The Stab of Jelangkung (Bang! PG-15)

OST : Don’t Don (Rekomendasi)


*My Pov*

Perjalanan mencari kuburanku tak terlalu mendapat kesulitan. Aku sengaja memberi kesempatan mereka untuk merasa tenang, dan menang. Dan umumnya, manusia selalu menjadi lengah dan mudah diserang ketika mereka merasa menang. Shindong dan Eunhyuk malah sempat berfoto dengan berbagai gaya dalam pencarian kuburanku. Mereka satu kelompok dengan Haejin dan Donghae. Leeteuk membagi rombongan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin Donghae dan kelompok kedua dipimpin oleh dirinya sendiri.

Kelompok Leeteuk-lah yang kutuntun untuk menemukan kuburanku karena memang Ririn lah yang pertama kali memanggil arwahku dan setan-setan lainnya. Aku sengaja mengarahkan kaki Ririn yang selalu penasaran dan ingin tahu, dan dia tersungkur menyandung batu kuburanku.

*End Of ’My’ Pov*

 

”Leeteuk-ah!”

”Waeyo, Siwon-ah?”

”Ririn! Ririn nggak ada…”

”Hah?!” Leeteuk langsung panik dan mencari. ”Kau cari di sebelah sana, aku cari kesini!” keduanya langsung berpencar dan mencari Ririn.

”Ririn-ah!”

”Ririn-ah, neo eodiya???”

Tapi kemudian, terdengar suara Ririn yang berteriak memanggil nama keduanya. ”SIWON-AH! TEUKIE-AH‼!”

Siwon dan Leeteuk kembali bergabung kemudian mencari sumber suara Ririn, sementara Ririn terus memanggil keduanya. ”SIWON-AH! TEUKIE-AH!”

”SIWON-AH! TEUKIE-AH!”

Siwon dan Leeteuk berlari menerobos semak-semak dan berlari ke arah sumber teriakan Ririn yang tetap memanggil mereka. Tak jauh dari balik semak belukar, Leeteuk dan Siwon melihat Ririn berdiri mematung dengan wajah ketakutan.

”Siwon-ah…” bisiknya ketakutan.

”Jagiya, kenapa? Ada apa? Gwenchana? Kamu ngapain?”

Ririn bergeming, seolah tak dapat bergerak, wajahnya pucat. Sesuatu seperti menahan kakinya untuk tidak bergerak.

”I… ini… Siwon-ah… Teukie-ah…” Ririn menunjuk ke bawah dengan jari dan matanya. ”Harus diapain ini?”

Siwon dan Leeteuk mengikuti telunjuk Ririn dan keduanya terdiam. Di kaki Ririn, tampak sebuah kuburan tua dengan boneka jelangkung tertancap di atasnya. Semak dan ilalang membuat kuburan itu tidak terlihat dengan jelas. Leeteuk dan Siwon menjadi tegang. Mereka memerhatikan sekeliling dengan was-was. Perasaan mereka membayangkan sesuatu yang mengerikan akan menimpa mereka seperti yang sering dikatkan Shindong.

”Ini kuburan yang kita cari, Siwon-ah…” bisik Leeteuk.

”Ne…” Siwon mengangguk.

Ririn nampak lebih ketakutan lagi. Ia merasa setan sengaja membuatnya menginjak dan menyandung kuburan tersebut. ”Siwon-ah… aku musti gimana nih?”

”Tenang… tenang…” Siwon berjalan perlahan-lahan ke arah Ririn, kemudian diraihnya tangan Ririn yang terulur, dan langsung meraih Ririn ke dalam pelukannya. Ririn meringkuk ketakutan. ”Teukie-ah, gimana?”

Leeteuk menghela napas, dan melepaskan ranselnya. ”Kau tunggu disitu, Siwon-ah! Biar aku yang mencabut boneka jelangkungnya…”

Leeteuk menatap dengan gamang boneka jelangkung yang tertancap di tanah kuburan. Boneka itu tampak angker dan menyeramkan. Ada kekuatan yang terpancar dari boneka itu. Batok kelapa yang dihiasi rambut dari benang wol dan serabut kelapa tampak berkibar-kibar diterpa angin yang tiba-tiba menderu kencang. Baju compang-camping yang melekat pada boneka itu pun ikut berkibar-kibar. Sepintas boneka itu mirip orang-orangan sawah dalam ukuran yang jauh lebih kecil.

