When Sunrise Meet Sunset (Episode 11)

*Basecamp Jualan*

Nara memikirkan kata-kata Jongwoon dan Haneul tadi. Setelah meminta Nara dan Donghae tinggal bersama mereka, yang mereka tolak dengan halus, Nara memikirkan perihal pembuktian sabotase kedua orangtuanya. Jika mereka bisa membuktikan kepada pengadilan bahwa memang ada sabotase dari Shin Corp dan Cho Corp terhadap K2 Enterpraise maka seluruh harta peninggalan kedua orangtua Nara dan Donghae akan kembali.

Harusnya Nara senang mengenai hal ini, tapi Nara malah murung. Apa yang terjadi pada Kyuhyun nantinya? Hubungan Nara dan Kyu sama sekali tidak berubah, mereka tetap teman dan sahabat seperti kemarin, tapi masing-masing dari mereka tahu, mereka memiliki titik rawan, dan jika titik rawan itu tersentuh, akan meledak.

Kyuhyun bahkan sudah meminta maaf kepada Nara, entah pada Donghae, pikir Nara. Tapi dari cara Donghae memperlakukan Kyuhyun, sepertinya Donghae juga tidak ada masalah dengan Kyuhyun, tapi keduanya memang tidak cukup dekat satu sama lain. Nara masih tidak mengerti langkah apa yang akan selanjutnya diambil oleh Jongwoon Ahjussi dan Haneul Ahjumma, Nara sendiri belum tau jalan mana yang harus diambil olehnya.

”Oke, jualannya seperti kemarin ya…” kata Sungmin memberi aba-aba.

JeSoo kembali memegang nampan berisi patbingsoo, Hyorin mengekorinya, lalu Minho menghampiri JeSoo dan mengambil nampannya. Dengan isyarat saja, Minho meminta Hyorin dan JeSoo berjalan terlebih dulu. JeSoo tersenyum senang, Hyorin geleng-geleng. Haejin mengangkat nampannya, dan bertanya pada kakaknya.

”Oppa, aku sama siapa?”

”Kau bersama… terserah, kau mau dengan Changmin atau Donghae?”

”Yah! Oppa ini bagaimana, kenapa malah aku yang milih?” tanya Haejin heran dan merapikan patbingsoonya.

”Ya udah sama aku aja…” dan Changmin mendahului Donghae.

Haejin cekikikan. ”Suara Changmin Oppa kan melengking, jadi kalau jualan bisa lebih laku, karena orang takut sama suaranya!”

”Heh! Ayo cepetan bola bekel!” perintah Changmin.

”Oke…” dan Haejin melangkah ringan melewati Donghae, dan mengikuti Changmin ke jalan raya.

Donghae menatap keduanya, lalu menghela napas.

”Hae, gwenchana? Sepertinya ada yang kau pikirkan…” tanya Sungmin ketika basecamp sudah tinggal dia, Donghae, dan Soeyoung.

Donghae duduk di bangku beton. ”Ani…”

”Wajahmu gusar setelah dipanggil keluar dari dalam ruangan Himahi tadi. Siapa yang memanggilmu kalau aku boleh tau?” tanya Sungmin sambil duduk di sebelah Donghae.

”Tuh, orangtuanya Kibum dan Soeyoung…”

Soeyoung melirik Donghae. ”Eomma dan Appa?”

”Ne… mengenai masalah sabotase perusahaan Ahjumma dan Ahjussiku…” sahut Donghae. ”Ternyata semua orang berpikiran sama, ada yang nggak beres masalah ini.” Katanya khawatir.

Soeyoung mengangguk-angguk.

”Aku hanya tidak berani membayangkan kalau ada yang berniat sejahat itu kepada Ahjumma dan Ahjussiku.”

”Keurae,” Sungmin mengangguk. ”Lalu apa rencanamu?”

Donghae mengembuskan napasnya berat. ”Eobseo… aku belum mengerti harus bagaimana. Aku mau masalah ini cepat selesai, tapi aku masih penasaran dengan motifnya… juga aku masih khawatir masalah biaya pendidikan aku dan Nara.”

”Donghae-ah…”

”Sunbae…” Soeyoung dan Sungmin kompak memotong perkataan Donghae.

Donghae mengangkat tangannya. ”Sungmin-ah, Soeyoung-ah… aku sangat berterima kasih kalian mau membantuku dan Nara. Tapi untuk masalah pendidikan, aku dan Nara akan berusaha sendiri.”

