Oh! ~Part 6~


Haejin mengembuskan napas perlahan-lahan, kemudian berbalik dan pergi, dia tidak tahan melihat Gwiboon terus memerhatikannya terus seperti itu. Lebih baik kali ini dia yang mengalah, yang jelas dia akan terus mengerahkan seluruh tenaganya agar Donghae sadar!

”Haejin-ah…” sapa Wooyoung.

”Oh, annyeong, Oppa…”

”Kau dipanggil Kesiswaan…”

”Aku?”

”Ne…”

”Ah, ne… gomawo, Oppa…” Haejin langsung berlari menuju ruang Kesiswaan. Dadanya berdebar, apa jangan-jangan dia ketahuan masih 13 tahun, dan mau ditegur karena tarian seksinya kemarin? Haejin mengetuk pintu ruang kesiswaan dengan ketakutan.

”Masuk…” panggil suara di dalam.

Haejin membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam. ”Annyeonghasimnika, Sunsangnim…”

”Duduk, Haejin-ah..”

Haejin duduk menghadap JiHyo Sunsangnim.

”Haejin-ah… barusan aku menerima dua buah surat,” kata Kepala Kesiswaan sekolahnya tersebut. ”Pertama dari Julliard University, dan yang kedua dari Conservatoire Accademy… kau tahu kan itu dari negara mana?”

”Amerika dan Perancis, Sunsangnim…”

JiHyo Sunsangnim mengangguk. ”Aku sudah membaca riwayat hidupmu, SD akselerasi, SMP akselerasi… dan sekarang kau jadi penari yang hebat sekali disini.” Pujinya. Haejin bingung. ”Jadi, Haejin-ah… mereka menawarkan beasiswa perguruaan tinggi kepadamu langsung!”

”Mwo?!”

”Ne… kau sangat pintar, aku yakin kau bisa… jadi persyaratannya hanyalah kau membuat sebuah koreografi, dan menarikannya seperti kemarin… jika respon bagus, kau bisa langsung masuk, pilih diantara kedua sekolah tersebut!”

Haejin ternganga, ”Ini serius, Sunsangnim?”

”Keuromnyo… ayo, Haejin-ah… ikut lah…”

Haejin masih berusaha mencerna apa yang terjadi.

Setelah keluar dari ruangan tersebut, Haejin berjalan sendirian sambil melamun, sehingga tidak sadar bahwa ada yang menunggunya. Sampai orang itu mencoleknya dan berjalan merendenginya. Ok Taecyeon.

”Hai….”

”Oh, hai, Oppa…” senyum Haejin.

”Susah sekali menemuimu hari ini…” katanya. ”Padahal aku mau bicara padamu, Haejin-ah…”

Haejin mendongak, wajahnya tersipu. ”Pembicaraan yang kemarin, kah?”

”Ne… pajo! Pembicaraan yang dikacaukan oleh Lee Donghae…” kekeh Taecyeon.

”Oppa… sungguh aku masih belum tahu harus menjawab apa…” kata Haejin pelan.

”Kita bicara di sana saja…” tunjuk Taecyeon.

Haejin mengangguk dan mengikuti Taecyeon menuju sisi lapangan-lapangan yang memang sepi, karena selain ini sudah jam pulang sekolah, anak-anak yang ikut ekstrakurikuler sedang berlatih semuanya. Taecyeon mendahului Haejin duduk di salah satu bangku beton di bawah rindangnya pohon, dan dia menepuk-nepuk tempat disebelahnya agar Haejin duduk disitu.

”Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku,” kata Taecyeon pelan. ”Tapi yang perlu kau tahu, kalau aku memang benar-benar suka padamu, dan aku tidak berniat mempermainkanmu.”

Kata-kata itu indah sekali… pikir Haejin dalam hati.

”Aku serius…” tambah Taecyeon sambil perlahan-lahan membalik tubuh Haejin menatap dirinya, lalu Taecyeon menggenggam pula kedua tangan Haejin. ”Aku bisa berjanji di depan Donghae dan Jonghyun, kalau aku bisa menjagamu dengan baik… aku tahu kau sangat dijaga dengan baik oleh Jonghyun, dan Donghae pun menjadi bagian dari keluargamu sejak kecil, jadi kurasa dia agak berlebihan dalam menjagamu, tapi itu karena dia sayang padamu, kan?” kekeh Taecyeon.

