The Stab of Jelangkung (Nightmare Has Begin PG-15)

Jelangkung, Jelangkung…

Disini ada pesta kecil-kecilan…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Jelankung, Jelangkung…

Disini ada pesta kecil-kecilan…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…

Datang tak dijemput, pulang tak diantar…


*Rumah Ririn*

Ririn masih mengenakan kimono mandinya. Dia membuka keran wastafel, hendak mencuci muka dengan air hangat, kemudian menggosok gigi. Ketika ZAP! Bayangan hitam lewat dengan cepat di belakangnya. Ririn melirik ke kaca, yang memantulkan jendela kamar mandinya. Jendela kayu tanpa kaca, tapi bayangan daun diluar terlihat. Ririn memutuskan itu hanya perasaannya saja, dan membasuh wajahnya.

Setelah selesai membasuh wajahnya, dan hendak mengusapkan handuk hangat, dari bayangan dikaca, dilihatnya sesosok perempuan berambut panjang, melintas di belakangnya. Ririn menoleh cepat, pucat! Wanita itu sudah tidak ada. Ririn mencubit pipinya keras-keras.

”Aww!” jeritnya. Berarti itu bukan mimpi, bulu kuduknya meremang. Cepat-cepat ditutupnya kran wastafel, ketika pintu kamar mandi berderit terbuka. Anginkah? Anginkah yang membuka pintu kamar mandi itu? Tidak mungkin! Ririn yakin betul kalau dia mengunci pintu kamar mandinya tadi, dan secara logika, tidak mungkin angin bisa membuka pintu yang terkunci.

Jangan-jangan…

Ririn langsung berlari ke dalam kamarnya, dipeluknya bantalnya, dan langsung dicari ponsel flipnya dan speed dial kepada Siwon. Siwon sama sekali tidak mendengar nada dering dari ponselnya, karena sedang asyik bermain PS4 dengan volume yang gila-gilaan.

”Ah, jebal! Siwon-ah, neo eoddiya?!” Ririn dengan panik langsung menghubungi Siwon lagi. ”Siwon-ah, pali! Pali! Pali! Angkat teleponnya!”

Akhirnya Siwon menyadari kalau ponselnya berdering dari tadi, langsung mengang-katnya. ”Ya, Jagi?”

”Siwon-ah!” pekik Ririn lega. ”Siwon-ah… kayaknya… aduh… tadi, ya… di kamar mandi… kayaknya… ada… itu…”

”Kebiasaan deh kamu, kalo ngomong yang jelas kenapa?!”

”Itu… ngg… tadi… kan aku di kamar mandi… trus, kayak ada bayangan perempuan gitu… trus… ada yang lewat gitu! Abis itu… pintu kamar mandi aku… kebuka sendiri…” kata Ririn terbata-bata. ”Padahal… pas aku liat… nggak ada siapa-siapa…”

”Lupa ngunci kali?” tanya Siwon lagi.

”Nggak kok! Aku yakin banget aku udah kunci pintu kamar mandinya…” kata Ririn nyaris menangis. ”Kan nggak mungkin banget kalau pintu kamar mandinya kebuka sendiri…” Ririn meneruskan. ”Apa jangan-jangan… jangan-jangan ada hantunya ya? Gara-gara kita main tadi siang?”

Siwon yang sedang bermain PS4 sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Ririn yang sedang ketakutan itu, karena bagi Siwon saat ini adalah, bagaimana caranya Barcelona dapat mengalahkan Real Madrid.

”Siwon-ah?” panggil Ririn mencari penentraman. ”Siwon-ah?! Siwon-ah?!” panggilnya makin gusar.

”Hmm…” Siwon hanya menggumam pelan.

Akhirnya Ririn mengerti situasi. ”Kamu lagi main game ya?” tanyanya dengan suara berbahaya.

”Iya… iya… iya, Jagiya… aku dengerin kok!” Siwon buru-buru mempause gamenya. ”Tentang yang kamu liat di kamar mandi, kan? Paling itu cuma perasaan kamu aja… kayak kemarin yang di rumah aku! Udah nggak usah dibawa pikiran…”

”Ah! Udahlah, percuma ngomong sama kamu! Main game-nya lebih penting sih ya, daripada dengerin cerita aku! Ya udah, aku gak akan ganggu kamu lagi!” Ririn langsung mematikan ponselnya.

