Stuck On You ~Part 2~

”Jagi…”

”Hmm?”

”Ke dokter yuk…”

Haejin yang sedang mengikir kukunya di atas tempat tidur langsung menoleh ke arah Donghae yang sedang bersandar di papan tempat tidur mereka.

”Oppa sakit?” tanya Haejin khawatir, dan langsung meraba kening Donghae. ”Apa yang sakit, Oppa?”

Donghae menggeleng. ”Nggak, aku nggak sakit…” dia menggaruk kepalanya. Kemudian menatap Haejin, ”Tapi kita kan harus cek kesehatan kita, Jagiya…”

Dahi Haejin mengerut. ”Maksudnya?”

”Maksudnya…” Donghae menghela napas dalam-dalam. ”Jagi, kau ingat tidak kita sudah berapa lama menikah?”

Alis Haejin semakin mengerut. ”Oppa ini ngomongin apa sih? Cek kesehatan, sama berapa usia kita menikah?”

”Ne…” sahut Donghae polos.

”Kita menikah sudah dua tahun,” sahut Haejin.

Donghae mengangguk bersemangat. ”Justru itu kenapa kita harus periksa…”

”Ya kenapa? Apa hubungannya?”

Donghae menghela napas dalam-dalam dan berusaha mengumpulkan kata-kata yang tepat. ”Tapi kau jangan marah?!” tanya Donghae panik.

”He??” Haejin mengernyit.

”Kan kita sudah dua tahun menikah…” kata Donghae pelan sambil menggenggam tangan Haejin, Haejin mengangguk. ”Tapi…”

”Tapi?”

Wajah Donghae sudah memerah. ”Sepertinya sudah… sudah waktunya… kita punya…”

”Punya?” tanya Haejin masih tidak nyambung.

”Punya aegi…” Donghae menunduk malu. Wajah Haejin memerah, Donghae kemudian mendongak. ”Jagiya… kita kan… sudah berusaha… kita bahkan tidak pernah menggunakan yang namanya alat pengaman, baik dariku, maupun darimu…” jelas Donghae panjang lebar. ”Tapi… kenapa kita belum bisa punya bayi?”

Haejin terus mengerjap-ngerjapkan matanya.

”Makanya aku mengajakmu periksa, supaya kita diberikan obat penyubur…”

Haejin tertawa terbahak-bahak.

”Malah ketawa…” ujar Donghae sambil manyun.

”Ya, Oppa… umur kita masih sama-sama muda, kenapa seperti terburu-buru, kita masih punya waktu panjang untuk berusaha…”

Donghae menggeleng, ”Aku mau punya anak…”

”Nado…” Haejin mengangguk-angguk. ”Kita selama ini kan selalu berusaha, tapi memang Tuhan belum memberikan mau bagaimana lagi? Kalau sudah tiba waktunya juga nanti aku hamil, Oppa…”

”Ayolah, Haejin-ah…” Donghae merengek-rengek. ”Kita harus ke dokter untuk membeli penyubur…”

”Memangnya rahimku itu rambut?!” tanya Haejin heran. ”Oppa,” Haejin meletakkan kikir kukunya, dan beringsut mendekat ke arah Donghae, kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Donghae, dan menatap mata Donghae lekat-lekat. ”Sepulang dari LA… aaah! Arasseo…” wajah Haejin sumringah.

Donghae mengernyit, ”Wae?”

”Aboji… apakah Aboji mau punya cucu? Makanya Oppa bersemangat sekali? Jinja?!” wajah Haejin berbinar-binar sekali. ”Jinja???” bahkan air mata bahagia menggenang di matanya.

”Ya, kenapa menangis?” tanya Donghae langsung mengusap air mata yang belum sempat jatuh itu.

Haejin tersenyum. ”Kukira Aboji tidak pernah suka dan mau menerimaku…” dia nampak bahagia. ”Jadi Aboji meminta Oppa kesana karena dia mau punya cucu? Aish, jinjaaa…”

Donghae terdiam, dia tidak akan pernah tega mengatakan hal yang sebenarnya kepada Haejin, dia tersenyum pahit saja, tidak mengiyakan maupun menyanggah.

