Murder Admirer ~Part 3~

”Tunggu dulu Hyung, kalau memang benar acak…” ujar Ryeowook pelan dan ngeri. ”Dia memang tidak peduli siapa yang dia bunuh, tapi… berarti itu menguatkan kalau dia memang dendam kepada kita?”

Sungmin mendesah. ”Atau membunuh hanya demi kesenangan, justru itu yang lebih mengerikan.”

”Psikopat?!”

”Kemungkinan besar memang begitu…” kata Sungmin ngeri. ”Heechul Hyung… kita harus menghadapi tekanan seperti ini dalam waktu dekat…” Sungmin memegangi dadanya. ”Aku sesak…” wajahnya ketakutan.

Ryeowook menunduk.

”Aku sudah tidak sanggup lagi!” teriak Hankyung dari ruang tengah. Semua kepala menoleh kepadanya. Dia sedang menangis, jatuh terduduk. ”Aku tidak sanggup lagi melihat kita semua berjatuhan satu persatu seperti ini! Lebih baik aku bunuh diri daripada menunggu kita digilir oleh pembunuh gila itu!” teriaknya histeris.

”Hyung tenanglah, Hyung… tenang…” Yesung menghampirinya, dan memeluknya. ”Sudah Hyung!”

Bel kembali berdering.

Leeteuk menekan interkom, dan nampaklah wajah Manajer Kim. Leeteuk menghela napas lega, kemudian membukakan pintunya. ”Hyung!”

”Heechul?!” wajah Manajernya sembab.

Semua mengangguk lemah.

”Aku akan segera mengurus ini kepada keluarganya, kalian tunggu saja ya… ada berita baru dari perusahaan.” Ujarnya sambil menunduk.

Semua mengangguk.

Pemakaman Heechul berlangsung tertutup, hanya keluarga dan kerabat Super Junior yang boleh menghadirinya, juga SMTOWN, dan Hee-Line saja yang datang. Semuanya shock dan ketakutan mendengar kabar yang menimpa Super Junior, berbagai berita mulai bermunculan dan seluruh Korea Selatan sepertinya tahu ada yang tidak beres pada Super Junior.

Dari mulai berita tentang ada Psikopat, sampai Super Junior menghadapi depresi, hingga bunuh diri pun ada. Member Super Junior tak ada satu pun yang mau membaca berita, dan mendengarkan berita lagi, karena mereka bersiap untuk menghadapi terror langsung, terror yang lebih nyata.

Setelah selesai acara pemakaman, member Super Junior kembali dibawa kembali ke dorm mereka bersama-sama dalam satu van, setelah semua sampai di dorm, mereka langsung duduk berkumpul di ruang tengah mendengarkan penjelasan Manajer Kim tentang keputusan perusahaan.

”Sajangnim sudah memberikan keputusan mengenai hal ini…” kata Manajer Kim. ”Sajangnim sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi seterusnya mengenai terror ini, Sajangnim memutuskan untuk lepas tangan… dan tidak ingin lagi bertanggung jawab mengenai hal ini.”

Kesepuluh member langsung pucat.

”Maksudnya?” tanya Leeteuk setelah dengan susah payah menelan ludah.

”Dari pihak SM Entertainment sudah tidak mampu lagi, kami sudah berusaha semampu kami untuk melindungi kalian, tapi segala upaya yang kami buat ternyata tidak membuahkan hasil…”

Semua menunduk dan saling merapat.

”Dan belum lagi seluruh biaya yang dikeluarkan oleh SM Entertainment untuk melindungi kalian, sama sekali tidak mendapatkan feedback, karena kalian tetap tidak bisa bekerja…”

”Jadi maksud Hyung itu apa?” tanya Yesung.

”Sajangnim sekarang dalam proses untuk menyelesaikan kontrak kalian semua, berikut sisa pesangon yang akan dibayarkan kepada kalian, kami berharap kalian bisa menjaga diri setelah ini…”

Semua terperangah.

