Oh! ~Afterstory~

6 Years Later

 

01 – 12 – 2010, Seoul, South Korea

 

’Love, love, love, everybody clap, clap, clap… I want you back to me…’ Jonghyun terus tersenyum sambil memainkan gitarnya menghadap para penonton. Ya, inilah dia, Lee Jonghyun, bersama ketiga temannya, Jung Yonghwa, Kang Minhyuk, dan Jungshin. Band indie mereka sudah dikenal luas sekarang, bahkan menjadi idola di Korea Selatan, dan di Asia. CN Blue.

Jonghyun kemudian beranjak keluar dari panggung dan di belakang panggung dia meneguk air mineralnya. Kemudian mengecek jam tangannya.

”Dari tadi melirik jam tangan terus, Jonghyun-ah…”

”Ne, aku mau ke Incheon…”

”Wae?” tanya Yonghwa.

Jonghyun mengedipkan matanya. ”Menjemput seorang gadis yang sangat spesial dalam hidupku…”

”Aigoooooooooooo…” semua nyebut.

”Memang JooEun Noona kemana?” tanya Minhyuk.

”Maknae, sudahlah… kau tidak mengerti,” Jonghyun mengelus kepala Minhyuk. ”Lagipula aku tidak mau menjemput JooEun.”

Yonghwa dan Jungshin terbelalak.

”Lho, kau selingkuh? Yeoja mana pula ini?”

Jonghyun terkikik, dan melambai. ”Bye… aku pergi dulu…”

Jonghyun mengendarai mobilnya, ya sekarang dia sudah bisa membeli mobil hasil jerih payahnya sendiri di bidang musik, dan mengendarai mobil tersebut ke Incheon. Dua jam kemudian mobil Jonghyun sudah memasuki pelataran parkir bandara internasional besar tersebut, Jonghyun segera turun dan masuk ke dalam bandara tersebut, diiringi tatapan memuja dari wanita-wanita yang lewat, karena begitu tampannya dia.

Jonghyun bolak-balik melirik jam tangannya, dan memandang papan yang menunjukkan informasi tentang pesawat yang akan datang dan pergi tersebut. Sepuluh menit kemudian, di salah satu gerbang kedatangan, muncullah orang-orang yang menarik koper-koper berat, juga beberapa orang-orang kulit ras arya, yang berarti pesawat dan orang yang ditunggu Jonghyun sebentar lagi akan datang.

”Ya! Oppa… kau menunggu siapa?”

Jonghyun menoleh pada orang yang memanggilnya dan dia terperangah memandang gadis di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian ternganga, dan tertawa.

”Haejin-ah?”

”Ne, wae?”

Jonghyun langsung memeluk adiknya itu, dan tertawa tidak berhenti. ”Ya Tuhaaaan, kau berubah sekali…” dia mencubit pipi adiknya.

”Aduuuuh, Oppa! Masih hobi mencubiiiit…” sergah Haejin gemas.

”Aigooo, masih hobi merengek…” ledek sang kakak. Tapi kemudian Jonghyun memandang Haejin lagi, dengan wajah takjub dan kagum.

Haejin memakai mantel putih sepaha, dan sepatu bot hitam tinggi, rambutnya panjang bergelombang, dan dia memakai kacamata hitam, mendorong sebuah kereta dorong dengan koper-koper di dalamnya.

”Kau cantik sekali!” puji Jonghyun.

”Aish! Gomawo Oppa…”

”Tetap saja belum berumur dua puluh tahun, ckckckck…”

Haejin membrengut.

”Sekarang ayo kita pulaaaaang, Eomma dan Appa menunggumu dirumah…” Jonghyun mendorong kereta barang tersebut, dan Haejin terkikik mengikutinya di belakangnya.

Dalam perjalanan keduanya bertukar cerita.

”Jadi, kau berubah jadi model sepertinya di Perancis? Ckckckck, katanya mau jadi penari, kenapa malah jadi model?”

”Ya! Siapa yang jadi model?!” tanya Haejin sambil melotot. ”Aku disana ambil pelajaran komposisi lagu, lulus empat tahun… trus dua tahun kemudian aku ambil dance.”

