Murder Admirer ~Part 5~

*Basement Gereja*

Polisi sudah berkumpul dan wartawan pun telah ramai berada di basement gereja. Berita kematian Super Junior telah benar-benar menjadi headline dimana-mana. Pemberitaan pun semakin tidak sedap, mengenai Super Junior yang memiliki musuh mematikan, dan diramalkan dalam waktu satu bulan saja, sisa member yang tersisa akan menemui ajal mereka masing-masing.

Ditambah lagi tak lama kemudian jasad Ryeowook ditemukan di dalam mesin cuci ruang laundry di Apartemen mereka sendiri. Pemberitaan semakin geger, karena sekarang jika di total, sudah enam anggota Super Junior yang tewas. Dimulai Kibum, Eunhyuk, Heechul, Leeteuk, Siwon, dan Ryeowook.

Masih butuh berapa lama lagi bagi yang tersisa untuk hidup? Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Donghae, dan Kyuhyun?

”Aku sudah tidak sanggup lagi…” Hankyung sambil menangis bercucuran air mata. ”Aku tidak tahan menunggu ajalku sendiri! Sampai kapan kita harus begini?! Kalau begini, daripada di tangan pembunuh sadis itu, lebih baik aku bunuh diri!”

”Hyung… Hyung…” Sungmin berusaha menenangkannya.

Hankyung terus menggerung dan menangis.

”Kita harus melakukan sesuatu!” seru Kangin. ”Kita tidak bisa hanya diam begini!”

”Tapi apa? Melakukan apa?” tanya Shindong. ”Kita benar-benar buta pada pelakunya, kita sama sekali tidak tahu apa rencana dia, dan berikutnya siapa yang akan dibunuh, Hyung!”

Mereka kembali ke dorm setelah polisi melakukan beberapa pemeriksaan, semua nampak lelah, semua duduk di ruang tengah. Tak ada yang tidur selama dua hari ini, semua kelelahan.

”Kita harus mencari Bibi Kim! Hanya itu satu-satunya petunjuk kita…” ujar Donghae.

Semua mendongak menatapnya.

”Karena kita tidak bisa diam lagi!”

”Aku setuju denganmu, Hae…”

Sungmin menepuk bahu Hankyung dan mengajaknya berdiri. ”Ayo, Hyung, kita istirahat… kita semua terlalu lelah. Akan lebih baik jika sudah segar nanti kita baru memikirkan langkah selanjutnya…”

”Ne…”

Semua bangkit dan kembali ke dalam kamar masing-masing. Donghae tahu semua pasti merasakan hal yang sama sepertinya. Air mata rasanya sudah habis, hati sudah tercabik! Yang ada dalam diri mereka sekarang adalah kepasrahan, dan tekad bulat! Bahwa hidup atau mati, mereka harus menemukan siapa yang melakukan ini semua, dan mengungkap alasannya.

”Hiromi…” bisik Donghae.

Hiromi tidak muncul, Donghae tersentak, tidak biasanya. Memang Donghae sudah tidak melihat Hiromi selama tiga hari, dan saat ini, Donghae memerlukannya, ani, membutuhkannya.

”Hiromi…” panggilnya sedikit lebih keras.

Tak ada siapa pun yang masuk lewat jendela, Donghae mendekati jendelanya dan memeriksanya. Tidak ada tanda-tanda gadis berambut panjang dengan pakaian hitamnya yang bisa dirobek kapan pun itu.

”Neo eodiya? Hiromi-ya…”

Donghae duduk di atas kasurnya dan menenggelamkan kepalanya di dalam kedua lututnya. Sendiri! Maut di depan mata, rasanya seperti hanya menunggu waktu, kapan gilirannya. Dengan adanya Hiromi, Donghae punya pegangan, tapi dimana gadis itu sekarang?

