Oh! ~Part 7~ ENDING

Tak lama kemudian Donghae terbangun, dan menemukan Haejin sedang duduk bersila di depan meja komputernya dan bermain komputer sendirian, Donghae menghela napas lega. Setidaknya Haejin sudah baik-baik saja.

”Gwenchana?”

”Ne, jeongmal gwenchana, Donghae Oppa…” sahut Haejin tak acuh.

”Syukurlah…” Donghae mengangguk kemudian berdiri. ”Jonghyun belum pulang?” tanyanya pelan.

”Belum…” jawab Haejin seadanya.

”Kalau begitu aku akan menemanimu…”

”Gwenchana, Oppa… aku sudah biasa sendirian, lagipula kau sudah tidak perlu menemaniku lagi, kan?”

Hati Donghae teriris mendengar kata-kata tersebut. ”Keurae? Arasseo… aku pulang saja kalau begitu.” Donghae keluar dari kamar Haejin, sesaat sebelum menutup pintu kamar, ditatapnya wajah Haejin yang terlihat datar, dan terus menatap ke arah layar komputernya. Karena Haejin tidak bereaksi apa-apa, Donghae memilih menutup rapat pintu kamarnya dan turun ke bawah. Hal itu melukai keduanya… Haejin menangis begitu Donghae pergi, dan Donghae menangis juga begitu dia sudah sampai di dalam kamarnya sendiri. Keduanya sebetulnya saling memandang satu sama lain melewati jendela kamar mereka, tapi terhalang oleh tirai.

Sama seperti perasaan mereka, sebetulnya memiliki perasaan sama, hanya dibatasi oleh kesalahpahaman belaka.

 

Pertandingan Basket

”Ini adalah penampilan terakhirku…” kata Haejin sambil mengikat rambutnya ke atas.

Ririn mengangguk sedih. ”Hwaiting…”

”Ne, aku pasti bisa bangkit, Rin-ah…” jawab Haejin sambil tersenyum optimis.

”Ne, johta…”

Hyunmi masuk ke dalam kamar ganti, ”Ayo, sudah waktunya kita tampil… kasetnya sudah diterima panitia!”

”Hwaiting! Tampilkan yang terbaik untuk Donghae Oppamu terakhir kalinya…”

”Ne…” Haejin mengangguk.

Sorak sorai riuh rendah memenuhi GOR Seoul tersebut, karena selain pertandingan ini bergengsi, pertandingan ini juga masuk salah satu stasiun televisi nasional, dan reputasi sekolah-sekolah yang bermain di dalamnya sudah cukup terkenal. Belum lagi nama cheerleaders SMA Kyunghee sedang naik daun karena penampilan mereka yang atraktif saat membawakan lagu Mister beberapa pekan lalu membuat banyak sekolah lain dan penonton penasaran dengan apa yang akan mereka tampilkan berikutnya.

Jonghyun, Donghae, beserta seluruh penduduk sekolah SMA Kyunghee sepertinya juga datang untuk menyaksikan pertandingan basket hari ini. Meski sikap Jonghyun agak dingin kepada Donghae, Jonghyun tidak bisa marah juga karena dia merasa tidak ada gunanya memaksa Donghae untuk suka pada adiknya jika memang Donghae menyukai Gwiboon. Keduanya duduk bersama teman-teman sekelas mereka untuk menyaksikan pertandingan, dan menyaksikan Haejin tentunya.

Jonghyun dan Donghae masih tidak tahu kalau Haejin tidak berniat meneruskan penampilannya di panggung cheerleaders lagi, dan memutuskan untuk pergi minggu depan, dan ini adalah panggung terakhirnya. Jonghyun hanya berharap semoga adiknya bisa kembali pulih.

Setelah menyanyikan lagu kebangsaan, MC berdiri di tengah lapangan basket dan memberikan beberapa kata sambutan. ”Kalau begitu, tanpa banyak basa-basi, kita sambut cheerleaders SMA Kyunghee…”

Tepuk tangan meriah mengiringi Hyunmi, Eunsoo, Nara, Ririn, dan Haejin yang perlahan-lahan berjalan keluar dari sisi lapangan. Tim basket yang sedang stretching di pinggir lapangan pun diam untuk menonton, Hyunmi, Eunsoo, Nara, Ririn, dan Haejin kemudian berdiri di tengah lapangan, dan langsung membentuk formasi. Tepukan penonton mulai riuh, sementara dari bagian properti meletakkan pom-pom di sekeliling mereka.