Siwon terperangah. ”Yah! Yah! Yeoboseyooo? Jagiya? Aaah, bodo amat!” Siwon langsung mematikan ponselnya, dan melanjutkan permainannya. Begitu seberkas bayangan lewat dengan cepat di jendela kamarnya.

Siwon menoleh dengan kaget. Bayangan itu sudah hilang, kemudian terdengar bunyi krieeeeeet yang membuat bulu kuduknya meremang. Siwon terdiam, dan berusaha mencerna apa yang terjadi.

Bunyi krieeeeeeeet itu semakin kencang, dan disadari Siwon, bahwa itu berasal dari kolong tempat tidurnya. Siwon berdiri mendekati tempat tidurnya perlahan-lahan. Jantungnya berdegup kencang.

”Harus berani! Harus berani! Choi Siwon, hwaiting!” Siwon menelan ludahnya dan mendorong kasurnya, seketika dia langsung loncat ke belakang, dan tersungkur.

Ada yang menggambar petak engklek di bawah ranjangnya.

 

*Rumah Eunhyuk*

Eunhyuk selesai keramas. Badannya semua terasa segar setelah semalam habis badannya digarap karena begadang, kemudian siangnya kuliah. Eunhyuk baru saja memakai celana pendeknya, dan menarik handuk dari gantungan, ketika dari balik gantungan muncul sosok bocah laki-laki.

”AARRGGHH!” Eunhyuk refleks memakai handuk untuk menutupi matanya ketakutan. Bocah laki-laki itu nampak tua, matanya kosong menatap ke Eunhyuk, Eunhyuk memunggunginya sambil gemetaran.

Tak lama kemudian Eunhyuk berbalik, dan melihat bahwa bocah laki-laki itu sudah tidak ada. Eunhyuk buru-buru keluar dari kamar.

 

*Di Kosan Shindong*

Shindong mundur setelah memasukkan DVD-nya ke dalam player, kemudian dia duduk di kasurnya, sambil menunggu filmnya diputar. Shindong mengambil posisi berbaring ala Ahjumma-ahjumma, dengan santai menopang kepala dengan satu tangannya.

TOK. TOK. TOK.

Krieeeeeeeeeet.

Shindong langsung duduk tegak, tidak dipedulikannya blue film yang sedang memutar adegan ’utama’ tersebut. Suara itu… bukan berasal dari luar, melainkan langsung dari lemari kamarnya.

Shindong berdiri perlahan-lahan dan mendekati lemari tersebut, yang bunyi garukannya semakin parah. Dengan menguatkan tekad, Shindong membuka pintu lemari perlahan-lahan, dan lemarinya hanya berisi baju-bajunya seperti biasa. Shindong menghela napas lega, dan menutup kembali pintu lemarinya.

Tanpa dia sadari, diluar jendela, sesosok wanita berambut panjang menutupi wajah, bergaun putih. Perutnya besar, dan kebencian menyala-nyala di matanya sambil menatap sosok Shindong yang tidak menyadari keberadaannya.

 

*Rumah Haejin*

Suara langkah bocah-bocah yang berlari mengusik kuping Haejin yang sedang berbaring tengkurap di ranjangnya. Kemudian suara tawa bocah laki-laki juga mengganggu kupingnya. Haejin duduk, memandang sekeliling, tidak ada apa-apa. Haejin melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar, padahal tadi dia tutup. Akhirnya Haejin menutup pintunya dan kembali tidur.

 

*Esok Harinya —- Kafe  Kampus*

Siwon cs duduk melingkar di sudut kafe. Siwon, Ririn, Haejin, Eunhyuk, dan Shindong. Semuanya berwajah lesu, lelah, dan nampak tidak bersemangat sama sekali. Bahkan kelimanya tidak berbicara satu sama lain, sampai seorang waiter datang menghampiri mereka, dan membawakan secangkir kopi.

”Eunhyuk-ah, itu kopimu…” Shindong bersandar dengan wajah tertekan.

Eunhyuk mengaduk-aduk gula di dalam cangkir kopinya dengan tidak bersemangat. Sementara pelayan itu bertanya. ”Ada lagi yang mau dipesan?”

”Tiramisu, satu potong ya…” sahut Ririn pelan.

”Lainnya?” tanya pelayan itu lagi.