”Mwo?! Kau seharusnya sudah selesai dua tahun yang lalu?!” tanya Jonghyun dengan suara melengking.

”Ne…” Haejin terkikik.

Jonghyun geleng-geleng. ”Kau ini gila belajar atau apa? Seharusnya kau bisa pulang!”

”Aniya… aku menikmati hidupku di Perancis sana, hehehe…” kata Haejin sambil membuka kaca jendela, dan menyesap semilir angin dingin bulan Desember di Korea tersebut. ”Aigoo, udaranya enak… lama tidak disini.” Haejin mengeluarkan tangannya dan merasakan udara Incheon.

Jonghyun tersenyum. ”Tidak capek lama di pesawat?”

”Ani… aku cukup tidur kok,” sahut Haejin ringan.

”Lalu, kenapa kau tidak mau pulang Haejin-ah? Selama ini kau bahkan Natalan di Perancis, tidak pernah mendengarkan kata Eomma kalau diminta pulang, bahkan ulangtahunmu juga disana…”

Haejin menoleh dan ada segurat senyum aneh disana. ”Ani… sayang saja kalau pulang…”

”Gotjimal! Kau tidak mau bertemu Donghae, kan?”

”Ya!” teriak Haejin galak. ”Jangan bicarakan dia lagi ah…” Haejin menggeleng-geleng, wajahnya keruh.

”Waeyo? Kau masih suka padanya?”

Haejin menggeleng dan tersenyum kecil. ”He’s just, my puppy love…

”Cinta monyet?!”

”Cinta pertama, cinta monyet…” sahut Haejin ringan dan bersandar di kursi. ”Aku mau tidur…”

”Katanya tidak lelah…”

”Sssttt! Oppa jangan berisik!”

Dua jam kemudian mobil Jonghyun tiba di depan rumah mereka, Haejin turun sambil merapikan rambutnya dan memandang rumahnya yang sudah enam tahun tidak dilihatnya itu. Haejin tersenyum, biar bagaimana pun, rasa kangen itu ada, Haejin masuk ke dalam dan membiarkan Jonghyun repot sendiri mengangkut koper-koper besar dan berat sendirian.

”Eomma! Appa!” teriaknya.

Lee Sungmin dan Cho Chihoon muncul, dan berteriak histeris, karena akhirnya putri bungsu mereka yang pergi keluar negeri selama enam tahun itu pulang ke rumah. Keduanya memeluk putri mereka dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Kedua orangtuanya juga kaget begitu Haejin memberitahu bahwa dia sudah punya double major, dibidang komposisi lagu, dan seni tari.

”Lalu kau tidak akan kuliah lagi kan?” tanya Jonghyun.

Haejin tertawa. ”Tidak, paling aku akan bekerja… Oppa sendiri bagaimana kau sudah lulus belum?”

”Ya! Kau ini…”

Mereka berempat tertawa, dan mengobrol hingga larut untuk melepaskan kerinduan mereka, ketika sudah benar-benar kantuk Haejin tidak bisa ditahan, dia naik ke dalam kamarnya, dan dibuka pintu kamarnya begitu pintu kamarnya terbuka hatinya terasa nyeri. Dipeluknya badannya untuk menahan sakit yang keluar, dan ditutupnya pintu kamarnya, dia bersandar di pintu.

”Ternyata salah aku kembali… sakit lagi…” Haejin meraba dadanya, dan duduk di bawah sambil bersandar di pintu. ”Ya Tuhaaan, hilangkan sakit ini… hilangkan sakit ini…” air matanya menetes.

Haejin memasukkan baju-bajunya kembali ke kopernya, dan tidak berniat sama sekali membuka gordennya. Sejujurnya, satu tahun pertama di Nantes, Perancis, Haejin selalu terbangun tengah malam dan menangis karena kangen pada keluarganya, dan tentu saja ingat pada Donghae. Tapi, selalu ditepisnya pikiran itu.

