When Sunrise Meet Sunset (Episode 1)

Keluarga Kwan

”Nara-ya! Nara-ya! Ireona, palli!”

Nara masih grasak-grusuk di bawah selimutnya, dan tidak mengindahkan Donghae yang mengguncang-guncang tubuhnya. ”Nara-ya! Ireona, palli! Palli!” Nara masih belum mau bangun juga.

”Kwan Nara‼!” teriak Donghae.

Nara langsung bangun dengan kaget, dengan gerakan seperti mau kabur, atau mau mencari perlindungan. Kemudian ditatapnya Donghae. ”Ya! Apa sih yang kau lakukan?! Teriak-teriak! Kau itu laki-laki apa perempuan, sih?” gerutu gadis manis berambut pendek itu.

”Apa hubungannya dengan gender?! Kau tau, Ahjumma sudah kalang kabut membangunkanmu sahur! Tidur seperti orang mati!”

”Ah, jinja???” Nara melirik jam dinding. ”Mwo?! Jam empat! Aigooo, imsak jam berapa?!” tanya Nara panik.

”Setengah lima! Kau kan kalau sahur lama! Makanya buruan!” Donghae kemudian mendorong Nara keluar dari kamarnya. Nara turun ke bawah dengan malas, melihat Eomma dan Appanya yang sudah selesai sahur.

”Nara, Nara…” Youngwoon geleng-geleng. ”Kamu itu sudah besar, Nak… masa bangun sahur masih susah sih?”

”Main game dia sampe malem…” Kheynie langsung menyiapkan makanan di hadapan Nara. ”Inget-inget puasa lah, Nak…”

”Ne, Eomma…” Nara nyengir dan langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya tersebut. Setelah selesai sahur, Nara langsung bermain PSP sambil menunggu datangnya shalat Subuh, mereka sekeluarga kemudian shalat berjamaah bersama, lalu Nara kembali tidur.

Sekitar pukul delapan, Nara kembali bangun, dan langsung berangkat ke kampus bersama Donghae. Donghae adalah saudara angkatnya, dulu kedua orang tua Nara sulit sekali memiliki anak, mereka berdua kemudian memutuskan untuk mengangkat Lee Donghae, anak dari kerabat jauh Youngwoon dan Kheynie yang sangat miskin. Begitu Donghae berusia sekitar satu tahun, ternyata Kheynie kemudian mengandung, dan sembilan bulan kemudian Nara lahir. Meski begitu, Youngwoon dan Kheynie tetap sayang pada Donghae, begitu juga Nara, Nara menganggap Donghae adalah kakak yang dikirimkan Tuhan kepadanya.

Keluarga Kwan Youngwoon dan Lee Kheynie merupakan keluarga kaya yang amat sangat berkecukupan. Youngwoon memiliki perusahaan bor, yang cukup terkenal di Asia. Rencananya bulan-bulan ini perusahaan tersebut akan dikembangkan ke sektor Eropa.

 

*           *           *

Kampus, 11.00 AM KST

Ririn turun dari motor sport milik saudara kembarnya, Yoochun. Begitu dia turun, Yoochun langsung berkata. ”Nggak ada acara ke atas sendirian! Entar lo tiba-tiba naik ke atasnya sama Siwon, lagi!”

”Yah! Aku bukan anak kecil!”

”Bagiku kau iya! Kau lebih muda setengah jam daripada aku, jadi diam disitu! Jangan coba-coba naik ke atas tanpa aku!”

”Park Yoochun!” teriak Ririn sebal, tapi tidak digubris oleh Yoochun yang mengendarai motornya ke parkiran. Ririn menghentakkan kakinya. ”Aduh, sabar-sabar punya kembaran kayak dia…”

”Idih! Puasa-puasa marah-marah, entar batal, lho!”

”Choi Siwon!” pekik Ririn panik, dan langsung menarik tangan Siwon ke balik pohon besar di dekat situ.

