The Stab of Jelangkung (The Final Battle PG-15)

OST :

Don’t Don (untuk adegan tegang)

It Has To Be You (Romantic Scene)

Dendam dan amarah

Itu Caraku Untuk Kembali ke dunia…

Dunia yang seharusnya sudah aku tinggalkan sejak lama…

maka usik saja hidupku…

dan aku akan membuat kalian merasakannya…


Leeteuk mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. Pada ketukan yang kelima kalinya, pintu rumah Jinki terbuka sendiri. Mereka semua langsung saja saling pandang.

”Masuk, nggak?” tanya Leeteuk pada Donghae dan Siwon. Keduanya mengangguk. Dengan langkah perlahan mereka memasuki rumah Jinki. Tiba-tiba seorang lelaki setengah baya bertubuh kurus dengan rambut gondrong tak teratur muncul dari belakang mereka seakan turun dari atap rumah.

”Mau apa kalian kesini?”

Setelah mengatasi kekagetan mereka, akhirnya Leeteuk menjelaskan maksud kedatangan mereka kepada Jinki. Akhirnya mereka duduk di lantai yang beralaskan bantal tersebut, mengitari Jinki.

”Jadi, kalian kesini karena Jonghyun, saudara kembar saya?”

Ririn mengangguk merasa bersalah. ”Iya, Haraboji, kami sudah tak tau harus bagaimana lagi. Kami sudah nggak kuat, Haraboji!”

”Saya mengerti perasaan kalian… dulu, sewaktu kami masih kecil dan tinggal di Pyounggu, tiap malam kami bermain engklek. Karena yang menang, kalo tidur bisa dapet bantal. Saking miskinnya kehidupan kami, kami hanya punya satu bantal.” Jinki Haraboji menjelaskan.

Semua terdiam, ada terselip rasa haru di dalam hati mereka.

”Malam itu, saya diminta oleh ayah saya, untuk menemaninya mengobati orang, tapi saya pulang duluan karena ingin bermain engklek dengan Jonghyun. Saat saya hampir sampai di rumah, tampak ada keributan. Saya segera sembunyi dan mengintip dari balik semak-semak. Saat itu… saya… saya melihat… Jonghyun sedang ditelentangkan di tanah dan orang-orang mulai membacoknya…” Jinki menyeka keringat dingin di lehernya. ”Saya cuma bisa gemetar ketakutan…” sepertinya suaranya mulai bergetar. ”Saya lihat, darah Jonghyun muncrat! Saya dengar dengan jelas, jeritannya Jonghyun…” mata Jinki kemudian nampak berkaca-kaca. ”Mereka sungguh kejam! Mereka bukan manusia! Jonghyun tidak bersalah! Jonghyun sama sekali tidak berdosa! Jonghyun sama sekali tidak punya salah kepada mereka.”

Semua tertunduk ikut sedih mendengarkan cerita Jinki. Bahkan Ririn dan Haejin ikut berkaca-kaca, menahan air mata mereka. Shindong dan Eunhyuk menundukkan kepala mereka.

Kemudian Jinki bangkit dan mengambil sebuah bungkusan, kemudian duduk lagi. Jinki membuka bungkusan tersebut, dan memperlihatkan dua buah genteng yang sudah amat sangat usang, bertuliskan namanya dan nama Jonghyun di tengahnya. Ia meletakkannya di tengah mereka.

”Kami ikut sedih, Haraboji…” Haejin mengungkapkan simpatinya.

”Kami nggak mengira kalau ceritanya seperti ini.” Eunhyuk ikut menambahkan.

”Tolong kami, Haraboji… kami sama sekali nggak bermaksud mengganggu Jonghyun.” Jelas Siwon.

”Iya, cuma Haraboji yang bisa nolong kami. Kata orang pinter yang kami hubungi, Jonghyun bisa pergi dengan tenang kalau Haraboji yang minta.” Leeteuk juga ikut menjelaskan.

Jinki mengangguk sedih. ”Iya, saya tahu…”

”Terus waktunya juga harus tepat sama shio-nya Jonghyun…” Donghae ikut menambahkan.

Jinki mengangguk-angguk. ”Kalau begitu, waktu kalian hanya sampai besok.”

”Tolong kami, Haraboji… saya nggak kuat liat setan terus, capek…” pinta Eunhyuk dengan memelas.