Itu pikiran bodoh! Jangan buang-buang waktu memikirkan pria yang bahkan tidak pernah mau memikirkanmu sekali saja…’

Kata-kata itulah yang menjadi penyemangat Haejin, tapi tidak dipungkiri, ada luka menganga di dalam hatinya. Haejin menghela napas sedih, setiap inci bagian kamarnya mengingatkannya pada seorang gadis bodoh yang dulu begitu memuja pria yang tinggal di sebelah rumahnya, dan hal itu membuat Haejin tidak tampak lebih baik. Haejin akhirnya tidak tahan, dia membuka gorden kamarnya dan memandang ke rumah di sebelahnya, yang begitu dia tiba tadi, tidak berani ditatapnya rumah itu.

Rumah itu kosong, dingin, gelap, lengang.

Apa yang terjadi?

Tok. Tok. Tok.

Haejin mendekati pintu dan membukanya, Jonghyun muncul. ”Halo, Aegi… besok kita harus bangun pagi-pagi.”

”Wae?”

”Eomma dan Appa mengajak kita pergi ke rumah teman lama Appa…”

Haejin mengernyit. ”Haruskah kita pergi?”

”Harus… Appa sudah mau pamer kau kepada mereka, he he he… jadi kau tidurlah, jendela kenapa dibuka?” tanya Jonghyun menunjuk jendela.

Haejin menoleh. ”Ah, ani… hanya mencari udara segar…”

”Ini bulan Desember, Haejin-ah…” Jonghyun geleng-geleng. ”Eh, tapi Perancis dingin ya? Kulitmu sudah badak kalau begitu…”

Haejin tersenyum.

”Kau tidak penasaran dimana Donghae dan keluarganya kah?”

Haejin nampak terkejut, dan langsung memeluk badannya sendiri, mendadak wajahnya seperti merana dan merasakan nyeri. Jonghyun bisa merasakan perubahan bahasa tubuh adiknya itu.

”Memang mereka kemana?” tanya Haejin pelan.

”Seminggu setelah kau pergi…” kata Jonghyun pelan. ”Donghae masuk rumah sakit, dehidrasi… kau tahu kenapa? Dia tidak mau makan, hanya mau minum… setelah sembuh, dia minta pindah ke kampung halaman ayahnya. Sejak itu aku tidak pernah melihat keluarga Lee satu lagi itu…”

”Dehidrasi?” tanya Haejin pelan. ”Kenapa bisa dehidrasi? Dan tidak mau makan?”

”Kurasa suatu saat kau akan tahu sendiri…” Jonghyun menepuk bahu adiknya dan keluar dari kamar. ”Jaljayo aegi…” dan ditutupnya pintu kamar adiknya tersebut. Haejin diam saja.

Keesokan harinya mereka berada dalam satu mobil menuju rumah teman lama Appa mereka. Appa menyetir, disebelahnya duduk Eomma, dan di belakang Haejin dan Jonghyun. Perjalanan cukup jauh, dan Haejin bisa merasakan wangi-wangi pantai karena dia membuka kaca jendelanya.

”Wah sudah sampai pantai… Appa, apa masih jauh?” tanya Haejin penasaran.

”Ya sekitar satu jam lagi lah…”

Haejin mengangguk, ”Memang rumah siapa sih? Jauh sekali…”

”Ada, rumah teman Appa… kau kenal kok dengannya, tapi entah ya kalau kau sudah… erhm… lupa…”

Haejin mengangguk, ”Nama daerahnya apa, Appa?”

”Mokpo, Sayang…”

Haejin mengangguk. ”Oh, Mokpo…”

Akhirnya mobil mereka masuk ke kawasan perumahan-perumahan kecil nan asri di pinggir pantai. Tapi jalanan itu terus berkelok sehingga masuk ke dalam jalan setapak pasir pantai dan hanya terdapat satu rumah di ujungnya, rumah itu luas, asri, sederhana, tapi nampak elegan.

”Kita sampai…” kata Sungmin sambil melepaskan sabuk pengamannya. ”Ayo, Yeobo…”

Chihoon juga melepaskan sabuk pengamannya dan keduanya turun dari dalam mobil, Jonghyun mengikuti, dan Haejin juga mengikuti turun dari dalam mobil dan menutup pintu mobilnya.

