Oh! ~Part 5~

Tiga menit kemudian musik berhenti, dan Haejin berhasil membuat para pria going crazy, bahkan yang dari SMA Kangnam. Meski badan Haejin masih kecil mungil, wajahnya yang imut-imut dan aegyo, serta ekspresinya yang ’mengundang’ membuat pria-pria menjadi gila, kemudian tim voli SMA Kyunghee keluar, mereka juga nampak sangat bahagia setelah menonton performance barusan.

Taecyeon mengecup pipi Haejin, Haejin terperangah, tapi kemudian terkikik, diiringi tatapan iri namja-namja lain.

”Mwoya?! Apa-apaan itu si Taecyeon main ciam-cium saja!” emosi Donghae. ”Aku harus ke bawah…”

”Ya ya ya! Kau mau kemana?” Jonghyun tidak bisa berhenti cekikan sambil menahan Donghae yang sudah mau turun.

”Apa-apaan itu?!” desis Donghae.

”Donghae-ya… jangan begitu, kasihan adikmu…” tambah Gwiboon.

Jonghyun mengangguk-angguk, ”Sudah biarkan saja… namanya juga anak-anak,” mendorong Donghae duduk lagi.

”Justru karena dia masih anak-anak!”

”Kenapa ini jadi masalah sih bagimu?!” tanya Jonghyun pada Donghae. ”Biarkan saja, Taecyeon memang suka pada Haejin!”

Donghae duduk lagi, hatinya kesal.

 

*Kamar Ganti*

”Huee… Siwon Oppa menelepon!” panik Ririn, yang langsung kabur mengangkat telepon dari Oppanya.

Haejin cekikikan, ”Kenapa Oppa-Oppa itu pada bawel? Seharusnya bangga dong, punya badan bagus, dada bagus…” Haejin berlenggak-lenggok sendiri di depan kaca. ”Donghae Oppa pabo!” Haejin menunjuk-nunjuk kaca. ”Ratusan, bahkan ribuan pria suka padaku, tapi dia tidak! Awas kau!”

Hyunmi Sunbae masuk. ”Halo, Haejin-ah… kau dicari oleh Taecyeon tuh…”

”Hmm?” tanya Haejin heran. ”Arasseo, memang pertandingannya sudah selesai ya?”

”Sudah, tim kita menang!”

”Ah, daebak!” Haejin buru-buru keluar, tanpa jaket!

Seisi lapangan sudah ramai, tim SMA Kyunghee merayakan kemenangan mereka, begitu Haejin keluar sorakan riuh semakin terdengar. Haejin mendekati tim Voli, dan ber-high five dengan mereka berenam satu persatu.

”Oppa, chukae…”

”Gomawo, Haejin-ah…”

”Kau benar-benar hebat! Semua skor yang aku ciptakan tadi, bisa dibilang karena bersemangat mengingatmu…”

Wajah Haejin berbinar. ”Ah, jinja?! Aku senang…”

”Haejin-ah, ada yang mau kukatakan, kau mau pulang bersamaku?” tanya Taecyeon diiringi siulan dan deheman dari anggota voli lainnya, Haejin mengernyit. ”Jebal, nanti kuantar sampai rumah… atau perlukah aku minta izin pada Jonghyun?”

”Ah, ani… tidak usah Oppa, baiklah… kalau begitu aku ganti baju dulu…” Haejin kembali ke kamar ganti sambil menghubungi Oppanya.

Sementara di tribun, Jonghyun menutup ponselnya setelah menerima kabar dari Haejin. ”Donghae-ya, ayo pulang!”

”Jemput Haejin dulu!” Donghae tak sabar untuk marah-marah.

”Haejin tidak akan pulang bersama kita, dia akan diantar oleh Ok Taecyeon…” sahut Jonghyun. ”Kau antar Gwiboon saja pulang…”

Gwiboon menoleh pada mereka berdua. ”Gwenchana…”

”Sudah sana antar Gwiboon…” Jonghyun mendorong Donghae.