Siwon tersenyum. ”Hai…”

”Kau ini! Aku baru turun dari boncengan Yoochun, kau sudah datang saja! Kau mau dia mendampratmu lagi?!” desis Ririn.

Siwon cuma tersenyum. ”Aniyo… Yoochun akan cukup lama di belakang. Bogoshipo…”

”Ara…” Ririn mengangguk. Lalu menepuk jidatnya gusar. ”Aku mau poppo! Tapi sekarang kan sedang puasa…”

”Ya udah, tahan ya, Jagiya…” Siwon mengelus kepala Ririn. ”Kalau begitu, aku naik ke atas duluan ya. Saranghae…” Siwon kemudian pergi meninggalkan Ririn dibalik pohon.

Ya, beginilah susahnya pacaran backstreet. Sudah satu kampus, satu jurusan, satu kelas pula! Siwon harus berjalan duluan, Ririn iri sekali pada pasangan yang bisa bergandengan tangan.

”Ya‼! What are you doing there?!” teriak Yoochun di telinga Ririn.

Ririn melonjak. ”Ya‼! Bisa tidak toak masjidmu itu kau buang dulu!” balas Ririn tak kalah kencang.

”Lo ngapain sih di balik pohon begitu?!” tuntut Yoochun.

”Panas, Oppa! Panaaaaaaas… ninggalin orang di tengah jalan, nggak boleh naik duluan!”

”Ya udah ayo buruan naik!” Yoochun seenaknya maju duluan, Ririn dengan sebal mengikutinya.

Yoochun berjalan dengan penuh gaya, sementara Ririn berjalan sejauh mungkin dari Yoochun. Seisi kampus juga kenal siapa Yoochun, playboy cap botol! Tapi, orangnya lucu, baik, dan tampan luar biasa! Mengidap sister complex, yang justru membuat semua orang semakin tergila-gila kepada dirinya.

 

*Flashback*

”CHOI SIWON! CHOI SIWON! CHOI SIWON!”

”PARK YOOCHUN! PARK YOOCHUN! PARK YOOCHUN!”

Dua nama yang membuat geger kampus pada sore hari ini. Dua primadona kampus, Park Yoochun dan Choi Siwon sedang bertanding basket, one on one di lapangan basket kampus, karena seorang gadis yang bernama Park Ririn.

”Yoochun! Ya‼! Micky! What are you doing there?! Stop, and just deal for it!” teriak gadis bernama Ririn di pinggir lapangan. Yoochun tidak perduli dia terus mendribel bola basket, dengan mata tak pernah lepas dari Siwon, begitu juga Siwon yang berada di depannya.

”MICKY‼!” teriak Ririn.

”SHUT UP!” teriak Yoochun.

”Ya! Kau tidak boleh membentak wanita!” tegur Siwon.

”Apa pedulimu?! Kau suka kan padanya?” Yoochun mengedikkan kepalanya kepada Ririn. ”Kalau kau memang suka padanya, lawan aku dulu! Baru kau boleh jadi pacarnya!”

”Kenapa kau begitu peduli padanya?! Kalau kau memang suka kepadanya… marilah kita bersaing secara fair!” balas Siwon.

Mendengar hal itu penonton yang sejak tadi bersorak-sorak riuh, sekarang ber ”Wuuuuuuu… so sweeeeeeeeeet…

”Hah?! Secara fair? Kalau secara fair, kau tidak akan pernah menang! Dia milikku!” kata Yoochun.

Siwon maju menerjang, tapi Yoochun berhasil berkelit. Keduanya langsung bertarung sengit untuk memperebutkan bola. Ririn sudah gerah sendiri di pinggir lapangan melihat kelakuan saudara kembarnya. Apa-apaan dia itu? Sister complex? Cuih! Dia mau terlihat keren saja! Pikir Ririn. Kelamaan tinggal di Amerika jadi begini, nih.

”Micky!” teriak Ririn lagi.

”Minnie, silent!” sahut Yoochun.