”Keurom, daripada beli penyubur lebih baik kita pergiat usaha kita…”

”Tetap saja, memang selama ini kita tidak giat?!” tanya Donghae heran.

”Ya kurang giat lah, Oppa…” Haejin geleng-geleng penuh semangat, mengingat dia ternyata sudah diterima oleh mertuanya, mertua satu-satunya. ”Coba kau ingat-ingat berapa frekuensi usaha kita dalam sebulan?”

Donghae mengernyit, dan berusaha mengkalkulasi. ”Yang jelas potong seminggu, karena masa haidmu… berarti sisa tiga minggu… tiga minggu itu… ya sekitar enam kali lah…”

”Sebulan enam kali…” Haejin entah malah menghitung-hitung dalam kepalanya. ”Haduh, aku tidak bisa berhitung diluar kepala…” *author betul-betul jujur* ”Begini saja, kita baca buku tips, resep-resep tradisional, dan minta saran orang yang lebih dewasa saja…” usul Haejin.

”Lebih dewasa? Misalnya?”

Wajah Haejin blank.

”Ya, kita kan sama-sama anak tunggal! Aku tidak mungkin tanya Appa, begitu pula denganmu… sudahlah lebih baik kita ke dokter!”

”Ani! Kita harus usaha sendiri…”

”Bagaimana?”

”Ya bagaimana lagi? Hamili aku, itu kan tugasmu, Oppa! Aku cuma menampung…”

”Aish, jinja…” Donghae langsung melakukan ’pekerjaannya’.

 

*           *           *

”Yichen, kau yakin akan terus melakukan hal ini?”

Gadis itu mengangguk dengan wajah sinis a la orang-orang berada. ”Aku sudah jauh-jauh datang dari Taiwan, tidak mungkin juga berhenti sampai disini. Lagipula aku sudah lihat istrinya Dong Hai… tidak begitu cantik!” dia menjentikkan jarinya.

”Jinjayo?” tanya pria di depannya.

”Ya, kau meragukan mataku? Mata Dong Hai benar-benar telah buta!” ujar gadis itu sadis. ”Tidak bisa membedakan mana Kucing Persia, dan mana Kucing Lokal…”

”Sejelek itukah istrinya Dong Hai?”

Gadis itu meraih kaca, dan memeriksa pantulan wajahnya. ”Keurom… gadis itu gadis kampung, Zhi Xu… tidak cantik, tidak menarik… bahkan aku sudah melihat latar belakangnya. Gadis miskin, dengan latar belakang keluarga menyedihkan… ditinggal ayahnya pergi, dingin terhadap pria… dan malah jatuh pada pelukan Dong Hai yang kaya raya…”

”Maksudmu gadis itu materialistis?”

”Apalagi?” tanya gadis angkuh itu sambil tersenyum. ”Dan bodohnya Dong Hai, dia terlalu cinta pada gadis itu… dan sekarang, aku akan melaksanakan rencanaku.”

Zhi Xu geleng-geleng. ”Lin Yichen, aku heran padamu… kalau memang gadis yang kau bicarakan itu seburuk itu, tidak mungkin Dong Hai bertahan padanya. Dan lagipula, bagaimana caramu mendekati Dong Hai jika Dong Hai sendiri tidak mengingatmu, dan sangat mencintai istrinya?”

”Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin,” lanjut Yichen. ”Aku tidak segan melakukan apa saja, demi memisahkan dua orang itu…”

”Eh, Yichen, kau bilang siapa nama Koreamu?”

”Sunhee… Kim Sunhee…”

”Ah, Kim Sunhee… kenapa kau tidak bilang saja pada Dong Hai kalau namamu Lin Yichen?”

”Aku hanya mau dia mengingat wajahku…”

”Aish! Ya sudahlah, terserah saja padamu…”

 

*           *           *

”Ige mwoya?” tanya Kyuhyun memegang sebuah kertas, wajahnya berubah gelap masam.

Eunsoo, Ketua Jurusan Ekonomi di kampus menjelaskan. ”Ini, adalah peraturan yang dibuat oleh Rektorat.”

”Aish! Lomba drama?!” lengking Kyuhyun.

”Ne, lomba drama…”

”Kita anak Ekonomi, bukan anak teater!”