Musik dimulai…

Boys called you sexy, and you don’t care what they said…

See everytime you turned around, they screaming your name…

Boys called you sexy, and you don’t care what they said…

See everytime you turned around, they screaming your name…

Baru part awal lagu saja, seluruh pria di dalam GOR sudah berteriak-teriak menjadi gila. Lima gadis itu meliukkan badan mereka perlahan, dengan senyum yang menggoda, mereka perlahan membuka formasi. Donghae menggigit bibirnya kuat-kuat melihat Haejin tersenyum nakal seperti itu.

Now I’ve got a confession… ha ha ha (kelima gadis itu menghentakkan dadanya ke depan)

When I was young I want attention… ha ha ha… (Haejin maju, dan menggerakkan pom-pomnya lincah)

And I promised my self I’d do anything… anything at all for them to notice me… (Haejin mundur, Ririn maju dengan pom-pomnya)

But, I ain’t complaining… we all wanna be famous… so go ahead and said what you wanna said… (kelimanya, freeze dengan wajah cool, musik mulai lagi)

You know what it’s like to be nameless, want them to know what your name is… (Eunsoo di tengah dan memberi wink, formasi pecah)

Cause we see when I was younger, I wanna say…

When I grow up, I wanna be famous… I wanna be a star… I wanna be in movies…

When I grow up, I wanna see the world, drive nice cars, I wanna have groupies…

When I grow up, be on TV, people know me, be on magazine…

When I grow up, fresh and clean… number one chick, wanna step out on the scene…

Just becarefull what you wish for, cause you might just get it… (Haejin dan Ririn di depan, kelimanya menghentakkan dada ke depan)

You might just get it… (Ririn dan Haejin memunggungi penonton dan menghentakkan dada mereka juga, kemudian berbalik ke depan lagi)

You might just get it…

Becarefull what you wish for, cause you just might get it…

You just might get it… you just might get it… (Penonton sudah berteriak histeris karena gerakan pinggul kelimanya, ditambah pom-pom merah yang membuat mereka semakin enerjik).

I saw them staring at me, girl I’m a trendsetter… (Kelimanya memulai gerakan pelan yang seduktif karena bridge lagu ini pelan, ketiganya mengangkat sebelah kaki mereka, lalu, berbaring di lantai, dan membuat gerakan seolah mengelus kaki mereka yang jenjang).

Yes this is true, cause I know, no one can do it better…

You can talk about me cause I’m a hot topic… (kelimanya merayap ala dance break Brown Eyed Girl Gain di MV Abracadabra. Berpura mengangkat baju mereka ke atas seperti gerakan striptease)

I see you watching me, watching me, and I know you want it…

Kelimanya berdiri serentak membuat seluruh ruangan menjerit-jerit histeris, bahkan Jonghyun kehilangan kata-kata melihat gerakan adiknya yang sudah amat sangat ’mengundang’. Tidak heran tim voli sudah menggigit-gigit balon penyemangat mereka di barisan depan.

”LEE HAEJIN, PARK RIRIN, KWAN NARA, PARK EUNSOO, CHO HYUNMI…” mulai terdengar di seluruh GOR. Bayangkan saja fanchant Lucifer-nya SHINee, kira-kira seperti itulah irama para penonton menyebutkan kelima member cheerleaders SMA Kyunghee tersebut.

When I grow up, I wanna be famous, I wanna be star… I wanna be in movies… (dance break, hanya musik ketika mereka berlima membentuk formasi segitiga, Haejin paling atas tentunya, kemudian Nara, Hyunmi, dan Eunsoo freeze, sementara Haejin dan Ririn duet di depan).

When I grow up, I wanna be famous… I wanna be a star… I wanna be in movies…

When I grow up, I wanna see the world, drive nice cars, I wanna have groupies…

When I grow up, be on TV, people know me, be on magazine…

When I grow up, fresh and clean… number one chick, wanna step out on the scene… (kelimanya membuat gila penonton karena mereka mendekati penonton, dengan gerakan free dance, tapi kemudian mereka kembali ke tengah lagi).