Haejin menangkup kedua matanya dengan tangannya mendengar Taecyeon berkata begitu. Taecyeon melihatnya, dan kemudian memeluk Haejin perlahan-lahan, ”Kau… suka pada Donghae ya?” tanyanya pelan.

Haejin mengangguk sambil menangis.

”Sudah tidak ada harapan kah untukku?”

”Bukan masalah harapan…” isak Haejin. “Aku sangat ingin melupakan orang yang tidak bisa sadar padaku, dan andai bisa kuatur, aku akan memilih menyukaimu Oppa… kau menyenangkan, kau baik, kau menganggapku sebagai seorang perempuan… tapi tidak bisa!”

”Ne, gwenchana… setidaknya izinkan aku memelukmu saja sekarang.” Ujar Taecyeon sedih.

 

Di lapangan Sepakbola

Mulut Gwiboon tertarik membentuk senyum tipis, melihat pemandangan di depannya. ”Ya! Lee Donghae, palli nawa!”

Donghae menghampiri Gwiboon. ”Ada apa?”

”Lihat, adik kecilmu itu sepertinya sudah menerima Ok Taecyeon… chukae!” ucap Gwiboon.

Donghae menoleh cepat dan melihat Haejin dan Taecyeon sedang berpelukan erat di bangku di bawah pohon. Dadanya tiba-tiba sesak, dan tangannya otomatis mengepal, napasnya memburu. Gwiboon yang masih senyum-senyum kemudian menoleh kepada Donghae, dari senyum, perlahan-lahan senyumya memudar melihat ekspresi Donghae yang seperti orang mau membunuh itu.

Donghae berbalik dan meninggalkan Gwiboon sendirian. Sepanjang sore, Gwiboon bisa melihat konsentrasi Donghae yang pecah begitu bermain sepakbola. Tidak biasanya Donghae seperti itu, Gwiboon memeluk dirinya sendiri menahan rasa sakit yang mau keluar.

Akhirnya Donghae melampiaskan kekesalannya dengan menendang bola ke dalam gawang begitu kencangnya, sehingga Shindong yang menjadi kiper pun ngeri untuk menangkap bolanya. Setelah menendang bola, Donghae berteriak frustasi, membuat Gwiboon mau menangis. Seperti itukah arti seorang Lee Haejin pada Lee Donghae? Gwiboon sedih sekali, karena dia baru sadar bahwa sejak awal, memang dia tidak punya peluang masuk diantara hubungan mereka berdua yang keduanya jalin sejak kecil.

”Apa yang terjadi pada Donghae?” tanya Leeteuk pelan pada sang Manajer. ”Latihan hari ini kacau sekali jadinya…”

”Molla…” sahut Gwiboon serak.

Leeteuk geleng-geleng, ”Sudahlah, hentikan saja latihan hari ini… tidak akan ada yang bisa konsentrasi jika Donghae sudah seperti itu. Dia tidak pernah kehilangan kontrol diri, dan sekarang dia seperti orang kesurupan!”

”Ya, terserahlah… atur saja…” Gwiboon masuk duluan ke kamar ganti.

Sorenya hujan deras kembali mengguyur kota Seoul, Donghae, yang semenjak bubarnya latihan sepakbola sore ini terus mengurung dirinya di dalam kamar ganti, dan hari sudah berubah gelap perlahan-lahan.

 

*           *           *

”Aku pulang…”

”Hai, Oppa…” sapa Haejin sambil menonton televisi dengan celana piyama dan kaus pendek.

Jonghyun melepas jas hujannya dan mengibaskan rambutnya yang agak basah, lalu masuk ke ruang tengah memandang adiknya yang sedang malas-malasan di depan televisi.

”Mana Donghae?”

”Molla… tadi kukira sudah pulang duluan, waktu aku keluar latihan cheers, anak-anak tim sepakbola sudah tidak ada di lapangan, katanya sudah bubar duluan. Kukira dia sudah pulang…”

Jonghyun mengernyit. ”Masa? Tidak mungkin dia tidak mengantarmu atau menunggumu…”

”Mungkin dia bersama Gwiboon Sunbae…” kata Haejin sedih.

