Murder Admirer ~Part 6~ (Ending)

*Dorm Super Junior*

Hankyung bersiap-siap untuk memasak nasi goreng. Satu-satunya masakan yang bisa dia buat. Setelah memakai celemek, dan mengiris serta memotong bahan-bahan yang sudah dipersiapkan olehnya sendiri.

Shindong duduk di balkon apartemen, menikmati semilir angin. Yesung masih membaca buku, Kyuhyun duduk di sebelahnya sambil menggonta-ganti saluran televisi.

Baru saja Kyuhyun meletakkan ponselnya untuk menonton pertandingan tennis antara Rafael Nadal melawan Roger Federer, ketika terdengar ledakan mahadahsyat dari dapur.

”Hankyung Hyung!” teriak Kyuhyun panik sambil berbalik dan berlari ke arah dapur.

Yesung dan Shindong ikut berlari ke belakang, dan melihat bahwa kompor sudah dalam keadaan porak poranda. Namun, yang mengherankan hanyalah bagian kompor yang meledak, serta tubuh Hankyung yang sudah terkapar, dengan darah berlumuran. Kyuhyun menjerit, Shindong dan Yesung jatuh berlutut.

Hankyung meninggal tepat di hadapan mereka sendiri.

 

*Di Jepang*

Ponsel dan segala macam alat elektronik milik Donghae sudah tidak dapat menerima sinyal dalam bentuk apa pun. Donghae menghirup napas dalam-dalam, udara sejuk pegunungan sudah menyambutnya.

Menurut petunjuk yang diberikan oleh Bibi Kim, memang ke arah inilah pemukiman Klan Ninja Kinomoto berada. Entah benar, entah tidak, Donghae hanya ingin mencoba apa saja untuk menemukan kebenaran, dan sebagian kecil hatinya mau mengakui hal tersebut.

Keberadaan Hiromi. Ninja wanita yang pemberani, dan tidak pernah muncul lagi, padahal Hiromi pernah berjanji bahwa kapan pun dan dimana pun Donghae memanggilnya, dia akan siap.

”Super Junior lebih diutamakan, Hae!” Donghae mengingatkan dirinya sendiri, lalu mulai mendaki jalan setapak yang curam dan licin tersebut. Tak ada siapa pun yang ditemui Donghae di jalanan ini, hanya ada pepohonan yang lebat dan berwarna hijau, serta semilir angin.

Kemudian Donghae bisa mendengar suara kelebat-kelebatan kesana-kesini membuat kupingnya pengang. Donghae menghentikan langkahnya, tepat ketika sesosok Ninja mendarat dengan posisi yang biasa Hiromi lakukan, tepat di hadapannya. Donghae terlonjak, dan mundur ke belakang.

Ninja dengan pakaian putih tersebut kemudian berdiri, dan menatap Donghae melalui matanya, bagian wajah satu-satunya yang terlihat dari seluruh wajahnya yang ditutup kain.

”Kau Lee Donghae?” tanya pria itu dengan bahasa Korea.

Donghae tergagap dan mengangguk. ”Ne…”

”Kau mencari Haejin?”

”Ne… ah, aniyo! Aku sebetulnya mencari Kim Soohwa, suami dari Kim Inha…” jawab Donghae gugup. ”Dan juga…”

”Dan juga kau mencari Hiromi.” Ujarnya.

Donghae menunduk, kemudian mendongak. ”Dia…”

”Dia ada di rumah…” sahut pria itu dingin. ”Tapi kuharap kau tak usah bertemu dengannya.”

”Wae?” tanya Donghae langsung.

”Demi kebaikan kalian berdua…” sahut pria itu.

Donghae tergagap hendak menjawab, tapi pria itu sudah memotongnya. ”Sekarang yang kau cari adalah Kim Soohwa, kan? Dia sedang masa pertapaan, tapi aku tahu apa maumu… dan apa tujuanmu.”

”Jadi…”

”Aku bisa membantumu, tapi dengan satu syarat…”

”Apa?”

”Lepaskan Hiromi.”

Donghae menatap pria tersebut tidak mengerti. ”Apa maksudmu? Lepaskan Hiromi? Aku kan tidak menangkapnya…”

”Kau tidak mengerti yang dimaksud melepaskan? Bukankah Hiromi sudah menjelaskan kepadamu… dia akan seumur hidup bersamamu… sekarang lepaskan dia!”

”Bagaimana caranya?”

”Hatimu yang harus melepaskannya…”

Donghae tertegun, kemudian mendongak menatap pria ninja itu langsung dimata-nya. ”Bagaimana kalau aku tidak bisa?”