”Nggak deh, nanti lagi…” tolak Siwon halus, pelayan itu pergi.

”Semalem aku nggak bisa tidur! Aku yakin banget ada anak kecil gundul di dalem kamar mandi! Dia ngeliatin terus!” Eunhyuk berkata sambil gemetaran, dan menaruh cangkir kopinya di meja.

Shindong nyamber. ”Kubilang juga apa! Jangan main-main begituan! Lagakmu sih, Ririn-ah, minta didatengin tau nggak?! Sekarang kalau begini, gimana? Semalam aku yakin sekali ada yang gedor-gedor pintu lemariku!”

”Kalau aku…” Haejin ikutan menyahut. ”Rasanya semalam sih, ada yang ketawa-ketawa gitu, suara anak laki-laki. Tapi kayaknya sih cuma bayanganku saja, soalnya aku ngantuk sekali…” Haejin berusaha berpikir positif. ”Jadi aku cuekin aja, untungnya masih bisa tidur.”

”Kali aja itu cuma kebetulan…” tanggap Siwon, meski wajahnya kuyu dan masih agak-agak paranoid.

”Hah?! Kebetulan?! Enak sekali bicaramu!” tambah Shindong.

”Tau!” timpal Shindong.

”Kita semua tuh udah digangguin tau nggak?!” Shindong semakin berapi-api. ”Tuh liat aja Ririn sampai ketakutan begitu?! Gaya-gayaan sih main jelangkung segala! Kalau udah begini aja, pada parno, kan?!”

Ririn menelan ludah. ”Ternyata bener ya, emang ngefek…” katanya lirih.

”Emang ngefek, emang ngefek…” ulang Haejin kesal. ”Trus sekarang kalau udah begini gimana?! Kau mau tanggung jawab?!”

”Tau, Ririn-ah… tanggung jawab! Tuh balikkin lagi setan kecil laki-laki yang ada di kamar mandiku, ke tempatnya semula!”

”Kok salahku sih?! Mana aku tahu kalau kau bakal didatangi oleh setan kecil di kamar mandi…” kelit Ririn.

”Udah, udah, udah…” lerai Siwon. ”Basi deh kalian semua! Gitu aja pada takut banget sih?! Anggep aja kalo kemaren tuh kita semua emang pada lagi sial…” katanya pada teman-temannya yang semakin memojokkan Ririn. ”Mendingan sekarang cabut! Jadi nonton nggak?”

”Ne ne ne… aku habiskan dulu tiramisunya…”

 

*Blitzmegaplex Seoul*

 

Mereka tiba ketika pertunjukan film hampir dimulai. Siwon membeli tiket terlebih dahulu, kemudian masuk bersama Ririn dan Haejin, sementara Eunhyuk dengan kesal menunggu Shindong yang sedang belanja snack. Eunhyuk mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon Ririn.

”Yah! Filmnya sudah mulai belum?” tanya Eunhyuk.

”Udaaaaah! Kalian ngapain sih lama amat?! Buruan!” desis Ririn sambil memutuskan sambungan telepon.

Siwon melirik Ririn, terganggu karena ringtone ponsel Ririn yang tidak dimatikan. Siwon berdesis. ”Kamu ngapain sih?! Matiin teleponnya…”

”Iya…” Ririn mengangguk malas.

Tak lama Eunhyuk dan Shindong masuk ke dalam gedung teater, Shindong terlihat kepayahan membawa barang-barang bawaannya. Mereka menghampiri Haejin yang duduk sendirian satu baris di depan barisan Siwon dan Ririn. Eunhyuk langsung saja ambil posisi di sebelah Haejin.

”Lelet banget sih!” seru Haejin.

”Shindong tuh, bukan aku!” balas Eunhyuk.

”Apaan sih?!” sahut Shindong.

”Ssstttt‼!” tegur Siwon dari belakang karena terganggu dengan kebisingan yang dibuat oleh teman-temannya.

Haejin diam, dan mengambil salah satu snack Shindong, dan melanjutkan menonton, begitu juga dengan Eunhyuk dan Shindong. Sementara lagi-lagi ponsel Ririn berdering, dan membuat Siwon gerah.

”Ririn-ah! Kau itu sedang menunggu telepon siapa, sih? Matiin ah!” Siwon hendak merebut ponsel dari tangah Ririn. Ririn berkelit memundurkan badannya ke bangku sebelah yang kosong.

