Murder Admirer ~Part 2~

Hiromi terus mengendus darah Bada. ”Racunnya, sepertinya aku kenal sama racun ini…” Hiromi berpikir.

”Dia memberikan kita petunjuk kalau berikutnya yang mati akan keracunan,” kata Leeteuk sambil berpikir.

”Hyung! Ini sudah gila, kita harus lapor pada polisi…” kata Yesung panik. ”Sebelum ada korban berikutnya…”

Donghae terduduk memandangi anjing kecilnya yang sudah tewas. Dia menatap Hiromi yang masih nampak berpikir dengan darah-darah Bada, sementara rekan-rekannya membicarakan hal ini.

”Kurasa Yesungie benar, Hyung…” celetuk Kangin. ”Ini sudah diluar kemampuan kita semua. Ini juga kan sudah tindak kriminal gawat, ini menyangkut nyawa kita semua Hyung…”

Leeteuk menatap Kangin. ”Pengawal yang segitu hebatnya saja tidak mampu melawan orang ini, Kangin-ah… apalagi dengan polisi yang seperti itu. Kita saja tidak bisa lihat orangnya siapa…”

”Lalu apa yang harus kita lakukan, Hyung?! Aku tidak mau mati…” ujar Kyuhyun lirih.

Ryeowook mengangguk. ”Iya, Hyung… kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan dendam orang ini.”

”Kalau begitu kita kembali ke ruang tengah, dan… bicarakan ini lagi…” ujar Leeteuk mengajak seluruh dongsengnya. Donghae masih berlutut di hadapan Bada dengan wajah sedih.

Hiromi berjongkok di sebelahnya. ”Tuan, biar kukuburkan Bada…”

Donghae mengangguk. ”Gomawo, Hiromi-ya… tapi, aku mau meihatnya dikubur juga…”

”Ya baiklah…” lagi-lagi Donghae terkejut, ketika Hiromi merobek bajunya, sehingga bagian perutnya kembali terbuka lebar, perut rata dengan pusar bertindik. Hiromi membungkus Bada dengan kainnya tersebut, kemudian keduanya turun ke bawah.

Di belakang apartemen, mereka menemukan tanah kosong. Padahal udara cukup dingin, pikir Donghae, tapi Hiromi cuek dengan udara dingin yang menusuk. Hiromi meletakkan Bada hati-hati di tanah.

”Mau dikubur disini, Tuan?”

Donghae mengangguk. ”Tapi kita tidak punya sekop?”

”Gwenchana…” sekali kibas kedua tangannya sepuluh shuriken dengan bentuk menyerupai sekop kecil muncul dari tangan Hiromi, Hiromi membungkuk dan mulai menggali tanah dengan cepat.

Donghae memerhatikan dengan terpana karena Hiromi sama sekali tidak terkena debu, perutnya tetap mulus, tangannya pun tidak terkena secuilpun kotoran, dan dalam waktu lima menit, sebuah lobang sudah terlihat cukup dalam di lapangan tersebut.

Hiromi berdiri dan mengibaskan tangannya, shuriken-shurikennya menghilang begitu saja. Dia mengibaskan rambutnya, dan menoleh pada Donghae yang masih terperangah melihatnya. ”Bagaimana, Tuan? Ini cukup untuk menguburkan Bada kecilmu?”

Donghae mengangguk dan tersenyum. Dia menghampiri tubuh Bada yang terbungkus robekan baju Hiromi, dan menggendongnya ke arah lubang tersebut kemudian membaringkannya.

”Bada… jaljayo…” bisik Donghae.

Hiromi menambahkan. ”Haengbokhae, Bada…” dan Hiromi mengibaskan tangannya lagi, kemudian menutup kubur Bada.

Mereka berjalan kembali ke dalam apartemen dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, keduanya sama-sama diam. Menunggu lift yang mereka tumpangi naik semakin ke atas.

”Hiromi…” kata Donghae pelan. ”Apa kau punya perkiraan siapa yang membunuh… Kibum dan Hyukjae?”

Hiromi menoleh. ”Hmm? Kalau memang yang membunuh itu yang kemarin menyerang kita, yang jelas dia Klan Ninja juga.” Sahut Hiromi, wajahnya nampak cemas.

”Kau tahu?”

”Kalau memang benar… dia Klan Ninja itu, kurasa aku tau aku berhadapan dengan siapa…” sahut Hiromi lirih.