Donghae mengangguk, ”Ayo, Gwiboon-ah…”

Ketika Donghae dan Gwiboon sudah berada di pelataran parkir, dan Gwiboon sedang memakai helm yang diangsurkan Donghae padanya, perhatian mereka terpecah manakala melihat Haejin dan Taecyeon. Donghae menatap keduanya, tepat ketika Haejin menoleh dan melihat Donghae bersama Gwiboon.

”Waeyo?” tanya Taecyeon.

Haejin terus menatap Donghae dengan pandangan sedih, mau marah, tapi kemudian Donghae menatapnya sama marahnya, dan malah balik badan lalu menaiki motornya dan menyalakan mesinnya.

”Oppa…” bisik Haejin memanggil Donghae, meski mustahil, dia berharap, setidaknya Donghae akan menoleh.

Donghae tidak menoleh, malah kemudian mengendarai motornya pergi bersama gadis bernama Gwiboon. *Let’s Not diputar*. Haejin menahan sesak melihatnya, apa yang harus dia lakukan agar pria itu sadar? Taecyeon sepertinya tidak tahu apa-apa, karena terus memperlakukan Haejin seperti tadi, dan mengajaknya naik motor.

Sepanjang perjalanan Haejin diam saja, wajahnya menjadi murung. Dia tidak sadar begitu Taecyeon sudah mengantarnya sampai di depan rumahnya.

”Hei… sudah sampai…”

Haejin turun perlahan-lahan dari motor, kemudian membungkuk. ”Gomawo, Oppa…”

”Eh, nanti dulu… ada yang mau aku bicarakan padamu…” tahan Taecyeon.

Haejin mendongak, ”Ah, ne?”

”Haejin-ah… aku… suka padamu…”

Haejin mendadak macet, semua organ tubuhnya tidak bergerak sama sekali, kecuali kuping yang semakin tajam. Seumur hidup tidak pernah ada yang berkata begitu kepadanya.

”Mwo?!” tanya Haejin pelan.

”Aku suka padamu…” lanjut Taecyeon. ”Kau lucu, ceria, tidak pernah sedih, selalu senang… kau selalu membuatku bersemangat.”

Andai yang bicara bukan Taecyeon Oppa… hanya itu yang ada dipikiran Haejin.

”Haejin-ah…” panggil Taecyeon lagi.

”Hmm?” Haejin masih menunduk.

”Maukah kau jadi yeojachinguku?”

Haejin mendongak, terkejut. ”Yeojachingu?”

”Andwe!” sahut suara di belakang mereka. Haejin dan Taecyeon kontan menoleh ke suara dibelakang mereka.

Donghae dan Gwiboon.

”Oppa…” suara Haejin penuh damba.

Taecyeon menatap Donghae dengan heran. ”Donghae-ya? Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mengizinkan?”

Haejin tersenyum.

”Karena dia adalah adikku… dia masih kecil! Belum bisa pacaran!” sahut Donghae.

Senyum Haejin langsung berubah menjadi guratan muram, ”Oppa! Bisa kah kau berhenti bilang bahwa aku masih kecil?!” tanya Haejin dingin.

”Kenyataan memang kau masih kecil!” desis Donghae sambil mendekati Haejin dan menatapnya garang.

Haejin mendongak, balas menatapnya garang.

”Apa-apaan tadi?! Pake baju terbuka, nari-nari erotis seperti itu?! Yang tadi aku lihat bukan Lee Haejin yang aku kenal!”

”Keurae!” bentak Haejin membuat Donghae terlonjak. ”Aku memang bukan Lee Haejin yang Oppa kenal!” teriak Haejin. ”Siapa yang membuatku berubah seperti ini?! Oppa seharusnya ngaca!”

”Aku? Aku yang membuatmu begini!”

”Ne!” teriak Haejin.

”Donghae-ya…”

”Haejin-ah…”

Taecyeon dan Gwiboon kalang kabut berusaha meredamkan mereka berdua.