”Apaan sih?!”

Siwon langsung duduk tegak. ”Matiin ponsel kamu!”

”Ini udah aku matiin‼! Puas kamu?!” sahut Ririn ngambek.

Siwon melirik Ririn, ngambek lagi. Tapi yang membuat Siwon khawatir adalah, sesosok wanita yang duduk disebelah Ririn. Berambut panjang dengan gaun putih, menatapnya penuh kebencian. Siwon duduk tegak, dan tidak berani menoleh sedikitpun, meski Ririn ngambek.

Di jalan, mobil yang keduanya kendarai diterpa gerimis. Seharusnya romantis, namun tidak. Siwon dan Ririn sedang asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Namun, mendekati rumah Ririn, akhirnya Siwon juga yang membuka percakapan.

”Masih marah?” tanyanya.

”Ck… ya habisnya kamu! Nyuruh aku matiin ponsel, sampe ngebentak begitu. Di depan orang banyak pula! Nyebelin tau, nggak?” sahut Ririn bete.

Siwon menghela napas. ”Bukannya begitu, Jagiya… abisnya kamu bandel banget sih dibilanginnya. Ngelawan melulu, kayak anak kecil.” Jawabnya dengan nada menentramkan.

”Ah udahlah! Ngomong sama kamu emang nggak ada habisnya! Udah kamu nggak usah ikut masuk ke dalem, udah kemaleman!” Ririn membuka pintu mobil meski dalam keadaan hujan deras.

”Entar dulu… nih, pake jaketnya buat nutupin kepala…” Siwon mengangsurkan jaket pada Ririn.

”Gomawo!” Ririn memakainya dan berlari masuk ke dalam rumah, masih dalam pandangan Siwon. Setelah sampai di dalam kamarnya, Ririn langsung ke kamar mandi, dan sengaja membuka pintu kamar mandinya lebar-lebar, dan langsung cuci muka, tapi begitu dia melihat kaca lagi, sebuah tulisan mendadak tercetak disana, seperti menulis di kaca yang  berembun. Pyounggu.

 

*Rumah Haejin*

 

Haejin sedang melotot di depan komputer di dalam kamarnya. Kesepuluh jarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard, setelah sesekali dia melirik buku teks Ilmu Politik yang tergeletak terbuka di mejanya. Lagu Disco Drive mengalun dengan suara yang amat sangat pelan, untuk mengiringinya mengerjakan tugas. Haejin meregang-kan otot-ototnya hingga bunyi, kemudian menghela napas.

Dibacanya lagi perlahan kalimat yang sudah dia ketik barusan, sembari satu tangannya hendak meraih gelas yang diletakkan dekat bukunya. Haejin mengernyit, gelasnya kok tak dapat diraih? Haejin menoleh, gelas itu agak jauh dari tempatnya semula.

Dan airnya, sudah berkurang. Tadi penuh, sekarang tinggal setengah. Haejin langsung menggelengkan kepalanya pelan, dan tidak jadi minum. ”Udah ngantuk kali ya?” gumamnya, sambil melirik jam. Pukul sebelas malam.

Ponselnya bergetar, berputar-putar di atas meja kerjanya. Haejin melirik ponselnya, dan nama Eunhyuk tertera disitu. Haejin mengangkatnya. ”Yeoboseyo, Eunhyuk-ah… ada apa? Buruan! Aku sedang mengerjakan tugas.”

”Haejin-ah…” katanya manja. ”Aku menganggu ya? Mian ya… begini… eh… ada yang mau aku bicarakan…”

”Iya ada apa? Buruan lah… tugasku banyak, nih!” sahut Haejin lagi sambil mengetik lagi.

”Iya… kan gini… gara-gara kejadian yang kemarin, tuh… itu yang kemarin… aku jadi takut, Haejin-ah… jadi tidak berani tidur…”

Haejin tersenyum kecil. ”Ya lalu?”

”Lalu… lalu… aku mau minta tolong padamu…”

”Tolong apa?”

”Malam ini… aku menginap di rumahmu ya?!”

