Oh! ~Part 3~


Gwiboon mengikuti Donghae yang berlari seperti orang kesetanan ke dalam bangunan sekolah, Donghae mencari-cari ruangan yang biasa digunakan grup cheerleaders dan sayang, acara pemilihan sudah selesai, dan dari ball room sudah banyak orang yang keluar.

”Apa yang terjadi?!”

Gwiboon melongok ke dalam, ”Sepertinya sudah selesai, Donghae-ya… kau mau mencari yeodongsengmu?”

”Ne!” Donghae terus melongok, dan dilihatnya Haejin sedang berpelukan dengan seorang perempuan yang sepertinya teman sekelasnya yang dilihat Donghae kemarin. ”Lee Haejin!” teriaknya.

Haejin kaget, dan langsung melepaskan pelukannya pada Ririn, kemudian menoleh. ”Oppa…”

Donghae menghampiri Haejin dengan langkah cepat, diikuti Gwiboon. Setelah tiba di depan Haejin, Donghae bertanya dengan dingin.

”Kau sedang apa disini?” tanyanya.

”Na? audisi…”

”Audisi apa?”

”Cheerleaders.”

Tangan Donghae mengepal, ”Kau itu susah sekali sih dibilangin! Aku sudah bilang, kau tidak boleh pakai rok pendek, dan sekarang kau mau masuk cheerleaders?!” tanya Donghae dengan nada tinggi.

”Kenapa tidak boleh?!” tanya Haejin tak kalah tingginya.

”Kau masih… kecil!”

”Aku sudah SMA!” teriak Haejin dengan nada memperingatkan Donghae agar tidak menyebutkan usia aslinya. Baik Ririn dan Gwiboon hanya bisa kebingungan di belakang masing-masing oknum.

Donghae menarik napas dalam-dalam. ”Lalu apakah kau lolos?”

”Keurom!” sahut Haejin bangga dengan nada menyebalkan. ”Apa yang tidak bisa aku lakukan?!” tanyanya angkuh. ”Oppa, aku bukan anak kecil!” suaranya bergetar. ”Dan jangan lihat aku sebagai adik kecil saja, Oppa… jebal!” suara Haejin bergetar menahan tangis, kemudian dia berlari pergi.

Ririn terkejut, ”Haejin-ah…” Ririn mengejarnya keluar. Meninggalkan Donghae dan Gwiboon. Mata Donghae terbelalak melihat Haejin menangis, sudah lama dia tidak melihat Haejin menangis, meski anak itu sering merengek.

”Donghae-ya…” Gwiboon menepuk bahu Donghae perlahan. ”Jangan terlalu keras begitu… kasihan…”

”Aish!” Donghae menghiraukan Gwiboon dan berlari mengejar Haejin.

Gwiboon menghela napas kebingungan. ”Donghae benar-benar mengidap sister complex sepertinya…”

Sementara itu di gedung belakang sekolah, Haejin tiba-tiba berhenti, dan berjongkok, lalu memeluk kedua lututnya dan menangis. ”Oppa jahaaaaat… tidak mengerti… Oppa tidak tahu apa-apa…” dia menangis. ”Aku bukan yeodongsengnya…” Haejin menangis tersedu.

Ririn akhirnya berhasil mengejarnya, dan melihat Haejin yang menangis sambil memeluk lututnya, Ririn merangkulnya. ”Sudahlah… jangan menangis, Haejin-ah…”

Haejin malah semakin menangis.

”Donghae Oppamu itu tandanya perhatian padamu, dia tidak mau kau memakai baju yang terlalu terbuka…” Ririn mengelus-elus pundak Haejin. ”Aku tau kok bagaimana rasanya dianggap hanya sebagai adik…”

Haejin mendongak, dengan wajah sembab dan bercucuran air mata menoleh pada Ririn. ”Rin-ah…” sedunya.

