Stuck On You (ESC Namja Sequel) ~Part 1~

masih inget pasangan JinHae di FF ESC Namja?  Hehehe, itu FF debutanku sebagai author freelance disini, kemaren sebetulnya udah janji setelah ESC Namja Afterstory, khusus JinHae bakalan ada sekuelnya… cuma berhubung author slebor, suka lupa ngesave FF di folder mana, jadilah keaduk-aduk dan baru ketemu… pokoknya check this out deh… hehehehe

 

”Yah yah yah… itu siapa ya?”

”Kok kayaknya aku belum pernah lihat dia…”

”Omo! Cantik banget…”

”Oplas gak ya?”

Kerumunan cewek-cewek yang melihat gadis mahasiswi baru itu begitu heboh. Sementara Donghae, Kyuhyun, Ryeowook, dan Eunhyuk yang baru masuk ke dalam kelas kebingungan melihat cewek-cewek kasak-kusuk.

”Ngomongin apa sih?” tanya Eunhyuk pada Gain, yang sedang sibuk kasak-kusuk juga.

”Ada mahasiswi transfer…”

”Masa?” tanya Eunhyuk girang. ”Asyiiik, udah lama nggak ada pemandangan bagus… untung aku masih single Tuhaaaaaan, hahahaha…”

”Lalu kalau masih single kenapa?!” tanya Donghae tersindir. ”Udah nikah itu enak tau, halal!”

Eunhyuk manggut-manggut. ”Ya ampun, yang itu orangnya? Astaga, cantik banget…”

”Mana sih?”  tanya Kyu penasaran.

”Itu tuh, yang itu…” tunjuk Eunhyuk.

Donghae mengernyit. ”Biasa aja! Cantikkan Haejin…” dan langsung menuju kursinya dan duduk. Ryeowook mengikuti, kemudian Kyuhyun juga ikut duduk. Eunhyuk geleng-geleng. ”Cinta mati bener sama Haejin dan Kyorin! Kyu juga, ckckck… itu bening begitu nggak dilirik? Padahal kan boleh lah ya, lirik-lirik dikit… Haejin sama Kyo juga nggak akan tau…” gerutu Eunhyuk.

Mereka berempat duduk, tak lama kemudian, dosen datang dan memulai kuliah untuk hari itu. Perhatian seluruh kelas agaknya terpecah, karena kedatangan mahasiswi cantik itu, tapi perhatian Donghae, Wookie, dan Kyuhyun terpecah, karena Eunhyuk yang berisik sekali mengomentari kecantikan cewek baru itu. Ya memang keempat cowok itu sama-sama tampan, tapi yang mupengan cuma Eunhyuk. Donghae, sudah menikah. Wookie sudah punya pacar. Kyu masih mau sendirian, dan dingin terhadap wanita, berbeda dengan perilakunya waktu SMA.

”Annyeonghaseyo…”

Donghae mendongak, ketika sedang membereskan buku-bukunya. Melihat mahasis-wi baru itu menghampirinya. ”Ne?” tanya Donghae.

”Lee Donghae-ssi?” tanyanya.

”Ne,” Donghae mengangguk.

”Kenalkan, Sunhee…” dia menyodorkan tangannya, Donghae menatapnya bingung dan menjabatnya.

Kyuhyun, Wookie, dan Eunhyuk bingung melihat cewek itu yang tiba-tiba datang menyalami Donghae.

”Donghae-ssi, kau tidak ingat padaku?”

”Eh?!” tanya Donghae.

”Aku padahal sudah menyebutkan namaku, tapi kau tidak mengingatku…” katanya terlihat kecewa, meski senyumnya masih manis seperti semula.

Donghae diam saja, mencoba mengingat, tapi tak ada satu pun memori yang tertanam di dalam dirinya mengenai cewek bernama Sunhee ini. ”Siapa ya?” tanya Donghae heran.