”Mwo?! Nggak ah! Gila ya! Udah, ah… ganggu aja!” Haejin langsung buru-buru mematikan ponselnya. Haejin kembali melirik gelasnya dengan wajah bete, tapi langsung pucat. Isi gelasnya telah berkurang lagi. Haejin mulai merinding, tenggorokannya terasa kering, tapi untuk meminum air dari gelasnya tadi, dia juga takut.

Akhirnya Haejin memutuskan untuk mengganti gelasnya saja, dia berdiri dan membawa gelasnya keluar kamar. Ruangan sudah gelap, orang tua dan Oppa-nya sudah tidur, Haejin meletakkan gelasnya di tempat cuci piring, lalu membuka kulkas tanpa menyalakan lampu. Diambilnya botol air beling, dan dia masih mencari cemilan untuk menemaninya.

Sesosok wanita tiba-tiba saja muncul di belakang Haejin. Rambut wanita itu menutupi wajahnya, perutnya besar, bajunya kusam. Darah kering dibibir wanita itu bergerak, ketika wanita itu berkata pelan penuh kebencian, ’Pyounggu… Pyounggu…

Haejin tersentak. Tapi kemudian bisikan itu semakin keras, ditambah lagi dengan sosok anak kecil yang melintas dibelakangnya, sambil tertawa-tawa. Haejin menjerit.

Pyounggu… pyounggu… pyounggu… pyounggu…’

Bisikkan itu semakin keras, Haejin menutup telinganya dan berputar-putar di tengah dapur berusaha memblokir suara mengerikan, dan mencari siapa yang mengatakannya. Tapi Haejin tidak melihat wanita itu.

PRANK! Botol kacanya terlempar, dan pecah.

Pats! Lampu dapur menyala, Seulong Oppa muncul. ”Kenapa? Apa yang pecah, Haejin-ah? Kau kenapa?” Seulong menghampiri adiknya. ”Haejin-ah, gwenchana? Apa yang terjadi?”

”Oppa… Oppa…” Haejin gemetaran.

”Yah! Gwenchana?!” tanya Seulong panik.

”Oppa… tadi dengar nggak?! Ada suara-suara… bisik-bisik, sereeeeem! Dia bilang Pyounggu… pyounggu… terus ada suara anak kecil!” cicit Haejin histeris.

Seulong memandang berkeliling. ”Suara apa? Nggak ada suara apa-apa, ah…”

”Beneran Oppa! Aku tuh denger… dia ngomong Pyounggu terus, Oppa…” kata Haejin ketakutan.

”Jinja!” Seulong berdecak. ”Eomma sudah mulai khawatir kalau kau banyak tugas, benar kan begini jadinya! Sudah, kau itu terlalu capek… ayo tidur…” Seulong merangkul adiknya ke kamar.

”Tapi, Oppa, betulaaaaaan…” Haejin dengan pasrah masuk ke dalam selimut.

Seulong menutupi badan Haejin dengan selimut. ”Sudah, sudah… jangan dipikirkan, kau terlalu capek, ya. Jaljayo…”

 

*Di Kosan Shindong*

Shindong kembali memasang blue film kesukaannya. Ditengah keasyikannya menonton film tersebut… TOK. TOK. TOK. TOK. TOK. Shindong melonjak, dan menoleh ke belakang.

Wajah Eunhyuk menempel di jendela kosannya. ”Shindong-ah! Buka pintunya, dong! Palli!”

”Gila kau ya!” setelah Shindong membuka pintu dan mempersilakan Eunhyuk masuk ke dalam kamar kosnya yang lumayan besar. ”Datang malam-malam begini?! Nggak bosen apa, bertemu denganku di kampus?”

”Bukannya begitu, Shindong-ah… yah, Shindong-ah… malam ini, boleh ya, aku tidur disini?!”

Shindong langsung menatap Eunhyuk malas. ”Jadi kau kesini mau menginap?!” tanyanya sengit, Eunhyuk mengangguk-angguk seperti anjing jinak. ”Sebetulnya sih aku keberatan, tapi kau sudah disini…”

”Gitu dooong… gomawo ya, Shindong-ah…” Eunhyuk memeluk sahabatnya itu. Shindong menepisnya. ”Lagian, tadi aku udah telepon Haejin, mau menginap di rumahnya, tapi tak boleh.”

Shindong mengacuhkannya dan kembali menonton film porno tersebut. Kemudian Eunhyuk menoleh dan ikut menonton. ”Ya ampun! Kau dapat film beginian dari mana?! Aduuuuh, itu cewek… mantap benar susunya!”