Donghae menoleh. ”Menurutmu kau bisa menyelidiki siapa mereka?”

Hiromi balik menoleh pada Donghae, menatap lurus pada kedua mata Donghae yang indah. ”Tuan memintaku untuk mencari tau siapa mereka?”

”Ne…” ujar Donghae lirih.

Hiromi mengangguk. ”Akan kulakukan, kalau itu permintaan Tuan…” ujarnya sambil kembali menatap ke depan.

Donghae agak menyesali permintaannya tadi, entah kenapa dia melihat Hiromi kali ini rapuh sekali. Tapi Hiromi memandang lurus ke depan, pintu lift terbuka. Donghae keluar diikuti dengan Hiromi keduanya berjalan diam, kemudian Hiromi berhenti di tengah jalan.

”Wae?” tanya Donghae.

Hiromi menggeleng. ”Ani… sepertinya kita diikuti…”

”Diikuti, sudahlah… Tuan, ayo masuk ke dalam…”

Donghae memutar kunci pintu dan masuk bersama Hiromi, begitu terbuka keduanya langsung masuk.  Hiromi menghela napas lega, anggota Super Junior lain masih duduk berkeliling di ruang tengah. Wajah semuanya kuyu dan tidak bersemangat, apalagi dengan adanya ancaman baru.

Bel berbunyi.

”Hiromi… temani aku buka pintu ya…” pinta Leeteuk.

Hiromi menoleh pada Donghae, seakan meminta izin, Donghae mengangguk. Hiromi kemudian mengikuti Leeteuk menuju pintu. Hiromi menekan interkom, dan seperti biasa tidak ada siapa-siapa diluar.

”Tuan Leeteuk dibelakangku saja…” Hiromi langsung maju, kemudian mengibaskan tangan kirinya, muncul lima buah shuriken bermata tajam, sementara tangan kanannya meraih pintu.

Pintu terbuka. Anak-anak Super Junior merapat, memandang takut-takut ke depan mereka. Hiromi menegakkan tangan kirinya yang sudah dihiasi oleh shuriken dan menoleh ke depan. Dengan sikap waspada Hiromi menoleh ke luar, diluar keadaan kosong.

Tapi insting ninjanya bekerja, memang ada yang mengawasi mereka, Hiromi melirik ke kanan dan ke kiri. Tangan kirinya masih tegak mengacungkan shurikennya, Hiromi menarik napas, dan kemudian kelebatan bayangan hitam muncul, Hiromi melemparkan shurikennya ke depan, lalu mengibaskan tangan kanannya, lalu dilemparnya lagi shuriken-shuriken yang mengganda ke depan.

”HIROMI!” teriak Donghae dari belakang.

Hiromi menoleh, bayangan kelebatan hitam itu semakin banyak masuk ke dalam ruangan. Hiromi bertumpu pada sepatu boot hitam tingginya, kemudia berputar di udara lagi, dan berdiri tepat di depan Donghae, Hiromi menarik tangan Donghae, dan dengan satu kaki dia menendang meja ruang tamu hingga berderak, dan kayu panjang terlempar ke atas, Hiromi menangkapnya di udara.

Anak-anak Super Junior berhamburan meminta pertolongan. Hiromi menoleh pada Leeteuk yang dicekik di pintu masuk, kemudian tangannya mengibas lagi, dan melempar shuriken mengganda tersebut, hingga bayangan hitam itu terkunci di dinding.

”Tuan Donghae, pegang tanganku terus… terus di belakangku!” perintah Hiromi tegas. Kemudian dengan kayu tadi dia mulai menebas bayangan-bayangan hitam yang mulai menerjang Donghae.

Dan dengan sekali sentak Hiromi mendorong Donghae agar duduk di sofa, dan dia menancapkan tongkat itu di lantai, lalu melakukan tendangan berputar dengan poros tongkat tersebut.

Setelah bayangan hitam itu mundur, Hiromi mendongak dan melihat Kyuhyun yang nyaris ditusuk samurai oleh salah satu bayangan hitam yang masih lolos, dikibaskannya tangannya lagi, dan shuriken ganda terlempar, dan bayangan hitam itu terperangkap di dinding. Kyuhyun terkapar di lantai kehabisan napas.

Hiromi mengitari beberapa bayangan yang masih berusaha menyerang Yesung, Kangin, dan Shindong. Sekali tebas dengan kayu, dan salah satu samurai ninja hitam itu terlempar, Hiromi menangkapnya, dan sekarang seluruh bayangan hitam itu menyerang Hiromi.