Jonghyun duduk di sebelah Haejin dan merangkul adiknya. ”Gwiboon itu bukan siapa-siapanya Donghae, memang mereka dekat. Tapi kurasa Donghae juga tidak punya perasaan apa-apa padanya, kok…”

”Tapi Gwiboon Sunbae suka pada Hae Oppa…” sahut Haejin sambil menghela napas. ”Tadi, Gwiboon Sunbae membuatkan Donghae Oppa bekal makanan, dan aku datang juga dengan membawakan Donghae Oppa makanan… Gwiboon Sunbae sepertinya tidak suka padaku…”

”Ya iyalah, namanya juga saingan…”

Haejin mengangguk. ”Dan Taecyeon Oppa nembak aku…”

”Ah iya, aku penasaran juga dengan yang satu itu…” kata Jonghyun semangat. ”Othe? Kau menerimanya?”

”Mana mungkin?!” lengking Haejin.

Jonghyun terbahak-bahak. ”Astaga, kau benar-benar gadis dengan pendirian yang kuat ya?”

”Aku kan cuma suka Donghae Oppa… aku tidak mau memainkan perasaan orang lain padahal aku tidak menyukainya… karena aku tidak mau Donghae Oppa juga begitu padaku!” *It Has To Be You diputar*

Jonghyun tersenyum, dan mengacak rambut adiknya. ”Okelah… oh ya, besok pertandingan basket, kau akan melakukan apa lagi?” tanyanya menahan tawa. ”Seharusnya kemarin kau lihat bagaimana Donghae marah…”

”Aku bisa prediksi bagaimana ekspresinya, tapi dia babo sekali, Oppa… tidak sadar-sadar…”

”Lalu kenapa tidak kau saja yang bilang padanya kalau kau suka padanya?” tanya Jonghyun heran. ”Mungkin iya dia memang babo…” kata Jonghyun tak berperasaan. ”Tapi itu kan karena dia sama sekali tidak pernah pacaran juga, Haejin-ah. Kita bertiga hidup bersama dari kecil, dan secara tidak sengaja kalian mungkin saling jatuh cinta… bagaimana dia bisa tahu kalau kau suka padanya kalau kau sendiri tidak bilang?”

Haejin geleng-geleng. ”Eomma selalu bilang padaku, kita boleh mengejar pria, tapi tidak boleh lupa kodrat kita sebagai wanita! Jadi walaupun kita mengejar pria, kita yang harus buat pria itu pada akhirnya yang meminta kita jadi pacarnya…”

”Kalo Donghae kayaknya agak susah ya…” Jonghyun geleng-geleng.

”Justru itu, Oppa…”

”Aku sudah mau bunuh diri rasanya berdiri diantara kalian berdua tahu tidak?” kata Jonghyun. ”Kalian berdua ini, dari kecil sudah saling kenal, tapi masalah perasaan saja masih sama-sama bodoh! Aigoooo…”

”Dia yang babo! Aku tidak…”

”Tapi kau keras kepala…”

”Ah… molla Oppa…”

Telepon rumah berdering, Jonghyun berdiri dan mengangkatnya. ”Yeoboseyo… ah, ne, Ahjumma… ne, aniya… aku hanya bersama Haejin di rumah berdua saja. Jinja?” mata Jonghyun melebar. ”Kata Haejin sih seharusnya dia pulang duluan, Ahjumma… ah, keurae? Baiklah, Ahjumma… ne, cheonmaneyo…”

”Wae?” tanya Haejin heran.

”Jiyoo Ahjumma mencari Donghae, tapi katanya ponselnya tidak aktif, dan telepon rumah tidak ada yang mengangkat… makanya Jiyoo Ahjumma kira, Donghae ada disini.”

”Lho, tapi dia tidak disini…”

”Ya sudah kau tunggu disini, aku ke rumah Donghae dulu, barangkali dia ketiduran…”

Haejin menunggu Jonghyun datang, tapi tak lama kemudian Jonghyun muncul sambil menutup payungnya dan berkata, ”Donghae tidak di rumah…” kata Jonghyun heran.

”Hee??? Lalu Oppa dimana dong?”

Jonghyun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Donghae, ponselnya memang tidak aktif. ”Hmm… tidak aktif, kemana dia?”

Haejin menatap Jonghyun khawatir.

 

*Kamar Ganti Ekskul Sepakbola SMA Kyunghee*

”Belum pulang?” tanya seseorang.

Donghae menoleh kaget, seluruh organ tubuhnya terasa kaku karena sudah diam dalam waktu lama. Dilihatnya Gwiboon sedang memandangnya. ”Beluuuum…” sahut Donghae datar.

”Memikirkan Haejin?” tebak Gwiboon.