”Oppa, jebal!” air mata Haejin tumpah seketika. ”Wae? Kenapa kau terus berpura-pura seakan tak bisa membaca perasaanku? Oppa terus tarik ulur hatiku…” tangisnya tumpah. ”Oppa membiarkan aku disisi Oppa selama bertahun-tahun aku hidup, bahkan sejak dalam kandungan Eomma pun aku sudah bergantung kepadamu… tapi kenapa kau tidak sadar juga? Aku harus bagaimana, Oppa? Beritahu aku…” isaknya.

Akan tetapi, Donghae masih diam, dia masih bingung untuk mencerna seluruh kata-kata Haejin.

”Sudahlah…” Taecyeon menarik Haejin ke sisinya.

Haejin diam, dia merasa Donghae benar-benar meluluh lantakkan hatinya.

”Haejin-ah, kita bicarakan masalah ini besok saja ya… lebih baik kau masuk dulu ke dalam…” saran Taecyeon.

”Ani!” tolak Haejin. ”Kita bicarakan saja masalah itu disini…”

Donghae menatap Haejin dan Taecyeon tajam.

”Donghae Oppa…” kata Haejin sambil terus menatap Taecyeon. ”Ada pria yang mau aku jadi pacarnya…”

Dada Donghae sesak begitu Haejin berkata begitu. ”Andwe! Aku tidak mengizinkan!”

”Wae? Jangan karena alasan aku masih kecil…”

”Waeyo, Donghae-ya?” tanya Gwiboon akhirnya, dia menarik tubuh Donghae menghadap ke arahnya. ”Kenapa kau tidak membiarkan adikmu bersama orang lain? Sister complexmu prah sekali! Kalau orang tidak tahu hubungan kalian yang sebetulnya, orang akan mengira kau cemburu, Donghae-ya…”

Baik Donghae, Taecyeon, dan Haejin menoleh berbarengan kepada Gwiboon, ketiganya membelalak.

Pintu pagar rumah Haejin mendadak terbuka, muncullah Jonghyun sambil tersenyum penuh arti. ”Tadinya aku tidak mau ikut campur… tapi masalah ini sepertinya sudah sangat kelewatan. Donghae-ya, keumanhae… jangan campuri urusan adikku lagi!” Jonghyun menarik Haejin masuk.

”Mwo?! Dong…hae-ya?” Gwiboon gemetaran menunjuk Jonghyun yang membuka pintu rumahnya, dan membawa Haejin masuk, lalu menutup pintu. ”Neo… kau dan Haejin… bukan kakak-adik kandung?”

Donghae diam dan menoleh pada Gwiboon, ”Aku tidak pernah bilang dia adik kandungku… tapi dia memang adik bagiku.”

”Cih! Jangan munafik, Donghae-ya…” Taecyeon berlalu sambil mengendarai motor sportnya.

”Aku pulang…” Gwiboon dengan nada dingin pergi berlalu.

Donghae hanya tinggal sendirian menatap rumah keluarga Jonghyun dan Haejin, pikirannya kacau.

 

*           *           *

Haejin melempar tasnya begitu saja ke atas kasur, diikuti tubuhnya dan menangis lagi disana sambil memukul-mukul kasur, Jonghyun mengikutinya dari belakang dan geleng-geleng.

”Sudahlah…” bujuknya.

Haejin terus menangis.

Jonghyun menghampiri Haejin dan menepuk-nepuk punggungnya. ”Ayolah, Haejin-ah, sejak kapan kau jadi cengeng dan hobi mengeluarkan air mata seperti ini sih?”

”Oppa, aku kesaaaaal!”

”Apalagi aku!”

Haejin menoleh kepada Oppa-nya, wajahnya yang dipenuhi air mata jadi nampak kebingungan. ”Kau kenapa kesal, Oppa?”

”Kesal saja…” sahut Jonghyun tak bertanggung jawab. Padahal dalam hatinya, yang membuatnya kesal adalah bagaimana mungkin dia hidup diantara dua orang bodoh ini? Dan kenapa ujung-ujungnya dia jadi ikut-ikutan bodoh? Selama ini, dia hanya mengira Haejin yang punya perasaan yang sama kepada Donghae, dan tidak menyadari ada sesuatu yang bergerak juga dalam diri Donghae. Dia kesal karena dia baru sadar sekarang.