”Hiromi… Hiromi…”

Tetap tidak ada apa-apa. Tak ada jendela yang terbuka, tak ada Hiromi yang meminta maaf karena telah membuatnya menunggu. Dimana gadis itu???‼! dimana ninja terhebat yang pernah Donghae lihat? Donghae menangis, dimana gadis itu? Sekarang Donghae benar-benar merasa sendirian!

Donghae berusaha menenangkan dirinya, ”Aku harus fokus! Kim Jaejin! Aku harus tau…” Donghae menghela napas dalam-dalam, dan merebahkan kepalanya, lalu menutup matanya perlahan-lahan.

 

*           *           *

”Hanya ini yang bisa kami berikan kepada kalian…”

Kangin menatap wajah wanita di depannya, staff SM, yang sudah mereka kenal sejak mereka debut. Sekarang berubah dingin, tidak ada lagi senyuman, sapaan, bahkan keramahan.

”Tapi…” Kangin sudah naik darah.

Sungmin menahannya. ”Hyung, sudahlah… kamsahamnida, Noona…” Sungmin membungkuk.

Mereka keluar dari gedung SM menuju basement, tepat di tiang Kangin meninju tiang dengan keras. Semua terperangah. Tapi, kemudian, dengan tangan masih di tiang, dan wajah menunduk, Kangin menangis tersedu-sedu.

”Otokhe??? Otokhe???”

Sungmin menepuk bahunya, matanya berkaca-kaca. Semua menunduk dan saling bergumam.

”Bagaimana mungkin SM tidak mau membantu sama sekali! Mereka anggap kita apa?! Kita bersama mereka setengah hidup kita‼!” teriak Kangin.

”Mereka juga takut…” jawab Shindong lirih.

”Ya! Yang harusnya takut itu kita! Yang berhadapan dengan maut itu kita! Mereka melakukan apa?! Pernah mereka banting tulang menahan ketakutan sampai seperti ini?! Pernah mereka merasa kalau nyawa mereka dipermainkan?!” teriak Kangin emosi. ”Aku tidak minta banyak! Aku hanya ingin informasi‼!”

Semua menunduk, kata-kata Kangin benar.

”Sudahlah, yang jelas kita masih punya alamatnya…” ujar Kyuhyun semangat.

Hankyung mengangguk. ”Lebih baik kita bergerak, daripada harus diam… aku tidak tahan!” katanya sedih.

”Sekarang kita ke alamat ini…” Sungmin menunjuk.

”Ne, ayo!” ajak Donghae.

Hankyung, Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Donghae, dan Kyuhyun bersama-sama menaiki mobil menuju alamat yang diberikan oleh staf SM tersebut. Daerah tersebut tidak terlalu jauh, tapi daerah tersebut merupakan daerah yang sangat terpencil.

”Bibi Kim tinggal disini, kah?” tanya Yesung.

”Molla! Ayo turun…” Kangin melepas sitbelt, dan langsung turun dari dalam mobil diikuti yang lainnya.

Semua menatap hamparan tangga di depan mereka, dan perumahan yang padat serta sempit. Donghae memantapkan tekad, dia berjalan mendahului yang lain, barulah setelah Donghae menaiki beberapa anak tangga, yang lain mengikuti ke atas. Mereka berkelok-kelok mencari alamat Bibi Kim. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya mereka menemukan rumahnya.

Sepetak rumah, sempit sekali.

Donghae mengetuk pintunya, tak lama kemudian terdengar langkah kaki, dan pintu tersebut dibuka. Seorang pria paruh baya yang membukanya, menatap anak-anak Super Junior dengan bingung.

”Annyeonghasimnika…” Donghae membungkuk. ”Benarkah ini rumah Kim Inha?”

Pria tersebut mengangguk, ”Tapi Inha sudah tidak tinggal disini, saya adiknya…”

”Boleh kami masuk? Ada yang ingin kami tanyakan…” kata Sungmin sopan.

