So Wrong, So Right

Pertama-tama, FF ini aku buat berdasarkan MV-nya Mahadewi, yang judulnya Begitu Salah, Begitu Benar… berhubung udah janji pengen bikin 3 FF untuk Ultahnya Donghae…

1. For My Love Birthday ayo yang belom komen di komen dan di baca

2. So Wrong, So Right… *judulnya nggak banget*

3. NC-21 Spesial tunggu hari sabtu nanti aku publish…

 

So Wrong, So Right

 

Pemakaman itu mulai ramai, satu persatu orang berdatangan untuk mengantarkan seseorang ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Semua yang berpakaian hitam menatap peti jenazah yang berwarna cokelat tua tersebut, dengan rangkaian bunga di atasnya, yang sebentar lagi akan dimasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Seorang wanita dengan pakaian serba hitam duduk di salah satu kursi yang tersedia, sambil sesekali menghapus air matanya dengan tisu yang dipegangnya, meski telah memakai kacamata hitam, tetap saja kesedihan dibaliknya tidak dapat di sembunyikan sama sekali. Rambut cokelatnya yang panjang dibiarkan terurai.

Tepat di seberangnya, seorang wanita menangis sambil memegang rangkaian bunga yang ada di depannya, hitamnya berkibar karena angin. Wajahnya merana sambil terus menangis.

Dibelakang wanita itu, barulah duduk seorang wanita dengan rambut digelung, memakai fedora hitam, dan baju serba hitam, dia duduk dengan tatapan miris menatap peti jenazah tersebut.

Ketiga wanita itu sama sekali tidak saling kenal, tapi ketiganya tahu dengan pasti satu sama lain. Meski begitu ketiganya punya alasan kuat mengapa mereka hadir disini, dan mengapa mereka tidak merasa perlu menambah kesedihan mereka dengan menyapa satu sama lain.

Wanita pertama yang memegang karangan bunga sambil menangis, bernama Kim Yoonrae.

 

Flasback, Kim Yoonrae POV.

Namaku Kim Yoonrae, aku seorang mahasiswi tingkat satu yang tinggal sendiri di sebuah rumah mewah di Apgeujong. Kehidupanku yang datar dan biasa-biasa saja, berubah semenjak mengenalnya, ia pria yang sangat kucintai. Selisih usia kami tidak begitu jauh, entah sejak kapan dia menjadi sangat berarti bagi hidupku. Namanya indah, Lee Donghae.

Dia sudah bekerja, tidak lagi kuliah sepertiku, dia terkadang dewasa, terkadang pula kelakuannya seperti anak kecil. Yang jelas aku bahagia berada di sampingnya, meski terkadang rasa cintaku kepadanya tidaklah masuk akal. Mungkin bisa dibilang, dari seluruh kelebihannya, kekurangannya hanyalah satu… dan aku berusaha menutupi kekurarangan itu, dan tidak peduli akan kekurangan Donghae yang satu itu, karena yang penting bagiku, Donghae ada disisiku, meski kekurangannya sangat mengerikan bagi sebagian besar orang.

Aku menyisir rambutku yang panjang di depan kaca, kemudian aku berdiri dan membalikkan badanku berulang kali untuk melihat bagaimana pantulanku dalam cermin. Aku mengenakan dress berpita di pinggul, dan rambutku tergerai indah.

Donghae selalu suka melihat rambutku tergerai bahkan cenderung berantakan. Aku suka seleranya yang seperti itu. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku tidak dapat menutupi kegembiraanku, aku langsung berlari menuju balkon kamarku alih-alih langsung turun ke bawah untuk melihatnya.

Di bawah kulihat Donghae, dengan rambutnya yang tentu saja sudah amat sangat kuhapal. Aku melongok, ”Donghae-ya!” teriakku.

Donghae mendongak, dan tersenyum. ”Hai… turun!” panggilnya sambil memegang setangkai mawar merah.

Aku tersenyum bersemangat kemudian langsung berbalik ke dalam dan keluar dari dalam kamarku, kemudian tanpa mengurangi kecepatan, aku terus berlari turun ke bawah dan membukakan pintu untuk Donghae. Dia masih berdiri di tempatnya tadi, tapi kemudian aku sudah melayang-layang digendong dan diputar-putar olehnya di halaman rumput di depan rumahku. Akhirnya mungkin Donghae kehilangan keseimbangan, dan kami terjatuh di hamparan rumput, aku berbaring telentang dan dia berbaring di sebelahku.

