan?” Ririn akhirnya memeriksa gantungan kunci. Dua mobil tidak ada, Yoochun belum pulang, dan mobil satunya adalah mobil orangtuanya.

Mereka kemana? Ririn kembali ke kamarnya, dia sudah tidak bisa tidur lagi, dia punya perasaan orangtuanya sudah tau apa yang terjadi dengan Yoochun, dan tidak mau memberitahunya. Apa ini? Kenapa harus begini? Ririn menghela napas. Apa sebetulnya yang terjadi pada Yoochun?

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

Pada kenyataannya Sangmi dan Jungsoo sekarang sedang menemani putra mereka menjalani kemoterapi pertamanya. Yoochun terlihat sangat tenang menjalani kemoterapinya, pada kenyataannya Yoochun sebetulnya tidak ingin kedua orangtuanya cemas, dan akhirnya membocorkan keadaan yang sebenarnya kepada Ririn.

Sangmi hanya bisa melampiaskan tangisannya jika sudah berdua dengan suaminya saja, tidak di depan Ririn. Jungsoo sendiri berusaha tegar demi putra-putri dan istrinya, meski sebetulnya hatinya juga sedih.

”Pengobatan Yoochun-ssi seharusnya dilakukan di Seattle Hospital,” kata Dokter Spesialis kepada Jungsoo dan Sangmi di ruangannya. ”Kalau disini, peralatannya masih kurang… disana, Yoochun bisa langsung diisolasi, dan disembuhkan, sebelum benih kankernya menyebar…”

”Dia tidak mau, Dokter…” sahut Sangmi menahan tangis. ”Dia memikirkan adiknya…”

”Tolong dibujuk, Tuan, dan Nyonya… karena ini demi keselamatan anak kalian sendiri. Stadium bisa naik sewaktu-waktu…”

Sangmi dan Jungsoo menunduk.

Yoochun keluar dari ruangan kemoterapi dan melihat kedua orangtuanya sedang menungguinya, dilihatnya ibunya yang wajahnya sembab karena menangis. Hati Yoochun sedih sekali.

”Eomma…” Yoochun menghampirinya.

Sangmi menatap Yoochun dan memeluknya. Yoochun juga balas memeluk ibunya dengan sedih.

”Eomma jangan menangis, aku tidak apa-apa… aku pasti sembuh kok, Eomma… Eomma percaya kan?” padahal air mata juga sudah menggenang di pelupuk mata Yoochun.

”Micky… don’t leave us…

No, Mom… I’ll never leave you all…”

Promise me, Micky…

I promise, Mom… I’ll not going anywhere… please, Mommy don’t cry… be strong Mommy!”

Jungsoo menangis diam-diam. Dia membelai lembut kepala Yoochun, tapi begitu melepaskan tangannya justru dia melihat rambut yang rontok, hal itu semakin menyayat hati Jungsoo.

 

*Rumah Keluarga Lee*

Haejin duduk di balkon, bersila di atas sofa dan memandang ke bawah, sesekali mengecek jam tangannya. Lalu dia geleng-geleng sendiri. JeSoo itu yaaaaa… masih kecil aja kencan udah lama bener! Padahal Haejin iri tuh, dia kan juga kepengen kencan, apa daya adiknya yang lebih dulu dapat pasangan kencan.

Haejin geleng-geleng, kapan dia bisa punya pasangan kencan juga seperti si JeSoo? Padahal dia kan lebih tua dari JeSoo? Tiba-tiba pikirannya melayang pada Donghae yang bilang kalau dia cemburu.

”Itu sih namanya bukan pasangan kencan, kan?” tanya Haejin lebih pada dirinya sendiri. ”Hhh… bilang suka saja tidak…” Haejin meneruskan gumamannya sendiri. ”Aigooo! Kemana anak kecil itu?! Kenapa sampai sekarang belum pulang? Choi Minho membawa lari adikku!” *author sewot*

Tanpa disadari Haejin, Donghae sedang berdiri di belakangnya, mendekatkan kepalanya untuk menguping apa yang sedari tadi sedang di keluhkan oleh Haejin ini. Ternyata JeSoo dan Minho.

”Masih kecil sudah kencan! Aku saja belum kencan sampai sekarang!” lagi-lagi Haejin ngedumel.

Donghae tersenyum tipis. ”Ya udah ayo kencan.” Katanya tepat di telinga Haejin.

Haejin menjerit kencang, dan tersungkur ke depan saking kagetnya. Wajahnya yang mulus, telak menyentuh ubin. Dengan bunyi beledug yang menyakitkan, Donghae terpaku, dan buru-buru menghampirinya, kemudian membantu Haejin bangun.

”Aaaah…” Haejin mengusap jidatnya.

”Ah, mianhae… mianhae… aku tidak bermaksud mengagetkanmu…”

Haejin terus meringis, lalu melotot. ”Oppa tidak bermaksud! Tapi tetap saja dahiku mencium lantai, tau?!”

”Aigo, mianhae…” Donghae mengusap dahi Haejin.

”Lagian Oppa ngapain sih? Tiba-tiba muncul kayak hantu, nggak pake ngomong apa gitu, tiba-tiba muncul aja…”

Donghae terkekeh. ”Abis aku nyari kamu daritadi gak ada, taunya disini lagi ngedumel. Ngiri sama JeSoo karena nggak diajak kencan sama siapa-siapa… aigoooo!” Donghae mengelus kepala Haejin.

”Ne… aku belum pernah kencan seumur hidup…” kata Haejin jujur. ”Aaah, JeSoo beruntung sekali, kencan di usia SMA… bersama pria tampan dan ketua OSIS macam Minho.”