”Aaaah, payah nih!” kata cewek itu sambil memukul pelan bahu Donghae, yang dipukul mundur dengan canggung.

”Oh iya, ini siapa? Temanmu, Donghae-ssi?”

Donghae mengangguk. ”Ne… kenalkan, Eunhyuk, Ryeowook, Kyuhyun…” Donghae menunjuk temannya satu-satu. Cuma Eunhyuk yang bersalaman dengan cewek itu dengan suka cita.

”Kau mau kemana Donghae-ssi?”

”Mau keluar…” Donghae kemudian jalan begitu saja, diikuti ketiga temannya. Cewek itu cuma tersenyum dan memperhatikan dari jauh, bergumam sedikit, dan mengikuti Donghae dari jauh.

Cewek itu melihat Donghae menghampiri seorang gadis dari belakang, memeluk perutnya, dan begitu gadis itu berbalik, Donghae sudah menciumnya di bibir. Kemudian teman-temannya bercanda iri padanya. Sunhee tersenyum melihat kejadian itu, ”Sekarang,… kalo nanti?” katanya sambil pergi.

 

*           *           *

Donghae berjalan sambil membaca pesan di ponsel dari Haejin, aku di taman, kamu dimana? Akhirnya Donghae, diikuti ketiga temannya. Donghae melihat istrinya, sedang berdiri membelakanginya. Haejin, dengan rambut purple brown-nya, sedang menatap pohon yang berada di tengah-tengah taman kampus, dengan SLR di tangannya. Kepalanya diputar ke kiri dan ke kanan. Donghae menghampirinya, dan memeluknya dari belakang.

”Serius banget!”

”Oppa!” pekiknya, langsung berbalik, dan Donghae mendaratkan kecupan di bibirnya. ”Inget inget ini di kampus, Oppa…”

Donghae terkekeh.

”Haejin-ah!” sapa Eunhyuk, Wookie, dan Kyu.

”Hai, Oppa…” sapa Haejin pada ketiga sahabat suaminya. Kemudian mereka duduk bersama di bawah pohon besar itu. Tak lama kemudian, datang Kyorin, pacarnya Wookie, serta Chihoon, adiknya Kyu, dan pacar Chihoon, Sungmin. Mereka memang terbiasa menghabiskan waktu istirahat di sela-sela jam kuliah bersama. Duduk di taman, dan mengobrol.

Donghae, Wookie, dan Kyuhyun, memang satu SMA, begitu masuk universitas, mereka dekat dengan Eunhyuk yang baru datang dari Jepang. Keempatnya masuk jurusan Bisnis Manajemen. Sementara Haejin, masuk jurusan fotografi bareng Sungmin. Chihoon dan Kyorin masuk jurusan Desain Komunikasi Visual. Siapa sangka, kalau hari ini tamu bertambah satu lagi.

”Hai, Donghae-ssi…”

Semua menoleh, melihat gadis anak baru tadi. Kyorin menoleh pada Wookie. ”Itu siapa?”

”Ini anak baru, transfer…” jelas Eunhyuk.

”Hai, Eunhyuk-ssi, Kyuhyun-ssi, Ryeowook-ssi…” sapanya juga. ”Kalau kalian tidak keberatan, boleh aku bergabung?”

”Ah, ne…” Eunhyuk mengangguk.

Sunhee duduk di antara Donghae dan Eunhyuk, kemudian menoleh kepada cewek-cewek yang ada disitu. ”Ini temen kuliah juga? Hai, kenalkan, namaku Sunhee, aku mahasiswi transfer dari Taiwan. Jurusan Bisnis Manajemen, sekarang sekelas dengan namja-namja ini, kalian siapa?”

”Cho Chihoon-imnida…”

”Lee Kyorin-imnida…”

”Lee Haejin-imnida…”

”Lee Sungmin-imnida…”

Sunhee mengangguk-angguk. ”Donghae-ssi… siapa dia?” gadis itu menunjuk Haejin. Haejin kaget ditunjuk seperti itu. ”Kalian sepertinya dekat sekali,” wajahnya terlihat kecewa. ”Nuguseyo?”