Eunsoo mengernyit, ”Kenapa kau marah padaku? Marah pada rektor sana… yang jelas ini perintah dari Dekan, aku hanya diminta menyampaikan…” Eunsoo memberikan kertas kepada Eunhyuk, Donghae, dan Ryeowook. ”Ini buat kalian, perannya ada di dalam…”

”Serius nih kita main teater?” tanya Kyu miris.

”Ck!” decak Eunsoo tak sabar. ”Iya serius! Udah jangan nanya lagi ah, pusing! Baca aja peranmu apa disitu, yang pasti nanti pulang kuliah kita ditunggu Dekan untuk latihan!”

Donghae membuka kertasnya dan melihat namanya sebagai peran Romeo. ”YA! PARK EUNSOO!”

Eunsoo menoleh, ”Apa lagi? Aku sibuk, nih…”

”Maksudmu aku jadi Romeo apa ini?!” pekik Donghae.

”Ya kau jadi Romeo, memang apa lagi?”

”Lalu siapa yang jadi Julietnya?” Ryeowook heran.

Eunsoo membuka kertas yang dipegang olehnya. ”Dekan menyarankan Kim Sunhee, karena dia adalah mahasiswi transfer, jadi dia butuh beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya…”

”ANDWE‼!” teriak Donghae. ”Apa-apaan?! Aku sudah menikah, aku bukan pria single lagi, dan aku tidak mau dekat-dekat cewek genit itu…”

”Bilang sama dekan, jangan denganku…” Eunsoo berlalu.

”Eunsoo!” teriak Donghae, tapi Eunsoo melenggang keluar ruangan.

Akhirnya dengan wajah masam terpaksa Donghae menelan kekesalannya, apalagi ketika gadis bernama Sunhee itu sepertinya sudah mengetahui bahwa dia yang akan berperan sebagai seorang Juliet.

”Kurasa dia sudah tahu kalau dia yang akan menjadi Juliet,” gumam Kyuhyun sambil geleng-geleng di mejanya.

Ryeowook menepuk bahu Donghae. ”Dia sepertinya bukan gadis biasa, padahal dia sudah tahu kau sudah menikah. Donghae-ya… ingat dulu ketika SMA, waktu Haejin cemburu…”

”Kau harus hati-hati…” pesan Eunhyuk sambil manggut-manggut.

Terpaksa mereka berkumpul di ruang sekretariat Fakultas Ekonomi untuk membicarakan masalah pertunjukan teater tersebut. Dan yang lebih parahnya, dekan mereka, Pak Park merupakan orang yang sangat tegas, sehingga tidak ada yang berani melawan perintahnya, bahkan protes Donghae pun terpaksa ditelannya lagi, dan Donghae benar-benar frustasi.

Ketika Donghae memutuskan ke toilet untuk menyegarkan pikiran, sekaligus menyegarkan mata dari pemandangan tak mengenakan Kim Sunhee yang selalu memberinya wink yang sama sekali tidak membuat hatinya melintir, justru Sunhee mengikutinya.

”Apa yang kau lakukan?!” Donghae langsung berbalik dan menatap Sunhee dengan pandangan dingin.

Sunhee tetap memasang senyum. ”Dari awal aku masuk, hingga sekarang, kau sepertinya sangat tidak menyukaiku, Lee Donghae… aniya, Dong Hai…”

Donghae mengernyit. ”Neo…” ujarnya pelan.

”Wae? Ketika aku memanggilmu Dong Hai kau baru bisa mengingat siapa aku?” tanya Sunhee sambil tersenyum. ”Ne, aku teman kecilmu… di Taipei, ketika kau menghabiskan musim panas disana… Lin Yichen.”

”Yichen?” tanya Donghae kaget.

”Ne… tak kusangka kau benar-benar berubah seperti ini…” Sunhee terus tersenyum. ”Kau melupakan janjimu…”

”Janji yang mana?”

”Bahwa kau akan menjadi pengantinku,” Sunhee menghela napas dalam-dalam. ”Kenyataannya begitu lulus SMA, kau malah langsung menikah dengan gadis bernama Lee Haejin itu.”