”Kurasa kau lebih tahu…” sahutnya kemudian dia meloncat, dan menghilang.

Donghae mengernyit, ”Apa maksudnya?!” lalu dia terus melangkah naik lagi ke atas. Ketika di dengarnya bunyi gemerisik lagi, Donghae menyiapkan diri kalau tiba-tiba ada ninja lagi yang muncul.

Tapi kemudian betapa kagetnya dia, bahwa dari pohon yang jaraknya hanya setengah meter darinya itu turun dengan mulus Hiromi. Dengan pakaian ninja berwarna putih, tanpa penutup kepala.

”Hiromi!” pekik Donghae.

”Aaah…” Hiromi mengerang kesakitan memegang tangannya yang kemudian dilihat Donghae berdarah-darah.

Donghae berlari menghampirinya. ”Gwenchana?”

”Gwenchana…” sahutnya lirih.

”Kau darimana saja?!” tanya Donghae kalut. ”Kenapa kau ada di Jepang? Kenapa kau meninggalkanku?!”

”Aaaah!” teriak Hiromi pedih, karena luka-luka torehan itu muncul sendiri di bagian tangannya, dan darah yang merembes semakin banyak.

Donghae semakin ketakutan. ”Hiromi-ya, waekeurae? Apa yang terjadi padamu? Kenapa?” Donghae meraih tangan Hiromi.

”Aku harus melakukannya! Ini konsekuensi karena tidak menjawab panggilan tuanku sendiri…”

”Maksudmu? Jadi selama aku memanggilmu…”

”Aku terluka…”

Donghae menatap wajah Hiromi yang berkaca-kaca, matanya ikut berkaca-kaca. ”Mianhae…”

”Gwenchana… aku yang seharusnya minta maaf.” Sahut Hiromi kemudian dia menatap wajah Donghae.

”Tapi…”

”Jangan bahas masalah ini dulu! Kita bahas masalah lain…” Hiromi menggeleng kuat, wajahnya khawatir. ”Aku akan mendampingimu, kau ingin tahu kan siapa dalang semua ini?”

Donghae mengangguk.

”Kita kembali ke Korea…”

”Kau yakin?”

”Ya, aku yakin…”

Donghae kemudian mengangguk. Hiromi kemudian menghela napas dalam-dalam, dan meloncat, sesaat sebelum Donghae hendak memanggilnya, Hiromi sudah kembali dengan pakaian hitamnya yang biasa. Kemudian dia berjalan mendahului Donghae menuruni lereng gunung.

*@ Korean Air*

”Kalau begitu maksudmu, Tuan Siwon dan Tuan Ryeowook…”

Donghae mengangguk.

”Mianhaeyo…” kata Hiromi menyesal. ”Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti itu… saat aku pergi.”

”Apakah aku tak boleh bertanya kenapa?”

Hiromi menatap lurus ke depan, tidak lagi menatap wajah Donghae. ”Ada alasannya, dan kurasa itu yang terbaik.”

”Lalu bagaimana kau tahu aku datang?”

”Aku selalu tahu kalau kau mencariku… bahkan jika dari dalam hatimu…” sahut Hiromi berusaha tenang.

”Lalu kalau kau tahu…”

”Aku takkan menjawabnya!” sahut Hiromi tegas. ”Yang jelas ada alasannya, dan itu tidak penting untuk diungkapkan sekarang…”

Donghae terdiam, kemudian menatap lurus ke depan. Hiromi juga masih menatap ke depan, keduanya sama-sama menggigit bibir, menahan emosi, dan menahan air mata yang mau keluar.

Mereka tiba di Korea beberapa jam kemudian, setelah turun di bandara, mereka langsung naik taksi dan menuju ke Apartemen Sheraton, dalam perjalanan keduanya sama-sama masih saling diam tanpa bertukar kata-kata sama sekali. Tapi, begitu sudah sampai di apartemen, dan melihat begitu banyak polisi, perasaan keduanya langsung tidak enak.

”Apa lagi yang terjadi sekarang?” tanya Donghae kalut.

”Kau turunlah, lihat… biar taksinya kubayar…” kata Hiromi.

Donghae langsung turun dan berlari menuju kerumunan, sementara Hiromi membayar taksi, Hiromi dengan kecepatan angin sudah menyusul di belakang Donghae kemudian.

*Dorm Super Junior*

Tangis tak henti-hentinya mewarnai hari-hari di dorm menyusul kepergian Sungmin, Kangin, dan Hankyung untuk selama-lamanya menyusul Kibum, Eunhyuk, Heechul, Leeteuk, Siwon, dan Ryeowook.

