Oh! ~Part 4~

*Rumah HyunJin*

”Sudah bangun?!” tanya Jonghyun terkekeh.

Haejin menguap, dan duduk dengan wajah berantakan, dan rambut hancur. ”Huee… tenggorokanku kering…”

”Bilang saja minta minum…” desis Jonghyun, tapi kemudian dia mengangsurkan gelas kepada Haejin, dan membantu adiknya itu minum. Haejin meneguk air putihnya lama-lama.

”Kepalaku pusing, Oppa…”

Jonghyun geleng-geleng. ”Kau hujan-hujanan ya?”

”Ne…”

”Kenapa hujan-hujanan?!”

”Molla…” Haejin berbaring lagi. ”Aku kesal pada Donghae Oppa…”

Jonghyun terkekeh. ”Sudahlah, kau tak usah berharap padanya… nanti kau yang sakit hati.”

”Aku harus berusaha dulu, masa kalah sebelum berperang???”

”Berperang mwoya?!” Jonghyun menjitak kepala Haejin pelan. ”Kau sudah melewati akselerasi, dan aku tahu berat masuk kelas akselerasi, dan sekarang kau sudah di SMA, masih mau berjuang apa lagi?”

Haejin berbalik memunggungi Jonghyun, air matanya menetes. ”Aku harus membuatnya percaya, kalau aku lebih dari sekedar adik baginya…”

”Dan caramu dengan masuk cheerleaders, begitu?”

”Aku mau menyemangati Donghae Oppa…” sahut Haejin dengan suara bergetar.

Jonghyun jadi tidak tega juga melihat adiknya. ”Kau begitu suka pada Donghae, kah?”

”Hmm…” Haejin terus menangis. ”Suka… sangat suka… kalau aku bilang cinta, aku di tertawai banyak orang!” isaknya. ”Padahal aku… aku tulus… aku suka padanya… aku tidak bisa… melihat orang lain di mataku, kecuali dia…”

Jonghyun diam mendengar isi hati adiknya.

”Tapi… dia cuma menganggapku adiknya‼!” desis Haejin. ”Bagaimana aku tidak melakukan banyak cara untuk membuatnya sadar, dan sekarang dia malah marah padaku?!” isaknya.

Jonghyun menepuk-nepuk bahu Haejin pelan, kemudian memeluk adiknya. ”Ya sudahlah… jangan menangis!”

”Kenapa aku terus dianggap anak kecil?!”

”Memang mungkin karena usiamu, Aegi…” kata Jonghyun sambil membelai kepala Haejin. ”Aku percaya kalau kau memang serius suka pada Donghae, tapi aku juga tidak berbohong waktu berkata kalau Donghae hanya menganggapmu sebagai adiknya…”

”Wae?!” tanya Haejin pilu.

”Karena… mungkin karena memang usiamu masih tiga belas tahun, Haejin-ah, dia belum bisa melihatmu sebagai perempuan…” ujar Jonghyun pelan.

Haejin terus menangis. ”Ne…” dia tidak bisa membantah.

”Tapi kalau kau terus berusaha…” Jonghyun menyemangati adiknya. ”Aku yakin si Pabo Donghae itu akan sadar suatu saat nanti, oke?”

”Gomawo, Oppa…”

 

*SMA Kyunghee*

”Oke, latihan kita hari ini adalah untuk menyemangati tim Voli yang akan bertanding pada akhir pekan ini…” kata ketua Cheerleader SMA Kyunghee, Cho Hyunmi. ”Maka sekarang kita harus berlatih giat, terutama untuk Lee Haejin, Park Ririn, dan Kwan Nara…”

Haejin, Ririn, dan Nara mengangguk.

Maka mulailah mereka berlatih, kemajuan ketiganya memang pesat. Tak salah mereka bertigalah yang dipilih sebagai anggota baru dari angkatan kelas X, karena mereka bertiga mempunyai kemampuan mengingat, dan menirukan gerakan dengan baik.