Dengan kakinya lagi dia menumpukan kayu tadi ke lantai dan mulai melakukan tendangan berputar. Hiromi sudah kehabisan napas, anak-anak Super Junior juga sudah tidak berdaya. Semua nampak kehabisan napas karena cekikan di leher mereka, sementara Hiromi sendirian.

Leeteuk yang kehabisan tenaga berkata. ”Hiromi… andwe! Andwe!” bisiknya.

Hiromi kehabisan napas di tengah-tengah dan menarik napas dalam-dalam, ”Apa yang kalian lakukan disini? Apa mau kalian?!” dengan bahasa Jepang dia bertanya. ”Kalian pengecut!

”%^&(&^%$%^*()(*&())(*&^%$”

KRAK!

”Aaaah!” teriak Hiromi, saat salah seorang dari mereka menekuk tangannya. Dengan sekuat tenaga, dia memutar badannya dan dia menggesek kedua hak sepatunya sambil memutar di udara.

Seluruh mata anak-anak Super Junior terperangah melihat beberapa jarum keluar dari dalam sol sepatu bot berhak tinggi Hiromi, dan anehnya, seluruh pasukan ninja itu kabur, begitu Hiromi mengenai mereka dengan jarum kecil itu, Hiromi berjongkok mantap di lantai, dengan satu tangan ditahan di depan dadanya. Seluruh bayangan hitam itu tunggang langgang berlarian.

Leeteuk terengah-engah di depan pintu, dan Donghae yang memegang kayu, serta yang lainnya yang tersebar di ruang tengah hingga dapur mencoba mengatur napas mereka masing-masing.

”Aaarrgggh…” erang Hiromi.

”Hiromi!” pekik Donghae, langsung menghampiri Hiromi, dan membantunya duduk, tapi Hiromi meringis.

Ryeowook merangkak mendekati mereka, kakinya tersayat samurai. ”Hyung… sepertinya tangan Hiromi patah…”

Hiromi menahan sakit kemudian melirik Ryeowook. ”Tuan Ryeowook, terluka? Aish… maafkan saya…”

”Gwenchana, bukan salahmu…”

Hiromi meluruskan duduknya. ”Ani, aku melalaikan perintah Tuanku, aku harus di hukum…” rintihnya.

”Perintah apa?” tanya Donghae cemas.

Hiromi meringis. ”Tuan kan mau semua saudara Tuan selamat, maaf aku belum bisa memenuhinya… aaarrggghh…” Hiromi mengerang lagi.

Donghae mau menangis melihatnya. Perempuan, melindungi banyak laki-laki tak berdaya, pasang badan di hadapan banyak orang-orang berbahaya tak dikenal, dan sekarang menyalahkan diri.

”Jangan bodoh, Hiromi! Kau terluka parah… tak jauh beda dari kami…” erang Shindong sambil memegangi perutnya yang tergores cukup lebar.

Hiromi berusaha bangkit, namun oleng, Donghae yang tidak terluka sedikitpun, menangkapnya, dan membawanya ke kursi. Lalu dia melepaskan Leeteuk dari shuriken-shuriken yang menahan tepi-tepi bajunya di dinding. Member Suju yang lain merangkak mendekat ke tengah.

”Hyung! Telepon Manajer dan Dokter! Segera… kita tidak sanggup melakukan apa pun…” ujar Ryeowook sambil terus merintih.

Donghae langsung menelepon, setelah selesai dia membebat semua luka member Super Junior. Baik yang di leher, di lengan, di perut, di kaki, di pinggang, di punggung. Tapi ketika mengobati Leeteuk…

”Hae… Hiromi, obati dia dulu… aku tidak apa-apa, cuma lecet…” ujar Leeteuk sambil menegakkan tubuh Sungmin yang terluka di pinggang.

Donghae menghampiri Hiromi, dan memeriksa luka yang ada tubuh Hiromi, perut ratanya tergores, di bagian depan, dan Hiromi terus memegangi lengannya. Sepertinya memang lengannya patah.

Tak lama kemudian Manajer datang dan membawa banyak petugas medis, Super Junior terpaksa dirawat di tempat, tanpa di bawa ke rumah sakit, karena akan meresahkan masyrakat, terutama ELF.

”Hyung… obatilah Hiromi, tangan Hiromi sepertinya patah…” ujar Leeteuk pada Manajernya.