Leeteuk mendekati kuburan dengan langkah perlahan. Angin mengacak-acak rambut merahnya yang gondrong, menerpa mata dan hidungnya sendiri. Leeteuk tidak memperdulikannya, dia terus berjalan menuju kuburan. Langkahnya berhenti ketika mendengar kresek-kresek dari balik semak-semak. Ia menunggu. Siwon dan Ririn mematung, tak berani bergerak. Hanya mata mereka yang berani bergerak, ke arah semak belukar. Tapi sampai beberapa detik kemudian, tidak ada apa pun yang muncul dari semak itu. Leeteuk pun memantapkan langkahnya dan sampai di depan boneka jelangkung.

Leeteuk berjongkok. ”Tuhan…”

”Hati-hati, Teukie-ah…” Siwon mengingatkan.

Leeteuk tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan tangannya mulai bergerak menggapai boneka jelangkung. Dengan satu tarikan napas, Leeteuk mencengkram boneka jelangkung itu, ia  menahan napas dan memejamkan matanya sesaat, menunggu serangan. Ririn semakin membenamkan diri dibalik pelukan Siwon, Siwon menatap Leeteuk tegang.

”Tuhan…” ucap Leeteuk sekali lagi seraya mencabut boneka jelangkung itu. Dan PLONG! Boneka jelangkung itu terangkat.

Leeteuk, Siwon, dan Ririn masih menunggu datangnya sesuatu, tapi hanya angin semilir yang datang. Setelah beberapa lama menahan napas, akhirnya mereka mengembuskan napas lega.

”Aigooo! Kukira akan terjadi sesuatu…” sahut Ririn lega.

Siwon membantunya berdiri. Leeteuk tersenyum cerah. ”Begini doang? Kukira akan gimana… bikin jantungan aja!”

”Iya, serem banget…” tambah Leeteuk.

”Udah deh nggak usah lama-lama disini. Yang penting tugas kita sekarang udah selesai! Aku sudah malas sekali berurusan dengan makhluk bukan manusia ini! Ayo pulang!” ajak Siwon.

”Oke, ayo pulang!”

Ketiga anak muda itu berbalik arah dan melangkah menuju batas desa Pyounggu. Mereka berjalan cepat meninggalkan kuburan tersebut.

”Sekarang jam berapa?” tanya Siwon.

”Baru jam tiga,” Leeteuk melihat jam tangannya. ”Kita harus balik ke gubuk jam empat. Mudah-mudahan nggak ada apa-apa juga sama Donghae, Haejin, Shindong, dan Eunhyuk.” Harap Leeteuk.

”Nggak, nggak ada apa-apa…” Ririn mengangguk yakin. ”Kan kita udah berhasil nyabut boneka jelangkungnya…” wajah Ririn sudah mulai berwarna.

”Iya, aku harap juga begitu.” Sahut Siwon.

 

*My Pov*

Kubiarkan mereka mencabut boneka jelangkung yang sudah sekitar dua tahun tertancap di kuburanku. Kubiarkan mereka merasa menang, terutama Leeteuk yang mempunyai dendam pribadi terhadap boneka jelangkung ini. Ya, dia begitu membenci boneka yang telah merenggut nyawa sahabatnya, Heechul.

Seharusnya Heechul tidak harus mati ditanganku! Hanya saja, Kyuhyun, salah seorang sahabat Heechul yang lain bermain jelangkung ketika mereka sedang berkemah di Pyounggu, dan menancapkan boneka jelangkung tersebut ke kuburanku. Ini kesempatan emas bagiku. Kupanggil arwah dukun Park Jin Young yang dulu telah membunuhku, dan kemudian dia merasuki tubuh Heechul, dan menghabisi Chaeri, kekasih Heechul yang juga ikut, seperti cara Dukun Park Jin Young membunuhku dulu.