Para senior sangat terbuka, mereka menerima saran-saran dari junior-junior mereka untuk menentukan gerakan-gerakan. Akhirnya untuk pertandingan Voli kali ini, tim cheerleaders memutuskan untuk menggunakan lagunya Kara, yang berjudul Mister. Kalian tahu ini saran siapa?

Dengan mudah ditebak, si kecil Haejin. Haejin senyum-senyum sendiri membayangkan jika orang tahu usia dia yang sebenarnya. Tapi sarannya diterima oleh banyak senior.

”Ah iya mengenai kostum…” kata Park Eunsoo, yang juga sebagai salah satu senior Cheerleaders. ”Bagaimana? Ada yang mau saran?”

”Kayak Kara aja…” saran Haejin.

Ririn langsung menoleh kepadanya dan mendesis, ”Haejin-ah… kau yakin mau pakai baju begitu?”

”Wae? Bukankah baju cheerleaders memang perutnya terbuka? Kecuali hot pants atau rok… kalau di Kara kan pakai celana panjang, dinaikkan sebelah… setidaknya lebih sopan, kan?” ujar Haejin berdiplomasi dengan wajah polos.

Membuat para Sunbae berpikir juga mengenai ide itu.

”Haejin-ah, kau yakin? Bagaimana kalau Donghae Oppamu ngamuk?”

”Molla…” Haejin cuek saja. ”Dia harus tahu, dan dia harus melihatku sebagai yeoja‼!”

Ririn menghela napas, dan mengangguk. ”Andai saja Siwon Oppaku sama seperti Donghae Oppamu…”

”Wae?”

”Ya, dia tidak pernah melarang…” sahut Ririn sambil tersenyum. ”Ingin rasa diperhatikan seperti Donghae Oppamu memerhatikanmu…”

”Hah! Dia menganggapku adiknya, Rin-ah!”

”Apalagi aku…” kata Ririn geleng-geleng.

Haejin mengernyit, ”Hmm… kurasa kita harus membuat mata kedua orang itu terbuka lebar untuk kita!”

”Caranya?” tanya Ririn bingung.

”Ya lihat saja nanti, mereka juga akan shock melihat kostum panggung kita… Sunbae…” Haejin menghampiri Eunsoo Sunbae. ”Aku bisa mendesain kostumnya kalau Sunbae mengizinkan…”

”Ah, jinjja? Boleh… boleh…” Eunsoo menyambut bahagia adanya anak kreatif dalam kelompok mereka.

Setelah berlatih Ririn pamit untuk menemui Siwon Oppanya, sementara Haejin keluar dari gedung sekolah sambil melemaskan otot-otot badannya. Pegal juga setelah menggerakan pinggul begitu seringnya, dia masih memakai baju kaus, dan celana pendek, ketika melihat tim Voli berlatih.

”Woaah, daebak! Badannya sudah berbentuk…” puji Haejin polos, sambil mendekati lapangan voli.

”Haejin-ah!” pekik anak-anak  voli itu.

Haejin tersenyum. ”Halo, Sunbae…”

”Hai… masuk sini, sini!” Taecyeon melambaikan tangannya agar Haejin masuk ke dalam lapangan. Seluruh anggota tim voli menoleh, dan menyambut Haejin dengan suka cita.

Haejin melangkah pelan-pelan masuk ke dalam lapangan voli.

”Halo…” sapa semua anak Voli yang dikenali Haejin saat kemarin dulu pulang sekolah.

Haejin membunguk. ”Annyeonghaseyo…”

”Hai, Haejin-ah… apa kabar? Aigooo, tambah lucu…” Wooyoung mencubit pipi Haejin.

Haejin tersenyum, ”Baik…”

”Kau juga sudah ikut ekstrakurikuler ya? Kenapa tidak masuk voli?” tanya Taecyeon kecewa.

”Hehehe, tak apa-apa, yang penting aku ikut ekstrakurikuler yang bisa membuat Sunbaedeul semangat…”

”Apa?” tanya Junsu ramah.

