When Sunrise Meet Sunset (Episode 10)

*SMA Neul Paran*

JeSoo turun dari mobil sedan hitam milik Minho, Minho juga ikut turun. Kalau kalian pernah nonton film Twilight, ketika akhirnya Bella dan Edward berangkat ke sekolah bareng, dan semua mata tertuju pada mereka. Persis banget kayak JeSoo-Minho sekarang ini.

JeSoo sampai harus menunduk, agar wajah tomat segarnya tidak terlihat oleh orang-orang. Dia melirik Minho yang berjalan di sebelahnya, cuek aja, aura dinginnya masih berasa, dan malah membuat JeSoo semakin tidak nyaman, JeSoo menghela napas bolak-balik, berusaha tidak memikirkan kasak-kusuk yang terdengar dari kanan-kirinya. Ada yang menatap takjub, ada yang menatap iri, ada yang marah malah.

Tapi, Minho. Ya ampun, entah itu orang terbuat dari apa, dingin banget. Dia berjalan di sebelah JeSoo. Diam saja, dingin, tidak memedulikan sekitarnya. JeSoo jadi kesal sendiri, manusia es ini bener-bener nggak sadar kalau makhluk di sebelahnya sedang gugup setengah mati.

”Minho-ssi…” panggil JeSoo takut-takut. ”Aku ke kelas duluan ya?”

Minho malah menarik tangannya, dan walhasil mereka bergandengan tangan sampai di depan kelas JeSoo. Wajah JeSoo sudah merah padam, karena Minho ini betul-betul tidak ketebak maunya apa. Sesampainya di depan kelas, Minho tersenyum manis, dan langsung pergi.

JeSoo bersandar di dinding. ”Begini deh terus setiap hari, aku bisa mati!”

”Ya! Kau ini kenapa?”

JeSoo membuka matanya, ternyata Key, teman sekelasnya, yang sedang menatapnya sambil nyureng.

”Key-ssi!”

”Aku bertanya kau ini sedang apa, menggeleser di dinding?” tanya Key keheranan.

”Ah, tidak apa-apa…” JeSoo langsung memperbaiki atittude-nya.

Key geleng-geleng, lalu langsung berlalu dari situ. Key pergi, muncul Hyorin. ”JeSoo-ya?”

”Hyorin-ah?” JeSoo langsung memeluk Hyorin. ”Aduuuuh, aku bisa mati kalau begini terus.”

Hyorin malah melirik Key. ”JeSoo-ya, kau baru saja bicara dengan Kim Kibum alias Key itu ya?”

JeSoo mengangguk. ”Tapi yang mau aku bicarakan bukan dia, Hyorin-ah… Minho, dia…”

”JeSoo-ya… dia kan suka padamu.”

”Eh, nugu?”

”Key!”

”Omona! Kenapa pagi-pagi bicaramu sudah seperti itu? Nggak boleh menggosip, ini bulan puasa.”

Hyorin menggeleng. ”Aniyo, aku tidak menggosip! Sebetulnya memang kau inilah yang otaknya perlu ditaruh di tengah. Key, Minho… mereka kan suka padamu…”

”Minho…” JeSoo langsung bengong.

”Ah, udah mabok Minho nih anak.”

 

*Rumah Keluarga Park*

”Hati-hati ya, Yeobo…” Sangmi mengantarkan Jungsoo masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mobil Jungsoo pergi, Sangmi masuk ke dalam rumah lagi, dan melihat Ririn menguap sambil turun dari atas.

”Micky mana, Alice?” tanya Sangmi.

Ririn duduk di tangga sambil pake sepatu. ”Emang belum turun dia? Tumben…”

”Yah, mana Eomma tau…”

Setelah selesai pakai sepatu, Riirn langsung naik ke atas lagi, melihat kamar saudara kembarnya masih tertutup rapat. Ririn mengetuknya. ”Yoochun-ah! Ayo berangkat… kita kuliah jam lapan lho…”

Yoochun masih belum menjawab.

Ririn mengetuk pintunya lagi. ”Park Yoochun! Ayo berangkaaaaaaaat, jangan bilang kau belum mandi?!”

Yoochun masih tidak menjawab.

Micky!” pekik Ririn.

”Kau berangkatlah duluan, minta jemput Siwon kek!” sahut Yoochun dari dalam kamar.

Ririn terperangah. Tidak biasanya Yoochun mengizinkannya berduaan dengan Siwon, ada apa ini? ”Ya! Kau tidak salah makan kan waktu sahur tadi?”

