Oh! ~Part 1~


Oh!

 

Oh, oh, oh, oh… oppareul saranghae… ah, ah, ah, ah… manhi, manhi hae…

 

Haejin’s POV

Akhirnya hari yang kunanti-nantikan tiba juga! Setelah menunggu selama beberapa tahun, akhirnya aku berhasil menyusulnya. Berkat kerja kerasku selama ini! Usiaku sebetulnya baru tiga belas tahun, dan seharusnya aku masuk kelas satu SMP. Tapi karena kelas akselerasi, aku berhasil meloncat, dan sekarang akhirnya masuk kelas satu SMA.

Bukan tanpa alasan aku tiba-tiba mau masuk kelas akselerasi, dan membanting otakku! Semua hanya karena seseorang yang jarak usianya terpaut lima tahun dariku, tapi aku begitu ingin satu sekolah dengannya.

Donghae Oppa. Dia siapa? Dia adalah tetanggaku dari kecil. Ada cerita manis tentang dirinya. Lima tahun yang lalu, ketika Eomma sedang hamil tua, hamil aku tentunya, di rumahku sedang dalam perayaan Chuseok, seluruh tetangga datang, termasuk keluarga Donghae Oppa. Donghae Oppa baru berusia lima tahun ketika itu…

Kebetulan keluarga kami dan keluarganya sangat dekat, ayah Donghae Oppa adalah dokter kandungan. Dan saat itu, Eomma kontraksi. Eomma sudah tidak sempat dilarikan ke rumah sakit, karena air ketuban sudah pecah. Appa, Lee Ahjussi, dan Lee Ahjumma semuanya panik. Akhirnya Eomma dibaringkan di meja makan, dan Lee Ahjussi memutuskan untuk melakukan persalinan di rumah, pada saat itu juga!

 

*Flashback*

”Tolooong! Aku sudah tidak kuat lagi‼!” teriak Cho Chihoon.

Lee Sungmin memegang erat tangan istrinya, ”Iya, yeobo… kau bertahanlah… Jonghyun-ah… ambilkan bantal!”

Putra pertama keluarga Lee, yaitu Lee Jonghyun berlari mengambilkan bantal sofa untuk sang ibunda.

”Hyukjae-ah, otokhe?! Apa yang harus kita lakukan?!” tanya Sungmin panik.

Hyukjae menggulung lengan kemejanya. ”Tenanglah, Sungmin-ah, setelah kuperiksa rasanya istrimu bisa melahirkan normal di rumah…” Hyukjae mulai maju untuk memeriksa keadaan Chihoon yang berbaring di meja makan. ”Wah! Bukaannya cepat sekali, ini akan sangat lancar, Sungmin-ah… tenanglah!”

Jiyoo, istri Hyukjae, ikut menenangkan Chihoon, ”Sabarlah, Chihoon-ah, anakmu akan segera lahir… kau tenanglah.” Dia menggandeng putra semata wayangnya, Donghae yang terlihat kebingungan dengan keadaan yang terjadi.

”Sungmin-ah, siapkan handuk, dan ember berisi air hangat…” perintah Hyukjae yang masih terus memeriksa Chihoon.

Sungmin berteriak kepada pengurus rumah untuk menyiapkan segalanya.

Hyukjae mulai melebarkan kaki Chihoon dan Jiyoo membantunya, Hyukjae berkata, ”Oke… tarik napas, Chihoon-ah, dan mengedan!” perintahnya. Chihoon mulai mengedan dengan susah payah. ”Lagi, terus… tarik napas dalam-dalam, buang perlahan, ngedan!” perintah Hyukjae lagi.

Chihoon terus mengedan, dengan tangannya meremas tangan Sungmin.

Wajah Hyukjae terlihat serius, dia mengulurkan tangannya ke depan, kemudian menghela napas dalam-dalam. ”Astaga…” keluhnya.

”Ada apa?!” tanya Sungmin panik.

”Sepertinya bayimu terlilit tali pusar…” gumam Hyukjae.

Jiyoo memekik. ”Lalu apa yang harus kita lakukan?!”

”Kita harus melepaskan tali pusar yang melilitnya, atau bayinya akan kehabisan napas…” ujar Hyukjae. ”Kita harus cepat!”

Sungmin mulai panik, sementara Chihoon meracau.

”Tenang… kita pasti bisa melakukan sesuatu…” Hyukjae menggigit bibirnya dan terus berpikir. ”Ah, Donghae-ya… kesini!” panggilnya.

Donghae maju dan menatap ayahnya bingung.

”Donghae-ya… kau mau tolong Appa, Eomma, Ahjussi, dan Ahjumma, kan?” tanya Hyukjae.

Donghae mengangguk.