Cheerleaders…” sahut Haejin semangat.

”Woah, jinja?!” pekik mereka. Haejin mengangguk-angguk senang, akhirnya ada juga yang mendukungnya ikut cheerleaders selain Ririn dan Jonghyun Oppanya.

”Daebak!” puji Junho.

”Kau harus semangat!” malah Nickhun yang menyemangati Haejin. ”Kita pasti semangat melihatmu…”

Haejin terseyum, ”Sunbaedeul harus semangat!”

”Oppa… Oppa… panggil Oppa…” Chansung menepuk-nepuk dadanya sendiri.

”Ne, panggil kami Oppa… akan lebih manis rasanya…” tambah Wooyoung.

Junsu manggut-manggut. ”Setuju, setuju…”

”Oppa…” kata Haejin pelan, sambil tersenyum.

Baik Taecyeon, Wooyoung, Nickhun, Junho, Chansung, dan Junsu langsung berteriak. ”Aigooo, kyeopta…”

”Sering-sering main kesini…”

 

Di sisi lapangan satunya…

”Aigoo, itu Lee Haejin yang jadi yeoja idaman itu ya?” kata Leeteuk sambil melongok ke arah tim voli.

Gwiboon menoleh, dan melihat gadis mungil yang wajahnya sangat imut itu sedang berbincang-bincang ceria dengan anak-anak Voli yang dikenal dengan Geng cowok-cowok tampan dan humoris yang paling banyak disukai di sekolah.

”Hmm… kudengar yang namanya Ok Taecyeon suka padanya…” sahut Kangin sambil menoleh.

”Taecyeon?!” tanya Jongwoon ikut-ikutan. ”Ya ampuuuun, Ok Taecyeon… sukanya sama cewek-cewek imut-imut begitu ya…”

”Hmm…” Leeteuk ikut mengangguk. ”Sudah gosip umum itu di kalangan kelas tiga…”

Gwiboon menyerahkan minuman kepada seluruh anggota klub sepak bola, karena dia adalah Manajer. Kemudian dia menghampiri Donghae yang duduk di tengah lapangan sambil mengatur napasnya setelah latihan.

”Donghae-ya, minum…” Gwiboon menyerahkan minumannya.

Donghae meraih botolnya dan tersenyum. ”Gomawo, Yeobo…”

”Aish!” Gwiboon mendorong bahu Donghae.

Sebetulnya memang sudah rahasia umum, bahwa Gwiboon dan Donghae dekat semenjak keduanya masuk klub sepak bola. Gwiboon adalah Manajer, dan Donghae sejak kelas satu pula sudah menarik perhatian sebagai playmaker, karena kegesitan, dan kecakapannya bermain sepak bola.

Biasalah, dimana-mana, yang namanya Kapten, akan langsung sering digosipkan dengan Manajer. Contoh : Kapten Tsubasa. Mungkin itulah juga faktor yang membuat tim sepakbola sudah terlanjur memiliki mindset bahwa Donghae-Gwiboon is real, ditambah dengan Donghae yang suka mengganggu Gwiboon, sehinggam mindset tersebut terlanjur melekat, dan orang mengira mereka betul-betul jadian.

Untuk seorang wanita, diperlakukan begitu lembut dan baik, tentu saja perasaannya akan melambung tinggi, bukan? Begitu pula dengan Kim Gwiboon, selama dua tahun bersama Donghae, meski bukan pacarnya. Gwiboon tahu bahwa Donghae memiliki seorang yeodongseng, yang sering diceritakannya dengan penuh semangat. Donghae selalu berkata, bahwa yeodongsengnya itu gadis yang kecil, mungil, berpipi tembam, dan sangat aegyo. Suka merengek, cepat berkaca-kaca, tapi jarang menangis. Meski kelihatannya Donghae mengeluh, tapi Gwiboon bisa melihat betapa spesialnya sang adik di mata Donghae.