Donghae terkekeh. ”Yichen, kau percaya janji kecil itu? Astaga, itu kan puluhan tahun lalu, dan kita masih sama-sama kecil…”

”Mungkin bagimu begitu, tapi tidak bagiku…” Sunhee terus tersenyum penuh arti.

Donghae menghela napas. ”Gadis kecil yang kukenal dulu sekarang sudah berubah, jadi jangan harap bocah kecil yang dulu kau lihat tetap sama…” dan Donghae pergi dari situ dan masuk ke dalam kamar mandi.

”Aku berubah juga karena keadaan, Lee Donghae!” desis Sunhee.

 

*Sekretariat Fakultas Komunikasi*

”Berhubung sebentar lagi ada acara lomba drama atau teater dalam rangka memperingati hari ulang tahun universitas kita, maka selain drama… divisi Fotografi juga harus mengambil gambar untuk bahan tugas… ini daftarnya… jadi, kalian akan dibagi menjadi dua orang perkelompok untuk masing-masing jurusan yang ada di kampus ini.” Begitu jelas ketua himpunan.

Haejin meraih sebuah kertas dan membacanya, namanya tertera di jurusan Manajemen. Jurusan suaminya, Haejin senang sekali, setidaknya dia punya orang yang dia kenal disana.

”Haejin-ah, kau Manajemen?” tanya Minho sambil membawa SLR-nya dan mendekati Haejin.

Haejin mengangguk, ”Kau dimana?”

”Sama aku juga Manajemen, syukurlah, setidaknya kau temanku…”

”Ne… kita harus mulai meliput kegiatan mereka dari rehearsal sampai pertunjukan, kan?” tanya Haejin sambil membaca kertasnya terus.

”Sepertinya begitu… kalau begitu kita kesana sekarang?” ajak Minho.

”Ne, kaja…”

Haejin dan Minho berjalan menuju ruang sekretarian Fakultas Ekonomi, karena jurusan Manajemen mendapat jadwal untuk latihan hari ini. Baru saja Haejin dan Minho hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, dilihat oleh Haejin dari kejauhan Kim Sunhee sedang berjalan ke arahnya.

”Annyeonghaseyo…” Haejin membungkuk hormat.

Sunhee melirik Haejin dan membungkuk lagi sambil tersenyum dengan pandangan yang sulit di artikan. ”Lee Haejin-ssi?” tanyanya.

”Ne… Sunhee-ssi,” Haejin menjawab.

Sunhee tersenyum dan mendahului Haejin masuk ke dalam ruangan, Minho menahan pintu tersebut, agar Haejin bisa masuk, dan barulah dia masuk ke dalam. Haejin dan Minho masuk, keduanya membungkuk, dan tersenyum, Haejin kemudian menjelaskan maksud kedatangannya kesini.

Haejin duduk di pinggir ruangan bersama Minho, sementara anak-anak jurusan Manajemen yang terlibat dalam drama tersebut, sudah berdiri di tengah-tengah ruangan, termasuk Eunhyuk, Kyuhyun, dan Ryeowook.

”Suamimu mana, Haejin-ah?” tanya Minho.

”Ah, benar…” Haejin mendongak dari kesibukannya memeriksa memori SLR-nya. ”Dimana ya dia?” baru Haejin hendak bertanya pada Ryeowook, Kyuhyun, atau Eunhyuk, pintu terbuka lagi, Donghae masuk.

Haejin tersenyum, tapi sepertinya Donghae tidak melihatnya, pandangannya tetap lurus ke depan. Wajahnya masam, Haejin mengernyit, apa lagi yang terjadi pada suaminya itu sampai-sampai mukanya keruh begitu.

”Keurom, kita akan mulai latihan hari ini…” kata Dosen Im. ”Semua sudah tau perannya kan? Kita akan mencoba untuk berlatih dialog dulu, pemeran Romeo dan Julietnya silakan ke depan…”

Haejin mengangkat kameranya, tapi langsung diturunkannya lagi begitu melihat Donghae dan Sunhee maju ke tengah ruangan. Donghae memunggunginya, tapi Sunhee bisa melihat dengan jelas ke arah Haejin, entah hanya perasaan Haejin saja, sepertinya Sunhee sangat menikmatinya, dia terus melempar senyum ke arah Haejin. Senyuman yang sulit di artikan.