Donghae mendongak, kemudian menghela napas. ”Andai aku bisa menjawab tidak, sayangnya iya…”

”Kau tahu tidak kalau itu menghancurkan hatiku?”

”Maksudmu?”

Gwiboon tersenyum miris. ”Kau polos sekali, Donghae-ya… aku suka padamu.”

Donghae tertegun.

”Sejak awal kau dan aku kenal di klub sepakbola, sejak aku menjadi Manajer tim sepakbola, rasanya sudah lama… aku sama sekali tidak meminta lebih dari hubungan yang selama ini kita jalin karena aku yakin, suatu saat nanti mungkin kau akan membalas perasaanku…”

Donghae menatap Gwiboon tidak percaya.

”Dan jujur saja, sejak aku kelas satu dan kenal denganmu, aku selalu mendengarkan ceritamu tentang Haejin… kukira dia memang adik kandungmu… bahkan waktu kau menceritakannya seolah dia memang adik kandungm, terbersit rasa cemburu di hatiku…” ujar Gwiboon jujur. ”Tapi, karena kukira dia memang adikmu, dan aku juga bukan siapa-siapamu, aku tidak berani bicara banyak… dan sekarang ternyata kenyataan lain menghantamku, dia bukan adik kandungmu…”

”Aku hanya menganggapnya adik…”

”Aniya…” Gwiboon menggeleng. ”Sister complex itu hanya terjadi pada Oppa kandung kepada yeodongsengnya saja… dan kau lupa Donghae-ya, apa yang aku katakan tadi? Waktu aku masih mengira dia adik kandungmu saja aku sempat cemburu…”

”Jadi maksudmu… aku?”

”Kau jatuh cinta padanya, Donghae-ya… sadarlah, kasihan dia…” Gwiboon tersenyum. ”Dia berusaha membuatmu sadar kalau dia jatuh cinta padamu, tapi kau hanya menganggapnya adik saja…”

Donghae masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. ”Tapi…”

”Semua orang juga bisa melihat,” tambah Gwiboon. ”Bahkan Ok Taecyeon yang baru tahu hubungan kalian saja sudah bisa tahu, kalau kau suka pada Haejin.”

”Tapi Haejin dan Taecyeon…”

”Kalau memang mereka jadian, ya mungkin karena kau tidak kunjung membalas perasaannya, Donghae-ya…”

Donghae menatap Gwiboon, ”Gwiboon-ah, mianhae…”

”Mianhae mwo?”

”Aku tidak tahu kalau kau…”

”Ah, gwenchana…” Gwiboon tersenyum. ”Aku hanya tahu kalau diantara kalian tidak mungkin bisa aku masuki… terlalu tidak ada lubang diantara hubungan kalian. Dia butuh kau, kau butuh dia… hanya perlu waktu sadar saja…”

Donghae tersenyum, ”Kau gadis baik, Gwiboon-ah, kau sahabt terbaikku… aku sayang padamu…”

”Gomawo…” Gwiboon memeluk Donghae.

Dan Jonghyun serta Haejin ternyata berdiri di depan pintu kamar ganti, keduanya terpana melihat pemandangan di depan mereka. Sebelum isak tangis Haejin terdengar, Jonghyun sudah buru-buru membawa Haejin pergi dari situ, karena dia tahu adiknya sangat shock.

Di lorong sekolah yang sepi, Haejin merosot jatuh ke lantai dan air mata mengalir dari kedua sudut matanya, tapi dia tidak bersuara. Jonghyun sedih sekali melihat adiknya seperti ini, dia berjongkok dan memeluknya. Haejin masih dengan tatapan hampa tapi dengan air mata terus mengalir.

”Haejin-ah…” panggil Jonghyun lembut sambil terus mengusap punggung adiknya. ”Sudah ya, jangan menangis lagi…”

 

*Esoknya*

Haejin keluar dari dalam ruangan Kesiswaan sambil menghela napas dalam-dalam, kemudian berjalan sendirian di koridor.

”Hai…”

”Oppa, annyeong…”

Taecyeon muncul dengan senyum khasnya dan melambai, ”Kau dari Kesiswaan ya? Ada apa memangnya? Nilaimu jelek?”

”Aish! Oppa asal sekali…”

”He he he… aniya, aku hanya bercanda, tapi ada apa kau ke Kesiswaan terus beberapa hari ini?”

”Ani, hanya berkonsultasi…”

”Jinja?”