Sebetulnya Gwiboon sedikit cemburu pada yeodongseng Donghae tersebut, karena dulu pernah ketika Haejin sakit, Donghae sampai bolos sekolah, bolos latihan demi menjaga adiknya tersebut. Tapi Gwiboon kembali mengingatkan dirinya, kalau perempuan itu adalah yeodongsengnya Donghae, dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa juga dengan Donghae.

Tapi kecemasan mulai menggerogoti diri Gwiboon manakala kemarin Donghae yang panik mencari Haejin, dan berkata orangtuanya tidak ada dirumah. Tapi begitu Donghae pergi, malah teman-temannya berkata Donghae anak tunggal, dan Haejin itu adiknya Lee Jonghyun. Cowok imut-imut yang main band melulu kerjaannya, tapi memang bandnya mulai berjaya sih.

”Bagaimana keadaan yeodongsengmu, Hae?” tanya Gwiboon.

Donghae terdiam sejenak sambil meminum air putihnya, kemudian menurunkannya perlahan-lahan. ”Kemarin…” ujarnya sedih. ”Aku dan dia bertengkar hebat, gara-gara aku tidak setuju kan dia masuk cheerleaders…”

”Hmm… aku lihat,” senyum Gwiboon. ”Lalu?”

”Ya, dia marah padaku…” kata Donghae murung. ”Dia pulang duluan dalam keadaan hujan deras, sampai di depan rumah, akhirnya dia ambruk. Untung aku cepat pulang, kalau tidak…” Donghae bergidik memikirkan nasib Haejin kemarin. ”Panasnya tinggi sekali…”

”Kau Oppa yang baik…”

Donghae tersenyum. ”Jinja? Tapi sepertinya Haejin tidak menganggap begitu…” kata Donghae pelan, wajahnya kembali murung. ”Dia tidak suka menjadi adikku…” tambah Donghae sedih. ”Aku tidak tahu apa salahku, aku hanya tidak mau dia memakai rok pendek, menari-nari seksi seperti itu…” wajah Donghae kesal. ”Tapi lebih baik dia marah-marah padaku, daripada dia bilang bahwa dia lelah jadi adikku…” Donghae menunduk.

”Tenanglah, mungkin itu hanya emosi sesaatnya Haejin, Hae…” hibur Gwiboon. ”Dia sudah kembali ceria, kan?”

”Oh ya?” tanya Donghae.

”Hmm… itu, dia sedang bermain di lapangan voli bersama anak-anak voli…” Gwiboon menunjuk.

Donghae menoleh cepat, dan mendapati Haejin berada di tengah-tengah kerumunan cowok-cowok tegap yang sedang tertawa-tawa, Donghae bisa melihat Wooyoung mencubit pipi Haejin gemas. Dan Haejin menggembungkan pipinya dan mengusap-usap pipinya.

He miss that moment! Donghae miris, dia sering, bukannya sering lagi malah, nyaris setiap hari, setiap jam, mencubit pipi Haejin. Makanya Haejin selalu mengeluh pipinya turun, karena sering dicubiti Jonghyun dan dirinya.

”Aaaah! Oppa, sakiiiit!” keluh Haejin nyaring, saat Taecyeon dengan tangannya yang besar ganti mencubit pipi Haejin, semua anak itu lapangan bola melihat ke arah mereka.

Kesadaran kembali menghantam Donghae. Sekarang Haejin memanggil anak-anak Voli dengan sebutan Oppa? Dan menolaknya sebagai Oppa?! What the hell?! Pikirnya kesal. Padahal Donghae ingin Haejin masuk klub sepakbola, dia mau mengenalkan Gwiboon pada Haejin, adalah agar Haejin mau jadi Manajer Sepakbola juga, dan bisa terus diawasi, anak itu kan nakal, pikir Donghae. Lihat saja, masih kecil sudah mendekati pria-pria!