Dia menatapku lembut sambil menggigit mawar tersebut, aku menoleh menatapnya. Lama kami saling tatap sambil tersenyum, kemudian terlintas satu ide di benakku, aku langsung berdiri dan berlari di taman labirin dengan pagar tanaman yang cukup tinggi, dia ikut berdiri dan berlari mengejarku.

Pada akhirnya dia berhasil menangkapku, dan kami berpelukan bersama di tengah-tengah labirin, dia menyerahkan mawarnya padaku, dan aku mengecup pipinya pelan. Dia tersenyum dan mengelus rambutku, serta pipiku.

”Ulang tahunmu besok…” ucapku pelan. ”Apakah… apakah… kau bisa bersamaku besok?” ucapku terbata.

Donghae menatapku heran. ”Besok?”

”Ne…” aku menggenggam tangannya dan menatap kedua matanya. Aku tahu aku egois. Tapi besok adalah hari spesial baginya, dan aku harus menunjukkan bahwa aku adalah yang paling spesial baginya. ”Mau kan? Aku akan menunggumu disini…”

Dia menatapku nanar, tapi dia cuma tersenyum dan mengelus rambutku, tak ada jawaban apa-apa disana. Salah satu kebodohanku! Mengapa aku bisa memilihnya diantara sejuta pria yang ada?

 

End Of Yoonrae’s POV.

 

Choi JeSoo POV

Aku adalah Choi JeSoo, mahasiswi tingkat akhir sebuah Universitas di Korea Selatan, yang tinggal sendirian. Hidupku yang kelewat datar akhirnya berubah, semenjak dia datang dalam hidupku! Entah bisa dibilang hidupku menjadi baik, atau malah menjadi lebih buruk!

Aku bahagia menjalin hubungan dengannya, Lee Donghae, pria yang telah bekerja dan mengisi hidupku setahun belakangan ini. Aku tahu masih banyak pria yang lebih baik daripada dia, tapi hatiku mengatakan, cintaku hanya padanya, dan hatiku tidak bisa kuajak berkompromi lagi! Meski kedua orangtuaku telah menjodohkanku dengan pria lain, yang kutahu dengan pasti lebih baik daripada seorang Lee Donghae! Tapi apa daya, hatiku sudah terlanjur candu padanya.

Siang ini Donghae berjanji mau ke rumahku, aku berdandan dengan rapi, dan membiarkan rambut panjangku tergerai. Tak lama kemudian, kudengar bel rumahku berdering, dan aku pun tak bisa menahan senyumku ketika membuka pintu rumahku, aku hanya mengintip malu-malu keluar.

Dia berdiri dengan tangan ditaruh di belakang, dengan topi fedoranya, dia tersenyum begitu aku membukakannya pintu. Aku juga tersenyum menatapnya, kemudian dia mengulurkan tiga ikat mawar yang disimpan di belakang punggungnya tadi. Aku menerimanya dengan girang.

”Gomawo…”

Donghae tersenyum, dan menarik pintu, dilebarkannya pintu itu, dan aku masih sibuk mencium wangi mawar tersebut, sambil mundur ke belakang. Dia menutup pintu rumahku dan kemudian menggendongku dan merapatkanku ke dinding. Aku mengalungkan tanganku ke lehernya, dan dia mulai menciumi leherku. Aku menggigit bibirku, kemudian kukecup pula lehernya naik hingga ke pipinya.

Miss me?” tanyanya.

”Ne…” jawabku lembut.

Kemudian dia menggandengku ke halaman belakang rumahku yang menatap danau di belakang rumahku, kami duduk berdua sambil bergandengan tangan. Dia selalu berbisik di telingaku, membuatku merinding, tapi aku menyukainya.

”Bunga yang cantik, untuk gadis yang cantik…”

Aku tersenyum, tapi sedikit terkejut ketika Donghae mengalungiku sebuah rangkaian bunga yang terbuat dari bunga aster kecil.

”Gomawo…” senyumku.

Dia mengecup pipiku lembut.

Aku memejamkan mata merasakan kecupannya di pipiku, kemudian aku membuka mataku, dan wajahnya sudah ada di hadapanku, aku kembali memejamkan mataku, menunggu sentuhan bibirnya di permukaan bibirku. Kami berciuman sambil memandangi matahari yang hendak tenggelam.