”Ini, Haejin…” Eunhyuk menjawab. ”Pa…”

”Dia istiriku!” jawab Donghae.

Sunhee tersenyum. ”Oh istrimu… Donghae-ssi, Haejin-ssi, kau sungguh beruntung! Kalau begitu, aku permisi dulu…” dan dia pergi. Benar-benar seperti jelangkung, datang tidak dijemput, pulang tidak diantar.

”Apaan sih itu orang?!” tanya Chihoon emosi.

”Dia siapa?” tanya Haejin heran.

”Mahasiswi transfer, Sunhee, dari Taiwan…” Kyu geleng-geleng. ”Kayaknya dia tertarik padamu, Hae!”

Donghae mengangkat bahu. ”Eunhyuk, dia itu tipe wanita idamanmu ya? Kau senang sekali sepertinya…”

”Awalnya.”

”Apa maksudmu awalnya?” tanya Kyu.

Eunhyuk bersedekap. ”Awalnya kan melihat dia, dia seperti glamour girl, dan kalem. Tapi, dia tiba-tiba saja seperti berubah menjadi gadis manja yang centil-centil gimanaaa gitu.”

”Syukurlah kalau kau masih waras!” Donghae mengacungkan tinjunya, dan dibalas oleh Eunhyuk.

”Haejin-ah!”

Semua menoleh lagi, dan melihat cowok ganteng dengan rambut hitam bergelombang indah muncul, membawa SLR juga. ”Kau dipanggil Dekan, ada acara yang harus dibicarakan.”

”Oh, jeongmal?” tanya Haejin yang langsung berdiri. ”Kalau begitu kau duluan, aku menyusul.” Orang itu pergi, Haejin membereskan barang-barangnya. ”Aku duluan ya, Oppa, nanti kalau aku pulang terlambat aku kasih kabar, oke?”

Donghae mengangguk, dan mencium Haejin, kemudian Haejin menghilang. Ketika tepat Haejin berbelok, ponsel Donghae berbunyi, Donghae meraihnya dan mengang-katnya.

”Yeoboseyo.”

”Donghae?!”

”Appa?” Donghae langsung pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya, dan mencari tempat yang lebih tenang. ”Ada apa?” tanya Donghae dingin. ”Tidak biasanya Appa meneleponku.”

”Kau harus kesini, ada yang ingin Appa bicarakan!”

”Aku tidak mau!”

”Donghae, ada yang ingin Appa bicarakan, dan itu sangat penting! Kau tidak bisa menolak kalau kau adalah anak Appa!”

”Sekeras apa pun Appa berusaha, aku pun tidak ingin bertemu Appa!”

”Kau harus kesini, Donghae! Appa janji tidak akan lama, kau hanya perlu bertemu denganku, kemudian kau bisa kembali!”

Donghae tertawa miris. ”Appa, sudah berapa kali kau mencoba membujukku agar aku mau meneruskan usaha Appa? Aku tetap tidak mau! Aku masih mau kuliah disini!”

”Kuliah?! Jangan bohongi Appa, kau disana hanya karena istrimu!”

”Lalu kenapa? Aku bukan Appa yang begitu ditinggal Eomma, Appa menyia-nyiakan diriku!”

”Donghae-ah! Ini menyangkut Eommamu…”

Donghae diam. ”Apa yang menyangkut Eomma?”

”Wasiat Eomma-mu sudah Appa temukan, dan Appa juga sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu!”

”Cih!”

”Jadi cepat kesini, karena ada yang perlu kita bicarakan!”

”Appa?! Appa?!” Donghae mematikan ponselnya dengan kesal, lalu memasukkan-nya ke dalam kantung celananya.