Ririn memeluk Haejin erat-erat. ”Ne… untuk itu kita harus berjuang, buat mereka sadar, kalau mereka itu bukan kakak kandung kita!”

”Rin-ah… apa kau suka pada Siwon Oppamu?”

Ririn tampak terkejut, meski Haejin tidak bisa melihatnya. ”Ne…” sahut Ririn pelan. ”Aku sangaaaaat suka, ani… mungkin sepertimu, cinta padanya… tapi Haejin-ah, kau sungguh beruntung, karena Hae Oppa adalah tetanggamu. Sedangkan Siwon Oppa…”

”Dia betul-betul kakak angkatmu?”

”Hmm…” Ririn mengangguk. ”Dia anak ibu tiriku…”

Haejin melepaskan pelukan Ririn, kemudian mengangguk. ”Kita harus buat mereka sadar!”

”Kita kan sudah diterima menjadi anggota cheers, untuk itu kita harus berusaha keras!” Ririn memberi semangat.

Haejin mengangguk.

”Haejin-ah…” panggil suara pelan yang familiar itu.

Haejin tau Donghae yang datang menghampirinya, diliriknya ke belakang, tapi kemudian Haejin menghadap ke depan lagi. Ririn terkekeh, dan menepuk bahu Haejin. ”Aku duluan ya… Sunbae, annyeonghikaseyo…”

Donghae membungkuk, akhirnya Donghae duduk di sebelah Haejin yang masih mengusap bekas-bekas air matanya dan menolak menatap Donghae. Donghae menghela napas dalam-dalam, lalu menarik Haejin dan merangkulnya.

”Udah lama nggak nangis…”

Haejin diam saja, masih mau ngambek.

”Bukannya aku melarang, Haejin-ah…” ujar Donghae pelan. ”Tapi… kau itu masih kecil, apa pantas anak kecil pakai rok mini begitu?”

”Lalu, kalau aku sudah besar boleh?!” tanya Haejin sinis.

Donghae mikir lagi, ada rasa tidak rela juga. ”Kalau bisa sih kau tidak perlu memakai baju-baju begitu…”

Haejin melepaskan pelukan Donghae dan menatap Donghae cemberut. ”Kenapa siiiiih???”

”Mana bagus perempuan pamer-pamer anggota badan mereka!” sahut Donghae.

”Wae? Punya badan bagus seharusnya dipamerkan!”

”Andwe! Aku marah padamu…”

”Oppa… jebal!” Haejin mulai merengek lagi. ”Apa salahnya sih aku ikut cheerleaders? Lagipula aku punya tujuan…”

Donghae melirik. ”Tujuan apa?”

”Ada deeeeh…” Haejin mengedip-ngedipkan matanya.

”Aku tetap tidak mengizinkan!”

Haejin mendorong-dorong tubuh Donghae. ”Oppa…”

”Sekali tidak, tetap tidak!”

Haejin memberengut, lalu berdiri. ”Keurae! Terserah Oppa! Aku tidak mau diatur-atur lagi! Aku sudah SMA, terserah Oppa mau bilang apa! Jonghyun Oppa, Eomma… Appa saja tidak melarangku! Memang Oppa siapa?! Oppa tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku, dan aku harus selalu mendengarkan kata-kata Oppa!”

Donghae benar-benar terkejut diserang seperti itu.

”Aku…” Haejin menunjuk dirinya sendiri, dan sesenggukan. ”Bukan yeodongsengmu, Oppa… pernahkah kau melihatku tanpa embel-embel aku sebagai adik?”

Donghae mengerjapkan matanya.

Haejin berdiri, dan berbalik kemudian menghilang. Donghae duduk perlahan-lahan, ada kata-kata Haejin yang menganggu pikirannya.

’…Memang Oppa siapa?! Oppa tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku, dan aku harus selalu mendengarkan kata-kata Oppa!’