Kemudian Kyuhyun kuhabisi di dekat kuburanku, hampir bersamaan dengan Kangin yang sebetulnya tidak tahu menahu mengenai hal ini. Dan sekarang, takdir membawa Leeteuk kepada boneka jelangkung tersebut.

Leeteuk menenteng boneka jelangkung itu dengan perasaan menang, sesuai dengan yang kurencanakan. Para setan sepertiku memang sangat ahli dalam perencanaan sehingga manusia tidak pernah menyadari bahwa setan berperan begitu banyak dalam hidup mereka-mereka yang lemah dan terjebak dari kuburan-kuburan angker seperti kuburanku.

Kuburanku adalah kuburan tanpa nisan. Boneka jelangkung itu menjadi pengganti nisan kuburanku selama bertahun-tahun. Aku senang melihatnya, karena seharusnya sebuah kuburan memang memiliki nisan. Tapi itulah kuburanku. Kuburan yang telah menelan empat jiwa yang diliputi kesombongan seolah-olah manusia saking berakalnya bisa bertindak semena-mena.

Nyawa Heechul, Chaeri, Kyuhyun, dan Kangin sudah menjadi bukti. Dan nyawa siapa berikutnya??? Nampaknya cukup sedap memberi pelajaran Leeteuk, Siwon, Ririn, Donghae, Haejin, Shindong, dan Eunhyuk terkubur bersama.

 

*Ruang Tengah Rumah Siwon*

 

”Akhirnya… kelar juga tugas kita… lega banget deh sekarang…” Haejin langsung mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah rumah Siwon.

Ririn ikut duduk di sebelahnya. ”Iya sih… tapi aku penasaran juga, Hostes Bunting itu wujudnya kayak apa ya?”

”Mau kau?! Jangan mulai lagi deh, Ririn-ah! Main-main kau itu sudah kelewatan tau?!” sahut Shindong pedas.

”Suka nggak kapok deh, Ririn-ah…” kecam Haejin.

Wajah Ririn memang sudah berwarna, dia hanya tersenyum menggoda. Keberanian dan keisengannya sudah mulai pulih. Eunhyuk yang penakut dan kerap tidak punya pendirian, juga langsung ikut-ikutan berani. Ia bangkit dan mengambil boneka perempuan yang dipajang di lemari Eomma-nya Siwon, lalu balik lagi dan mengambil boneka jelangkung yang tergeletak di meja.

”Yah! Eunhyuk-ah… kau mau apa?! Udah deh jangan ikut-ikutan aneh!” seru Shindong yang nampak masih kapok.

Seakan tidak peduli, Eunhyuk mulai memainkan kedua boneka tersebut seperti seorang dalang. ”Kita nggak usah ketemu lagi deh!” Eunhyuk menggerakan boneka cewek itu. Lalu mendekatkan boneka jelangkung dan merubah suaranya menjadi berat. ”Maksud kamu?!

Ririn tertawa-tawa melihat Eunhyuk mendalang dengan boneka jelangkung dan boneka perempuan itu. Haejin memerhatikan sambil geleng-geleng kepala tak senang. ”Eunhyuk-ah, kau jangan main-main begituan deh! Ntar kalau ada apa-apa, kau yang paling ketakutan!” kecam Haejin.

”Ha ha ha… Eunhyuk-ah, lucu! Lagi dong mainnya…” kata Ririn yang malah girang banget.

”Ririn-ah, keumanhae… suka nggak kapok deh kamu!” ujar Siwon gerah.

”Udah deh, kalian semua… jangan pada takabur dulu kenapa?! Kalian emangnya siap kalau digangguin lagi?!” Haejin mengingatkan.

Eunhyuk akhirnya nurut, dan meletakkan kedua boneka tersebut di atas meja lagi sambil tersenyum penuh harap pada Haejin. Haejin cuek, kembali bersandar untuk melepas lelah.

”Yuk pulang! Capek banget nih! Perlu tidur…” ajak Shindong sambil merapikan tasnya.

”Yuk!” Eunhyuk ikut berdiri.

”Ayo, Jagiya… aku anter kamu…” Siwon juga mengambil kunci mobilnya.