 

*           *           *

PINTU apartemen terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Haejin melangkahkan kakinya perlahan-lahan ke dalam apartemennya, dan heran karena lampu apartemen gelap. Kemudian Donghae sudah muncul, dengan wajah kusut, dan cemberut.

”Oh, Oppa?!”

”Darimana?!”

”Dari kampus, tadi kan aku bilang rapatnya lama… trus hapeku lowbat, jadi nggak bisa sms Oppa, lagi…”

Donghae menyalakan lampu. ”Yang anter pulang siapa?”

”Oooh, Minho…”

”Minho?”

”Temanku lah pokoknya…”

Donghae masih manyun. Haejin tersenyum, dan mencium pipinya, ”Mianhae, Oppa, kan aku udah izin tadi. Jangan cemberut, nanti lucunya hilang, oke?” lalu Haejin mencium pipi Donghae lagi. Dan masuk ke dalam, sambil meletakkan tas kuliahnya di meja makan, beserta SLRnya.

”Oppa udah makan?”

”Belum,” Donghae mengikuti Haejin ke dapur. Haejin geleng-geleng, dan membuka kulkas, kemudian mengeluarkan kentang goreng, dan memasukkannya ke dalam microwave. Malamnya, Donghae tidak bisa tidur, entah kenapa telepon dari ayahnya tadi siang sangat menganggunya.

Donghae cuma bergulik-gulik gelisah di atas kasurnya, sementara Haejin sudah pulas sekali. Wajahnya damai, pikiran Donghae jadi kusut lagi. Saking kerasnya dia bergulik-gulik, Haejin jadi terbangun. ”Oppa?”

”Eh? Haejin-ah? Kau terbangun ya, Sayang? Maaf ya…” Donghae mengecup kilat dahi Haejin.

Haejin menatapnya heran. ”Oppa, ada apa? Kenapa tidak tidur? Dari tadi kau hanya bergulik-gulik  gelisah saja.”

”Kau tau?”

”Aku tidak mungkin bisa tidur kalau Oppa bergerak-gerak terus, kan?” tanya Haejin sambil menopang kepalanya di atas tangannya, dan menghadap Donghae. ”Ada apa? Pasti ada yang mengganggu pikiran Oppa. Ceritakan padaku…”

Donghae menghela napas. ”Aku tidak apa-apa…”

”Aniyo! Aku tahu…” Haejin terus menatap Donghae lekat-lekat. Donghae mendongak menatap langit-langit kamarnya. Tapi akhirnya dia menoleh dengan menatap Haejin. ”Ppali, katakan… ada apa?”

”Aku tidak apa-apa… tapi ada yang aku pikirkan saja…” akhirnya Donghae mengga-ruk kepalanya

”Apa yang membuat pikiran Oppa penuh sampai Oppa tidak bisa tidur seperti ini?” tanya Haejin heran.

Donghae memutar posisinya, sehingga dia miring menatap Haejin. ”Sebenarnya… tadi…”

Haejin terus menatapnya dengan pandangan bertanya.

”Tadi Appa menelepon…” ucap Donghae lirih. ”Dia memintaku pergi kesana, katanya ada yang ingin dia bicarakan.”

Wajah Haejin menjadi serius. Mertuanya, satu-satunya mertuanya, yang sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Yang menurut cerita Donghae, adalah seorang ayah yang meninggalkan dirinya, ketika sang ibu meninggal. Tiba-tiba meminta anaknya itu kembali ke Amerika, bertemu dengannya.

”Ada hal penting?” tanya Haejin lagi.

”Keusae…” Donghae menghela napas, menyilangkan dua tangannya dibawah kepalanya yang berbaring di bantal putih empuk. ”Tidak biasanya dia meneleponku. Setidaknya aku tahu dia ingat masih punya anak…”

Haejin tersenyum, dan mengelus pipi suaminya. ”Keurom… Aboji pasti ingatlah dia punya anak yang jahil dan usil seperti Oppa.”