Aku… Bukan yeodongsengmu, Oppa… pernahkah kau melihatku tanpa embel-embel aku sebagai adik?’

Donghae mengernyit, ”Apa maksud Haejin?” tanyanya pelan. ”Kenapa dia tidak mau aku sebagai Oppanya?” setelah dia mengatakan hal itu, dia menyadari ada yang sakit di dadanya. Penolakan Haejin bagi dirinya sebagai seorang Oppa!

Sementara Haejin buru-buru membereskan semua barang-barangnya, dan keluar dari sekolah, dia berdiri di halte bus. Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya, Haejin masih saja melamun. Bus tak kunjung datang juga, dan waktu sudah menunjukkan pukul enam sore.

Haejin duduk di kursi yang ada di halte, dan membuka tasnya mengeluarkan ponselnya. BlackBerry Bold Putih, yang sengaja dibelikan Eomma-nya karena dia merengek ingin punya ponsel yang sama seperti Donghae. Ternyata ponselnya mati, batreinya habis.

”Kira-kira kalau jalan lama nggak ya?” Haejin sambil mengulurkan tangannya ke arah hujan. Haejin lalu membuka tasnya lagi, dan mencari handuk kecil untuk menutupi kepalanya, dan menerobos hujan.

 

*Di Kamar Ganti*

”Aigo, hujan…” kata Leeteuk melihat melewati jendela.

Donghae melihat keluar, hujan begitu deras, dimana Haejin sekarang. Bold hitamnya bergetar, Donghae melihat caller id. Chihoon Ahjumma, Donghae buru-buru mengangkatnya.

”Yeoboseyo, Ahjumma…”

”Donghae-ya, mianhae… tadi Ahjumma coba telepon Haejin tidak bisa, ponselnya mati. Ahjumma dan Ahjussi terpaksa ke Jepang hari ini, mendadak sekali! Jonghyun sepertinya tidak bisa pulang malam ini, karena badai… tolong beritahu Haejin ya, kalau bisa titip Haejin juga…”

Donghae mengangguk, ”Ah, ne Ahjumma…”

”Terima kasih ya, Donghae-ya… tapi apakah orangtuamu ada di rumah? Ahjumma menelepon ke rumahmu, dan datang ke rumahmu tidak ada orang.”

”He? Nanti aku tanya mereka deh, Ahjumma… ne…” Donghae memutuskan sambungan teleponnya. Donghae memasukkan kembali ponselnya, dan langsung pamit. ”Rasanya aku harus pulang sekarang…”

”Lho, kenapa?” tanya Gwiboon heran.

Donghae menjawab agak cemas, ”Haejin… Eomma dan Appa tidak ada di rumah… nanti dia bagaimana?”

”Ah, ya sudah… kau pulanglah, hati-hati ya… hujan!”

Donghae berlari keluar.

Hankyung menepuk bahu Gwiboon, ”Memang Donghae punya adik ya?”

”Ada, perempuan… baru masuk SMA kita, itu lho, yang jadi yeoja idaman…” lanjut Gwiboon.

”Ah, Lee Haejin?!” tanya Jongwoon, salah satu anggota klub sepak bola juga.

”Oh dia yeodongsengnya Donghae?” tanya Kangin.

Gwiboon mengangguk.

”Jinjja? Bukannya Haejin itu adiknya Jonghyun ya? Lee Jonghyun? Setahuku Donghae itu anak tunggal…”

Gwiboon terdiam.

 

*           *           *

Donghae memakai jas hujan, dan mengendarai motornya. Hujan begitu deras, ditambah lagi dengan kilat dan petir yang menyambar-nyambar, hatinya cemas. Karena dia sudah berputar-putar penjuru sekolah, dan dia tidak dapat menemukan Haejin. Menurut Ririn, yang begitu ditemuinya sudah mau masuk mobil Choi Siwon, Ririn tidak bertemu dengan Haejin semenjak meninggalkannya bersama dirinya tadi.