Dan para penonton yang nggak jelas kembali heboh. ”Wah mereka punya nama couple Micky dan Minnie!”

”Kenapa nggak Dessy dan Donald?”

”Atau Junpyo dan Jandi?!”

”Idiiiiih! Itu mah nggak global! Yoochun itu produk interlokal, bo! Nggak mainan Junpyo dan Jandi!”

”Jadi apa dong? Jek dan Ros!”

Jack and Rose!” sahut yang satunya dengan logat a la Cinta Laura.

Ririn semakin gerah mendengar omongan dari para penonton ini. Dan Yoochun juga! Sejak kapan nama barat Ririn berubah jadi Minnie?!

”Micky! stop it or I’ll tell everybody all about us!”

Yoochun berhenti, kemudian menoleh pada Ririn. ”Ya! Do you really love this guy?!” Yoochun menunjuk Siwon dengan tunjukkan yang lebih menghina dari manusia paling hina.

So what if I am?” balas Ririn.

Yoochun menatap Siwon garang, lalu langsung meninjunya. ”MICKY!” teriak Ririn dan berlari menghampiri Siwon. ”Ouch! Neo gwenchana?!”

Para penonton kembali bersorak-sorak riuh.

”Go Micky go Micky go!”

Siwon mengelap darah yang mengalir di bibirnya, lalu menjawab. ”Gwenchana, Ririn-ssi.”

”Yah! Park Yoochun! Kubilang pada Appa baru tahu kau!” teriak Ririn pada akhirnya dalam bahasa Korea.

”Appa?!” tanya Siwon kaget.

Ririn menjawab. ”Siwon-ssi… Yoochun itu bukan pacarku! Dia… dia… dia saudara kembarku!”

”MWO?!” teriak semua yang ada di lapangan.

Yoochun berjalan dengan santai mengambil bola. ”Makanya kubilang kalau kau mau jadi pacarnya, kau harus bisa mengalahkanku! Apa kau ini?!” suara Yoochun benar-benar merendahkan. ”Melawanku saja tidak bisa, bagaimana kau mau menggantikanku menjaganya?!”

 

*Flashback End*

Ririn mendengus melihat beberapa senior wanita sudah mendekati saudara kembar-nya itu. Dan sikap Yoochun benar-benar berubah seratus delapan buluh derajat, menjadi Yoochun si Playboy, yang memperlakukan setiap wanita dengan baik dan manis. Pada akhirnya Ririn dikacangin sendirian di belakang.

”Yak!”

Ririn kaget dan menoleh, sepasang lengan mengalung ke lehernya. ”Yak! Kau ini, tidak dimana-mana, ceria sekali!” senyum Ririn.

”Iya doooong… kalau kuliah itu harus ceria, biar kata lagi puasa, ya nggak?” katanya ceria.

Lee Haejin. Sahabat Ririn yang satu ini seperti bola bekel. Suka tuing-tuing kesana-kemari, ceria, dan jaraaaaaang banget sedih. Makanya temannya Haejin banyak, apalagi kalau lagi banyak masalah, semua pasti suka berada di dekatnya, karena entah kenapa auranya Haejin itu membuat semua masalah terlupakan meski untuk sejenak.

Mereka beramai-ramai, karena banyak penggemar Yoochun, akhirnya naik lift bersama-sama. Begitu sampai di lantai empat, Yoochun dengan berat hati berpisah dengan teman-temannya itu.

”Halo, Haejin-ah…” Yoochun dengan genit mencolek dagu Haejin.

Haejin cuma ngakak. ”Yah! Kau tak akan pernah mempan bergenit-genit ria di depanku…”

”Ara… ara… dari seribu wanita…” nyanyi lagu Andra and The Backbone. ”Cuma kau yang tak tertarik padaku.”

”Nah itu kau tahu…”

Ririn geleng-geleng sendiri. Heran karena Yoochun ini kok kayaknya obsesi banget kepengen digilai setiap gadis, dan heran karena Haejin yang nggak melintir diganggu cowok macam Yoochun.