”Mwo?!” Donghae melirik Haejin sambil tersenyum jail. ”Jahil dan usil? Aku?”

”Ne.” tambah Haejin sambil nyengir.

”Arasseo…” Donghae mengangguk, kemudian berbalik, dan menggelitiki Haejin, hingga Haejin meronta-ronta hebat, kegelian. Dua-duanya memang pasangan yang gak tahan sama geli sih.

Haejin wajahnya sudah memerah karena menahan geli, air mata sudah keluar. Donghae duduk di atas perutnya, masih menggelitiki terus, ”Ayoo… ngomong apa tadi? Hah?” tanyanya.

Haejin berusaha menahan tangan Donghae yang menggelitiki perutnya. ”Aish! Oppa… aih! Oppa… geli! Geli! Geli! Oppa…” Haejin mencoba berdiri, dan gantian dia yang menduduki Donghae, dan dengan tangannya yang cekatan dia menggelitiki Donghae, Donghae juga meronta-ronta. Sesudahnya, kedua berpelukan kehabisan napas.

”Haejin-ah…” Donghae menempelkan bibirnya di dahi Haejin, Haejin memeluk Donghae erat-erat dengan kedua tangannya. ”Apa aku harus kesana?”

Haejin mendongak, menatap wajah Donghae, datar. ”Oppa… aku tau kau rindu pada Appa-mu. Jadi temuilah dia… dia pasti punya tujuan memanggilmu, dan dia juga pasti merindukanmu.”

”Kalau itu aku tidak yakin…” katanya datar, menatap mata Haejin, lalu mencium bibirnya dalam. ”Dan aku tidak mau jauh-jauh darimu…”

Haejin membalas ciuman Donghae, menenangkan suaminya dalam ciuman itu. ”Gwenchana, memang Oppa disana berapa lama sih? Gak lama-lama kan… habis itu Oppa pulang lagi, ketemu lagi sama aku.”

Donghae mencium Haejin lagi, dan malam itu akhirnya berakhir dengan mereka bercinta.

*           *           *

Los Angeles

Donghae duduk di mobil convertible yang dikirim oleh ayahnya ke bandara untuk menjemputnya. Tak lama kemudian, mobil itu masuk pelataran parkir rumah mewah yang berada di kawasan elit Hollywood itu. Donghae turun dan langsung masuk ke dalam, dan membuka pintu ruang kerja ayahnya.

”Donghae-ah…” sapa ayahnya.

Donghae hanya mengangguk, berdiri tegak memandang ayahnya yang duduk di belakang meja kerjanya. ”Ada apa?”

”Donghae-ah, kau ini… kau jauh-jauh dari Seoul kesini masa langsung bertanya ada apa, tanpa basa-basi!”

”Aku benci basa-basi dengan orang yang tidak akrab denganku!”

”Donghae-ah, aku ini Appa-mu…” jawab ayahnya pelan.

”Appa yang meninggalkanku selama sepuluh tahun ini,” sahut Donghae lagi. ”Jangan harap malam ini aku tidur disini, aku nginap di hotel, jadi sebaiknya kau katakan ada apa, dan aku bisa kembali ke Seoul.”

Ayahnya berdiri. ”Yah, memang salahku telah membuat anakku menjadi dingin seperti ini. Bagaimana istrimu?”

”Dia baik-baik saja, terima kasih.”

”Kalau begitu, ini wasiat dari ibumu…” ayahnya membuka lacinya, dan menarik keluar secarik kertas dari dalam botol. Menyodorkannya kepada Donghae, Donghae menarik kertas itu dan membukanya, membacanya dengan teliti, kemudian menatap ayahnya.

Ayahnya tersenyum. ”Kurasa kau mengerti apa yang ibumu minta, kan?”

Donghae menatap lurus ayahnya. ”Lalu?”

”Yah kau kan sudah membacanya… jadi kau bisa simpulkan sendiri kan, Nak, apa yang harus kau lakukan?”