Setelah selesai menciumku, dia mengelus pipiku perlahan.

”Donghae-ya…” kataku lembut, aku tidak bisa menahannya lama-lama lagi, aku harus mengatakan keinginanku kepadanya. ”Besok adalah ulangtahunmu, kan? Apa kau bisa melewatinya bersamaku?”

Dia menatapku lurus, masih tidak melepaskan tangannya di pipiku.

”Aku mau kau bersamaku besok… kumohon,” pintaku padanya. Meski terdengar egois! Tapi egois di bagian mana? Siapa pun pasti ingin menjadi yang spesial bagi orang yang dicintainya.

Tapi kulihat Donghae tetap diam, tidak menjawab apa-apa. Apakah segitu sulitnya memilih, Donghae-ya? Apakah kau benar-benar mencintaiku sama besar seperti kau mencintai mereka?

Ya, kebodohanku memilihnya, tapi hati ini tak kuasa menahan rasanya.

 

*End Of JeSoo’s POV*

 

Flashback, Lee Haejin’s POV

Tak perlu banyak basa-basi mengenai diriku, aku Lee Haejin, seorang Editor Majalah Fashion ternama di Korea Selatan, dan Lee Donghae adalah Lee Donghae, yang kukenal semenjak menjadi model dalam salah satu artikel di majalah tempatku bekerja. Dapat kukatakan bahwa aku benar-benar bertekuk lutut pada senyum mautnya, dan aku sudah tergila-gila dibuatnya.

Gila, hingga jatuh cinta tanpa logika. Entah itu dosa terbesarku, atau keberuntungan-ku ya, aku tidak mau memikirkannya!

Aku tahu, aku bukan yang pertama! Aku juga tahu aku bukan satu-satunya yang ada di hatinya, di matanya, dan dalam pikirannya. Tapi cintaku padanya membutakan arah pandangku, aku terlalu terlena.

Malam ini kami sengaja tidak menyalakan lampu, dan duduk berdua di ruang tengah rumahku, kami hanya menggunakan lilin, dan di hadapan kami terdapat dua buah gelas berikut sebotol wine.

”Haejin-ah…” bisik Donghae. ”Mau tahu cara minum wine yang lain dari yang lain, tidak?”

”Bagaimana?”

”Begini…” dia membuka botol wine tersebut kemudian dia duduk di sebelahku yang mengenakan kaus putih, tanpa tedeng aling-aling dia menuangkan wine tersebut ke leherku.

Aku terkejut. ”Ya!” dan memukul bahunya.

Tapi dia terkekeh, dan mulai mengecup leherku, menikmati tetesan wine yang mengalir di leherku. Aku mendongak dan terkikik kegelian, tapi kemudian dia menggendongku dan membawaku ke teras belakang, tiba-tiba kami sudah melayang dan masuk ke dalam kolam renang.

”Donghae-ya!” pekikku sambil mengusapkan wajahku yang pedas karena kibasan air ketika kami masuk ke dalam kolam dengan mendadak tadi.

Dia tertawa, dan masih memelukku. Kami berputar-putar di dalam kolam renang sambil berpelukan, sesekali Donghae mencium leherku, naik ke bibirku, dan kami berenang terus meski langit sudah gelap.

Setelah puas berenang, kami naik ke atas dan mengganti pakaian kami, kemudian sambil menatap bulan yang cahayanya masuk secara temaram ke dalam kamarku, kami masih berpelukan.

”Kok diam? Kau sedang memikirkan apa?” tanyaku padanya yang memelukku sambil diam.

Donghae menggeleng. ”Aniya…”

Aku tersenyum, ”Kalau begitu, bolehkah aku bertanya padamu, Donghae-ya?” aku harus memastikannya hari ini.

”Mwo?”

”Besok kan ulangtahunmu…” ujarku pelan. ”Bisakah kau bersamaku?” tanyaku dengan nada penuh permohonan.

Dia menatapku dalam. Apakah dia sudah menerima ajakan yang lainnya? Apakah dia akan menolakku? Aku harap di hari spesialnya, dia bisa bersamaku, aku ingin menjadi yang pertama, untuk pertama kalinya, baginya… tapi dia tidak menjawab, dia hanya mengelus rambutku perlahan, dan memelukku lebih erat.

Entah kenapa aku tak sanggup menanyainya lagi.