”Aku juga dulu ketua OSIS.” Pamer Donghae.

Haejin menoleh. ”Lalu?”

”Aish!” Donghae kesal sendiri.

”Lho, kenapa?” tanya Haejin polos.

”Jangan memuji pria lain!”

”Waeyo?” tanya Haejin heran. Lalu teringat ucapan Donghae tadi siang. ”Aaah, karena Oppa cemburu?”

Donghae mengangguk. ”Itu kau tau!”

”Ne, ne… ara!” Haejin tersenyum. ”Tapi, Oppa… kenapa Oppa cemburu?” tanya Haejin bingung.

Donghae menghela napas. ”Memang kau tidak tahu kenapa aku cemburu?”

Haejin menggeleng. ”Oppa kan cuma bilang kalau Oppa cemburu saja, tidak bilang hal lain.”

”Ya! Kau ini polos atau betulan bodoh sih?!” tanya Donghae emosi. ”Masa tidak tahu kenapa laki-laki bisa cemburu pada perempuan? Kan pasti ada sebabnya, Haejin-ah… aduuuuh!”

Haejin mengangguk. ”Tentu… karena pria itu suka pada wanita itu kan?” tanya Haejin.

”Ne!”

”Maksud Oppa, Oppa suka padaku?” Haejin menunjuk dirinya sendiri.

Donghae menghela napas dalam-dalam. Haejin itu tipe wanita yang tidak mau menyalahartikan perlakuan pria padanya, dia menganggap semua pria sama, jadi kalau kau mau mendekatinya, tunjukkan dengan benar! Ternyata itu maksud kata-kata Nara tempo hari tentang Haejin.

”Ne, johahae… saranghae…” ujar Donghae dengan wajah memerah.

Wajah Haejin memerah, dan mengalihkan pandangannya dari Donghae, sambil menggigit bibirnya. Dadanya berdegup kencang, Ya Tuhan, akhirnya untuk pertama kali dalam hidupnya, ada yang bilang suka dan cinta padanya! Tuhan terima kasiiiih, orang itu Donghae!

”Kenapa kau diam?” tanya Donghae canggung.

”Eh? Aku harus apa dong?”

”Jawab!”

”Jawab apa?” tanya Haejin malu.

”Kau suka dan cinta juga tidak padaku?!” tuntut Donghae.

Haejin menghela napas, dan menutup matanya, berpikir. ”Oppa…” katanya. ”Aku takut Oppa marah padaku! Aku tidak mau Oppa mendiamkanku… aku suka saat Oppa menolongku membebat lukaku… aku suka saat Oppa bilang Oppa suka padaku…” Haejin membuka matanya, Donghae sedang menatapnya. ”Oppa, apakah itu suka?”

Tapi Donghae sudah keburu mencium bibir Haejin. Haejin terkejut, tapi kemudian dengan senang hati dia memejamkan matanya.

 

*Rumah Changmin*

Changmin terus melamun semenjak pulang ke rumah. Dia memikirkan perasaannya yang campur aduk. Dari ketika Haejin menghempaskan tangannya, hingga ketika melihat Donghae mengutarakan perasaannya, kemudian di tempat jualan, Haejin tidak mau jauh dari Donghae. Haejin mengekori Donghae kemanapun Donghae pergi, bahkan terkadang Donghae menggandeng gadis itu.

Changmin menghela napas, dia harus segera mencari jawaban atas perasaannya! Besok, dia harus tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya.

Tok. Tok. Tok.

”Nugu?”

”Changmin Huijangnim… Ayah Anda ingin bertemu…”

Changmin langsung duduk, ada angin apa ayahnya datang kesini? Biasanya ayahnya tidak akan berani! Changmin berdiri dan segera keluar dari dalam kamarnya, melihat ayahnya sedang berdiri memunggunginya dan memandang pigura foto besar yang memajang foto dirinya, Changmin, dan istrinya yang sudah tiada.

”Appa mau apa kesini?!” tanya Changmin ketus.

Shindong berbalik. ”Changmin-ah?”

”Katakan apa mau Appa?! Appa mau terus mengganggu hidupku kah? Tidak bosan Appa mengganggu hidup orang lain?!”

”Dengarkan dulu Appamu ini bicara!” kata Shindong tegas.

Changmin diam. ”Appa mau bicara apa?”

”Bergabunglah dengan perusahaan Appa, kau tangani bisnis Appa, Appa harus menangani perusahaan Appa yang lain.”

Changmin mendengus. ”Appa tahu aku akan menolaknya, kan? Aku tidak berniat ikut dalam rencana busuk Appa!”

”Changmin-ah!”

”Aku tidak mau! Harus berapa kali aku bilang pada Appa bahwa aku tidak mau terlibat!” teriak Changmin.

Shindong menghela napas. ”Appa tetap menunggu…” Shindong berjalan keluar dari rumah tersebut. Sementara Changmin berusaha mengatur napasnya untuk menenangkan diri.

”Shin Changmin…” Shindong berbisik di dalam mobilnya. ”Kau sudah menjadi anak pembangkang… kau harus bisa ditaklukkan!” desis Shindong, lalu dia menghubungi sebuah nomor. ”Ya! Aku butuh bantuanmu…” ujarnya.

Bersambung

Berhubung kemaren nggak publish jadi gantinya publish pas sahur aja… hehehe… dan untungnya udah lebih dari sepuluh page… lanjutannya nggak janji nanti sore di publish, tapi akan aku update secepatnya. Hehehehehe… kritik, saran, pesan ditunggu!

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

YM : nisya_siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s