Ririn mengangguk dengan patuh. Bagaimana pun juga Siwon adalah kekasihnya, dan Siwon ternyata amat sangat menyayanginya. Donghae sudah pulang terlebih dahulu, ketika mereka baru saja sampai.

Haejin hendak ke pintu ketika Eunhyuk berkata, ”Haejin-ah, kau pulang bersamaku saja ya… kan kita searah.”

”Ya, terserah kau saja.”

”Trus kita mampir ke studio foto dulu ya, cetak foto-foto tadi…”

Haejin cuma mengangguk. Mereka berpisah, Shindong ikut mobil Siwon, karena kosannya searah dengan rumah Ririn. Sementara Haejin ikut mobil Eunhyuk. Begitu ruang tengah kosong, tidak mereka sadari sama sekali jika boneka jelangkung yang tergeletak di meja tersebut bergerak-gerak. Sekalipun Leeteuk yang sudah tertidur pulas di kamarnya.

Peperangan masih berlanjut.

 

*Basement Mall*

Haejin dan Eunhyuk baru saja keluar dari sebuah mall setelah selesai mencuci foto-foto yang mereka ambil ketika berada di desa Pyounggu. Sekarang keduanya sedang di basement untuk pulang sambil melihat-lihat foto.

”Eh, lihat nih, Shindong… Shindong… he he he, gayanya nggak nahan!” Eunhyuk menunjuk foto.

”Wooo! Kau meledek Shindong, kau dan Shindong itu sama tau!” Haejin tertawa menanggapi Eunhyuk, dan membalik fotonya lagi.

”Haejin-ah, bagi sebagian doooong…” Eunhyuk mengulurkan tangannya.

Haejin memberikan setengah dari foto-foto yang sudah mereka cetak, kembali keduanya berjalan menuju mobil. Masih sambil tertawa-tawa mengomentari gambar-gambar yang mereka ambil.

”Iiih, liat deh nih si Shindong…”

Tapi kemudian Haejin berhenti, dan wajahnya mendadak tegang menatap foto yang ada di depannya.

”Kenapa, Haejin-ah?”

”Eunhyuk-ah…” kata Haejin pelan dan dalam. ”Ini… ini… ini foto siapa?” Haejin menunjuk.

Eunhyuk melihat foto tersebut. Foto mereka berdua, Haejin dan Eunhyuk, namun di belakang mereka sesosok wanita berambut panjang, hamil. Hostes Bunting! Eunhyuk langsung menatap Haejin.

”Haejin-ah… kita kan… kita kan… cuma foto berdua…”

Haejin mengangguk. ”Keurae! Kita cuma foto berdua! Lalu, lalu… perempuan ini… perempuan ini… siapa dong?!”

”Ke mobil, sekarang juga!” teriak Eunhyuk. Keduanya kemudian berlari ke arah mobil Eunhyuk. Eunhyuk membuka alarmnya, dan keduanya langsung masuk. ”Haejin-ah…” Eunhyuk memundurkan mobilnya dengan tajam, hingga berbunyi berdecit. ”Perempuan itu… jangan-jangan… jangan-jangan perempuan itu yang namanya Hostes Bunting!”

Haejin menggigit bibirnya. ”Eunhyuk-ah, lalu… lalu maksudnya apa dong? Kita kan udah cabut boneka jelangkungnya…”

”Jangan-jangan hantu itu masih ngikutin kita…”

”Ah jangan ngaco!”

Eunhyuk menekan pedal gas kencang-kencang dan mobil melaju kencang di basement yang nampak sepi. Sampai kemudian sesosok wanita bergaun putih jatuh di hadapan mereka.

”AAAAAARRRGGGHH!” teriak Haejin dan Eunhyuk kompak.

Tak ada tabrakan yang terjadi, keduanya kompak membuka mata dan memandang ke depan. Mata mereka membelalak ngeri, Hostes Bunting melayang-layang di hadapan mereka.

Haejin kemudian menarik kerah baju Eunhyuk, dan mengguncangnya keras-keras, sambil menjerit-jerit memandang Hostes Bunting yang melayang-layang di depan mereka, kakinya mengeluarkan darah.