 

*End Of Haejin’s POV*

 

Donghae’s POV

Aku adalah Cassanova yang mencari cinta. Kalian boleh bilang aku playboy murahan, kalian boleh bilang aku bajingan karena mempermainkan banyak wanita! Kuakui aku memang begitu!

Tapi tidak kali ini! Entah apa yang kurasakan, aku begitu mencintai ketiga wanita itu. Aku tidak bisa memilih, karena mereka bukan pilihan! Ketiganya memiliki keisitimewaan yang berbeda bagiku, ketiganya spesial! Sama-sama spesial, aku tidak bisa memilih… aku terlalu mencintai mereka bertiga, aku terlalu menyayangi mereka bertiga, dan mereka bertiga terlalu berharga! Kim Yoonrae, Choi JeSoo, dan Lee Haejin. Mereka yang terakhir, tak ada lagi yang bisa menggantikan mereka bertiga dalam hidupku!

Ingin sekali aku mengiyakan permintaan mereka mengenai hari ulangtahunku, bahwa mereka ingin bersamaku hari itu, tapi tidak bisa!

Aku tetap tidak bisa memilih satu diantara tiga! Egois? Iya, aku memang egois… tapi cintaku pada mereka tulus, mungkin kalian tidak percaya! Terserah, tapi bisa kupastikan itu! Besok hari spesialku… besok aku berulang tahun, dan setahun yang lalu pun aku bertemu dengan mereka bertiga di tempat berbeda. Aku mendatangi lagi tempat-tempat yang kutemui ketika bertemu bersama mereka.

Setelah selesai mengunjungi tempat-tempat dimana pertama kali aku bertemu mereka, aku kembali ke rumahku. Aku duduk di sofa kesayanganku di dalam kamar tidurku yang sengaja kubiarkan gelap. Aku tersenyum miris, sebuah keputusan sudah bulat akan kuambil, aku menghela napas dalam-dalam dan tersenyum ketika menerima keputusanku untuk diriku sendiri, perlahan aku bangkit dan meraih buku kecilku, berikut pena, kugoreskan sesuatu pada lembar pertama, kedua, dan ketiga. Kemudian aku tersenyum…

 

Yang Terkasih, Kim Yoonrae…

Aku tahu kau pasti menangis ketika membaca ini…

Hapuslah air mata itu, karena aku tak sanggup menghapusnya lagi…

Tersenyumlah menatap mentari, karena aku tak dapat memandangnya lagi…

Berlarilah mengejar mimpimu gadisku, karena aku tak mampu meraihnya untukmu…

Kim Yoonrae yang cantik,

Kukatakan padamu bahwa aku tak pernah menyesal mengenalmu…

Bahwa aku tak pernah bisa menghilangkan bayanganmu dari benakku…

Suara tawamu selalu kurindukan disetiap malamku…

Kim Yoonrae yang cantik,

Mungkin aku telah salah karena memasuki hidupmu…

Mungkin aku membawa luka pada hatimu yang bersih, dan belum ternoda…

Mungkin kau yang masih polos, telah ternoda karena cinta kotorku…

Tapi yang perlu kutekankan kepadamu, bahwa cintaku padamu tulus…

Sudah cukup sampai disini aku menyakiti hatimu…

Karena hingga saat terakhir, aku tetap tidak mampu memilih…

Cintaku padamu sama besarnya seperti cintaku pada mereka…

Tapi aku tahu, cintamu padaku tentu lebih dari itu…

Dan aku tidak pantas mendapatkannya…

Untuk itu, inilah kado terakhirku untuk diriku…

Cintaku, carilah penggantiku…

Yang lebih baik dariku…

Yang lebih setia dariku…

Yang menjadikanmu yang pertama, dan terakhir…

Salam sayang…

Lee Donghae

 

Yoonrae’s POV

”Andwe! Andwe!” Yoonrae berdiri dan langsung keluar dari dalam kamarnya, berlari turun ke bawah dan mengambil gagang telepon.

 

Yang tersayang, Choi JeSoo…

Uljima, uljima…

Hehehehe, aku tahu kau pasti mau marah padaku sambil menangis, ya kan?