”Sudahlah, Donghae-ya…” kata Gwiboon pelan.

Donghae menoleh pada Gwiboon.

”Jangan terlalu sister complex begitu,” Gwiboon tersenyum. ”Kasihan yeodongsengmu, namanya juga anak baru masuk SMA. Kau boleh khawatir padanya, tapi jangan kau kekang dia…”

Sister complex?!” ulang Donghae.

Gwiboon mengangguk, ”Kau tidak tau syndrom itu? Itu adalah kecenderungan berlebihan seorang Oppa kepada yeodongsengnya, karena apa? Karena tentu saja kau sayang pada adikmu…”

”Ah…” Donghae mengangguk-angguk. ”Jadi aku sister complex ya?”

 

*           *           *

”Jonghyun-ah…”

”Eh, Donghae-ya…” Jonghyun yang sedang bermain gitar di balkon kamarnya menoleh mendapati Donghae masuk ke dalam kamarnya. ”Hai…”

Donghae langsung duduk di atas kasur Jonghyun. ”Jonghyun-ah, kau tahu sister complex tidak?” tanya Donghae tiba-tiba.

Jonghyun tiba-tiba menoleh pada Donghae. ”Ya tahu laaah… kenapa memang?”

”Itu bahaya tidak, sih?”

”Bahaya lah… bisa incest nanti…” sahut Jonghyun enteng. ”Memang kenapa kau bertanya soal sister complex?”

”Ani, kurasa aku tahu kenapa aku jadi kelewatan begini pada Haejin. Pasti karena sister complex, kan?”

Dan Jonghyun menganga parah akan pernyataan Donghae barusan, tak habis pikir, Jonghyun cuma bisa mengelus dada pasrah dan geleng-geleng. ”Jadi kau mau membicarakan ini saja?!” alis Jonghyun terangkat.

”Aku mau tanya pendapatmu, Jonghyunnie, aku takut kalau aku terlalu kelewatan protektif, dan itu yang membuat Haejin marah…”

”Ckckckck… sekarang kutanya padamu, yang Oppanya Haejin itu siapa? Aku atau kau?!”

”Kau…”

”Lalu, apakah ada kemungkinan kau mengidap sister complex akut seperti itu?!” tanya Jonghyun tidak sabar.

Donghae bingung, ”Maksudnya gimana sih?!”

”Aish! Aku sudah bilang paling benci membicarakan masalah ini padamu! Sakit kepalamu itu sudah akut soalnya!” Jonghyun sebal sekali. ”Begini ya, kalau kau memang menganggap Haejin sebagai adikmu, maka tunjukkan pada dia bahwa kau Oppa yang baik dan biarkan dia pacaran dengan Ok Taecyeon atau Jang Wooyoung, atau anak Voli lainnya!”

”Pacaran?!” pekik Donghae.

”Ne…” Jonghyun menjawab dengan nada sarkastik. ”Kalau kau tidak bisa melihatnya lebih dari seorang adik, maka aku akan jelaskan padamu bagaimana sudut pandang pria-pria yang menganggap Haejin sebagai wanita! Mereka suka pada Haejin, mereka ingin Haejin jadi pacar mereka! Karena apa? Karena Haejin memang sudah bukan bayi kita lagi, Hae! Dia sudah besar…”

”Dia kan masih kecil!” desis Donghae.

”Mungkin itu pendapatmu,” kata Jonghyun pelan. ”Tapi aku, Eomma, dan Appa percaya padanya… dia sudah besar, meski masih perlu pengarahan…” tambah Jonghyun mengingat adiknya itu. ”Donghae-ya, sudahlah… kalau kau memang tidak bisa mengerti perasaan Haejin, lepaskan dia…”

Donghae terdiam.

Jonghyun memandang Donghae lekat-lekat, nyaris tersenyum melihat Donghae yang wajahnya berpikir serius seperti itu. ”Dan Donghae-ya, sampai kapan kau mau membohongi Gwiboon?”