”Ne…”

”Kalau begitu ayo kita ke lapangan voli…” Taecyeon langsung merangkul Haejin menuju lapangan voli.

Donghae melihat dibawanya Haejin oleh Taecyeon, sepertinya memang benar keduanya telah pacaran sekarang, sedihnya, dan dia kembali ke latihannya bersama klub sepakbolanya.

 

*Ball Room*

”Besok adalah pertandingan basket, jadi kita harus bersemangat untuk menari dan mendukung tim sekolah kita, arasseo?”

”Ne!”

”Bagus…”

Eunsoo duduk di sebelah Haejin yang memainkan pompomnya dengan tidak bersemangat. ”Kau kenapa, Haejin-ah?”

”Eh?”

”Iya, kuperhatikan kau sama sekali tidak bersemangat…” Hyunmi ikut bicara.

Haejin tersenyum. ”Ah, aniya…”

”Haejin-ah, kau itu vitaminnya para Sunbae disini…” kata Hyunmi. ”Mereka akan bersemangat kalau kau juga bersemangat, kami mohon… bersemangatlah!”

”Ne!”

Ririn duduk di sebelah Haejin begitu semua anggota sudah sibuk sendiri-sendiri, Ririn merangkul sahabatnya. ”Ada apa? Apa yang terjadi padamu, Haejin-ah?”

”Aku menyerah…” sahut Haejin pelan.

”He???”

”Aku menyerah, Ririn-ah…” sahut Haejin pelan. ”Donghae Oppa itu suka pada Gwiboon Sunbae, sudah sejak mereka kelas satu SMA, dan aku sama sekali tidak tahu! Sudah itu, kemarin… Donghae Oppa hilang, begitu aku dan Jonghyun Oppa mencarinya, ternyata… dia… dia bermesraan dengan Gwiboon Sunbae…”

Ririn ternganga, kemudian mengelus pundak sahabatnya yang sedang sedih tersebut. Ririn tahu betapa itu sangat membuat terguncang sahabatnya.

”Dia sangat menyukai Gwiboon Sunbae, tidak mungkin dia bisa melihatku yang seperti ini… aku sudah tidak bisa usaha apa-apa lagi… tenagaku habis…” ucap Haejin lelah.

Ririn memeluknya.

”Tenagaku… benar-benar habis…” isak Haejin.

”Haejin-ah…” Ririn melepaskan pelukannya. ”Aku ikut sedih… padahal aku yakin kalau kau pasti bisa mendapatkan Donghae Oppa sama sepertiku… aku bahkan harus berterimakasih kepadamu… karenamu aku semangat memperjuangkan Siwon Oppa, dan Siwon Oppa akhirnya menyatakan perasaannya padaku…”

”Chukae, chingu-ya…” Haejin tersenyum dengan air mata menggenang.

”Aku sedih…” kata Ririn prihatin.

”Gwenchana, mungkin memang Donghae Oppa tidak ditakdirkan untukku…” jawab Haejin sambil tersenyum. ”Aku sudah menyerah… dan mungkin besok adalah panggung terakhirku menari…”

”Wae?”

Haejin tersenyum. ”Aku mau ke Perancis…”

”Mworago?!” teriak Ririn.

Haejin menekap mulut Ririn. ”Jangan keras-keras, aku tidak mau ada yang tahu hal ini… yang tahu baru Kesiswaan dan aku, juga kau! Jonghyun Oppa dan orangtuaku saja belum tahu!”

”Kenapa?”

”Aku mendapat beasiswa di Conservatoire…” sahut Haejin pelan. ”Karena aku mendapatkan banyak kelas akselerasi… kau tahu tidak kalau usiaku sebetulnya baru tigabelas tahun?”

Mata Ririn terbelalak lebar. ”Tigabelas?!”

”Ne…” Haejin mengangguk tersenyum.

”Bagaimana mungkin kau usia tigabelas sudah masuk SMA?!” tanya Ririn benar-benar tidak percaya.

”Percaya atau tidak, itu karena Donghae Oppa…” jawab Haejin sambil tersenyum miris. ”Aku selalu berharap ingin bersamanya, satu sekolah dengannya, kecuali SD… SD memang kami satu sekolah… aku bisa akselerasi karena aku mau bersamanya! Begitu pula dengan SMA ini…”

”Daebak…” gumam Ririn terperangah.

”Dan sekarang percaya atau tidak, aku ke Conservatoire juga karena Donghae Oppa…”

”Karena kau patah hati?”