Pria tersebut terlihat amat sangat enggan, namun kemudian mempersilakan mereka masuk. Mereka bertujuh duduk bersama-sama di lantai, pria tersebut duduk di dekat mereka.

”Ada apa?”

”Mianhamnida, menganggu waktu Anda, Ahjussi…” Sungmin memulai pembicaraan sambil melirik Donghae, Donghae mengangguk memberi semangat. ”Kami ingin bertanya mengenai Bibi Kim… beliau merupakan pengurus kami… apakah Anda bisa memberitahu kami dimana beliau?”

Pria itu menghela napas berat. ”Sejak kematian putrinya, dia pindah ke Jepang…”

”Eh?! Putrinya??”

”Ya, Inha memiliki seorang putri, Jaejin… Jaejin meninggal enam bulan yang lalu… sejak saat itu Inha pergi, meninggalkan suaminya di Korea. Inha sama sekali tidak pernah menghubungi kami lagi… kami sendiri tidak tahu dia ada dimana.”

Semua saling pandang.

”Kim Jaejin sudah meninggal?” tanya Donghae.

”Kau kenal?” tanya pria itu pada Donghae.

Donghae menggeleng, ”Hanya tahu kalau Jaejin adalah putri Bibi Kim…” jawab Donghae jujur.

Pria itu mengangguk.

”Kalau boleh kami tahu…” kata Yesung pelan. ”Jaejin meninggal karena apa? Sakit, kah?”

Pria itu terkekeh. ”Sakit? Kalau Jaejin meninggal karena sakit, Inha tidak mungkin kembali ke Jepang!”

”Lalu?”

”Aku bukan orang yang tepat untuk membicarakannya, tapi biar kuberitahu… nasib Jaejin hampir sama seperti anggota kalian yang telah tiada.”

 

*Dorm Super Junior*

Donghae memijit-mijit kepalanya yang terasa sangat sakit, dia sudah pusing. Jawaban demi jawaban yang ditemukan malah semakin membuat kepalanya semakin sakit! Kim Jaejin ternyata memang ditemukan terbunuh dengan urat nadi tersayat, dan itu bukan ulahnya! Dan Bibi Kim, yang ternyata sejak kecil tinggal di Jepang, meski berkebangsaan Korea.

Donghae berbaring menelungkup di ranjangnya, bingung tentang apa yang harus mereka lakukan sekarang. Sudah seminggu, dan Hiromi sama sekali tidak muncul! Dimanakah dia?

Setiap malam, Donghae tidak lupa memanggil namanya. Berharap sosoknya muncul, tapi nihil. Gadis itu tetap tidak ada… ”Bogoshipo…” tanpa sadar Donghae berkata begitu.

Donghae duduk mendadak. ”Nanti dulu… Hiromi… latar belakang? Bibi Kim… sama-sama lahir dan besar di Jepang, walaupun berkebangsaan Korea! Tomizawa dan Kinomoto! Ini ada hubungannya…” Donghae memegang kepalanya. ”Hiromi! Aku harus bertemu denganmu! Aku harus bertanya padamu!” desisnya.

”AAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHH‼!” Donghae berteriak frustasi.

”Donghae-ya?! Gwenchana?!” teriak Sungmin dari luar.

Donghae menghela napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri, lalu menjawab Sungmin dengan suara serak.

”Gwenchana, Hyung… mianhae.” Ujarnya sambil duduk lagi di kasur. Donghae merebahkan tubuhnya lagi di kasur, dia benar-benar tidak bisa berpikir. Otaknya seakan-akan buntu mendadak.

Ini tidak bisa dibiarkan! Harus bertindak! Hanya ada dua kalimat tersebut yang bercokol di kepalanya bagaimanapun takutnya dia. Kematian memang akan terjadi pada manusia manapun. Tapi, jika seperti ini, siapa yang akan ikhlas menerima kematian itu dengan tangan terbuka?