”Eunhyuk, gas! Gas! Buruaaaaaaan‼! Eunhyuk-ah, gas!”

Eunhyuk hanya bisa terpana dan terperangah melihat Hostes Bunting yang menatap mereka penuh kebencian.

”EUNHYUK-AH, GAAAAAAS! GAAAAAAS BURUAAAAAAN!” Haejin kembali  menjerit sambil menarik-narik kerah baju Eunhyuk.

Eunhyuk masih gemetaran, tidak dapat bergerak.

”JEBAL, LEE HYUKJAE! GAAAAAAAS!”

Akhirnya Eunhyuk tersadar dari keterkesimaannya, dia memundurkan mobilnya jauh, dan menatap Hostes Bunting yang masih melayang di tempat yang sama. Haejin menutup wajahnya ketakutan, ketika Eunhyuk memindahkan persneling, dan menginjak pedal gas kencang-kencang.

Hostes Bunting itu menghilang begitu saja, tanpa ditabrak sedikitpun oleh mobil yang ditumpangi Eunhyuk dan Haejin.

 

*Rumah Ririn*

Ririn yang sedang mandi di dalam bak yang penuh dengan busa dan air hangat. Dia merilekskan pikirannya yang beberapa saat ini selalu tegang. Ririn nampak senang berendam air hangat tanpa kekhawatiran.

Ririn mengusapkan tangannya dengan sabun, kemudian ketika hendak bersandar di dinding bathub, dirasakannya sebuah tangan berurat hijau muncul, dan perlahan dengan amat perlahan menyentuhnya. Ririn terkesiap kaget, dia langsung duduk tegak, gemetaran. Tangannya meraih ke belakang, tidak ada apa-apa… namun kemudian tangan itu kembali menyentuh punggungnya. Air mata Ririn tumpah, dia hanya bisa gemetaran ketika tangan di belakangnya bergerak di punggungnya.

Ririn masih tidak dapat bergerak, ketika kemudian sosok anak kecil itu muncul tepat di belakang punggungnya, di dalam bak mandinya.

 

*Kosan Shindong*

Shindong mengeluarkan barang-barangnya, dan menyalakan musik untuk menemaninya tidur malam ini. Dia sungguh senang, temannya baru saja mengirimkan koleksi majalah Playboy, dan dia akan membacanya disaat suasana terror sudah hilang.

Baru saja Shindong membuka lembar pertama majalah dewasa tersebut, terdengar garukan dari dalam lemarinya lagi. Shindong kaget, langsung meletakkan kembali majalah tersebut di kasurnya, dan kemudian berdiri menghampiri lemarinya.

Suara garukan semakin terdengar, dan Shindong dengan tangan gemetaran meraih pegangan lemari. Setelah menarik napas dalam-dalam, Shindong membuka pintu lemarinya, namun betapa terkejutnya dia melihat Hostes Bunting sedang menggaruk-garuk lemarinya.

 

*Rumah Siwon*

Siwon dan Leeteuk sedang duduk santai bersama di ruang tengah sambil menonton We Got Married di MBC, ketika telepon berdering. Melihat Siwon yang nampak malas mengangkat telepon, maka Leeteuk berdiri dan menghampiri telepon yang terletak di meja di sudut ruangan.

Leeteuk mengangkatnya. ”Yeoboseyo.”

Tidak ada jawaban, hanya ada Fur Elise yang mengalun dengan menyeramkan, Leeteuk heran. ”Nuguseyo?” tanyanya. Tak ada jawaban, hanya lagu Fur Elise yang berbunyi dari sebuah piano. Leeteuk buru-buru mematikan teleponnya, dan hendak kembali duduk, ketika telepon kembali berdering.

Leeteuk kembali mengangkatnya, dan lagu Fur Elise dari piano kembali berkumandang. Leeteuk nampak pucat, Siwon menghampirinya dengan pandangan bertanya, namun wajah Leeteuk sendiri sepertinya sudah merupakan jawaban, maka Siwon menekan tombol pengeras suara di telepon, dan Fur Elise terdengar.

Siwon dan Leeteuk saling pandang ketakutan.

