Oh! ~Part 2~


*Sekretariat Cheerleader SMA Kyunghee*

”Ah, kalian berdua mau daftar jadi anggota cheers?”

Haejin dan Ririn mengangguk-angguk.

”Kalau begitu selamat bergabung…” Ririn dan Haejin saling pandang kemudian saling ber-high five.

Sepulang sekolah, Haejin dan Ririn duduk berdua di bawah pohon, menunggu murid-murid kelas XII yang sedang menjalankan pelajaran tambahan untuk ikut ujian. Haejin menunggu dengan hati sabar, dan riang gembira, sementara Ririn terus tersenyum.

”Oh iya, Rin-ah… kau menunggu siapa?” tanya Haejin baru sadar kalau Ririn terus menemaninya.

Ririn terkekeh. ”Aku mau melihat pria yang kau suka itu… sekaligus aku juga mau menunggu kakakku.”

”Oh kau punya kakak?”

”Ne…”

”Nugu?”

”Choi Siwon…”

Haejin mengernyit, ”Lho, bukannya namamu Park Ririn ya?”

Ririn mengangguk, ”Dia kakak angkatku…” senyum Ririn misterius.

”Ah, kakak angkat…” Haejin mengangguk-angguk. ”Rin-ah, Siwon Oppa-mu itu masuk ekskul apa memangnya?”

”Basket…” ujar Ririn bangga.

”Kalau begitu kita harus berjuang begitu sudah masuk cheerleaders!”

”Ne, hwaiting!”

Tak lama kemudian mereka menunggu, lewatlah segerombolan pria tampan, membawa tas selempang, dilihat dari tas mereka yang seragaman, mereka pastilah salah satu klub olahraga di sekolah ini. Mereka berhenti di hadapan Ririn dan Haejin yang menatap mereka dengan sungkan.

”Eh, kamu yang tadi kepilih jadi Yeoja Idaman ya?” tanya salah satu dari mereka menunjuk Haejin.

Haejin manggut-manggut.

”Aigooo, kyeopta… boleh kucubit pipimu?”

”Hee??” Haejin bingung, tapi karena demi kesopanan, dia mengangguk. ”Ah, ne… tapi jangan keras-keras ya?”

Cowok-cowok itu tertawa.

Salah satunya mencubit pipi Haejin, keras banget malah, Haejin mengusap pipinya yang merah, Ririn ikut terkikik melihatnya.

”Kenalkan, namaku Kim Junsu… ini teman-temanku, kami dari klub Voli… ini Ok Taecyeon, ini Nickhun, ini Jang Wooyoung, lalu Lee Junho, dan Hwang Chansung… ini temanmu?” Junsu menunjuk Ririn.

”Ne…”

Ririn membungkuk, ”Park Ririn-imnida…”

”Ah sama lucunya…” kata salah satu dari mereka.

”Kalian kok belum pulang?” tanya yang namanya Nickhun. ”Nunggu di jemput?” tanyanya ramah.

”Ani… kami menunggu Oppa kami…”

”Oh punya kakak ya disini? Nugu?” tanya Junsu.

”Lee Jonghyun!” jawab Haejin bersemangat.

”Aaah… Jonghyun!” semua nampaknya kenal pada Jonghyun.

Wooyoung berkata, ”Pantas adiknya imut-imut, kakaknya aja imut-imut begitu walaupun udah delapan belas tahun.”

”Kalau Ririn?”

”Choi Siwon…”

”Woaaah… Choi Siwon kakakmu?”

Ririn mengangguk.

”Aigooo, keren sekali dia itu…”  puji cowok-cowok di depan mereka

”Ya sudah, kami mau latihan, kami pergi dulu ya…” mereka pamit.

Cowok-cowok Voli itu pergi berlalu dari hadapan mereka, tepat ketika bel tanda pelajaran tambahan berakhir berbunyi.

”Ririn-ah, kau akan melihat Donghae Oppaku…”

Ririn tersenyum, ”Dan kau akan kukenalkan pada Siwon Oppaku…”

Tak lama kemudian dari jauh saja Haejin sudah bisa menangkap sosok Donghae Oppa yang sedang menuruni undakan. Wajah Haejin langsung berbinar, tangannya otomatis berpindah ke rambut, untuk merapikannya.

”Rin-ah… itu Donghae Oppaku!” Haejin bersemangat menunjuk Donghae. Ririn langsung memicingkan matanya, untuk berjinjit.

”Ya ampun, Haejin-ah… kerumunan orang banyak, tapi kau bisa melihat Donghae Oppamu? Aku yang lebih jangkung darimu saja tidak melihat… Donghae Oppamu tinggi kah?”