”Dan tentang kepemilikan apartemen ini, dari Sajangnim sudah menyerahkan soal apartemen atas nama Super Junior, kalian bisa terus menggunakannya. Tapi untuk keamanan yang dibawah dan diluar kami sudah tidak bisa lagi… sangat sedih harus berpisah seperti ini, tapi…” Manajer Kim nampak menahan air mata. ”Itu keputusan Sajangnim, terima kasih telah menjadi artis yang hebat bagi SM…”

Dan setelah mengatakan hal itu, Manajer Kim membungkuk dan berbalik keluar dari dalam ruangan. Kesepuluh member yang ada di dalam ruangan tetap diam, tak ada yang mampu mengeluarkan sepatah kata pun mengenai keputusan ini, semua nampak shock.

”Perusahaan memang sudah banyak berbuat untuk kita, sementara kita semua tidak bisa bekerja seperti biasa…” ujar Leeteuk lirih.

Kangin menggigit bibirnya. ”Berarti kita yang harus melakukan sesuatu! Cuma kita yang bisa menghentikan ini semua… kita sendiri yang harus menemukan orang gila itu dan bertanya padanya apa maksudnya melakukan ini semua pada kita! Jika memang kita bersalah, kita harus tau salah kita apa…”

”Kangin Hyung benar…” Donghae mengangguk.

”Tapi…” Sungmin nampak ragu-ragu, namun semua mata telah menatapnya. ”Aku tidak yakin kalau kita punya kesalahan fatal hingga membuat seseorang harus membunuh seperti ini. Yang aku tahu dari pengamatan saat… saat…” Sungmin menelan ludah, ”Saat Heechul Hyung pergi adalah… orang itu tidak peduli siapa yang dibunuh… yang penting kita habis…” tambahnya pelan.

”Jadi maksudnya, kita berhadapan dengan psikopat?!” pekik Kyuhyun.

Sungmin menghela napas. ”Menurutku begitu…”

”Kalau memang keputusan dari perusahaan adalah dengan melepaskan kita sekarang…” ujar Siwon berat. ”Menurutku takkan banyak bedanya…” katanya pelan. ”Selama ada pengawal pun, Kibum… Eunhyuk, dan Heechul Hyung…” Siwon tidak sanggup meneruskan kata-katanya, tapi semua orang sudah mengerti apa yang dia pikirkan.

Semua menghela napas.

”Orangtuaku…” kata Hankyung pelan. ”Memintaku agar aku pulang saja ke China,” dia menghela napas. ”Aku juga mau pulang… tapi kurasa takkan banyak bedanya, orang itu pasti bisa mengejarku kesana…”

”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

”Kita harus mencari petunjuk tentang siapa pelakunya, kami akan memeriksa potongan surat-surat kaleng yang dikirimkan sebagai ancaman pembunuhan, dan Donghae… kau tau tugasmu kan?” Leeteuk mengerling Donghae.

Donghae mengangguk.

”Ayo, kita harus melihat… sekecil apa pun kemungkinan kita menemukan petunjuknya, setidaknya untuk kita bertahan hidup…” ajak Leeteuk.

Donghae berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, dia melepas jas hitamnya dan membuka kancing atas kemeja hitamnya, lalu dia duduk di atas ranjangnya, dan menghela napas dalam-dalam, setelah berapa lama menangis, dia harus menangis lagi. Dia tidak tahan, dia ketakutan.

Gorden jendela tersibak, Donghae diam saja, dia yakin Hiromi yang datang. Donghae tidak memandang ke belakang, dia mengalihkan matanya, bagaimana mungkin dia menangis di depan wanita, wanita kuat pula.

Tapi kemudian dia memegang bahu Donghae, Donghae berkata. ”Bisa tinggalkan aku sebentar…”

”Aniyo!”

Donghae berbalik, dan wajahnya kontan pucat. Bukan Hiromi, melainkan seseorang memakai pakaian serba hitam, dengan wajah ditutup, seperti kemarin. Ninja-ninja dengan pakaian hitam.

”Neo?!” pekik Donghae.

Ninja itu tiba-tiba telah mencekik leher Donghae, Donghae memekik kesakitan, dan dengan kekuatan tangan Ninja yang besar itu, dia berhasil menekan tubuh Donghae ke dinding, dan membuat Donghae nyaris berdiri.

”Suaramu tidak akan pernah keluar… pria tampan!” desisnya.