Haejin terus menangis. ”Donghae Oppa payah!” desisnya pilu.

”Haejin-ah… berusahalah terus! Kurasa sebentar lagi dia akan sadar…” kata Jonghyun.

Haejin menoleh, ”Eh?”

”Percayalah padaku! Dia akan sadar…” ucap Jonghyun yakin.

”Ne, arasseo, Oppa…” Haejin menghapus air matanya dan tersenyum lagi.

 

*           *           *

Donghae duduk di dalam ruang tengah rumahnya sendirian, lampunya gelap, tidak dinyalakan sama sekali. Kelebatan-kelebatan kata-kata terus mengiang di pikiran dan telinganya, baik dari Jonghyun, Gwiboon, Taecyeon, dan Haejin sendiri. Makin banyak yang membuatnya sesak, dan tidak mengerti.

”Wae? Kenapa kau terus berpura-pura seakan tak bisa membaca perasaanku? Oppa terus tarik ulur hatiku…”

”Donghae-ya, keumanhae… jangan campuri urusan adikku lagi!”

”Cih! Jangan munafik, Donghae-ya…”

. ”Kenapa kau tidak membiarkan adikmu bersama orang lain? Sister complexmu prah sekali! Kalau orang tidak tahu hubungan kalian yang sebetulnya, orang akan mengira kau cemburu, Donghae-ya…”

Donghae memegang dadanya, ”Aku cemburu?” tanyanya pelan. ”Andwe! Tidak mungkin…” Donghae menggeleng-geleng. ”Haejin, dia adikku…”

Aku hanya adikmu… tapi tahukah kau Oppa? Aku lelah jadi adikmu…”

”Ah, bingung!” Donghae meremas rambutnya sendiri, kemudian berbaring di atas sofa. ”Anak itu memang sudah tidak bisa lagi dibilang anak kecil…” akunya pasrah. ”Tapi… apa dia serius pada Taecyeon? Aniya, apa Taecyeon serius padanya?!”

Donghae memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Lee di sebelah kiri rumahnya, di depan pintu, Donghae mengetuk dengan perasaan cemas. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan muncullah Jonghyun.

”Kau…” kata Jonghyun heran.

”Jonghyun-ah…”

”Ada apa?” tanya Jonghyun.

Donghae memandang Jonghyun cemas. ”Sekarang haruskah ada sesuatu dulu, baru aku boleh kesini?”

”Hh…” keluh Jonghyun. ”Aku khawatir kau dan Haejin akan bertengkar seperti tadi siang! Telingaku mau pecah mendengarnya… lagipula kau, kenapa kau melarang Haejin pacaran?”

”Dia masih kecil…”

”Okelah, jangan bahas di depan pintu…” Jonghyun melebarkan pintu masuk, Donghae masuk, dan Jonghyun menutup pintu rumahnya. Jonghyun duduk di sofa, Donghae ikutan. ”Jadi, kenapa kau melarang Ok Taecyeon jadian dengan adikku?”

”Ya karena…”

Jonghyun mengangkat alisnya. ”Karena?”

”Kenapa kau memberinya izin memangnya?”

”Lho, memangnya kenapa? Haejin sudah sepantasnya pacaran, aku tidak mau dia jadi anak polos yang gampang dibohongi orang! Untuk itu, dia harus pacaran untuk memperluas pergaulan…” ucap Jonghyun.

Donghae geleng-geleng. ”Kau ini Oppa macam apa sih?”

”Aku hanya akan membantu Haejin apa pun yang ingin dia lakukan, dan aku akan melihatnya… kalau dia berbuat salah ya aku tegur lah…”

”Tadi kau tidak tegur dia!”

”Untuk apa? Dia bebas mengekspresikan perasaannya seperti tadi, karena ada namja bodoh yang tidak sadar-sadar akan sikapnya selama ini!” ujar Jonghyun sarkastis.

”Namja bodoh?!”

”Ne, namja bodoh!” sahut Jonghyun.

”Maksudnya?!”

Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran, ucap Jonghyun dalam hati. ”Begini ya, Lee Donghae… yang tampan, manis, baik hati, tidak sombong, rajin menabung…” ujar Jonghyun habis sabar. ”Aku beritahu padamu ya, kenapa Haejin jadi centil begitu sekarang?”

”Kenapa memangnya?”

”Dia sedang jatuh cinta, Lee Donghae…”

Mata Donghae membelalak lebar. ”Jatuh… cinta?” tanyanya pelan.

Jonghyun manggut-manggut sok misterius. ”Haejin tidak mungkin begitu kalo bukan karena pria itu, Donghae-ya…” Jonghyun menaik-naikkan alisnya.

”Nugu?”

”Nah, tanya Haejin, aku tidak punya otoritas…” Jonghyun melirik jam dinding. ”Aigo, aku harus ke studio, CN Blue mau tampil, titip si kecil ya… jangan di ajak berantem lagi!” ancam Jonghyun.

Donghae masih dalam keadaan tak sadar manggut-manggut, sementara Jonghyun kabur buru-buru keluar dari rumah membawa jaketnya sambil cekikikan. ”Mereka harus dikasih waktu berdua…”

Donghae melipat kedua kakinya, ”Haejin? Jatuh cinta?”

Sementara Haejin bangun dari tidur siangnya yang menyakitkan karena sehabis menangis di atas, dia menguap lebar-lebar, dan mengulet ke kanan dan ke kiri. ”Oppa…” panggilnya. Tak ada sahutan, Haejin mengernyit, ”Oppa…” panggilnya lagi. Masih tak ada jawaban.

Haejin perlahan-lahan turun dari kasurnya dan melangkah pelan keluar, ”Oppa?! Neo eodiya? Oppa…” panggilnya. Haejin keluar dan melihat lorong di lantai dua gelap, Jonghyun tidurkah?”

Haejin menyalakan lampu, kemudian turun ke bawah. Di bawah juga gelap, kemana Oppa-nya? Haejin menyalakan lampu tengah dan terkejut mendapati Donghae sedang tertidur di atas sofa. Wajah Haejin langsung cerah, bagaimana pun juga, dia tidak bisa marah pada orang ini… orang yang selalu membuat jantungnya berdebar.

Donghae tertidur sambil bersandar di sofa, tangannya menyilang, dan wajahnya damai. *inget aja si Donghae waktu mau disiram air sama Heechul* Haejin tersenyum sendiri melihatnya.

”Oppa…” bisik Haejin di hadapannya setelah berjongkok, hingga bisa menatap langsung wajah tampan itu. ”Neo… neomu meotjo… jeongmal saranghaeyo…” perlahan-lahan dibelainya wajah yang sedang tertidur itu. ”Bukalah hatimu, Oppa… aku bukan adikmu, aku mau jadi yeoja untukmu…”

Napas Donghae teratur naik turun.

Haejin akhirnya hanya diam saja menatap Donghae, entah kenapa begitu saja rasanya sudah sangaaaat bahagia.

Setengah jam kemudian Donghae terbangun, dan melihat Haejin masih berjongkok menatap matanya. Donghae tersentak kaget, ”Haejin-ah…”

”Sudah bangun?!” tanya Haejin heran.

”Ah, ne…” Donghae mengucek-ngucek matanya. ”Sejak kapan kau ada disini?!”

”Harusnya aku yang tanya sejak kapan Oppa tidur disini, dan kemana Jonghyun Oppaku pergi?”

”Dia latihan bersama CN Blue… kukira kau masih tidur, jadinya aku ketiduran disini… Jonghyun minta aku menemanimu…”

Haejin berdiri dan melemaskan ototnya. ”Ah, aku berani sendirian kok…”

”Yakin? Nanti kalo mati lampu kau lari ke rumahku, kan?”

”Iiih, jangan doain mati lampu dong!” jerit Haejin.

Donghae tertawa terbahak-bahak, dan menarik Haejin duduk di sampingnya. ”Itu baru Haejin…” dicubitnya pipi Haejin. ”Penakut, bawel, suka teriak-teriak… bukan Haejin yang selama ini maraaaaaaaaaaaaaah melulu, dan suka melawan semua yang diberitahukan kepadanya!”