”Ani… dia mungil dan imut-imut…” kata Haejin bangga.

Ririn menoleh, ”Mungil dan imut-imut?”

”Ne… aigo, kau lihat kan? Dia mungil, imut-imut… wajahnya polos, wajah malaikat… aaaaah Donghae Oppaaaaa…” Haejin menjerit-jerit kesenangan sendiri.

Ririn menoleh padanya dan tersenyum, agak miris. ”Kau pasti sangat menyukai Donghae Oppamu itu ya?”

”Suka? Aku  bahkan cinta padanya…” sahut Haejin bangga.

”Chukae…” Ririn menoleh mencari-cari lagi. ”Itukah?”

”Ne! ne! itu…” tapi wajah Haejin yang tadinya bersemangat langsung diam. Donghae Oppanya tidak berjalan sendirian, melainkan bersama seorang perempuan di sebelahnya, dan Jonghyun Oppanya di belakangnya.

Ririn mengernyit. ”Erm… Haejin-ah, itu siapa?”

”Molla~” suara Haejin nyaris merengek sekarang. Haejin memerhatikan Donghae Oppa dan gadis dikuncir kuda itu sedang berbicara dengan sangat antusias, Ririn menyadari bahwa Haejin sedih, maka Ririn menepuk-nepuk bahunya.

”Itu siapa ya?” tanya Haejin.

”Molla…” sahut Ririn.

Sepertinya Donghae menyadari kehadiran Haejin, dia melambai, tapi Haejin tidak membalas melambai.

”Oppa! Ayo pulang…” teriak Haejin nyaring.

Donghae menghampiri Haejin, dan mengelus kepalanya. ”Menunggu berapa lama?” tanyanya.

”Dua minggu!” sahut Haejin judes, dan langsung menyeret Donghae. ”Ayo pulang! Aku lapaaaaaaar… Rin-ah, nanti malam aku telepon!”

Ririn nyengir, ”Iya…” dia melambai.

Donghae kebingungan ditarik-tarik, ”Tapi nanti dulu, Haejin-ah… aku mau mengenalkanmu pada seseorang…”

”Tidak mau! Kenalannya tahun depan saja!” Haejin terus menyeret Donghae sekuat tenaga.

”Haejin-ah!” Donghae berusaha melepaskan tangan Haejin. ”Tapi… itu… tunggu dulu!”

”Kalau tidak mau pulang, aku pulang sendiri! Jonghyun Oppa…” Haejin langsung berbalik arah mencari Jonghyun.

”Ara… ara! Nanti dulu, kita kan bisa…”

Haejin sudah menatapnya super judes.

”Kau ini kenapa siiiih???” tanya Donghae heran.

”Mau pulang!”

Jonghyun menghampiri mereka. ”Kenapa lagi?” tanya Jonghyun heran. ”Hae-ah, itu kasihan Gwiboon menunggu…”

”Oppa kau mau kemana?” tanya Haejin pada Jonghyun.

”Mau latihan ngeband… CN Blue mau manggung!” Jonghyun menaikkan alisnya. ”Kita siap masuk industri musik indie…”

”Oke, aku pulang naik bis…” Haejin balik badan dan lari keluar.

”Yah! Yah! Yah!” Donghae dan Jonghyun berteriak.

Haejin sudah melangkah keluar dari halaman sekolah dengan kesal dan menendang-nendang batu.

Jonghyun geleng-geleng. ”Hae-ah, aku paling tidak bisa menghadapi anak itu kalau judesnya sudah keluar… seperti tadi katamu, teriakannya itu daya tariknya… sehingga orang tidak bisa melawan.”

”Aku jadi bingung…” Donghae menoleh ke kanan dan ke kiri.

”Gwiboon menunggumu, Hae…” Jonghyun mengedikkan kepalanya ke belakang. ”Haejin biarkan saja pulang sendiri, sudah besar ini…” tambahnya cuek.

”Dia masih kecil!” Donghae menjitak kepala Jonghyun.

”Dia tidak akan suka dianggap anak kecil, Hae-ah…” Jonghyun mengelus kepalanya. ”Sudahlah aku sibuk! Bye…”

Donghae geleng-geleng dan berlari kembali ke Gwiboon.

”Mana yeodongsengmu?” tanya Gwiboon penasaran.

”Dia pulang duluan, sepertinya dia sedang dalam mood tidak baik, Gwiboon-ah… lain kali aku kenalkan, ayo kita pulang!” ajak Donghae sambil tersenyum.