Sungmin menepuk bahu Donghae. ”Kau kan sedang menjual mobil, saranku begitu uangnya turun, depositokan uangnya.”

Donghae tersenyum. ”Gomawo, Sungmin-ah… aku pasti akan membalas kebaikanmu.”

”Sudah jangan dipikirkan, sekarang pikirkan bagaimana caranya menjual patbingsoo ini!”

 

*Badan Pemeriksa Keuangan Korea Selatan*

Jungsoo duduk sambil memeriksa beberapa catatan perusahaan negeri dan swasta yang hari ini sudah dibawa dari bagian Departemen Keuangan, ketika pintu kantornya diketuk, dan salah satu kolega kerjanya, Heechul, masuk kembali.

”Jungsoo… ini laporan yang kau tunggu-tunggu! Tadinya masuk ke bagian arsip, aku juga tidak tahu kenapa tidak langsung diserahkan kepadamu, tapi karena aku melihatnya langsung aku ACC saja…” Heechul duduk dan menyerahkan map kulit itu pada Jungsoo.

Jungsoo meraih mapnya, dan menyerahkan satu map. ”Ini, ada perusahaan ekspor-impor yang aliran dananya patut di waspadai, kau periksa juga.”

Heechul mengambil map yang disodorkan Jungsoo, dan membukanya. Sesaat keduanya sama-sama tenggelam dengan isi laporan di masing-masing map, kemudian Jungsoo menutup mapnya.

”Ini masalah K2 Enterpraise, Shin Corporation, dan Cho Corporation?”

Heechul mengangguk. ”Bagaimana? Menarik bukan, seperti dugaanmu Shin Corp dan Cho Corp bersatu, tapi kini mereka lebih mengedepankan K2 Enterpraise, yang namanya masih belum diganti sampai sekarang.”

”Kalau begitu memang aliran dana disini harus diperiksa lebih lanjut dong ya?” tanya Jungsoo.

”Jungsoo-ah, kusarankan kali ini BPK bertindak diam-diam. Aku sudah menyelidiki Shin Corp beberapa hari ini…” kata Heechul serius. ”Diketahui Shin Corp suka memakan banyak perusahaan-perusahaan kecil, yang sepak-terjangnya bisa menjadi saingan Shin Corp.”

Alis Jungsoo mengerut. ”Jinja?”

”Iya…” Heechul mengangguk. ”Tidak persis memakan, karena yang dilakukan Shin Corp adalah promosi besar-besaran dan mengambil semua pelanggan dari perusahaan yang jauh lebih kecil dari Shin Corp, tapi aku rasa dari situ juga sudah mulai tidak beres.”

Jungsoo mengangguk. ”Kalau begitu, kasus ini diutamakan… yang lain bisa kita selesaikan dengan cepat.”

”Oke, aku setuju padamu! Laporan kasus yang ini…” Heechul menunjuk map yang diberikan Jungsoo. ”Nanti sore akan kuberikan pada bagian atas, kau mulai kerjakanlah yang ini, nanti aku ikut membantu.”

Jungsoo mengangguk.

 

*K2 Enterpraise*

”Jadi, Yunho-ya, apa rencanamu selanjutnya?”

Yunho tersenyum di kursi direkturnya. ”Kan aku sudah pernah bilang pada Hyung, Kim Corporation sekarang.”

”Ah, milik Kim Jaejoong itu ya?”

Yunho mengangguk.

Shindong tersenyum. ”K2 Enterpraise dan Kim Corp sepertinya sudah sangat menarik hatimu, Yunho-ya…”

”Ah, sangat, Hyung…” senyum Yunho.

”Yah, selama aku bisa meraih keuntungan, aku tidak akan pernah mengeluh, Yunho-ya… dendam terbalas, kalau masalah Kim Corp, jika aku boleh tahu, kenapa kau mau menyerangnya?”

Yunho tersenyum simpul. ”Hanya dendam pribadi biasa, Hyung…”

”Yunho-ya, aku tahu kau orang yang akalnya hebat… apa kau tahu bagaimana cara membuat anakku itu menurut?!”

”Changmin?” tanya Yunho.

Shindong mengangguk. ”Aku suka cara kerjamu! Membunuh pelan-pelan, aku tipe yang menyukai hal seperti itu. Tapi sayangnya aku tidak menemukan cara ampuh untuk menaklukkan anakku sendiri, kecuali dengan cara keras.”