”Nih…” Shindong menunjuk-nunjuk TV dengan remote. ”Sudah diciptakan cewek cantik-cantik begini, masih aja nggak mau pacaran kau!”

”Bukannya nggak mau pacaran! Tuh si Haejin, nyuekin aku melulu…”

Shindong tertawa mendengar jawaban polos sahabatnya, sampai bunyi gedoran dan garukan terdengar lagi dari dalam lemari. Shindong dan Eunhyuk terdiam, dan menatap lemari tersebut.

DOK. DOK. DOK. KRIEEEEEET…

”Shindong-ah…” Eunhyuk menempel pada Shindong. Shindong berdiri, dan hendak menghampiri jendela itu, tapi Eunhyuk menariknya. ”Shindong-ah! Andwe! Andwe… jangan dibuka… jebal…”

Shindong maju, sementara Eunhyuk mengekor, sambil tangannya memegang kaus Shindong.

”Shindong-ah… jangan dibuka…” pinta Eunhyuk ketakutan.

Shindong memegang pintu lemari, kemudian dengan tekad penuh, dibukanya pintu lemarinya, dan keduanya melonjak ke belakang. Boneka Jelangkung terbaring di dasar lemari Shindong.

 

*Esoknya, Rumah Siwon*

Siwon, Ririn, Haejin, Shindong, dan Eunhyuk semua berkumpul di ruang tengah rumah Siwon. Sementara Leeteuk dan Donghae mendengarkan semua cerita Siwon cs dengan penuh perhatian.

”Beneran, Leeteuk-ah… kita semua mengalami hal yang sama!” kata Siwon cemas. ”Dan nggak mungkin itu cuma halusinasi belaka aja! Itu pasti beneran!”

”Masa sih cuma karena main jelangkung kalian sampe kayak begitu?” kata Leeteuk tak percaya. ”Itu tuh nggak ada hubungannya sama Jelangkung, mungkin kalian lagi capek aja…”

”Tapi, Leeteuk-ah… setan itu kan memang ada,” komentar Donghae.

”Iya!” tambah Haejin. ”Nggak mungkin dong, kita semua mimpi buruk pada hari yang sama! Dan nggak mungkin juga kita halusinasi bareng-bareng… itu pasti kerjaan setan!”

”Iya! Teukie-ah, siapa yang mungkin menaruh boneka jelangkung di dalam lemari kamarku kalau bukan setan?!”

Leeteuk menghela napas. ”Aku percaya, setan itu ada, tapi di alam yang lain! Dia bisa masuk ke pikiran kita, atau hati kita. Kalau sampai situ aku percaya, tapi kalau setan menganggu kita sampai ke hal-hal fisik, aku tidak percaya!”

”Ya ampun, Teukie-ah! Lalu siapa yang meletakkan boneka jelangkung itu di dalam lemari kamarku?! Siapa yang menggambar petak engklek di kolong kamar Siwon?! Lalu anak kecil di kamar mandi Eunhyuk?!” seru Haejin. ”Siapa yang bisik-bisik nyebutin Pyounggu ditelingaku semalaman, dan menulis kata itu di cerminnya Ririn!”

”Haejin-ah, kau bilang apa barusan? Pyounggu?!” potong Leeteuk. Wajahnya langsung keras, dan raut wajahnya berubah tegang begitu mendengar kata Pyounggu yang aneh itu.

”Nanti dulu, deh… rasanya aku pernah mendengar kata Pyounggu itu…” kata Donghae kemudian. ”Aduuuh, kalo nggak salah Pyounggu itu nama kota, yang ada empat orang hilang itu bukan, sih?! Kalo nggak hilang ya mati deh kalo nggak salah… aku juga belum mendengar jelas ceritanya…”

”Mwo?! Matilah kita!” keluh Eunhyuk.

”Kau sih, Ririn-ah! Kubilang juga apa, jangan main jelangkung, jangan main jelangkung! Sekarang kalau seperti ini kita semua yang repot!” Shindong tak ada bosannya menyalahkan Ririn.

”Aigo! Aku tak mau mati! Aku tak mau mati!” Eunhyuk ketakutan.

”Ini semua gara-gara kau, Ririn-ah!” Shindong mengeluh sebal.