Sedangkan sekarang sedang hujan deras! Donghae merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi Haejin tadi! Tapi itulah dirinya, kalau dia tidak suka, dia akan langsung bilang. Lagipula Haejin itu kan adiknya… Donghae menghela napas lagi, Haejin tidak mau dianggap adiknya. Lalu siapa Haejin selama ini?

Donghae memacu motornya pelan, karena embun yang menganggu pemandangan helmnya, dan juga berusaha mencari Haejin di tiap halte yang ia lewati. Tapi nihil! Dimana anak itu? Akhirnya Donghae tiba di depan rumah Haejin, pintu pagarnya terbuka, dan Donghae bisa melihat seorang gadis yang meringkuk di pintu, dengan seluruh tubuhnya menggigil dan kebasahan.

Donghae buru-buru memarkir motornya dan berlari menghampiri Haejin, lalu membalikkan tubuhnya. Mata Haejin terpejam, tapi menggigil kedinginan, bajunya basah semua, berikut sebuah handuk di kepalanya.

”Astaga… Haejin-ah, Haejin-ah… ireona!” Donghae menepuk-nepuk pipi Haejin panik. ”Haejin-ah… ireona! Yaaah! Haejin-ah!”

Haejin hanya membuka matanya sedikit, tubuhnya terlalu menggigil, bayang-bayang Donghae di matanya kabur. ”Op…pa?” panggilnya lemah.

”Kenapa pulang sendirian sih?! Sudah tahu hujan deras‼! Sekarang kau kedinginan kan! Cuma pakai kaus dan celana pendek pula!” omel Donghae panik, lalu Donghae meraba kening Haejin. ”Panas! Ya Tuhan…” Donghae langsung menggendong Haejin dan membawanya ke rumahnya yang letaknya di sebelah rumah Haejin persis.

Rumahnya kosong, padahal Donghae panik ingin mencari Eomma dan Appa-nya yang dokter, tapi rumah kosong! Donghae buru-buru menyalakan lampu sambil terus menggendong Haejin, Haejin terus gemetaran, dan baju Donghae sudah basah kuyup karena bersentuhan dengan baju Haejin yang sudah basah. Donghae akhirnya langsung membawa Haejin ke kamar mandi. Dengan perlahan dibaringkannya tubuh Haejin di dalam bathub, dan Donghae membuka keran air hangat.

Donghae keluar untuk mencari handuk, dan membawa bergebung-gebung handuk. Dilihatnya kepala Haejin terkulai-kulai di tepi bathub. Donghae duduk di pinggir bathub, dan menepuk pipinya.

”Haejin-ah, ireona!” panggilnya keras. ”Haejin-ah!”

Haejin perlahan membuka matanya, seluruh badannya terasa lemas. Seumur hidupnya dia tidak pernah jalan kaki sejauh itu, dan sambil hujan, kedinginan, menggigil. ”Oppa…” sahutnya lemah.

”Othe? Bagaimana keadaanmu?” tanya Donghae cemas.

Haejin menggumam lemah. ”Dingin…”

”Aish! Airnya kurang panas, kah?” Donghae memasukkan tangannya ke dalam air. Air cukup hangat, tapi gadis di depannya menggigil. ”Sudah, sudah… kau harus ganti baju! Ayo!’

Donghae membantu Haejin berdiri, dan membelitkan handuk tebal ke sekujur tubuh Haejin, lalu menggendongnya ke atas. Donghae membuka pintu kamarnya, dan merebahkan Haejin di ranjang, sementara dia mencari-cari trainingnya yang sudah kependekan.

”Haejin-ah, kau bisa ganti baju sendiri?” tanya Donghae.

Haejin cuma mengangguk pelan, tapi matanya malah mau tertutup, dan terus meringkuk di balik lipatan handuknya. Donghae menghela napas dalam-dalam, ”Jinja! Mana mungkin anak ini kuat?” Donghae menghampiri Haejin dan melepaskan belitan handuknya perlahan-lahan.