Shindong, Kyuhyun, Yesung, dan Donghae. Hanya tinggal 4 member Super Junior, yang masih hidup, dan lolos dari lubang maut. Kematian Hankyung diketahui publik sebagai pembunuhan, karena ternyata ada pemicu ledak ketika Hankyung memasak kemarin.

Kalau kematian Sungmin dan Kangin memang sudah benar-benar dan jelas pembunuhan, dan sampai sekarang, polisi pun masih buta arah, tidak mengetahui apa pun.

Donghae dan Hiromi duduk bersama di dalam kamar Donghae, Donghae duduk di kasurnya, sementara Hiromi di kasur sebrangnya. Larut dalam pikiran masing-masing, memikirkan langkah apa selanjutnya yang dapat mereka ambil.

”Tunggu dulu!” kata Donghae tiba-tiba.

Hiromi menoleh.

”Aku masih belum tahu siapa Ninja Tomizawa yang juga menyukai Bibi Kim!” pekik Donghae.

”Ninja Tomizawa?!” tanya Hiromi.

”Ne…” lalu Donghae menjelaskan kisah Kim Jaejin hingga menuju pencariannya ke Jepang yang berujung pada kisah cinta Bibi Kim.

Hiromi menunduk sedih.

”Waeyo?” tanya Donghae melihat Hiromi menunduk.

”Aniya!” Hiromi mendongak lagi setelah menghela napas dalam-dalam. ”Kalau begitu maksudmu Kim Soohwa itu… ne, aku kenal beliau…”

”Lalu apakah kau tahu siapa keturunan Tomizawa yang memperebutkan Bibi Kim?” tanya Donghae.

”Molla…” Hiromi menggeleng-geleng. ”Tapi seharusnya sekarang sudah mudah di lacak…”

”Mudah dilacak bagaimana?”

”Dia pastinya orang dekat Bibi Kim itu, kan?”

Donghae mengangguk.

”Apa menurutmu tidak ada yang kelihatan menyukai Bibi Kim itu, selama beliau bekerja denganmu?” tanya Hiromi.

Donghae mengernyit. ”Mana aku perhatikan?!”

”Ne… benar juga…” Hiromi mengangguk. ”Tapi aku merasa pelakunya adalah orang dekat kalian, dan orang dekat Bibi Kim juga.”

”Ne, menurut pikiranku orang yang membunuh Jaejin, sama dengan orang yang membunuh Hyungdeul, dan dongseng-dongseng…” kata Donghae sedih.

 

*Kamar Kyuhyun*

Kalau aku mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku, dan pikiranku itu benar… barangkali aku yang berikutnya dibunuh, sebelum sempat memberitahukan petunjuk yang aku tahu kepada Hyungdeul. Bagaimana cara aku memberitahukan kepada mereka sebelum aku dibunuh? Karena aku pasti dibunuh!

Pikiran Kyuhyun kacau! Bukan karena takut, Kyuhyun sudah siap! Kalau memang ini jalannya, tapi dia sudah punya titik terang siapa pelakunya! Tinggal bagaimana memberitahu kepada yang lain bahwa dialah pelaku sebenarnya.

Pintu kamarnya diketuk.

”Kyunnie… keluar dong! Jangan di kamar terus…” ujar Yesung sedih. ”Aku tahu kau terpukul, kita semua sama. Tapi kau harus makan juga, Kyunnie…”

”Ne, Hyung…” sahut Kyu.

Yesung menghela napas, dan melangkah menjauh dari kamar Kyuhyun. Sementara Kyuhyun sendiri masih berpikir, ”Hidup atau mati, aku harus memberitahu yang lainnya tentang hal ini. Ah Donghae Hyung!” Kyuhyun keluar buru-buru dari dalam kamar dan menggedor pintu Donghae.

Donghae yang kaget kemudian membukanya, ”Ada apa?!” tanya Donghae panik. Kyuhyun menarik Donghae masuk ke dalam kamarnya, Hiromi sampai ikut-ikutan berdiri karena kaget.

”Ada apa, Tuan Kyuhyun?” tanya Hiromi.

”Sepertinya aku tahu sesuatu…” ujar Kyuhyun berbisik. ”Tapi, aku harus cepat, karena aku yakin, setelah mengatakan ini, aku yang akan diincar berikutnya!”

Donghae menoleh pada Hiromi. ”Kau berjaga, ya?”

”Arasseo!” Hiromi berdiri, dan langsung mengibaskan kedua tangannya, yang langsung memunculkan banyak shuriken.