”Bohong?” tanya Donghae tidak mengerti.

”Gwiboon terus mengira kau adalah Oppa kandung Haejin,” tambah Jonghyun. ”Itu kan tidak benar… berhentilah menaruh harapan dimana-mana, Hae… karena aku tidak akan tinggal diam jika Haejin menangis seperti kemarin.” Jonghyun menatap serius Donghae.

 

*           *           *

”Astaga…” Ririn memeriksa pantulan dirinya di depan cermin, sambil terus merasa tidak nyaman dengan perutnya yang terbuka, beserta dengan suspender. ”Haejin-ah… baju ini…” keluhnya.

Haejin menjawab dari kamar ganti di sebelahnya. ”Namanya juga baju Kara – Mister!”

”Tapi ini pendek sekali… seperti hanya memakai bra!” keluh Ririn.

Haejin terkikik. ”Punya badan bagus harus dipamerkan, Rin-ah… perut kita rata, dada berisi… kurang apa lagi?!”

”Heh!” desis Nara mengeluh. ”Bajunya nggak ada yang lebih pendek lagi nih?!” sindirnya. ”Segini sih kurang… sekalian aja pake bikini!”

Haejin cuma tertawa dari dalam kamar gantinya.

”Aduuuh, apa kata Siwon Oppa…” pikir Ririn cemas sambil terus berusaha menurunkan bajunya, tapi nihil! Bajunya tidak bisa diturunkan ke bawah lagi, dan Ririn terpaksa pasrah.

Nara kemudian keluar, sama risihnya seperti Ririn begitu sebagian besar bagian perutnya, ditambah dengan celana panjang merah yang dinaikkan sebelah ke atas. Nara cuma bisa geleng-geleng.

”Hei, Haejin-ah! Jangan sok-sok malu, kau… kau sendiri yang mendesain baju ini, kenapa kau yang malu?” tanya Nara.

”Siapa yang malu?!” balas Haejin.

”Lalu kenapa kau tidak keluar-keluar?”

Pintu kamar ganti terbuka, masuklah Hyunmi Sunbae dan Eunsoo Sunbae, sudah memakai kostum yang didesain Haejin. Tapi diatasnya mereka tambahkan jaket untuk sementara waktu.

”Ayo, kapan kita keluar?” tanya Hyunmi.

”Ne, sebentar lagi pertandingan dimulai, kita sudah menyerahkan kasetnya kepada panitia…” tambah Eunsoo.

Haejin menyahut, ”Kalian duluanlah… aku masih harus membereskan pakaianku…”

”Kalau begitu kami ke lapangan ya, Haejin-ah, jangan lama-lama…” pesan Hyunmi.

”Ne, Sunbae…”

Haejin tersenyum kecil, setelah memastikan bahwa dirinya akan berubah total hari ini. Haejin mencari ponselnya dan segera dihubunginya Jonghyun.

”Ne?” sahut Jonghyun.

”Oppa, kau akan menonton, kan?”

”Keurom… kalau tidak gendang telingaku bisa pecah karena ocehanmu!”

Haejin terkekeh. ”Donghae Oppa?”

”Dia ikut… sudah kau jangan bawel, nanti dia curiga…”

”Arasseo, siapkan diri kalian!”

”Kurasa Donghae yang akan naik darah, kau yakin?”

”Ah, bodo amat! Daaah Oppa…” Haejin memutuskan sambungan teleponnya, dan segera memeriksa bayangannya.

Sementara di tribun penonton, seluruh siswa SMA Kyunghee sepertinya datang untuk menyaksikan pertandingan Bola Voli yang sangat bergengsi diantara SMA-SMA seluruh Korea Selatan.

”Jonghyun-ah, Haejin betulan jadi cheerleaders?”

Jonghyun mengangguk. ”Wae? Kau kira aku bisa menghentikan anak itu? Sekali dia mau, akan dikejar sampai dapat, Hae-ah…”

”Arasseo, tapi setidaknya kau harus menasihatinya…” ujar Donghae.