Just becarefull what you wish for, cause you might just get it… (Haejin dan Ririn di depan, kelimanya menghentakkan dada ke depan)

You might just get it… (Ririn dan Haejin memunggungi penonton dan menghentakkan dada mereka juga, kemudian berbalik ke depan lagi)

You might just get it…

Becarefull what you wish for, cause you just might get it…

You just might get it… you just might get it…

Kelimanya strike a pose, dan melemparkan pom-pomnya ke udara, musik berhenti, dan seisi GOR menjadi gila.

Jonghyun geleng-geleng, dan Donghae benar-benar speechless. Dan GOR sudah penuh dengan teriak-teriakan, kelimanya membungkuk, kemudian menghilang dari lapangan basket.

”HAEJIN-AH, SARANGHAEE‼!” teriak Ok Taecyeon keras, diiringi tawa seluruh isi GOR.

Donghae melirik ke Taecyeon, Jonghyun masih speechless. Adiknya memang nekat senekat-nekatnya. Tapi dilihatnya Donghae tidak berkata apa-apa, padahal Jonghyun tahu Donghae shock. Donghae menarik napas dalam-dalam kemudian melirik Jonghyun. ”Aku mau beli minum, kau mau?”

”Ah, ne…”

Donghae mengangguk dan pergi dari hadapan Jonghyun, dia menuju kafetaria yang terletak diluar arena pertandingan, dia membeli sebotol air mineral, dan menenggaknya banyak-banyak. Gadis kecil yang dia jaga, sekarang sudah berubah dratis karena Ok Taecyeon. Astagaaaa…

”Donghae-ya, kau tidak balik?”

Donghae menoleh, dan melihat Gwiboon sedang menenteng spanduk, nampak gembira mendukung tim basket SMA Kyunghee.

”Ne… aku membeli minum, kau mau minum?”

”Boleh…” Gwiboon mengangguk.

Dari pintu samping, Haejin keluar sendirian sudah mengganti pakaiannya dan membawa tas. Dia melihat Donghae dan Gwiboon sedang minum di depan sebuah toko, Haejin menghela napas dalam-dalam, kemudian berjalan keluar tanpa membuat suara, agar Donghae tidak menyadarinya.

 

*Hari Kamis*

Haejin menghela napas dalam-dalam di dalam kamarnya, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Donghae, karena Donghae pastinya sibuk dengan latihan sepak bola, karena besok dia akan bertanding. Dan besok, Haejin akan pergi ke Perancis pula, kedua orangtuanya sudah diberitahu oleh pihak sekolah, dan Lee Sungmin serta Cho Chihoon yang sedang pergi keluar negeri itu, tidak tahu apa-apa mengenai masalah yang dialami putrinya, mereka merasa bangga saja, dan tidak tahu apa-apa.

”Oppa…”

Jonghyun yang sedang menyetem gitar listriknya mendongak, ”Apa?”

”Ada yang mau aku beritahukan pada Oppa…”

”Mau beritahu apa? Masuk sini…”

Haejin masuk ke dalam kamar Jonghyun dan duduk di kasur sambil melihat Jonghyun yang sibuk menyetem gitarnya. ”Oppa… besok aku mau pergi.”

”Mau kemana?”

”Ke Perancis…”

Jonghyun mendongak. ”Jangan mimpi siang bolong, Yeodongsaeng…”

”Ani…” Haejin menggeleng. ”Aku serius! Aku dapat beasiswa dari Conservatoire, sudah dari seminggu lalu. Aku sudah bilang Eomma dan Appa, dan besok aku akan berangkat ke Conservatoire…”

Jonghyun menatap adiknya lekat-lekat, dan meletakkan gitarnya, kemudian dia duduk di hadapan adiknya, dan menatap mata adiknya tajam. ”Kau serius?”

Haejin mengngguk.

”Wae?” tanya Jonghyun.

”Awalnya karena iseng mencoba, begitu videonya dikirimkan, ternyata tembus…” sahut Haejin.

”Jadi, kau mau pergi?”

Haejin mengangguk. ”Aku harus pergi…”

”Kenapa harus?”