”Ada yang nggak beres nih!” kata Leeteuk. ”Kau coba hubungi teman-temanmu yang lain! Kita kumpul sekarang juga, ke Soo Man Haraboji!”

Siwon mengangguk dan langsung mengambil ponselnya di kamar.

Tak lama kemudian, meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Eunhyuk, Haejin, Shindong, Ririn, dan Donghae semua hadir di rumah Siwon. Semuanya nampak pucat dengan ketakutan.

”Kita semua masih diganggu kayaknya…” Leeteuk tanpa perlu bertanya, begitu melihat ekspresi kelima anggota yang hadir.

”Donghae-ah, apa setan itu tidak mengganggumu?” tanya Siwon.

Donghae menjawab. ”Awalnya tidak, tapi begitu menerima telepon dari Leeteuk, aku kesini naik motor. Ada yang menumpangi motorku di jalan, begitu kulihat… anak kecil botak.” Donghae menjawab begitu datar, meski nampak pucat.

”Kita harus ke Soo Man Haraboji!” seru Eunhyuk. ”Aku tidak mau diganggu seperti tadi!” Haejin mengangguk ketakutan. Wajah Ririn juga nampak lelah, seperti orang mau pingsan.

”Ya udah kita kesana sekarang!”

Akhirnya mereka langsung pergi ke rumah Soo Man Haraboji pada saat itu juga. Begitu bertemu dengan Soo Man Haraboji, mereka langsung menjelaskan apa yang terjadi pada mereka, tidak lupa dengan menyerahkan boneka jelangkung yang mereka bawa.

”Jadi, kalian masih diganggu juga setelah mencopot boneka jelangkung itu dari kuburannya?!” Soo Man Haraboji nampak kaget. ”Kalau begitu, masih ada yang belum beres! Masih ada yang belum selesai disini…” matanya menerawang, dan kembali membakar kemenyan di atas dupa-dupanya, dan membaca asap-asap yang menguar dari dupa-dupa tersebut. Suasana mistis yang tadinya sudah sempat hilang, kini muncul lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

”Jadi, apa lagi yang harus kami lakukan, Haraboji?” tanya Ririn.

”Diam! Saya belum selesai berbicara!” bentak Soo Man Haraboji.

Ririn tersentak, Siwon dan Haejin hanya bisa menenangkannya. Sementara Soo Man Haraboji masih terus berusaha membakar lebih banyak dupa, yang membuat semua terbatuk-batuk.

”Saya akan menggunakan boneka jelangkung ini untuk memanggil arwah bocah itu. Jika nanti arwah bocah itu sudah merasuki tubuh saya,saya minta satu-dua orang dari kalian untuk menanyakan apa yang ingin kalian ketahui. Jangan takut! Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kalian!”

Soo Man Haraboji meraih dan memegang boneka jelangkung yang tergeletak di dekat dupa, lalu mencipratinya dengan air kembang dalam bokor. Mulutnya komat-kamit mengucapkan mantera. Tak berapa lama setelah Soo Man Haraboji mengucapkan manteranya kepala Soo Man Haraboji tiba-tiba saja mendongak ke atas dan melihat sekelilingnya. Ririn dan Haejin menekap mulut mereka, menahan jeritan yang akan keluar sementara Siwon memblokir pandangan keduanya agar tidak melihat apa yang terjadi.

”Haraboji! Soo Man Haraboji!” panggil Leeteuk. Tapi Soo Man Haraboji sama sekali tidak menjawab. Wajahnya kaku dan sangar, ia bahkan tidak menoleh sedikitpun kepada Leeteuk.

”Nuguseyo?!” bentak Donghae kepada Soo Man Haraboji, karena menyadari bahwa yang ada dihadapannya kini adalah makhluk lain, bukan Soo Man Haraboji.

Mendengar pertanyaan Donghae, langsung saja Soo Man Haraboji mengambil arang yang membara diantara dupa-dupa dengan tangan telanjang. Siwon mendorong Ririn dan Haejin mundur. Eunhyuk memeluk Haejin dari belakang, kali ini Haejin tidak memberontak, dia juga ketakutan.

JONGHYUN. Tulis Soo Man Haraboji di tembok rumahnya.