Donghae menatap Kyuhyun. ”Apa yang kau tahu?!”

”Hyung… orang yang mengincar kita, sebetulnya adalah orang dalam SM Entertainment sendiri!” kata Kyuhyun menatap Donghae. ”Dia adalah orang yang datang, dan kemudian Bibi Kim pergi…”

Perlahan Donghae berpikir. ”Waktu dia datang, Bibi Kim pergi?”

Kyuhyun mengangguk. ”Sekarang Hyung pikirkan, orang yang datang kepada kita, kemudian Bibi Kim berhenti menjadi pengurus rumah tangga kita, enam bulan yang lalu‼!”

Memori Donghae mundur ke enam bulan yang lalu, orang yang datang, kemudian Bibi Kim pergi? Mudah sekali jawabannya…

”Dia?!” pekik Donghae.

”Aku belum tahu, tapi aku yakin dia orangnya, Hyung!” kata Kyuhyun. ”Tapi motifnya apa ketika membunuh kita, aku belum tahu. Yang jelas kalau aku mencurigai dia pelakunya!”

”Manajer Kim?”

”Ne!”

Hiromi dan Donghae saling pandang, kemudian keduanya menatap Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk. ”Aku tidak tahu aku akan bertahan hidup berapa lama, Hyung… Hiromi… tapi, coba kalian cari! Karena aku yakin dia akan segera tahu kalau aku mengetahui hal ini…”

Donghae berbalik menatap Hiromi, ”Jaga Kyuhyun untukku…”

”He?!”

”Jaga Kyuhyun! Aku akan berusaha mencari tahu masalah ini…”

”Terlalu berbahaya!”

”Sudah! Kita tidak boleh berpencar lagi sekarang…” saran Hiromi dengan sekali sentak seluruh shurikennya hilang lagi. ”Donghae-ya, kau, Tuan Kyuhyun, dan Tuan Shindong dan Tuan Yesung… sekarang kita harus berkumpul bersama, dan jangan ada yang terpisah! Karena kemungkinan terburuk adalah dia akan menghabisi kalian semua setelah kalian tahu…”

”Ne, ayo…” Donghae menggandeng tangan Kyuhyun, sementara Hiromi mengikuti mereka dari belakang ke ruang tengah.

Donghae memanggil Shindong dan Yesung yang juga langsung berkumpul di ruang tengah, Kyuhyun kemudian menjelaskan tentang apa yang dia dapatkan dari berpikir, tapi setelah mendengar penjelasan Kyuhyun. Shindong dan Yesung akhirnya mau tak mau ikut berpikir.

”Jadi, kalau misalkan memang Manajer Kim pelakunya… kita tinggal cari apa motifnya…”

”Kenapa jadi Super Junior juga diserang?”

”Iya tinggal itu yang kita harus cari… tapi kalau begitu, bagaimana kita menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara?!” tanya Yesung.

Donghae menggeleng. ”Kalau dia memang Ninja, mana mungkin bisa menjebloskannya ke dalam penjara? Dia bisa dengan mudahnya kabur, Hyung… apalagi klan Tomizawa!”

Tiba-tiba lampu seluruh apartemen mati, kejadian ini pernah Donghae alami ketika kematian Eunhyuk.

”Merapat!” perintah Donghae.

Yesung, Shindong, Kyuhyun, dan Donghae merapat, bisa terdengar siulan angin ketika Hiromi mengeluarkan shurikennya, lampu berkedip-kedip, dan sekelebat bayangan hitam maju. Hiromi berdiri tepat di depan keempat namja yang sedang merapat gemetaran tersebut.

”Tidak malu, meringkuk dibelakang wanita?” tanya pria itu, sambil membuka penutup wajahnya.

Yesung, Shindong, Kyuhyun, dan Donghae mendongak, Manajer Kim memang sedang berdiri di hadapan mereka. Keempatnya berdiri tapi tetap di belakang Hiromi yang memasang posisi siaga.

”Jadi, berhasil mengetahui kedokku?”

”Ya!” sahut Kyuhyun lantang. ”Tidak heran kenapa Hyung begitu ingin menyingkir-kan Hiromi waktu itu!”

Shindong menggeleng-geleng. ”Aku tidak percaya! Kenapa Hyung tega melakukan hal ini kepada kami?! Kenapa Hyung membunuh member Super Junior? Apa mau Hyung sebetulnya?! Hyung dibayar oleh siapa?!”

”Jadi benar… Kim Hyung…” kata Donghae pelan.