Donghae berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cekikan pada lehernya, namun itu bukan usaha yang mudah. Pria itu saja bisa mengangkatnya dengan mudah, leher Donghae semakin sesak, napasnya semakin tidak beraturan, Donghae mencoba mengeluarkan suaranya dan meminta pertolongan, tapi tak ada yang bisa keluar karena tenggorokannya tertahan.

”Kau akan segera menemui Bada kecilmu itu…” bisik Ninja itu sadis, dan makin mengeratkan cekikannya.

Wajah Donghae membiru. ”Hi…ro…mi…” bisiknya.

PRANG‼!

Kaca jendela pecah, karena Hiromi menerjang masuk, dan nampak terkejut. Lalu tanpa tedeng aling-aling, Hiromi melakukan tendangan yang langsung mengenai tulang punggung Ninja tersebut, bunyi berderak terdengar di udara. Dan Ninja tersebut melepaskan cekikan di leher Donghae. Donghae merosot ke bawah dan terbatuk-batuk.

”Bagaimana kau bisa kesini?!” desis Ninja itu pada Hiromi.

Hiromi tersenyum sinis. ”Lupa kau berhadapan dengan klan apa?!” Hiromi maju dan langsung mengarahkan tendangan, tapi ditangkis. Hiromi mengangkat satu kakinya dan kakinya melakukan gerakan memutar jarum hitam kembali keluar lagi dari sepatu bootnya, dan Ninja itu buru-buru melarikan diri.

Hiromi menegakkan dirinya, lalu berbalik melihat Donghae yang terbatuk-batuk lemah di sudut kamar. ”Tuan, gwenchana? Tuan baik-baik saja kan?! Maafkan aku…” Hiromi menduduk berulang kali.

Donghae masih terbatuk-batuk.

Hiromi buru-buru menekan satu titik di leher belakang Donghae, batuk Donghae seketika berhenti.

”Gomawo…” kata Donghae serak. Setetes air mata keluar dari matanya. ”Gomawo, andai tadi kau tidak datang, aku pasti…”

Hiromi menggeleng. ”Aniyo! Tuan tidak boleh mati!”

”Aku takut…” bisik Donghae.

”Aku akan berusaha, bagaimanapun agar Tuan dan Super Junior aman…” kata Hiromi sedih.

Donghae mengatur napasnya dan bersandar, lalu menatap Hiromi yang berjongkok di depannya, masih menatapnya sedih. ”Kau tidak akan kuat, Hiromi-ya… kau saja sudah terluka.” Donghae menyentuh perut Hiromi pelan, lalu menatap matanya. ”Perutmu sobek kan? Lalu tanganmu patah…”

”Aku memang lemah…” ujar Hiromi sedih. ”Maafkan aku…”

”Ani, ani…” Donghae menggeleng. ”Bukan begitu, aku tidak mau kau melakukan sesuatu atas perintahku, dan menanggung akibatnya! Itu diluar kemampuanmu, sekuat apa pun kau, sehebat apa pun kau… meski kau itu seorang ninja…” ujar Donghae lagi. ”Kau itu wanita…” tambahnya lembut.

Hiromi diam, menatap lurus mata Donghae. ”Tapi aku ninja, takdirku hidup seperti itu…”

”Wae?”

”Karena begitulah peraturan di keluargaku…”

”Anggap aku keluargamu…” Donghae meraih tangan Hiromi. ”Jangan Tuanmu… aku tidak mau!”

Hiromi menggeleng. ”Tidak bisa… tidak bisa…”

”Wae?”

”Karena itu peraturannya,” senyum Hiromi sambil berdiri.

”Kau mau kemana?”

”Tuan masih membutuhkanku?”

”Aku selalu butuh kau…” sahut Donghae sambil berdiri. ”Ada yang mau kutanyakan padamu…”

Semburat merah jambu terlihat di pipi Hiromi, Hiromi tersenyum. ”Iya, ada apa Tuan?”

”Panggil aku Donghae saja, ini perintah!”

Hiromi tersentak. Tapi kemudian mengangguk, ”Ne… Donghae…”

”Ada yang mau kutanyakan,” Donghae menarik Hiromi duduk di ranjang. ”Apa kau mengenal Ninja tadi?”