”Kau mau berduaan dengan Siwon sekarang, atau nanti tidak akan pernah kuizinkan sama sekali?”

”Ya, kau ini kenapa?”

”Aku mau bolos hari ini, sudah sana minta jemput Siwon!”

Ririn mendelik pada pintu, kemudian langsung mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Siwon. Tak lama kemudian Siwon datang, dan Ririn langsung berangkat bersamanya. Yoochun sementara itu sedang menahan darah yang terus mengocor dari hidungnya, dan membersihkannya di kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya.

”Ya Tuhan… apa yang harus kulakukan? Darahnya tidak mau berhenti…” Yoochun terus membersihkan darah dari hidungnya.

Sementara di mobil Siwon, wajah Ririn murung, entah kenapa suasana hatinya sama sekali tidak baik. Berulang kali dia tanpa sadar menggosokkan tangannya ke hidungnya, seolah-olah dia pilek.

”Kau kenapa?” tanya Siwon khawatir. ”Pilek?”

Ririn menggeleng, dan menoleh pada Siwon. ”Apakah ada yang aneh dengan hidungku? Rasanya ada air yang terus merembes…”

”Nggak ada, kok…” sahut Siwon. ”Kau pilek?”

”Ani…”

Siwon membelokkan mobilnya ke dalam pelataran kampus. Dan memarkirkan mobilnya. ”Tapi tumben ya, Yoochun tidak marah dan malah menyuruhku menjemputmu.”

”Iya… dia bilang dia mau bolos.”

Siwon keluar dari dalam mobil, begitu juga dengan Ririn keduanya kemudian bergandengan tangan menuju lift kampus.

 

*Rumah Keluarga Kim*

”Kulihat tadi yang berangkat ke sekolah, hanya Jonghyun, Key, dan Wookie…” kata Jaejoong pada Miyoung. ”Mana Yoonrae?”

Miyoung yang dari tadi sibuk merapikan rumah buru-buru mengecek kamar Yoonrae, dan ternyata Yoonrae masih tidur. Miyoung menghampirinya. ”Yoonrae-ya… kenapa masih…” kata-katanya terhenti begitu dia menyenggol tubuh Yoonrae. ”Ya Tuhan! Yoonrae-ya, badanmu panas sekali!” Miyoung panik.

Jaejoong masuk ke kamar Yoonrae juga. ”Ada apa?”

”Badan Yoonrae panas…”

Jaejoong masuk dan meraba kening Yoonrae, ”Ya Tuhan, badannya panas sekali… Yoonrae, Yoonrae… Nak, kau bisa dengar aku?”

Tapi Yoonrae cuma meracau tidak jelas.

”Dia harus dibawa kerumah sakit, tapi aku rapat penting. Junsu!” Jaejoong langsung berteriak keluar.

Junsu muncul, sudah siap mau kuliah, kemudian begitu melihat Jaejoong dan Miyoung panik, dia langsung berlari mendekati ranjang. ”Yoonrae kenapa, Ahjumma?” tanyanya.

”Molla… badannya panas tinggi…”

”Junsu… tolong antarkan Yoonrae ke rumah sakit…” kata Jaejoong. ”Hari ini Appa ada rapat penting…”

Tanpa pikir panjang, Junsu langsung membopong Yoonrae keluar dari dalam kamar dan membawanya ke dalam mobilnya. Miyoung ikut di kursi belakang, menjadi bantal Yoonrae. Junsu menjalankan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit, dan sesampainya disana, dia langsung menggendong Yoonrae di bahunya.

Yoonrae langsung mendapatkan perawatan, sambil menunggu hasil lab-nya keluar, Junsu mengambilkan minuman untuk Miyoung, dan duduk di depan ruang pemeriksaan.

”Terima kasih, Junsu…”

Junsu mengangguk.

”Bukan hanya terima kasih untuk minuman ini…” ujar Miyoung lagi. ”Tapi juga karena kau bersedia mengantarkan Yoonrae ke rumah sakit.” Suara Miyoung bergetar menahan tangis.

Junsu menoleh pada Miyoung. ”Ini kulakukan karena Yoonrae, bukan karena Ahjumma.”

”Apalagi karena Yoonrae, aku benar-benar berterima kasih. Aku tidak masalah kalian tidak menerimaku, tapi jangan salahkan Yoonrae.”