Donghae geleng-geleng kepala. ”Jadi, Appa memanggilku kesini, karena ingin aku meminta warisan Eomma dari kakak-kakak Eomma, begitu?” tanyanya tak habis pikir. ”Aku harus menuntut warisan bagian Eomma?”

”Kenapa kau melihatnya seperti itu sih?”

”Karena memang itu yang Appa mau!” bentak Donghae. ”Ini bukan pesan Eomma, tapi ini kemauan Appa! Katakan padaku, perusahaan Appa kenapa, hingga ingin uang Eomma?”

Wajah Appanya mendadak merah padam karena marah. ”Donghae-ah!”

”Wae? Appa membohongiku, memang dari awal seharusnya aku sudah mengira kalau tidak mungkin sekali Eomma memberikan wasiat!”

Appa menghela napas, dan kembali menyunggingkan senyuman. ”Baiklah, Donghae, Appa mengerti. Tapi, sebaiknya Appa memang tidak bisa main-main denganmu. Donghae, ini penting… Appa yakin di kampusmu sekarang sudah ada seorang mahasiswi pindahan, bernama Sunhee.”

Donghae mengernyit. ”Bagaimana Appa tau?”

”Perusahaan keluarga besar milik Eomma-mu, bisa dikatakan perusahaan milik kakek-nenekmu, sekarang sedang sekarat.” Jawab Appanya prihatin. ”Wasiat Ibumu yang terakhir, tentunya adalah agar kau bisa menarik simpati keluarganya lagi, agar kakek-nenekmu mencintaimu, juga Appa… tapi, kali ini mereka benar-benar butuh bantuanmu. Sunhee adalah putri dari pemilik Tang Corporation, dan perusahaan  keluarga Eomma-mu sedang bangkrut, dan dari Tang Corporation yang membuatnya bangkrut.”

Donghae berusaha menebak akhir pembicaraan ini, namun dia tidak menyangka, kalau ternyata ayahnya akan meminta hal tersebut.

”Keluarga kakek-nenekmu menolak jika perusahaannya digabungkan dengan perusahaan kita,” ayahnya menghela napas. ”Padahal itu dapat membantu, namun jika dengan cara paksa, kau yang bisa mengambil perusahaan itu!”

”Bagaimana bisa?”

”Yah, kau memang memiliki hak atas perusahaan itu. Anak kakek-nenekmu hanya dua, dan perempuan semua. Cucu mereka juga cuma dua, kakak sepupumu perempuan, dan hanya kau yang laki-laki. Jadi, kalau kau memang ingin membantu Eommamu, pilihannya ada dua…”

”Apa?”

”Kau segera punya anak, jadi kau yang mendapatkan hak waris itu, dan kau bisa menggabungkannya dengan perusahaan milikmu sendiri. Atau… kau ceraikan istrimu, menikah dengan Sunhee, dan perusahaan itu selamat.”

”Mwo?!”  teriak Donghae.

”Ne, hanya itu pilihannya…” jawab Appanya. ”Kalau kau memang ingin keinginan terakhir ibumu dipenuhi… kalau kau tidak mau, ya tidak apa-apa. Appa juga tidak bisa memaksamu, kan.”

Donghae mengangguk, ”Akan kupikirkan,” lalu Donghae pergi dari situ, dan langsung pergi ke hotel. Besok pagi dia akan langsung kembali ke Seoul, pikirannya dipenuhi permintaan ayahnya itu. Dia tau kisah panjang perjalanan cinta Eomma dan Appanya. Eomma adalah putri kaya perusahaan saingan keluarga Appa. Eomma dan Appa seperti Romeo & Juliet, dua keluarga yang saling bermusuhan tapi  anak-anaknya malah jatuh cinta.