”Ini rumah siapa?” bisik Haejin pada kakaknya.

Jonghyun tersenyum. ”Kau akan tau nanti kalau orangnya buka pintu, Haejin-ah…”

”Aish!” decak Haejin.

Sungmin menekan bel pintu dan tak lama kemudian suara pintu dibuka, Haejin merapikan poni bonekanya, karena rambutnya hari ini dikuncir kuda.

”Sungmin-ah, aigooo… kenapa tidak bilang mau datang?!” seru suara cempreng yang sepertinya dikenal baik oleh Haejin.

Haejin menoleh, dan matanya nyaris mau keluar saking kaget dan melototnya. Lee Hyukjae Ahjussi?! Haejin mau kabur, tapi tangan Jonghyun menahannya. ”Mau kemana kau?” tanyanya dengan seringai.

”Oppa kenapa tidak bilang?!” desis Haejin.

”Mau sampai kapan kau menghindari Donghae, Haejin-ah?”

”Sampai mati!” seru Haejin tegas, ketakutan. ”Oppa, jebaaaal… aku tidak mau bertemu dengannya lagi…” Haejin mau menangis, dan memeluk badannya sendiri, dia berguncang ketakutan, merasakan lubang menganga di dalam hatinya.

Jonghyun memandang adiknya prihatin. ”Sebetulnya kau masih terluka, kan?” tanya Jonghyun. ”Minta pertanggung jawaban Donghae sana! Dan Donghae juga sebaiknya minta pertanggung jawaban darimu, karena keadaan dia tak jauh berbeda darimu!”

”Apanya?!”

”Sudahlah…” Jonghyun menyeret adiknya.

Hyukjae langsung melihat Haejin yang terlihat ketakutan, tapi Haejin langsung mengontrol sikapnya begitu berhadapan dengan Hyukjae. Haejin membungkuk. ”Annyeonghaseyo, Ahjussi…”

”Haejin-ah, formal sekali…” sapa Hyukjae ramah, lalu memeluk Haejin. ”Aigooo, lama tak jumpa, bagaimana kabarmu?”

”Baik, Ahjussi…” jawab Haejin sambil membungkuk dan tersenyum kecil, agak susah sebetulnya untuk Haejin tersenyum, karena dadanya berdebar terus, ketakutan, gugup, bercampur jadi satu.

Setelah bertukar sapa dengan Jonghyun, mereka bertiga masuk ke dalam rumah, tak jauh berbeda dari Hyukjae, Jiyoo juga sangat menyambut Haejin dengan baik. Sementara Haejin malah ketakutan sendirian, dan tidak melepaskan gandengannya dari Jonghyun.

Walhasil, wajah Haejin pucat, dan keringat dingin mengucur dari dahinya, sememntara tangannya juga menjadi dingin. Jonghyun merasakan adiknya sangat ketakutan. Sementara kedua orangtua mereka dan Hyukjae dan Jiyoo saling ngobrol santai di ruang tengah, Jonghyun dan Haejin duduk di ruang tamu. Haejin luar biasa diam.

”Kenapa sih?” tanya Jonghyun heran.

”Ani…” sahut Haejin seadanya.

Jonghyun membelai kepala adiknya pelan, dan tersenyum. ”Kau tidak mau tahu dimana Donghae, kah?”

”Ani…” Haejin menjawab cepat dan menggeleng.

”Ya ampun! Usiamu sudah sembilan belas tahun, tapi bagaimana mungkin keras kepalamu masih dipiara sih?!” tanya Jonghyun gemas.

Haejin diam saja. Dan menghela napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan diri, dan keringatnya masih terus bercucuran, tangannya juga terus dingin. Jiyoo Ahjumma datang dan membawakan nampan berisi teko teh dengan dua cangkir, beserta kue di dalamnya.

”Ini diminum…”

”Gomawo, Ahjumma…” sahut Jonghyun sambil tersenyum.

Haejin tersenyum. ”Gomawo, Jumma…”

Jonghyun dan Jiyoo memerhatikan Haejin yang menangkat cangkirnya dan meminumnya banyak-banyak, Jonghyun tersenyum penuh arti kepada Jiyoo Ahjumma, dan tak lama kemudian Haejin sudah kehilangan kesadarannya.