”Oppa…” keluhnya pelan. ”Dingin…”

”Kalau tidak diganti bajunya, malah akan lebih dingin, Haejin-ah…” terang Donghae tak sabar. ”Sudah kau diam saja! Dengarkan kata-kataku!”

Haejin terkulai-kulai ketika Donghae mulai menaikkan kausnya ke atas, tapi Donghae bisa mendengar Haejin bergumam. ”Kapan aku tidak mendengarkanmu Oppa? Tapi kau yang tidak pernah mendengarkanku…”

Donghae terdiam, ”Bicara apa dia barusan?!” Donghae mengangkat baju kaus Haejin yang basah, dan membuangnya begitu saja ke lantai. Haejin terkulai, menunduk, wajahnya gelap, matanya terpejam. Donghae meraba keningnya, panasnya tinggi sekali. ”Astaga… panas sekali! Appa tidak di rumah…” Donghae mulai panik, dan melepaskan bra Haejin perlahan-lahan, sebetulnya Donghae agak gugup.

”Apa yang kau pikirkan? Dia yeodongsengmu!” Donghae terus mengulang kata-kata itu di kepalanya, lalu buru-buru dipakaikannya gadis itu training abu-abu panjang. Dan dia mulai menanggalkan celana Haejin perlahan-lahan, dan memakaikan pasangan trainingnya.

Setelah itu dipakaikannya selimut, dan Donghae menaruh seluruh pakaian basah ke dalam keranjang baju kotor di dalam kamarnya, lalu dia sendiri mandi. Sambil mengguyur badannya di bawah shower, Donghae tersenyum sendiri mengingat dirinya yang malu-malu saat tadi menggantikan baju Haejin. Padahal dulu dia sering mandi bersama dan melakukan banyak kegiatan tanpa jedah diantara keduanya, tapi tadi dia malu.

”Pabo nae, Donghae…” bisiknya sambil tersenyum. ”Dia sudah bukan bayi yang kau bantu keluar dari perut ibunya… dia mulai remaja…” wajah Donghae memerah, dan mengusap wajahnya. ”Adikku itu benar-benar…” dia tertawa sendiri.

Setelah selesai mandi, Donghae buru-buru memesan bubur hangat ke rumah, dan sementara itu dia menelepon kedua orang tuanya.

”Eomma… dimana?! Pergi tidak bilang!” kata Donghae heran.

Jiyoo menjawab. ”Ah iya, Donghae-ya… Eomma sampai lupa bilang padamu! Appa tiba-tiba mendapat tugas dinas penting di Kanada, berhubung lama, makanya Appa mengajak Eomma, sekalian bulan madu kedua…”

Donghae menghela napas. ”Setidaknya bisa beri kabar, kan? Chihoon Ahjumma dan Sungmin Ahjussi menitipkan Haejin, mereka ke Jepang, dan Jonghyun pun nggak bisa pulang, disini badai! Haejin sakit!” panik Donghae.

”Eh?! Haejin sakit???”

”Iyaaa, Eomma… aku harus bagaimana? Diluar hujan deras sekali, badan Haejin panas…”

”Ya sudah, Appa meninggalkan obat, kau rawat Haejin dengan baik ya? Eomma buru-buru, daaah…”

Donghae terperangah begitu Choi Jiyoo memutuskan sambungan teleponnya, akhirnya Donghae cuma meletakkan gagang telepon dan kebetulan tukang bubur datang, Donghae kemudian membawa mangkuk bubur yang sudah dibayar, dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Haejin meringkuk di bawah selimut.

”Haejin-ah…” panggil Donghae. ”Makan dulu…”

Haejin terus meringkuk.

”Ayolah, badanmu panas… nanti bagaimana mau minum obat kalau kau tidak mau makan?” tanya Donghae.