Manajer Kim tersenyum sinis. ”Ya benar! Kurasa kedokku memang terlalu mudah untuk diketahui… sayang kalian terlalu bodoh untuk baru menyadarinya sekarang, padahal aku sudah terlalu jelas melakukan pekerjaanku…” ujarnya seperti orang bosan.

”Kim Hyung kau keterlaluan!” Yesung meledak. ”Apa yang kami lakukan padamu?! Apa yang membuatmu melakukan ini pada kami?!”

Manajer Kim tertawa tinggi, melengking, nyaring. ”Aku dibayar.”

”Dibayar oleh siapa?!”

Manajer Kim tersenyum tipis. ”Kim Inha…”

”Mworago???”

”Ne, Kim Inha…” jawab Manajer Kim. ”Pengurus rumah tangga kalian… kau tertipu, Donghae…”

Donghae gemetaran.

”Bibi Kim?! Bagaimana mungkin? Kau yang membunuh Jaejin!” tunjuk Kyuhyun.

”Aniyo… bukan aku yang membunuh Jaejin, tapi gadis itu yang membunuh Kim Jaejin!” Manajer Kim tiba-tiba menunjuk Hiromi.

Semua tersentak dan menoleh kepada Hiromi, yang matanya langsung membulat terkejut.

”Hiromi?” Shindong menolehkan wajahnya kepada Hiromi dengan kaget.

”Kotjimal!” teriak Donghae.

Manajer Kim menggeleng. ”Untuk apa aku berbohong. Hei, Kinomoto Hiromi, katakan pada mereka bahwa memang kau yang membunuh Jaejin, iya kan? Apa kau masih mau menyembunyikan kedokmu hingga akhir?”

”Ige mwoya?!” tanya Kyuhyun bingung.

”Kedok apa?!” tanya Yesung. ”Sudah jangan bertele-tele, jelaskan kepada kami!” teriaknya.

Hiromi diam seribu bahasa.

”Hiromi, katakan sesuatu!” perintah Shindong.

Manajer Kim menatap Hiromi yang diam seribu bahasa, ”Kinomoto Hiromi itu… adalah agen ganda. Dia adalah Tomizawa-Kinomoto…”

Donghae, Kyuhyun, Yesung, dan Shindong terkejut.

”Dia membunuh Kim Jaejin, karena dia adalah seorang Tomizawa… kenapa Hiromi? Kau takut mengakuinya?!”

Keempat member Super Junior bergidik menatap wanita di hadapan mereka.

”Tapi kenapa dia harus membunuh Jaejin?!” tanya Donghae dengan suara bergetar. ”Apa alasan Hiromi hingga ingin membunuh Jaejin?!”

Manajer Kim tersenyum tipis. ”Karena dia seorang Tomizawa, dia dibayar untuk itu… lihat saja, dia tidak bisa menjawab kan? Kinomoto, kalau memang semua kata-kataku salah… kau bisa bicara sekarang!”

”Tapi dia seorang Kinomoto!” teriak Donghae.

”Lee Donghae! Bukankah Inha sudah bicara padamu, jangan terbawa perasaan! Jangan hanya karena kau punya perasaan padanya, kau buta, Lee Donghae…”

Shindong mendesis. ”Ya! Hiromi, katakan sesuatu…”

Donghae menarik bahu Hiromi dan membuat Hiromi berbalik menatapnya. ”Hiromi-ya… jawab pertanyaanku yang jujur,” kata Donghae pelan, sambil memegang kedua bahu Hiromi. ”Apakah kau benar, membunuh Kim Jaejin?” tanya Donghae gemetaran, menahan diri.

Hiromi menunduk. ”Donghae-ya… aku…”

”Benar, atau tidak?!”

”Ne, pajo…” Hiromi menyahut pelan.

Yesung, Kyuhyun, Shindong menarik napas terkejut, ketignya mundur perlahan-lahan.

Donghae menurunkan tangannya perlahan-lahan. ”Kau, bohong padaku?”

”Aniya, Donghae-ya… maksudku…”

”Jadi… kau klan Tomizawa?!”

”Ne… tapi…”

”Diam!” teriak Donghae tepat di wajah Hiromi, yang langsung pucat, dan meringis. Tapi Donghae tidak perduli lagi.

Wajah Hiromi kelihatan menderita.

”Neo… jinja!” air mata menggenang di mata Donghae. ”Kau yang membuat semua member mati! Itu semua salahmu…”

”Aaaah…” Hiromi memeluk tubuhnya sendiri.

Manajer Kim tertawa terbahak-bahak. ”Ya! Kinomoto, lihat dirimu sekarang…” dan dia bersiul nyaring, dan tepat saat itu juga, banyak pasukan dengan pakaian hitam bercadar, masuk dan menawan Donghae, Yesung, Kyuhyun, serta Shindong. Keempatnya berteriak-teriak minta tolong.