”Kalau kau tidak dibikin pingsan, kau akan menolak…” kikik Jonghyun.

Jiyoo tertawa. ”Oke, bawa masuk ke kamarnya sekarang!”

Jonghyun menggendong tubuh Haejin yang lemas ke dalam diiringi cengiran lebar dari kedua orangtuanya, beserta Hyukjae. Jiyoo membawa Jonghyun yang menggendong Haejin ke depan sebuah kamar dan membaringkan adiknya itu di atas kasur, Jiyoo menyelimutinya.

”Gomawo, Jonghyun-ah…” ucap Jiyoo.

”Gwenchana, Ahjumma… kalau ini satu-satunya cara untuk membuat mereka berdua bisa menyelesaikan masalah mereka.”

Jonghyun dan Jiyoo meninggalkan Haejin yang tertidur.

 

*Malamnya*

”Aku pulang…” Donghae membuka pintu rumahnya, dan meletakkan mantelnya di gantungan.

”Oh, sudah pulang…” kedua orangtuanya menyambutnya.

Donghae mengangguk, wajahnya tanpa senyum. Donghae memang sudah lupa bagaimana cara tersenyum, dia senyum hanya sesekali, itu pun senyumnya dingin. Kedua orangtuanya begitu khawatir kepadanya. Tak ada lagi Donghae yang ceria, yang suka bermain sepakbola, yang suka tertawa, dan ceria. Enam tahun yang lalu, pribadi Donghae berubah menjadi pemurung, pendiam, dan penyendiri. Donghae lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar cetak fotonya, dan mencetak foto-foto lama, memandangi foto-foto Haejin yang ada di ponselnya, dicetaknya, dan dipandanginya penuh rasa bersalah.

Dan sekarang, waktunya kesalahpahaman enam tahun lalu tersebut diselesaikan! Harus!

”Sudah makan, Donghae-ya?” tanya Ibunya lembut.

Donghae mengangguk. ”Aku capek… tidur dulu ya…” Donghae langsung beranjak menuju kamarnya, sementara kedua orangtuanya saling pandang menanti reaksi Donghae begitu melihat ada seorang gadis yang tertidur di ranjangnya.

Donghae membuka pintu kamarnya, kamarnya masih gelap, dan dia mencari saklar lampu dengan tangan kirinya, kemudian menutup pintu, dan berbalik menatap tempat tidur, matanya nyaris keluar melihat ada yang berbaring disana. ”Eomma!” teriak Donghae.

Jiyoo dan Hyukjae saling pandang.

”Kau saja yang jelaskan…” kata Hyukjae.

”Kau saja… aku takut…” cicit Jiyoo.

”EOMMA!” teriak Donghae masih dalam kamar.

”Yeobo!” teriak Jiyoo.

Hyukjae mengangguk pasrah dan berjalan ke dalam kamar Donghae, ”Ada apa? Kau jangan berisik! Kau tidak lihat Haejin sedang tidur?” tunjuk Hyukjae.

”Ige mwoya?!” tanya Donghae histeris.

”Sssttt!” Hyukjae menekap mulut putranya. ”Jangan berisik! Ige mwoya? Gak sopan kamu, ini siapa gitu, jangan ini apa! Haejin kan manusia… itu Haejin, masa kau lupa sih sama dia? Emang dia berubah banget ya?”

Donghae terpana memandang kasurnya. ”Haejin?” tanyanya pelan.

”Ne, dia baru kembali dari Perancis kemarin, dan tadi bersama Sungmin, Chihoon, dan Jonghyun datang kesini… tapi karena Haejin sepertinya sakit, jadilah dia ditinggal disini.” Jelas Hyukjae.

Donghae masih bengong di tempat.

”Donghae-ya, kau jaga Haejin dulu ya, mudah-mudahan sih sebentar lagi dia bangun… dia belum makan…” kata Hyukjae. ”Appa ada panggilan dari rumah sakit Mokpo, Eomma juga mau menemani Appa…”

”Appa!” desis Donghae panik.