Haejin menggembungkan pipinya sebal. ”Aku melawan, karena aku bukan anak kecil lagi, Oppa…”

”Aegi… usiamu itu masih 13 tahun…”

”Lalu kenapa kalau masih 13 tahun? Aku sudah masuk SMA, dan pergaulanku sekarang sama dengan pergaulan anak SMA, kan?”

Donghae menghela napas. ”Ara… aku tidak mau bertengkar!”

”Oppa yang mulai!”

”Kau tidak mau mengalah…”

”Seharusnya Oppa yang mengalah padaku…”

”Ya Tuhan! Haejin-ah, siapa sih pria yang membuatmu jadi gila seperti ini?!” tanya Donghae heran. Menatap Haejin lekat-lekat.

Wajah Haejin terbelalak kaget.

”Aku tahu kau sedang jatuh cinta sekarang…” ucap Donghae sambil membelai lembut pipi Haejin. ”Tapi kumohon, tetaplah jadi Haejin yang kukenal, jangan berubah…”

Dada Haejin bergemuruh. Bagaimana mungkin orang ini tidak sadar juga? Haejin menghela napas dalam-dalam. ”Oppa…” desahnya. ”Orang itu benar-benar membuatku mau gila, kau tahu?”

”Wae?”

”Karena dia tidak sadar akan perasaanku padanya…” sahut Haejin, diraihnya tangan Donghae, dan diletakkannya tepat di atas dadanya, wajah Donghae membelalak. ”Lihat? Oppa bisa merasakan jantungku kan? Berdebar…”

Donghae menatap Haejin lekat-lekat.

”Disitu hatiku, Oppa…” Haejin berkata sungguh-sungguh pada Donghae.

”Kau sungguh-sungguh suka?” tanya Donghae susah payah.

Haejin mengangguk.

Donghae merengkuh wajah Haejin dan mengecup dahinya pelan. ”Aiya… adikku sudah besar…”

Dunia Haejin mau hancur rasanya!

 

*SMA Kyunghee, Cheerleaders*

”Oke, pertandingan berikutnya yang akan kita hadiri adalah, kejuaraan basket antar SMA… pertandingan pembukaan adalah SMA Kyunghee, kita… karena tahun lalu kita keluar sebagai juaranya…” kata Eunsoo panjang lebar.

”Ah iya, kemarin kita mendapat banyak sekali tawaran beasiswa sekolah tari karena dance Mister…” ujar Hyunmi.

Wajah Ririn bahagia sekali. Haejin senyum-senyum sendiri, tapi dia penasaran dengan tampang Ririn, kenapa gadis itu nampak bahagia.

”Jadi, untuk pertandingan basket… kita akan memakai tari apa lagi? Haejin-ah, kau sangat kreatif, apa idemu?” tanya Eunsoo.

Haejin berpikir keras, sebetulnya dia sudah punya bayangan, tapi dia tidak yakin.

”Bagaimana? Aku setuju saja deh…” tambah Nara pasrah.

”Aku sih sudah ada ide, tapi…” Haejin pelan-pelan bicara.

”Tak apa… bicara saja…” bujuk Hyunmi.

Haejin menghela napas dalam-dalam. ”Akhir tahun 2009 lalu, apakah kalian menonton MBC Gayo Daejun?”

Ririn, Hyunmi, Eunsoo, dan Nara mengangguk.

”Afterschool dan Son Dam Bi… When I Grow Up-nya Pussycat Dolls?”

Mata keempat orang di depannya sontak melebar.

”Pussycat Dolls?”

”Afterschool sama Son Dam Bi?”

”Aku ada videonya…” ujar Nara masih terkesima.

Haejin mengangguk. ”Ne… ya pakai video itu saja, now I’ve got my own confession…” Haejin mulai menari.

”Oke, kalau begitu… Haejin, berhubung kau sudah hapal… kau akan jadi centre seperti kemarin! Ibaratnya disitu kau sebagai Gahee… dan Ririn, kau sebagai Son Dambi-nya…” perintah Eunsoo.