 

*           *           *

Haejin cemberut di halte bis, dia menggigit bibir dan mengacak-acak rambutnya. ”Hae Oppa jahat! Siapa cewek kuncir kuda tadi??? Hmm… harusnya aku disana ya mengorek informasi, ah pabo nae!” Haejin memukul-mukul kepalanya sendiri. ”Ah, sudahlah… tunggu bis saja disini…” Haejin memandang papan berisi tulisan nama dan jurusan bis yang lewat. ”Kira-kira aku akan naik apa ya?” Haejin memandang tulisan tersebut dengan seksama. ”Aaaiiisshhh nggak pernah naik biiiis…” rengeknya sendirian.

”Hei! Lee Haejin…”

Haejin menoleh, ”Rin-ah…” Haejin nyaris menangis menghampiri Ririn dan memeluknya.

”Eh, waeyo???” tanya Ririn sambil merangkulnya.

”Aku gak bisa pulaaaang…”

”Rin-ah, wae?” tanya suara seorang pria khawatir, Haejin mendongak dan melihat pria berbadan jangkung dan tegap sedang memandangnya khawatir. ”Kau kenapa? Tersesat?”

”Oppa… dia teman sebangkuku, Lee Haejin…”

”Ah…” Siwon mengangguk-angguk. ”Kau yang menang Yeoja Idaman tadi ya? Aku Choi Siwon, Oppanya Ririn.”

”Annyeonghaseyo… Sunbae…” Haejin membungkuk.

”Kau kenapa menangis disini?” tanya Ririn khawatir.

”Aku pulang sendirian…”

”Ya sudah, kita antar pulang saja…” saran Siwon.

”Kaja…” ajak Ririn membawa Haejin masuk ke dalam mobil Siwon.

 

*           *           *

”Oppaaaaaaa…”

”Apa?” tanya Jonghyun dengan nada malas sambil membaca sebuah buku.

Haejin gelendotan di sebelahnya, dan memeluk lengannya. ”Oppa… siapa perempuan tadi?”

”Perempuan yang mana?”

”Yang sama Donghae Oppa… dia siapa sih??‼” tanya Haejin kesal.

Jonghyun terkekeh, ”Cewek tadi? Gwiboon, Kim Gwiboon… kenapa? Cemburu yaaaa?” ledek Jonghyun.

”Ne!” sahut Haejin. ”Hae Oppa lebih memerhatikan dia dibandingkan aku, bahkan aku dibiarkan pulang sendiri…”

”Ya mana mungkin meninggalkan Gwiboon sendirian?!”

”Dan membiarkanku pulang sendirian?!” Haejin naik darah.

Jonghyun menutup kupingnya. ”Kupingku sakiiiiit… kenapa kau marah-marah sih?”

”Hmm…” Haejin cemberut, tapi kemudian bertanya lagi. ”Memang Gwiboon itu siapa sih, Oppa?”

”Memangnya kenapa kau mau tau? Tadi mau dikenalkan Donghae pada Gwiboon kau tidak mau…”

”Aku tidak suka Hae Oppa bersama cewek lain…”

”Lalu?? Memang kau siapa?!”

Hati Haejin teriris-iris mendengarnya, ”Oppa…” rengeknya.

”Haejin-ah, kau itu yeodongsengnya Donghae, sama seperti aku…” Jonghyun mengelus kepada adiknya pelan. ”Sekarang kau bayangkan bagaimana perasaanku kalau aku harus pacaran denganmu?”

Haejin mengernyit jijik. ”Iiih…”

”Nah seperti itu juga perasaan Donghae padamu!” tunjuk Jonghyun.

Wajah Haejin berkaca-kaca, ”Jadi dia jijik padaku?”

”Ani, ani…” Jonghyun jadi panik sendiri. ”Aigooo, kau itu cengeng sekali sih!” keluhnya. ”Dia tidak jijik padamu, aku cuma memberimu pandangan bagaimana perasaan dia padamu…”

”Beda! Pasti beda… aku kan bukan yeodongsengnya!”

”Tapi…”

Chihoon muncul, ”Sudahlah, Jonghyunnie… kau ini…” ibunya menggeleng. ”Ayo, Haejin-ah, tidur… sudah malam! Jonghyun kau juga…”

Haejin naik ke dalam kamarnya, dia mengganti bajunya dengan gaun tidur berwarna pink dan membersihkan wajahnya, kemudian dia melangkah ke balkon, mengintip ke balkon sebelah.

Lampu kamar Donghae Oppa masih menyala.