”Bye…” Hyukjae langsung kabur ke belakang, dan membawa kabur Jiyoo keluar dari rumah.

Donghae linglung entah mau berbuat apa, dia mondar-mandir tapi tidak berani mendekat ke kasur. ”Appa, Eomma… jinja!” desisnya panik, tapi kemudian dia terdiam. Seperti flashback kejadian enam tahun lalu.

Haejin demam, kedua orangtuanya tidak dirumah, kedua orangtua Haejin tidak di rumah, begitu juga Jonghyun. Donghae perlahan mendekat ke tempat tidur, dan baru berani menatap wajah Haejin. Sinar bulan yang masuk melalui jendela, menerangi wajah Haejin. Donghae merasa sesak, tidak ada yang berubah disana. Wajahnya masih sama, ada gurat-gurat yang menunjukkan gadis ini adalah gadis keras kepala.

Bogoshipo…” bisik Donghae pelan, tapi Donghae memilih keluar dari kamarnya dan ke ruang tamu.

Setengah jam kemudian Haejin akhirnya terbangun, dia menguap lebar-lebar, dan melemaskan badannya ke kanan dan ke kiri, kemudian memorinya perlahan-lahan berkumpul jadi satu, dan ia buru-buru duduk dengan terkejut. Haejin menoleh ke kanan dan kekirinya, mengamati kamar yang ditempatinya.

”Ini dimana?!” tanyanya panik.

Haejin melirik jam dinding di dalam kamar tersebut, jam menunjukkan pukul sepuluh malam, mata Haejin melotot. ”Apa yang terjadi?!” paniknya. Lalu dia berdiri dan memandang berkeliling, dan melihat sebuah pintu terbuka, Haejin langsung menghampiri pintu yang terbuka itu, karena mengira itu adalah pintu keluar, tapi Haejin salah.

Itu ruang cuci foto hitam-putih, Haejin memicingkan matanya memandang sekeliling ruangan tersebut, melihat alat-alat cuci foto tersebut dan keheranan. ”Ini dimana sih?” tanya Haejin bingung. Tapi kemudian dia memutuskan untuk keluar dari situ dan mencari pintu keluar kamar yang benar, tapi begitu dia berbalik, dia tercengang. Satu dinding berderet foto-foto yang dirangkai berbentuk hati besar di dinding. *Heart poster yang dibikin Kyuhyun di MV No Other* ”Yeppeo…” puji Haejin sambil mendekati poster besar tersebut, tapi dia tercengang.

Lengkungan hati bagian atas, adalah foto yang dikenalinya, itu adalah foto bayinya. Haejin mengenali foto tersebut, karena ada kedua orangtuanya, ada Hyukjae Ahjussi dan Jiyoo Ahjumma, ada Jonghyun Oppa, dan ada dia… Lee Donghae, yang sedang mengelus pipi kecil Haejin. Kemudian disebelahnya ada foto bayi dalam bungkusan selimut itu digendong oleh Donghae dan Jonghyun. Di sebelah foto itu lagi, Jonghyun dan Donghae mengecup masing-masing pipi bayi kecil itu.

Foto berikutnya adalah foto Haejin berusia satu tahun yang merangkak di atas kasur, dan Donghae yang menemaninya. Kemudian disebelahnya lagi foto Donghae yang sedang menggendong Haejin yang berusia satu tahun di sebuah ayunan. Haejin mengamati foto-foto selanjutnya dari atas ke bawah.

Itu foto pertumbuhannya. Bersama Donghae, kebanyakan, meski terkadang bersama Jonghyun juga, Haejin melihat bagaimana dia tumbuh bersama Donghae. Apalagi di foto baris terakhir.

Fotonya lulus SMP, diapit Donghae dan Jonghyun, keduanya mencubit pipi tembam Haejin, masing-masing pipi. Dan foto paling bawah, adalah foto Donghae dan Haejin berdua saat di motor ketika hari pertama berangkat ke sekolah SMA. Donghae yang mengambil gambarnya, dan Haejin mengalungkan lengannya ke tubuh Donghae dari belakang.