Haejin tersenyum. ”Oppa, cuma kau yang tau aku begitu dalam, kau harusnya tau kenapa aku harus pergi.”

Jonghyun memeluk adiknya, dan mengelus kepalanya. ”Gwenchana? Kau tidak apa-apa disana sendirian?”

”Aku akan baik-baik saja, Oppa…” air mata Haejin tumpah dan memeluk erat kakaknya itu. ”Aku akan rindu padamu, Oppa, terutama…” tangisnya. ”Aku kan tidak bisa hidup tanpamu…”

”Aigooo… adikku mau belajar dewasa, johta! Kau pasti bisa, Oppa percaya padamu, Oppa akan mendukungmu… kau pasti bisa! Tumbuhlah dewasa disana, belajar yang baik, jadilah lady begitu pulang, ara?”

”Arasseo, Oppa…” Haejin melepaskan pelukannya. ”Oh iya, Oppa… aku punya satu permintaan…”

”Mwoya?”

”Besok… Oppa tidak usah mengantarku, Oppa juga jangan bilang pada Donghae Oppa soal kepergianku sampai aku sudah pergi…” jelas Haejin serius.

”Wae?”

Haejin tersenyum. ”Ani… hanya tidak sanggup melihatnya saja… kalau dia nanti datang, mungkin aku goyah…”

”Oke!” Jonghyun mengelus kepala adiknya. ”Kau malam ini tidur disini! Kita kan akan kangen-kangenan lamaaa…”

”Arasseo Oppa…”

 

*Seoul Olympic Stadium*

Donghae sudah berada di dalam kamar ganti, sudah mengganti seragamnya dan sekarang sudah memakai sepatu bola, beserta perlengkapan lainnya. Teman-teman satu timnya juga melakukan hal yang sama, karena kemudian mereka akan keluar melakukan pertandingan perdana mereka.

”Donghae-ya, sebagai kapten… kau harus bersemangat, wajahmu sedih dan merana sekali…” ujar Leeteuk mengajak bercanda.

Donghae tersenyum kecil.

”Donghae-ya…” bisik Gwiboon. ”Nanti kan Haejin menjadi cheerleaders, dia berarti menyemangatimu juga… maka bersemangatlah!”

”Ne…” Donghae tersenyum kecil.

Seperti pertandingan-pertandingan sepakbola pada umumnya, kedua belah tim berbaris di dalam ruang ganti, sambil menunggu ketiga wasit mengajak mereka keluar menuju lapangan rumput. Donghae berdiri paling depan barisan, karena dia menjabat sebagai kapten, dia mengencangkan ban kaptennya dan melemaskan otot-otot kakinya agar tidak kram.

Kemudian dengan isyarat dari wasit utama, mereka perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam lapangan. Para penonton sudah mulai berteriak riuh rendah, dan kamera-kamera mulai membidik para pemain yang mulai masuk ke dalam lapangan hijau tersebut. Setelah mereka berbaris lurus dan mendengarkan lagu kebangsaan, penampilan dari cheerleaders lah yang paling ditunggu.

SMA Kyunghee tentu saja selain menanti pertandingan, mereka juga menanti kelima gadis cantik nan atraktif tersebut, terutama bagi penggemar Haejin. Tapi mereka semua terkejut ketika hanya empat orang yang muncul, Donghae sendiri nampak mencari dimana si mungil berpipi tembam itu.

Ririn kemudian mengambil sebuah mike. ”Annyeonghaseyo, yeorobun… saya Park Ririn, anggota tim cheerleaders… saya disini mau menyampaikan permintaan maaf kepada teman-teman dari SMA Kyunghee sekalian, kalau Lee Haejin tidak bisa hadir hari ini, karena sejak seminggu yang lalu, dia resmi mengundurkan diri dari tim cheerleaders SMA Kyunghee.”

Seruan kecewa, dan sedih terdengar dari seluruh penjuru stadion. Donghae sendiri kaget, diliriknya Jonghyun yang duduk dengan wajah murung. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Haejin?