Jinki menarik napas panjang. Wajahnya masih menyiratkan penyesalan dan luka yang di deritanya seumur hidup. ”Untuk mengembalikan arwahnya, kita harus ajak Jonghyun bermain engklek seperti yang sering kami lakukan dulu. Saat bermain, Jonghyun akan lengah.” Jinki menatap mereka semua dengan dramatis. ”Lalu pada saat lemparan genting yang terakhir, kalian harus menancapkan boneka jelangkung itu ke tanah! Sehingga apa yang jadi milik tanah akan kembali ke tanah!”

”Tapi bukannya jelangkung itu untuk manggil setan?” tanya Shindong.

”Bener… bener…” Jinki mengangguk lagi. ”Tapi untuk memulangkannya juga harus di pakai jelangkung yang sama. Nah sekarang, mana boneka jelangkungnya?”

”Boneka jelangkungnya mana?” tanya Leeteuk menoleh pada Donghae, Donghae pada Haejin, Haejin pada Ririn, Ririn pada Siwon, Siwon mencari-cari di dalam tasnya. Semua menunggu dengan tegang.

Siwon kemudian menepuk kepalanya. ”Aduuuuh…”

”Kenapa, Siwon-ah?”

”Di mobil! Ketinggalan waktu kecelakaan!”

Semua langsung menutup wajah dengan perasaan campur aduk. Kesal, benci, marah, dan lelah. Kemudian mereka mengirim Donghae, Haejin, dan Eunhyuk untuk mengambil kembali boneka jelangkung itu karena mereka bertiga yang dinilai fisiknya masih kuat full. Ririn sudah mulai sakit, Siwon otomatis menjaganya. Shindong karena sering pesimis maka tidak dikirim, dan Leeteuk tetap di tempat untuk mencari keperluan untuk upacara engklek terakhir.

Eunhyuk menyenteri rawa, sementara Donghae dan Haejin dengan kecepatan penuh mendayung perahu. Tak lama kemudian mereka sampai di darmaga dan langsung loncat keluar dari perahu menghampiri Nissan X-Trail hitam yang terparkir disitu.

Donghae merogoh-rogoh kantungnya panik. ”Aduuuuh! Kuncinya mana?!”

”Kenapa, Donghae-ah?!” tanya Eunhyuk panik.

”Kuncinya…” Donghae merogoh kantung jinsnya panik.

”Donghae-ah…” keluh Haejin.

”Jangan bilang kalau kita harus kembali lagi?!” seru Eunhyuk.

”Iya tunggu dulu… tadi rasanya Siwon sudah memberiku kunci…” Donghae merogoh jinsnya, ”Nah ini dia!” Donghae mengeluarkan kunci dan langsung masuk ke mobil. Haejin dan Eunhyuk mengikuti.

Mereka akhirnya sampai di tempat singgah mobil-mobil yang terkena kecelakaan tersebut. Donghae berjongkok di belakang sebuah mobil, Haejin dan Eunhyuk mengekor di belakangnya. Setelah melihat keadaan aman, Donghae memberi isyarat agar Haejin dan Eunhyuk mengikutinya.

Mengendap-endap perlahan-lahan mencari sedan hitam milih Siwon, Donghae melongok melihat penjaga yang sedang mondar-mandir, kemudian menoleh ke belakang. ”Aman!”

Haejin dan Eunhyuk langsung berlari menyebrangi gang mobil tersebut, dan berdiri tegak, menyorotkan senter mereka mencari mobil Siwon. Donghae tak lama mengikuti, Haejin memberi isyarat bahwa dia telah menemukan mobilnya.

Haejin dan Eunhyuk menyenteri mobil, sementara Donghae mengulurkan tangannya ke dalam mobil dan meraih boneka jelangkung yang tergeletak di bawah jok.

”Donghae-ah, palliwa!” desak Haejin sambil menoleh ke arah penjaga.

Donghae berusaha menggapai boneka jelangkung. Eunhyuk juga menoleh dengan gugup ke arah penjaga yang sewaktu-waktu bisa melihat kehadiran mereka bertiga disini.

”Donghae-ah!”

”Ntar dulu, ini nyangkut!” Donghae berusaha menarik boneka tersebut.

”Yah! Siapa disana?!” akhirnya penjaga menyadari kehadiran mereka bertiga. Wajah Haejin langsung pucat.

Donghae menatap Eunhyuk. ”Eunhyuk-ah! Bawa lari Haejin! Aku menyusul!”

Eunhyuk langsung menyambar tangan Haejin dan membawanya berlari, sementara para penjaga nampaknya semakin banyak berdatangan. Eunhyuk dan Haejin menaiki kap-kap mobil.