”Darimana asalmu?!” tanya Leeteuk menyambung pertanyaan Donghae barusan.

PYOUNGGU. Tulis Soo Man Haraboji lagi, sementara Ririn, Haejin, Eunhyuk, dan Shindong semakin ketakutan. Siwon sambil memeluk Ririn menatap ke depan terus, berusaha tenang.

”Kamu matinya kenapa?!” tanya Donghae lagi.

DIBACOK.

Hening, Soo Man Haraboji mematung di depan tembok, kaku. Leeteuk dan Donghae nampak memikirkan pertanyaan selanjutnya untuk Soo Man Haraboji. Tiba-tiba seperti tak sabar menunggu, Soo Man Haraboji kembali menulis di dinding dengan gerakan cepat, dan tidak terkontrol.

JINKI. JINKI. JINKI.

Ririn memeluk Siwon erat-erat, sementara Siwon balas memeluknya, mencoba menenangkan, meski dia juga ketakutan. Dibelakang Siwon, meringkung Haejin, Eunhyuk, dan Shindong yang berpelukan bertiga.

”Jinki itu siapa?!” tanya Donghae.

Soo Man Haraboji terus menulis nama Jinki dengan gerakan tidak terkontrol. Akhirnya Donghae kembali bertanya. ”Jinki itu saudaramu?!” namun gerakan Soo Man Haraboji semakin tidak terkontrol. Tubuhnya ambruk, namun langsung ditopang oleh Donghae dan Leeteuk.

MYUNGSHIDAE tertulis di dinding.

Leeteuk langsung saja memberikan segelas air putih kepada Soo Man Haraboji, sementara Ririn sudah berani melepaskan pelukannya, begitu pula dengan Shindong, hanya Eunhyuk yang masih memeluk erat perut Haejin, meski wajahnya sudah diangkat, Haejin melepaskan tangan Eunhyuk, semuanya langsung mengitari Soo Man Haraboji lagi. Soo Man Haraboji kemudian bangkit dan membaca semua tulisan yang ada disitu.

”Jinki adalah kembaran Jonghyun yang masih hidup!” katanya begitu dia kembali duduk. ”Jinki tinggal di Myungshidae. Dia adalah kunci keselamatan kalian! Kalian harus menemui dia! Saat yang paling tepat untuk membebaskannya adalah di hari lahir, tanggal, dan shio Jonghyun yang jatuh pada tiga hari ini! Kalian sangat beruntung!”

”Kenapa kami dibilang beruntung, Haraboji?” tanya Donghae.

”Karena hari lahir, tanggal, dan shio Jonghyun itu jatuhnya tiga puluh sembilan tahun sekali!”

”Haaaahhh???” Eunhyuk melongo.

”Maksudnya apa tuh, Haraboji?” tanya Shindong.

”Kalian harus membebaskan Jonghyun dalam waktu tiga hari ini, atau… kalian akan terus di hantui selama tiga puluh sembilan tahun!”

”Mwo?!” teriak mereka bertujuh.

”Jadi maksud Haraboji, kalau kita gagal, hidup kita akan terus dihantui sama Jonghyun itu selama tiga puluh sembilan tahun?!” tanya Ririn ketakutan.

”Cepat! Bawa Jelangkung ini kepada Jinki! Jangan sampai terlambat!”

”Jinki?!”

”Iya, Jinki di Myungshidae! Sekarang!”

To Be Continued

yeeeeeeyyyy!!! The Stab of Jelangkung : Bang! akhirnya berhasil saya selesaikan… wkwkwkwkwk… bagaimana apakah menakutkan?? wkwkwkwk, FYI saya nulisnya gelap-gelapan, wkwkwkwk… semoga semuanya pada suka ya…

oh ya FYI juga, Hostes Bunting, itu memang ada pure! bukan karangan aku belaka… hehehe, suka muncul di daerah Jeruk Purut. hohoho… dan untuk part berikutnya akan saya publish pas Maghrib nanti, Insya Allah… ditunggu ya chingu…

FB : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : nisya910716

YM : nisya_siregar

 

kamsahamnida, saranghae… *deep bow*

credit : Novel + Film —–> Tusuk Jelangkung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s