”Yah! Padahal aku mau lihat dia…” gumam Kangin kecewa. ”Aku benar-benar berharap dia menyemangati kita…”

”Tapi sebelum itu…” kata Ririn melanjutkan. ”Kami akan mengabulkan permintaan terakhir Haejin sebelum dia meninggalkan klub cheerleaders SMA Kyunghee… Haejin menciptakan sebuah koreografi yang dipersembahkan untuk orang yang paling dicintainya, dari dia kecil… hingga sekarang, seorang namja yang sudah merebut hati Haejin, bahkan sejak dia dilahirkan…”

Mata Jonghyun bahkan membulat terkejut.

”Untuk itu, demi namja yang akan bertanding hari ini, ini persembahan terakhir Haejin…” Ririn menunjuk layar yang merekam skor yang besar sekali di lapangan bola tersebut. Semua menoleh kesana.

 

Oke, anggap aja SNSD itu nggak pernah ada… dan lagu Oh! Itu emang karangannya si Haejin belaka… wkwkwkwkwk

 

I’m not the person you knew before, brand new sound

With the new me one more round

Dance dance dance till we run this town

Oppa oppa I’ll be I’ll be down down down down

 

Hey oppa look at me, just take a look at me

It’s the first time I’ve spoken like this

I fixed my hair and put on make-up too

Why do you only not notice me?

 

Thump thump, my heart is beating

I just continue imagining

What should I do, having been so proud

I just want to tell you

 

Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

It’s embarrassing so don’t laugh

It’s the truth so don’t make fun either

I’m just saying stupid things again

 

I’m not the person you knew before, brand new sound

With the new me one more round

Dance dance dance till we run this town

Oppa oppa, I’ll be I’ll be down down down down

 

Oppa, just listen to me

Stop saying other things

Don’t think of me just as a younger sister (Haejin mengedipkan matanya disini)

You’ll regret after a year

 

You don’t know my thoughts at all

You don’t realize and just joke around

What should I do, you immature person

Just listen to me

 

Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

It’s embarrassing so don’t laugh

It’s the truth so don’t make fun either

If you do that again, I might just cry

 

I’m not the person you knew before, brand new sound

Something about my heart is different today

Down down, don’t put it off, I just get mad

Oppa oppa, if you keep this up, no no no no

 

Tell me boy boy love it it it it it it it ah!

 

Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

I’m just saying stupid things again

 

Oh! Oh! Oh! Oh!

Ah! Ah! Ah! Ah!

Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oppa, I love you

Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! Ah! A lot, a lot

Oh!

 

Semua penonton bertepuk tangan melihat video yang ditarikan oleh Haejin sendirian disitu. Dia memakai baju berwarna pink dengan nomor 9, tepat di tengah-tengah bajunya, rambutnya dikuncir ke atas, dan dia memegang pom-pom berwarna pink. Haejin membungkuk, dan video tersebut mati.

”Video itu adalah video tesnya Haejin mengikuti tes masuk perguruan tinggi di dua Universitas, Conservatoire dan Julliard… Haejin lolos dua-duanya, dan hari ini, Haejin sudah berangkat ke Perancis, karena dia mengambil beasiswa Conservatoire… untuk Donghae Sunbae…”

Donghae yang seperti kehilangan kesadaran, bahkan dipegangi oleh Kangin dan Leeteuk di kanan-kirinya.

Ririn menatapnya melalui tribun, ”Video itu, dibuat Haejin untukmu… lagu itu dibuat Haejin untukmu…”

Donghae langsung melepas ban kaptennya dan menyerahkannya kepada Leeteuk. ”Aku tidak bisa bermain! Aku harus bertemu dengannya… aku harus pergi sekarang!” Donghae benar-benar berlari keluar dari lapangan. Dia mengganti sepatunya secepat kilat, dan mencari motornya.

”Keumanhae…”

Donghae menoleh dan melihat wajah muram Jonghyun menghampirinya. ”Tak usah dikejar Donghae-ya… percuma, dia sudah berangkat.”

”Wae?!” air mata Donghae tumpah. ”Kenapa kau tidak bilang padaku?! Kenapa kau tidak pernah bilang sesuatu tentang itu?!” teriak Donghae pada Jonghyun. ”Sekarang bagaimana aku bisa terus hidup kalau tahu kenyataan seperti ini?!”