”Hiromi… kau dimana?” tanya Donghae dengan nada putus asa. Akhirnya dengan pikiran kacau, dan hanya ada satu tempat yang bisa dia tuju untuk menjawab semua ini, Donghae bertekad pergi kesana.

Donghae berdiri dan langsung mengambil pakaiannya ala kadarnya, dan di masukkannya ke dalam tas ranselnya yang biasa dia bawa bepergian, tak lupa topi, masker, dan kacamata Ray Ban kesayangannya. Donghae menghela napas dalam-dalam setelah menatap pantulan dirinya di kaca.

”Apa pun jawaban yang kudapat, setidaknya aku kesana… dan mencari jawaban…” kata Donghae sambil membulatkan tekad. Donghae keluar dari dalam kamarnya dan mendapati keenam member sedang duduk bersama, dan menatapnya kaget.

Kyuhyun yang pertama mengeluarkan suara. ”Hae Hyung… kau mau kemana?”

”Aku mau ke Jepang…” sahut Donghae pelan.

”Kau mau apa kesana?” tanya Sungmin.

”Semua berhubungan dengan Jepang…” sahut Donghae. ”Baik legenda Ninja itu sendiri, dan Bibi Kim… cara Kim Jaejin terbunuh juga sama seperti…” Donghae menggelengkan kepala keras, enggan menyebut hal tabu itu. ”Yang jelas, Kim Jaejin pasti dibunuh klan Tomizawa juga… semua ini berawal di Jepang!”

”Arasseo… kami mengerti, tapi kau akan cari mereka dimana?” tanya Shindong heran. ”Kau kan tahu tempat tinggal para Ninja itu dimana, di atas gunung, dan di tempat-tempat yang tidak terjangkau manusia biasa seperti kita Donghae-ah…”

Donghae menggeleng. ”Molla jinja!” ujarnya frustasi. ”Aku mau kesana, entah apa yang akan kutemukan disana, yang penting aku tidak tahan diam saja! Lagipula… Hiromi tidak menjawab panggilanku…”

”He??? Ah iya, Hiromi… kita sampai lupa padanya! Dimana dia sekarang?” tanya Kyuhyun.

”Itulah…” kata Donghae nampak putus asa. ”Dia tidak muncul! Bahkan jika aku memanggil namanya, aku harus ke Jepang, terserah kalian setuju atau tidak!”

Kangin mengangguk. ”Baiklah, jika memang itu maumu, Hae… kami juga akan berusaha semampu kami. Kau hati-hati disana…”

”Ne, gomawo, Hyung… Hyungdeul juga semua, hati-hati…”

 

*Bandara Narita*

Donghae melangkahkan kakinya keluar dari bandara Narita, dengan masker, jaket plus capucon, dan juga kacamata hitam, membuatnya tidak dikenali. Donghae sedang malas meladeni pertanyaan orang-orang, apalagi mengenai kematian member Super Junior, yang tentu saja menjadi sangat sensitif baginya.

”Sekarang harus kemana?” tanya Donghae pada dirinya sendiri. ”Lebih baik cari penginapan.” Donghae masuk ke dalam taksi, dan meminta taksi mencari penginapan terpencil dan kecil, sama sekali tidak terjamah orang. Berbeda dengan beberapa bulan lalu, ketika semuanya masih baik-baik saja, dan mereka selalu menginap di hotel mewah, dimanapun, dan kapanpun.

Donghae turun di depan sebuah penginapan yang disarankan oleh si supir taksi, setelah membayarnya dengan beberapa lembar uang Jepang, Donghae turun dan langsung memesan sebuah kamar, setelah di kamar pun Donghae langsung mengeluarkan laptopnya, dan mulai melakukan pencarian info tentang Tomizawa dan Kinomoto.

Informasi yang tersedia hanya tentang keberadaan klan mereka di kaki gunung, yang jelas sangat jauh. Kemudian ponsel Donghae bergetar, pesan masuk. Donghae membukanya, dan ternyata itu dari Kangin, berisi tentang informasi alamat rumah Bibi Kim di Jepang.