”Nara-ya!” pekik Haejin sambil melambai-lambai heboh.

”Haejin-ah!” pekik Nara, kemudian dia langsung berlari menghampiri Haejin dan Ririn. ”Ririn-ah, annyeong!”

”Annyeong…” sapa Ririn.

Kwan Nara, yang ini maniak game! Pecicilan juga hampir sama kayak Haejin, bedanya Haejin pecicilan karena ngobrol, kalau Nara karena game. Tapi yang jelas, dua-duanya sangat loyal sebagai sahabat. Ketiganya masuk ke kelas, dan langsung duduk di dekat sahabat mereka yang satu lagi, Soeyoung.

Kalau Soeyoung, orangnya agak pendiam, dia pintar, dan merupakan anak beasiswa. Satu-satunya gadis yang tidak didekati oleh Yoochun, karena Yoochun takut kalau sama Soeyoung. Soeyoung itu gadis cantik yang amat sangat cool! Cenderung galak sama tipe-tipe cowok yang mengandalkan tampang untuk meraih nilai, makanya Yoochun sama sekali tidak pernah mengganggu Soeyoung.

Yoochun kemudian duduk bersama Junsu, sahabatnya. Sementara Siwon sudah ngobrol dengan Jinki. Sesekali Ririn cuma bisa melirik Siwon, karena kalau dia berani menyapa Siwon secara langsung, kematian tragis sudah menunggu dirinya dari Yoochun.

”Masih backstreet juga?” tanya Nara pada Ririn yang mupeng melihat Siwon di pojokan sama Jinki. Haejin dan Soeyoung menoleh ikut mendengarkan.

Ririn cuma menghela napas. ”Yoochun benci banget sama Siwon, nggak tau kenapa! Kalo ditanya sama sekai nggak logis jawabannya!”

”Nggak capek ya, Rin, backstreet terus?” tanya Haejin.

”Capek, sih… tapi…”

”Nggak bisa dilepas!” sahut ketiga temannya kompak.

Soeyoung geleng-geleng. ”Kau diapain sih sama si Siwon ini sampai cinta mati banget kayaknya?”

”Molla…” Ririn menggeleng.

Setelah kuliah hari ini, baru saja Ririn, Nara, Haejin, dan Soeyoung mau keluar dari kelas, tapi Jinki berdiri ke depan kelas dan meminta teman-teman sekelasnya untuk tetap di tempat dan tidak keluar ruangan terlebih dahulu.

”Sori banget… tapi ada pengumuman dari HIMAHI, tadi baru saja dapat pemberita-huannya dari Sunbae-Sunbae…” kata Jinki sambil memandang semua anak-anak yang masih duduk. ”Kan sekarang lagi bulan puasa, nih… Himahi, seperti biasa mau ngadain acara bakti sosial, bareng sama anak SMA Neul Paran, berhubung kita masih satu affiliasi sama mereka.” Ya, mereka kan kuliah di Universitas Neul Paran juga. ”Jadi, kita sama angkatan di atas kita, disuruh jadi panitia untuk bakti-sosial ini.”

Semua manggut-manggut.

”Nah, kalo gitu… itu aja sih pengumumannya, lebih lanjutnya nanti dikasih tau lagi sama Sunbae-sunbae. Oh ya, Nara, Ririn, Haejin, Soeyoung… bisa jadi panitia inti juga, nggak? Panitia perempuannya kurang banget nih…” Jinki menatap mereka berempat.

”Jinki! Kalo lo mau ajak adik gue, gue juga harus ikut!” teriak Yoochun.

Jinki tersenyum. ”Iya… cowok-cowoknya ikut semua, kok. Gimana, Ririn-ah, Nara-ya, Haejin-ah, Soeyoung-ah?”

Ririn menoleh ke Nara, Nara menoleh ke Haejin, Haejin menoleh ke Soeyoung, Soeyoung mengangkat bahu.