Hiromi mengangguk. ”Aku tidak tahu persis mereka siapa, tapi… aku tahu mereka Ninja klan apa…”

”Jadi benar mereka Ninja?”

”Yang punya kemampuan seperti itu hanya Ninja klan Tomizawa, Ninja aliran kuno di Jepang…” jelas Hiromi. ”Bahkan Ninja klan kami pun terkadang tidak bisa melawan mereka, pertarungan selalu berakhir imbang…”

”Imbang?”

”Kedua belah pihak sama-sama mati…” jelas Hiromi datar.

Donghae membulatkan matanya terkejut. ”Mati?!”

”Tidak pernah ada sejarahnya salah satunya menang, karena memang Kinomoto dan Tomizawa itu memiliki sejarah dan garis peraturan yang berbanding terbalik, sehingga kami memang sudah berurat akar saling bermusuhan…” jelas Hiromi lagi. ”Dan kami hanya bisa memukul mundur mereka dengan jarum yang terbuat dari bulu burung gagak hitam…”

”Ah, jarum yang keluar dari sepatumu?”

Hiromi mengangguk.

”Lalu menurutmu mengapa… mengapa mereka mau membunuh kami semua?” tanya Donghae pelan.

Hiromi menatap Donghae lagi. ”Klan Tomizawa itu adalah klan pembunuh bayaran, berbeda dengan Kinomoto, yang merupakan klan pengawal. Kurasa mereka… mereka dibayar…”

”Dibayar?!”

”Ne, karena mereka klan pembunuh bayaran, musuh dari klan kami yang pengawal…”

Donghae mengangguk. ”Kalau begitu, kesimpulannya pasti ada yang menyewa mereka…”

”Ne…”

 

*Malamnya*

”Jadi begitu kata Hiromi?!” semua memekik mendengarkan penjelasan Donghae.

Donghae mengangguk.

”Pembunuh bayaran…” Kangin berpikir. ”Kalau begitu jelas ada yang membayar mereka, dan apakah bayaran mereka mahal? Kalau mahal, berarti orang yang membayar jelas orang kaya…”

”Seharusnya aku menanyakan hal itu tadi…” kata Donghae menyesal.

”Iya kita bisa mulai menyelidiki siapa mereka dari situ…”

Leeteuk terus diam di sudut, berpikir keras. Kalau memang itu adalah klan ninja Tomizawa, kenapa ketika mereka diserang, rasanya dia pernah tahu, atau mengenali suara itu. Ya, suara itu begitu familiar… rasanya Leeteuk kenal sekali suara itu, tapi siapa? Kenapa dia bisa lupa…

Leeteuk mengacak rambutnya frustasi. ”Aaarrrgggghhhh‼!”

”Ada apa, Hyung?” tanya Kangin khawatir.

”Rasanya aku kenal suara itu…” kata Leeteuk khawatir. ”Donghae-ya, ingat kan ketika kita diserang, dan lampu mati… di Sukira?”

Donghae mengangguk.

”Kenal?!”

”Nugu?”

”Itu yang aku tidak tahu!” Leeteuk meremas rambutnya lagi. ”Kalau memang dia yang melakukan ini semua, kalau mendengar dari penjelasan Donghae, orang itu adalah pembunuh bayaran, tapi aku kenal suara itu! Dan jika aku mengenali suara itu… dia orang dekat, tapi punya dendam!”

”Ada dua kemungkinan, memang dia menyimpan dendam yang pertama… atau memang dia pembunuh bayaran.” Tambah Shindong lagi.

Yesung menggeleng, ”Tiga poin! Memang dia pembunuh bayaran, kedua… mereka memang dendam! Atau ketiga… dia orang dekat kita!”

”Orang dekat?”

”Itu yang berbahaya…” Leeteuk menggigit bibirnya frustasi. ”Orang dekat kita…”

”Memangnya orang dekat kita ada yang ninja ya?” tanya Siwon heran.

”Tapi rasanya Leeteuk Hyung kan mengenali orang tersebut,” kata Sungmin yakin. ”Dia memang pasti orang dekat kita…”

Semua mengangguk-angguk.