Hiromi mendesis, tangannya mengeluarkan darah, kemudian dia terjatuh sendiri ke lantai, sambil mengerang. Donghae terpaku melihatnya, meski dalam keadaan dibekap, dan tiba-tiba saja, dia sudah dibawa melayang oleh ninja yang menawannya, berikut Yesung, Kyuhyun, dan Shindong.

Mereka dibawa ke rooftop, dan diikat dalam 4 tiang terpisah, tepat di pinggir gedung, sehingga jika tiang itu bergeser sedikit saja, mereka akan langsung jatuh ke bawah.

”Hyung! Apa maumu?! Kau akan membunuh kami semua?!” tanya Yesung.

Manajer Kim mengangguk. ”Karena begitu perintah dari Inha, menghabisi Super Junior, tanpa tersisa satu pun!”

”Tapi yang membunuh Jaejin adalah Hiromi! Bukan kami!” teriak Shindong.

Manajer Kim tertawa terbahak-bahak, ”Aku hanya menjalankan tugasku… yang paling membuat Inha menderita adalah Jaejin yang dibunuh oleh Hiromi, tapi tahukah kalian apa yang membuat Hiromi menderita?”

Keempatnya tak ada yang menjawab.

”Adalah ketika si Cinderella Kinomoto Hiromi yang bertobat, dan ingin melaksakan tugas pertamanya dengan baik, tapi semua gagal!”

”Maksudmu apa?!”

”Hiromi itu Kinomoto, bukan Tomizawa! Dia adalah Kinomoto yang diculik oleh klan Tomizawa sewaktu kecil! Dia membunuh banyak orang meski bertentangan dengan nuraninya… pembunuhan terakhirnya adalah Kim Jaejin! Kemudian dia berhasil tahu kalau dia adalah Kinomoto… dia kembali kepada keluarga Kinomoto… tapi Inha, berhasil tahu kalau Hiromi yang membunuh Jaejin! Inha menyusun rencana balas dendam dengan menyewaku, dan aku mulai datang mengamati kalian… aku mulai meneror kalian…” Manajer Kim tertawa. ”Hiromi tahu ada pengkhianat di kelompoknya, dan memutuskan bersumpah untuk menjagamu… Lee Donghae, karena dia tidak bisa menjaga semuanya.”

Baik Donghae, Yesung, Kyuhyun, dan Shindong terpana.

”Dan, Lee Donghae… apa Hiromi pernah bercerita padamu, apa hukuman yang harus dia terima jika kau memberinya perintah?”

Wajah Donghae berubah horor.

”Ne… kau justru membantu kami! Seluruh badan Hiromi akan terus mengeluarkan darah, karena mengecewakan Tuannya… mungkin sebentar lagi dia akan mati, dan itu memudahkan kami untuk membunuhmu!”

Apa yang aku lakukan?! Aku tidak tahu kalau ceritanya seperti itu… aku marah pada Hiromi! Padahal aku tau kalau semakin aku marah, dia akan semakin terluka! Donghae gemetaran dalam ikatannya.

”Sekarang, Donghae-ya… saksikan bagaimana saudara-saudaramu mati satu persatu di hadapanmu!”

”ANDWE‼!” teriak Donghae.

Sebuah roket meluncur dari depan mereka, Donghae tidak tahu roket itu meluncur ke arah mana, Yesung, Shindong, Kyuhyun, dan dirinya sendiri menutup mata menahan takut.

Roket kecil dengan bunga api dibelakangnya semakin berpusing, kemudian darah segar menutupi wajah Donghae. Dengan gemetaran dan tangis yang pecah, Donghae membuka matanya perlahan.

”KYUHYUN‼!”

Tubuh Kyuhyun hancur, diiringi tawa kemenangan para Tomizawa yang menonton, Shindong lemas dalam ikatannya. Yesung menangis frustasi, sementara Donghae menggeleng-geleng.

”Pembalasanmu pada Hiromi sudah selesai!” Shindong berontak dalam ikatan. ”Hiromi sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal! Lalu kenapa kau masih membunuh kami?!”

Manajer Kim tersenyum. ”Bukankah sudah kukatan, bahwa tugas Tomizawa adalah membunuh, dan kami dibayar untuk membunuh. Inha membayar kami untuk membunuh Super Junior, bukan Hiromi.”