”Nara-ya… di ruang komputer ada komputer yang game-nya lengkap lho!” Jinki mengedipkan matanya pada Nara.

GUBRAK!

”Kami bersedia ikut!” Nara berdiri dengan mata berbinar, menarik Haejin dan Ririn yang duduk di kanan-kirinya untuk berdiri. Lalu Nara memaksa Soeyoung ikut berdiri.

”Nara-ya…” keluh Soeyoung.

”Kalau begitu, kamsahamnida… yang jadi panitia cowoknya, ada aku, Yoochun, Junsu, dan Siwon.”

Yoochun berdecak. ”Anak Tampan itu mau kerja apa?” desisnya.

”Hei…” tegur Junsu halus.

 

*           *           *

SMA Neul Paran

Sebuah pengumuman terdengar di koridor-koridor, maupun ruangan kelas, yang dibunyikan oleh pengeras suara. ”Mohon maaf kepada bapak-ibu guru yang sedang mengajar di kelas… pemberitahuan, bagi seluruh pengurus OSIS SMA Neul Paran, harap berkumpul di ruang OSIS segera! Sekali lagi kepada seluruh pengurus OSIS SMA Neul Paran, harap berkumpul di ruang OSIS segera.”

Choi Minho, segera mematikan pengeras suara, lalu keluar dari ruang siaran dan membuka pintu ruang OSIS dan masuk ke dalamnya, lalu menunggu. Tak lama kemudian, pintu ruang OSIS diketuk, dan satu persatu pengurus OSIS SMA Neul Paran masuk ke dalam ruangan tersebut.

Setelah semua berkumpul, Kepala Sekolah, beberapa guru pun ikut menghadiri pertemuan tersebut. Ya, di SMA Neul Paran, saat ini sedang melangsungkan upacara serah terima jabatan OSIS. Berhubung sedang bulan puasa, maka serah terima jabatan yang biasanya dilangsunkan di lapangan, maka di pindahkan jadi di dalam ruangan OSIS.

Kim Jonghyun sebagai ketua OSIS tahun lalu, yang sekarang sudah duduk di kelas tiga SMA, menyerahkan bendera OSIS secara simbolik kepada ketua OSIS yang baru, siswa kelas dua SMA, Choi Minho. Kemudian sebagai sekertaris OSIS yang lalu, Lee Hyunji juga menyerahkan buku OSIS sebagai simbolik kepada sekertaris baru, yang sekarang dipegang oleh Lee JeSoo.

Kepengurusan OSIS tahun ini meliputi enam orang siswa kelas dua, dan lima orang kelas satu. Setelah upacara selesai, para guru dan kepala sekolah kembali untuk mengajar sementara tidak dengan anak-anak OSIS tersebut. Di bulan Ramadhan kali ini, SMA Neul Paran, setiap tahunnya selalu membuat program bakti sosial. Dan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini sekolah mereka akan kerjasama dengan anak-anak Universitas Neul Paran.

Minho, sebagai ketua OSIS benar-benar serius dalam mengerjakan tugas pertamanya sebagai ketua. Minho memimpin rapat, suaranya yang dalam, membuat tak ada satu pun anak yang mengalihkan pandangannya dari penjelasan brilian Minho tentang idenya.

Choi Minho. Aigoooo, sudah jangkung, tampan, suaranya dalam (ungkapan dari hati yang paling dalam oleh author). Benar-benar persis model! JeSoo tersenyum melihatnya. Lee JeSoo, dia adalah sekertaris Choi Minho. Meski keduanya berbeda kelas, JeSoo selalu memerhatikan Minho. Pria itu sudah mencuri hatinya begitu saja dalam hitungan detik begitu melihat Choi Minho yang loncat jauh di pelajaran olahraga waktu kelas satu. Sejak itu JeSoo mulai jatuh cinta kepada Minho, dan berusaha sangat keras untuk mendapatkan jabatan sekertaris OSIS, karena Minho sudah menjadi kandidat kuat sebagai Ketua OSIS.