Haejin membuka matanya, ”Aku lemas sekali, Oppa…” sahutnya.

”Makan dulu, kusuapi! Jangan bantah!”

Haejin menghela napas, ”Aku sedang tidak bisa membantah, Oppa…” desahnya pelan.

”Bagus,” Donghae mulai menyuapkan sesendok demi sesendok bubur ke dalam mulut Haejin. Lalu meminumkannya obat, tapi panasnya masih tinggi juga, sementara Haejin terus kedinginginan.

Donghae agak panik, dicobanya menghubungi Jonghyun, tapi ponsel Jonghyun juga tidak bisa dihubungi. Diluar hujan semakin deras, dan malam semakin larut, Donghae bolak-balik mengganti kompres Haejin. Demamnya sangat tinggi. Ketika Donghae terantuk-antuk di pinggir ranjang dilihatnya tangan Haejin bergerak, dan dia mulai meracau. Kesadaran Donghae kembali lagi, Donghae langsung menggenggam tangan Haejin.

Donghae meraba keningnya lagi, ”Panas sekali…” paniknya.

”Oppa… dingin…”

”Dingin?!” tanya Donghae bingung. ”Badannya panas, tapi dia kedinginan… Ya Tuhan, apa yang terjadi? Aku bukan dokter…” kata Donghae panik.

”Oppa…” mata Haejin terbuka. ”Peluuuuuuk…”

”He?!”

”Dingin sekali… peluk aku…”

Donghae tanpa berpikir lagi langsung masuk ke bawah selimut dan memeluk adiknya itu erat-erat. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada adik perempuannya itu, dan Haejin langsung memeluknya erat sambil menangis.

”Kenapa menangis??” tanya Donghae panik.

”Ani… aku hanya mau bertanya…” kata Haejin pelan, sambil terus menyembunyikan wajahnya di dada Donghae. ”Oppa, kau benar menganggapku adikmu, kah?”

”Hmm?” Donghae kaget ditanya begitu. ”Keurom, aku kan Oppamu… walaupun… Oppamu adalah Jonghyun, tapi kau sudah seperti… aniya, kau memang adikku sendiri…”

Haejin terus menangis. ”Keurae…” suaranya benar-benar bergetar. ”Aku hanya adikmu… tapi tahukah kau Oppa? Aku lelah jadi adikmu…”

”Wae?” tanya Donghae.

Haejin sudah tertidur dalam dekapan Donghae. Donghae menghela napas dalam-dalam, ”Memang apa salahku, Haejin-ah?” tanyanya sambil terus mempererat pelukannya. ”Kenapa aku tidak boleh jadi Oppamu?” Donghae terus mendekap Haejin. ”Aku tahu kakakmu hanya Jonghyun, tapi… kau sudah seperti adikku sendiri…” dielusnya kepala Haejin, perlahan dikecupnya puncak kepala Haejin. ”Adakah salahku Haejin-ah?” tanya Donghae sedih karena gadis yang dianggapnya adik kecilnya tidak mau menganggapnya sebagai kakak lagi sekarang.

 

*           *           *

Jonghyun baru sampai di rumah pagi-pagi sekali, dia membuka ponselnya yang berisi berbagai pesan mengenai kepergian orangtuanya, dan pesan dari Donghae yang kentara sekali panik! Jonghyun buru-buru ke rumah Donghae, menggunakan kunci serep yang memang dimilikinya, dan buru-buru naik ke atas.

Ketika membuka pintu kamar Donghae, dilihatnya Donghae dan Haejin sedang tidur berpelukan erat sekali. Jonghyun nyengir di depan pintu.

”Kalau dipikir-pikir, memang kasihan adikku…” Jonghyun menghampiri Donghae dan menyenggol bahunya pelan.

Donghae membuka matanya, kaget mendapati Jonghyun. ”Ah, Jonghyun-ah, kau sudah pulang…”

”Ne…” Jonghyun tersenyum dan melirik adiknya. ”Bagaimana si kecil?”