”Alasan apa yang membuatku harus bicara?!” balas Jonghyun. ”Aku sudah terus beritahu padamu, berusaha memberikan petunjuk bahwa adikku mencintaimu! Tapi apa yang kau lakukan? Kau cuma menyakiti hatinya… biarkan dia bebas, biarkan dia pergi, matanya harus dibiasakan tanpa dirimu! Setelah dari lahir dia hanya melihatmu! Sudah cukup sakit hatinya, sudah cukup tangisannya setiap hari untukmu, tahu!”

Donghae terus terisak dan menunduk.

”Demi Tuhan, Donghae-ya… kenapa kau tidak pernah sadar?! Dia akselerasi agar bisa satu sekolah denganmu! Dia ikut ini-itu agar kau sadar akan semua perhatiannya, dan kau baru tahu sekarang?!” tanya Jonghyun tinggi.

”Kukira… kukira dia… dia pacaran dengan Ok Taecyeon…”

”Dan dia mengira kau berpacaran dengan Kim Gwiboon, ketika kami mencarimu, kau berpelukan dengan Gwiboon!” balas Jonghyun.

Donghae terperangah. ”Eh?”

”Waktu itu hujan, Eommamu menelepon mencarimu… Haejin cemas, jadi kuajak dia mencarimu… kami mencarimu ke kamar ganti, dan kau berpelukan dengan Gwiboon disana.”

Donghae terperangah, dan berusaha mengatur napasnya lagi. ”Tapi… aku dan Gwiboon… tidak ada…”

”Mana kami tahu, dan terutama Haejin… mana dia tahu, Donghae-ya…” sahut Jonghyun lirih.

’Don’t think me as your younger sister…’

Penggalan lagu itu terus membekas di telinga Donghae, dan wajah Haejin yang memelintir rambutnya dengan jari : ’Oh, oh, oh, oh… Oppa, I love you… ah, ah, ah, ah… so much, so much…’

”Beri aku nomor teleponnya di Perancis!” mohon Donghae.

Jonghyun menggeleng. ”Tak tahukah kau dia bermaksud menghapusmu? Dia bahkan tidak mengizinkan kami tahu dimana dia tinggal, ponselnya ditinggal di rumah, dia berjanji akan mengirimi kami surat sebulan sekali…” kata Jonghyun sedih. ”Dia sudah dewasa, Donghae-ya…”

Donghae dan Jonghyun pulang bersama ke rumah Jonghyun, Jonghyun membiarkan Donghae naik ke atas, ke dalam kamar adiknya. Donghae membuka pintu kamar pelan-pelan, dan melihat isinya.

Keadaannya memang berubah, tempat tidur masih ada, tapi ditutupi kain putih. Komputer Haejin menghilang, mungkin dibawa ke Perancis, buku-bukunya juga, lemarinya pun kosong. Donghae duduk di atas kasur dan memandang bingkai foto yang ada di sebelah kasur Haejin, disitu biasanya terpajang foto mereka bertiga. Jonghyun, Haejin, dan dia. Tapi bingkai itu kosong, hanya ada bingkai dan kanvas di dalamnya saja.

Haejin membawa foto itu. Donghae memeluk bingkainya, ”Jebal…” desahnya. ”Jangan lupakan aku dulu… aku belum sempat membalas perasaanmu…”

ENDING

Hueeee readers… pertama-tama saya mau minta maaf dulu sama readers sekalian… hiks hiks.. kalo selama ini saya berbohong… FF Oh! ini, sebetulnya bukan ciptaan Carin, tapi murni buatan saya sendiri NISYA… karena saya punya alasan tertentu, dan percobaan tertentu… boleh timpukin saya kok #plakk

Dan endingnya sengaja begini… *dicekek* tapi kalo kalian mau afterstory saya bikinin deh, tapi kalo dendam sama saya, dan pingin gak heppy ending, saya juga ikhlas… wkwkwkwkwk… maaf yaaaa🙂 *lemparin bias masing2*

5 thoughts on “Oh! ~Part 7~ ENDING

  1. woooohhhh…..
    saya berkaca-kaca ngebacanyaaa😥

    penyesalaan selalu dateng belakangaan~

    jonghyun bener-bener kakak yg baik, selalu dukung haejin :’)

    donghae-ya..
    pasti anda masih punya kesempatan buat membalasnya..
    hwaitiiing!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s