”Yah! JeSoo-ssi?! Yah!”

JeSoo terperangah melihat Minho sedang melambaikan tangan di depan wajahnya. ”Kau melamun? Kau catat tidak apa yang kubicarakan barusan?” tanyanya dalam, dan membuat panik.

”Eh?!”

”JeSoo-yah… kau sakit?” tanya Hyorin, sahabat JeSoo yang juga merupakan anggota OSIS.

JeSoo menggeleng.

”JeSoo-ssi, kumohon kau untuk fokus!” kata Minho tegas. ”Proyek ini kan proyek pertama kita sebagai OSIS. Aku tidak mau ada yang salah… kuulangi sekali lagi, dan kau catat dengan baik.”

JeSoo mengangguk. ”Ne, algesimnida…” dia buru-buru mengeluarkan pinsil, dan mencatat detil-detil penting yang dibicarakan oleh Minho kepadanya.

”Oke, kalau begitu rapat ditutup sampai disini. Terima kasih kehadirannya, besok kita rapat lagi, dan JeSoo-ssi, jangan lupa tugas yang kuberikan kepadamu tadi. Besok harus sudah jadi, dan kita bisa mulai menjalankan program.” Kata Minho kepada JeSoo lagi.

JeSoo mengangguk.

”Kalau begitu, sampai jumpa…” Minho tersenyum dan meninggalkan ruangan diikuti semua orang, kecuali JeSoo yang masih membereskan beberapa foldernya.

”Hya!” Hyorin tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher JeSoo. ”Chukae, Chingu! Choi Minho-mu sekarang benar-benar dekat denganmu!”

”Mwoyaaaa? Aku malah seperti pesuruhnya!” gerutu JeSoo.

”Sekertaris pribadi, jek! Kapan lagi jadi sekertaris pribadi Choi Minho! Lagian, alaaa nggak usah muna deh, situ suka kan?!” tuding Hyorin.

Wajah JeSoo bersemu merah.

 

*           *           *

Yunho memandangi seisi rumahnya, rumah barunya di Seoul. Yunho tersenyum puas sekali melihat tata interior rumahnya yang begitu apik. Dia tertawa sangat puas, kemudian melihat ketiga anaknya yang keluar dari kamar barunya. ”Bagaimana? Kamar kalian bagus, kan?”

”Ne, Appa!” Hyunmi langsung memeluk ayahnya itu, sementara kedua kakaknya yang lain, Kyuhyun dan Eunji cuma tersenyum.

”Bagus, kalau begitu… besok kalian sudah bisa mulai masuk.”

Yunho kemudian duduk di sofa memandang ketiga anaknya. ”Kalau kalian ada butuh apa-apa, kalian bisa bilang pada Appa. Arasseo?” ketiga anaknya mengangguk sambil tersenyum. ”Ya sudah, kalau begitu, Appa mau istirahat dulu ya…” Yunho masuk ke dalam kamarnya, dan mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang, setelah nada sambung terdengar, seseorang mengangkat teleponnya.

”Yeoboseyo!”

”Yeobo! Apa kabar?”

Orang yang berada di sebrang sana menahan napas mendengar suara Yunho, kemudian dengan suara desisan berapi-api dia menyahut. ”Apa yang kau pikirkan meneleponku jam segini?!”

”Apa ada yang salah dengan menelepon istriku sendiri?!”

”Ya! Kuperingatkan kau ya, Cho Yunho! Aku begini karena kau, dan sekarang jangan usik aku dulu!”

”Santai, Yeobo…” Yunho rileks sambil berbaring di kasur mewahnya. ”Aku kan menelepon hanya ingin mengucapkan terima kasih, kau telah memberikan kami rumah semewah ini.”

”Ne, ne, ne, cheonmaneyo!” gerung wanita disana. ”Sekarang sudah bisa kan kau tutup teleponnya?”

”Yeobo! Kenapa kau begitu dingin?” kekeh Yunho.