Dokter keluar, dan mengajak Miyoung dan Junsu ke dalam ruangannya untuk membaca hasil laboratorium.

”Yoonrae menderita kelainan fungsi ginjal… juga sekarang terjangkit tifus… anak ini benar-benar kelelahan…” kata Dokter.

Miyoung dan Junsu kaget.

”Untuk sementara Yoonrae perlu perawatan intensif, dan pemeriksaan lebih lanjut mengenai ginjalnya. Jika ginjalnya sudah benar-benar tidak dapat tertolong, Yoonrae perlu donor ginjal… atau hidupnya tidak akan bisa diselamatkan.”

Miyoung menangis sekarang, dan Junsu susah payah untuk menahan tangisnya, setelah mereka melihat keadaan Yoonrae yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan selang oksigen dan infus, Junsu menarik Miyoung keluar dari kamar Yoonrae.

”Ahjumma, sebetulnya apa yang Yoonrae lakukan setiap malam?!” tanyanya gusar.

Miyoung menatap Junsu takut.

”Yoonrae begini karena dia selalu pulang larut, dan keesokan paginya dia langsung sekolah! Beritahu aku apa yang Yoonrae lakukan?!” sentak Junsu.

Miyoung menyahut sedih. ”Yoonrae tidak mau dibiayai oleh ayahmu, Junsu-ya… maka Yoonrae selalu bekerja sebagai pelayan restoran setelah pulang sekolah. Dia berusaha membiayai dirinya sendiri…” isak Miyoung.

”Jangan izinkan dia bekerja lagi!” Junsu menghela napas. ”Ahjumma jaga Yoonrae, aku mau kuliah!” padahal Junsu langsung membawa mobilnya menuju sekolah Yoonrae.

Setelah dia memarkir mobilnya, Junsu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Jonghyun dan Key. Tak lama kemudian Jonghyun dan Key sudah menghampirinya.

”Ada apa, Hyung?” tanya Key.

Begitu Jonghyun dan Key sudah tepat berada di depan Junsu, Junsu berbalik melihat keadaan dan langsung melayangkan bogemnya kepada Jonghyun dan Key, hingga keduanya terkapar.

”Hyung!” teriak Key.

”Sakit? Sekarang jujur padaku, apa yang sudah kalian katakan kepada Yoonrae?! Sampai dia bela-belain kerja sambilan untuk membiayai hidupnya sendiri?!” tanya Junsu penuh amarah.

”Kenapa Hyung jadi membela anak itu sih?!” teriak Jonghyun.

Junsu menggampar Jonghyun. ”Dia kerja sambilan, karena tidak mau Appa membiayai hidupnya! Kalian pikir kalian berdua siapa? Kalian juga hidup dibiayai Appa, jadi jangan sok ya! Sekali lagi kulihat kalian bertindak sinis pada Yoonrae dan ibunya, aku sendiri yang akan memasukkan kalian ke rumah sakit seperti Yoonrae sekarang ini!”

Junsu langsung masuk ke dalam mobilnya, dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Jonghyun dan Key cuma bisa terperangah sambil memegang bibir dan pipi mereka yang biru sehabis ditonjok oleh Junsu. Kenapa Junsu bisa segitunya pada Yoonrae? Itu yang ada dipikiran Jonghyun dan Key.

Junsu kembali ke rumah sakit, ketika berjalan melewati laboratorium, Junsu melihat sosok yang amat dikenalinya, Yoochun sedang memasukkan sebuah amplop ke dalam tasnya.

”Itu, Yoochun, kan?” tanya Junsu memicingkan matanya, baru saja dia mau menghampiri Yoochun, tapi dokter-dokter berlarian menuju kamar rawat Yoonrae. Junsu buru-buru mengikuti dokter-dokter itu.

Ternyata tekanan darah Yoonrae turun terus, dan denyut nadinya lemah sekali. Miyoung menangis, sementara Junsu ketakutan dan berdoa. ”Kim Yoonrae, takkan pernah kumaafkan kau jika kau benar-benar pergi…” Junsu berbisik, dan mengatupkan tangannya.

Yoonrae berhasil di selamatkan, namun ginjal Yoonrae merupakan perhatian utama para dokter sekarang.

 

*Universitas Neul Paran*

”Yoochun sama Junsu nggak masuk?” tanya Nara sambil memandang berkeliling, kelas masih kurang tiga orang. Junsu, Yoochun, dan Haejin. Seperti biasa, kalau Haejin sih jaminan akan datang tapi belakangan.