Haejin terus mengangkat kameranya, dan berusaha mengambil foto-foto yang dianggapnya ’hidup’ sementara dialog-dialog di hadapannya membuat panas kupingnya. Terlebih Donghae yang sama sekali tidak tahu ada istrinya di dalam ruangan ini, dan Sunhee yang terus menerus meliriknya.

”Kalau begitu, cukup sampai disini dulu… Donghae-ssi, kau perlu lebih memperdalam interpretasi dialog tersebut, Sunhee-ssi kau sudah bagus… besok baru mulai adegannya dengan gerakan-gerakannya. Kamsahamnida, semuanya… selamat siang…”

Sunhee melewati Haejin sambil melempar senyum yang sangat tidak dapat diartikannya itu, dan belenggang pergi. Barulah Donghae berputar dan mendapati Haejin sedang kebingungan sendiri memegang SLR.

”Haejin-ah…” Donghae menghampirinya.

Haejin menoleh dan tersenyum. ”Halo… Romeo, nih yee…”

”Kau sejak kapan ada disini?” tanya Donghae heran.

”Aigoo, aku dari tadi kalian mulai latihan sudah ada disini!  Bahkan sebelum kau kembali dari kamar mandi, Oppa…”

”Oh…”

”Kalau begitu, Haejin-ah, aku duluan ya…” Minho berdiri sambil tersenyum, lalu dia membungkuk pada Donghae.

”Ne, gomawo, Minho-ya… sampai besok…” Haejin melambaikan tangannya pada Minho. Minho keluar dari dalam ruangan lalu Haejin kembali menatap Donghae. ”Oppa, ayo pulang…”

”Tadi yang namanya Minho?” tanya Donghae.

Haejin mengangguk, ”Ne… itu tadi Choi Minho… ayo pulang!” Haejin menarik tangan Donghae.

 

*           *           *

”Keadaan perusahaanmu semakin tidak menguntungkan, Tuan Lee… jadi kuharap segera ambil keputusan…”

Lee Dongwook langsung menutup sambungan teleponnya ketika sudah selesai melakukan pembicaraan dengan orang yang baru saja meneleponnya tersebut.

”Sajangnim, kita hanya diberi waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan hal ini, apa Sajangnim bisa jamin, kalau Donghae Huijangnim bisa punya anak dalam waktu tiga bulan ini?” tanya sekertarisnya.

Dongwook menghela napas. ”Donghae tidak mungkin melepaskan hal ini begitu saja… dia terlalu menyayangi Ibunya…” ujar Dongwook. ”Sambungkan telepon ke Donghae sekarang!”

 

*Apartemen JinHae, 02.00 AM KST*

Ponsel Donghae berbunyi nyaring sekali, Donghae tersentak kaget di kasur, dan dengan cepat mencari sumber yang membuatnya terbangun. Dia melepaskan pelukan Haejin dan turun dari tempat tidur meraih ponselnya, melihar Caller ID, dan langsung menghela napas.

”Ada apa menelepon jam segini?! Tidak tahukah Appa disini pukul berapa?” tanya Donghae kesal.

”Appa tahu disana pukul berapa, terima kasih. Tapi ada yang lebih penting dari itu, dan kurasa kau tahu apa maksud Appa…”

”Apa mau Appa?”

”Perusahaan sudah di ambang kehancuran, Appa hanya bisa bergantung kepadamu…”

Donghae mengepalkan tangannya.

”Appa tidak pernah bisa memaksamu, tapi Appa meminta bantuanmu… bagaimana? Apakah istrimu sudah hamil?”

Donghae menghela napas. ”Belum…”

”Kalau begitu kau tau opsi kedua, kan?”

”Aku tidak akan pernah mau melakukan opsi kedua‼!”

”Appa tidak memaksa… hanya memberitahumu bahwa kau hanya punya dua pilihan…”

Donghae mematikan ponselnya, dan bersandar di dinding. Kalau bukan karena permintaan Ibunya, dia tidak akan sebingung ini. Ya Tuhan… dia menggelengkan kepalanya dan kembali ke kamar.