”Ani… sebelum patah hati,” jawab Haejin. ”Persyaratan masuk Conservatoire adalah aku mengirimkan video tari ciptaanku sendiri, dan lagu serta koreografi dan aransemennya semua kubuat dalam waktu dua hari, hanya karena cintaku kepada Donghae Oppa… dan sekarang, dia memang tidak bisa menganggapku sebagai wanita, jadilah aku harus kejar mimpiku sendiri…”

”Maksudmu?”

Haejin tersenyum miris lagi dan memegang dadanya yang dirasanya perih. ”Selama ini segala sesuatu aku lakukan karena Donghae Oppa, tapi kali ini tidak… aku akan pergi, dan mencari mimpiku sendiri! Mungkin dengan begitu, aku tidak perlu hancur…”

You are a great girl…”

”Gomawo…” Haejin memeluk Ririn.

Ririn mengelus kepala Haejin. ”Aku akan merindukanmu, Haejin-ah… kau akan ke Perancis kapan?”

”Minggu depan, tepat ketika pertandingan sepakbola Donghae Oppa…”

”Jadi maksudmu kau tidak akan menonton?”

”Tidak…” Haejin menggeleng. ”Sudah cukup mimpiku… aku harus cari mimpi yang lain, yang bisa membuatku bertahan hidup!”

Pulang dari sekolah, Jonghyun yang mengerti dengan perasaan Haejin, bela-belain untuk terlambat latihan CN Blue-nya tercinta, dan mengantarkan Haejin pulang terlebih dahulu karena Haejin tidak mau bertemu Donghae. Donghae bisa melihat perubahan sikap Jonghyun kepadanya, hendak bertanya, tapi Jonghyun terlalu masam, sehingga Donghae mengira Jonghyun marah padanya, meski ada benarnya.

Maka Donghae mengendarai motornya perlahan-lahan mengikuti motor di depannya, di depan rumah Haejin turun, dan Jonghyun langsung pergi lagi. Donghae menghampiri Haejin yang sedang memutar kunci rumah.

”Kenapa tidak mau bicara padaku?” tanya Donghae pelan.

Haejin terlonjak dan berbalik. ”Oppa…”

Donghae menatapnya dalam, Haejin balas menatapnya dalam. Pikiran Donghae mengarah ke Taecyeon, pikiran Haejin mengarah ke Gwiboon. Perlahan mata keduanya memanas.

Haejin langsung lemas dan jatuh ke bawah, Donghae menangkapnya dan memeluknya, dilihatnya dari sudut mata Haejin, air mata keluar. Donghae juga mau menangis, tapi dibawanya Haejin ke dalam rumahnya dan dibaringkannya Haejin di atas tempat tidurnya.

”Kau pasti menderita karena aku tidak mengizinkanmu pacaran dengan Ok Taecyeon kan?” tanya Donghae menatap wajah Haejin yang tertidur, kemudian mengelus pipinya. ”Mianhae, karena ternyata aku suka padamu… dan aku jadi jahat padamu, dan melarangmu… ternyata itu karena cemburu… mianhae, Haejin-ah…” perlahan diciumnya bibir Haejin.

 

Haejin terbangun, kepalanya pusing! Terlalu banyak kesedihan yang ditahannya hari ini, hingga dia tumbang di depan Donghae tadi. Tapi dilihatnya Donghae sedang tertidur menungguinya, Haejin duduk dan menangis lagi. ”Oppa… jangan begini teruuuus… aku semakin sedih melepasmu!” isaknya. ”Jadilah yang terbaik bagi Gwiboon Sunbae, Oppa… maaf tidak bisa jadi adik yang baik bagimu, karena aku cinta padamu…” Haejin mendekati Donghae yang bersandar di ujung tempat tidurnya, perlahan mengusap pipi Donghae, dan berkata, ”Izinkan aku setidaknya sekaliii saja melakukan hal ini…” dan Haejin mencium bibir Donghae lembut. ”Sampai jumpa, Oppa…”

TBC

3 thoughts on “Oh! ~Part 6~

  1. huwaaaaaaa… haejin jangan nyerah dong jangan nyerahhh..
    kaga seruuu ahh klo haejin nyera,,,
    *kabuuuur ke part selanjutnyaa…

  2. Aigoo..tp aq suka crita in.. Biar haejin prgi dl k prancis.. Ga tw knp pgnny bgtu.. Biar hae bnr2 ngenalin dl hatiny sndiri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s