”Hyung, kau kira Kyu mudah?” Yunho tertawa. ”Kyu sepertinya menyukai anak dari Kheynie dan Youngwoon?”

”Omomo!”

Yunho mengangguk. ”Jika dia masih sebatas hanya suka, dan tidak melawan ayahnya aku akan diam saja, tapi jika Kyu bertindak lebih dari ini, kurasa menghabisi Kwan Nara jalan satu-satunya. Tapi kurasa, Kyu tidak mungkin melawan ayahnya yang sudah merawatnya…” Yunho tertawa.

”Andai… andai saja Changmin memiliki wanita spesial untuk kujadikan senjata seperti itu!”

”Percayalah Hyung, Changmin akan segera memiliki wanita spesial itu…” Yunho mengangguk.

 

*Rumah Sakit Internasional Seoul*

Yoonrae perlahan-lahan membuka matanya, pandangannya terasa berat dan kabur, tangannya juga berat, dan dia merasakan sesuatu mengganjal di hidungnya, begitu disadarinya itu selang oksigen, Yoonrae langsung berusaha bangun, tapi badannya lemas sekali. Akhirnya Yoonrae tetap berbaring, dan menoleh ke kanan dan kiri.

Ruangan rumah sakit ini putih bersih, dan tidak terlalu terang. Sinar matahari sudah menghilang, itu berarti sudah malam, Yoonrae mengingat pekerjaan sambilannya, dan dia mau menangis, dia harus mendapatkan uang? Kenapa malah sekarang dia terdampar dan tidak bisa menggerakan badannya seperti ini?

”Sudah sadar? Ya Tuhan, terima kasih… Yoonrae-ya, gwenchana?” tanya suara yang sudah sangat familiar. Yoonrae menoleh dan melihat Junsu, yang ternyata sedari tadi tidur menelungkup di sebelah tempat tidurnya.

Yoonrae hendak menjawab, tapi kesulitan.

”Sudah, tidak usah bicara kalau memang tidak bisa… kau mau minum?” Junsu bangkit dan mengambil gelas, lalu mengangsurkan sedotan ke mulut Yoonrae. Yoonrae meminumnya.

Setelah selesai membereskan masalah tenggorokan, Yoonrae berdeham, lalu mengeluarkan suara, yang sepertinya datang dari jauh. Yoonrae bahkan tidak mengenali suaranya sendiri.

”Kenapa aku disini?” bisik Yoonrae.

”Kau kelelahan…” sahut Junsu. ”Dokter sudah memeriksamu, tadi tekanan darahmu sempat turun jauh, begitu juga dengan denyut nadimu. Kau benar-benar sangat kelelahan…”

Yoonrae menelan ludah dengan susah payah. ”Lalu, kenapa Oppa ada disini?”

”Kenapa kau selalu bertanya tentang itu?”

”Molla…”

”Karena aku sayang padamu…”

Yoonrae menarik napas dalam-dalam. ”Tapi kenapa kau menyayangiku Oppa? Apa rasa sayang Oppa sama seperti rasa sayang Wookie kepadaku? Karena rasa sayangku pada Oppa berbeda dengan rasa sayangku pada Wookie.”

Junsu terhenyak, dia tahu pertanyaan ini mengarah kemana, Junsu menghela napasnya. Dia masih belum tahu harus bagaimana mengutarakan perasaannya kepada Yoonrae, dilihatnya Yoonrae masih menatap Junsu dengan pandangan yang penuh tanda tanya.

”Dan kau tahu itu salah kan, Oppa?” akhirnya Yoonrae memutuskan untuk bersuara. Junsu tercengang. ”Perasaan kita ini salah kan, Oppa?”

”Aniyo! Tidak salah, kenapa harus salah?!”

”Karena aku dan Oppa sekarang adalah kakak-adik.”

”Jangan ucapkan hal itu!” Junsu tidak mau mendengarnya.

”Tapi itu kenyataan,” sahut Yoonrae lirih. ”Jonghyun Oppa, dan Key mungkin tidak menerimaku, tapi mereka menerima kenyataan kalau mereka memiliki saudari tiri, meski tidak menerimaku.”

”Sekarang kau tahu kan alasannya kenapa aku tidak menerima Ahjumma?” tanya Junsu keras. ”Karena aku, karena aku cinta padamu.”