”Kalau ketahuan suamiku aku bisa mati!” desis wanita disana. ”Kau mau Jaejoong menceraikanku dan kau serta tiga anak itu tidak bisa makan?! Jebal, Yunho-ya, jangan mempersulit aku…”

”Ne, ne, ne… arasseo…”

”Kau ingat pesanku! Aku sudah melibatkan diriku sampai sejauh ini! Kali ini kau harus berhasil! Ingat rencana kita!” kata wanita itu tajam. ”Dan jangan hubungi aku jam segini!”

”Ara, ara… sampai jumpa.” Yunho mematikan ponselnya.

Sementara wanita yang memutuskan sambungan telepon disana buru-buru memeriksa keadaan. Tak lama kemudian seseorang dari luar memanggilnya. ”Miyoung-ah… ambilkan dasiku.”

Miyoung langsung mengambilkan dasi, dan segera keluar dari kamar ganti rumah yang bak istana tersebut. Dia menghampiri pria yang sedang memasang kancing lengan kemejanya.

”Dasinya yang ini?” tanya Miyoung.

Jaejoong mengangkat wajahnya dan tersenyum. ”Gomawo, Jagiya…” Miyoung memasangkannya dasi.

”Kalau begitu aku berangkat kerja dulu,” Jaejoong mengecup pipi Miyoung dan keluar dari dalam rumah.

Miyoung menghela napas. Kemudian melihat di dalam kantung bajunya, sudah terselip selembar cek. Miyoung kembali duduk dan menatap nanar cek tersebut, lalu dia menghela napas lagi. ”Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?” kemudian dia bergegas kembali ke kamarnya.

Siangnya, setelah dia menyiapkan makan siang, pulanglah ketiga anak Jaejoong yang duduk di kelas tiga, dua, dan satu SMA. Jonghyun, Key, dan Wookie. Ketiganya masuk dan memberi salam.

”Hei…” sapa Miyoung. ”Kalian sudah pulang, bagaimana sekolahnya? Aku sudah mneyiapkan kalian makanan, kalian sebaiknya makan siang sekarang.”

”Aku tidak lapar!” Jonghyun langsung masuk ke kamar dengan galak. Begitu juga Key, yang malah sama sekali tidak berkata apa-apa kepada Miyoung. Hanya Wookie yang tetap disitu.

”Ahjumma, maafkan kakak-kakakku…”

”Gwenchana, Wookie-ah…” sahut Miyoung. ”Tapi, apa kau melihat Yoonrae?”

Wookie menggeleng. ”Noona sama sekali tidak mau ikut mobil kami tadi, boleh aku makan, Ahjumma?”

”Tentu… tentu…” Miyoung mempersilakan Wookie makan. Hatinya sedih memikirkan anaknya, anak kandungnya, Yoonrae. Jonghyun dan Key begitu membenci Yoonrae, begitu pula dengan dirinya. Hanya Wookie yang mau berbaik hati bertoleransi atas pernikahan kedua Jaejoong ini.

 

 

*           *           *

Shindong duduk di belakang mejanya, dia berbicara sangat antusias dengan lawan bicaranya. ”Oh jinja? Baik-baik… aku tunggu kedatanganmu besok, baik… baik… oke… sampai jumpa.” Shindong memutuskan sambungan telepon. Kemudian teleponnya berdering lagi, dan Shindong menyalakan pengeras suaranya.

”Maaf, Tuan… Tuan Hankyung sudah menunggu Anda di ruang rapat.”

”Aku segera kesana.” Shindong kemudian berdiri, dan mengancingkan jasnya, kemudian dia berjalan ke ruang rapat. ”Ah, Hankyung! Apa kabar?”

”Shindong-ah! Baik-baik!” Hankyung berdiri dan memeluk Shindong erat. Setelah mereka bercakap-cakap berbasa-basi akhirnya Hankyung mengatakan tujuannya. ”Aku sudah menemukan tender yang kau cari, Shindong-ah.”