”Jinja? Dia hanya menganggapku adiknya saja? Andwe!” Haejin mengepalkan tangannya. ”Aku bukan adiknya… aku adalah pacarnya…” Haejin menutup gorden dan mematikan lampu.

*           *           *

Donghae mengeluarkan motornya, dan melihat Haejin mengomel-ngomel pada Jonghyun yang juga sedang mengeluarkan motornya, Haejin terus berkata. ”Palli! Oppa, palli!”

”Ya! Jonghyun-ah, Haejin-ah…” panggil Donghae.

Keduanya menoleh, wajah Haejin terkejut, dia langsung mencubit ganas Jonghyun dan Jonghyun melambai singkat.

”Aku duluan ya, anak ini minta buru-buru dari pagi…”

”Eh, oh…” Donghae bingung.

Haejin membungkuk, dan langsung naik ke atas motor, Jonghyun menyalakan mesinnya dan buru-buru berlalu. Donghae mengernyit, apa yang terjadi? Seumur hidup Haejin tidak pernah membungkuk kepadanya. Donghae mengangkat bahu, dan mengendarai motornya.

Sesampainya di sekolah, dia langsung di panggil ke ruangan klub, ternyata tim sepak bola mereka akan segera mengikuti kejuaraan nasional sebentar lagi. Berarti sepulang pelajaran tambahan, Donghae tidak bisa langsung pulang ke rumah, melainkan harus tetap berlatih sepak bola lagi.

Donghae menghampiri Jonghyun yang sedang asyik mendengarkan musik di iPod-nya dengan headphone-nya, dan bersenandung kecil, hingga Donghae meninju bahunya pelan, dan duduk di depannya.

”Hai… sudah rapat klubnya?” tanya Jonghyun sambil melepas headphone-nya.

”Sudah, heh… ada yang mau kutanyakan kepadamu, adikmu kenapa sih?” tanya Donghae heran.

Jonghyun terkekeh. ”Kau itu buta, atau pura-pura bodoh?”

”Maksudnya?” tanya Donghae heran.

”Ckckck… Haejin itu membuntutimu dari usianya berapa coba? Dari usia satu tahun saja sudah minta gendong padamu, sudah menempel padamu… sepanjang hidupnya yang dia lihat hanya dirimu! Sekarang menurutmu kenapa dia begitu?” tanya Jonghyun panjang lebar.

Donghae mengerjapkan matanya, ”Karena apa?”

”Aish jinja!” Jonghyun benar-benar tak sabar. ”Waktu kemarin kau keluar dari kelas, Haejin jelas-jelas menunggumu, kan?”

”Ne…”

”Tapi kau malah keluar dengan Gwiboon,”

”Memangnya kenapa?” tanya Donghae heran.

Jonghyun geleng-geleng, ”Sudahlah, aku malas membahasnya… dia keras kepala, dan kau sakit kepala!” dengus Jonghyun kembali memasang headphone.

”Ya!” Donghae geleng-geleng. Jam pelajaran yang dimulai membuatnya tidak bisa kembali bertanya kepada Jonghyun. Di akhir jam pelajaran, band indie Jonghyun, yaitu CN Blue latihan karena akan mengikuti sebuah kontes nasional, sementara Donghae harus latihan sepak bola.

Jonghyun menepuk bahu Donghae, ”Titip si kecil ya?”

”Kau latihan? Aigo, bukannya aku tidak mau mengantar Haejin ke rumah, tapi aku juga harus latihan sepak bola…”

”Kalau si Bola Bekel Tuing Tuing itu pulang jam segini sih aku tidak akan memintamu menjaganya, Hae… dia pulang sore hari ini.”

”Wae?”

”Katanya dia sudah ikut klub, oke?”

Donghae mengangguk, ”Okelah…”

”Duluan ya…” Jonghyun menepuk bahu Donghae.

Donghae menghela napas, pikirannya langsung jelek. ”Anak ini akan ikut klub apa ya? Firasatku langsung nggak enak nih…” Donghae akhirnya turun dengan membawa tasnya, lalu berjalan menuju lapangan sepak bola, bersama anggota tim yang lainnya, Donghae menyapa mereka, lalu masuk ke dalam kamar ganti yang letaknya di sebelah lapangan sepak bola. Setelah mengganti bajunya dengan baju latihan yang memang disediakan di kamar ganti, Donghae keluar lagi dan melakukan pemanasan.

 

*Ball Room*

Haejin dan Ririn berdiri berdekatan, bersama anak-anak lainnya yang masuk sebagai pendaftar calon anggota Cheerleader yang baru. Mereka sudah mengganti seragam mereka dengan kaus dan celana pendek, serta memakai sepatu keds.