”Yoochun sih bilangnya mau bolos tadi…” kata Ririn heran. ”Tapi dia janjian ya sama Junsu?”

”Lah nggak tau, kan yang kembarannya Yoochun kau…” kata Nara pada Ririn.

Kyu hari ini duduk di sebelah Nara lagi, tapi dia bertanya. ”Haejin mana? Haejin juga belum dateng kok.”

”Aish! Anak itu… hari ini dia harus kita buat mengaku siapa si Im Seulong itu! Gerah aku rasanya…” kata Nara berapi-api.

”Iya, aku juga penasaran…” kata Ririn langsung melupakan Junsu.

”Memang Im Seulong itu siapanya Haejin sih?” tanya Kyu heran pada Nara dan Ririn yang berapi-api.

”Itu dia, nggak ada yang tau, Kyu…” sahut Jinki sambil tersenyum.

Ririn menoleh pada Kyu dan mulai menjelaskan. ”Jadi gini, Kyu… waktu itu aku lihat twitternya Haejin, mention-nya Haejin… dia lagi mention-mentionan sama si Im Seulong itu. Nah, si Im Seulong itu nulis kangen-kangen gitu ke Haejin.”

”Ah, jinja?!” pekik Nara.

Soeyoung menyikut Nara. ”Yah, sejak kapan kau peduli pada Im Seulong… biasanya kau lebih peduli pada game-mu itu.”

”Mulai sekarang urusan Im Seulong adalah urusanku juga.” Kata Nara yang tidak mau diketahui tujuannya.

Sementara di sekretariat Himti, Haejin keluar dari ruangan sekretariat sambil melambai pada seorang pria yang berada di dalam ruangan, lalu Haejin mengerling arlojinya.

”Aduuuh, terlambat lagi…” Haejin setengah berlari keluar dari pelataran halaman kantor Himti, ketika seseorang memanggilnya.

”Haejin-ah?”

Haejin menoleh, dan ternyata yang memanggilnya adalah Donghae dengan membawa tumpukan kertas di pelukannya. Haejin tersneyum, ”Hai, Sunbae…”

”Bukannya udah masuk?”

”Ahahahaha…” Haejin nyengir gaje, dan garuk-garuk kepala. ”Biasa…”

Donghae melirik gedung di belakang Haejin, lalu mengangguk. ”Ah… Himti, Im Seulong!” katanya.

Haejin nyengir. ”Sunbae mau kemana?”

”Ke sekre…” sahut Donghae agak dingin.

Haejin mengangguk, ”Kayaknya Sunbae kerepotan, deh… mau aku bantuin gak bawa kertasnya?”

”Kamu kan udah telat…”

”Telat sekarang sama nanti apa bedanya? Sama-sama telat!”

Donghae menatap Haejin aneh, kemudian dengan wajah sok nggak niat, dia memberikan sebagian kertas kepada Haejin. Kemudian keduanya jalan bersama menuju kantor sekre Himahi.

”Emang ini kertas apa sih, Sunbae?” tanya Haejin.

”Untuk acara bakti sosial…” jawab Donghae agak dingin.

Haejin yang menyadari perubahan suara Donghae, jadi agak-agak enggan untuk bertanya lagi, begitu keduanya sampai di sekre Himahi, Changmin ada disana, dan langsung menghampiri Haejin, membawakan kertasnya.

”Nih anak, udah telat masih aja kesini! Udah sana masuk kelas!” kata Changmin sambil melotot.

Haejin terkikik.

”Dari Himti lagi ya? Ckckckck, Im Seulong itu yang mana sih, Haejin-ah?” tanya Changmin penasaran.

”Mau tau aja, Sunbae…”

”Udah, katanya dia udah telat, kenapa masih kau tahan dengan pertanyaan konyolmu itu sih?!” tanya Donghae kesal.

Baik Changmin dan Haejin menoleh pada Donghae, yang raut wajahnya terlihat gusar. Donghae balik badan dan langsung masuk ke dalam ruang Sekre Himahi, Changmin terdiam.

”Donghae Sunbae kayak orang mau ’dapet’ deh…” Haejin geleng-geleng. ”Changmin Sunbae, aku ke kelas ya?”

Changmin mengelus kepala Haejin. ”Panggil aku Oppa!”

”Eh?!”

”Sudah turuti saja, atau aku ke Himti sekarang dan mencari yang namanya Im Seulong!”