Donghae tersenyum, dia merasa bersyukur bahwa di Korea, member lain jug sedang berusaha sama seperti dirinya. Donghae tahu, semua tidak akan bisa menerima kematian-kematian ini dengan lapang.

Donghae memutuskan untuk mencari alamat Bibi Kim terlebih dahulu, dan untuk Hiromi, untung-untungan saja. Bertemu syukur, tidak bertemu, Donghae akan memikirkan lain cara lagi. Donghae menaiki subway untuk menuju alamat yang dimaksudkan oleh Kangin, dia turun di depan sebuah jalan besar, yang berisi rumah-rumah padat penduduk. Rumah-rumah bergaya Jepang itu tertata rapi, dan asri sekali.

Donghae berjalan menyusuri jalanan lurus ke depan, dengan panduan alamat di ponselnya, Donghae terus mencari-cari di papan yang bertuliskan nama keluarga Daidoudji yang merupakan keluarga Jepang dari Bibi Kim. Akhirnya setelah berjalan sekitar lima ratus meter, Donghae menemukan rumah tersebut.

Donghae berjalan memasuki halaman rumah tersebut, dan menekan bel perlahan. Donghae bisa mendengar seseorang menjawab panggilan belnya tersebut dengan bahasa Jepang, buru-buru Donghae mengeluarkan iPad-nya, dan membuka kamus online bahasa Jepang-Korea.

Seorang wanita mengenakan kimono sederhana keluar, dan membungkuk. Donghae menjawab dalam bahasa Jepang yang cukup memprihatinkan, menanyakan keberadaan Bibi Kim. Wanita tersebut membungkuk, dan mempersilakan Donghae masuk ke dalam.

”Donghae!” pekik Bibi Kim begitu menggeser pintu.

”Bibi Kim, annyeonghaseyo…” Donghae langsung berdiri dan membungkuk.

Bibi Kim tersenyum dan menyalami Donghae. ”Aigooo, lama sekali tidak berjumpa denganmu. Apa kabarmu?”

Donghae tersenyum tipis.

”Ah, mianhae…” Bibi Kim nampaknya mengerti. ”Ayo duduk, Donghae-ya… aku turut berduka mengenai keadaan kalian.”

”Ne, Bibi Kim…”

”Lalu bagaimana kau bisa sampai kesini?”

Donghae menjawab, ”Aku kebetulan menemukan ini…” Donghae meraih sebuah foto dari dalam sakunya, dan menyorongkannya kepada Bibi Kim. ”Menurut tulisan, dia adalah Kim Jaejin, putri dari Bibi Kim. Aku menemukannya di kamar Leeteuk Hyung, yang kemungkinan sedang memegang foto ini sesaat sebelum… Leeteuk Hyung jatuh.” Ujar Donghae pahit.

Bibi Kim dengan tangan gemetar meraih foto tersebut.

”Dan begitu kami mencari tahu tentang Kim Jaejin, menurut adik Bibi… Kim Jaejin, sudah tiada.”

Bibi Kim mengangguk, sambil mencoba menahan turunnya air mata. ”Ya, dia memang putriku satu-satunya, Kim Jaejin. Lalu ada apa?”

Donghae mulai menceritakan kejadian bahwa mereka diteror, hingga detik ini. ”Aku juga tidak tau apa yang membawaku kesini, yang jelas, menurut adik Bibi, Kim Jaejin juga meninggal dengan cara yang hampir sama seperti saudara-saudaraku.”

”Ne… Jaejin memang dibunuh…” Bibi Kim menangis. ”Ini semua hanya karena dendam masa lalu.”

”Dendam masa lalu?” tanya Donghae. ”Bolehkah Bibi menceritakannya padaku, aku tidak tahu apakah ini bisa membantu kami, yang jelas kami bingung harus mencari petunjuk kemana lagi.”