Pria sepertiku tidak pantas kau tangisi, Sayang…

Choi JeSoo itu wanita hebat, wanita tegar, yang bagai karang…

Yang jarang menangis jika tidak perlu, kan? Kekekeke…

Ah, kau pasti akan rindu padaku…

Aniya, aku yang akan rindu padamu…

Pada suara tegasmu, pada wajah tegasmu…

Pada pribadimu yang tegas, dan cintamu yang hangat…

Walau kau masih belia, tapi kau dewasa…

Sayang, jangan bersedih ya… tetap tersenyum, dan tetap kuat…

Karena Choi JeSoo yang seperti itulah yang membuatku jatuh cinta…

Yang membuatku berpikir tentang hidup di dunia fana…

Yang membuatku selalu berpikir dalam setiap keputusan…

Mungkin kau berpikir aku bodoh, dan tidak berpikir…

Tapi inilah pembuktian cintaku pada kalian…

Cukup disini aku menyusahkanmu, dan hadir dalam hidupmu…

Carilah pendamping yang setia…

Yang hanya mengukir namamu di dalam hatinya…

Tapi satu kata, cinta…

Aku tak pernah menyesal jatuh cinta…

Salam sayang…

Lee Donghae

JeSoo menangis tersedu, dan duduk terjatuh di lantai, mencoba menguasai diri namun tidak bisa.

 

Yang tercinta, Lee Haejin…

Mentari yang muncul disaat malamku…

Bulan yang muncul di saat pagiku…

Yang melengkapi hari-hariku…

Aku yang menghambat hidupmu…

Aku yang mengambilmu dari Tunanganmu…

Aku yang membuatmu terbuai dengan janji-janji fanaku…

Maafkan keegoisan hatiku yang tak pernah bisa memilih…

Antara kau, dia, dan dirinya…

Cintamu padaku tulus, begitu pula cintaku padamu…

Aku tahu kau percaya…

Tapi kurasa sudah cukup aku membuaimu dengan janji manisku…

Aku tak mungkin bisa memilih…

Tapi kau punya banyak pilihan dalam hidupmu…

Jangan biarkan aku menghentikannya…

Meski janjiku tak dapat kutepati, satu yang pasti…

Cintaku padamu…

Akan kubawa sampai mati…

Salam sayang…
Lee Donghae

Haejin menjerit nyaring dan langsung berlari keluar mencari teleponnya. Tak lama kemudian kabar itu sudah beredar. Lee Donghae ditemukan meninggal dalam damai, dalam tidurnya.

Dan sekarang Haejin, Yoonrae, dan JeSoo masih di tempat masing-masing. Yoonrae dengan buket bunganya, JeSoo dengan fedora hitamnya, dan air matanya terus mengalir, dan Haejin di sebrang mereka, dengan rambut panjang terurai, dan kacamata hitam menutupi air matanya.

Yoonrae menatap sedih perlahan-lahan peti mati diturunkan ke dalam tanah, dan peti itu mulai ditimbun oleh tanah-tanah di atasnya. Sementara pigura wajah Donghae terus membuat kepalanya pusing, dia menoleh ke belakang, JeSoo menatapnya nanar sambil terus menangis.

Haejin menatap Yoonrae dan JeSoo. Akhirnya Yoonrae berdiri, dan berjalan pergi, Haejin pun menatap kepergiannya, dan ikut berdiri, pergi. JeSoo pun akhirnya meninggalkan pemakaman.

15 – 10 – 2010

Lee Donghae, Saengilchukae…

Saranghaeyo…

Your girls…

Kim Yoonrae

Choi JeSoo

Lee Haejin

 

The End

FF ini sama gajenya sama FF saya tadi pagi… wkwkwkwk, yang ini sad ending… kalo yang For My Love Birthday itu yang Happy Ending…🙂

Oh ya dan kenapa aku pilih Yoonrae dan JeSoo, aku mau nunjukkin sama antis-antis JinHae diluar sana… haloooo, kalau aku sama bias-bias Donghae yang lain : Christy, Pipi, Kheynie Onnie… kita itu akur!!! Kita bisa sama-sama saling berbagi tentang orang yang sama-sama kita suka Lee Donghae.

Akhir kata, jangan lupa komen! #plakk


2 thoughts on “So Wrong, So Right

  1. kyaaaa~ bagus bagus bagus unn.. bahasanya apalagi.. bagus bngedd…
    sii hae playboy amat yahh sekaligus 3 masa yahh.. ckck
    aku demen dhh pas bagian sma haejin itu yg wine itu lohh .. jujur saya ga tega liat mas ikan mati unn krn sejujurnya saya juga suka sama mas ikan *ditendang nisya eonn :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s