Donghae berusaha keras menarik boneka jelangkung hingga akhirnya terlepas, kemudian dia langsung berlari mengejar Eunhyuk dan Haejin yang berlari di atas kap-kap mobil. Begitu sampai di ujung jalan, mereka meloncat masuk mobil, dan Donghae langsung tancap gas.

 

*Myungshidae*

Ririn mulai terlihat sakit. Wajahnya pucat dan badannya agak panas. Siwon menyuruhnya beristirahat di ruang depan rumah Jinki dan memberinya segelas air putih. Leeteuk duduk di kursi kayu sambil berdoa, sementara Jinki menyiapkan sesajen, meletakkan dua keping genting pada tempat khusus dan mencipratinya dengan air kembang. Ririn akhirnya tertidur di kamar yang disediakan oleh Jinki. Keringat membasahi dahi dan lehernya. Ia mulai mengigau, menggerakkan tangannya seperti mengusir sesuatu.

”Pergi! Pergi! Pergi kalian…!”

Siwon mulai panik, Leeteuk yang ikut menmani berusaha menenangkan Siwon. ”Nggak apa-apa, Siwon-ah… Ririn pasti kecapekan.”

Tiba-tiba mata Ririn terbuka dan membelalak. Ekspresi wajahnya berubah total. Ia bangun dengan gerakkan aneh dan seperti tidak melihat Siwon dan Leeteuk.

”Ririn-ah! Ririn-ah! Kamu mau kemana?” panggil Siwon. Sementara Ririn berjalan membelakangi Siwon, Siwon mengejarnya. ”Ririn-ah! Neo waekeurae? Mau ngapain kamu kesana?”

Mendadak Ririn membalikkan tubuhnya, matanya menatap tajam Siwon. ”Kamu laki-laki nggak bertanggung jawab! Kenapa kamu ninggalin saya?!” bentak Ririn dengan suara yang sama sekali bukan dirinya dan mendorong Siwon dengan keras. Siwon terperangah, dia ngeri, suara Ririn berubah total, apalagi pandangan matanya. Ririn telah dirasuki Hostes Bunting.

Kenapa kamu lari?! Kenapa kamu tidak mau mengakui anakmu?! Darah dagingmu sendiri?! Kenapa?!”

”Ririn-ah, sadar! Sadar, Ririn-ah! Ini aku… Siwon!”

Ririn mencengkram leher Siwon dengan gerakan tak terduga. Leeteuk langsung berlari membantu Siwon melepaskan genggaman Ririn pada lehernya. ”Ririn-ah! Ririn-ah! Sadaaaar, sebut Tuhan! Sebut Tuhan!” pekik Leeteuk.

Saat itu Jinki muncul dan langsung menciprati Ririn dengan dengan air yang dibawa dari cawannya. Ririn seketika langsung lemas, dan terjatuh ke depan. Siwon menangkapnya. Dia dan Leeteuk menarik napas lega.

Keesokan harinya, Ririn masih disuruh istirahat dirumah Jinki. Menjelang siang Leeteuk dan Shindong ditugaskan oleh Jinki mencari barang-barang upacara, seperti dupa, darah ayam hitam, dan air kembang tujuh rupa yang didapat oleh Leeteuk dan Shindong di pemukiman warga Myungshidae.

Upacara nanti malam mulai membuat Leeteuk, Siwon, dan Shindong gelisah. Karena Donghae, Haejin, dan Eunhyuk sama sekali belum ada tanda-tanda membawa boneka jelangkung tersebut.

”Lihat kan?! Sekarang sudah jam segini… mereka bertiga belum dateng! Mereka pasti kenapa-napa dijalan. Perasaanku sudah nggak enak dari awal!” Shindong seperti biasa kembali marah-marah, ketika mereka bertiga menunggu di tepi sungai yang terletak di sebelah rumah Jinki. ”Dan sekarang sudah mau gelap! Kita harus bagaimana coba?! Kita akan dihantui selama tigapuluh sembilan tahun!”

”Keumanhae! Kau bisa diam tidak?!” Siwon sudah maju hendak menghajar Shindong, namun Leeteuk maju dan melerai.

 

*Donghae, Haejin, Eunhyuk*

Donghae, Haejin, dan Eunhyuk akhirnya tiba di dermaga. Namun yang membuat mereka panik adalah perahu dan penjaganya tidak ada.

”Perahunya! Donghae-ah! Eunhyuk-ah! Perahunya!” Haejin teriak-teriak histeris dan mondar-mandir panik di dermaga. ”Perahunya kemana?! Perahunya?!”