”Mwo?!”

”Turuti saja!”

Haejin manggut-manggut bingung. ”Iya aja deh…” lalu Haejin berlalu dari situ sambil mikir. ”Donghae Sunbae dan Changmin Sunbae salah makan apa tadi malem pas sahur?”

Sorenya setelah semua anak menyelesaikan kuliah pada hari Selasa, mereka kembali berkumpul di sekre Himahi untuk membuat patbingsoo. Ririn dan Siwon kali ini hanya membuat patbingsoo berduaan, karena Yoochun dan Junsu tidak ada. Soeyoung bersama Jinki dan Kibum.

Sungmin berdua dengan Donghae, begitu juga dengan Haejin yang berduaan dengan Changmin. Changmin melirik Donghae, yang sesekali mencuri pandang dari Haejin yang sedang menyerut es, dan menambahkan sirup. Changmin menyeringai, lalu berkata pada Haejin.

”Haejin-ah… itu luka nggak sembuh-sembuh kayaknya…”

Haejin balas menatap Changmin. ”Luka yang mana?”

”Itu yang dijari…”

Haejin mengangkat jarinya, dan melihat plester Chansung 2PM yang melingkar di jarinya, ingat Donghae, ingat Donghae yang menangis, dan ingat mereka berpelukan hangat. >//////< wajah Haejin memerah.

”Emang kenapa, Oppa?”

Kali ini semua menoleh begitu mendengar Haejin memanggil Changmin dengan sebutan Oppa.

”Oppa?!” ulang Sungmin penasaran.

”Ya! Kau ini!” Nara menimpuk Haejin dengan plastik pembungkus gelas. ”Im Seulong itu siapa? Dan sekarang Changmin Sunbae?!”

Semua langsung bersiul-siul nyaring.

”Ya! Shin Changmin!” Sungmin menoyor kepala Changmin. ”Kenapa adikku memanggilmu Oppa?”

”Nara mah, gak level ih dilempar pake plastik beginian!” protes Haejin.

Ririn geleng-geleng. ”Haejin sableng! Eh, sekarang jelaskan pada kami, siapa itu Im Seulong?”

”Iya hari ini kami harus tau siapa Im Seulong itu!” Nara mengacung-acungkan piso kecil.

”Nara-ya… itu pisau…” Kyu menurunkan tangan Nara.

”Ah, mianhae…” Nara meletakkan kembali pisaunya.

Haejin memandang berkeliling, semua mata tertuju padanya. Termasuk geng anak SMA, yang ikut menatapnya penuh perhatian. Haejin menelan ludahnya dipandang begitu.

Pintu Sekre terbuka, dan seorang satpam kampus melongok. ”Permisi, yang bernama Lee Donghae dan Kwan Nara ada disini?”

”Ah, ye…” sahut Donghae.

”Ada yang mencari kalian.”

Donghae dan Nara keluar dari dalam ruangan, ternyata yang datang adalah Jongwoon dan Haneul, keduanya langsung memeluk Donghae dan Nara. Haneul bahkan menangis.

”Maafkan kami, kami tidak tahu kalian ada dimana…” katanya.

Nara tersenyum, dan ikut terharu. ”Gwenchana, Ahjumma… kami tidak apa-apa kok. Sekarang kami tinggal di…”

”Iya kami tahu,” jawab Jongwoon. ”Kalian berdua tinggal di rumah keluarga Lee Hyukjae kan?”

”Ahjussi tau darimana?” tanya Donghae.

”Ada yang ingin kami sampaikan, soal perusahaan K2 Enterpraise.” Kata Jongwoon.

Donghae dan Nara saling pandang.

”Kami sudah berkenalan dengan Hyukjae Sajangnim, dari Lee Counsultant Office, ada kemungkinan kedua orang tua kalian disabotase. Untuk itu, kita bisa memperjuangkan K2 Enterpraise lagi.”

Bersambung

Mian readers telat publish FF… aku lagi sakit sekarang, anemiaku kumat karena aku gak pernah tidur malem. Trus karena begadang, jadinya kena flu tulang deh… nanti kalo udah sehatan bakalan nulis lagi ya😀

Kalo part ini agak kurang memuaskan maaf ya semuanya… ini khusus part couple-couple, biar gak terlalu tegang. hehehe, makasih semuanya yang udah baca dan komen. Doain saya cepet sembuh yaaaa…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s