”Kau saja tidak didengarkan, apalagi aku… buang-buang waktu dan memperparah resiko tuli…” sahut Jonghyun.

Gwiboon yang duduk di sebelah Donghae hanya menatap Donghae dengan pandangan ingin tahu, meski dia ingin bertanya, jawaban yang akan muncul mungkin saja membuatnya sedih. Sebetulnya siapa yang kakak kandung Lee Haejin? Lee Donghae atau Lee Jonghyun?

”Baik, sesaat lagi kita akan memulai pertandingan babak kualifikasi antara SMA Kyunghee melawan SMA Kangnam…” penonton bersorak riuh ketika komentator mulai bersuara. ”Sebelum itu, marilah kita saksikan penampilan dari cheerleaders dari masing-masing sekolah, kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah… cheerleaders SMA Kangnam!”

Semua bertepuk tangan. Anak-anak cheerleaders SMA Kangnam seperti anak-anak cheerleaders pada umumnya, memakai baju pendek, dan celana pendek, membawa pom-pom warna-warni dan menggunakan lagu remix untuk menyemangati SMA Kangnam. Gadis-gadis berparas manis itu begitu enerjik menyemangati mereka, apalagi kemudian tim Voli SMA Kangnam pun keluar satu persatu, diiringi tepuk tangan riuh suporter mereka.

”Sepertinya sebentar lagi giliran Haejin,” bisik Jonghyun pada Donghae. Wajah Donghae kentara sekali cemas.

Deretan di depan mereka kemudian juga langsung bersorak-sorak riuh meneriakkan nama SMA Kyunghee. Dan cowok-cowok kelas tiga yang menonton juga langsung heboh. Donghae mendengus, dia mulai panik! Entah kenapa…

”Dan sekarang kita sambut, cheerleaders SMA Kyunghee!” tepat ketika komentator berhenti.

Intro musik familiar terdengar, dan lima orang gadis keluar dari lorong kamar ganti. Cowok-cowok SMA Kyunghee, terutama anak kelas tiga dan kelas dua, berdiri dan berteriak-teriak heboh. Jonghyun tertawa terbahak-bahak.

”Adikku laku…” bangga sekali dia.

Donghae menyipitkan mata, bahkan berdiri karena kerumunan orang di depannya sudah mulai berdiri, Gwiboon ikut berdiri untuk melongok. Donghae mencari-cari diantara keenam gadis di bawah, mana yang adiknya? Tapi kemudian mata Donghae membelalak lebar begitu suara : la la la la la… muncul, gadis yang menjadi centre, melepas topi dan jaketnya, sehingga terpampanglah pemandangan mulus di depan mata.

”LEE HAEJIN! LEE HAEJIN! LEE HAEJIN!” semua berkoor mendadak.

Haejin melempar topi dengan gerakan seduktif, berikut jaket, dan langsung strike a pose. Donghae benar-benar mengepalkan kesepuluh jarinya. Donghae menelan ludahnya kuat-kuat dan susah payah begitu, butt dance ala Kara di mulai. Haejin benar-benar jadi centre. Perutnya mulus, putih, dan berbentuk! Donghae menelan ludah susah payah.

”Haejin-ah, daebak!” gumam Jonghyun cekikan.

To Be Continued

By : Carin ‘RyeoMin’

3 thoughts on “Oh! ~Part 4~

  1. Ahahahaha…sumpah suka bget part in..bgus haejin ah biar tmbh ngamuk skalian hae dgituin.. Abis gmes abis sm hae.. Daebaak lah kl pny oppa ky jonghyun dsini..ngakak ps blg adek gw laku,ahahahaha..

  2. mwahahahahaha donghae siok!! lol
    good job haejin-ah..
    biar sadar sesadar-sadarnya kalo dia harus ngerubah pandangannya wkwkwkwk

    tapi itu kenapa anak volinya jadi genit2 gtu =..=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s