”Sudah malam, sebaiknya kita istirahat, besok kita bisa bicarakan masalah ini lagi…” kata Leeteuk sambil memijit kepalanya. Dia berdiri dan masuk ke dalam kamarnya, semua tetap di ruang tengah.

”Aku takut tidur, Hyung…” kata Kyuhyun lirih.

”Keadaan kita benar-benar seperti tinggal menunggu maut datang saja…” tambah Ryeowok muram.

Semua mengangguk.

”Ya sudahlah, sebaiknya kita dengarkan kata Leeteuk Hyung, kita istirahat saja, besok kita bisa kembali membicarakan masalah ini…” ajak Siwon.

”Iya, yuk…”

Semua berdiri dan kembali masuk ke dalam kamar mereka masing-masing termasuk Donghae. Kamarnya dibiarkan menyala temaram, Donghae berbaring di atas kasurnya dan berpikir. Semua masih gelap, tidak ada petunjuk atau tanda-tanda siapa yang sebetulnya dendam pada mereka, atau setidaknya penyebab orang yang sangat ingin membunuh mereka semua, menghabisi mereka semua.

”Hiromi…” panggilnya.

Jendela terbuka lagi, dan masuklah Hiromi, kemudian menutup jendelanya.

”Memanggilku?”

”Ne…” jawab Donghae masih sambil menatap langit-langit. ”Duduk disini, di tempat tidurku…”

Hiromi menurut, dan duduk di tepi tempat tidur Donghae.

”Leeteuk Hyung sepertinya mengenal suara ninja tersebut, Hiromi-ya…” kata Donghae pelan.

”Jinja?”

”Iya, dan sepertinya ninja itu juga kenal pada kami…” lanjut Donghae. ”Setidaknya orang dekat yang cukup familiar dengan kami… Hiromi-ya, apakah klan ninja Tomizawa itu, dibayar jika melaksanakan tugas?”

Hiromi mengangguk. ”Tentu… mereka kan pembunuh bayaran.”

”Biasanya mereka dibayar dengan jumlah berapa?”

”Tergantung kesepakatannya,” jelas Hiromi lagi. ”Apalagi jika targetnya itu orang penting, semakin tinggi harganya.”

”Nominalnya?”

”Nan mollaso…” Hiromi mengangkat bahu. ”Ada yang bilang barang berharga, ada juga yang bilang setengah dari harta klien mereka, yang jelas harga yang dipatok sangat tinggi.”

”Tinggi?”

”Karena mereka pembunuh tanpa jejak… mungkin orang tahu mereka yang membunuh, tapi sampai kapan pun takkan pernah tahu siapa yang mengutus, dan siapa yang melakukan pembunuhan tersebut. Pokoknya kalau minta mereka membunuh, misalnya kau ingin membunuhku, kau menyewa jasa mereka… ketika aku mati, aku akan ditemukan oleh polisi dan warga, semua orang tahu aku dibunuh Ninja, tapi siapa Ninjanya, dan bagaimana buktinya, serta siapa yang membunuh, amblas! Kosong! Tak ada yang tahu, karena itulah, bayaran mereka mahal!” tutup Hiromi dengan penjelasannya.

Donghae mengangguk. ”Dan Ninja klanmu, apakah kalian dibayar?”

Hiromi menggeleng sambil tersenyum. ”Makanya kubilang kami bertolak belakang satu sama lain.”

”Lalu bagaimana kalian mau dipekerjakan begitu saja?”

”Kami tidak dipekerjakan, bukankah waktu itu sudah kujelaskan?” tanya Hiromi lagi. ”Kalau begitu sudah selesai kan? Tidak ada lagi yang kau butuhkan?”

”Kau mau kemana?”

”Tidur…” sahut Hiromi sambil tersenyum.

”Tidur dimana?”

Hiromi cuma tersenyum.

”Tidur disini saja, ini kan kasurmu…” Donghae duduk dan menunjuk kasur di sebrangnya.

BRAK‼!

Wajah Donghae dan Hiromi yang sedang berpandangan langsung pucat, Hiromi langsung meloncat, dan membuka jendela serta melongok, melihat banyak wanita-wanita yang berlalu lalang dibawah menjerit-jerit.