”Kalau begitu, masukkan tanganmu ke dalam… iya!” Hyukjae mengulurkan tangan Donghae ke dalam rahim Chihoon. ”Apa yang kau rasakan, Sayang?”

Donghae bergidik. ”Appa, rasanya aku memegang kepala…”

”Bagus!” tujuan Hyukjae tercapai. ”Dikepalanya, ada tali kan?”

Donghae mengangguk ketakutan. ”Apa itu, Appa?”

”Sayang, bantu lepaskan tali di kepala bayi itu ya, kasihan kan bayinya terikat? Ayo… kau pasti bisa!”

Donghae pelan-pelan melakukan apa yang diinstruksikan ayahnya dengan tangannya, wajahnya tegang, dan dia bisa merasakan dia mengurai tali yang membelit kepala kecil di dalam sana.

”Sudah?” tanya Hyukjae.

Donghae mengangguk.

”Kau boleh keluarkan tanganmu sekarang…”

Donghae mengeluarkan tangannya, dan Jiyoo mengelus kepala putranya bangga, Donghae buru-buru mengelap tangannya yang berlumuran darah, sementara Hyukjae mulai memberi aba-aba lagi. Sekali mengedan saja, akhirnya bayi itu keluar dari dalam rahim Chihoon.

Jiyoo langsung membersihkannya, dan membedongnya. ”Aigooo, Chihoon-ah, kau memiliki seorang putri yang cantik!” Jiyoo menggendong bayi Chihoon dan membawanya pada Sungmin.

Chihoon cuma tersenyum lemah.

”Chukae, chingu-ya…” kata Hyukjae sambil menepuk bahu Sungmin setelah membersihkan tangannya.

Sungmin memeluk Hyukjae. ”Gomawo, Hyukjae-ya…”

”Cheonmaneyo… putrimu sangat cantik!”

Sungmin terus menggendong putri pertamanya dengan bangga. ”Akhirnya Jonghyun punya adik…” kekehnya.

Sementara Jiyoo memerhatikan Donghae yang memandang bayi itu dari jauh dengan ingin tahu. Jiyoo tersenyum, ”Donghae-ya… sini! Kau mau lihat yeodongsengmu kan? Sini…”

Donghae mendekat perlahan-lahan, Sungmin menurunkan gendongannya. Donghae bisa melihat jelas bayi perempuan kecil yang sedang tidur tersebut, tanpa sadar Donghae mengelus pipinya.

”Kyeopta…” ujar Donghae.

”Siapa namanya?” tanya Jiyoo pada Sungmin.

Sungmin mengangguk-angguk. ”Aku juga masih belum kepikiran namanya… tapi kurasa saran dari Jonghyun bagus juga.”

”Nugu?” tanya Hyukjae.

”Lee Haejin…”

”Ah, Haejin-ah…” sapa Jiyoo dan Hyukjae kompak pada bayi kecil itu.

Donghae tersenyum. ”Haejin-ah, annyeong…” dia membelai pipi bayi kecil itu. ”Appa… bolehkah aku menikahinya?!”

Baik Hyukjae, Jiyoo, maupun Sungmin terperangah mendengar bocah kecil berusia lima tahun bicara seperti itu.

 

*End Of Flashback*

Aku selalu tersenyum mendengar cerita Eomma tentang bagaimana kelahiranku. Namja yang menyelamatkanku, yang memberikanku kesempatan untuk hidup, adalah Donghae Oppaku. Ah, dia benar-benar malaikat… aku berguling-guling lagi di kasurku.

Menurut pendapatku Donghae Oppa adalah pria yang sempurna! Terserah orang mau bilang apa, dia adalah tipe idealku dari aku hidup hingga aku mati! Dia tampan, manis, matanya indah, baik hati pula! Sekarang dia duduk di kelas tiga SMA Kyunghee. Dan disitulah sekarang aku bersekolah!

Aku mematut diriku di depan cermin. Dengan seragam sekolah, dan rambutku kugerai, aku merasa aku sudah pantas masuk SMA, meski usiaku masih usia SMP. Aku meraih tasku dan keluar dari kamar, lalu berlari keluar. Aku langsung berlari ke rumah di sebelah kanan rumahku, rumah Donghae Oppa!

 

*Author’s POV*

Haejin menekan bel pintu. Tak lama kemudian pintu mejeblak terbuka, dan muncullah Jiyoo Ahjumma.

”Ahjumma, Annyeonghaseyo…”

”Annyeong…” sapa Jiyoo Ahjumma senang. ”Aigooo, Haejin-ah, kau cantik sekali! Ahjumma tidak menyangka kau sudah masuk SMA!”

Haejin tersenyum senang. ”He he he… aku kepagian nggak sih, Ahjumma?”