 

*Ruang Sekretariat FE – Manajemen*

”Adegan yang paling penting, adalah adegan di Balkon, ketika Romeo memanjat tembok tinggi untuk menemui Juliet…” kata Im Sonsangnim. ”Untuk itu, kita bayangkan saja, sekarang kalian sudah bertemu di atas balkon, dan jalankan adegannya dengan penuh penghayatan…”

Donghae mengernyit, ini yang dia tidak suka, dia menggeleng sedikit lalu bertanya. ”Maksudnya, Sonsangnim?”

”Beradegan layaknya aktor-aktor, masa kau tidak mengerti, Donghae?”

”Jadi maksudnya, seluruh adegan yang dicantumkan di dalam skrip harus aku lakukan, begitu?” tanya Donghae dengan nada kentara sekali tidak senang.

Im Sonsangnim mengangguk.

”Ayo, kita mulai… pertama adegan kiss…”

Sunhee menatap Donghae penuh kemenangan, sementara Donghae menatapnya dengan pandangan dingin.

”Donghae-ssi, anggap saja ini hanya drama, tidak betulan kok… hanya profesionalitas saja…” ujar Im Sonsangnim.

Donghae mengernyit dan kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, dia mengembuskan napasnya keras saking kesalnya.

”Ayo!” dorong Im Sonsangnim. ”Kalian mendekatlah…”

Sunhee dan Donghae sudah saling berhadapan, seluruh kelas menahan napas melihat keduanya. ”Keurae…” bisik Im Sonsangnim. ”Lebih dekat lagi…” bisiknya lagi, agar seluruh kelas senyap dan merasakan aura romantis dari keduanya. ”Lebih dekat lagi… ayo Donghae, mendekat… kau adalah pria, kau yang harus menghampiri gadismu…”

”Sekarang… pegang kedua pipinya dengan kedua tanganmu…”

Donghae menghela napas dalam-dalam kemudian pelan-pelan dia meletakkan kedua tangannya di pipi Sunhee.

”Perlahan…” bisik Im Sonsangnim. ”Dekatkan wajahmu kepada wajahnya… perlahan-lahan…”

Donghae pun mendekatkan wajahnya, Sunhee sudah menutup kedua matanya secara refleks. ”Dan perlahan-lahan, kecup bibirnya…”

Donghae menarik napas dalam-dalam, dan membuka matanya, lalu mengecup pelan bibir Sunhee tanpa perasaan. Tidak ada kehangatan, tidak ada getaran di hatinya, seperti jika ia berciuman dengan istrinya, matanya terbuka, dan ternyata Im Sonsangnim melihatnya.

Pintu berderit terbuka, dan semua menoleh. Haejin terpaku di depan pintu bersama Minho di belakangnya.

To Be Continued

Cukup lama gak publish FF, karena minggu lalu full sibuk banget… tugas iya, makrab kampus iya, dan sekarang udah mulai UTS… jadi FF agak tersendat-sendat… mudah-mudahan part akhir Hyukjae + Jiyoo cepet selesai, amin.

Jangan lupa baca dan komen yaaaa🙂

7 thoughts on “Stuck On You ~Part 2~

  1. waaahh,, kerennnnn..
    apa apaan tu si sunhee dteng dteng upa punya rencana bsuk.. huft
    tpii pas kalimat “hamili aku, itu kn tugas oppa! aku cuma menampung” lucu dah eonn *sambil cengar cengir gaje*
    TBCnya jangan lama lama yahh eonn *puppy eyes*

  2. Iiiihhh sbeeeelllll…. Cewe nyebelin ganggu rmh tangga aj de.. Lgian knp hrs pas adegan itu haejin liatny.. Haejin ah sbar yaa..

  3. Bete banget yah di part 2 #plakk
    Maksudnya.. itu appanya ngedesak donghae lagi.. terusnya si sunhee songong ngatain haejin segala terusnya juga apabanget itu romeo and juliet..dih donghae mah ga sudi banget yah sama sunhee.. duhh emang tuh yah gaboleh janji sembarangan meskipun masih kecil.. dan itu? Jadi ciuman? Itu haejin pasti ngeliat deh.. haduh tamat deh #plakk~ eh maksudnya berantem deh nanti itu orang dua..duh :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s