”Ada apa?” Donghae ikut melongok.

”Sial! Aku tidak bisa meloncat ke bawah! Terlalu banyak orang…” ujar Hiromi frustasi.

Donghae tambah merinding begitu melihat ke bawah. ”Jangan bilang ada yang meloncat ke bawah?!”

”Molla…” ujar Hiromi.

Pintu kamar Donghae tiba-tiba di gedor, Shindong nampak panik. Perasaan Donghae langsung tidak enak, buru-buru dibukanya pintu kamarnya.

”Donghae-ah…” Shindong bercucuran air mata.

”Ada apa Hyung?! Apa yang terjadi?!”

Shindong menangis. Dan memeluk Donghae, Hiromi menatap keduanya dari belakang sambil menerka-nerka apa yang terjadi, sesekali memicingkan mata ke bawah untuk melihat.

”Leeteuk Hyung yang terjun ke bawah…”

Lutut Donghae langsung lemas.

”Tuan Leeteuk?!” pekik Hiromi, sambil menoleh lagi ke bawah.

”Aku tidak percaya!” sangkal Donghae sambil menjerit. ”Tidak mungkin! Leeteuk Hyung tidak mungkin melakukannya! Aku mau turun dan melihatnya sendiri!”

Shindong menggeleng sedih.

”Aku mau turun!” Donghae berlari keluar. Hiromi melesat mengikutinya dan tepat ketika mereka keluar, penghuni-penghuni lain juga berbondong-bondong keluar. Lift penuh.

Hiromi memandang berkeliling. ”Tidak adakah tempat sepi?”

”Aku mau turun sekarang juga! Bukan mau mencari tempat sepi!” teriak Donghae frustasi.

”Arasseo! Justru itu… sekarang penuh sekali! Ah, kesini!” Hiromi menggandeng Donghae melewati balkon darurat yang memang disediakan setiap lantai. ”Kita turun dari sini saja…” ujar Hiromi sambil menutup kembali pintu balkon itu.

Hiromi melongok ke atas, nampak berpikir kemudian merobek lagi bajunya di bagian perut. Alih-alih merobek langsung besar, kali ini dia merobeknya sedikit demi sedikit, sehingga begitu di uraikan, Donghae tidak menyangka bisa sepanjang itu. Hiromi mengibaskan sebelah tangannya dan munculah satu buah shuriken, diikatnya ujung kain tersebut di shuriken, dan dilemparkannya hingga menancap di langit-langit gedung.

”Donghae… mendekat…”

”Eh?”

Hiromi menarik Donghae mendekat padanya, ”Peluk pinggangku!” Donghae langsung melingkarkan tangannya di pinggang Hiromi yang terbuka, keduanya sangat dekat sekarang. Hiromi juga memeluk pinggang Donghae, lalu tiba-tiba keduanya sudah meluncur turun ke bawah.

Sesampainya keduanya di bawah, Hiromi melepaskan pegangannya pada Donghae dan melepaskan tangannya dari belitan tali dari bajunya tersebut. ”Ayo!” ajaknya. Dia dan Donghae langsung mendekati kerumunan.

Dan memang Leeteuk sudah terkapar tak bernyawa, dengan darah mengalir di kepala, hidung, dan telinganya. Donghae langsung lemas, dan Hiromi menahan tubuhnya.

To Be Continued

Mohon maaf untuk Istri-istrinya Leeteuk Oppa… *bow*

Seperti biasanya komen, kritik, saran di tunggu disini, di blog ini! Yang mau bashing di akun pribadi saya aja.

Facebook : Nisya Mutiara Busel-Siregar

Twitter : @nisya910716

Part selanjutnya masih belum tau kapan bisa di publish, karena saya kuliah, dan dosennya udah pada sableng baru masuk udah ngasih kuis aja! Dan internet saya kalo di kosan suka Lola banget, mian yaaa🙂 kamsahamnida

One thought on “Murder Admirer ~Part 3~

  1. OMOna yg tau bagian trkecil dari teka teki ciri si pembunuh malah tewas T.T
    eottokhae siwon-ah…😥
    lanjutt lgy😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s