 

*Rumah Keluarga Park*

Sangmi menangis tertahan, disebelahnya Jungsoo memeluknya, dan berusaha menenangkannya. Yoochun menunduk di depan mereka, sebuah kertas terbuka lebar di atas meja, dengan amplop di sebelahnya.

”Micky, andwe! Andwe!”

”Yeobo…” Jungsoo terus memeluk Sangmi, dan berusaha menenangkannya. ”Sudah, masih ada kesempatan…”

Yoochun mengangguk. ”Aku masih bisa sembuh, Eomma… untung ketahuannya masih sedini mungkin.” Yoochun berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takut di depan kedua orangtuanya.

”Micky…” Sangmi masih menangis.

”Kalau begitu, kita kembali ke Seattle saja ya, Nak… biar kau mendapatkan pengobatan yang lebih serius mengenai penyakit ini. Kami tidak mau terjadi apa-apa padamu, Nak…” kata Jungsoo serius.

Yoochun menggeleng. ”Jangan, Appa… sudahlah, aku berobat jalan di Seoul saja. Mumpung baru stadium awal…”

”Micky…”

”Appa gwenchana, aku tidak mau membuat khawatir Alice…” jawab Yoochun lirih. ”Kami ini kembar, Eomma… Appa… dia pasti bisa merasakan kalau aku sakit, aku cuma tidak mau dia khawatir, dan akhirnya malah justru merasakan apa yang aku rasakan!”

Akhirnya kedua orangtua Yoochun setuju. Kanker darah itu tadinya sudah menghilang dari tubuh Yoochun ketika berusia lima tahun, tanpa perlu pencangkokan sumsum tulang belakang. Namun nampaknya, karena tanpa cangkok tersebut, penyakit itu masih bersarang dalam tubuh Yoochun, dan sekarang mulai bereaksi kembali.

Sementara itu, setelah selesai jualan, Ririn diantar pulang oleh Siwon. Ririn tiba-tiba murung di dalam mobil, Siwon memerhatikan perubahan ekspresi pada diri kekasihnya itu.

”Kamu kenapa?” tanya Siwon lembut.

”Molla…”

”Yoochun gwenchana?” tanya Siwon.

Ririn menghela napas. ”Kurasa memang terjadi sesuatu padanya, Siwon-ah… aku harus bagaimana? Kenapa dia tidak mau jujur padaku? Aku yakin dia sedang menyimpan sesuatu.”

Siwon menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Ririn, lalu mengelus kepala Ririn penuh sayang. ”Yoochun itu sayang sekali padamu, jadi berpikirlah positif, jika dia tidak ingin memberitahumu, dia pasti tidak ingin membuatmu khawatir.”

”Tapi itu justru membuatku khawatir…”

”Arasseo…” Siwon mengangguk. ”Beri saja dia waktu untuk menjelaskannya kepadamu.”

Ririn tersenyum, dia sungguh bersyukur memiliki kekasih yang sangat pengertian seperti Siwon. Siwon mengecup kening Ririn, Ririn melambai, dan keluar dari dalam mobil, lalu menunggu mobil Siwon menghilang, barulah dia masuk ke dalam rumah.

”Darimana lo?” tanya Yoochun di depan pintu sambil bertolak pinggang.

”Jualan!”

”Dianter sama Siwon lagi deh pasti?”

Emosi Ririn langsung naik ke ubun-ubun, dengan penuh perasaan dijitaknya kepala Yoochun. ”Yang tadi mau bolos siapa, Oncom?”

”Heuu pasti seneng deh sama Siwon berduaan terus hari ini! Gimana tuh kabarnya dia? Masih belom bisa ngalahin kegantengan gue kan?” dan tiba-tiba saja Yoochun mengambil sendok hiasan milik Sangmi, dan berkaca.

Ririn bener-bener mau muntah, sulit dipercaya sepanjang jalan tadi dia begitu mengkhawatirkan saudara kembarnya ini, tapi sekarang Yoochun malah bernarsis ria di hadapannya.

 

*Ditempat Jualan*

Hanya tinggal Sungmin, Kibum, Donghae, Changmin, Soeyoung, Nara, dan Haejin yang masih ada disitu. Bahkan JeSoo sudah pulang diantarkan oleh Minho. Sekarang mereka sedang membereskan sisa-sisa jualan mereka.