Keluarga Appa menerima Eomma dengan senang hati, tapi keluarga Eomma tidak menerima Appa dengan mudahnya, malah menuduh keluarga Appa ingin mencuri perusahaan, tapi Eomma benar-benar mencintai Appa, dan meninggalkan keluarganya demi Appa. Tapi, semua anak, pasti ingin kembali dengan keluarga yang dicintainya, begitu juga dengan Eomma, meski sudah berpisah, darah lebih kental daripada air. Dia ingin kami semua bisa berkumpul. Tapi hingga Eomma meninggal, hal itu belum pula terjadi.

’Donghae-ah, ajak Helmoni, Haraboji, dan Appa berkumpul yaa…’

Donghae bersandar di kasurnya, ingat ucapan terakhir Eommanya saat sekarat di kasur. ’Donghae-ah, anak Eomma yang paling tampan, paling pintar…’ Eomma menggenggam tangan Donghae. ”Kalau nanti Eomma sudah tidak ada, tugas kamulah yang menyatukan Haelmoni, Haraboji, dan Appa. Ajak mereka berkumpul di makam Eomma, Eomma yakin malaikat Eomma, pasti bisa…’

Tes! Air mata mengalir ke pipi Donghae, Donghae menghapusnya. ”Eomma… Eomma…” panggilnya. ”Na otokhe?”

’Mwol salga salga salga salga neoreul wihan seounmul…’ Donghae terkejut, melihat ponselnya, dan piku di LCD-nya adalah fotonya dan foto seorang wanita sedang berciuman. Donghae tersenyum kecil, dan menekan tombol hijau. ”Jagiya, annyeong…”

”Oppa!” jerit Haejin dari Seoul. ”Sudah sampai atau belum sih?! Kalau sudah angkat telepon pasti sudah sampai, tapi… KENAPA TIDAK KABARI AKU?! AISH, Oppa jahat sekali!”

”Mianhae, jagiya… aku baru mau menghubungimu.” Ucap Donghae menyesal. Tak ada respon dari Haejin. ”Jagiya, Jagiya… jangan marah dong, jebal! Bogoshipo…”

”Nado…” jawab Haejin lirih.

”Besok aku pulang ya, Jagiya…”

”Ne…”

”Jangan marah…” ucap Donghae panik.

”Aniyo…” Haejin tertawa. ”Ya sudah, aku mau foto lagi… ada tugas foto dan edit minggu ini. Oppa baik-baik disana, ya… jangan nakal!”

”Oke, Yeobo…”

”Ugh! Aku gak suka dipanggil yeobo…”

”Iya deh, jagiya… bogoshipo, saranghae…”

”Nado, chu dari jauh…”

”Popo dari jauh…”

To Be Continued

Mudah-mudahan kelanjutannya bisa secepatnya, ya? dan untuk yang nunggu FF Hyukjae + Jiyoo, Insya Allah besok malem aku publish… jangan lupa baca dan komen yaaa…

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

Blog : indonesiaelfishy.wordpress.com

4 thoughts on “Stuck On You (ESC Namja Sequel) ~Part 1~

  1. Oh ini lanjutannya? Aku aja belom baca yg esc sampe abis..wkwk😄
    Haduh jadinya donghae sama haejin? Kasian kyuyun jadi dingin gtu yah.. duh penasaran
    Err.. tolong deh apabanget sunhee dateng2 kyak gtu, minta banget diinjek sih yah kelakuaannya.. gaje banget deh.. dan hyuk juga gabisa liat cwe cakep dikit yah kamu, langsung deh matanya melek..jadi gtu :3
    Appanya donghae apa pula maen telepon demi wasiat eomma? Padahal dulu2nya mah donghae ditinggalin ish -__-
    Uhukkk!! Knapa berakhir mereka bercinta doang tapi ga ada penjabarannya bercinta itu ngapain aja? Aku kn mau tau.. msh polos jdi gatau apa apa #ditenggelemin
    Tuhkan bapaknay dongahe kan minta dilindes.. tau2 minta bantuan donghae buat perusahaan padahal dulunya mana.. gue benci banget orang macam gini -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s