Bibi Kim mengangguk. ”Sejujurnya, sejak lahir hingga remaja, aku besar di Jepang… hingga kemudian aku bertemu dengan pria Korea, yang memikat hatiku, dan aku setuju menikah dengannya… lalu aku tinggal di Korea, dan tentu saja bekerja disana… dan aku tidak tahu yang kunikahi ternyata… keturunan klan Ninja.”

”Apakah keturunan Klan Ninja Kinomoto?”

”Ah, ne… kau benar… bagaimana kau tahu?!” tanya Bibi Kim terkejut.

”Hanya pernah membaca sejarah…” sahut Donghae.

Bibi Kim mengangguk, ”Yang terjadi kemudian adalah…”

”Ada seorang pria dari keturunan Tomizawa yang jatuh cinta pada Bibi dan tidak bisa terima kalau Bibi menikah dengan keturunan Kinomoto?”

”Ne… kau benar…” Bibi Kim terperangah.

Donghae menggeleng-geleng. ”Jadi, kemudian Jaejin korbannya?”

”Ne…” Bibi Kim menangis tersedu. Donghae menghela napas dalam-dalam, dan membelai tangan Bibi Kim. ”Untuk itulah, aku memilih kembali ke Jepang, bersama keluarga Jepangku…”

Donghae mengangguk. ”Kalau boleh aku tahu, Bibi… apa suami Bibi juga ada disini?”

”Dia disini, di Jepang juga…” sahut Bibi Kim.

”Boleh aku bertemu dengannya, Bibi Kim?”

”Dia sedang ke pemukiman Ninja Kinomoto…”

”Bibi tau tempatnya dimana? Biar aku sendiri kesana… lagipula… ada yang ingin aku temui…”

Bibi Kim tersenyum tipis, dan menatap Donghae penuh arti. ”Apa kau akan menemui Ninja Putri?”

”Maksudnya?”

”Ninja perempuan.”

Donghae mengangguk pelan. ”Ne… dia pengawalku.”

”Apakah dia orang Korea?”

”Ne…”

Bibi Kim kemudian menatapnya sedih. ”Donghae-ya, aku sarankan padamu… aku tahu perasaanmu sekarang, tapi kalau kau tidak mau berakhir seperti aku dan suamiku. Jangan melibatkan perasaanmu terlalu jauh pada gadis itu, karena sejarah akan terus terulang.”

Donghae terus memikirkan kata-kata Bibi Kim dalam perjalanan menuju kaki bukit tempat Klan Ninja Kinomoto. Donghae membuka iPad-nya lagi, dan langsung mencari cerita sejarah Kinomoto dan Tomizawa lagi. ’Ketika seorang keturunan Kinomoto berkebangsaan Korea jatuh cinta dengan orang Korea, dapat dipastikan seorang keturunan Tomizawa juga mencintai keturunan Korea tersebut. Hal tersebut akan terus berulang hingga kedua keturunan habis.” Donghae mengernyit. ”Ini yang dimaksud oleh Bibi Kim… tapi apa hubungannya dengan kematian member Super Junior?” Donghae menggeleng-geleng. ”Siapa yang melibatkan perasaan? Aku kan hanya mau memecahkan misteri pembunuhan ini!”

 

*Sheraton Apartemen, Korea, 01.00 AM KST*

Seseorang meloncat masuk ke dalam jendela kamar Donghae yang dibiarkan terbuka oleh yang punya kamar, orang itu memegang kenop pintu, dan membukanya perlahan-lahan.

Setelah itu dia membuka pintu sebuah kamar dengan gerakan yang pelan dan seringan bulu, lalu perlahan dia membebat mulut pria yang sedang berbaring dan memeluk guling tersebut, pria tersebut memberontak. Digendongnya pria tersebut, dan dibawanya terjun ke bawah. Sesampainya di bawah dibawanya pria itu ke dalam sebuah mobil pickup hitam menuju hamparan tanah yang luas.