Donghae terus memerhatikan Haejin yang memasukkan kotak-kotak ke dalam bagasi mobil, tanpa dia sadari ada juga yang sedang memerhatikannya, yakni Changmin. Changmin cuma menyeringai melihat kelakuan Donghae. Kemudian ketika Haejin mengangkat kotak yang cukup besar, Donghae hendak maju mengambilnya, malah Changmin yang menyerobot.

”Gomawo, Oppa…” senyum Haejin mengembang.

Donghae memalingkan wajahnya dari situ, Nara melihatnya dan menghampirinya. ”Hae?”

”Wae?”

”Sudahlah, terima nasib aja deh, Hae…” kata Nara sambil nyengir. ”Haejin itu Bola Bekel, aku rasa dia nggak akan ngerti segala macam bentuk perhatian yang dikasih sama Changmin Sunbae dan kau padanya! Aku malah tidak yakin si Im Seulong itu pacarnya…”

”Lalu dia siapa?” tanya Donghae penasaran.

”Molla, kau tanyakanlah padanya…” Nara menepuk bahu Donghae. ”Haejin itu tipe yeoja yang menganggap semua orang itu temannya. Jadi kalau kau memang mau mendekatinya, ya tunjukkan kalau kau punya perasaan berbeda, bukan cuma teman, sahabat, apalagi hanya sebatas kakak. Kau lihat kan Changmin Sunbae sudah bisa membaca situasi? Kau tidak mau kalah kan?”

Donghae diam, lalu menghela napas. ”Molla…”

”Yee, ya sudah, kalau aku cuma sendiri membantumu sedangkan kau sendiri tidak mau berusaha. Kita tunggu saja Changmin Sunbae dan Haejin meresmikan hubungan mereka sebentar lagi!”

Donghae melirik Nara tajam.

”Nah, tidak mau kan? Kau ini bagaimana sih? Appa dan Eomma sudah berpesan padaku dan padamu, hanya itu wasiat mereka… jalankanlah…” sahut Nara lirih.

”Hanya merasa, sepertinya… aku dan Haejin itu… berbeda.”

”Apanya yang beda?”

”Nara-ya…” akhirnya Donghae tersenyum. ”Siapalah kita sekarang? Mereka memang sahabat kita… tapi apa artinya seorang pria yang menumpang dirumah wanita yang disukainya?”

Nara kali ini diam seribu bahasa.

”Hanya merasa…” Donghae meneruskan. ”Aku tidak pantas untuk berharap lebih pada wanita yang sudah menolongku disaat aku jatuh, itu yang membuatku tidak berani.”

”Kalau begitu kami pulang ya…” Kibum melambai, semua balas melambai kepadanya, Soeyeoung mengikutinya dan masuk ke dalam mobil putih milik Kibum, tak lama mobil itu berlalu.

Sungmin meregangkan ototnya. ”Ya syukurlah hari ini berjalan dengan mulus, badanku pegal-pegal semua. Hei! Changmin, Haejin! Tidak bisakah kalian berhenti pamer kemesraan?!”

”Siapa yang pamer sih?!” tanya Haejin naik pitam. ”Kalian semua ini suka sekali cepat mengambil keputusan!”

Tapi Changmin malah memeluk leher Haejin dan mengusapkan tangannya di kepala Haejin. Changmin melirik Donghae, dan tersenyum puas. Donghae berusaha menyembunyikan dadanya yang bergolak hebat. Kemudian Haejin malah memukul-mukul Changmin.

”Oppa! Lepaskan, aku tak bisa bernapas!”

”Ah mianhae…”

Haejin menangkap mata Donghae, dan menunduk, jadi tidak enak sendiri. Nara memerhatikan ekspresi Haejin, dan malah mau tertawa ngakak. Akhirnya Changmin mengendarai mobilnya sendiri pulang, sementara Sungmin, Donghae, Haejin, dan Nara juga pulang berempat.

Di dalam perjalanan pulang, Donghae diam saja, Haejin juga diam saja, dia memandang Donghae terus dari belakang. Cuma Nara yang berkaok-kaok bersama Sungmin.

Haejin malah sibuk dengan pikirannya sendiri, apa dia sudah berbuat salah pada Donghae? Karena sejak pagi, ketika mereka bertemu di depan gedung Himti, Donghae terkesan agak dingin padanya, dan bahkan selama jualan, Donghae sama sekali tidak menyapanya. Tapi begitu dipikir lebih lanjut, kenapa dia malah peduli pada perlakuan Donghae padanya. Haejin menunduk, dan menatap plester chibi Chansung 2PM-nya lagi.