”Shindong-ah, keumanhae!” seru Siwon kesal. ”Bantulah berpikir bagaimana solusinya, jangan cuma bisanya menyalahkan Ririn saja!”

”Jjamkaman, tapi hubungan kita sama orang-orang yang hilang di Pyounggu itu apa?” tanya Ririn kemudian.

”Lalu hubungan kita sama Pyounggu apa?” tanya Haejin menambahkan.

”Nggak! Nggak ada hubungan apa-apa! Yang hilang di Pyounggu itu memang teman-temanku, dan itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan kalian! Jadi udahlah, masalah beginian nggak usah di bahas lagi! Donghae-ah, nanti sore kita manjat lagi, yuk!”

”Yuk!” Donghae mengangguk.

Ririn melirik tangan Donghae yang berotot. Diantara rasa takut yang mengguncangkan dirinya, Ririn masih mencoba mencuri-curi pandang pada Donghae yang kemudian meninggalkan ruangan bersama Leeteuk ke belakang.

Pikiran Ririn memang sedang kacau, ia merasa hubungannya dengan Siwon menjadi semakin sulit. Ribut selalu. Ia juga menjadi ketakutan dengan kejadian-kejadian yang menghantuinya, maunya tak percaya, tapi apa daya, semua terasa begitu nyata. Pada sosok Donghae, Ririn sebenarnya hanya mencari sebuah pelarian dari kekalutan pikiran dan perasaannya, ia tak menyadari bahwa hal ini semakin mengacaukan dirinya, dan membuat dirinya menjadi sasaran empuk arwah-arwah yang mengganggunya.

”Ririn-ah…” panggil Siwon. ”Ayo, aku anter pulang!”

”Ntar dulu, aku ke belakang dulu sebentar…”

Di halaman belakang, Ririn melihat Donghae sedang sibuk merapikan peralatan manjatnya sendirian. Didekatinya Donghae.

”Hai!” sapanya.

”Hai…” sapa Donghae sambil tetap fokus membereskan peralatan manjatnya, dan tidak menoleh menatap Ririn sama sekali.

Ririn tersenyum dan berkata. ”Kau, suka sekali manjat ya? Aku juga sebetulnya pingin banget manjat lho, tapi sayang nggak dibolehin…”

”Oh, jinja?!” sahut Donghae sambil melirik dan senyum sekilas, tapi langsung sibuk merapikan carrier-nya lagi. ”Coba aja ikut, sekali dua kali… kalo tertarik daftar. Banyak lagi cewek-cewek yang ikutan manjat, tapi nggak takut lecet?”

”Nggaklah…” Ririn menggeleng. ”Aku bukan tipe cewek yang begitu lagi…”

”Ririn-ah, palliwa! Ayo pulang!” Siwon muncul lagi.

Sebetulna Ririn ingin sekali mendiamkan Siwon, namun melihat Donghae yang menanggapinya seperti angin lalu saja, akhirnya Ririn bangkit dan menyahut. ”Ne ne ne… Donghae-ah, aku pulan dulu ya…”

”Yo! Hati-hati…” sahut Donghae.

Perasaan Ririn terbelah antara sebal pada Siwon yang mengganggunya, dan penasaran kepada Donghae yang cuek.

To Be Continued

akhirnya part 2 berhasil saya selesaikan, hahahaha… terima kasih readersku kemarin yang udah ngasih komen… hehehe… sampe pada nge-skip bagian mantranya… hehehe… bagaimana part 2, apakah sudah mulai seram? kalau belum, mohon maaf lahir batin deh… hehehe, author bener-bener babo soal cerita seram! sebetulnya aku mau shared banyak piku-piku kamar… cuma takut malah kebanyakan gambar daripada cerita… hehehehe… jadi cuma piku kamar mandi Ririn dan Eunhyuk deh…

cerita ini akan sering aku publish, karena udah mau Ramadhan. istilahnya ff pengantar untuk bulan puasa, karena Insya Allah, bulan puasa aku mau bikin FF Stripping… jadi pada baca ya… hehehe, tenang aja FF Strippingnya nggak horror kok! akhir kata, gomawo yg mau baca… saranghae, *deep bow*

Credit : Film + Novel —-> Tusuk Jelangkung

One thought on “The Stab of Jelangkung (Nightmare Has Begin PG-15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s