”Ani, ani… wajar kalau untuk siswi baru masuk SMA, pasti dandannya cepet! Udah prepare deh pasti dari pagi!” Jiyoo Ahjumma menjawil hidung Haejin. Haejin tertawa renyah.

”Oppa mana?” tanya Haejin.

Jiyoo menoleh ke dalam. ”Sepertinya Donghae masih santai-santai tuh… kau masuklah, bujuk anak itu!”

”Oke, Jumma…” dengan lincah masuk ke dalam ruang tengah rumah keluarga Lee Hyukjae. Jiyoo cuma tersenyum dan geleng-geleng sambil menutup pintu rumah mereka.

Haejin muncul di belakang sofa, di sofa tersebut duduk Donghae yang sedang menonton televisi. Haejin berjingkat-jingkat pelan, dan menutup kedua mata Donghae dengan kedua telapak tangannya.

”Eomma…” kata Donghae risih.

Jiyoo terkekeh. ”Eomma disini, Nak…”

”Eh?!” Donghae memegang telapak tangan yang menutup matanya. ”Bukan Eomma? Lalu…”

”Ah, Oppa payah!” Haejin melepaskan tangannya dan duduk disebelah Donghae dengan wajah kecewa. ”Aku udah pakai parfum juga, masa Oppa gak ngenalin sih?! Parfumnya dibawain Appa dari Jepang…” pamernya.

Donghae menatap Haejin dari ujung rambut hingga ujung kaki. ”Haejin-ah, kau mau kemana?”

”Sekolah…” jawab Haejin.

”Sekolah?!” Donghae keheranan. ”Coba berdiri!”

Haejin berdiri, kemudian berputar-putar. ”Oppa, othe? Aku sudah keren belum? Sudah masuk SMA… hehehehe…”

”Ganti rokmu!”

”Wae?!” Haejin melotot.

”Kependekan!”

Haejin menoleh ke bawah. ”Pendek apaan? Cuma diatas dengkul, sejengkal di atas dengkul…”

”Sejengkal, Haejin-ah! Kau mau sekolah atau mau apa?!” tanya Donghae galak. ”Ganti buruan‼!”

”Nggak mau…” mulut Haejin manyun.

Jiyoo datang dan menengahi, ”Sudahlah, Donghae-ya… Haejin kan baru pertama kali masuk SMA, wajar dong dia senang, dia sudah rapi dari tadi pagi, kau bukannya memujinya malah memarahinya!”

”Ganti baju!” Donghae berkeras.

”Nggak mau‼!”

”Ganti, atau aku tidak mau bicara padamu!” ancam Donghae tanpa menggubris gelengan Jiyoo.

”Aku kan bukan anak kecil lagi, Oppa!”

Donghae memandang dingin ke arah televisi, aksi diamnya sudah dimulai. Haejin cemberut, mau nangis, kemudian dia berdiri dan berlari keluar.

”Donghae-ya…” bujuk Jiyoo.

Donghae cuek saja.

Donghae mengeluarkan Ducati merahnya dari carport ketika waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. ”Jonghyun-ah, Haejin eodiya?” tanya Donghae pada Jonghyun yang sedang mengeluarkan motornya juga.

Jonghyun cekikikan, ”Dia ngomel-ngomel sendiri tuh… kau bujuk sana, kupingku sudah sakit mendengarnya ngomel!”

”Oke…” Donghae tersenyum cerah sambil memarkir motornya, sementara kakak Haejin yang satu itu sudah menghilang. Donghae masuk ke dalam rumah Haejin sambil berteriak. ”Haejin-aaaah…”

Yang muncul malah Chihoon, Eomma-nya Haejin. ”Pagi, Donghae-ya…”

”Ahjumma, pagi… Haejin dimana?”

”Diatas… kayaknya dia ngambek nggak mau sekolah, hihihi…” kekeh Chihoon. ”Kau bujuk sana!”

Donghae langsung naik ke atas, dan mengetuk pintu kamar Haejin. ”Ya! Kau mau terlambat?”

Terdengar suara terkejut dari dalam, kemudian buru-buru Haejin membukakan pintu, wajahnya cemberut.

”Ayo berangkat!” ajak Donghae.

”Shiruh…” ujar Haejin pelan.

”Wae?”

”Aku tidak punya baju lain…” desah Haejin.

Mata Donghae melotot lebar. ”Tak ada baju lain?! Ya, jangan bilang semua rokmu sependek itu?!” tanpa malu Donghae menyentuh bagian paha Haejin yang terbuka, meski wajah Haejin memerah, wajah Donghae tidak.

”Ne…”

Wajah Donghae benar-benar nampak seperti orang frustasi, ”Kenapa kau beli rok sependek itu, sih?!”

”Ah, sudah dibeli! Jangan marah-marah melulu…” sungut Haejin.