”Molla…” Donghae meraba keningnya. ”Panasnya sudah turuuun… syukurlah…” Donghae benar-benar terlihat lega. ”Semalam badannya panaaaas sekali…”

”Syukurlah…” Jonghyun mengangguk. ”Dia pasti menyusahkanmu lagi…”

”Kemarin kami bertengkar…” Donghae duduk dan menggaruk kepalanya. ”Dia marah saat kularang dia ikut cheerleaders…”

Jonghyun duduk di kursi belajar Donghae. ”Laah… lagian kenapa kau larang?”

”Astaga, Lee Jonghyun!” Donghae melemparinya dengan bantal. ”Kau sadar tidak sih adikmu itu usia berapa?!”

”Tiga belas…” sahut Jonghyun polos.

”Lalu, kenapa kau izinkan dia ikut cheerleaders? Kau kan tau pakaian anak cheers pendek dan terbuka!”

Jonghyun terbahak. ”Sudahlah, biarkan saja… kau ini sudah bersama Haejin berapa lama sih? Hampir sama seperti aku dan Haejin, kan?! Seharusnya kau tahu kenapa dia bisa begitu…” Jonghyun mengerling adiknya. ”Haejin itu gadis yang sekali dia mau sesuatu, akan dia kejar sesusah apa pun itu!”

”Memang dia mau apa?”

Jonghyun mengangkat bahu sambil tersenyum, ”Tapi kurasa alasannya sama, seperti ketika dia mau ikut akselerasi… kalau begitu, biar kubawa dia pulang…” Jonghyun mendekat ke kasur.

”Eh? Kau yakin, Jonghyunnie?”

Jonghyun mengangguk, ”Dia kan adikku…”

”Ah, ne…” Donghae langsung terdiam, dia memandang Jonghyun yang perlahan-lahan menggendong tubuh Haejin.

Jonghyun tersenyum pada Donghae. ”Gomawo, Donghae-ya… maaf membuatmu susah…”

”Mwoya? Aku tidak susah…” kata Donghae agak tersinggung, terselip rasa sedih dalam hatinya. ”Dia… dia kuanggap sebagai adikku sendiri…” ucap Donghae terbata-bata.

”Jinja?!” tanya Jonghyun sambil mengangkat alis. ”Ckckck, kasihan sekali adikku, dianggap adik olehmu…” dan Jonghyun pergi begitu saja membawa Haejin yang masih tertidur.

Donghae terpana! Apa yang dia tidak mengerti? Kenapa Jonghyun dan Haejin terus berkata hal-hal yang menyakitkan itu?

TBC

By : Carin ‘RyeoMin’


5 thoughts on “Oh! ~Part 3~

  1. aduuhhh,, mas ikan tuh oon bner bner oon yee *bner” digebukin bini”nya donghae*
    bilang aja haejin cuma boleh pamer tubuhnya buat donghae seorang.. ckck
    adegan pas haejin dipeluk donghae miris bnged dahhh.. jeongmale paboo donghae yaa..
    lanjutt part brikutnya^^

  2. Hae lemoot astajimmm… Yg ga sangka2, kirain knp ga bole ikt cheer, ga tw-ny cm gr2 bkal pk bju kbuka.. Oalaaah abang hae in gmn siih, jd gemes..

  3. dasar Lee Donghae gak peka!!! *gebuk2 meja*
    anda itu pentium berapa? /plak

    uwowowowo, haejin minta peluukkk wkwkk

    hadehh, anda harus berusaha lebih lebih lebih keras lagi buat menyadarkan “oppa” mu itu. .
    *hwaiting!!

  4. aduhh,, ni ikan telmi banget deh,, heheee^^
    nyadar kagak sih, kalo dia sendri juga ada rasa suka sama haejin ︶︿︶

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s