Tapi yang membuat Haejin kaget adalah satu foto yang terpisah, foto itu dibingkai dan foto itu Haejin yakin, Donghae tidak memilikinya. Foto Haejin ketika membuat koreografi Oh!

Haejin buru-buru keluar dari dalam ruangan itu, dan menemukan pintu keluar, Haejin membukanya dan terkejut melihat sosok yang tertidur di sofa ruang tamu tersebut.

Pria yang berusaha dihindarinya selama enam tahun ini.

Jadi ini masih ada di Mokpo, dan kenapa dia bisa tidur begitu lama disini, dan kemana semua orang? Panik Haejin.

Haejin menghela napas dalam-dalam, ”Ini pasti kerjaan Eomma, Appa, Ahjussi, Ahjumma, dan Jonghyun Oppa!” pikirnya, dan melirik Donghae yang tertidur. Masih tampan saja…” keluhnya. Haejin menggeleng-geleng, dan menepuk-nepuk wajahnya sendiri.

Haejin beranjak ke pintu dan memutuskan bagaimanapun dia mau pulang malam ini juga! Tapi sepasang lengan kokoh merengkuh tubuhnya dari belakang.

”Jangan pergi lagi!”

Haejin gemetaran dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sampai dia merasa basah di bahunya, Donghae menangis.

”Jebal, jangan pergi lagi…” bisik Donghae tanpa mengisak, Haejin tahu pria di belakangnya menangis.

”Oppa…” bisik Haejin akhirnya buka suara.

Donghae terus memeluk erat Haejin dari belakang, tangan Haejin yang terulur ke gagang pintu turun ke bawah.

Ini ketakutan terbesarku, jika sudah berhadapan dengan Lee Donghae, aku menjadi makhluk paling lemah, dan tidak mampu melawan semua kata-kata yang diucapkannya, karena rasa cintaku padanya, melebihi rasa cintaku pada diri sendiri.

”Ahjumma dan Ahjussi…”

”Mereka pergi, sengaja meninggalkan kita…” kata Donghae sambil membalik tubuh Haejin.

Haejin menghadap Donghae, dan menunduk dalam-dalam.

”Aku… mau pulang…” kata Haejin pelan.

”Ini Mokpo, Haejin-ah… sudah tidak ada bus jam segini…”

Haejin diam masih terus menunduk.

Donghae masih terus memandang Haejin lekat-lekat, sementara Haejin masih terus menunduk. ”Mianhae, Haejin-ah… jeongmal mianhae…”

”Mianhae mwo?” Haejin mendongak pada akhirnya. Mata polosnya enam tahun lalu masih sama menatap Donghae seperti sekarang.

Donghae menatap Haejin lekat-lekat lagi, dengan kedua tangan di bahu Haejin. ”Mianhae, karena kebodohanku enam tahun yang lalu… semua kesalahanku…”

”Oppa tidak salah apa-apa…” Haejin berusaha mengelak.

”Ani, aku sudah menonton video itu!” Donghae mengencangkan pegangannya di bahu Haejin. ”Aku sudah tahu semuanya!”

Haejin kali ini yang nyaris menangis, lubang menganga di hatinya perih sekali sepertinya. ”Itu sudah enam tahun lalu Oppa! Itu cinta monyetku! Aku sudah pergi, aku sudah berubah!” histeris Haejin.

”Andwe!” teriak Donghae.

”Aku sudah pergi untuk melupakanmu, Oppa… jadi kumohon jangan katakan apa-apa lagi tentang hal itu! Jangan ingatkan aku tentang itu!” Haejin menutup telinganya. ”Aku cuma gadis bodoh waktu itu Oppa!”

Donghae merasa hatinya seperti diiris, beginikah? Inikah akibat yang dia perbuat enam tahun lalu?

”Kau tidak bodoh, Haejin-ah, aku yang bodoh…” kata Donghae lirih, tapi gadis di depannya malah terisak-isak dan memeluk dirinya sendiri. ”Haejin-ah, dengarkan aku…”

Haejin menggeleng dan menutup kupingnya. Masih menangis.

”Jebal, dengarkan aku…”

”Aniyo!”