Manajer melirik Hiromi yang berdiri di pojokan dan memegangi tangannya. ”Tidak perlu, dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Untuk apa?”

”Hyung! Dia menyalamatkan kami semua!” seru Leeteuk.

”Dia menyelamatkan kalian semua apanya?! Kalian terluka, lihat… luka kalian perlu di jahit semua! Itu yang namanya menyelamatkan kalian semua?!” seru Manajer Kim.

”Hyung! Kalau bukan karena dia kami sudah mati semua!” bela Kangin.

Manajer Kim melirik Hiromi yang masih berdiri di pojokan. ”Sudahlah, jangan dibahas… kalian jaga diri kalian, kalau ada sesuatu yang aneh langsung panggil kami! Aku akan segera memecat si Hiromi itu.”

”Wae?!” teriak Heechul.

”Dia tidak berguna sama sekali!” dan Manajer Kim langsung keluar dari ruangan mengikuti petugas medis yang sudah berlalu.

Semua memandang punggung Manajer mereka nanar.

”Kita saja yang bawa Hiromi ke rumah sakit, Teukie-ya…” usul Heechul.

Teukie menggeleng. ”Mana mungkin, berbahaya bagi kita keluar untuk saat ini. Apalagi Hiromi juga sedang tidak fit, bagaimana kalau nanti kita diserang?! Hiromi takkan bisa melindungi kita. Apalagi kita sendiri…”

”Tapi tidak mungkin membiarkannya terus seperti itu…”

”Aku sudah lumayan, biar aku mengobatinya…” kata Sungmin yang menghampiri Hiromi. ”Haejin-ah, biar aku obati…”

Hiromi tersenyum dan menggeleng. ”Gwenchana, Tuan… aku tidak apa-apa…”

”Kau harus diobati, ayolah…” Ryeowook ikut menghampiri Hiromi.

”Aku tak apa, sungguh… Tuan Sungmin, Tuan Ryeowook…”

”Sudahalah, jangan membantah, atau perlu kupanggil Donghae agar dia memerintahkanmu untuk mau diobati…” Sungmin menarik Hiromi pelan, dibantu Ryeowook, dan membawa Hiromi ke dalam kamar Ryeowook untuk diobati.

”Donghae-ah! Sini…” panggil Leeteuk.

Donghae yang baru saja mau mengikuti Ryeowook dan Sungmin mengobati Hiromi, berbalik menuju Leeteuk.

”Ya, Hyung…”

”Manajer Kim hendak memecat Hiromi…” bisik Leeteuk padanya.

Donghae terkejut. ”Wae?!”

”Menurut Manajer Kim, Hiromi sama sekali tidak bisa menjaga kita dengan baik…” ujar Leeteuk.

Donghae terdiam, dan menoleh ke arah kamar Ryeowook yang terbuka. ”Tapi, Hyung…” dia teringat kata-kata Hiromi yang hendak menjaganya hingga mati. ”Dia kan tidak salah…”

”Dia hanya pengawalmu, dan beruntung karena dia kita bisa selamat… tapi, Donghae-ah, kurasa Hiromi bisa membantu kita untuk mengetahui siapa dalang penyerangan ini…”

”Membantu?”

”Lihat saja tadi, dan kemarin waktu kita diserang… Hiromi pasti bisa menebak mereka siapa. Hae, ini tugasmu… kau kan pengawalnya, suruh dia beritahukan padamu siapa orang-orang itu, mungkin dari situ kita bisa mendapatkan petunjuk…”

Donghae mengangguk.

Tak lama kemudian Ryeowook dan Sungmin keluar dari dalam kamar Ryeowook, semua menoleh padanya.

”Mana Hiromi?”

”Tidur…”

”Boleh kubawa ke kamarku saja?” tanya Donghae akhirnya.

”Ya, hati-hati nanti dia terbangun ya…” pesan Sungmin.

Donghae mengangguk, dan masuk ke dalam kamar Ryeowook, Hiromi berbaring miring, masih dengan bajunya yang robek dibagian perut. Donghae menggendongnya, ya tuhan, ringan sekali… batin Donghae, apa karena kekuatan Ninjanya, jadi dia seringan ini. Donghae membawanya masuk ke dalam kamar, sementara Leeteuk menutup pintu kamar Donghae.

Donghae membaringkan Hiromi di kasur satunya, kasur kosong yang memang disediakan untuk pengawalnya jika pengawalnya itu laki-laki, tapi selama ini, Hiromi tidur entah dimana, maka kali ini Hiromi tidur di kasur.