”Eunhyuk-ah! Cek ke dalam gubuk, barangkali aja ada penjaganya!” Donghae mencoba tenang.

Eunhyuk berlari masuk ke dalam gubuk. ”Nggak ada orang, Donghae-ah!”

”AAARRRGGGHHH‼!” Donghae melampiaskan kekesalannnya dengan menghen-takkan kakinya. Haejin sudah marah-marah sendirian di depannya frustasi karena selalu saja ada yang menghalangi langkah mereka.

Hari yang beranjak sore, hujan pun turun deras. Eunhyuk dan Donghae berlindung di gubuk, tapi Haejin menolak, dia duduk memeluk lutut sambil menangis. Dibiarkannya saja air hujan mengguyur tubuhnya. Eunyuk dan Donghae melihat dengan miris pemandangan gadis manis yang sama-sama mereka sukai sedang menangis di tepi dermaga.

Donghae akhirnya keluar dari dalam gubuk, Eunhyuk sama sekali tidak berniat menahannya, ataupun mengikutinya untuk membuat Haejin merasa lebih nyaman. Eunhyuk sadar, dia sudah tersisihkan oleh Donghae.

Donghae duduk bersila di sebelah Haejin, Haejin masih saja menangis sesenggukan menatap rawa. Donghae mengusap bahu Haejin. ”Kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya.

Haejin cuma diam, sesekali mendengus sedih.

”Kalo kamu kesel, capek, marah, kecewa, keluarin aja. Jangan disimpen! Yang penting jangan sampe patah semangat, Haejin-ah.” Ujarnya lembut.

”Aku nggak patah semangat kok,” ujar Haejin sambil mengusap matanya. ”Aku cuma kesel! Kayaknya… kok selalu ada aja yang ngalangin! Aku tuh pengin semuanya cepet kelar! Aku kasian sama Ririn, dia udah mulai sakit. Eunhyuk juga, fisiknya lemah…” Haejin menoleh menatap Donghae.

Donghae menatap Haejin dalam dan lembut, kemudian tanpa keduanya sadari, jarak wajah mereka sekarang sudah amat sangat dekat, Haejin dan Donghae bisa merasakan napas masing-masing.

Haejin memejamkan matanya, ketika dirasakannya bibir Donghae menyentuh permukannya bibirnya. Rasanya menentramkan, disaat kedua hati ini sedang kacau balau. Mereka menemukan kehangatan.

”Donghae-ah! Haejin-ah!” teriak Eunhyuk mengagetkan keduanya yang langsung memisahkan diri. ”Perahunya dateng!”

Donghae dan Haejin langsung berdiri dengan senang, begitu mereka di perahu, Donghae mengecek jam tangannya. ”Ayo, kilat!” dan dia serta Haejin langsung ngebut mendayung perahunya, tapi Eunhyuk yang awalnya tugasnya hanya menyenter, lama kelamaan sibuk mengurusi air yang masuk ke perahu.

”Donghae-ah! Nggak bisa nih! Kayaknya perahunya bocor, deh!”

”Ya udah, tinggal aja perahunya! Terabas!” Donghae memberi aba-aba, sambil menggenggam boneka jelangkung dia loncat turun dari perahu ke dalam rawa. Haejin dan Eunhyuk juga ikut turun dan berlari di dalam air meski sulit.

 

*Myungshidae*

Di rumah Jinki, hujan juga mulai turun. Leeteuk dan Shindong membantu menyiapkan sesajen. Siwon menjaga Ririn yang masih nampak lemah. Baru saja ia kesurupan lagi, kali ini roh Nenek Belanda penjaga vila yang memasuki tubuhnya. Membuatnya tertawa melengking-lengking seperti Nenek Lampir. Untung Jinki segera datang dan menyadarkannya kembali dengan air dari cawan yang ia bawa, ketika lagi-lagi Ririn mencoba mencekik Siwon.

Akhirnya hari berganti menjadi malam. Di halaman rumah Jinki, kemenyan sudah di bakar dan gambar permainan engklek sudah dibuat. Jinki mulai melempar genting sambil mulutnya komat-kamit membaca mantera. Genting jatuh di bidang permainan. Jinki mondar-mandir menunggu kedatangan Jonghyun. Sementara di pinggir petak engklek tersebut, duduk berjajar Siwon yang merangkul Ririn, Shindong kemudian Leeteuk.