”Dengarkan aku!” tegas Donghae sambil mengguncang Haejin. ”Haejin-ah, kau mungkin pergi enam tahun lalu melupakanku, dan mungkin kau memang sakit hati, semua karena kebodohanku! Tapi apa kau tahu rasanya jadi aku?! Aku tahu ketika Ririn menyalakan videomu di pertandingan, aku ingin meninju wajahku sendiri, baru tahu kalau kau cinta padaku! Padahal… aku, juga cinta padamu…” isak Donghae.

Tubuh Haejin yang berguncang meminta dilepaskan tiba-tiba berhenti mendengar kata-kata Donghae barusan. Haejin berlinang air mata mendongak, Donghae masih menangis juga.

”Mwo?” tanya Haejin dengan pandangan kosong.

”Johahae, Haejin-ah… saranghae…” isak Donghae. ”Tapi aku terlalu bodoh untuk menganggap serius perasaanku dulu…” Donghae mengusap matanya. ”Aku yang bodoh! Bahkan tidak menyadari maksudmu saat itu…” isak Donghae lagi. ”Bayangkan bagaimana aku hidup, Haejin-ah, begitu tahu ternyata kau memiliki perasaan yang sama denganku tapi kau terlanjur sakit hati karena aku… kau pergi dan tidak mau memberitahu kau dimana…”

Haejin shock, masih lemas mendengar penuturan Donghae, wajahnya langsung kosong.

”Dulu… kau pernah menaruh tanganku dihatimu,” kata Donghae meraih tangan Haejin. ”Sekarang…” diletakkannya tangan Haejin di dadanya. ”Disitu ada hatiku, Haejin-ah…”

Haejin menangis tersedu-sedu, dan meraih tangan Donghae, diletakkannya juga di dadanya. ”Disini juga masih ada hatiku, Oppa…” jawab Haejin.

Donghae langsung meraih Haejin dalam pelukannya, dan Haejin balas memeluknya dan tersedu-sedu.

”Mianhae… mianhae… aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh lagi seperti dulu, aku janji!”

Haejin mengangguk-angguk.

”Aku tidak akan pernah melepasmu lagi, aku akan memenuhi janjiku sembilanbelas tahun yang lalu…”

Haejin melepas pelukannya. ”Sembilan belas tahun yang lalu? Aku baru lahir doooong…”

”Ne…” Donghae mengedipkan matanya.

”Apa?”

”Ada deh…” Donghae mengecup pipi Haejin. ”Janjiku begitu kau lahir ke dunia…”

~The End~

Author sableng datang! #digebuk, hehehe makasih banyak ya readers sayang… yang udah setia baca Oh! dari part 1, sampe Afterstorynya… Nisya juga minta maaf karena udah bohong, hehehehe… karena banyak alasan, hehehe… yang jelas bener-bener berterima kasih atas sambutan readers untuk Oh!

Sampai ketemu di FF nisya berikutnya yaaaaa🙂 dan feel free to chat with me :

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

13 thoughts on “Oh! ~Afterstory~

  1. mian br comment disini
    baca kilat soalnya hehe
    aaaah~ daebak!!
    jd terharu bacanya
    tp after story-nya nanggung nih
    hrsnya sampe married
    kkkk~ *reader tkg ngatur*

  2. mianhae…
    baru coment pas udah selesai…
    kereeeeeeennnn banget
    rasanya benar” larut dalam cerita ini chingu…
    g tau harus berkata apa lagi. Pokoknya bagus banget ceritanya…
    Spechless >,,<
    100 jempol untuk authornya.. ^_^

  3. aaaa kangen cerita ini. ini cerita yang bikin aku suka jinhae dan ternyta udh jadi reader jinhae 1th lebih. si donge sma haejin nya masih lucuuu gak agresif. tapi lebih agresif juga gpp sih.__.

  4. nggak apa2 lah lemot bertahun2, sadarnya telaaat banget yang penting happy end😀
    lemot tapi ingatannya OK banget ckckckc
    baru lahir udah di lamar, pisah 6 tahun baru ketemu mau langsung nikah
    klo urusan nikah gitu donghae cepet ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s