Kemudian Manajer Kim menjentikkan jarinya, dan salah seorang Ninja berpakaian hitam meloncat dan mengeluarkan seutas tali yang amat panjang, kemudian memutarnya di udara seperti laso, dan menebasnya ke arah Yesung. Dengan mengenaskan, tubuh Yesung terbelah di bagian pinggang, dan Yesung tewas seketika. Shindong dan Donghae menjerit.

”Bukankah sayang kalau semuanya tidak mati?” tanya Manajer Kim lagi. ”Sapu bangkainya…”

Dan dengan enaknya seorang ninja menendang kedua belahan tubuh Yesung ke bawah. Shindong dan Donghae menangis, dan menggeleng-geleng.

”Shin Donghee… giliranmu!”

Seorang ninja mendekati Shindong, kemudian mengeluarkan samurai.

”ANDWE‼!” teriak Donghae histeris.

Shindong menutup matanya.

Satu kali tusukan yang menembus ke belakang, dan Shindong pun akhirnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Donghae menangis tersedu-sedu dalam ikatannya. Bagaimana mungkin kedua belas member Super Junior tewas?! Ini pasti mimpi?! Dia menangis, dan menatap Manajer Kim yang tersenyum.

”Dan giliranmu, Lee Donghae…”

Donghae menutup matanya perlahan-lahan, dan bersiap menerima apa yang terjadi. Hiromi, mianhae… saranghae…

Tak ada yang terjadi, dan terdengar kegaduhan besar. Perlahan Donghae bersiap, mungkin itu suara kematiannya, tapi tak ada yang terjadi. Donghae membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia. Hiromi sudah naik, dengan tangan berlumuran darah, dan tertatih-tatih, Hiromi mengeluarkan shuriken, dan mulai menyerang ke segala arah.

”Hiromi-ya…” sedu Donghae sedih.

Bayangkan saja kau melihat seorang gadis yang sudah terluka begitu parah, tapi sedang berjuang melawan semuanya. Dan hebatnya lagi, setiap shuriken yang dikeluarkannya, tepat mengenai jantung puluhan ninja berpakaian hitam di depannya, sehingga mereka tumbang satu persatu.

Pertarungan semakin sengit, dan meruncing. Korban dari Tomizawa pun akhirnya bertumbangan, dan terakhir adalah satu lawan satu melawan Manajer Kim.

Keduanya saling menunjukkan jurus, tendang, pukul, hingga meloncat pun masih terlihat. Keadaan semakin terdesak, tepat ketika Hiromi hendak menusuk perut Manajer Kim, Manajer Kim berputar di udara dan menebas tali di ikatan Donghae. Donghae nyaris terjatuh, namun Manajer Kim menangkap, dan menodongkan pedang panjang ke leher Donghae.

Hiromi tersentak, dan berhenti.

”Bagaimana? Kenapa kau berhenti?”

”Dia Tuanku! Lepaskan dia…”

”Apa gantinya?!”

Hiromi menghela napas, dan mengembuskannya pelan. ”Apa pun…”

Donghae terbelalak, dan menggeleng-geleng.

”Kalau begitu, lepaskan semua senjata yang ada di dalam tubuhmu…”

Hiromi menurut, dan melepaskan semua senjata yang disembunyikan secara baik dalam tubuhnya. Kebanyakan shuriken, dan sisanya hanya jarum-jarum kecil di bawah sepatu.

”Lepaskan dia!” perintah Hiromi.

Manajer Kim melepaskan Donghae, kemudian mengibaskan tangannya, dan menyebabkan sebuah shuriken meluncur cepat dan menembus dada Hiromi, Hiromi jatuh terduduk.

”HIROMI!” teriak Donghae dan langsung menghampiri Hiromi, dan mengangkat tubuhnya. ”Hiromi…” isaknya.

Manajer Kim datang perlahan-lahan menatap keduanya sambil tertawa. ”Aigoo, cinta memang buta! Hiromi, kau pantas mendapatkan balasannya…” katanya girang dan mengitari Hiromi serta Donghae. Tepat saat Manajer Kim memunggunginya, Donghae mengangkat sebilah shuriken dan menusukkannya dengan kencang tepat di bagian punggung Manjaer Kim.

”Aaaarrrggghhh!”

Donghae menarik jarum-jarum hitam yang diketahuinya sebagai senjata yang paling ditakuti klan Tomizawa tersebut, dan melemparnya ke luka-luka Manajer Kim. Manajer Kim berteriak nyaring dan jatuh terduduk, Hiromi menarik pedang dari belakang tubuh Manajer Kim, dan menghunusnya ke punggung Manajer Kim sama seperti ketika Manajer Kim menusuk Shindong.