”Untuk menjadi tim inti Cheerleaders… kalian harus melalui beberapa tahap tes, dan sayangnya, dari angkatan baru, hanya akan menerima tiga orang saja…”

Haejin terkejut, lalu berbisik pada Ririn. ”Rin-ah, otokhe? Apa kita bisa melewati tahap tes itu?” tanyanya cemas.

”Gwenchana! Kita harus semangat…”

”Pajo! Demi Donghae Oppa…” Haejin membulatkan tekad. Pelajaran yang susah saja bisa dilewati oleh seorang Lee Haejin, apalagi hanya sebatas menari? Dia pasti bisa… demi Lee Donghae.

Haejin, Ririn, dan anak-anak lainnya duduk di sisi ball room, sementara para anggota senior cheerleaders menunjukkan kebolehan mereka. Ririn menoleh pada Haejin, dan luar biasa mengherankan, wajah Haejin sudah kembali tenang, tidak ada ketakutan di dalamnya, kecemasan, atau raut gugup.

”Haejin-ah? Kau sudah tidak gugup?”

Haejin menggeleng, ”Aku sudah tidak gugup lagi… he he he, apa pun akan aku lakukan demi Donghae Oppa! Dan cuma dengan sugesti itu ke dalam pikiranku, aku langsung tidak cemas…”

”Keurae?” Ririn terperangah. ”Ya, Lee Haejin… kau pasti benar-benar suka pada Donghae Oppamu itu?”

”Ani, cinta! Bukan suka…” geleng Haejin mantap.

”Ne, ne, cinta…”

”Lee Haejin-ssi!” panggi salah seorang senior.

Haejin menoleh pada Ririn, ”Hwaiting!” dia berdiri dan melangkah pelan ke tengah ball room.

”Oke, Haejin-ssi, silakan perkenalkan diri kamu…”

”Annyeonghaseyo, X-F Lee Haejin-imnida… bangapsumnida…” Haejin membungkuk.

”Oke, Haejin-ssi, kau mau menari dengan lagu apa?” tanya seniornya.

Haejin menarik napas dalam-dalam kemudian menjawab, ”Lee Hyori, Chitty Chitty Bang…”

”Lee Hyori?”

Dan Haejin benar-benar menari persis sama seperti gerakan si sexy diva Lee Hyori, wajah cute-nya berubah, entah kenapa begitu dia mulai menari, seluruh auranya berubah. Aegyo-nya seakan-akan hilang.

Tidak bisa dipungkiri pesona Haejin berubah begitu mulai menari. Itulah Lee Haejin, a determined person! Sekali dia mau mendapatkan sesuatu, dia tidak akan ragu-ragu melakukan apa saja untuk meraihnya!

 

*Lapangan*

”Donghae-ya…” sapa Gwiboon.

”Hai, Gwiboon-ah…” sapa Donghae sambil melemaskan kakinya setelah sekitar empat puluh lima menit berlatih.

Gwiboon menyodorkan Donghae air  mineral. ”Nih… kau bercucuran keringat banyak sekali. Oiya Donghae-ya, aku tidak menyangka yeodongsengmu itu pintar sekali menari…”

”Hee???‼!” mata Donghae membulat.

”Hmm…” Gwiboon mengangguk semangat. ”Sudah pandai menari, cantik, seksi pula…”

”Apa maksudmu? Kau lihat dia menari dimana?” tanya Donghae bingung.

”Lho…” Gwiboon semakin bingung. ”Dia kan yeodongsengmu Donghae-ya, masa kau tidak tahu? Dia kan mendaftar cheerleaders…”

”Mwo?!” Donghae melempar botol minumnya begitu saja, berdiri dan berlari mencari Haejin.

To Be Continued


3 thoughts on “Oh! ~Part 2~

  1. huwaaaaaa.. haejin kecil kecil udah cinta cintaan segala .. ckck
    donghae tuh polos apa oon sii?? oon kali yahh *digebukin bini”nya donghae*
    masa msh kaga ngerti jga.. susah dahh klo emank dri awal cuma nganggep dongsaeng.. kira kira ada perasaan ga yah sama haejin.. penasaraaaaaaaaannnnn..
    lanjut part brikutnya^^

  2. haejin keras kepala, donghae sakit kepala. . .bahta!!! *toss sama jonghyun*

    aigooo~
    jgn ngambek mulu. .gabisa pulang kan?
    wkwkkwwk ._.v

    wehweh.. itu kakak2 kelasnya oke punya ya >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s