Setelah persiapannya selesai, dia duduk di dalam mobil, menunggu pengaruh obat bius pada pria yang sudah diikat di belakang pick upnya sadar. Dan tak lama kemudian, Lee Sungmin sadar. Sungmin berubah pucat melihat keadaannya, posisinya tengkurap, dengan kedua tangan terikat oleh tali yang tersambung dengan pickup hitam di hadapannya.

”Ya Tuhan…” bisiknya kaget. Selesai berkata begitu, derum mesin mobil menyala, dan yang paling ditakutkan oleh Sungmin akhirnya terjadi.

Pickup tersebut kemudian berjalan dengan kecepatan tinggi, dan menyeretnya terus. Sungmin bisa merasakan darah yang mengalir dari sekujur tubuh, dan wajahnya, serta detak jantungnya yang melemah, kesadaran yang perlahan menghilang.

Mobil itu berhenti, ketika Lee Sungmin sudah tidak bernyawa.

 

*Siangnya*

”Hyung! Hyung!” Kyuhyun mengetuk pintu kamar Sungmin, lalu meraih gagang pintu dan membukanya. ”Aneh, kok tidak ada…”

Hankyung muncul dari belakangnya. ”Kenapa, Kyu?”

”Sungmin Hyung kemana ya?” tanya Kyu khawatir.

”Memang tak ada di kamarnya?”

Kyuhyun menggeleng, ”Tak ada, Hyung… aku belum melihatnya seharian ini, Sungmin Hyung bukan tipe orang yang suka keluar sendiri tanpa memberi kabar, apalagi…”

”Coba ditelepon dulu…” saran Yesung sambil makan roti di meja makan.

Hankyung berjalan mendekati telepon dan menghubungi nomor ponsel Sungmin, yang terjadi justru suara dering ponsel yang terdengar dari kamarnya. Kyuhyun buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan ponselnya.

”Tidak bawa ponsel?” tanya Shindong kaget.

”Dompet juga…” kata Kyuhyun cemas.

”Dia tidak akan pergi jauh-jauh kalau begitu…” kata Yesung berusaha menenangkan.

Kyuhyun mengangguk dan meletakkan ponsel Sungmin di atas meja, kemudian duduk di sofa.

”Ngomong-ngomong Kangin dimana?” tanya Hankyung.

”Kangin sedang mengganti ban mobil,” jawab Yesung. ”Hari ini kita akan berusaha mencari keterangan lagi, kan?”

”Ah, benar… kalau begitu aku mau sarapan dulu,” Hankyung kembali ke dapur.

 

*Basement Sheraton Apartment*

Kangin menepuk-nepukkan tangannya setelah selesai mengganti ban mobil van mereka, ketika tiba-tiba sebuah kantong plastik langsung disurukkan ke kepalanya, membuatnya tidak dapat melihat.

Kangin berusaha berontak, namun sebuah palu telah menghantam kepalanya, kepala Kangin pusing, dan serangan palu bertubi-tubi tersebut membuatnya kesakitan. Darah perlahan-lahan merembes, dan kesadarannya menghilang. Orang dibelakangnya terus memukuli kepala Kangin dengan palu, hingga kepala Kangin pecah, dan otaknya berhamburan keluar.

Orang di belakangnya meletakkan palu di bawah, kemudian meninggalkan tubuh Kangin yang sudah tidak bernyawa.

To Be Continued

Yap! Buat biasnya Sungmin dan Kangin, jeongmal mianhaeyo… karena kali ini mereka berdua korbannya. Hohoho *dilempar panci* ditunggu komen dan kritik, dan sarannya… dan kemungkinan part berikut adalah part terakhir, jadi doain aja FF ini bisa selesai secepatnya… wkwkwkwkwk…

Faceboook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s