Langit kemudian seperti terbelah oleh kilatan petir dan gemuruh angin yang bersuitan memekakkan telinga. Dan suara tawa anak kecil terdengar. Sebuah tangan menjulur diantara Ririn dan Siwon yang sedang berangkulan. Tangan itu meraih genting bertuliskan nama Jonghyun. Ririn gemetar setengah mati, ketika sosok Jonghyun sudah berdiri di depannya, mengerikan sekaligus menyedihkan. Siwon terus menggenggam tangan Ririn untuk menenangkannya.

”Jonghyun-ah?” tanya Jinki.

Jonghyun tidak menjawab, ia melempar gentingnya ke atas da jatuh ke bidang permainan. Jonghyun langsung melompat ke bidang engklek tersebut. Selesai Jonghyun melompat, kemudian giliran Jinki yang bermain. Ia segera melempar gentingnya, dan mulai melompat ke bidang permainan seperti Jonghyun.

Permainan mulai seru. Tapi, Donghae, Haejin, dan Eunhyuk belum juga terlihat sosoknya. Leeteuk, Siwon, Ririn, dan Shindong terus-terusan melihat ke depan, berharap teman-temannya segera muncul dalam jangkauan pandang mereka. Nasib mereka ditentukan malam ini. Jika Donghae, Haejin, dan Eunhyuk tak berhasil kembali dengan boneka jelangkung itu…

Kematian tragis menunggu mereka bertujuh.

 

*Donghae, Haejin, Eunhyuk*

Donghae menyalakan obor api, untuk menerangi jalan mereka melintasi gua-gua, dia berlari paling depan, diikuti Haejin dan Eunhyuk di belakang mereka. Haejin yang memegang boneka jelangkung, kemudian tersangkut akar pohon, dan boneka jelangkung tersebut terlepas dari genggaman Haejin, merosot turun ke tebing batu yang curam.

Haejin terluka, Eunhyuk membantunya duduk dan membersihkan lukanya, sementara Donghae berusaha meraih boneka jelangkung yang masih tersangkut akar pohon itu. Tak lama Donghae berhasil mengambil boneka jelangkung tersebut. Melihat Donghae berhasil, Haejin membulatkan tekadnya, tidak dipedulikannya luka di kakinya, dia berlari lari mengejar waktu. Eunhyuk di belakangnya juga tidak memedulikan jantungnya yang sudah keras menggedor-gedor tulang rusuknya.

 

*Halaman Rumah Jinki*

Malam sudah nyaris mencapai puncaknya. Puluhan anak kecil seperti Jonghyun bermunculan dari berbagai penjuru sambil mengeluarkan suara lengkingan aneh yang mengerikan. Mereka berkerumun mengelilingi pekarangan rumah Jinki. Angin semakin kencang disertai petir yang memekakkan telinga. Jinki melompat lagi untuk yang kesekian kalinya di bidang permainan engklek. Gerakannya sudah semakin lemah. Kaki Jinki gemetar ketika menjejak tanah. Jinki meletakkan tanda X pada salah satu kotak engklek.

Suara anak-anak kecil semakin ramai, dan dari langit, turun melayang-layang lima kuntilanak dengan gaun putih melambai-lambai di tengah badai angin. Keringat membasahi tubuh Ririn, Siwon, Leeteuk, dan Shindong.

”Mana jelangkungnya? Mana…? Saya sudah nggak kuat…” seru Jinki kepada Leeteuk, Siwon, Ririn, dan Shindong.

Ririn menangis memeluk Siwon. Siwon sudah pasrah, kemudian tanah di dekat Leeteuk mulai retak. Dari dalamnya keluar tangan yang langsung mencengkram kaki Leeteuk, dan menariknya. Shindong dan Siwon segera menahan tubuh Leeteuk dengan panik.

”Tahan, Siwon-ah, tahan!”

”Shindong-ah! Tarik sebelah situ!”

Ririn menangis histeris.

Di depan mereka, Jinki hampir kehabisan napas. ”Sekarang! Sekarang waktunya… ini lemparan terakhir… mana jelangkungnya?! Mana? Tusuk di tanah sekarang… tusuk…” teriaknya.

Donghae berlari seperti kesetanan, dari jauh dia melihat Leeteuk nyaris ditarik ke dalam tanah, dan Jinki yang hampir terjatuh ketika melompat. Seperti mendapat suntikan tenaga, Haejin dan Eunhyuk mengikutinya dan melesat ke pekarangan rumah Jinki.