Ririn mengangguk, ”Oke!”

Haejin nampak bahagia sekali, ”Ah iya… hari ini aku kan membuat makan siang untuk Donghae Oppa! Aku mau kesana dulu…” pamit Haejin, dan dia langsung berlari keluar dari ruang latihan sambil membawa bekal, dia berloncat-loncat menuju lapangan sepakbola.

Sementara di lapangan sepak bola, Gwiboon yang kini sudah tahu bahwa hubungan Donghae-Haejin adalah tetangga, dan bukan Oppa-Yeodongseng betulan, benar-benar mau berjuang. Dia juga sudah menyiapkan bekal makan siang untuk Donghae, ketika Donghae duduk di rerumputan lapangan sambil mengikat tali sepatunya, Gwiboon menghampirinya.

”Donghae-ya… ini…” Gwiboon menyerahkan kotak makanan berwarna biru kepada Donghae.

”Woah…” Donghae menerimanya. ”Uri yeobo bawa apa ini?”

”Makan siang… semoga kau suka…”

”Gomawo…” Donghae membuka kotaknya dan melihat ada potongan kimbap di dalamnya.

”Oppa…” panggil seseorang dengan ceria.

Donghae dan Gwiboon sontak menoleh, Haejin senyum dengan wajah aegyo dan bersemangatnya. Tapi senyumnya pudar begitu melihat sebuah kotak makan terbuka di pangkuan Donghae.

”Haejin-ah…” Donghae sudah tersenyum.

”Oppa sudah makan ya?” tanya Haejin pelan.

Gwiboon melirik bungkusan pink di tangan Haejin. ”Kau sepertinya membawakan Donghae makanan juga ya, Haejin-ah?”

”Ah, jinja?!” mata Donghae membulat.

Haejin mengangguk, mencoba tersenyum. ”Gwenchana… Oppa makanlah punya Gwiboon Sunbae…” Haejin berbalik hendak pergi.

Tapi yang terjadi malah Donghae meletakkan kotak makan Gwiboon begitu saja di atas rumput, dan secepat tenaga menahan Haejin. ”Ya! Kau mau kemana? Itu untukku, kah?” tanya Donghae berbinar.

”Tadinya…”

”Tadinya?!”

”Oppa kan sudah dapat makanan…” Haejin berusaha menahan air matanya dan memeluk kotak makanannya.

Gwiboon nyaris menangis melihat kotak makanannya diabaikan.

”Kasihan Gwiboon Sunbae sudah memasakkan untukmu…” ujar Haejin sambil melangkah pergi.

”Haejin-ah!” teriak Donghae sambil mengejar dan menarik paksa kotak Haejin. ”Kau sudah buat ini untukku! Berarti ini milikku…” Donghae berbalik dan menghampiri Gwiboon.

Haejin dan Gwiboon melihat kedua kotak makan mereka perlahan-lahan dihabiskan isinya oleh Donghae. Keduanya kemudian saling bertukar pandang, dengan pancaran dingin yang tak bisa dilukiskan.

TBC

Mian ya kalo kurang memuaskan, bikinnya ngebut sengebut ngebutnya… huhuhu ^^

4 thoughts on “Oh! ~Part 5~

  1. ooooooooo.. jdi pacaran itu biar ga polos dan gampang dibohongin yah eonn??
    baruu tau aku *kamana aja oyy*
    jiahhhh dassar dah mas ikan oonnya kga ilang ilang *langsung kabuuuuuuuuuuurr*
    part brikutnyaaaaa.. tunggu aku *lebay*

  2. ngakak sama alesan keselnya jonghyun!!! hidup diantara 2 org bodoh wakakakakaka
    *tepok2 jonghyun*

    aaaa, mau juga dipanggil si kecil sama jonghyuuun /plak
    wkwkwkwk

    marilah bersama-sama semoga donghae lemotnya ilang dan cepet sadar u,u

    wayoloh!!!
    mau makan punya sapa???
    #jengjet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s