”Ya sudah, mau diapakan lagi…” desah Donghae. ”Pakai jaketmu!”

”Boleh?!” wajah Haejin berbinar.

”Pulang sekolah ikut aku cari rok!”

Wajah Haejin langsung berubah kecewa lagi. ”Oppa, jebaaaal… aku kan sudah masuk SMA!”

”Usiamu SMP!”

Jawaban yang kejam!

 

*           *           *

TIDAK perlu waktu lama untuk Haejin menjadi Flower Girl di SMA Kyunghee. Baru hari pertama masuk saja, dia sudah mendapat dua kubu. Antis Haejin dan Fans Haejin tentunya.

Antis Haejin terdiri dari wanita-wanita, kakak kelas terutama, yang sirik karena seorang Lee Donghae menggandeng tangan seorang gadis di hari pertama masuk sekolah lagi. Dan Haejin juga langsung mendapat banyak fans dari namja sunbae, karena aegyo-nya.

Wajar sih, Haejin masih kecil udah masuk SMA. Jadi masih bener-bener fresh, meski yang tahu usia asli Haejin hanya Jonghyun, Oppanya sendiri, dan Donghae yang dipaksa kedua orangtua Haejin untuk tutup mulut rapat-rapat soal usia asli anak putri mereka.

Langsung saja di acara kontes yang diadakan di hari pertama masuk, yaitu Yeoja Idaman dan Namja Idaman yang diselenggarakan, Haejin menempati urutan pertama, telak! Haejin dipanggil ke tengah lapangan bersama para guru lainnya, sementara seluruh murid menonton dari koridor kelas masing-masing.

Jonghyun yang satu kelas dengan Donghae menggeleng-geleng. ”Apanya yang idaman dari Haejin?!”

Donghae terkekeh. ”Teriakannya itu yang jadi daya tarik, mungkin.”

Mereka berdua tertawa.

Ketika pengumuman beralih ke Namja Idaman, para gadis yang berteriak-teriak. Ya, tentu saja mereka berteriak, jika namja idamannya sama imutnya seperti Haejin, bernama Lee Taemin. Haejin dan Taemin bersalaman, kemudian mereka berdua di foto menggunakan gaya aegyo mereka, hingga satu sekolah histeris.

”Aegyonya takkan pernah mempan untukku…” kata Jonghyun sambil geleng-geleng.

Donghae tertawa.

 

*           *           *

Haejin duduk di dalam kelasnya, dia duduk dengan teman sebangkunya yang bernama Park Ririn.

”Keundae… kita akan disuruh memilih klub mana yang akan kita jadikan ekstra kurikuler… bagaimana menurutmu?” tanya Ririn.

Haejin berpikir. Donghae Oppa ekskulnya sepak bola, dia tidak mungkin ikut ekskul sepak bola, karena dulu saja ketika dia mencoba bermain bola bersama Donghae Oppa dan Jonghyun Oppa, yang terjadi malah wajahnya terkena bola, dan mimisan tidak berhenti, sampai dia pingsan.

”Sepertinya kau sudah punya bayangan mau masuk ekskul apa?” tanya Ririn.

Haejin mengggeleng. ”Ani… ekskul itu untuk namja…” keluh Haejin.

”Kau mau masuk ekskulnya namja?!”

”Bukaaan… aku mau masuk ekskul dengan seseorang, tapi…”

Wajah Ririn berubah, kemudian dia nyengir dan menyikut-nyikut Haejin. ”Aaah, kau pasti sudah punya kecengan disini, ya?”

Haejin mengangguk-angguk.

”Kau suka pada namja disini? Nugu?” tanya Ririn penasaran.

”Dia Sunbae kita disini…” bisik Haejin. ”Tapi kau jangan bilang siapa-siapa…”

”Ne… ne… yaksok!”

”Donghae Oppa…”

Mata Ririn melotot. ”Oppa?!”

”Ne… nanti kutunjukkan yang mana orangnya, hmm… dia ekskul sepak bola, aku kan tidak mungkin ikut ekskul itu…”

Ririn menjentikkan jarinya. ”Kau mau tetap satu kegiatan dengannya?”

”Tentu…”

”Aku punya ide, disini ada satu ekskul yang bisa membuatmu ikut seluruh kegiatan Donghae Oppa-mu itu, Haejin-ah.”

”Jeongmal?!” mata Haejin membulat. ”Apa?”

”Cheerleader!”

TBC



5 thoughts on “Oh! ~Part 1~

  1. hahaha.. unyuk jadi dokter?? *ngebayangin muka kocak unyuk pas jdi dokter.. hahaha*
    ya allohhh donghae kecil kecil ud jdi penyelamat.. uda gtu tau tau mau nikahin bayi yg dia selamatin lg.. ckck
    lanjuuuutt dlu ke part brikutnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s