Donghae melompat tinggi, dan langsung menancapkan boneka jelangkung ke petak engklek, nyaris bersamaan dengan lemparan genting Jonghyun yang hampir mengenai bidang permainan. Boneka itu menancap di tanah, dan langsung saja api muncul di sepanjang garis permainan engklek.

”Baca manteranya sekarang!”

Jelangkung, Jelangkung…

Disini ada pesta kecil-kecilan…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Jelankung, Jelangkung…

Disini ada pesta kecil-kecilan…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Diantara api yang membakar bidang permainan, perlahan-lahan boneka jelangkung dan kepingan genting, masuk ke dalam tanah. Angin dan petir pun berhenti.

”Pergilah, Jonghyun-ah… tentram sekarang.”

Api itu berhenti, dan keadaan kembali normal. Malam yang tadinya dingin kembali hangat. Semua beban terangkat dari pundak mereka. Tangis Ririn dan Shindong pecah. Siwon merangkul Ririn. Shindong memeluk Eunhyuk. Haejin juga menangis tersedu, Donghae memeluknya.

”Eh… tunggu dulu! Leeteuk-ah?!”

”Teukie-ah‼!”

”Leeteuk!”

”Yah, Choi Leeteuk!”

”LEETEUK‼!”

THE END

aduuuuh maafkan keterlambatan saya… rencananya sih mau publishnya jam 12 malem tepat, apa daya inet saya berkata lain. wkwkwkwk… bagaimana endingnya puas??? Atau pada kesel gara-gara gantung??? jangan salahin saya ya, soalnya filmnya juga abisnya gantung! jadi saya nggak tau karakter Zul, alias Leeteuk kalo di FF ini hidup atau mati, tapi kayaknya sih mati… Mianhae ya readers, hehehe… jadi saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada readers yang setia baca serial The Stab of Jelangkung dari awal sampe abis… apalagi yang udah menyempatkan komen, makasih banyak ya…

lalu untuk FF bulan puasanya akan dimulai tanggal 10 Agustus, setiap hari, pas Maghrib, hehehe… dibaca dan di komen juga ya readersku sayang…

oh iya kemaren udah adaptasi Cinta Pertama, dan sekarang Tusuk Jelangkung, mau adaptasi apa lagi nih? kasih saya saran doooong… saya mau bikin FF adaptasi lagi, hehehe *doyan* gomawo ya semua… sampai jumpa di lain FF🙂

Facebook : Nisya Mutiara Siregar-Cullen

Twitter : nisya910716 (yg mau di follback tinggal mention🙂 )

ym : nisya_siregar

 

Credit : Novel + Film = Tusuk Jelangkung

 

 

3 thoughts on “The Stab of Jelangkung (The Final Battle PG-15)

  1. Akhrnya slese jg…
    Jujur, aku g prnh nntn ni film ampe abis…
    Wow,, ikt sesak wkt adegan lari2 JinHae ma Hyuk…
    G tau klo ada skinship… Wah.. JinHae biar genre apapun mank hrus ad skinshipnya deh.. Hohoho
    keren abis… 1hal yg agak ngeganjel wkt mrk diksh tau bhw klo mgrb bkal bnyk setan dirawa,, knp g dignti jd mnjlng malam ato senja aja…
    But g mslh sih ttp ska,, agak nyesel jg bru bca…

  2. annyeong momma sayang :*
    aku mau jujur dan mau minta maaf dulu sebelumnya. aku udah baca ff yang ini dari awal sampe abis di part ini *baru kok bacanya* tapi aku gamau comment per partnya. maaf yah momma. jujur aku penakut jadi ga berani baca ulang pas mau commentnya. kan biasanya aku klo comment itu panjang lebar dari ceritanya. tapi ini aku mau keseluruhan aja gapapa yah #curcol :p
    after all ffnya daebak banget. aku juga pernah nonton filmnya deh kyaknya. yah aku penasaran karena momma yang bkin kan padahal ini udah nahan nahan takut. mana gtu kebayang mulu pula itu deh *lupakan* seru banget deh. penjabarannya jelas banget bkin tegang. aku suka sih tapi kayaknya gamau lagi baca ff horror apalagi kalo adaptasi dari cerita indo kyak gini. kebayang mulu euy momma. tapi bukannya katanya momma penakut yah?? tapi ko berani sih bkin ff kayak gini? aku mikir deh jadinya. ehehe :p
    yaudah sekian. maaf ga comment per partnya yah momma. aku suka tapi yah itu ngeri sih klo inget lagi #plakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s