”Oh, benarkah?”

Hankyung mengangguk. ”Dia ini temanku, namanya Lee Hyukjae. Dia mempunyai perusahaan konsultan yang luar biasa besar dan cukup berpengaruh di Asia. Jadi, kalau kau mau memenangkan tender, kau bisa pakai jasa perusahaannya, aku nanti akan mengenalkanmu kepadanya.”

”Oh, benarkah?” tanya Shindong senang. ”Kalau begitu baiklah… kau memang sahabatku, Hankyung.”

 

*           *           *

Keesokan harinya, Kantor Himahi. (Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional)

 

Sungmin duduk di depan laptopnya, sementara ketiga temannya juga sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing di meja mereka. Ketiga temannya adalah Donghae, Changmin, dan Kibum. Kenapa mereka sibuk? Tentu saja karena acara tahunan yang di selenggarakan ketika bulan puasa, yakni bakti sosial. Sementara Himahi, organisasi jurusan ini sedang mengalami kendala, karena anggotanya tiba-tiba berkurang, hanya mereka berempatlah yang bertahan.

”Aku sudah mengecek dana yang diperlukan,” kata Changmin sambil meletakkan kalkulator. ”Kalau masalah dana kurasa dari sumbangan pun kita bisa bergerak, hanya saja tenaga yang kurang.”

”Tenang, masalah tenaga sudah berhasil kupecahkan,” jawab Sungmin sambil terus menatap laptopnya.

Donghae, Kibum, dan Changmin mengangkat wajah mereka. ”Kau serius?” ucap mereka bertiga bareng.

”Iya aku serius, anak-anak angkatan dibawah kita sudah kurekrut, dan aku sudah mengirim surat pemberitahuan kepada SMA Neul Paran untuk ikut serta dalam acara kita ini.” Sungmin berbalik, dan berjalan ke arah printer, mengambil kertas yang keluar dari dalamnya. ”Aku sudah mengetik tugas kalian masing-masing, ini untuk Kibum… Donghae, dan kau Changmin.”

Donghae mengambil kertasnya, kemudian membacanya. ”Aku mengkoordinir angkatan di bawah kita?” tanyanya.

”Iya, kau dibantu denganku tentunya, pokoknya nanti kau bertemu dengan mereka deh. Tugasnya sudah kuketik disitu. Sementara Changmin, kau akan cari link perusahaan yang bisa kita mintai kerjasama, dan kau Kibum, kau tugasnya membuat spanduk.”

Mereka bertiga mengangguk.

”Nah, aku akan menghubungi SMA Neul Paran, untuk membicarakan kerjasama ini, dan besok, kita akan rapat bersama SMA Neul Paran untuk membuat susunan panitia. Jadi kita berangkat sekarang!”

Insya Allah Bersambung

yak, pemirsa sekalian *apa lu kata? dilempar panci* pokoknya saya udah publish part 1, jadi kalo ceritanya bertele-tele, mohon maaf namanya juga niat saya mau ngalahin Cinta Fitri… wkwkwkwkwk… terima kasih untuk temen-temen aniya, saudara-saudara author dan readers yg mau baca, dan saya berharap banget komen, kritik, dan saran untuk lanjutan… hahaha, saya kan cuma manusia biasa yg butuh koreksi dari kalian…

episode dua insya allah besok publish di jam yg sama *makin kayak VJ MTV gue* hehehe, tetep pada komen yaaaa… akhir kata karena besok mau puasa, Nisya ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir-batin kalo misal Nisya ada salah-salah kata baik yg disengaja maupun tidak, semoga amal ibadah kita bagi yg berpuasa diterima oleh Allah SWT, Amin. (Mengutip bininya Siwon), dan untuk yg gak berpuasa… baca ff ini juga ya… ff ini umum kok, cuma pas bulan puasa aja… hehehe, akhir kata kamsahamnida, saranghae, deep bow…


3 thoughts on “When Sunrise Meet Sunset (Episode 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s