Donghae menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian keluar dari dalam kamarnya, saat Leeteuk sudah membagikan vitamin mereka masing-masing untuk segera menutup luka-luka yang terbuka di badan mereka.

”Ini, Hyung…” Ryeowook menyerahkan vitamin bagiannya.

”Gomawo, Ryeowook-ah…” Donghae menerimanya sambil menyobek bungkusnya dan meminumnya. Di seluruh ruangan semua menyeruput vitamin mereka. Awalnya yang terdengar hanya bunyi sobekan vitamin saja.

Tapi kemudian bunyi orang ambruk yang membuat semua panik, Heechul mengerang-erang ketika jatuh.

”Chul-ah! Heechul!”

”Hyung!”

”Heechul-ah!”

Semua menghampiri Heechul yang menggelepar di lantai, panik dan terpaku, tapi kemudian Heechul berhenti bergerak, matanya menutup. Semua terpaku, tapi bersamaan semua berteriak lagi.

”Heechul Hyung!”

”Heechul-ah!”

Leeteuk jatuh terduduk dan menangis, lalu meraba nadi Heechul sambil gemetaran, bahu Leeteuk sendiri berguncang hebat. ”Heechul-ah! Jangan pergi…” ujarnya lirih.

Kim Heechul kini menutup mata selama-lamanya.

Semua duduk lemas, menangis histeris. Kibum dan Eunhyuk yang kematiannya tragis tidak terjadi di depan mata mereka sendiri, tapi kini Heechul, dia harus meninggal secara tragis, tepat di depan mata seluruh member yang tersiksa. Sungguh pemandangan mengerikan, mimpi buruk yang bercokol di kepala mereka.

Semua memegang kepala mereka, berharap otak mereka dapat lepas sendiri, dan tidak mengingat kejadian ini.

”Hiromi…” bisik Donghae ketakutan sambil jatuh terduduk.

Tapi Hiromi muncul dan dia nampak terkejut. ”Tuan Donghae! Apa yang terjadi?” dia berlari menghampiri mereka semua, dan terkejut menatap Heechul yang terkapar di lantai. ”Astaga…” dia kemudian mencium udara. ”Racun… racun ini aku kenal, ini racun yang dipakai saat membunuh Bada tadi…”

Leeteuk kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Manajaernya, Kangin berdiri dan mengusap air matanya, kemudian menggendong jasad Heechul dan dibawanya ke dalam kamar Heechul.

Hiromi menunduk sedih.

”Hyung, Heechul… Heechul meninggal…” isak Leeteuk.

Sementara Sungmin dan Ryeowook memeriksa bungkusan vitamin.

”Kalau memang targetnya adalah Heechul Hyung, itu tidak mungkin… vitamin ini ada di dalam kardus vitamin…” Sungmin menunjuk kardus vitamin. ”Dan tidak ada seorang pun yang tau racun itu dimana…”

”Kalau begitu itu mengerikan!” kata Ryeowook gemetaran. ”Orang yang mengirimkan racun ini tidak peduli siapa yang dia bunuh…”

Sungmin mengangguk.

To Be Continued

annyeong readers… kali ini Maaf banget untuk fansnya Heechul Oppa, karena akhirnya pilihan saya jatuh pada dirinya untuk dibuat pergi… *digampar Petals*

Saya nggak tau kapan lagi bisa update, tapi pastinya saya usahakan secepat mungkin, karena mulai besok saya sudah kembali kuliah, hehehehe… berhubung jurusan saya adalah jurusan yang agak-agak mengerikan, jadi kalo updatenya agak lama, maaf ya readers… sekali lagi kritik, saran, pesan di tunggu di komen…

Untuk yang mau bashing, atau antis-antis JinHae couple yang banyak bermunculan belakangan ini, ngomongnya langsung aja di akun pribadi saya…

Facebook : nisya_nadine_haejin@hotmail.com (Nisya Mutiara Busel-Siregar)

Twitter : @nisya910716

MSN : nadine_aiden (YM error melulu jadi saya ganti ke MSN)

Kamsahamnida *bow*

One thought on “Murder Admirer ~Part 2~

  1. menegangkhan😄
    seharus’a Hae tuh ngebelain hiromi, kan hiromi ga dibayar ama si sment😥
    manager’a jg ngeselin, huh! *esmosi*
    penasaraaaaaan…..
    Hiromi Fighting!! >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s