Dengan mata terbuka Manajer Kim mati mengenaskan.

Hiromi terbatuk-batuk, dan kembali berbaring, sambil Donghae memangkunya. Air mata terus mengalir dari wajahnya.

”Donghae-ya…” kata Hiromi pelan. ”Mianhae…” bisiknya, ”Aku membohongimu… mianhae…”

Donghae geleng-geleng. ”Aku yang bodoh! Aku tidak tahu!”

”Kau… tidak… salah…” wajah Hiromi semakin pucat, Donghae menggenggam tangannya. ”Aku… yang… ber…bo…hong… mianhae…”

Donghae menangis terisak. ”Aniyo… bertahanlah, Hiromi! Aku akan membawamu ke rumah sakit!”

Hiromi menggeleng pelan. ”Aku… tidak… bisa… sembuh… ini… terl…alu… parah…”

”Mianhae! Ini semua salahku! Seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu!”

”Gwenchana…” Hiromi menatap mata Donghae. ”Donghae-ya… gomawo… kau… Tuan yang baik… ada… yang… mau… aku… katakan…”

”Nado…”

Keduanya saling tatap, kemudian bicara pada saat yang sama. ”Saranghae…

Hiromi tersenyum dan mengangguk. ”Aku mendengar kau bicara begitu… aku… senang… itu… yang… membuatku kuat… dan kesini… melawan… mereka…”

”Jangan tinggalkan aku!”

Hiromi cuma berkaca-kaca, bibirnya bergetar, tangannya naik, dan membelai wajah Donghae yang terkena percikan darah, dan mengelusnya. Tangan Hiromi jatuh begitu saja, tepat ketika matanya menutup. Hiromi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

”Aah…” Donghae menangis tertahan, terlalu shock. ”Hiromi… bangun! HIROMI‼!” teriaknya sambil mengguncang tubuh Hiromi. Donghae menggeleng-geleng, dan memeluk tubuh Hiromi. ”Hiromi…” isaknya.

Api dendam membakar di tubuh Donghae, dia ingin Tomizawa dihabisi! Tomizawa yang sudah membuat Super Junior dan Hiromi mati! Kemudian dia menyadari, inilah dendam tak berkepanjangan yang membuat Tomizawa dan Kinomoto tidak pernah rukun.

Donghae tahu jawabannya, bagaimana cara menghentikan dendam ini. Donghae menarik shuriken yang masih menancap di perut Hiromi. ”Dendam… takkan habis jika tidak diselesaikan… cukup sampai disini! Tak perlu ada Kinomoto dan Tomizawa yang saling dendam lagi… Hyungie… Dongseng… Hiromi… tunggu aku…”

Sekali hunus, shuriken menembus jantung Lee Donghae, dan Donghae menemui dunia baru. Dunia dimana seluruh member Super Junior, beserta Hiromi berada.

Donghae sadar tentang dendam…

Dendam yang dibiarkan berkepanjangan…

Donghae memilih mati membawa dendam kepada Tomizawa…

Dibandingkan menuntut balas kepada mereka…

Karena dendam itu akan terus berlanjut…

Donghae mengakhirinya…

The End

Jeongmal kamsamnida untuk seluruh readers yang udah baca Murder Admirer, dari Intro sampe Ending… juga dengan komen-komennya… berharap kedepannya aku bisa bikin cerita yang lebih bagus lagi, berhubung ini thriller pertamaku… spesial thanks untuk Arum, yang ngasih ide… hohoho… *hug* untuk reader yg mau kasih aku ide… aku tunggu lho, wakakaka

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

Makasih ya semuanya… *bow*


6 thoughts on “Murder Admirer ~Part 6~ (Ending)

  1. Huwaaaa murder admirer ternyata yang buat Nisya toh… ini salah satu ff kesukaan ku di sjff ^^

    ceritanya keren banget… wkwkwk gak nyangka Nisya yang buat… kereeeenn d^^b

  2. Aku baru selesai baca dri part intro smpe sini onn~ komen nya sini aja ya onn~ sumpah !! Ini ff nyeremin bgt deh , dugeun dugeun baca nya . Tp , aku rada ga ngerti part ending nya , wlopun gtu ff nya berasa nyata😄

  3. keren…tp ngg bisa bayangin klu oppadeul bakalan begitu akhir hidupnya….lol….aplg haeppa yg notabene bias utamaku di super junior…..

  4. Ahh, kasian banget Yesungie oppaaa (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)

    Tapi ff ni keren banget. Aku udah baca dari awal ampe akhir, dan memutuskan meninggkalkan jejak disini. Hehe

    Daebak thorrr !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s