Rupanya Nara memerhatikan Haejin yang terus menatap plester tersebut, begitu mereka sudah turun, dan Donghae serta Sungmin sudah mengangkut kotak-kotak ke dalam rumah, Nara menarik baju Haejin.

”Mau kemana kau! Sini dulu…”

”Apaaaa?” tanya Haejin heran.

”Mau sampai kapan kau pakai plester itu?!” tanya Nara galak sambil menunjuk plester yang melingkar di telunjuk Haejin.

Haejin mengangka jarinya. ”Kenapa emang?”

”Ya ampun, itu lukanya udah lama… mau sampe kapan kau pakai plester itu?” tanya Nara lebih tegas.

Haejin menatap plesternya. ”Kenapa sih banyak banget yang mau aku ngelepas plester ini?”

”Kasihan plesternya, kalo cuma dibuat nempel, tapi nggak dijaga… lama-lama warnanya pudar. Jadi kalau memang udah nggak luka, mendingan lepas aja plesternya…” lalu Nara meninggalkan Haejin.

Haejin menatap punggung Nara yang menjauh, ”Kenapa ya, kok kayaknya dia bukan ngomongin masalah plester? Haish… ah, telepon Seulong dulu ah… nanti dia ngomel lupa aku telepon!”

 

*Kamar JeSoo*

JeSoo berdiri di depan komputernya, dan membaca bait-bait kalimat yang ditulisnya. Setelah sudah merasa yakin, JeSoo menekan tombol di printer, dan kertas-kertas itu sudah mulai mencetak sendiri.

Ponselnya bergetar, berputar-putar di atas meja belajarnya. Tanpa melihat siapa peneleponnya, JeSoo langsung mengangkatnya.

”Yeoboseyo…”

”JeSoo-ssi…”

”Ah, Minho-ssi, waeyo?”

”Aku hanya mau mengingatkan soal proposal untuk festival kebudayaan, apakah sudah siap?”

”Baru saja selesai kuprint…”

Minho menghela napas. ”Kamsahamnida, JeSoo-ssi…”

”Ah, ye… itu kan memang tugasku…” jawab JeSoo agak canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Minho diam, JeSoo juga diam. Lama sekali keduanya tidak bersuara, dan JeSoo malah berpikir apakah ini niat Minho untuk menghabiskan bonus pulsanya, tapi JeSoo tidak berani berbicara.

”JeSoo-ssi?”

”Ah, ye… Minho-ssi…”

”Boleh aku memanggilmu JeSoo-ya?”

JeSoo terperangah, lalu sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, dia menepuk-nepuk pipinya.

”JeSoo-ssi? Aniya, aku tidak memaksa kalau kau memang tidak mau…”

”Aniya aniya aniya!” potong JeSoo. ”Gwenchana, Minho-ssi, kau boleh memanggilku JeSoo-ya…” JeSoo langsung girang membayangkan adegan di salah satu drama favoritnya, Cinderella Sister.

”JeSoo…ya?”

”Ah, ye… Minho-ssi…” wajah JeSoo merah merona.

”Minho-ssi? Aku sudah memanggilmu JeSoo-ya… kuharap kau bisa memanggilku Minho…”

”Minho-ya?”

”Gomawo…” suara Minho mengisyaratkan bahwa dia sedang tersenyum sekarang. ”JeSoo-ya? Bagaimana kalau… kalau…”

”Kalau?”

”Nanti dulu! Aku belum selesai…”

JeSoo mengangguk-angguk.

”Kalau besok, setelah selesai jualan… kita nonton?”

JeSoo melongo. Minho, Choi Minho barusan mengajaknya kencan?

Bersambung

Mohon maaf kepada readers yang sudah mendemo saya untuk mengungkap jati diri Im Seulong. Wakakaka, jujur, saya masih menikmati untuk menyembunyikan identitas pria bernama Im Seulong tersebut. Wakakaka… Yang jelas, Im Seulong itu orang yang berarti untuk Haejin, bahkan boleh dikatakan lebih berarti dari Donghae. *smirk*

Episode 12 kayaknya gak bisa publish besok, soalnya lagi-lagi aku harus ke kampus. Hehehehe, walaupun masih libur… gomawo ya semuanya, *bow, deep hug* saranghae…

2 thoughts on “When Sunrise Meet Sunset (Episode 11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s